Author Topic: Saat Teduh  (Read 64305 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 06, 2019, 05:25:50 AM
Reply #2020
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23456
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Buta Kekuasaan
Posted on Kamis, 5 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: 1 Samuel 31:1-13

Kekuasaan adalah salah satu momok yang membuat seseorang dapat melakukan hal yang tidak diperkenan Allah. Persis, hal inilah yang terjadi pada Saul. Roh Allah sudah undur darinya dan membuatnya menjadi musuh Allah (1Sam. 28:16). Ia bahkan mencoba membunuh Daud, Raja Israel yang diurapi Allah (1Sam. 19:1). Dan ia masih terus berperang melawan bangsa Filistin sampai akhir hidupnya. Seolah-olah, ia masih merasa sebagai orang nomor satu di Israel.

Saul telah dibutakan kekuasaan. Ia tidak lagi peduli bahwa Roh Allah sudah pergi darinya. Ia beserta tiga orang anaknya (Yonatan, Abinadab, dan Malkisua) bersikeras untuk tetap maju berperang mengepung orang Filistin (2). Saul lupa bahwa kekuasaan di Israel adalah milik Allah. Akibatnya, ia tidak berdaya melawan bangsa Filistin.

Itulah yang terjadi dalam 1 Samuel 31. Pasukan Israel banyak yang akhirnya mati terbunuh (1). Saul dan anak-anaknya dikejar (2). Pertempuran semakin berat dan Saul pun terluka (3). Akhirnya Saul terdesak. Perasaan frustrasi mendorongnya untuk meminta pembawa pedangnya agar menikamkan pedang kepadanya. Namun, si pembawa pedang enggan melakukannya. Saul pun memilih mengakhiri hidupnya dengan menjatuhkan diri ke atas pedangnya (4). Saul, anak-anaknya, dan seluruh pasukannya mati terbunuh. Orang-orang Filistin pun berpesta atas kematian Saul dan memenggal kepalanya. Sebuah akhir yang tragis bagi seorang Raja Israel yang dibutakan oleh kekuasaan.

Kekuasaan adalah salah satu cobaan yang tidak mudah bagi manusia. Sepanjang sejarah umat manusia, kekuasaan membuat banyak orang menjadi buta. Mereka rela membunuh satu dengan yang lainnya demi kekuasaan. Kita sampai lupa bahwa sumber kekuasaan datang dari Allah.

Marilah kita bertekad agar jangan sampai dibutakan oleh kekuasaan. Kekuasaan yang Allah berikan hendaklah menjadi kesempatan bagi kita untuk melayani sesama dengan baik.

Doa: Tuhan, bimbing kami untuk menjaga tekad agar tidak dibutakan oleh kekuasaan. [HB]







Korban Penebus Salah Sudah Tersedia
Posted on Kamis, 5 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 5:14-6:7

Dalam bacaan Alkitab hari ini, dijelaskan tentang jenis persembahan korban yang terakhir, yaitu “korban penebus salah”. Semua jenis persembahan—termasuk korban bakaran, korban keselamatan, dan korban penyucian—mencakup penumpahan darah yang berhubungan dengan “mengampuni kesalahan”. Akan tetapi, persembahan “korban penebus salah” memiliki ciri khas, yaitu memberi ganti rugi terhadap orang yang telah dirugikan secara materi karena kesalahan dan pelanggaran pemberi persembahan, sekaligus memohon pengampunan kepada Tuhan Allah sendiri. Pelanggaran yang disebutkan di sini adalah pelanggaran kepercayaan (“berubah setia’).

Ada tiga jenis pelanggaran di sini: Pertama , pelanggaran yang berhubungan dengan “sesuatu hal kudus”, artinya segala sesuatu yang sudah dipersembahkan kepada Tuhan Allah, untuk para imam dan kemah Allah. Apa yang diperlukan untuk menebus kesalahan ini adalah pengorbanan seekor domba jantan yang tidak bercela dan pembayaran ganti-rugi yang ditambah 20% dari nilai itu. Kedua , pelanggaran yang tidak jelas tetapi sang penyembah “merasa bersalah” sekalipun dia tidak tahu pelanggarannya. Pemberi persembahan hanya mempersembahkan korban untuk mendapatkan pengampunan dari Tuhan Allah, tetapi tidak perlu membayar ganti-rugi 120 % tersebut. Ketiga , pelanggaran yang merugikan orang lain karena merusak kepercayaan menyangkut materi, termasuk barang yang dipercayakan, rampasan, pemerasan, atau penyangkalan terhadap barang yang ditemukan. Pelanggaran ini ditebus dengan mempersembahkan seekor domba jantan ditambah dengan ganti-rugi sebesar 120%. Untuk kasus serupa, jika yang melanggar tidak mau mengaku, namun terbukti bersalah, pembayaran ganti-rugi mencapai 200% (Keluaran 22:7-15). Pemberian ganti rugi kepada sesama harus dilakukan sebelum mempersembahkan korban kepada Tuhan. Pelanggaran secara aspek horizontal harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum aspek vertikal (hubungan dengan Tuhan) diselesaikan.

Dalam Yesaya 53, yang dipercayai sebagai nubuatan tentang Kristus Yesus, disebutkan tentang korban penebus salah (Yesaya 53:10). Jadi, kematian Kristus merupakan korban penebus salah—karena dosadosa horizontal kita juga—yang telah memuaskan Allah. Oh, betapa indahnya karya pengorbanan Yesus! [GI Abadi]

September 07, 2019, 05:38:07 AM
Reply #2021
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23456
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kembalilah kepada Sang Penebus
Posted on Jumat, 6 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 1:1-5

Paulus memulai surat ini dengan memperkenalkan dirinya sebagai rasul. Ia menjadi rasul bukan karena manusia yang mengangkatnya, melainkan Yesus Kristus dan Allah Bapa yang mengukuhkan jabatan tersebut (1).

