Author Topic: Saat Teduh  (Read 62860 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

August 26, 2019, 05:40:03 AM
Reply #2010
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Memelihara Persahabatan
Posted on Minggu, 25 Agustus, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: 1 Samuel 20:1-43

Jabatan dan kekuasaan bisa menjadi penyebab rusaknya persahabatan dan relasi sebagai umat Allah. Tidak sedikit, kita menemukan gereja yang mengalami perpecahan karena perebutan kekuasaan pimpinan yang mengorbankan kerukunan umat dan persahabatan.

Kisah persahabatan Yonatan dan Daud menampilkan kekuatan kasih persahabatan yang mengorbankan kesempatan berkuasa. Apa yang dilakukan oleh Yonatan untuk menolong Daud (4, 35-41) sesungguhnya merupakan ancaman bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Ia merisikokan dirinya karena Yonatan adalah pewaris takhta raja (30-31). Saul tahu bahwa hal itu menjadi ancaman bagi kekokohan kerajaan. Itu sebabnya, Saul marah dan mengutuki Yonatan ketika mengetahui pewaris takhtanya bersahabat dengan musuhnya. Namun, Yonatan tahu bahwa takhta raja adalah bukti penyertaan dan kehendak Allah (13). Yonatan penuh keikhlasan dan berdoa serta berharap bahwa Allah menyertai Daud. Kelak jika Daud menjadi raja, ia berharap namanya dan keturunannya tidak terhapus dari keturunan Daud. Hanya itu harapan Yonatan (15-16). Yonatan berlapang dada melepas kesempatan berkuasa dengan menerima kemarahan ayahnya demi memilih persahabatan dengan Daud. Yonatan tahu bahwa Allah telah memilih Daud, bukan dirinya. Ini bukti konkret melibatkan Allah dalam persahabatan (23, 42).

Belajar dari sikap persahabatan Yonatan, mari kita membangun dan memelihara kasih persahabatan dengan menaklukkan segala egoisme dan keangkuhan. Memelihara persahabatan terkadang harus mengorbankan materi, perasaan, kekuasaan dll. Tanpa pengorbanan, persahabatan hanya bersifat semu dan tidak akan ada kejujuran di dalam membangunnya. Jika demikian, tidak perlu bersahabat. Namun, dengan kasih yang tulus dan kesediaan berkorban, persahabatan memiliki fondasi yang kuat untuk dijalankan oleh pemiliknya.

Doa: Tuhan Yesus, Engkaulah sahabat kami yang sejati. Kasih dan pengorbanan-Mulah yang menjadi modal bagi kami membangun persahabatan kami. [MK]







Kasih Melampaui Karunia Roh
Posted on Minggu, 25 Agustus, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 1 Korintus 13

Karunia Roh sangat penting bagi pertumbuhan gereja. Karunia yang dimiliki seorang anggota jemaat dapat membangun iman anggota jemaat yang lain bila karunia tersebut digunakan untuk memuliakan Tuhan. Sekalipun demikian, Rasul Paulus menekankan bahwa memiliki kasih adalah lebih penting daripada memiliki karunia-karunia rohani. Mengapa demikian? Rasul Paulus memberikan beberapa penjelasan:

Pertama, kasih kepada Tuhan dan sesama akan memotivasi seseorang untuk menggunakan karunia rohani yang ada pada dirinya untuk kepentingan bersama. Bila seseorang menggunakan karunia rohani yang ada padanya tanpa kasih, apa yang ia lakukan—sekalipun kelihatan luar biasa‒-menjadi tidak berarti karena ia menggunakan karunia tersebut untuk kepuasan dirinya sendiri. Ingatlah bahwa tujuan ROH KUDUS memberikan karunia rohani karunia rohani kepada seseorang bukanlah sekadar untuk keperluan diri orang itu, melainkan untuk kepentingan membangun gereja, menbangun tubuh Kristus (13:1-3).

Kedua, kasih itu bersifat tidak berkesudahan. Kasihlah yang akan tetap ada saat orang percaya bertemu dengan Tuhan Yesus pada hari kedatangan-Nya. Saat itu, karunia nubuat, karunia bahasa roh, serta karunia pengetahuan sudah tidak ada karena sudah tidak diperlukan lagi (13:8). Oleh karena itu, orang Kristen yang dewasa secara rohani tidak akan mementingkan karunia-karunia rohani secara berlebihan, melainkan akan lebih mengutamakan hadirnya kasih dalam kehidupan (13:11-12). Kemungkinan besar, Rasul Paulus melihat bahwa karunia-karunia rohani sangat penting bagi gereja yang sedang bertumbuh. Akan tetapi, anggota jemaat yang sudah dewasa seharusnya lebih mengejar karakter yang menyerupai karakter Kristus, termasuk memiliki hati yang lebih mengasihi Tuhan dan lebih mengasihi sesama.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Rasul Paulus menjelaskan bahwa kasih itu seharusnya bukan sekadar kata-kata, melainkan harus berwujud perbuatan nyata. Kasih selalu membuat kita berbuat baik terhadap orang lain, bahkan membuat kita rela berkorban untuk kepentingan orang lain. Kasih menghilangkan sikap sombong dan rasa iri hati terhadap orang lain. Kasih membuat kita tidak mudah terprovokasi untuk marah atau memikirkan (mengingat) keburukan orang lain. Sebaliknya, kasih bersifat menutupi kesalahan orang lain. [WY]


August 27, 2019, 05:34:21 AM
Reply #2011
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Memahami Maksud Allah
Posted on Senin, 26 Agustus, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: 1 Samuel 21:1-22:5

Saat diperhadapkan dengan situasi sulit yang silih berganti, sering kali muncul pertanyaan di dalam hati, ”Mengapa ini terjadi? Mengapa aku harus mengalaminya?” Sewajarnya, marah dan sungut mengikuti keraguan saat bertanya, ”Adilkah Allah kepadaku?”

