Author Topic: Saat Teduh  (Read 61471 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

July 17, 2019, 05:52:38 AM
Reply #1970
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

Antara Baik dan Terbaik
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 10:38-42

Manusia adalah makhluk hidup yang memiliki banyak kebutuhan. Dan kebutuhan ini mempunyai banyak variabel seperti kebutuhan sandang, papan, pangan, kebutuhan sekunder, tersier, dan sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia diperhadapkan dengan begitu banyak pilihan sehingga sering kali membuatnya bingung. Terlebih jika pilihan tersebut ada di antara yang baik dan yang terbaik. Kadang kala untuk menentukan pilihan saja manusia bisa mengalami stres karena takut salah pilih.

Dalam nas ini, Marta mengalami stres dengan pilihannya. Marta ingin memberi pelayanan yang terbaik bagi Yesus dengan memikirkan apa yang dapat ia lakukan untuk menyenangkan hati-Nya. Lalu ia menyuguhkan makanan dan minuman bagi Yesus (40). Ini sesuai dengan tradisi Yahudi bahwa seorang tamu harus diperlakukan dengan baik. Marta fokus pada apa yang ingin dia lakukan bagi Yesus. Lalu Marta mulai berkeluh kesah karena Maria tidak membantunya.
Pilihan kesibukan sering membuat kita menjadi tidak fokus pada Yesus. Kemudian kita menjadi gelisah serta mulai menyalahkan sekitar kita.

Bagaimana dengan Maria? Maria duduk dan mendengarkan Yesus. Ia fokus pada Yesus (39). Ia rindu mendengarkan Yesus berbicara kepadanya.Ia menolak untuk berbicara banyak. Perbuatannya menuai pujian karena ia memilih yang terbaik di antara yang baik (42). Artinya, ada banyak hal yang baik, namun hanya ada satu pilihan yang terbaik yaitu Yesus dan firman-Nya. Semua pilihan yang sesuai dengan apa yang Yesus kehendaki adalah pilihan terbaik.

Melalui kisah Maria dan Marta, kita diingatkan bahwa terkadang kita memilih sibuk melayani Tuhan sehingga kita lupa diisi oleh Tuhan. Padahal, ketika hidup diisi oleh Tuhan, hidup rohani kita jauh dari kering karena kita diairi oleh-Nya. Jadi apa pun keputusan kita dalam memilih pelayanan, pilihlah yang merekatkan kita dengan Yesus.Ini akan menjauhkan kita dari keluh kesah.

Doa: Ya Tuhan, isilah hidup kami dengan kekayaan hikmat-Mu supaya kami merasa puas di dalam-Mu. [IM]
Pdt. Ida Mayor








Arti Seorang Sahabat
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 10:25-37

Oscar Wilde pernah berkata, ”Sahabat sesungguhnya menusukmu dari depan.” Maknanya adalah sahabat sejati selalu berani menegur secara langsung ketika sahabatnya salah. Sahabat sejati tidak berpura-pura setuju atau tidak setuju. Mereka akan mengatakan apa adanya kepada sahabatnya.

Filosofi itu tidak terdapat dalam diri para ahli Taurat. Nilai-nilai persahabatan mereka sering kali penuh kepalsuan dan kepura-puraan. Mereka sering melakukan permainan kata-kata untuk menyelubungi motivasi mereka yang tidak benar. Teguran dan nasihat tulus kepada mereka pasti ditolak sebab dianggap sebagai ancaman bagi jabatan dan kedudukan.

Nilai-nilai persahabatan yang diajarkan Kristus adalah murni. Perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati merupakan gambaran tentang persahabatan yang sesungguhnya. Seorang sahabat tidak takut terhadap bahaya yang mengancam dirinya. Ia rela berkorban baik waktu, tenaga dan harta, bersedia menolong dan memiliki belas kasihan, mengobati bukan melukai, mendekati bukan menjauhi, tidak mementingkan diri sendiri, tidak menuntut balas, dan tidak mengenal perbedaan: ras, suku, agama, status sosial. Itulah makna seorang sahabat yang sesungguhnya. Itulah nilai yang diajarkan Kristus.

Apakah kita masih dapat menemukan sahabat seperti ini di tengah keluarga, pekerjaan, sekolah, persekutuan, dan pelayanan gereja? Bagaimana dengan peristiwa mencekam dan mengancam kerukunan beragama? Masih adakah persahabatan sejati? Ataukah persahabatan kita penuh dengan kepalsuan dan kepura-puraan?

Kita bisa menjadi sahabat mulai dari hal kecil kepada yang lain, seperti menolong orang yang hidup dalam kesendirian, yang menderita sakit, tidak menjadi orang asing bagi tetangga sekitar kita. Mari kita bangun persahabatan yang indah dimulai dari keinginan baik dalam diri kita.

Doa: Ya Tuhan Yesus, mampukanlah kami menjadi sahabat yang baik karena Engkau sudah menjadi sahabat kami terlebih dahulu. [NR]

Pdt. Nova Rollo









July 17, 2019, 05:53:31 AM
Reply #1971
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


Bersyukur
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 10:21-24

Bersyukur merupakan hal yang sangat penting dalam hidup orang Kristen. Kita dinasihati agar mengucap syukur dalam segala hal sebab itulah yang Allah kehendaki (1Tes. 5:18). Dan di dalam ucapan syukur sudah selayaknya kita mempunyai alasan untuk bersyukur. Bersyukur tanpa alasan yang jelas adalah ucapan kosong di bibir. Melihat ketujuh puluh murid pulang dapat sukacita, Yesus bergembira dalam Roh dan bersyukur.

Yesus bersyukur kepada Bapa dengan beberapa alasan. Pertama, karena karunia Allah bagi para murid yang mengenal Yesus Kristus berkuasa menaklukkan kuasa Iblis. Pengakuan mereka, ”Setan-setan takluk oleh nama Yesus” adalah pengakuan kedaulatan dan kuasa yang dimiliki Yesus (17). Yesus bersyukur atas pemahaman mereka itu.

Kedua, karena Allah berkenan kepada mereka. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ”Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.” Hanya mereka yang terpilih, yang dikaruniakan kesempatan untuk melihat yang tidak dilihat orang lain, telah melihat kuasa Allah bekerja. Yesus yakin bahwa Bapa sendiri yang menguakkan rahasia-Nya, bahwa Yesus adalah Tuhan yang berdaulat. Ini merupakan hal yang tidak terjadi dengan sendirinya. Allahlah yang memberikan anugerah itu kepada orang-orang yang diperkenan-Nya. Inisiatif datang dari Allah.