Paulus dan beberapa rekan pelayannya melihat jemaat di Galatia tidak lagi seperti dahulu. Mereka telah berubah dan malah mulai berani memberontak. Penyebabnya adalah ulah dari beberapa orang yang tidak bertanggung jawab, yaitu para penyebar Injil palsu. Pemahaman yang mereka ajarkan berdampak pada kekacauan dan kehancuran iman jemaat. Alhasil, jemaat di Galatia pun berubah setia kepada Tuhan. Bahkan, dari antara mereka sudah ada yang meninggalkan iman kepada Yesus, sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Kondisi tersebut membuat Paulus dan teman-temannya merasa gagal. Semua usaha mereka menjadi tampak sia-sia. Untuk memberi respons pada situasi itu, mereka pun mengirimkan surat teguran. Lewat surat itu, Paulus mengimbau agar mereka kembali pada ajaran Yesus Kristus (2).

Paulus menasihati dengan menekankan bahwa hanya Yesus Kristus yang bisa menjaga, melindungi, dan memberikan damai sejahtera. Sebab itu, Paulus mengatakan supaya mereka jangan melepaskan diri dari anugerah yang telah dicurahkan. Karena tindakan tersebut bisa mendukakan hati Tuhan yang telah menyerahkan dan merelakan diri-Nya untuk disalib demi menebus dosa dunia (3-4).

Nasihat Paulus kepada jemaat Galatia pun berlaku bagi orang percaya masa kini. Kita harus membangun fondasi kehidupan yang kokoh di atas Kristus, Sang Pemilik kehidupan. Kita harus berakar di dalam-Nya. Untuk itulah sebagai anak-Nya, kita harus mendekatkan diri dan membangun relasi dengan-Nya. Ia mau agar kita selalu datang kepada-Nya dan orientasi hidup kita hanya tertuju kepada-Nya. Tuhan mau kita berkata, ”Bagi-Nya kemuliaan selama-lamanya” (5).

Doa: Tuhan, tolonglah kami agar tetap hidup dalam persekutuan dengan-Mu. [JJ]







Api Yang Tetap Menyala
Posted on Jumat, 6 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 6:8-30

Tuhan Allah memberi petunjuk yang sangat terperinci tentang cara mempersembahkan korban kepada-Nya. Berbeda dengan bacaan Alkitab sebelumnya, bacaan Alkitab hari ini berisi instruksi kepada para imam, yaitu Harun dan anak-anaknya.

Untuk pengaturan korban bakaran, para imam diingatkan untuk menjaga supaya “api di atas mezbah tetap menyala”. Api yang menyala mengingatkan umat Israel akan (1) kehadiran Allah yang menjadi penuntun dan pelindung mereka (Keluaran 13:21), serta (2) murka Allah yang membakar dosa dan para pendosa (Imamat 10:1-3). Api yang dijaga agar tetap menyala mengingatkan bahwa kehadiran Allah selamanya ada dan sekaligus mengingatkan tentang kebutuhan penebusan dari dosa dan pengudusan  yang terus-menerus.

Dalam pengaturan tentang korban sajian, kita melihat bahwa Tuhan Allah sangat memperhatikan para pelayan-Nya (para imam). Dia memerintahkan bahwa sisa selebihnya dari korban sajian yang telah dikhususkan untuk Tuhan merupakan bagian untuk Harun dan anakanak-Nya. Namun, jika imam-imam itu sendiri yang mempersembahkan korban sajian kepada Tuhan, seluruh korban sajian itu harus dibakar untuk Tuhan menjadi bau yang menyenangkan bagi Tuhan.

Pengaturan korban penghapus dosa mengajarkan tentang kekudusan Allah. Kekudusan memiliki kualitas “menjalar”. Setiap orang yang tersentuh (terkena) sesuatu yang kudus akan terpengaruhi sehingga menjadi kudus (6:18b). Darah yang menguduskan mezbah dan barang-barang suci lain-nya tidak boleh menyentuh barang-barang lain.  Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan segera, apakah barang-barang terebut dibersihkan atau dicuci (6:27) atau dihancurkan (6:28).

Melalui pengaturan persembahan korban, kita melihat bahwa Tuhan Allah sangat mempedulikan umat-Nya. Dia ingin agar umat-Nya mengenal Dia sebagai Allah yang berinisiatif untuk membawa mereka kepada hubungan yang benar, baik itu berupa pendamaian melalui persembahan korban-korban tersebut maupun berupa peringatan akan kekudusan Allah. Syukur kepada Tuhan Yesus! Melalui karya Tuhan Yesus di atas kayu salib, seluruh maksud upacara persembahan korban sudah digenapi.  Tuhan Yesus sekali saja menjadi korban di kayu salib, dan dampaknya untuk selama-lamanya (Ibrani 7:27). [GI Abadi]




September 08, 2019, 04:38:27 AM
Reply #2022
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23456
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Injil yang Palsu
Posted on Sabtu, 7 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 1:6-10

Adam dan Hawa harus angkat koper dari Taman Eden lantaran termakan bujuk rayu iblis. Hal yang sama pun terjadi pada jemaat di Galatia. Mereka mudah terseret oleh muslihat iblis karena percaya pada injil palsu.

Jemaat Galatia sebenarnya telah mengenal Tuhan Yesus melalui pemberitaan Injil. Namun, seiring berjalannya waktu, fokus mereka teralih pada injil palsu. Kondisi ini membuat Paulus marah sekaligus heran mengapa jemaat Galatia lekas berbalik dari Kristus dan mengikuti injil yang lain (6).

Paulus merasa bertanggung jawab untuk menasihati mereka karena injil palsu tersebut bukanlah Injil yang sejati. Itu hanyalah tipu daya iblis untuk mengacaukan iman orang percaya. Iblis berusaha memutarbalikkan Injil Kristus yang telah bertumbuh dalam jemaat (7). Iblis selalu tidak menyukai apa yang baik. Ia akan selalu berusaha menghancurkan segala jenis kebaikan, seperti iman orang percaya. Iblis selalu mengupayakan kehancuran fondasi iman kita. Salah satu caranya adalah dengan menyebarkan injil palsu. Karena itu, Paulus dengan tegas mengutuk siapa saja yang menyebarkan injil yang berbeda dari Injil Kristus (8-9).

