Author Topic: Saat Teduh  (Read 61472 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

July 11, 2019, 05:38:27 AM
Reply #1960
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Jangan Mencuri
Posted on Rabu, 10 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 20:15 (Hukum Kedelapan)

Hukum kedelapan mengatur bagaimana manusia harus bersikap terhadap sesamanya dalam kaitan dengan hak kepemilikian di dalam hidup ini. Allah mengizinkan manusia untuk memiliki barang-barang dalam hidupnya, namun kita harus menyadari bahwa alam semesta beserta seluruh isinya adalah milik Allah (Mazmur 24:1). Sesungguhnya, manusia adalah pihak yang dipercaya oleh Allah untuk mengelola kepunyaan-Nya, dengan tujuan akhir agar nama-Nya semakin dimuliakan (Kejadian 1:28, Yesaya 43:7).

Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, natur manusia yang telah tercemar oleh dosa membuat manusia kehilangan kepedulian dan lebih memikirkan kepentingannya sendiri. Oleh karena itu, Rasul Paulus mengingatkan agar kita lebih mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri (Filipi 2:1-11). Manusia yang tercemar oleh dosa juga dapat merasa iri kepada sesamanya (Yakobus 3:14). Dorongan untuk mementingkan kepuasan diri sendiri serta perasaan iri membuat manusia akhirnya mencuri hak milik orang lain (Amsal 6:30, Keluaran 22:1-4). Dalam penilaian Allah, mencuri itu salah karena Allah telah menetapkan bagian yang dimiliki dan boleh dikelola oleh seseorang. Mencuri adalah dosa karena tindakan itu tidak mencerminkan kasih kepada orang lain. Setiap pencuri harus menyadari Firman Tuhan yang dengan keras berkata, “Pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (1 Korintus 6:10). Rasul Paulus meminta agar seorang mantan pencuri tidak lagi mengulangi perbuatan yang tidak terpuji itu, namun bekerja keras supaya dapat membantu orang lain yang berkekurangan (Efesus 4:28).

Saya percaya bahwa para pembaca Gema bukanlah pencuri harta benda yang dimiliki orang lain. Akan tetapi, kita perlu mewaspadai kemungkinan mencuri hal-hal yang bersifat non-materi, misalnya mencuri waktu (menggunakan jam kerja untuk melakukan aktivitas lain yang tidak terkait dengan pekerjaan, padahal sebenarnya ada tugas yang harus dikerjakan pada waktu yang sama) atau menggunakan fasilitas kantor (atau fasilitas organisasi) yang seharusnya tidak boleh dipakai untuk kepentingan diri sendiri. Waspadalah dan jadilah orang yang berintegritas dalam setiap aspek kehidupan Anda. [ECW]



July 12, 2019, 08:47:41 AM
Reply #1961
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Jangan Berdusta
Posted on Kamis, 11 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 20:16 (Hukum Kesembilan)

Dalam konteks asli dari hukum kesembilan ini, Allah menghendaki agar orang tidak berdusta dalam konteks bersaksi di persidangan. Persidangan semestinya menegakkan keadilan, sehingga setiap pribadi yang bersaksi di dalamnya harus mengatakan yang benar, seperti dicatat di dalam Amsal 12:17, “Siapa mengatakan kebenaran, menyatakan apa yang adil.” Namun, hingga saat ini, masih ada orang yang mengatakan hal-hal yang tidak jujur dalam suatu sidang peradilan. Ia yang bersaksi dusta dalam persidangan hendaklah memperhatikan Firman Tuhan yang berkata, “Tipu daya ada di dalam hati orang yang merencanakan kejahatan” (Amsal 12:20). Baik disadari maupun tidak, orang tersebut telah terlibat dalam upaya yang dinilai merencanakan kejahatan, sehingga perbuatan menjadi saksi dusta ini merupakan kekejian bagi Tuhan Allah (Amsal 12:22).

Selain di dalam konteks persidangan, hukum kesembilan ini juga mengatur perkataan seseorang kepada sesamanya dalam interaksi antarpribadi setiap hari. Allah adalah sumber kebenaran dan Allah tidak mungkin berdusta (Bilangan 23:19). Standar yang Allah kehendaki untuk terjadi dalam kehidupan kita adalah kesempurnaan, sama seperti Bapa di sorga adalah sempurna (Matius 5:48). Dengan demikian, seharusnya yang menjadi acuan dalam relasi kita dengan sesama adalah tidak mengatakan kebohongan sama sekali. Zakharia 8:16 menegaskan, “Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu.” Jadi, mengatakan kebenaran akan mewujudkan damai sejahtera di dalam hidup ini. Sebaliknya, sadarilah bahwa mendustai sesama adalah tindakan yang dibenci Allah (Zakharia 8:17).