Kemenangan Daud atas Goliat dan pertempuran lainnya menempatkannya dalam prestasi gemilang. Bersamaan dengan itu, muncul kerumitan lain dalam perjalanan hidupnya. Bertubi-tubinya ancaman Saul membuat Daud menyadari hidupnya hanya selangkah jaraknya dari kematian. Tidak ada tempat bersembunyi bagi Daud. Di rumah Allah, ada Doeg (7), orangnya Saul, memata-matai Daud. Akibatnya, Daud mengalami kelaparan dan tidak memiliki senjata. Ia menyingkir ke gua Adulam dan hutan. Daud berpikir bahwa jika ia melarikan diri ke luar Israel, ke Gat, mungkin ia akan aman. Ternyata tidak juga. Ia terancam ke sana ke mari. Lalu, Daud terpaksa berpura-pura menjadi gila supaya dilepaskan oleh Akhis dan para prajuritnya (13).

Dalam merespons berbagai kesulitan yang bertubi-tubi dalam kehidupannya, Daud ingin mengetahui apa yang akan dilakukan Allah kepadanya ketika berkata, ”Sampai hamba tahu apa maksud Allah terhadap hamba” (22:3, BIS). Ini menceritakan bahwa Daud sedang berupaya memahami maksud Allah yang membiarkannya terbelenggu dalam kesulitan yang tak putus-putusnya. Tidak mudah untuk mengakui di hadapan Allah hal ini karena memerlukan kesabaran untuk dapat berdiri tegak di di hadapan Allah menerima semua itu.

Bagaimana kita menyikapi masa-masa sulit dalam hidup? Apa respons kita dalam mencari maksud Allah? Marilah kita dengan sabar menantikan tersingkapnya maksud Allah tersebut. Tepat pada waktu-Nya, kita akan mengetahui rencana-Nya setelah melewati berbagai kesulitan itu. Pada akhirnya, kita akan mengakui kebaikan Allah di dalam semuanya. Tidak ada maksud yang buruk dari Allah kepada yang percaya.

Doa: Tuhan, ajarlah kami sabar dan tekun dalam masa-masa sulit kehidupan untuk memahami maksud-Mu agar kemuliaan-Mu dinyatakan. [MK]







Karunia Yang Berfaedah
Posted on Senin, 26 Agustus, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 1 Korintus 14:1-25

Dalam sejarah gereja, terdapat banyak kelompok orang Kristen yang sangat mengagungkan karunia berbahasa roh, termasuk jemaat di kota Korintus. Di awal pasal 12, Rasul Paulus mengatakan bahwa dia menginginkan agar jemaat Korintus mengetahui ajaran yang benar tentang karunia-karunia Roh (12:1). Di awal pasal 14, Rasul Paulus melanjutkan uraian tentang pentingnya kasih dalam pasal 13 dengan mengingatkan jemaat Korintus untuk mengejar hal yang paling utama dalam kehidupan Kristen, yaitu memiliki kasih (14:1). Kasih menjadi alasan dan dorongan bagi orang percaya untuk memakai karunia rohani yang ada padanya guna kepentingan bersama

Selanjutnya, Rasul Paulus menjelaskan bahwa karunia yang paling berguna untuk dimiliki oleh orang percaya adalah karunia bernubuat, bukan karunia berbahasa roh. Di satu sisi, karunia berbahasa roh adalah karunia berbahasa tertentu‒-yang tidak dimengerti manusia‒-yang digunakan untuk berdoa kepada Allah (14:2). Bahasa roh tidak ditujukan kepada manusia, melainkan kepada Allah, sehingga pemakaian bahasa roh hanya bermanfaat untuk membangun diri sendiri. Dengan bahasa Roh, seseorang bisa mengungkapkan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan, (bandingkan dengan Roma 8:26). Rasul Paulus tidak bermaksud meremehkan atau menolak karunia berbahasa roh. Akan tetapi, agar bahasa roh itu berguna bagi orang lain, ia meminta agar orang yang memiliki karunia berbahasa roh berdoa juga agar Allah memberikan karunia untuk menterjemahkan bahasa roh, sehingga orang yang berdoa bersama-sama dengan dia dapat mengerti apa yang ia doakan (14:13). Di sisi lain, karunia bernubuat bersifat membangun, menasihati dan menghibur (14:3), sehingga karunia ini bermanfaat untuk anggota jemaat yang lain. Secara khusus, karunia bernubuat ini sangat bermanfaat saat ada orang baru atau orang tidak beriman yang datang ke dalam gereja, karena karunia bernubuat menumbuhkan iman. Sebaliknya, karunia berbahasa Roh membingungkan (14:23-25). Rasul Paulus meminta jemaat Korintus untuk bersikap dewasa dalam menggunakan karunia rohani yang ada pada mereka (ay. 20-22). Jangan memamerkan karunia yang tidak memberi faedah bagi orang lain. Seharusnya, karunia digunakan untuk membangun orang lain karena kita mengasihi Tuhan dan gereja-Nya. [WY]



August 28, 2019, 06:42:46 AM
Reply #2012
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Ketakutan
Posted on Selasa, 27 Agustus, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: 1 Samuel 22:6-23

Setiap orang mengenal rasa takut. Rasa takut itu lumrah. Yang menjadi persoalan adalah dicengkram oleh rasa takut berkepanjangan. Orang yang semacam ini dapat kehilangan akal sehat dan keyakinan iman. Hidupnya kemudian hanya dipenuhi kekuatiran.

Pengalaman inilah yang terjadi pada Saul. Ketakutan yang membelenggunya menyebabkan kecurigaannya kepada semua orang. Ia curiga kepada keluarga imam Ahimelekh, lalu memerintahkan mereka dibunuh (16). Lebih lagi, ia memerintahkan agar para imam yang lain juga dibunuh karena dituduh telah membantu Daud (17). Para prajurit menolak perintah Saul. Selain menghormati para imam, mereka meragukan otoritas perintah tersebut. Saul tidak putus asa, ia memerintahkan Doëg, orang asing dari Edom, untuk melaksanakan perintahnya. Doëg segera melakukan tugasnya. Ia membunuh 85 orang imam, ditambah penduduk kota itu (18-19). Tetapi, harapan Saul untuk menghancurkan sampai ke akarnya tidak berhasil. Anak imam Ahimelekh yang bernama Abyatar berhasil melarikan diri (20). Dalam pelariannya, ia menjumpai Daud (21). Daud menerima Abyatar dan tidak lari dari tanggung jawab sebagai raja yang telah diurapi Allah. Daud tidak kuatir diburu oleh Saul karena alasan melindungi Abyatar. Daud justru memberikan kekuatan kepada Abyatar untuk tidak takut. Demikianlah Daud melindungi orang lain seperti nyawanya sendiri (23).