Paulus berusaha mempertahankan keutuhan iman jemaat di Galatia. Tetapi, mereka tidak mau berbalik. Paulus sadar bahwa ia hanya manusia biasa yang penuh dengan kekurangan dan keterbatasan. Paulus menyerahkan keputusan penuh kepada jemaat Galatia karena nanti merekalah yang menanggung akibat atas keputusan apa pun yang diambil (10).

Injil palsu bekerja dengan sangat halus. Ia akan berusaha memanipulasi iman orang percaya agar lari dari anugerah keselamatan Yesus Kristus. Dalam konteks Paulus, injil palsu itu adalah perkara sunat dan tidak bersunat sebagai lambang keselamatan. Jemaat Galatia dibuat percaya bahwa tradisi keagamaan adalah sarana keselamatan.

Pertanyaannya sekarang: ”Apa injil palsu yang sedang menggerogoti iman kita?”

Doa: Tuhan, ajar kami setia pada Injil Kristus dan waspada terhadap injil palsu. [JJ]







Layakkah Aku di Meja Perjamuan?
Posted on Sabtu, 7 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 7:1-21

Dalam bacaan Alkitab hari ini, sekali lagi Tuhan Allah memberi perintah dan petunjuk kepada Harun dan anak-anaknya (para imam) tentang pengaturan persembahan korban penebus salah dan korban keselamatan. Firman Tuhan mengungkapkan bahwa Tuhan Allah memperhatikan mereka yang melayani. Persembahan korban bakaran dari binatang harus dibakar semuanya, kecuali bagian kulit yang menjadi bagian para imam. Demikian pula halnya dengan korban sajian. Korban sajian yang dimasak (7:9, yaitu dibakar, diolah dalam wajan, dipanggang) diberikan kepada imam yang mengerjakan ritual, sedangkan korban sajian yang tidak dimasak diberikan kepada semua imam (anak-anak Harun). Kita tidak mengerti mengapa korban sajian jenis pertama (dimasak) hanya untuk imam yang melakukan ritual dan korban sajian jenis kedua (tidak dimasak) bagi semua anak-anak Harun. Ada kemungkinan bahwa korban sajian yang pertama (dimasak) lebih jarang dan jumlahnya lebih sedikit.

Dalam hukum tentang korban keselamatan, Tuhan Allah memberi kesempatan kepada umat Allah yang mempersembahkan untuk ikut memakan persembahan itu, selain ada bagian khusus untuk imam. Dalam memakan persembahan, Tuhan Allah mengingatkan umat-Nya untuk memakan korban keselamatan berupa daging korban syukur pada hari itu juga dan tidak boleh disisakan untuk keesokan harinya. Untuk korban nazar dan korban sukarela, umat Allah harus makan korban tersebut pada hari itu juga, tetapi masih boleh memakan sisanya pada keesokan harinya. Akan tetapi, pada hari ketiga, bagian yang tersisa harus dibakar. Jika umat masih makan persembahan itu pada hari ketiga, Tuhan tidak lagi berkenan kepada orang itu. Di sini kita melihat keseriusan Allah akan kekudusan-Nya dan kasih setia-Nya terhadap umat-Nya. Secara natural, makanan daging yang dibiarkan begitu saja sudah rusak pada hari ketiga dan tidak layak untuk dimakan. Kekudusan Allah menuntut bahwa korban binatang harus tanpa cacat dan hanya umat yang berkenan kepada Allah yang boleh beribadah kepada Allah. Dalam sakramen perjamuan kudus, kita (yang mengaku percaya kepada Kristus) diundang untuk makan dan minum semeja dengan Tuhan. Namun, apakah sebelum mengikuti perjamuan kudus, kita senantiasa memohon agar Tuhan menguduskan diri kita? [GI Abadi]


September 09, 2019, 04:47:30 AM
Reply #2023
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23456
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Panggilan yang Mengubah Kelakuan
Posted on Minggu, 8 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 1:11-24

Charles Hutagalung, musisi legendaris Indonesia pernah menciptakan lagu yang berjudul, ”Semua Bisa Bilang”. Salah satu bait lagunya mengatakan: ”Semua bisa bilang, ’Sayang!’. Semua bisa bilang. Apalah artinya sayang, tanpa kenyataan”. Lirik lagu ini sederhana, tetapi mengena dalam keseharian kita ketika perkataan tidak selaras dengan perbuatan.

Banyak orang yang meragukan jabatan rasul yang disandang Paulus. Keraguan inilah yang membuat Paulus perlu menekankan sumber otoritas utamanya, yaitu Injil. Paulus mengatakan bahwa Injil tersebut bukan dari manusia, melainkan dari wahyu Kristus (11-12). Paulus perlu menegaskan hal ini agar jelas otoritas siapa yang bekerja atas semua karyanya.

Jika pun muncul keraguan di dalam diri Paulus, sebenarnya hal itu lumrah. Pasalnya, Paulus adalah mantan penganiaya orang Kristen (13). Pada masa muda, ia lebih tekun dalam memelihara adat istiadat nenek moyang (14). Sampai akhirnya dalam sebuah peristiwa, ia mendapat mandat ilahi untuk memberitakan nama Yesus. Dengan lugas, Paulus merasa tidak perlu meminta pertimbangan manusia (15-16) karena ia sangat yakin bahwa Allah adalah pengutusnya (20).

Lalu, apakah pengakuan Paulus ini hanya omong kosong? Tentu saja standar penguji sebuah teori adalah praktik. Gaya hidup Paulus menunjukkan kualitas sebagai rasul. Ia mengalami perubahan radikal, yaitu dari penganiaya menjadi pemberita Firman (23). Dampaknya adalah semakin banyak orang memuliakan Allah karena pelayanannya.

Semua orang bisa mengeklaim bahwa ia dipanggil Tuhan untuk tugas tertentu. Kita semua bisa mengatakan sedang mengemban amanat ilahi. Bahkan, kita pun bisa mengangkat sumpah untuk itu. Bagaimanapun juga, praktik dan bukti nyata menjadi alat uji yang sahih. Kata-kata tidak pernah membuktikan apa-apa. Hanya aksi yang bisa menyuarakan kebenaran menjadi nyata.