Dalam hidup ini, ada beragam tuntutan terhadap kejujuran dalam bertutur kata maupun dalam bersikap. Misalnya, di setiap persidangan, kita tentu diminta untuk bersaksi secara benar. Saat membuat tulisan ilmiah dalam konteks pendidikan, jelas bahwa kita dilarang membuat karya yang tidak memenuhi kaidah kejujuran dalam penulisan. Namun, dalam interaksi sosial setiap hari, walaupun berbohong adalah salah secara etis, kebohongan belum tentu mendatangkan sanksi sosial yang besar. Sekalipun demikian, ingatlah bahwa dusta itu kekejian di mata Allah dan dusta dibenci oleh Allah. [ECW]



July 13, 2019, 05:33:42 AM
Reply #1962
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kekudusan Pikiran dan Hati
Posted on Jumat, 12 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 20:17 (Hukum Kesepuluh)

Dari zaman dahulu hingga saat ini, setiap manusia dikatakan bersalah apabila tindakan atau perkataannya didapati melanggar hukum yang berlaku. Misalnya, seseorang divonis bersalah sebagai pencuri apabila ia memang secara faktual terbukti melakukan tindakan mencuri benda yang menjadi hak milik orang lain. Seseorang dinyatakan telah melakukan perzinahan ketika dirinya terbukti melakukan hubungan badan dengan seseorang yang bukan pasangannya yang sah dalam pernikahan. Hukum kesepuluh merupakan teroboson bagi zaman itu, bahkan masih merupakan terobosan sampai sekarang, karena hukum kesepuluh ini bukan hanya mengatur apa yang dapat dilihat, tetapi juga mengatur apa yang ada di dalam pikiran dan hati. Standar Sepuluh Hukum dari Allah lebih tinggi daripada standar moral lain yang ada dalam dunia, karena Allah dapat menyelidiki dan menilai hati setiap orang, sampai bagian yang terdalam (1 Samuel 16:7).

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, manusia memang hanya bisa mengkaji dan menilai perilaku serta perkataan yang teramati oleh panca indera. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk menyelidiki dan melakukan verifikasi terhadap apa saja yang berada dalam batin seseorang. Hukum maupun konsekuensi sosial hanya bisa berperan terhadap tindakan yang nyata dan ucapan yang terdengar. Oleh karena itu, manusia masih bisa melakukan, mengatakan, mengekspresikan, dan menuliskan segala sesuatu yang sebetulnya berbeda dengan sistem nilai dalam dirinya, pikirannya, asumsinya, serta keyakinannya. Melalui teguran Kristus kepada para pemimpin Yahudi, kita mengetahui bahwa Kristus mencela dengan keras sikap orang-orang yang mementingkan perilaku luar yang positif, namun menyembunyikan banyak hal yang tidak benar dalam hati dan pikiran (Matius 23:25-28). Allah menghendaki kebenaran yang utuh dari umat-Nya. Allah menuntut integritas (kesatuan pikiran, hati, perkataan, dan tindakan).

Setiap pengikut Kristus hendaknya menjaga hati dengan kewaspadaan yang tinggi (Amsal 4:23). Firman Tuhan menyerukan agar kita mengusahakan supaya pikiran kita sepenuhnya tunduk kepada Firman Tuhan (2 Korintus 10:5). Kiranya Allah menolong agar hati kita menjadi kudus, sehingga kita bisa berpikir secara benar (Mazmur 51:12). [ECW]


July 14, 2019, 05:24:59 PM
Reply #1963
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Penghargaan Terhadap Martabat Manusia
Posted on Sabtu, 13 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 21

Keluaran 21 mencatat berbagai peraturan untuk umat Israel. Bagi kita, beberapa peraturan terasa janggal—misalnya peraturan tentang masalah budak (21:1-11)—karena saat ini sudah tidak ada lagi perbudakan. Pertama-tama, sadarilah bahwa adanya peraturan tentang perbudakan tidak berarti bahwa Allah mendukung perbudakan. Sadari juga bahwa peraturan tentang perbudakan itu disampaikan dalam konteks masyarakat kuno, saat perbudakan merupakan kelaziman. Allah memahami kelemahan dan keterbatasan manusia yang telah tercemar oleh dosa, sehingga Ia memberikan peraturan tentang perbudakan dengan maksud agar praktik perbudakan dilaksanakan dengan lebih menghargai martabat manusiawi para budak. Allah mengingatkan umat Israel di zaman Musa bahwa mereka adalah mantan budak di Mesir, dan bahwa Allah telah menebus mereka (Ulangan 15:15). Seharusnya, prinsip yang melandasi sikap bangsa Israel terhadap para budak adalah kasih, yaitu “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Imamat 19:18).