Pemicu rasa takut adalah kecurigaan. Orang yang sering curiga, seperti Saul, menunjukkan jati dirinya telah rusak apalagi sampai berniat membunuh orang-orang yang sesungguhnya adalah hambaTuhan.

Saat ini banyak orang yang hidup dalam ketakutan. Mata hati dan nalarnya tertutup oleh dosa sehingga banyak tindakan dan keputusan yang diambil jauh dari kebenaran. Berdamai dengan Allah dan hidup rukun dengan sesama adalah obat bagi kita untuk dapat hidup menikmati damai sejahtera Allah, bukan ketakutan.

Doa: Tuhan kuasai kami dengan kasih-Mu agar ketakutan lenyap dalam hidup kami.







Karunia dan Pengendalian Diri
Posted on Selasa, 27 Agustus, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 1 Korintus 14:26-40

Pernahkah Anda mendengar ungkapan seperti, “tergantung pada gerakan ROH KUDUS”, “nanti lihat saja bagaimana ROH KUDUS menggerakkan atau mengarahkan saya”, atau “saya melakukan sesuai dengan pimpinan ROH KUDUS”. Dari satu sisi, ungkapan seperti di atas menunjukkan adanya unsur keterpaksaan dalam diri seseorang karena orang itu didorong (dipaksa) oleh ROH KUDUS untuk melakukan sesuatu. Di sisi lain, kadang-kadang ungkapan seperti di atas disalahgunakan untuk bertindak semaunya dengan alasan bahwa Roh Kuduslah yang berwewenang mengatur. Salah satu contoh nyata: Orang yang berbahasa roh sering berkata bahwa ia tidak dapat mengendalikan lidahnya, sehingga ia harus terus-menerus berbahasa roh sampai ROH KUDUS menghentikannya. Pemikiran seperti di atas bertentangan dengan ajaran Rasul Paulus tentang karunia roh dalam bacaan Alkitab hari ini. Menurut Rasul Paulus, karunia berbahasa roh seharusnya dapat dikendalikan.

Rasul Paulus menegaskan bahwa bila ada orang yang berbahasa roh dalam pertemuan jemaat, harus ada orang yang menafsirkan (14:5). Bila tidak ada orang yang memiliki karunia untuk menerjemahkan bahasa roh, anggota jemaat yang memiliki karunia berbahasa roh harus berdiam diri atau berdoa secara pribadi, dan tidak boleh mengucapkan kata-kata dalam bahasa roh (14:27-28). Dalam sebuah pertemuan jemaat, yang diizinkan untuk berbicara dalam bahasa roh seharusnya hanya dua atau tiga orang saja, dan penggunaan karunia berbahasa roh itu harus dilakukan secara teratur (bergiliran satu per satu) serta diikuti tafsirannya agar bisa dipahami oleh seluruh jemaat. Bahasa roh tidak boleh diucapkan secara serempak (sekaligus beramai-ramai) karena bahasa roh yang diucapkan secara serempak itu tidak akan bisa dimengerti. Petunjuk pelaksanaan penggunaan karunia yang disampaikan oleh Rasul Paulus ini menjelaskan bahwa karunia-karunia ROH KUDUS—termasuk karunia berbahasa roh—harus digunakan secara teratur, dengan pengendalian diri. Ingatlah bahwa karunia-karunia rohani harus digunakan untuk membangun jemaat, bukan untuk kebanggaan diri sendiri. Penonjolan karunia tertentu dalam ibadah—seperti karunia berbahasa roh—akan memadamkan karunia-karunia yang lain, padahal karunia berbahasa roh yang tidak ditafsirkan hanya bermanfaat bagi orang yang memiliki karunia itu saja (14:4). [WY]




August 29, 2019, 08:30:32 AM
Reply #2013
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Yesus Bangkit
Posted on Rabu, 28 Agustus, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 1 Korintus 15:1-11

Rasul Paulus mengangkat tema kebangkitan Yesus Kristus dalam suratnya karena ada anggota jemaat Korintus yang tidakmemercayai kebangkitan orang mati (15:12). Ia menegaskan bahwa kebangkitan Yesus Kristus bukan mitos atau dongeng,melainkan fakta sejarah. Kebangkitan Yesus Kristus sudah dinubuatkan, baik di dalam Perjanjian Lama maupun oleh Yesus Kristus sendiri (15:3-4). Kebangkitan Yesus Kristus disaksikan oleh murid-murid-Nya dan disaksikan juga oleh lebih dari lima ratus orang percaya yang masih hidup pada waktu Rasul Paulus menuliskan suratnya kepada jemaat Korintus. Kebangkitan Yesus Kristus adalah hal yang tidak dapat disanggah karena ada ratusan saksi mata yang menyaksikan sendiri tubuh kemuliaan Yesus Kristus. Rasul Paulus adalah saksi mata yang terakhir (15:5-8).

Jika Yesus Kristus tidak bangkit, mustahil kebangkitan-Nya menjadi dasar pemberitaan (terjemahan dari kata dalam Bahasa Yunani, kerygma) Rasul Paulus serta para rasul yang lain, dan selanjutnya menjadi dasar pemberitaan gereja. Secara teologis, kita bisa mengatakan bahwa Yesus Kristus tidak hanya bangkit secara fisik dalam sejarah, tetapi Ia juga bangkit di dalam hati setiap orang percaya. Kebangkitan Yesus Kristus bukan hanya bersifat informatif, tetapi bersifat transformatif. Kebangkitan Yesus Kristus bukan hanya sekadar kabar gembira, tetapi kebangkitan-Nya memiliki kuasa dalam diri orang percaya. Oleh karena itu, berita yang disampaikan para rasul dan orang percaya yang lain telah berkumandang dari Yerusalem sampai ke daerah-daerah yang dikuasai oleh kekaisaran Romawi, termasuk kota Korintus. Hal ini merupakan bukti yang tidak dapat disanggah bahwa ada kuasa dalam berita kebangkitan Yesus Kristus.