Doa: Tuhan, didiklah kami agar lebih banyak bekerja dan berkarya daripada hanya berkata-kata tanpa disertai tindakan konkret. [JJ]







Ingatlah Bagian untuk Para Imam
Posted on Minggu, 8 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 7:22-38

Di dalam bacaan Alkitab hari ini, umat pilihan Allah kembali diingatkan agar tidak memakan lemak dari hewan yang dipersembahkan sebagai korban api-apian bagi Tuhan dan tidak memakan darah apa pun (baca juga 3:16b-17). Larangan ini dilatarbelakangi oleh keyakinan bahwa lemak dari hewan yang dipersembahkan sebagai korban adalah milik Tuhan dan darah merupakan sarana penebusan/pendamaian (bandingkan dengan 17:10 dan seterusnya). Seriusnya larangan itu diberikan melalui suatu peringatan, yaitu bahwa siapa pun yang melanggar ketetapan ini akan dilenyapkan dari antara bangsa Israel (7:25; 27).

Di dalam ritual (upacara) persembahan korban keselamatan, Tuhan “mengingat” para imam yang melaksanakan ritual tersebut serta menetapkan apa yang menjadi bagian bagi imam yang melaksanakan ritual serta bagi Imam Besar Harun dan anak-anak-Nya. Hal yang menarik di sini adalah bahwa Tuhan menetapkan “dada” dari persembahan unjukan dan “paha kanan” dari persembahan khusus pada korban keselamatan sebagai porsi yang harus disisihkan untuk imam Harun dan anak-anaknya (7:34). Jelaslah bahwa Tuhan Allah menaruh perhatian besar kepada mereka yang melayani persembahan dan yang membawa umat-Nya untuk beribadah kepada Tuhan Allah. Perhatikan bahwa bagian “kanan” adalah bagian terbaik bagi manusia, sedangkan “lemak” adalah bagian terbaik milik Tuhan.

Di dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus mengingatkan jemaat Tuhan (di kota Korintus) agar mereka memperhatikan bagian yang harus dikhususkan bagi mereka yang menjadi pemberita Injil dengan cara membandingkan pelayanan mereka yang memberitakan kabar baik dengan mereka yang melayani mezbah. “Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (1 Korintus 9:13-14). Tuhan begitu peduli terhadap umat-Nya dan juga terhadap para pelayan-Nya. Di dalam konteks masa kini, apakah Anda juga memperhatikan dan menaruh hormat kepada pelayan-pelayan Tuhan? [GI Abadi]




September 10, 2019, 04:30:05 PM
Reply #2024
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23456
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Pelayanan Holistis
Posted on Senin, 9 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 2:1-10

Tradisi mudik biasanya terjadi ketika menjelang hari raya agama. Tiap-tiap orang ingin merayakannya bersama dengan keluarga di kampung halaman.

Paulus pun ternyata pernah melakukannya, walaupun tidak dalam rangka hari raya. Setelah lewat empat belas tahun, ia bersama Barnabas dan Titus pulang ke Yerusalem (1). Di sana, ia tidak lupa memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa yang bukan Yahudi.

Saat itu, jemaat Galatia sedang mempersoalkan perkara sunat dan tidak bersunat. Padahal, posisi Paulus terhadap isu ini sudah jelas, yaitu ia sudah tidak punya keberatan dengan mereka yang tidak bersunat. Sunat atau tidak bersunat, bagi Paulus, sama sekali tidak berpengaruh pada anugerah keselamatan. Hal itu dibuktikannya dengan membawa Titus, yaitu seorang Yunani yang tidak bersunat dalam pelayanannya (2-3).

Tidak hanya itu, Paulus juga menghadapi masalah lain, yaitu saudara-saudara palsu yang menyusup masuk ke dalam jemaat untuk menghadang pemberitaan Injil (4). Di hadapan itu semua, Paulus tidak gentar, malah kian giat memberitakan Injil tanpa rasa takut (4-5).

Dalam pemberitaan Injil, Paulus tidak tunduk kepada berkelompok orang yang berusaha menghalanginya. Ia sama sekali tidak memandang kasta. Semua orang, baik mereka yang terpandang atau tidak, adalah setara di hadapan Tuhan. Ini sejalan dengan prinsip teologis yang dianut Paulus bahwa Allah tidak memandang muka (6).

Dalam mengakhiri suratnya, Paulus mengingatkan betapa pentingnya pelayanan kepada orang miskin dan yatim piatu. Itulah yang menjadi komitmen yang harus mereka laksanakan (10).

Kita bisa melihat bahwa dimensi pelayanan Paulus begitu luas, mulai dari perkara ajaran teologis sampai ke pelayanan diakonia bagi orang-orang miskin. Teladannya adalah pelayanan yang dikerjakan Paulus itu bersifat holistis (menyeluruh). Bagaimana dengan pekerjaan pelayanan yang sedang kita kerjakan sekarang?

Doa: Tuhan, ajari kami agar mampu mengerjakan pelayanan secara menyeluruh. [JJ]







Lembu Jantan Hapus Lembu Emas
Posted on Senin, 9 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 8

Di dalam bacaan Alkitab hari ini, Tuhan Allah memerintahkan Musa untuk menahbiskan Harun dan anak-anaknya. Gambaran prosesi penahbisan ini dijelaskan secara amat terperinci, termasuk masalah pakaian, minyak urapan, dan (terutama) adanya lembu jantan korban penghapus dosa serta dua domba jantan dan bakul berisi roti yang tidak beragi (8:2). Gambaran lebih lengkap tentang penahbisan Harun dan anak-anaknya dapat dibaca dalam Keluaran 28-29. Penahbisan Harun sebagai imam besar dan anak-anak Harun sebagai para imam yang melayani dalam Kemah Pertemuan dan melayani mezbah adalah agar umat Allah mengetahui bahwa “[Dia-lah] TUHAN Allah yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, supaya [Dia] diam di tengahtengah mereka, [menjadi] Allah mereka” (Kel. 29: 44-46).