Meskipun sudah tidak ada sistem perbudakan dalam perekonomian saat ini, relasi tuan-hamba, atasan-bawahan, dan pemilik usaha-karyawan tetap ada. Perilaku tidak adil, tekanan, bahkan kekerasan, masih bisa dialami oleh hamba, bawahan, dan karyawan. Bentuk ketidakadilan itu misalnya berupa:

1) Pembagian bonus atau tunjangan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku baik dari sisi nominal maupun sisi waktu pembagian;

2) Fasilitas dan lingkungan kerja yang mengabaikan kepentingan bawahan (seperti tidak tersedianya makanan dan minuman sehat, cahaya, serta ventilasi yang memadai);

3) Kata-kata kasar dari atasan terhadap pegawai; serta

4) Perilaku tidak manusiawi seperti tuntutan jam kerja yang melewati batas kewajaran.

Tindakan berdasarkan kasih dan penghargaan terhadap martabat manusiawi seharusnya dapat dipraktikkan saat ini. Perjanjian Baru memberi beberapa petunjuk:

1) Allah yang menciptakan para tuan sama dengan Allah para hamba. Pribadi Sang Khalik yang sama wajib disembah dan ditakuti, baik oleh majikan maupun bawahan, sebab Allah tidak pernah memandang muka (Efesus 6:9).

2) Setiap orang wajib melakukan segala sesuatu yang baik dalam hidupnya (Efesus 6:8, 5:2).

3) Segala tindakan harus dilakukan seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia (Efesus 6:7, Kolose 3:23).

4) Tuhan Yesus bersabda, “Kasihilah seorang akan yang lain,” (Yohanes 15:17). [ECW]


July 15, 2019, 05:50:57 AM
Reply #1964
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Menghargai Kepentingan Orang Lain
Posted on Minggu, 14 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 22:1-17

Sejak Allah menciptakan manusia, Allah telah menginginkan agar setiap orang memperhatikan kepentingan orang lain. Perhatikan bahwa saat Allah hendak membentuk Hawa dari tulang rusuk Adam, maksud Allah adalah agar Hawa menjadi penolong bagi Adam (Kejadian 2:18). Saat Kain membunuh Habel, adiknya sendiri, Allah meminta pertanggungjawaban Kain karena Kain memang memiliki kewajiban untuk berbuat baik terhadap Habel (Kejadian 4:7-10). Dalam Firman Tuhan yang kita baca hari ini pun, jelas bahwa Allah ingin agar menusia memperhatikan kepentingan sesamanya. Allah menetapkan bahwa pencuri ternak yang tertangkap harus memberikan ganti rugi yang besarnya bervariasi, tergantung dari apakah ternak itu sudah tidak ada (dipotong atau dijual) atau masih ada. Bila pencuri itu tidak sanggup mengganti, dia harus dijual sebagai budak untuk pembayaran ganti rugi (Keluaran 22:1-4). Ganti rugi juga diharuskan bagi orang yang ternaknya dibiarkan memakan hasil ladang orang lain (22:5). Berbagai kasus lain yang dibicarakan dalam bacaan Alkitab hari ini pada dasarnya mengharuskan setiap orang untuk memperhatikan kepentingan orang lain, bukan kepentingan (keinginan) diri sendiri saja.

Pada dasarnya, prinsip hidup mementingkan diri sendiri yang lazim pada zaman ini bertentangan dengan kehendak Allah. Berbuat baik adalah kewajiban, bukan pilihan. Bila berbuat baik dianggap sebagai pilihan, maka berbuat baik boleh dilakukan, tetapi boleh juga tidak dilakukan. Dalam Perjanjian Baru, penulis Surat Yakobus berkata, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17). Jelas bahwa orang beriman harus berbuat baik karena tidak berbuat baik merupakan dosa. Ada orang yang berpikir bahwa menghindari interaksi dengan sesama manusia akan menghindarkan kita dari perbuatan dosa. Pandangan semacam ini salah! Kita hanya bisa terhindar dari dosa bila kita secara aktif melakukan kebaikan. Kehidupan yang sekadar berusaha menghindari perbuatan jahat terhadap orang lain merupakan kehidupan dengan standar kebaikan yang rendah! Karena Kristus sudah mati untuk kita saat kita masih berdosa (Roma 5:8), maka kita harus membalas kebaikan Kristus kepada kita dengan secara aktif berbuat kebaikan. Marilah kita memulai kebaikan dengan menghargai kepentingan orang lain! [P]