Bersyukur adalah tindakan yang muncul dari dalam diri seseorang karena mengalami pekerjaan Tuhan dan anugerah-Nya. Tindakan syukur ini nyata dalam bentuk pengakuan atas kuasa dan kedaulatan Tuhan atas segala perkara.

Jadi, jangan asal bersyukur! Bersyukurlah karena kita telah melihat bahwa Yesus adalah Tuhan yang berdaulat dan berkuasa atas hidup kita. Bersyukurlah karena Bapa berkenan mengaruniakan dan menyingkapkan kemuliaan dan kuasa Yesus sehingga kita dapat melayani-Nya. Kitalah orang-orang yang Allah perkenan untuk menikmati segala karunia-Nya.

Berdoa: Tuhan, berilah kami karunia pengertian untuk memahami-Mu lebih dalam lagi. [NR]
Pdt. Nova Rollo







Terdaftar di Surga
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 10:17-20

Surga adalah suatu tempat Allah berdiam dan memerintah. Orang percaya akan bersama Allah di sana menikmati hidup yang kekal. Surga merupakan perhentian akhir yang indah bagi orang percaya, di mana mereka merasakan hadirat Allah (Yoh. 14:2-3). Surga adalah kerinduan setiap orang yang percaya kepada Kristus.

Bagaimana kita mengetahui bahwa nama kita terdaftar di surga? Dalam kisah kembalinya ketujuh puluh murid yang diutus pergi ke kota-kota untuk memberitakan tentang tibanya Kerajaan Surga (Luk. 10:1-12), mereka bersukacita menceritakan kemenangan atas setan-setan (17). Namun, respons Yesus atas kegembiraan mereka berbeda. Yesus ingin mereka tidak bersukacita karena setan-setan takluk, tetapi bersukacita karena nama mereka terdaftar di Surga (20).

Tokoh utama di balik keberhasilan murid-murid adalah Yesus sendiri. Setan-setan tunduk karena nama Yesus (19). Tanpa Yesus, tidak seorang pun sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah.

Keberhasilan pelayanan adalah kerinduan setiap orang Kristen yang dipanggil dalam pelayanan yang mulia. Tetapi, kita tidak perlu merasa puas dengan keberhasilan di dunia, melainkan berbahagialah karena nama kita terdaftar di surga. Itulah sukacita yang Allah kehendaki dalam nas ini. Itulah kepuasan sejati orang Kristen. Setiap kemenangan dalam peperangan iman harus berpusat pada Kristus. Bersyukurlah karena Ia memercayakan panggilan-Nya. Bukan hasil semata yang disyukuri, tetapi kesempatan untuk melakukan pelayanan sesuai dengan kehendak-Nya. Itulah jaminan nama yang terdaftar di surga.

Marilah kita mengucap syukur kepada Yesus Kristus, yang memercayakan kepada kita pelayanan-Nya. Ia mengaruniakan kuasa-Nya sehingga pekerjaan pelayanan itu dapat dilakukan sesuai dengan kehendak-Nya. Kelak kita akan mengetahui bahwa nama kita terdaftar di surga.

Doa: Terima kasih Tuhan, atas kuasa nama-Mu yang menyertai kami dalam bekerja dan melayani-Mu. Mulialah nama-Mu. [NR]
Pdt. Nova Rollo




July 17, 2019, 05:54:18 AM
Reply #1972
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

Jangan seperti Kota-kota itu
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 10:13-16

Kisah legenda ”Malin Kundang” mengisahkan seorang anak yang dikutuk ibunya menjadi batu. Ia malu mengakui ibunya yang telah melahirkan, merawat, dan membesarkannya karena ibunya sudah tua dan tampil dengan pakaian compang-camping. Ketika perbuatan baik dibalas dengan keburukan, ada orang tua yang tak mampu menahan kesedihan dan akhirnya mengucapkan kutuk kepada anaknya.

Apa yang terlintas dalam pikiran kita saat membaca kisah Yesus mengecam tiga kota di daerah Yahudi, kemudian membandingkannya dengan Tirus dan Sidon, kota-kota yang berada di luar daerah Yahudi? Mengapa Tuhan marah? Kecaman Yesus terhadap Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum berbeda dari kisah kutukan yang dialami oleh ”Malin Kundang”. Kecaman Yesus merupakan peringatan, bahwa Tuhan menghendaki adanya perubahan hidup dari orang-orang sesudah mendengar dan mengalami segala kebaikan-Nya. Ia tidak menghendaki kehidupan yang tidak menghargai kebaikan dan anugerah-Nya. Kecaman Yesus merupakan pernyataan anugerah untuk bertobat (13). Tanpa pertobatan tidak ada pengharapan keselamatan.

Ironis! Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum mengalami banyak kebaikan dan kemurahan Allah, namun tidak ada perubahan. Terlalu banyak mukjizat yang dilakukan di sana, tetapi tidak ada perubahan apa pun, tidak ada pertobatan, dan perkabungan (13). Yesus mengecam hal tersebut.

Setelah mengalami segala kebaikan Tuhan, seharusnya anak-anak Tuhan hidup lebih dekat kepada-Nya dan melakukan kehendak-Nya. Orang-orang Kristen yang tidak menunjukkan perubahan hidup adalah orang-orang egois dan tidak mengasihi Tuhan.

Sangat disayangkan bila apa yang terjadi atas Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum harus terulang dalam kehidupan kita. Menyadari dan berubah adalah langkah iman untuk merespons kebaikan Tuhan, daripada kelak menuai hukuman dalam pengadilan Allah.

Doa: Tuhan, kami mau lebih taat dalam mensyukuri anugerah-Mu dalam perbuatan yang menyukakan-Mu. [NR]
Pdt. Nova Rollo







Panggilan Melayani Tuhan
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 10:1-12

Panggilan melayani Tuhan tidak terjadi dengan sendirinya. Itu bukan kehendak manusia. Panggilan terjadi karena Tuhan menghendakinya. Tuhan yang memilih dan mengutus tiap orang untuk terlibat dalam karya-Nya.

Melalui nas ini, kita melihat bahwa ketika Tuhan memilih dan mengutus, kita tidak boleh bertanya pergi ke mana, dengan siapa, dan apa yang perlu dibawa. Sebaliknya, responslah panggilan itu dan jalanilah dengan sukacita.