Dalam Imamat pasal 8, frase “yang diperintahkan Tuhan” tertulis sebanyak 7 (tujuh) kali (8:4; 9; 13; 17; 21; 29; 36). Pengulangan sampai tujuh kali—angka kesempurnaan dalam perspektif Alkitab—menunjukkan bahwa penahbisan Harun dan anak-anaknya sebagai imam telah dilakukan “secara utuh”. Pengulangan ini juga memperlihatkan ketaatan Musa dan Harun “sepenuhnya” terhadap Firman Tuhan Allah. Umat Allah yang berkumpul (8:4) dalam upacara penahbisan menunjukkan bahwa upacara itu adalah “tonggak sejarah” dalam sejarah umat Allah (bandingkan dengan 8:9 tentang “penahbisan orang Lewi” dan Bilangan 20:8 tentang narasi “air dari bukit batu”).

Ada satu hal yang mengingatkan akan kasih karunia Allah dalam prosesi ritual ini, yaitu adanya “lembu jantan” sebagai korban penghapus dosa. Harun dan anak-anaknya menerima pengampunan melalui penyembelihan korban lembu dan melalui darahnya yang menyucikan. Pembuatan “Lembu” (“anak lembu emas”, Keluaran 32) adalah kesalahan fatal Harun yang membuat Allah murka terhadap umat-Nya. Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih karunia-Nya kepada Harun dan anak-anaknya melalui seekor “lembu” lain sebagai korban penghapus dosa. Jelaslah bahwa Tuhan masih mau mengampuni Harun dan memakai dia sebagai imam-Nya, sekalipun dia telah melakukan kesalahan besar. Apakah Anda sudah bersyukur karena kita mempunyai seorang Imam Besar Agung yang jauh melebihi Harun (Ibrani 4: 14 dan seterusnya.)? [GI Abadi]

September 11, 2019, 07:04:11 AM
Reply #2025
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23456
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Antara Kata dan Aksi Nyata
Posted on Selasa, 10 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 2:11-14

Pandangan hidup manusia berbeda satu dengan yang lain. Hal yang serupa terlihat juga dalam pelayanan Paulus dan Kefas (Petrus). Paulus memberitakan Injil bagi orang yang tidak bersunat, sementara Kefas memberitakan Injil bagi orang yang bersunat (Gal. 2:7).

Namun suatu ketika, Paulus melihat ada kejanggalan pada sikap Petrus yang menurutnya tidak patut dicontoh. Karena itulah ketika Petrus pergi ke Antiokhia, Paulus degan tegas menentangnya (11).

Apa gerangan yang melahirkan pertentangan itu? Sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus (orang-orang Yahudi) datang, Paulus melihat Petrus sedang makan sehidangan dengan saudara yang tidak bersunat. Namun, setelah rombongan Yakobus datang, Petrus malah mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena ia takut terhadap tanggapan saudara-saudara yang bersunat. (12).

Bisa jagi, Petrus melakukan hal itu karena ia ingin menaati Taurat. Hukum memang melarang orang Yahudi makan bersama orang bukan Yahudi. Persoalannya, sebelumnya Petrus sudah setuju bahwa peraturan ini tidak diwajibkan bagi pengikut Yesus non-Yahudi (Kis. 10-11). Tampaknya ia berubah akibat para pengikut Yakobus.

Sikap Petrus menunjukkan inkonsistensi karena ia masih menganggap orang yang tidak bersunat adalah orang yang tidak layak dan harus dijauhi. Sikap Petrus ini membuat Paulus harus menegurnya.

Orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik meniru Petrus. Salah satunya adalah Barnabas. Ia yang sudah terbiasa melayani mereka yang tidak bersunat, malah terseret dengan kemunafikan mereka (13).

Sikap Petrus ini sering terlihat juga dalam pelayanan. Kita terkadang masih terlalu munafik dan miskin integritas. Kata dan tindakan kita kerap berbeda. Misalnya, kita selalu membicarakan kasih, tetapi kita hanya mau melayani mereka yang kaya dan melupakan yang miskin. Jika memang demikian, maukah kita berubah?

Doa: Tuhan, bentuklah kami menjadi orang yang menjunjung tinggi integritas, kebenaran, dan kekudusan hidup. [JJ]







Bersyukur, Ada Pelayanan Imam
Posted on Selasa, 10 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 9

Di dalam bacaan Alkitab hari ini (Imamat 9), kita bisa membaca tentang apa yang menjadi keinginan Allah  bagi umat-Nya setelah Dia memberikan ketetapan-ketetapan-Nya tentang berbagai korban persembahan kepada-Nya dan setelah penahbisan Harun sebagai imam besar dan penahbisan anak-anak Harun sebagai imam-imam biasa. Bagian Firman Tuhan yang kita baca ini mengisahkan pelayanan di Kemah Pertemuan  yang diadakan pertama kali. Adanya “persembahan korban penghapus dosa dan korban bakaran bagi imam-imam (Harun dan anak-anaknya)” dan “persembahan  korban penghapus dosa, korban bakaran, korban keselamatan, dan korban sajian bagi umat Israel”, menunjukkan bahwa baik imam-imam maupun umat Israel samasama berdosa dan membutuhkan pengampunan dari Tuhan. Tujuan dari semua pelayanan ibadah di Kemah Pertemuan ini adalah agar Tuhan berkenan menyatakan diri-Nya (dan sekaligus kemuliaan-Nya) kepada umat Israel, sehingga umat-Nya dapat mengalami kehadiran Allah dalam kemuliaan-Nya (baca Keluaran 29: 43-46).

Kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui api yang secara ajaib keluar dari hadapan Tuhan, kemudian menghanguskan korban bakaran dan segala lemak yang diletakkan di atas mezbah (Imamat 9:24). Adanya pelayanan imam-imam menurut kehendak Tuhan Allah bagi umat Israel adalah untuk menjadi sarana yang dipakai oleh Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya di tengah-tengah umat-Nya. Selanjutnya, umat Israel dipanggil untuk menjadi imam-Nya bagi bangsa-bangsa di sekitar Israel, agar kemuliaan-Nya juga dinyatakan bagi bangsa-bangsa lain.