Kebangkitan Yesus Kristus mengubah kehidupan setiap orang percaya secara pribadi. Fakta inilah yang seharusnya dilihat oleh orang yang tidak percaya. Kehidupan Rasul Paulus merupakan bukti nyata:  Sebelumnya, Paulus adalah seorang penganiaya, pembenci Kekristenan. Setelah bertemu dengan Yesus Kristus, ia mempersembahkan hidupnya kepada Kristus dan bekerja keras memberitakan Injil (15:10). Ia rela mengalami penderitaan karena pemberitaan Injil, bahkan ia rela mati demi pemberitaan Injil. Apakah Anda sudah mengalami kuasa kebangkitan Yesus Kristus dan memberitakan Injil? [WY]







Bersandar pada Tuhan
Posted on Rabu, 28 Agustus, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: 1 Samuel 23:1-28

Kehidupan kerap dipenuhi ketidakpastian. Manusia membutuhkan pegangan. Pegangan itu ada pada Allah. Bersandar pada Allah bukan berarti semua urusan menjadi beres. Bersandar pada Allah berarti melibatkan-Nya dalam pergumulan kita sehingga kita dapat mengalami hidup tenang.

Daud belajar bersandar pada Allah. Ketika mendengar kabar Kehila diserang oleh tentara Filistin, Daud bergumul. Kehila terletak di selatan Adulam. Dalam pergumulannya, ia bertanya kepada Allah apakah ia diutus untuk membela Kehila (2). Atas izin-Nya, Daud berangkat untuk berperang, dan berhasil menyelamatkan penduduk Kehila (5). Sementara itu, keberadaan Daud di Kehila dilihat Saul sebagai peluang. Saul ingin menjebak Daud di sana. Mendengar kabar itu, Daud kembali bertanya kepada Allah (10). Atas petunjuk-Nya Daud tidak melawan Saul. Daud dan tentara harus berpencar, keluar dari kota dan tinggal seperti penduduk biasa (13). Akhirnya, Daud terluput dari serangan Saul.

Allah, tempat Daud bersandar, juga menolong Daud dengan memberikannya sahabat. Dalam pelariannya, Daud merasa takut (15). Kehadiran Yonatan, anak Saul–menjadi sahabat–menguatkan Daud (16-18).

Bersandar kepada Allah bukan berarti menyerahkan persoalan kepada Dia, lalu kita diam dan pasif saja menantikan pertolongan. Bersandar pada-Nya adalah upaya meminta pertolongan dalam setiap persoalan kita. Daud tetap saja menjalani kehidupan yang sukar sekalipun sudah bersandar pada pertolongan Allah. Namun, ia percaya jika berjalan bersama dengan Allah selalu ada pertolongan yang datang tepat pada waktunya.

Kadang kala masalah hidup membuat kita putus asa. Jalan hidup yang naik turun membuat kita seperti kehilangan pegangan hidup. Berbaliklah kepada Allah! Ia menerima kita sebagai sandaran hidup. Ia akan memberikan kemampuan dan hikmat bagi kita untuk dapat keluar dari masalah yang kita hadapi.

Doa: Tuhan, mampukan kami senantiasa bersandar pada-Mu, ya Tuhan agar kami tidak salah langkah. [JS]

September 01, 2019, 04:34:16 AM
Reply #2014
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Menghormati yang Diurapi
Posted on Sabtu, 31 Agustus, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: 1 Samuel 26:1-25

Menghormati pemimpin adalah sikap terpuji. Tentu tidak semua pemimpin melakukan kebaikan. Tindakan penghormatan dilakukan karena kita percaya bahwa Allahlah yang menghadirkan pemimpin. Menghormati pemimpin adalah tanda menghormati Allah.

Daud kembali menunjukkan penghormatan kepada Saul sekalipun Saul memperlakukannya sebagai buronan. Daud memiliki kesempatan untuk membalas tindakan jahat Saul. Saat itu, Saul bersama dengan pasukannya tengah beristirahat. Agaknya kelelahan hebat membuat mereka terlelap (7). Sebuah kesempatan tepat untuk bertindak menghentikan langkah Saul yang selalu hendak membunuh Daud. Abisai berinisiatif untuk menghabisi Saul (8). Daud menolak dengan alasan karena Saul adalah orang yang diurapi Allah (9). Bagi Daud, Allah sendiri yang akan bertindak menghentikan Saul. Daud menyuruh Abisai mengambil tombak dan kendi minuman Saul. Dengan tombak dan kendi di tangan, Daud mempertanyakan alasan Saul memburunya. Jika memang Allah yang memerintahkan hal itu, Daud akan datang dan bertobat. Jika manusia yang menyuruhnya, Daud mendoakan agar orang itu dikutuk Allah (19). Pernyataan Daud membuat Saul menyesal. Saul berjanji akan menghentikan tindakannya (21). Daud pun mengembalikan tongkat dan kendi Saul.

Daud memercayai bahwa pemimpin datang dari Allah. Jika pemimpin melakukan hal yang buruk, Allah yang akan bertindak. Keyakinan Daud ini membuatnya menghargai Saul sekalipun sikap Saul terhadapnya buruk dan menyakitkan.

Di tengah kehidupan yang tidak menghargai pemimpin, kita diingatkan untuk menaruh hormat kepada pemimpin. Sikap hormat bukan berarti asal bapak senang. Kritik tetap boleh dilakukan asal semuanya disampaikan dengan sikap hormat. Allah telah mengizinkan keberadaan sosok tertentu sebagai pemimpin dalam hidup kita.