July 16, 2019, 06:09:39 AM
Reply #1965
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Pahami Batas-batas Kehidupan!
Posted on Senin, 15 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 22:18-20

Ada beberapa hal yang secara jelas dibenci TUHAN, antara lain adalah relasi dengan roh jahat atau sembahan selain TUHAN serta cara hidup yang menyimpang dari kewajaran. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Allah secara tegas melarang praktik sihir (mengandalkan kuasa roh yang bukan kuasa TUHAN), berhubungan seks dengan binatang, dan mempersembahkan korban kepada ilah lain. Kita harus merasa puas dengan kehidupan yang wajar. Jangan berusaha mengerti hal-hal yang mistik (gaib, tidak nampak oleh mata). Waktu kita berusaha memiliki kuasa yang di luar kewajaran, kita bisa terjerumus menjadi orang yang mengabaikan kuasa Allah. Walaupun dalam kehidupan ini terdapat kuasa-kuasa gaib yang nampak menakjubkan, kita harus memilih untuk tetap bersandar kepada Allah dan melawan godaan untuk mencari kuasa di luar Allah. Karena Allah sudah menetapkan bahwa hubungan seks manusia itu harus antara pria dan wanita, maka hubungan seks dengan binatang dan hubungan seks sesama jenis merupakan hubungan seks yang tidak wajar dan terlarang. Manusia boleh bereksperimen dan berinovasi, tetapi eksperimen dan inovasi itu memiliki batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Bila manusia melangkah terlalu jauh sehingga meninggalkan ketetapan Allah, hukuman pasti akan muncul. Dosa yang dilakukan secara sengaja akan membuat manusia harus berhadapan dengan hukuman Allah!

Dalam Perjanjian Baru, terdapat kisah dua orang yang hendak menipu Allah dalam hal persembahan, yaitu Ananias dan Safira. Mereka ingin menjadi orang yang terkenal. Oleh karena itu, mereka menjual tanah yang mereka miliki, lalu menyerahkan sebagian hasil penjualan tanah kepada Rasul Petrus dengan mengakui sebagian hasil penjualan itu sebagai seluruh hasil penjualan tanah. Dengan demikian mereka meremehkan Allah (mencobai Allah) karena mereka mengira bahwa Allah tidak memahami tipu daya mereka. Kita pun harus waspada agar kita tidak meremehkan kemahakuasaan Allah atau kemahatahuan Allah. Walaupun Allah tidak selalu langsung menjatuhkan hukuman saat kita berbuat dosa, kita harus waspada agar kita tidak mencobai Allah! Kita harus menjauhi semua dosa yang sudah jelas akan menyakiti hati Allah. Apakah Anda sudah berusaha memahami batas-batas yang boleh/tidak boleh dilakukan dalam kehidupan Anda? [P]



July 17, 2019, 05:44:58 AM
Reply #1966
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/page/5/

Menguduskan Hidup dalam Perdamaian
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Imamat 15:1-33

Setiap manusia di segala tempat dan waktu merindukan perdamaian. Perdamaian adalah situasi berhentinya perselisihan, yang menyebabkan terwujudnya keadaan tenteram dan tenang. Tetapi dalam kenyataan, sering kali perdamaian hanya menjadi harapan belaka. Sejarah diisi oleh konflik dan permusuhan yang membuyarkan harapan manusia akan perdamaian. Bagaimana kita menghayati hidup dalam damai menurut ajaran Alkitab? Sebagai orang Kristen yang mendambakan kedamaian, kita dapat belajar dari perikop hari ini.

Di dalam nas ini, kita dapat melihat bagaimana Allah menampakkan diri kepada umat Israel lewat Hari Raya Pendamaian (2). Untuk itulah, Harun sebagai Imam dari umat Israel harus membawa satu ekor lembu jantan muda untuk menghapus dosanya sendiri dan keluarganya, selain satu ekor domba jantan muda untuk kurban bakaran (3, 6). Umat Israel pada hari pertemuan itu wajib menyiapkan dua ekor kambing jantan untuk kurban penebusan dan satu ekor domba jantan untuk kurban bakaran (7). Salah satu dari kambing jantan yang kena undi harus dilepaskan ke padang belantara, sementara satu lagi harus disembelih (8-10).