Rasul Petrus menuliskan bahwa kita adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kita memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9). Kita diberi privilege (hak istimewa) oleh Tuhan Allah untuk menjadi imam-imam (lihat juga Wahyu 1:6). Betapa indahnya bahwa kita yang telah dipilih oleh Allah juga dipercaya untuk menjalankan pelayanan sebagai imamat yang rajani (imam yang diutus oleh Raja yang Agung bagi dunia ini), supaya “seluruh bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan Allah” (Habakuk 2:14). [GI Abadi]




September 12, 2019, 02:09:01 PM
Reply #2026
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23456
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Menghadirkan Kristus
Posted on Rabu, 11 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 2:15-21

Pada awal proses rehabilitasi, seorang pecandu narkoba bisa sangat menderita. Tubuh, yang terbiasa mengonsumsi obat-obatan, kesakitan karena menagih dosis yang biasa diterima. Namun jika tahap itu terlewati, tubuh akan terasa normal kembali tanpa harus mengonsumsi narkoba, sehingga si pecandu bisa hidup baru tanpa tergantung pada obat-obatan. Tubuhnya menjadi bersih dan tak lagi dikuasai oleh obat-obatan. Biasanya, dalam hidup barunya, ia akan menjadi penyemangat bagi para pencandu lainnya untuk berhenti memakai narkoba serta bisa berbagi kepada orang lain mengenai dampak bahaya dari narkoba.

Dalam perikop ini, Rasul Paulus menyampaikan nasihat berdasarkan pengalaman pribadinya. Ia menyebutkan bahwa secara lahiriah dirinya adalah orang Yahudi, bukan bangsa asing yang dianggap sebagai orang berdosa (15). Namun, ia tidak mengandalkan status lahiriah itu karena bagi dia yang terutama adalah percaya kepada Yesus dan meneladani hidup-Nya. Itulah sebabnya Rasul Paulus menyebutkan bahwa hidupnya bukan lagi oleh dirinya sendiri karena Kristuslah yang hidup di dalamnya (20). Paulus terlahir sebagai Yahudi di mana kehidupan lamanya dikuasai oleh ketundukan kepada hukum. Namun, dalam hidup barunya Kristus berkarya melalu dirinya.

Menjadi orang Kristen adalah menjadi pengikut Kristus. Secara lahiriah, kehidupan kita sama saja dengan orang lain yang sama-sama mengalami kelemahan manusiawi dan sama-sama melakukan kebaikan. Bahkan, bisa saja orang yang tidak mengenal Kristus justru melakukan kebaikan yang lebih besar dibanding kita. Namun, penghayatan utama orang Kristen adalah segala yang dilakukan, termasuk amal baik, tidak bisa dianggap sebagai pencapaian pribadi. Semua itu dilakukan karena Kristus sendiri yang hidup di dalam kita. Kristus hidup dan berkarya melalui diri setiap orang. Karena itu, marilah kita hadirkan Kristus setiap saat melalui perkataan dan perbuatan kita.

Doa: Tuhan, tolonglah kami menghadirkan Kristus dalam segenap hidup kami. [THIE]







Api Kemuliaan, Api Menghanguskan
Posted on Rabu, 11 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 10:1-7

Kisah dalam bacaan Alkitab hari ini terlihat kontras dengan kisah sebelumnya (Imamat 9), yaitu bahwa Tuhan berkenan kepada umat -Nya dalam kehadiran api kemuliaan Tuhan. Dalam 10:1-7, Tuhan murka, sehingga Ia mendatangkan api yang menghanguskan Nadab dan Abihu, yaitu dua orang imam yang merupakan anak-anak Harun. Kesalahan mereka berdua adalah mempersembahkan “api yang asing”. Yang harus mereka persembahkan seharusnya adalah api yang telah diberikan oleh Tuhan (9:24), yaitu “api dari mezbah” yang harus dijaga agar terus menyala (6:12-13; 16:12), tidak boleh dari sumber lain.

Tuhan Allah menjelaskan mengapa peristiwa itu terjadi: “Inilah yang difirmankan TUHAN: Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku” (10:3). Dalam bahasa Perjanjian Lama, arti kalimat di atas adalah, “Aku (Allah) harus diperlakukan kudus di muka seluruh bangsa”. Nadab dan Abihu adalah orang-orang yang dipercaya untuk menjalankan pelayanan keimaman yang mulia. Mereka menjadi contoh bagi kita—sebagai imamat rajani—agar kita menaruh rasa hormat dan mencintai kekudusan Tuhan. Dalam Alkitab, kita mempelajari prinsip yang berlaku secara umum dan berulang-ulang, yaitu bahwa semakin tinggi posisi dan tanggung-jawab kerohanian seseorang, semakin berat pula disiplin dan hukuman jika melakukan kesalahan.

Perjanjian Lama mengajar kita bahwa sikap Musa yang tidak menghormati kekudusan Allah (Bilangan 20:12) membuat dia tidak diizinkan memasuki Tanah Perjanjian. Dalam Perjanjian Baru, prinsip ini  terdapat seperti dalam Lukas 12:48 dan Ibrani 6:4-6. Penulis surat Ibrani mengulang kembali prinsip di atas dengan tegas: “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka … ” (Ibrani 10:26-31). Sebagai orang yang telah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran Allah, kita sebagai imamat rajani diingatkan bahwa Tuhan adalah api yang menghanguskan. Ingatlah bahwa sisi lain dari api kemuliaan adalah “api yang menghanguskan”, karena Tuhan harus diperlakukan kudus di hadapan umat-Nya. [GI Abadi]


September 13, 2019, 06:39:07 AM
Reply #2027
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23456
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Beriman Menjadi Berkat
Posted on Kamis, 12 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 3:1-14

Dalam sebuah percobaan, seorang anak ditinggalkan di sebuah ruangan dengan sepotong roti. Anak itu dijanjikan sepotong roti lagi kalau bisa menahan tidak memakannya selama sepuluh menit. Eksperimen itu diterapkan kepada beberapa anak. Hasilnya sebagian besar anak bisa menahan diri karena termotivasi oleh janji akan mendapatkan potongan roti kedua. Dari eksperimen ini dapat disimpulkan bahwa janji bisa menjadi aspek yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.