Doa: Tuhan, kami berdoa agar para pemimpin gereja dan bangsa kami mampu memimpin dalam tuntunan-Mu. [AP]







Memberi Bantuan
Posted on Sabtu, 31 Agustus, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 1 Korintus 16

Apakah memberi bantuan berupa uang kepada orang yang membutuhkan merupakan masalah rohani? Ada orang Kristen yang berpendapat bahwa tindakan mendoakan lebih rohani daripada memberi bantuan, sehingga lebih baik mendoakan daripada memberi uang. Benarkah demikian? Sebenarnya, mendoakan memang merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Sekalipun demikian, tindakan nyata berupa memberi bantuan adalah tanggung jawab moral setiap orang percaya (bandingkan dengan Galatia 2:10). Dalam bacaan Alkitab hari ini, Rasul Paulus mengemukakan beberapa prinsip pengumpulan uang yang bisa menjadi pedoman saat orang Kristen hendak memberi bantuan kepada orang lain:

Pertama, memberi bantuan harus dilakukan secara sukarela, bukan karena terpaksa atau karena ingin dipuji. Kata “pengumpulan” yang dipakai oleh Rasul Paulus (16:1) berasal dari kata Yunani logia yang berarti pengumpulan uang secara ekstra (di luar kewajiban). Berbeda dengan persembahan yang diberikan secara rutin, persembahan seperti ini diberikan sesuai dorongan ROH KUDUS di dalam hati. Ada orang yang tidak mampu, namun tetap memberi karena tidak mau dianggap miskin. Ada orang yang memberi supaya mendapatkan pujian. Motif-motif seperti itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Pemberian harus diberikan secara tulus, sesuai dengan dorongan ROH KUDUS.

Kedua, pemberian dilakukan oleh semua jemaat, sesuai dengan kekayaan mereka (16:2). Jemaat yang miskin—jika hatinya tergerak—bisa memberi sedikit. Jemaat yang kaya—jika hatinya tergerak—seharusnya memberi lebih banyak. Jangan terbalik: Yang kaya memberi sangat sedikit, sedangkan yang lebih miskin malah memberi lebih banyak. Walaupun ROH KUDUS tidak menentukan berapa jumlah yang harus diberikan, namun ketika seseorang tergerak untuk memberi, ingatlah bahwa yang lebih banyak diberkati seharusnya lebih banyak memberi.

Ketiga, Rasul Paulus mengajarkan bahwa pemberian harus disiapkan lebih dulu di rumah (16:2), dengan tujuan agar setiap orang benar-benar mempersiapkan hati untuk memberi (memeriksa motivasi hati dan memohon pimpinan ROH KUDUS). Jumlah yang seharusnya diberikan sesuai dengan berkat yang diperoleh, sehingga pemberian itu berkenan di hati Tuhan dan membangkitkan sukacita di hati kita. [WY]

September 02, 2019, 07:29:08 AM
Reply #2015
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Puji Syukur, ada Korban Bakaran.
Posted on Minggu, 1 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 1

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Tuhan mengajarkan tentang tiga kategori binatang yang dapat dipersembahkan kepada Tuhan sebagai korban bakaran yang baunya menyenangkan bagi Tuhan (1:9, 13, 17), sehingga Allah berkenan. Ketiga kategori binatang tersebut adalah lembu (1:3-9), kambing atau domba (1:10-13), dan burung (burung tekukur atau anak burung merpati) (1:14-17). Adanya pilihan ini membuat orang Israel bisa memilih untuk memberikan persembahan korban sesuai dengan kemampuan keuangannya. Yang penting adalah bahwa seorang yang hendak mempersembahkan korban harus bersedia membayar harga (bandingkan dengan 2 Samuel 24:24).

Ada beberapa prinsip utama tentang persembahan korban bakaran yang perlu untuk ktia perhatikan:

Pertama , binatang yang dipersembahkan haruslah binatang jantan yang tidak bercacat cela (1:3, 10). Binatang yang cacat kurang bernilai sehingga tidak layak dipersembahkan kepada Tuhan (bandingkan dengan Maleakhi 1:8).

Kedua , tindakan meletakkan tangan ke atas binatang yang dikorbankan (1:4) menunjukkan bahwa orang yang mempersembahkan korban mengidentifikasikan (menempatkan) dirinya sebagai korban bakaran tersebut. Korban bakaran itu menanggung segala kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan oleh si pemberi persembahan.

Ketiga , binatang yang dikorbankan harus dibakar seluruhnya untuk Tuhan. Penyiraman darah binatang ke sekeliling mezbah (1:11) dilakukan karena (pada hakikatnya) darah mengandung kehidupan. Tindakan di atas mencerminkan prinsip, ‘Jika kamu ingin hidup, maka sesuatu harus mati menggantikan kamu” (bandingkan dengan Keluaran 12:1-30).

Tuhan Yesus telah mempersembahkan diri-Nya untuk kita semua, umat manusia yang berdosa. Dia tidak bercacat cela (tidak berdosa) (Ibrani 9:14; 1 Petrus 1:19). Dia menanggung segala penyakit, kesengsaraan, dan dosa kita (Yesaya 53:5). Dia telah menjadi persembahan dan korban yang menyenangkan bagi Allah Bapa (Efesus 5:2). Dia mempersembahkan diri-Nya (tubuh-Nya) sendiri sebagai korban (Ibrani 7:27). Oh, sungguh ajaib dan indahnya pengorbanan Tuhan Yesus sebagai Anak Domba Allah! Apakah Anda merasa sedang memikul beban yang berat karena dosa dan pelanggaran yang Anda perbuat? Datanglah kepada Tuhan Yesus! [GI Abadi]



September 03, 2019, 06:18:14 AM
Reply #2016
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Allah yang Berdaulat
Posted on Senin, 2 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: 1 Samuel 28:1-25

Pernahkah Anda memaksakan kehendak kepada Tuhan? Apa yang terjadi saat itu? Saul mengalami situasi yang persis seperti ini. Ia tahu bahwa Allah sudah meninggalkannya (6) dan sudah tidak berkenan menjadikannya raja. Akan tetapi, ia memaksakan kehendak-Nya untuk tetap menjadi raja. Jadi, tidak heran kalau hatinya tidak tenang ketika orang Filistin mulai bergerak maju menyerang (4-5).