Melalui upacara kurban, Allah yang penuh kasih karunia memberi dirinya dikenali. Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah yang menginisiasi perdamaian.

Melalui upacara kurban, Allah juga memulihkan umat dari dosa-dosanya. Makna pendamaian adalah ketika Allah dan umat dikaribkan kembali. Allah mendekatkan Diri kepada manusia.

Kita percaya bahwa Yesus Kristus adalah kurban yang sempurna, yang mendamaikan Allah dengan segala ciptaan-Nya (bdk. 2Kor. 5:19, Ibr. 10:14). Maka setiap kali kita mempraktikkan perintah Yesus untuk mengampuni yang bersalah, melayani yang terabaikan, dan melakukan berbagai pengurbanan demi terwujudnya dunia yang lebih baik, sesungguhnya kita sedang menyatakan damai dari Allah kepada dunia.

Doa: Tuhan, tolong kami menjadi juru damai di mana pun Engkau menempatkan kami sesuai dengan mau-Mu.[SB]
Suar Budaya







Menguduskan Tubuh Bagi Allah
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Imamat 15:1-33

Pada zaman kekinian tumbuh subur suatu ungkapan: ”Tubuhku adalah kekuasaanku”. Begitu populer digemakan dengan makna bahwa tubuh dan pengelolaannya semata-mata bergantung pada kehendak diri sendiri.

Pada perikop ini, Kitab Imamat menyampaikan penataan tubuh yang berkaitan dengan organ seksual dan reproduksi laki-laki dan perempuan Israel. Allah memberikan aturan rinci mengenai bagaimana air mani mesti diperlakukan dengan baik (1-18). Cairan alamiah itu tidak boleh sembarangan terpapar pada benda-benda maupun anggota tubuh, mulai dari pakaian (7), pelana (9), belanga (11), sampai perkakas rumah tangga harus terhindar dari persinggungan dengan air mani. Bagi kaum perempuan, mereka diperintahkan untuk menata masa menstruasi dengan hati-hati (18-28). Darah menstruasi tidak boleh dibiarkan begitu saja mengaliri tubuh dan perkakas-perkakas. Darah itu harus dibasuh untuk pentahiran (21). Pengabaian terhadap pembersihan itu akan menyebabkan kenajisan terhadap segala hal yang tersentuh oleh perempuan itu. Perikop ini juga menandaskan bahwa segala kelalaian terhadap penataan organ reproduksi harus diselesaikan dengan kurban pendamaian oleh imam demi memulihkan kesucian (30).

Menurut Kitab Imamat, kehidupan adalah karya Allah yang suci. Semua aspek hidup selalu berkaitan dengan kekudusan Allah. Semua hal yang berkaitan dengan penataan kesehatan organ reproduksi pun dihayati sebagai pengabdian kepada-Nya.

Berbagai hal baik yang berhubungan dengan organ reproduksi dan seksualitas kita sepatutnya dipandang sebagai anugerah Allah yang harus ditanggapi dengan ucapan syukur dan hormat. Tubuh ciptaan Allah sepatutnya diperlakukan dalam wujud menghormati Allah dengan cara menjalankan kehidupan seksual dengan penuh bertanggung jawab.

Doa: Tuhan, ajar kami bersyukur dan menghormati-Mu dengan menata kesehatan reproduksi kami seturut kekudusan-Mu. [SB]
Suar Budaya


July 17, 2019, 05:46:32 AM
Reply #1967
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Terang atau Gelap?
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 11:33-36

Yesus baru saja memperingatkan orang-orang yang hanya ingin melihat tanda, tetapi tidak mau percaya dan bertobat (29-32). Kini Yesus mengajarkan perumpamaan pelita dan mata, sebuah prinsip penting dinyatakan di sini.

Perumpamaan ini tidak asing bagi pendengarnya. Para pendengar saat itu mudah memahami hal ini karena pelita pada waktu itu adalah pelita kecil dari tanah liat yang diisi dengan minyak zaitun. Biasanya pelita dinyalakan dan diletakkan di atas kaki dian supaya menyinari seluruh ruangan sehingga cahayanya dapat dilihat orang. Pelita yang menyala tidak disembunyikan di kolong rumah atau di bawah gantang sehingga tidak dapat menyinari ruangan. Tidak ada gunanya pelita itu jika disembunyikan.