Rasul Paulus mengingatkan bahwa Abraham menerima berkat karena beriman terhadap janji Tuhan. Artinya, perbuatan Abraham bukanlah faktor utamanya, melainkan imannya yang mendasari tindakan itu yang utama. Keturunan Abraham menerima janji berkat yang sama jika bersedia beriman. Orang-orang yang secara lahiriah bukan keturunan Abraham pun bisa menerima berkat yang sama asalkan beriman seperti Abraham karena kehadiran Kristus telah memungkinkan hal itu.

Namun, ada hal yang tak kalah penting yang disebutkan oleh Rasul Paulus. Ia mengutip kata-kata bahwa oleh Abraham, segala bangsa akan diberkati (8). Itu berarti berkat yang dijanjikan bukan bersifat eksklusif dan tidak khusus hanya untuk Abraham. Alkitab mengatakan, ketika ia diberkati, maka segala bangsa pun akan merasakannya juga. Dengan mengutip kata-kata ini, Rasul Paulus mengingatkan jemaat bahwa dalam iman, mereka telah menerima berkat Tuhan. Oleh karenanya, semua bangsa dimungkinkan dapat menerima berkat bersama mereka.

Sebagai orang Kristen, apakah kita pernah merasa bahwa berkat Tuhan semata-mata untuk kita? Pernahkah kita berpikir bahwa berkat tersebut juga harus dibagikan kepada orang lain? Mari kita becermin kepada nasihat Paulus dalam perikop ini. Iman telah membuat kita menerima berkat. Berkat itu harus berlanjut sehingga orang-orang di sekitar kita pun bisa merasakan berkat tersebut.

Doa: Tuhan, tolonglah kami menjaga iman sehingga berkat-Mu selalu diterima dan dipancarkan kepada banyak orang. [THIE]


September 14, 2019, 05:24:17 AM
Reply #2028
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23456
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Sama-sama Anak
Posted on Jumat, 13 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 3:15-29

Dalam panti asuhan, anak-anak yang tinggal berasal dari beragam latar belakang dan daerah. Mereka semua memiliki karakter, sifat, serta temperamen yang unik dan berbeda. Sementara itu, para pengasuh panti juga mempunyai kehidupan sendiri. Mereka juga memiliki keluarga dan anak. Jadi, sembari merawat anak-anak panti, pengasuh pun tetap memiliki tugas mengasuh anak kandungnya sendiri. Dalam kondisi demikian, seorang pengasuh panti asuhan akan selalu berusaha memperlakukan semua anak, baik anak panti maupun anak kandungnya, dengan setara tanpa pembedaan.

Perbedaan bangsa telah membuat jemaat di Galatia gamang karena mereka disibukkan dengan berbagai perbedaan. Rasul Paulus mengingatkan bahwa saat percaya kepada Kristus, mereka juga adalah keturunan Abraham. Mereka telah sama-sama diterima sebagai anak-anak Allah sehingga perbedaan apa pun seharusnya tidak lagi menjadi pemisah di antara mereka. Mereka adalah satu, yaitu anak-anak Allah (26).

Pada masa kini, di Indonesia, terdapat banyak gereja. Ada yang berdasarkan suku dan ada pula yang berdasarkan wilayah geografis. Antargereja kerap terjadi persaingan karena merasa sebagai yang lebih baik. Bahkan, tak jarang juga gereja saling berebut warga jemaat. Kiranya hal semacam itu semakin berkurang, bahkan hilang sama sekali. Sebab, sekalipun gerejanya berbeda-beda, harus disadari bahwa kita semua adalah anak Allah.

Sebagai sesama anak-anak Allah, semua orang percaya seharusnya saling menghormati dan berkolaborasi. Apalagi, kita sama-sama berada di Indonesia. Itu berarti kita menghadapi pergumulan dalam konteks yang sama sehingga sebagai saudara sebangsa, kita pun harus mencari solusi bersama. Karena itu, seharusnya tak ada lagi gereja A atau gereja B. Sebaliknya, kita harus berperan aktif dalam kehidupan bersama sebagai rakyat bangsa Indonesia.

Doa: Tuhan, tolonglah kami mewujudkan keesaan gereja agar bisa berperan baik sebagai warga bangsa Indonesia. [THIE]







Yang Haram Tidak Lagi Haram
Posted on Jumat, 13 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 11

Bacaan Alkitab hari ini menjelaskan berbagai macam kategori binatang, yaitu mana yang haram dan mana yang tidak haram. Banyak penafsir berusaha untuk mengamati apa yang menjadi dasar pengelompokan tersebut. Seorang imam yang mengajar umat Allah tentang segala ketetapan-Nya harus dapat “membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, antara yang najis dengan yang tidak najis” (10:10). Di bagian ini, Allah menyebutkan mana yang haram dan halal, mana yang boleh dimakan dan yang tidak. Tujuannya adalah untuk “menghindarkan orang Israel dari kenajisannya, supaya mereka jangan mati …” (15:31; bandingkan dengan 11:44-45) dan agar mereka menjadi kudus, sebab TUHAN Allah itu kudus (11:45; 19: 2; 20:26;).

Apa dasar pengelompokan ini? Ada yang meyakini bahwa pengelompokan ini “tidak beraturan”, dengan maksud untuk menguji umatNya tentang ketaatan sejati. Ada yang menghubungkan dengan penyembahan berhala, yang dikonotasikan sebagai “haram”. Hal ini belum tentu benar. Misalnya, “lembu” adalah berhala bagi bangsabangsa lain, namun halal bagi umat-Nya. Ada yang mengaitkan dengan dampak terhadap kesehatan. Namun, pengamatan para sarjana menyatakan bahwa kategori ini belum dapat menjelaskan kaitan kesehatan dengan berbagai keunikan binatang tersebut.