Pemaksaan kehendak ini akhirnya membuat Saul mencari kembali para pemanggil arwah dan roh peramal. Padahal sebelumnya ia sudah mengusir mereka (3). Pengusiran itu sesungguhnya sudah tepat karena ritual seperti itu bertentangan dengan Hukum Musa (Kel. 20:18; Im. 19:31; 20:6; Bil. 18:9-13). Namun sudah tahu begitu, Saul tetap nekat dan mengulang kembali kesalahan tersebut. Ia meminta seorang pemanggil arwah di En-Dor untuk memanggil arwah Samuel (7-8). Ia ingin mengetahui kehendak Tuhan saat menghadapi perang melalui arwah Samuel. Akan tetapi, jawaban ”arwah” Samuel malah kian menegaskan bahwa ia tidak dapat memaksa Tuhan memenuhi kehendak-Nya (16-19). Pada akhirnya, Tuhan tetap undur darinya. Bahkan pada ayat 19 dikatakan bahwa Saul bersama orang Israel akan diserahkan ke dalam tangan orang Filistin.

Semua ini menunjukkan bahwa Allah berdaulat. Ia bukanlah Allah yang dapat dipaksa untuk melakukan apa yang menjadi kehendak manusia.

Kita juga mungkin kerap menjadi orang yang memaksakan kehendak kepada Tuhan. Kita terus berupaya untuk mendapatkan sesuatu yang bukan kehendak-Nya. Kita bahkan berdoa memaksakan keinginan itu kepada Tuhan. Hasilnya tetap tidak berhasil. Kita lupa bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat yang tidak dapat diperintah oleh siapa pun.

Karena itu, marilah kita berdoa memohon ampun jika kita masih sering memaksakan kehendak kepada Tuhan. Akuilah dosa kita di hadapan-Nya jika kita pernah berusaha mendikte Tuhan agar memenuhi keinginan kita.

Doa: Tuhan ampuni kami yang sering memaksakan kehendak kami kepada-Mu. [HB]







Allah yang Setia
Posted on Senin, 2 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: 1 Samuel 27:1-12

Pada saat rencana kita hancur berantakan, pernahkah kita meragukan Tuhan? Daud mengerti betul perasaan ini. Apa yang menjadi harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Daud sudah diurapi menjadi raja oleh Samuel (1Sam. 16:1-13). Kemudian ia menunjukkan berbagai pencapaian, misalnya satu hal yang paling terkenal adalah usahanya membunuh Goliat (1Sam.17). Akan tetapi, pencapaian itu tidak otomatis membuatnya langsung menjadi raja. Hal yang terjadi malah sebaliknya, yaitu Saul malah mengejar untuk membunuhnya. Situasi kian pelik ketika Samuel mati yang membuat Daud menjadi ragu pada rencana Tuhan (1Sam. 25:1).

Pergumulan Daud ini membuatnya melarikan diri ke negeri orang Filistin karena ia takut kalau suatu saat Saul akan membunuhnya (1). Untuk itu, ia membuat perencanaan matang. Daud, kedua istrinya, dan enam ratus orang lainnya datang kepada Akhis bin Maokh, Raja kota Gat.

Apakah kemuliaan Tuhan menggagalkan rencana Daud karena meragukan-Nya? Ternyata tidak! Allah tetap menyertainya. Saul tidak lagi mencarinya (4). Bahkan, Akhis, Raja kota Gat itu, memberikan apa yang menjadi keinginan Daud (5-6). Akhis memberikan kepada Daud daerah Ziklag sebagai tempat bernaung.

Tidak hanya itu. Dalam pelariannya, Allah memberikan kemampuan kepada Daud untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai raja yang diurapi-Nya. Ia berhasil dalam misinya menyerbu orang Gesur, orang Girzi, dan orang Amalek (8-11). Hal ini membuktikan bahwa Allah sabar dan setia kepada Daud, sekalipun ia meragukan-Nya.

Mari kita bersyukur karena memiliki Allah yang selalu penuh kasih. Ia tidak pernah meninggalkan kita, sekalipun kita meragukan rencana-Nya. Karena itu, marilah kita tinggalkan keraguan dan mengubahnya menjadi syukur karena Tuhan tahu betul apa yang sedang Ia kerjakan dalam hidup kita. Di tengah keraguan kita, Ia pasti akan memberikan yang terbaik karena kasih setia-Nya tetap sampai selamanya.

Doa: Tuhan, mampukan kami memahami apa yang menjadi kehendak-Mu. [HB]







========


September 03, 2019, 06:19:19 AM
Reply #2017
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

Apakah Korban Sajian-mu?
Posted on Senin, 2 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 2

Dalam Imamat pasal 2, Tuhan Allah menjelaskan aturan dalam mempersembahkan korban sajian: Pertama, korban sajian terbuat dari tepung terbaik, minyak, dan kemenyan. Korban sajian bukan binatang. Hanya segenggam korban sajian yang dibakar di atas mezbah (2:2).Bagian selebihnya (yang tidak dibakar) diberikan untuk Harun (Imam Besar) dan anak-anaknya (para imam). Meskipun dapat dipersembahkan secara tersendiri, biasanya persembahan korban sajian dipersembahkan sesudah korban bakaran dipersembahkan lebih dulu.