Pelita adalah firman Allah. Firman yang diucapkan Yesus adalah terang yang menyinari jalan hidup manusia, sebagaimana yang pemazmur katakan, ”Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm. 119:105). Terang memancarkan sinarnya bagi kebutuhan hidup manusia, maka hendaknya terang itu ditempatkan pada tempat yang tepat (33). Terang haruslah memancarkan sinarnya.

Demikian juga dengan mata. Mata yang sehat menerima terang yang masuk, tetapi mata yang tidak sehat menyebabkan kegelapan. Selama mata bekerja dengan baik, kita mempunyai cahaya untuk menanggapi sekitar. Benarlah ungkapan, ”Mata adalah pelita tubuh” (34). Jika mata melirik dosa, tubuh kita akan dibawa kepada dosa dan kegelapan akan menguasai. Yesus mendorong para pendengarnya untuk hidup dalam terang Allah, jangan hidup dalam kegelapan (35).

Kita hidup dalam dunia yang penuh tawaran dosa dan kegelapan. Jika terang firman Allah ada di dalam kita dan kita dituntunnya, kita akan menjauhi kegelapan dosa. Menerima dan memancarkan terang kepada sesama merupakan suatu keharusan. Sebab hidup tanpa terang firman Allah adalah hidup yang tersesat. Pancarkanlah terang Anda!

Doa: Berilah kami hati yang mau hidup dalam terang firman-Mu dan menjauhi hidup yang gelap dan berdosa. [IM]
Pdt. Ida Mayor







Percaya Yesus atau Tanda?
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 11:29-32

Tomas tidak percaya ketika murid-murid yang lain berkata, ”Kami telah melihat Tuhan!” Dan Tomas menjawab, ”Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh. 20:25). Tomas tidak percaya dan ia meminta tanda.

Yesus berkata kepada orang banyak yang mengerumuni-Nya, ”Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda….” (29). Mengapa? Padahal mereka telah melihat mukjizat yang dilakukan Yesus seperti menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, bahkan membangkitkan orang mati. Mereka juga telah mendengar perkataan Yesus yang penuh hikmat Ilahi dan yang menuntun pada jalan keselamatan. Semua tanda itu tidak cukup bagi mereka.

Yesus tidak akan memberikan mereka tanda karena pelajaran dari kisah nabi Yunus seharusnya telah mereka pahami. Yunus datang kepada Niniwe untuk mengadakan penghakiman Allah. Allah memberikan keselamatan kepada Niniwe karena mereka bertobat setelah mendengarkan Yunus.

Sekarang di hadapan mereka berdiri Seorang yang melebihi Yunus dan Salomo. Jika mereka tidak percaya kepada Yesus, maka pada masa penghakiman kelak orang asing akan bangkit, seperti ratu Syeba, menghukum mereka, orang-orang Yahudi.

Mengapa justru bangsa asing yang akan menghakimi orang Yahudi? Karena mereka percaya kepada Allah dan bertobat. Sedangkan orang-orang Yahudi mengeraskan hati dan tidak mau mengakui Yesus sebagai Mesias.

Peringatan keras Yesus berlaku juga bagi kita pada masa kini. Orang yang tidak mendengar firman Allah dan tidak bertobat akan dihukum. Orang yang bertobat akan hidup dalam iman dan kelak akan menghakimi bersama-sama Yesus; menghakimi orang yang menolak Yesus.Iman Kristen tidak berdasarkan tanda. Apatah artinya iman bila harus bergantung pada tanda? Landaskan iman Anda hanya pada firman Allah!

Doa: Kuatkan iman kami agar tidak bergantung tanda dalam mengikuti-Mu. [IM]
Pdt. Ida Mayor


July 17, 2019, 05:50:24 AM
Reply #1968
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Yang Berbahagia
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 11:27-28

Masih ingatkah Anda dengan sang Juara badminton Asian Games 2018 Jakarta-Palembang yaitu Jonathan Christie yang mengalahkan Chou Tien Chen dan mendapatkan medali emas ke-23 untuk Indonesia? Ia menuai begitu banyak pujian. Indonesia bangga. Semua mengucapkan selamat kepada pahlawan bangsa, Jonathan Christie.

Lukas mencatat, ketika Yesus masih berbicara ada seorang perempuan dari antara orang banyak yang berseru kepada Yesus, ”Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau” (27). Ia memuji ibunda Yesus sebagai ibu yang berbahagia. Ia kagum dengan pengajaran (1-13; 15-26) dan mukjizat yang dilakukan-Nya (14). Baginya, prestasi Yesus tidak terlepas dari peranan seorang ibu (keluarga). Perempuan itu bukan hanya menyanjung status ibu Maria sebagai ibu Yesus, tetapi juga peranan Maria sehingga Yesus dapat tampil sebagai salah seorang guru yang dihormati pada masa itu.