Penjelasan terbaik adalah berdasarkan struktur tubuh yang menunjang gerakan makhluk hidup di alam mereka masing-masing, yaitu di darat (11:2-3), di dalam air (11:9), dan di udara (burung-burung). Khusus untuk kategori burung, meskipun struktur dan gerakan burung-burung adalah sama, daftar burung di 11:13-19 termasuk jenis burung pemangsa atau pemakan bangkai. Disebutkan “kejijikan” adalah karena mereka memakan bangkai (11:39) dan karena darah yang ada di binatang yang dimakannya (7:26-27). Bagi Allah, segala yang “utuh” (tak bercacat), normal, sesuai dengan natur yang ditetapkan oleh Allah adalah standar yang tidak haram.  Tuhan Allah telah memilih umat Israel menjadi umatNya dan juga memilih binatang-binatang yang tidak haram bagi umatNya untuk mengingatkan bahwa umat Israel adalah umat pilihan Allah, yang kudus di antara bangsa-bangsa lain. Namun, sejak “penglihatan Petrus” (Kisah Para Rasul 10), ketetapan binatang haram ini tidak lagi berlaku. Ini berarti bahwa Tuhan Allah berkenan menyelamatkan bangsa -bangsa lain juga (Kisah Para Rasul 10:15,28; 10:34). [GI Abadi]

September 15, 2019, 04:51:56 AM
Reply #2029
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23456
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Mental Budak?
Posted on Sabtu, 14 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 4:1-11

Ada dua orang ahli bangunan. Mereka diminta untuk membuat kamar mandi. Orang pertama meminta petunjuk secara detail mengenai bentuk kamar mandi dan interiornya. Lalu, ia pun mengerjakan ala kadarnya sesuai petunjuk. Orang kedua berpikir kreatif mengenai kamar mandi yang fungsional, nyaman, dan enak dipandang.

Seperti pekerja pertama itulah kiranya mental seorang budak. Ia sekadar melakukan perintah. Jika tidak ada perintah, tidak ada petunjuk, maka tidak ada yang dilakukannya. Ia juga tidak punya kreativitas dalam melakukan pekerjaan yang ditugaskan. Seorang budak terikat oleh berbagai aturan yang tidak membebaskannya.

Seperti itulah keadaan manusia sebelum mengenal Anak Allah yang membawa keselamatan, yaitu sekadar mengikuti perintah. Keadaan baru berubah setelah Anak Allah hadir dan berkarya. Orang yang percaya diangkat sebagai anak, bukan lagi budak atau hamba (7). Sebagai anak, kemerdekaan dan kreativitas pun dimungkinkan. Hal inilah yang dicontohkan pekerja kedua di atas.

Sebagai orang percaya, bisa jadi kita terlalu sering bertanya, ”Ini boleh atau tidak?” Sebagai anak, seharusnya itu bukan lagi menjadi pertanyaan kita karena kemerdekaan dan kreativitas yang dikaruniakan oleh Tuhan memampukan kita memilih antara yang benar dan yang salah. Kita tidak lagi mempersoalkan boleh atau tidak, melainkan mana yang memuliakan Tuhan, yang membawa kebaikan, dan yang menunjukkan kualitas sebagai anak-anak Allah.

Itu tidak berarti kita hidup tanpa aturan. Prinsipnya adalah kita jangan sampai terbelenggu oleh aturan yang kaku. Gereja umumnya memiliki berbagai aturan. Semua hal itu dibutuhkan untuk menata kehidupan bersama warga gereja. Aturan itu jangan sampai berbalik memperbudak kita, apalagi sampai mematikan iman. Namun, kreativitas juga harus dibarengi dengan kepekaan mendengar suara Tuhan.

Doa: Tuhan, tolonglah kami menghayati diri sebagai anak Allah sehingga hidup dengan kreativitas yang memuliakan-Mu. [THIE]







Ada Teladan Hukum Taurat
Posted on Sabtu, 14 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 12

Bacaan Alkitab hari ini dan beberapa pasal selanjutnya menjelaskan kenajisan yang bersumber dari dalam (tubuh). Kenajisan (tidak tahir) terjadi jika seorang perempuan bersalin dan melahirkan. Masa pentahiran berbeda-beda, tergantung dari jenis kelamin anak yang dilahirkan. Jika seorang perempuan melahirkan anak laki-laki, masa pentahiran adalah 40 hari (7 hari + 33 hari pentahiran darah nifas). Jika dia melahirkan anak perempuan, masa pentahiran adalah dua kalinya, yaitu 80 hari (14 hari + 66 hari pentahiran darah nifas). Yang menjadi pertanyaan bagi kita pada zaman ini adalah, “Mengapa seorang perempuan yang melahirkan bayi menjadi najis? Mengapa masa pentahiran bagi seorang perempuan yang melahirkan bayi perempuan lebih lama (dua kali) daripada jika dia melahirkan bayi laki-laki?”

Kunci untuk mengetahui apakah sesuatu atau seseorang tahir atau najis adalah apakah dia dalam keadaan baik secara keseluruhan. Seorang penafsir memberikan alasan yang sangat baik: Jika tubuh seorang perempuan mengalami pendarahan atau bila ada cairan atau lelehan keluar dari tubuhnya, perempuan itu tidak berada dalam keadaan yang sempurna. Keadaan yang kurang baik ini menyebabkan dia menjadi najis. Kehilangan darah adalah najis karena dapat menyebabkan kematian, yaitu bertolak-belakang dengan kehidupan yang normal. Sedangkan masa pentahiran karena melahirkan bayi perempuan lebih lama daripada bila melahirkan bayi laki-laki karena setelah dewasa, bayi perempuan itu akan mengeluarkan banyak darah saat menstruasi.

Oleh sebab itu, sesudah masa pentahiran selesai, diperlukan korban bakaran untuk pengampunan serta korban penghapus dosa (penyucian) karena darah yang keluar dari tubuhnya membuat perempuan itu menjadi najis. Perlu diingat, bahwa melahirkan bayi bukanlah dosa karena Allah sendiri yang memberikan perintah kepada manusia untuk beranak-cucu (Kejadian 1:28; bandingkan dengan Mazmur 127:3). Setiap manusia yang lahir karena benih manusia adalah berdosa di hadapan Tuhan dan membutuhkan korban. Kedua orang-tua Yesus Kristus menjalani ritual ini (Lukas 2:22-24), sehingga Yesus Kristus yang tidak berdosa (karena dilahirkan bukan oleh benih manusia) dapat menggenapi seluruh hukum Taurat (termasuk hukum ritual ini) demi kita yang berdosa (Roma 10:4 dan seterusnya). [GI Abadi]




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)