Kata dalam bahasa Ibrani yang diterjemahkan sebagai “korban sajian” mengandung arti “penghormatan” atau “pemberian”. Oleh karena itu, orang yang mempersembahkan “korban sajian” seperti bawahan yang memberi “hadiah” untuk menyenangkan hati atasannya. Dengan demikian, persembahan “korban sajian” merupakan ungkapan “penghormatan” dari seorang penyembah yang setia kepada Tuhan yang telah menyelamatkan umat-Nya. Ketika mempersembahkan korban bakaran kepada Allah, umat Allah mendapat pengampunan dosa. Sebagai respons terhadap pengampunan yang telah mereka terima, umat Allah mengungkapkan rasa syukur dan ketaatan kepada Allah dengan cara mempersembahkan korban sajian. Korban sajian yang dibakar (hanya segenggam tangan) menjadi “bagian ingat-ingatan” dan korban apiapian yang baunya menyenangkan bagi Tuhan (2:2). “Bagian ingatingatan” berarti korban tersebut mengingatkan Tuhan akan perjanjian kasih setia-Nya terhadap umat-Nya yang dinyatakan melalui garam perjanjian yang dibubuhkan ke atas korban sajian (2:13).

Alkitab tidak menjelaskan arti dan fungsi dari bahan yang terkandung dalam korban sajian tersebut. Korban sajian tidak boleh mengandung ragi atau madu (2:11). Mungkin larangan ini disebabkan karena keduanya memiliki efek fermentasi yang bersifat “merusak”. Sebaliknya, korban sajian harus dibubuhi minyak dan kemenyan (2:15) yang membentuk nuansa “sukacita” atau “menyenangkan hati” (Amsal 27:9). Saat ini, kita sudah tidak perlu mempersembahkan korban sajian karena sudah ada korban yang sempurna, kekal, dan baunya menyenangkan hati Tuhan, yang disediakan Allah di dalam Kristus Yesus. Sebaliknya, kita dapat mempersembahkan hidup dan mulut kita sebagai pujian penghormatan bagi Tuhan. [GI Abadi]

September 04, 2019, 05:18:55 PM
Reply #2018
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Ikuti Langkah-Nya!
Posted on Selasa, 3 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: 1 Samuel 29:1-11

Berada dalam ketidakpastian adalah hal yang terkadang tidak dapat kita hindari. Tampaknya, situasi seperti inilah yang dirasakan Daud. Ia berada dalam keadaan yang gamang dan tidak pasti karena harus melarikan diri dari Saul yang mencoba membunuhnya. Apalagi, saat itu ia berada di Ziklag, daerah kota Gat, negeri orang Filistin (27:6-7). Situasi ini membuatnya semakin jauh dari bangsa Israel. Hal ini tentu menimbulkan kecemasan atau keresahan bagi Daud.

Sekalipun dalam ketidakpastian, Daud tetap berjuang melakukan apa yang bisa dilakukan. Walau tinggal di Ziklag, ia tetap berperang melawan bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya (1Sam. 27:7). Ia setia mengikuti tiap langkah yang Allah sediakan baginya. Bahkan, 1 Samuel 29:6-7 menuturkan, Raja Akish memberikan penghargaan bagi Daud karena ia baik dan jujur. Raja Akhis mengakui sendiri bahwa Daud adalah utusan Allah dan ia menyukainya (9). Dalam hal ini, Raja Akish membuat pengakuan yang menarik. Ia mengakui Tuhan yang disembah oleh Daud dengan berkata: ”Demi TUHAN yang hidup,” (6). Dalam konteks saat itu, mengakui ”tuhan” bangsa lain adalah hal yang mengherankan. Apalagi, pengakuan ini datang dari seorang raja.

Hal ini tentunya karena kebaikan yang Daud lakukan kepada Raja Akish. Artinya, Daud masih melakukan yang terbaik walaupun ia berada di negeri orang lain. Daud mengikuti langkah demi langkah yang Allah sediakan baginya.

Dalam ketidakpastian hidup, kita terkadang ingin menyerah. Bahkan, kita mungkin lebih memilih untuk menyesali nasib daripada mengupayakan yang terbaik.

Lewat nas hari ini, kita diajak untuk patuh mengikuti irama langkah yang Allah sediakan bagi kita. Kita jangan menyesali keadaan. Marilah kita menjadikan setiap kondisi yang terjadi dalam hidup sebagai kesempatan untuk melakukan yang terbaik bagi sesama dan kepada Allah. Marilah kita berdoa memohon kekuatan dari-Nya

Doa: Tuhan, kuatkanlah kami untuk melakukan yang terbaik dalam setiap derap langkah kehidupan ini. [HB]






Ingat, Lemak Adalah Kepunyaan Tuhan!
Posted on Selasa, 3 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 3

Bacaan Alkitab hari ini mengajarkan tentang persembahan korban keselamatan. Tujuan persembahan korban keselamatan adalah untuk mendapatkan keselamatan (damai-sejahtera) serta menjalin persekutuan antara yang mempersembahkan dengan Tuhan. Persembahan korban keselamatan merupakan ungkapan syukur kepada Allah atas segala berkat-Nya. Di pasal 7, kita bisa membaca tentang tiga macam persembahan korban keselamatan, yaitu korban syukur, korban nazar, dan korban sukarela (7:11, 16). Perhatikan bahwa dalam upacara persembahan korban keselamatan, sesudah bagian untuk Tuhan Allah dipersembahkan lebih dahulu, orang yang mempersembahkan dan para imam  ikut mendapat bagian makanan dari persembahan korban ini.

Prosedur mempersembahkan korban keselamatan ini mirip dengan persembahan korban bakaran, termasuk hal menyiramkan darah ke sekeliling mezbah. Binatang yang dipakai sebagai korban keselamatan dapat berupa lembu atau kambing domba, tetapi—berbeda dengan korban bakaran—binatang yang dipersembahkan dapat berupa hewan jantan maupun betina. Hal ini menunjukkan bahwa korban keselamatan tidak sepenting korban bakaran (yang harus berupa binatang jantan). Hanya bagian lemak dari binatang—yang dibakar semuanya sebagai korban api-apian—yang baunya menyenangkan bagi Tuhan. Lemak dipandang sebagai bagian yang terbaik dari binatang. Mempersembahkan semua lemak kepada Allah merupakan pengakuan bahwa Tuhan itu layak menerima segala hormat dan pujian.