Adalah lumrah bagi manusia menilai dengan dengan ukuran manusia. Tetapi, Yesus memanfaatkan peristiwa ini untuk mengatakan bahwa yang berbahagia ialah orang yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya (28). Yesus tidak bermaksud merendahkan hubungan darah melainkan menegaskan bahwa ada ikatan lain yang lebih dari itu. Ikatan yang dimaksud adalah ikatan keluarga surgawi. Ikatan ini didasarkan pada ketaatan seseorang untuk sedia mendengarkan dan memelihara firman Allah. Mereka yang sudi mendengar dan memelihara firman-Nya adalah anggota keluarga Allah. Dengan firman Allah, anggota keluarga Allah akan menerangi bumi.

Tentu saja Yesus mengasihi Maria, ibu-Nya. Ia sedang menegakkan konsep kebahagiaan yang terbesar dan sejati. Kebahagiaan sejati hanya di dapat ketika mendengar dan melakukan firman Allah.

Keluarga Allah bukan soal hubungan darah tetapi soal respons pribadi terhadap anugerah. Sediakanlah waktu untuk membaca, merenungkan, dan melakukan firman Allah sebagai anggota keluarga Allah.

Doa: Tuhan, berkati keluarga kami untuk taat pada-Mu. [IM]
Pdt. Ida Mayor







Kerasukan Setan
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 11:24-26

Dengan kemajuan teknologi saat ini, banyak orang tidak percaya lagi akan hal-hal yang bersifat spiritual. Banyak orang lebih memilih hal-hal logis berdasarkan akal sehat dan keilmuan yang dapat diverifikasikan melalui uji laboratorium daripada percaya sesuatu yang bersifat rohani. Jika kita berbicara tentang roh jahat atau setan, banyak yang akan menghindarinya. Sebagai pengikut Yesus, kita percaya apa yang Alkitab katakan bahwa roh jahat itu ada.

Dalam nas ini, Yesus mengajarkan bahwa roh jahat bukan hanya ada dan dapat merasuki, tetapi juga dapat kembali lagi ke tempat sebelumnya di mana ia merasuk, sekalipun telah diusir oleh kuasa Allah (20). Roh jahat yang keluar dari tubuh manusia mencari tempat tandus untuk berhenti. Tetapi karena tidak mendapatkannya ia kembali ke rumah yang ditinggalkannya (24). Herannya, Yesus menggambarkan orang yang telah diusir setan itu dengan perumpamaan rumah yang bersih tersapu dan rapi teratur (25). Bersih dan teratur tidak berarti hidupnya suci karena diisi oleh firman Allah dan hidup berpusat kepada Yesus. Namun sebaliknya, hidupnya ternyata tidak berisi, kosong melompong. Lebih parah lagi, roh jahat itu datang tidak sendiri. Ia mengajak roh lainnya yang memiliki kekuatan tujuh roh jahat untuk menguasai tempat yang lama dan menghancurkannya (26). Mereka menjadi penguasa rumah kosong itu.

Melalui pengajaran ini, Yesus mengingatkan bahwa roh jahat dapat menguasai dan menyakiti kita jika kita tidak sungguh-sungguh percaya kepada Yesus. Sebab, hidup yang kosong dan tidak diisi Yesus sama seperti memberi kesempatan bagi roh jahat untuk berkuasa lagi. Orang yang kerasukan setan dapat membahayakan diri sendiri atau juga orang lain. Tetapi, Yesus sudah mematahkan kuasa Iblis di atas kayu salib.

Alamilah kehidupan sebagai orang yang menjadikan Yesuslah Penguasa tunggal kehidupan ini!

Doa: Ya Tuhan, kuatkan dan teguhkan iman kami untuk mengalami kuasa kebangkitan-Mu. Amin. [IM]
Pdt. Ida Mayor


July 17, 2019, 05:51:25 AM
Reply #1969
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

Sirik Tanda Tak Mampu
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 11:14-23

Orang banyak kagum atas kuasa Yesus yang dapat mengusir setan dan mengusir roh jahat yang membuat orang bisu. Kagum karena yang sembuh akhirnya dapat berkata-kata. Tetapi yang lain berkata, ”Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan!” Pro dan kontra mewarnai insiden penyembuhan orang yang memerlukan kesembuhan.