Ketika Tuhan menunjuk tujuh puluh murid dan mengutus mereka pergi ke setiap kota dan tempat, Dialah yang memberitahukan dengan siapa mereka bekerja, bagaimana menghadapi situasi pelayanan dan karakter manusia yang beragam, serta bagaimana seharusnya bersikap ketika mengalami penerimaan atau penolakan (4-11). Tuhan tidak pernah salah memilih dan mengutus orang bekerja dalam kebun anggur-Nya.

Untuk memenuhi panggilan pelayanan, sudah seharusnya seseorang tidak dibebani dengan hal-hal materi (4), tidak memaksakan keinginan, melainkan hanya fokus pada tugas panggilannya. Seorang pelayan harus melayani sesuai kehendak Tuhan dan bertanggung jawab merespons panggilan karena panggilan itu menyatakan kuasa Allah melalui pertobatan dan pewartaan Kerajaan Allah.

Panggilan melayani Tuhan merupakan anugerah yang diberikan seturut kehendak-Nya. Karena itu, setiap orang yang dipanggil dalam pelayanan harus menyatakan kerelaan tanpa paksaan karena panggilan pelayanan tersebut adalah kesempatan yang dianugerahkan Tuhan. Jika melayani hanya menginginkan tempat yang aman dan nyaman, kehidupan yang terjamin, mendapat penghormatan dan penghargaan, maka janganlah memberi diri menjadi pelayan. Semua itu bukanlah dasar pelayanan yang diajarkan Alkitab. Ingatlah: panggilan melayani Tuhan menuntut kesediaan diri melayani seturut kehendak Tuhan!

Doa: Kiranya dalam rahmat-Mu, ya Tuhan, kami senantiasa melayani sesuai dengan kehendak-Mu dengan penuh tanggung jawab. [NR]
Pdt. Nova Rollo




July 17, 2019, 05:55:05 AM
Reply #1973
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

Mengikut Yesus Keputusanku
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 9:57-62

Lirik lagu ”Mengikut Yesus Keputusanku” diambil dari kata-kata yang diucapkan seorang lelaki yang berasal dari Assam, suatu desa di Timur Laut India. Setelah menerima Kristus, kepala suku Assam memaksanya untuk meninggalkan imannya. Namun, ia berkata, ”Mengikut Yesus keputusanku.” Sekalipun diancam bahwa kepalanya akan dipenggal, ia tak gentar. Ketika melihat istrinya dibunuh, keputusannya pun tidak berubah. Katanya, ”Tetap kuikut walau sendiri.” Sampai ia sendiri dibunuh. Sungguh ajaib! Keputusan iman lelaki itu membawa kepala suku dan penduduk desa tersebut bertobat dan mengikut Yesus!

Bacaan hari ini bercerita tentang reaksi Yesus terhadap keputusan para murid yang bertekad mengikut-Nya. Pertama, pengakuan mengikut Yesus bukan hanya berarti kesediaan mengikut-Nya, tetapi menerima semua konsekuensi saat mengikut-Nya dengan sikap teguh dan tidak goyah–meskipun kenyataan tidak sesuai harapan. Inilah makna yang terdapat dalam perkataan Yesus, ”Sebab Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Kedua, panggilan mengikut Yesus berarti kesediaan melepaskan diri dari segala keterikatan pada hidup yang lama, menyangkal diri, dan memberi diri bagi pelayanan. Sayangnya, saat Yesus memanggil, banyak orang yang berdalih karena masih terikat pada hidup lamanya.

Ketiga, pengakuan mengikut Yesus berarti kesediaan memberi hidup, waktu, tenaga, juga pikiran bagi Tuhan. Ibarat petani yang membajak, ia memfokuskan pandangannya pada tujuan. Ia tidak boleh menoleh ke belakang lagi.

Melalui nas ini, kita belajar bahwa ketika membuat keputusan untuk mengikut Yesus, kita harus fokus kepada Yesus dan siap menerima segala konsekuensinya.

Marilah kita bersyukur karena memiliki Yesus Kristus, yang menyatakan rahasia di balik keputusan setiap orang yang mengikut-Nya. Mari, kita lanjutkan perjalanan iman ini untuk tetap mengikut-Nya!

Doa: Ya Bapa, dalam anugerah-Mu pimpinlah kami untuk mengikuti-Mu. [NR]
Pdt. Nova Rollo







Mengembangkan Kepedulian
Posted on Selasa, 16 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 22:21-27

Bagaimana reaksi Anda saat Anda berjumpa dengan seorang yang bernasib malang? Secara umum, ada tiga macam reaksi yang muncul saat seseorang bertemu dengan orang yang miskin atau bernasib malang, yaitu memandang rendah (bahkan bisa menindas karena merasa berkuasa), tidak peduli, atau merasa kasihan (sehingga berniat menolong). Ketiga macam reaksi ini ditentukan oleh hati kita, yaitu apakah kita mementingkan diri sendiri, kita takut dirugikan sehingga tidak mau berurusan dengan orang lain, atau kita memiliki hati yang berbelas kasihan saat melihat sesama yang menderita. Pada zaman dahulu, umumnya, orang asing, janda, dan anak yatim adalah orang-orang yang merupakan pihak yang lemah serta mudah mengalami penindasan. Akan tetapi, Allah menghendaki agar bangsa Israel tidak bersikap menindas terhadap orang yang posisinya lemah. Mereka diminta Tuhan untuk mengembangkan sikap empati (ikut merasakan perasaan orang lain) dengan mengingat bahwa mereka pernah berada dalam posisi sebagai pendatang yang ditindas di Tanah Mesir. Sikap empati seperti ini akan menghindarkan bangsa Israel dari sikap menindas orang yang lemah.

Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus memberikan nasihat, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 7:12). Nasihat ini berlaku bagi kita semua. Saat kita menjalin relasi dengan orang lain, kita tidak boleh mementingkan diri sendiri, melainkan kita harus memikirkan kepentingan orang lain. Sebagaimana kita berharap bahwa orang lain akan menolong kita saat kita berada dalam posisi lemah dan tertindas, demikian pula kita harus bersikap terhadap orang yang memerlukan pertolongan. Tanggung jawab menolong orang lain inilah yang membuat gereja selalu memiliki bidang diakonia yang mengkhususkan diri untuk melayani orang yang memerlukan bantuan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa tanggung jawab menolong orang lain bukan hanya merupakan tanggung jawab gereja, melainkan juga merupakan tanggung jawab pribadi. Kita harus mengembangkan kepedulian dan sikap berbelas kasihan. Sebagaimana Allah telah mengasihi kita ketika kita masih berdosa (Roma 5:8), demikian pula kita harus mengembangkan rasa belas kasihan tanpa syarat kepada orang-orang yang sedang mengalami penderitaan. [P]





July 18, 2019, 05:43:59 AM
Reply #1974
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Menguduskan Kepemilikan bagi Allah
Posted on Rabu, 17 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Imamat 17:1-9

Memburu harta untuk dinikmati sepuasnya dalam setiap kesempatan yang ada menjadi pesan kebanyakan motivator bisnis zaman kini. Bisa saja, menggunakan harta dalam kepuasannya mengikis sikap yang benar terhadap harta. Harta menjadi tolok ukur kepuasan hidup.

Perikop yang kita baca hari ini menjelaskan tentang bagaimana lembu, domba dan kambing milik orang Israel yang akan disembelih mesti dibawa ke pintu kemah pertemuan untuk diserahkan sebagai persembahan kepada Allah (4). Sebagai umat milik Allah yang telah ditebus oleh-Nya, umat tidak boleh mengonsumsi, apalagi tamak harta benda, termasuk hewan ternak, sebagai milik yang hanya dinikmati untuk kepentingan diri sendiri.

Semua lembu, domba, dan kambing harus disembelih dalam rangka memberikan kurban keselamatan, bukan tindakan konsumtif (6). Dalam konteks ini, segala tujuan persembahan selain kurban kepada Allah akan dianggap sebagai hutang darah kepada Allah. Konsekuensinya berat, orang itu harus dienyahkan dari tengah-tengah bangsa Israel (4). Lembu, domba, dan kambing sebagai properti mesti dipersembahkan kepada Allah. Segala bentuk persembahan kepada ilah lain atau kepada jin akan mengakibatkan hukuman.

Sikap yang benar saat menikmati harta adalah dengan menaikkan syukur terlebih dahulu atas berkat Allah dalam hidup. Hidup syukur menolong kita mewaspadai segala bentuk ketamakan yang memperdaya seolah-olah kebahagiaan hidup bergantung pada kekayaan. Sikap syukur sama artinya dengan memohon Allah menguduskan berkat-Nya kepada kita sehingga kita memiliki komitmen untuk menggunakannya bagi perluasan kerajaan-Nya di dunia ini. Hidup kita tidak bergantung pada penumpukan kekayaan. Hidup kita bergantung pada pemeliharaan Allah. Jadi persembahkanlah segala sesuatunya kepada Allah.

Doa: Tuhan tolonglah agar kami tidak dikuasai ketamakan dan kekhawatiran. Beri kami keikhlasan untuk mempersembahkan harta benda kami bagi kemuliaan Kerajaan-Mu. [SB]
Suar Budaya







Menghargai Allah
Posted on Rabu, 17 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 22:28-31

Ada dua macam alasan yang membuat seseorang menghargai Allah, yaitu kesadaran bahwa Allah memang harus dihargai dan keinginan memperoleh berkat dari Allah. Orang yang menghargai Allah karena kesadaran akan menghargai tanpa syarat. Akan tetapi orang yang menghargai Allah untuk mendapat berkat akan kehilangan penghargaan saat merasa tidak mendapatkan berkat atau keinginannya tidak terpenuhi. Orang jenis kedua (yaitu orang yang menghargai Allah agar mendapat berkat) akan sangat kecewa saat mengalami kemalangan, dan selanjutnya akan kehilangan gairah dalam beribadah, bahkan ada yang kemudian mengutuki Allah (berkata jelek tentang Allah). Contoh yang jelas terlihat dalam Alkitab adalah sikap istri Ayub. Saat Ayub kehilangan anak-anak dan harta bendanya, Ayub masih bisa mempertahankan imannya. Akan tetapi, istri Ayub tidak tahan dan berkata kepada suaminya, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” Jelaslah bahwa penghargaan istri Ayub terhadap Allah ditentukan oleh kondisi. Setelah kehilangan anak-anak dan hartanya, dia merasa tidak ada lagi gunanya beribadah kepada Allah, sehingga ia menganjurkan suaminya untuk mengutuki Allah.

Penghargaan terhadap Allah tercermin melalui dua hal:

Pertama, penghargaan terhadap Allah terlihat dari penghargaan terhadappara pemimpin yang ditetapkan Allah (pemerintah, orang tua, guru, dan para pemimpin lainnya). Orang yang tidak bisa menghargai para pemimpin yang kelihatan pasti sulit menghargai Allah yang tidak kelihatan. Dalam surat Roma, Rasul Paulus menegaskan bahwa orang Kristen harus menghargai para pemimpin negara (pemerintah) karena keberadaan para pemimpin itu ditetapkan (seizin) Allah (Roma 13:1-2). Orang Kristen juga harus menghormati (menghargai, menaati) orang tuanya (Kolose 3:20; Keluaran 20:12).

Kedua, penghargaan terhadap Allah terlihat dari kesetiaan memberi persembahan kepada Allah. Saat kita memberi persembahan, kita menempatkan Allah dalam posisi yang lebih terhormat dan lebih penting daripada diri kita. Bila kita sangat menghargai Allah, kita tidak akan bersikap “hitung-hitungan” terhadap Allah. Bila kita hanya bersedia mempersembahkan ”uang kecil” kepada Allah, jelas bahwa kita tidak menghargai Allah. Apakah Anda sudah menghargai Allah secara semestinya? [P]

July 19, 2019, 05:26:40 AM
Reply #1975
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Ibadah yang Merawat Kehidupan
Posted on Kamis, 18 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Imamat 17:10-16

Karl Marx pernah menulis: ”Agama adalah candu masyarakat”. Adagium ini sering disalahartikan oleh banyak orang sebagai ejekan terhadap agama. Jika kita baca dalam konteks yang lebih luas, teks Marx ini sebenarnya bukan sedang menistakan agama. Teks tersebut menunjukkan bagaimana agama memiliki potensi menjadi alat yang melanggengkan penindasan terhadap sesama manusia. Agama dapat menjadi tempat pelarian dari tanggung jawab dalam menjalani kehidupan yang adil.

Lantas adakah jalan keluar untuk beragama yang memuliakan Allah sekaligus merawat kehidupan? Ada. Jika agama dapat berpotensi disalahgunakan menjadi alat perusak kehidupan, pendayagunaan agama seharusnya dapat menjadi kekuatan merawat kehidupan.