Bagaimana dengan mereka yang menganggap rendah ritual persembahan korban ini? Alkitab memberikan peringatan melalui kisah Imam Eli yang membiarkan anak-anaknya—sebagai imam-imam—memakan lemak dari persembahan ini. Eli ditegur karena ia dianggap lebih menghormati anak-anaknya daripada menghormati Tuhan (1 Samuel 2:29). Imam Eli bukan hanya mendapat teguran, tetapi Tuhan menghukum keluarganya karena “Segala lemak adalah kepunyaan Tuhan”. Selain lemak—bagi orang Israel—darah juga tidak boleh dimakan karena darah merupakan simbol kehidupan. Prinsip Firman Tuhan dalam persembahan korban keselamatan adalah “Segala yang terbaik adalah kepunyaan Tuhan!” Berikanlah yang terbaik kepada Tuhan. Bagaimana dengan Anda? [GI Abadi]




September 05, 2019, 05:21:17 AM
Reply #2019
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kuatkan Iman Percaya
Posted on Rabu, 4 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: 1 Samuel 30:1-31

Musibah tak terduga bukanlah hal yang mudah untuk diatasi. Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Daud ketika ia kembali ke Ziklag. Ia merasakan kesedihan yang mendalam karena Ziklag telah habis dibakar dan dikalahkan. Bahkan istri, anak Daud, dan orang-orang Israel yang ikut dengannya ditawan oleh orang Amalek. Belum lagi, ia hendak dilempari batu oleh rakyat Ziklag.

Daud merasakan kesedihan dan kegalauan. Namun, gejolak perasaan itu justru menguatkan kepercayaannya kepada Allah (7). Ia terus membangun kepercayaan itu dengan tetap bertanya kepada Tuhan terkait langkah selanjutnya untuk keluar dari permasalahan-Nya. Tuhan pun akhirnya memberikan instruksi kepada Daud. Tuhan bahkan menganugerahkan seorang Mesir untuk membantunya menemukan orang Amalek (11-16).

Akhirnya, Daud pun berhasil mengalahkan orang Amalek. Ia membebaskan para tawanan dari tangan orang Amalek. Ayat 19 mengatakan tidak ada satu pun, baik orang tawanan maupun barang jarahan orang Amalek, yang hilang. Akhirnya, Daud pun berhasil menemui kembali istri dan anaknya. Sementara semua barang jarahan diberikan kepada para tua-tua di Yehuda (26-35).

Semua kejadian ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu menjawab kebutuhan Daud. Waktu, kekuatan, dan orang-orang yang Tuhan sediakan baginya. Daud tidak pernah meragukan Allah walau dalam kedukaan. Ia justru semakin percaya pada rancangan Allah bagi hidupnya. Di sanalah kita melihat kepercayaan membuatnya mendapatkan segala yang ia butuhkan.

Mari kita juga terus-menerus memperkuat kepercayaan kepada Allah. Ketika masalah datang silih berganti, hendaknya iman kita jangan melemah. Sebaliknya, kita justru diajak untuk kian teguh percaya bahwa Allah akan menyediakan kebutuhan dalam menjalani pergumulan. Biarlah anugerah Allah menolong kita agar kita tetap percaya kepada-Nya.

Doa: Ya Tuhan, kuatkanlah iman kami. Ajar kami bahwa Engkau senantiasa menemani kami dalam melewati pergumulan. [HB]






Disucikan oleh Darah
Posted on Rabu, 4 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 4:1-5:13

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita membaca tentang satu jenis persembahan lagi. Alkitab versi Terjemahan Baru memberikan judul untuk perikop ini sebagai “korban penghapus dosa.” Sebenarnya, jenis persembahan ini lebih tepat bila diterjemahan sebagai “korban penyucian” ( purification offering ). Bacaan Alkitab hari ini membahas tentang mengapa dan bagaimana seseorang harus mempersembahkan korban penyucian. Jika ada orang yang berbuat dosa (melanggar kehendak Tuhan) dengan tidak sengaja, dia perlu mempersembahkan korban penyucian. Jika seseorang lalai dan melakukan kesalahan, lalu menyadarinya (5:1-4), dia juga perlu mempersembahkan korban penyucian. Saat seorang perempuan melahirkan, dia menjadi tidak tahir, sehingga dia harus mempersembahkan “korban penyucian” (12:6). Hal yang sama juga berlaku bagi orang berpenyakit kusta yang telah sembuh dan menjadi tahir (14:19) serta pria yang mengeluarkan lelehan (15:15). Jadi, korban penyucian bukan hanya perlu dipersembahkan karena dosa yang diperbuat secara tidak sengaja, tetapi juga karena kenajisan.

Salah satu fitur paling penting dalam korban penyucian adalah “pemercikan” darah binatang. Lokasi pemercikan darah dan jenis binatang yang dikorbankan tergantung kepada level tanggung-jawab, keseriusan, dan kemampuan orang tersebut. Jika yang berbuat dosa dengan tak sengaja adalah rakyat jelata, darah korban tersebut hanya perlu dibubuhkan di tanduk-tanduk mezbah korban bakaran. Jika seluruh umat atau imam besar berbuat dosa, darah korban harus dipercikkan ke bagian dalam kemah Allah. Dosa dan pencemaran individu dapat mencemarkan kemah Allah, tempat Allah memilih untuk tinggal bersama umatNya. Ingatlah prinsip berikut: “Bukan Tuhan Allah, tetapi manusia, yang mengalami celaka karena pencemaran dosa”. Kesucian Allah dapat diungkapkan dalam murka-Nya jika dosa dan kecemaran tidak segera disucikan. Bacaan Alkitab hari ini mengajarkan bahwa “segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah” (Ibrani 9:22).

Dalam Perjanjian Baru, kita mendapat penjelasan bahwa Tuhan Yesus—sebagai Imam Besar Perjanjian Baru—telah mempersembahkan darah-Nya sendiri untuk “menyucikan hati nurani kita dari perbuatanperbuatan yang sia-sia” (Ibrani 9:11-14). Apakah hati Anda telah dipenuhi rasa syukur atas karya pengorbanan-Nya bagi orang berdosa? [GI Abadi]


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)