Sejatinya tindakan Yesus merupakan tindakan yang membebaskan. Orang yang mulanya bisu—tidak bisa mengatakan apa yang dipikirkan dan dirasakan kepada orang lain—sekarang mampu mengutarakan apa yang ada di pikiran dan hatinya. Belas kasihan Yesus mendorong-Nya mengusir roh jahat dari si Bisu.

Bisa jadi si Bisu pun kaget atas apa yang terjadi pada dirinya. Lukas memang tidak menuliskan apakah ada permohonan si Bisu atas keadaannya itu. Kesulitan berkomunikasi jelas menghalanginya untuk dapat memohon kesembuhan.

Persoalannya, ada orang yang tidak bersukacita atas kesembuhan si Bisu. Mereka malah menjadikan peristiwa penyembuhan itu untuk menghakimi Yesus. Mungkin mereka juga heran akan peristiwa itu. Namun, mereka tidak cukup rendah hati untuk mengakui kuasa Sang Guru dari Nazaret. Mereka mencetuskan argumen bahwa Yesus berkolaborasi dengan Beelzebul untuk mengusir roh jahat yang menyebabkan bisu.

Yesus adalah Tuhan yang penuh kuasa. Ia memahami seluruh kebutuhan manusia yang datang kepada-Nya untuk minta disembuhkan. Meskipun penyembuhan terjadi, tak dapat dipungkiri ada orang yang malah mempertanyakan ini dan itu, bukannya menyukuri kehadiran kuasa Allah dalam penyembuhan itu.

Kuasa mukjizat Yesus tetap terjadi hingga kini. Hanya yang iri terhadap kemahakuasaan Yesus, yang menolak kehadiran-Nya karena tidak mampu menandingi kuasa-Nya. Sirik memang tanda tak mampu. Sekalipun tetap ada yang sirik, kita harus berdoa untuk banyak kesembuhan yang Tuhan akan lakukan masa kini.

Doa: Terpujilah kuasa-Mu yang menunjukkan kehadiran-Mu hingga kini. [YM]
Pdt. Yoel M. Indrasmoro







Berdoa sebagaimana Diajarkan Yesus
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 11:1-13

Berdoa adalah berbicara kepada Allah dengan segala kerendahan hati, menyampaikan kerinduan hati, dan menanti jawaban yang sesuai dengan kehendak-Nya. Berdoa harus datang dari dalam diri dan bukan meniru gaya berdoa orang lain.

Ketika seorang dari murid-murid-Nya memohon supaya diajarkan berdoa seperti murid-murid Yohanes, Yesus mengajarkan doa yang lahir dari dalam diri. Doa itu lahir dari kedekatan hubungan dengan Bapa yang memahami dan menjawab doa. Doa bukanlah ilmu yang dapat dipelajari.

Mengapa berdoa penting? Karena doa merupakan kebutuhan mendasar yang lahir dari hubungan yang akrab dengan Bapa. Doa muncul dari iman. Doa membuktikan relasi hangat dengan Allah. Doa merupakan bukti cinta kepada Allah. Yesus pun menyediakan waktu untuk berdoa di dalam hidup dan pelayanan-Nya.

Apa saja isi doa? Nilai yang terutama dari doa yang diajarkan Yesus adalah relasi Allah dan manusia. Mengakui Allah dan Kerajaan-Nya yang kudus akan melahirkan kesadaran untuk memohon pengampunan-Nya, berharap kecukupan, dan melakukan penyerahan diri secara total (2-4).

Bagaimana sikap yang benar saat berdoa? Yesus mengajarkan sebuah prinsip sikap doa yang benar yaitu seperti seorang sahabat yang karena dekat dan akrab tidak canggung menyampaikan kebutuhannya kepada sahabatnya. Lalu si sahabat rela menolong (5-8). Demikianlah Allah, Ia pasti akan menjawab setiap doa yang dipanjatkan. Allah mendengarkan doa-doa karena Allah adalah Bapa dan pendoa adalah anak-Nya (11-13). Setiap bapak akan mencukupi dan memberi yang terbaik untuk keperluan anaknya.

Berdoa juga harus fokus dan konsisten. Hal ini seperti orang yang mencari sesuatu, atau mengetuk pintu (9-10). Mereka pasti akan mendapatkan, dan pintu akan dibukakan. Hanya mereka yang sungguh-sungguh berusaha dan konsisten akan mendapatkan apa yang dicari. Mari, nikmati doa dalam hubungan kita sebagai anak dan Allah sebagai Bapa.

Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami berdoa. [IM]
Pdt. Ida Mayor





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)