Teks yang kita baca pada hari ini adalah aturan Taurat tentang makanan. Allah melarang umat Israel dan orang asing di antara mereka untuk makan darah (10). Peraturan ini bukanlah perintah tanpa dasar. Landasannya berasal dari sabda Allah sendiri bahwa di dalam darah makhluk terletak nyawanya (14). Pelanggaran terhadap perintah ini memiliki konsekuensi serius (15).

Penghargaan terhadap kehidupan yang dianugerahkan Allah dimulai dari periuk makanan Israel. Makan dan beribadah adalah dua aktivitas yang tidak dapat dipisahkan. Apa yang dimakan oleh umat Allah harus dipastikan untuk memuliakan-Nya.

Sebagai orang Kristen, kita sudah dibebaskan dari berbagai aturan soal larangan makanan yang diatur di dalam Hukum Taurat. Hari ini kita dipanggil untuk menilik segala segi kehidupan lewat lensa iman kepada Allah di dalam Yesus yang mencintai kehidupan ciptaan-Nya. Karena itu, pertanyaan yang perlu terus diajukan dalam perziarahan iman kita adalah apakah kita sudah menjadi orang yang merawat kehidupan alam dan manusia? Apakah makanan kita berasal dari penghisapan kehidupan sesama kita?

Doa: Bapa, tolonglah kami untuk merawat dan mencintai kehidupan sebagai buah anugerah-Mu. [SB]
Suar Budaya







Milikilah Integritas
Posted on Kamis, 18 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 23:1-13

Bacaan Alkitab hari ini mengajarkan kita untuk memiliki integritas, artinya diri kita menjadi suatu kesatuan yang utuh antara apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan, antara apa yang terlihat dari luar dan apa yang sebenarnya. Bila kita memiliki integritas, kita tidak akan ikut menyebarkan hoaks atau kabar bohong (23;1)). Orang yang memiliki integritas tidak akan memberikan kesaksian palsu (23:2). Orang yang memiliki integritas akan bersikap adil, tidak memihak orang kaya dan tidak memihak orang miskin (23:3, 6). Orang yang memiliki integritas adalah orang yang hidup apa adanya, tidak menutupi keadaan yang sebenarnya (23:7). Jelaslah bahwa orang yang memiliki integritas tidak akan menerima suap, karena penerima suap akan bersikap tidak adil untuk membalas “kebaikan” si pemberi suap (23:8). Orang yang memiliki integritas tidak akan bersikap serakah, melainkan mempersilakan orang lain memperoleh apa yang menjadi haknya (23:9-12). Orang yang memiliki integritas akan melaksanakan kewajibannya, bukan mencari keuntungan di atas kerugian orang lain. Orang yang memiliki integritas akan setia kepada Allah saja, dan tidak akan tergoda untuk menyembah ilah lain yang menawarkan keuntungan kepadanya (23:13).

Menjadi seorang yang mempertahankan integritas tidaklah mudah karena hal itu akan membuat kita kadang-kadang harus menentang arus. Bila kita gampang ikut-ikutan, kita tidak akan bisa mempertahankan integritas. Bila kita hendak menjadi seorang yang memiliki integritas, kita harus berani berbeda dengan orang lain, kita harus menjadi orang yang setia, betapapun beratnya tantangan yang harus kita hadapi. Kehidupan Tuhan Yesus dan kehidupan Rasul Paulus merupakan teladan bagi setiap orang yang hendak mempertahankan integritas. Tuhan Yesus tidak mau berkompromi dalam melakukan misinya menyelamatkan dunia ini. Dia tidak mau bekerja sama atau menyesuaikan diri dengan keinginan para pemimpin agama. Rasul Paulus juga tidak mau berkompromi dalam melaksanakan misinya. Dia tidak takut terhadap ancaman masuk penjara. Dia tidak takut menegur seniornya—Kefas atau Rasul Petrus—saat dia melihat bahwa Rasul Petrus tidak berani memperlihatkan identitas dirinya yang sebenarnya  (Galatia 2:11-14). Apakah Anda memiliki integritas? Beranikah Anda hidup apa adanya, hidup dalam kebenaran walaupun kadang-kadang harus menentang arus? [P]

July 20, 2019, 06:53:45 AM
Reply #1976
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Hari-hari Raya Israel
Posted on Jumat, 19 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 23:14-19

Bacaan Alkitab hari ini membahas tiga hari raya tahunan yang utama bagi orang Israel, yaitu Hari Raya Roti Tidak Beragi (rangkaian Masa Raya Paskah), Hari Raya Menuai (Hari Raya Pentakosta atau Hari Raya Buah Bungaran), dan Hari Raya Pengumpulan Hasil (Hari Raya Pondok Daun). Hari Raya Paskah adalah peringatan terhadap peristiwa saat Allah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Tanah Mesir. Pada malam saat mereka hendak keluar dari Tanah Mesir, mereka memakan daging hewan korban beserta dengan roti tak beragi dan sayur pahit. Itulah awal sebutan Hari Raya Roti tak Beragi (Keluaran 12). Hari Raya Pentakosta (artinya kelima puluh) merupakan perayaan yang diadakan 50 hari sesudah Paskah, di awal masa panen. Saat itu, bangsa Israel harus mempersembahkan hasil yang terbaik dari buah Bungaran yang mereka panen (23:19a). Setiap Hari Raya Pondok Daun, bangsa Israel tidak tinggal dalam rumah, tetapi tinggal di pondok-pondok daun (Imamat 23:42). Hari Raya Pondok Daun adalah hari raya yang diadakan untuk memperingati pimpinan Allah saat bangsa Israel berada dalam perjalanan dari Tanah Mesir ke Tanah Kanaan, yang bertepatan dengan masa akhir pesta panen. Saat dalam perjalanan itu, jelas bahwa mereka tidak tinggal di rumah yang permanen, melainkan di kemah (pondok). Saat ketiga hari raya itu dirayakan, orang-orang Israel diharapkan berkumpul di kota Yerusalem.

Penetapan ketiga hari raya itu nampaknya disebabkan karena Allah menginginkan agar bangsa Israel menjadi umat Allah yang tahu berterima kasih (bersyukur). Agar mereka bisa bersyukur, mereka harus selalu mengingat kebaikan Allah dalam hidup mereka. Akan tetapi, Allah mengharapkan agar hari-hari raya bangsa Israel tidak dinodai oleh kebiasaan-kebiasaan kafir. Aturan “Janganlah kaumasak anak kambing dalam susu induknya” (23:19b) adalah salah satu aturan yang mencegah masuknya kebiasaan kafir dalam perayaan bangsa Israel. Pada masa itu, anak kambing biasa dimasak bersama susu induknya, dan airnya dipercikkan di kebun dan ladang untuk memastikan kesuburan tanah di masa panen berikutnya. Dengan tidak ikut melakukan kebiasaan kafir tersebut, Allah hendak mengajarkan bahwa kesuburan tanah adalah wujud dari berkat Tuhan. Apakah Anda telah membiasakan diri untuk selalu bersyukur atas berkat yang Anda terima dari TUHAN? [P]







Mengubah Kebiasaan
Posted on Jumat, 19 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Imamat 18:1-30

Peribahasa kuno mengatakan: ”Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah.” Peribahasa ini menyampaikan pesan bahwa pencapaian besar dalam hidup dimulai dari satu hal kecil. Misalnya, untuk memiliki tubuh yang sehat bagi penderita diabetes diawali dengan keberanian mengubah pola makan.Hal sederhana ini tidaklah mudah. Mengganti kebiasaan makan sering kali membutuhkan motivasi yang kuat. Penderita diabetes juga harus berani menolak setiap tawaran makanan dan minuman manis. Karena pilihan menaati ini, penderita diabetes dapat bertahan hidup.

Dalam teks hari ini, Tuhan menghendaki umat Israel mengubah perilaku seksual mereka. Mereka diperintahkan untuk tidak mengikuti perilaku yang sudah berurat akar sejak di tanah Mesir (3). Kebiasaan-kebiasaan yang dibawa dari Mesir dan Kanaan ini berupa perilaku seksual antara anak dan ibu (7), ayah dan anak (8), sesama saudara kandung (10), dan dengan binatang (23). Banyak bentuk relasi seksual yang sebelumnya dianggap wajar kini dilarang keras oleh Allah (27).

Perintah Allah ini secara keras dan ketat menuntut perubahan perilaku seks bangsa Israel yang sudah menganggapnya wajar selama ini. Diperlukan suatu revolusi untuk mengubahnya. Sebuah jalan ketaatan yang tidak mudah untuk dilakukan. Mereka tidak punya pilihan lain. Jika taat maka mereka hidup (5).

Inilah paradoks kehidupan dalam perziarahan iman Kristen. Ketika kita memilih untuk menjalani hidup yang nyaman namun berdosa, kita berakhir pada kehampaan. Sebaliknya ketika kita memilih jalan hidup yang benar namun penuh dengan pengorbanan, kita justru memperoleh kepenuhan hidup. Pikirkanlah kebiasaan yang kita anggap wajar selama ini, namun sesungguhnya tidak sesuai kehendak Allah. Bersediakah kita meninggalkannya? Maukah kita hidup dalam kebahagiaan hidup karena menaati kehendak-Nya?

Doa: Ya Tuhan, selama kami ada, bawalah kami masuk lebih dalam ke jalan damai sejahtera melalui ketaatan kepada-Mu, demi kemasyuran-Mu.[SB]
Suar Budaya


July 21, 2019, 04:39:55 AM
Reply #1977
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Dikuduskan untuk Karya Allah
Posted on Sabtu, 20 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Imamat 19:1-37

Pernahkah kita ikut merasa bangga menyaksikan atlet Indonesia meraih gelar juara dalam laga Internasional? Tetapi, tahukah kita bahwa di balik kemenangan itu, terdapat hidup yang diabdikan total. Setiap aspek hidup atlet diabdikan untuk menguasai olahraga tersebut. Kemenangan yang membesarkan hati seluruh bangsa dibentuk dari penyerahan hidup atlet selama bertahun-tahun digembleng di barak latihan. Penuh keringat dan air mata.

Teks hari ini berbicara tentang titah Allah kepada bangsa Israel untuk mengkhususkan seluruh aspek hidup bagi-Nya.

Hal ini mencakup bagaimana bangsa Israel memastikan bahwa mereka tidak mencondongkan hati kepada ilah lain (4). Demi menguduskan hidup bagi Allah, wilayah privat harus tunduk pada ketetapan Allah. Demi tujuan itu, bangsa Israel harus menaruh hormat yang besar kepada ayah dan ibunya (3). Ranah publik umat pun harus dikuduskan bagi Allah. Urusan agraria, seperti tata cara memetik hasil panen gandum maupun anggur harus memperhatikan keadilan bagi orang miskin yang hidup di antara bangsa itu (9,10). Urusan kejujuran dan perlindungan terhadap kelompok lemah seperti orang buta, tuli, dan cacat masuk ke dalam batu ujian kekudusan hidup umat (11-14). Bahkan urusan kekudusan hidup Israel ditakar dari seberapa jauh mereka melindungi kesejahteraan orang-orang asing yang tinggal di antara mereka (34). Semua aturan privat dan publik itu diberikan kepada bangsa Israel sebagai sebuah rambu yang mengarahkan mereka pada satu tujuan yaitu menguduskan seluruh hidup bagi Allah.

Orang Kristen harus menyadari bahwa hidup bukanlah perkara sepele. Hidup adalah tentang menyerahkan semua aspek privat maupun publik kepada kehendak Allah. Itulah arti hidup dalam kekudusan. Hidup yang secara utuh menautkan urusan memasak di dapur sampai urusan politik di parlemen sebagai penyembahan kepada Allah.

Doa: Tuhan, kami mau mempersembahkan seluruh hidupku bagi-Mu. [SB]
Suar Budaya







Janji dan Tuntutan Allah
Posted on Sabtu, 20 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 23:20-23

Janji Allah kepada bangsa Israel luar biasa. Ia berjanji untuk mengutus malaikat-Nya mendampingi umat Israel. Malaikat Allah itu akan merealisasikan semua janji Allah kepada umat-Nya, khususnya yang berkaitan dengan Tanah Perjanjian (Tanah Kanaan, 23:20, 23, 30-31). Allah berjanji untuk memberikan makanan, minuman, kesehatan, dan kemenangan dalam peperangan (23:20, 23, 25-31). Respons yang dituntut Allah dari umat Israel adalah kesediaan mendengar, ketaatan, dan kesetiaan kepada Allah (23:21-22, 24-25), serta kesediaan untuk tidak mengikat perjanjian dengan penduduk Tanah Kanaan (23:32). Mengingat bahwa bangsa Israel telah melihat berbagai perbuatan Allah yang dahsyat, baik selama mereka masih berdiam di Mesir maupun sepanjang perjalanan ke padang gurun, seharusnya jelas bahwa janji Allah sangat meyakinkan dan tuntutan-Nya tidaklah berat. Sayangnya, di kemudian hari, nampak bahwa bangsa Israel tidak dapat bertahan untuk terus setia kepada Allah.

Orang percaya pada zaman ini adalah pewaris janji Allah yang diberikan kepada Abraham (Galatia 3:29). Ada banyak sekali janji yang diberikan Allah kepada umat-Nya di dalam Alkitab. Sebagian janji bersifat khusus (hanya berlaku saat itu), tetapi ada sangat banyak janji yang bersifat umum (Berlaku sepanjang zaman). Yang dituntut Allah dari umat-Nya pada masa kini masih tetap sama dengan apa yang dituntut Allah pada masa lampau, yaitu kesediaan untuk mendengarkan Firman Tuhan, kesediaan untuk taat, dan kesetiaan. Sangatlah bodoh bila kita membiarkan hati kita tertarik kepada tawaran dunia ini dan mencampakkan janji-janji yang begitu berharga yang kita warisi di dalam Kristus. Sekalipun demikian, di satu pihak, perlu disadari bahwa ketaatan yang dituntut Allah itu adalah ketaatan jangka panjang atau ketaatan yang disertai dengan kesetiaan. Di lain pihak, Iblis terus-menerus mencari kesempatan untuk menggoda kita dan menggoyahkan iman kita (bandingkan dengan Lukas 4:13 dan 1 Petrus 5:8). Sepanjang zaman, Firman Tuhan tetap merupakan sumber kekuatan yang akan menolong kita untuk melawan dan menolak godaan Iblis (Perhatikan bahwa Tuhan Yesus pun memakai Firman Tuhan sebagai senjata untuk mengalahkan godaan Iblis (Matius 4:4, 7, 10). Kita perlu memandang kehidupan kita ini sebagai arena untuk berlomba dalam iman. Untuk memenangkan perlombaan ini, kita harus melawan dosa, bertekun, dan meneladani Kristus (Ibrani 12:1-4). [P]

July 22, 2019, 06:25:57 AM
Reply #1978
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Menjadi Pengelola Kehidupan
Posted on Minggu, 21 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Imamat 20:1-27

Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan, memiliki fiosofi hidup: ”Hidup itu sederhana, yang berat itu tafsirannya”. Filosofi itu terungkap ketika ditanya hidup seperti apakah yang sedang beliau jalani? Memang, hidup ini semakin berat karena masalah ekonomi. Hidup juga semakin sulit karena didera penyakit yang tak kunjung sembuh. Hidup terasa sesak karena konflik rumah tangga dan berbagai pergumulan. Kenyataan hidup berjalan tidak sebersahaja kelihatannya.

Di dalam teks hari ini, Allah memberikan wejangan kepada umat Israel tentang bagaimana mengelola hidup dalam berbagai situasi. Sesulit apa pun keadaan yang dihadapi keluarga-keluarga Israel, mereka tidak boleh mengorbankan anak-anak kepada ilah lain (2-3). Seberat apa pun pergumulan hidup, umat Israel tidak boleh berpaling memohon pertolongan pada arwah dan roh-roh peramal (6). Sedekat apa pun relasi kekerabatan, jika umat menyaksikan adanya pelanggaran kaidah seksual, mereka harus menegur dan memberi sanksi (12-20).

Pada intinya, musim kehidupan boleh berubah. Suka dan duka bisa datang silih berganti. Jika umat Israel ingin mendapatkan berkat dan perkenanan Allah, mereka harus mengelola kehidupan di bawah pimpinan kebenaran Allah. Mengapa demikian? Karena mereka adalah umat kepunyaan Allah sendiri (26).

Banyak hal di luar perkiraan kita dapat terjadi. Seketat apa pun kita telah menjaga kesehatan, bukan mustahil kita masih dapat terpapar sakit yang berat. Sebagai minoritas, bukan tidak mungkin kita mengalami persekusi karena iman. Namun hidup orang Kristen ada di dalam Kristus. Dan hidup Kristen ini merupakan hidup yang dikelola sedemikian rupa, sehingga baik di dalam kelimpahan atau kekurangan, sehat atau sakit, tenteram atau tegang, kita menatanya dalam ketaatan pada kehendak Allah. Itulah cara kita menghargai sakralnya hidup. Hanya Allah yang dapat menjadi inspirasi kita dalam mengelola hidup dengan benar!

Doa: Tuhan, tolong kami setia pada setiap musim hidup kami. [SB]
Suar Budaya







Perjanjian dengan Darah
Posted on Minggu, 21 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 24

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Allah membuat perjanjian dengan umat Israel yang disahkan dengan darah. Dilibatkannya Nadab dan Abihu (24:1,9)—yaitu anak-anak Harun (6:22)—disebabkan karena Harun dan anak-anaknya kelak akan memegang jabatan sebagai  imam (28:1; 40:12-15). Sebagai imam, mereka akan mewakili umat Allah untuk mempersembahkan korban kepada Allah serta mewakili Allah untuk menyampaikan perintah dan ketetapan Allah kepada umat Israel. Tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel menunjuk kepada para pemimpin umat Israel yang dipilih untuk membantu Musa mengatasi berbagai masalah yang muncul di antara bangsa Israel (bandingkan dengan Keluaran 18:13-26; Bilangan 11:16-25). Yosua ikut dilibatkan karena dialah yang akan memimpin bangsa Israel setelah Musa meninggal.

Dalam Perjanjian Lama, darah dipakai untuk mengesahkan suatu perjanjian (Ibrani 9:18, 22). Dalam Keluaran 24, perjanjian ini menyangkut  janji seluruh bangsa Israel (24:3) untuk melakukan segala Firman Tuhan (menunjuk kepada sepuluh hukum, pasal 20) dan segala peraturan (pasal 21-23). Saat korban binatang dipersembahkan, darah binatang disiramkan ke atas mezbah (24:5-8). Saat TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abraham—walaupun tidak disebut tentang darah—adanya korban binatang mencakup pemahaman bahwa ada darah yang dicurahkan untuk mengesahkan perjanjian itu (Kejadian 15:7-21).

Pencurahan darah binatang adalah penyucian secara lahiriah yang tidak sempurna (harus diulang-ulang) dan bersifat lahiriah.Penyucian lahiriah adalah simbol dari penyucian hati nurani yang hanya bisa dihasilkan melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Pengorbanan Yesus Kristus adalah pengorbanan yang sempurna dan tidak perlu diulang (Ibrani 9:11-28). Oleh karena itu, orang Kristen pada masa kini sudah tidak melaksanakan sistem pengorbanan pada zaman Perjanjian Lama. Pengorbanan Yesus Kristus yang dilakukan hanya satu kali itu cukup untuk membuat setiap orang yang percaya kepada-Nya mengalami pengampunan dosa, bahkan mengalami pembaruan hidup (kelahiran kembali secara rohani), sehingga orang yang sungguh-sungguh memercayai Yesus Kristus menjadi manusia baru yang selalu rindu untuk melakukan kehendak Allah. Apakah Anda sudah mengalami penyucian dari dosa yang dikerjakan oleh darah Kristus itu? [P]



July 23, 2019, 06:00:20 AM
Reply #1979
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Natur Kekudusan: Relasional
Posted on Senin, 22 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Imamat 21:1-24

Krisis kekudusan dalam Kekristenan tampaknya sudah mencapai titik nadir. Krisis ini nyata ketika kita mengamati perilaku orang Kristen yang sama parah dengan yang non-Kristen. Perkawinan Kristen tidak lebih baik. Kekerasan rumah tangga Kristen tidak lebih sedikit. Adanya realitas tersebut menuntut kita untuk lebih serius menghayati kekudusan.

Pasal ini berfokus pada kekudusan imam. Imamat 21 dan 22 merupakan penutup rangkaian instruksi Allah seputar kekudusan hidup (Im.17-22). Natur kekudusan adalah relasional, bukan teori abstrak. Tingginya standar kekudusan imam sebagai pemimpin rohani (6, 8) didemonstrasikan melalui relasi keluarga dan perkawinannya. Memelihara kekudusan adalah hal yang terutama, mulai dari: pertama, tidak mengotori diri dengan kematian, dengan perbedaan standar bagi imam (1-4) dan imam kepala (10-12); kedua, tidak berkabung berlebihan (5); ketiga, tidak mengambil istri yang cemar (7, 13-15); keempat, mendidik anak perempuan dengan benar. Bahkan karena peran imam memediasi umat dengan Allah yang kudus, maka kecacatan fisik imam membuat mereka tidak layak melayani Allah (17-23). Seluruh standar kekudusan ini perlu disikapi dengan akurat.

Allah mengatur standar kekudusan sangat tinggi karena itulah jati diri-Nya. Pelanggaran berarti mencoreng diri-Nya. Di samping itu, imam dikatakan kudus bagi Allahnya. Artinya imam adalah milik Allah. Jika imam adalah milik Allah dan Allah adalah kudus, maka kekudusan imam memang tidak bisa dinegosiasi.

Sebagai imamat yang rajani (1Ptr. 2:9-10), kita perlu memelihara kekudusan hidup sehari-hari. Kita adalah milik Allah, kita perlu menghayati hidup kudus dengan akurat. Memelihara kekudusan dalam relasi suami istri, berpacaran, keluarga, dan bahkan relasi dalam keluarga Allah menjadi prioritas utama yang harus kita perbaiki dan transformasi. Sebab tanpa kekudusan dalam aspek ini, umat Kristen tidak mungkin menggarami sesama.

Doa: Tuhan, tolong kami menjaga kekudusan dalam segala aspek hidup relasi dengan sesama. [BL]
Pdt. Budianto Lim







Rela Mempersembahkan yang Terbaik
Posted on Senin, 22 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 25

Kehadiran Allah di atas Gunung Sinai membuat gunung itu menjadi kudus, dan kekudusan Allah membuat bangsa Israel dilarang mendekati gunung itu (bandingkan 24:2 dengan 19:11-16,21). Saat menerima sepuluh hukum dan berbagai peraturan lain (pasal 20-23), Musa disertai oleh Harun (19:24). Akan tetapi, setelah perjanjian disahkan dalam pasal 24, Harun tinggal bersama dengan bangsa Israel agar bisa menyelesaikan permasalahan yang muncul di antara bangsa Israel, sedangkan Musa kembali menghadap Allah dengan disertai oleh Yosua (24:13). Akan tetapi, mengingat bahwa apa yang disampaikan Allah kepada Musa tentang penyelewengan bangsa Israel belum dimengerti oleh Yosua (32:7-18), nampaknya Yosua ditinggalkan di satu tempat di kaki gunung atau di lereng gunung, dan hanya Musa sendirian yang diperkenankan untuk menghadap TUHAN di atas puncak Gunung Sinai. Hal ini menunjukkan bahwa Allah memiliki derajat yang lebih tinggi daripada manusia, sehingga Allah harus dihargai. Allah tidak boleh diremehkan!

Penghargaan terhadap kekudusan Allah harus diwujudkan dalam ibadah, khususnya dalam persembahan kita kepada TUHAN. Perhatikan bahwa persembahan yang harus dipungut dari orang Israel untuk keperluan peribadatan—yaitu untuk membangun Kemah Suci dan membuat pakaian imam—adalah barang-barang yang berharga (emas, perak, tembaga, kain ungu tua, dan seterusnya, 25:1-7). Perhatikan pula bahwa persembahan ini merupakan persembahan sukarela (berdasarkan dorongan hati, 25:2), bukan persembahan yang dipaksakan. Dengan demikian, persembahan semacam ini hanya akan diberikan oleh orang-orang yang menghargai Allah! Ingatlah bahwa dalam perjalanan ke Tanah Perjanjian (Tanah Kanaan), orang Israel tidak mungkin bekerja untuk mengumpulkan kekayaan. Mereka hanya membawa barang-barang yang mereka kumpulkan saat masih tinggal di Gosyen (tempat tinggal bangsa Israel saat berada di Tanah Mesir) serta membawa barang-barang yang mereka minta dari orang-orang Mesir (11:2; 12:35). Oleh karena itu, jelas bahwa kesediaan memberi mencerminkan kesediaan berkorban. Bagi orang Kristen pada masa kini, kesediaan memberi yang terbaik secara sukarela masih tetap dituntut (2 Korintus 9:6-7). Apakah Anda sudah membiasakan diri untuk menghargai TUHAN dengan mempersembahkan yang terbaik secara sukarela? [P]

 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)