Author Topic: Saat Teduh  (Read 69357 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 17, 2019, 11:41:59 AM
Reply #2030
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24425
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

“Penyakit” yang Tidak Dapat Diobati
Posted on Senin, 16 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 14

Penyakit kusta adalah penyakit khusus yang tidak dapat diobati dengan obat. Dalam Alkitab, beberapa kali penyakit ini muncul sebagai wujud hukuman Allah. Miryam—kakak Musa—mengata-ngatai Musa karena Musa mengambil seorang perempuan Kush sebagai istri, lalu ia mempertanyakan kepemimpinan Musa. Sikap Miryam ini tidak berkenan di hati Tuhan, sehingga Miryam dihukum Tuhan dengan penyakit kusta (Bilangan 12). Saat Naaman—panglima raja Aram—disembuhkan dari penyakit kusta oleh Nabi Elisa, Naaman hendak memberi uang, tetapi Nabi Elisa menolak. Akan tetapi, tanpa seizin Nabi Elisa, Gehazi— pembantu Nabi Elisa—justru melakukan siasat untuk mendapat uang dari Naaman. Akibatnya, Gehazi dihukum Tuhan dengan penyakit kusta (2 Raja-raja 5). Uzia—raja Yehuda yang semula baik—menjadi sombong setelah posisinya kuat. Kesombongannya membuat ia ingin melaksanakan sendiri upacara pembakaran ukupan yang hanya boleh diselenggarakan oleh seorang imam. Akibatnya, Raja Uzia dihukum Tuhan dengan penyakit kusta (2 Tawarikh 26).

Ketiga contoh di atas menunjukkan bahwa penyakit kusta berkaitan dengan masalah rohani, sehingga penderita penyakit kusta dianggap najis (menjijikkan), harus diasingkan (sanksi sosial), dan dilarang mengikuti upacara keagamaan. Yang menentukan bahwa seseorang benarbenar terkena penyakit kusta adalah imam, bukan hakim atau tabib. Pemeriksaan penyakit kusta dilakukan secara teliti supaya perlakuan sanksi sosial tidak sampai diberlakukan kepada orang yang salah. Imam pula yang menentukan bahwa seseorang sudah tahir (bersih) dari penyakit kusta. Adanya ketentuan pemeriksaan ketahiran oleh imam menunjukkan bahwa orang yang terkena penyakit kusta bisa sembuh, tetapi bukan melalui pengobatan. Karena penyakit kusta bukan penyakit biasa, keputusan tahir harus dilakukan melalui serangkaian upacara.

Saat ini, penyakit kusta yang kita kenal dapat diobati dengan obat, sehingga berbeda dengan penyakit kusta pada zaman Alkitab. Akan tetapi, ada “penyakit” lain yang membuat setiap orang dilahirkan dalam keadaan “najis” di hadapan Allah, yaitu dosa. Dosa tidak dapat diobati dengan cara apa pun, kecuali melalui penebusan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di kayu salib! Apakah Anda sudah mengalami penebusan dosa yang bisa membuat Anda menjadi tahir? [GI Purnama]


September 18, 2019, 04:26:43 AM
Reply #2031
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24425
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Merdeka dalam Kasih
Posted on Selasa, 17 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 5:1-15

Bangsa yang merdeka memiliki kedaulatan atas dirinya sendiri. Mereka berhak menentukan arah kebijakan dan segala aktivitasnya. Namun, sebuah bangsa tidak pernah hidup terisolasi dari bangsa yang lain. Kemerdekaan suatu bangsa selalu berhubungan dengan relasinya dengan bangsa lain. Kemerdekaan tidak lantas membuat suatu bangsa bisa sesuka hati bertindak, apalagi jika tindakan tersebut membahayakan bangsa lain dan kelangsungan hidup di seluruh muka bumi.

Demikian pula kiranya kemerdekaan Kristen. Rasul Paulus menyebutkan bahwa hasil dari karya Kristus adalah kemerdekaan. Kemerdekaan itu berarti bahwa tindakan orang percaya tidak diikat oleh berbagai peraturan. Namun, kemerdekaan dari peraturan itu bukan berarti kita, sebagai orang percaya, dapat menjalani hidup dengan sesuka hati. Kemerdekaan dari Kristus bukan kesempatan untuk berbuat dosa, tetapi harus mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (13-14).

Inilah yang menjadi pedoman kita dalam bertindak. Tanpa diikat peraturan, kemerdekaan menuntun kita bertindak secara tepat dalam relasi dengan Tuhan dan sesama.

Kiranya, prinsip kemerdekaan ini terus-menerus menjadi landasan bagi kita dalam menjalani kehidupan pada saat ini. Di tengah dunia yang semakin egois dan apatis, orang Kristen memiliki kemerdekaan untuk tetap memilih mengasihi orang lain. Di tengah pergaulan yang sarat kepentingan, kita memiliki kemerdekaan untuk tetap bertindak tulus. Di tengah hunjaman kebencian, orang Kristen tetap memiliki kemerdekaan untuk mengasihi dan mengampuni. Di tengah masyarakat yang terkotak-kotak berdasarkan agama, orang Kristen memiliki kemerdekaan untuk tetap menjalin relasi yang baik dengan umat beragama lain. Kemerdekaan itu menjadi suluh bagi kita untuk menjalani cara hidup yang tidak serupa dengan dunia ini (Rm. 12:1-2).

Doa: Tuhan, tolonglah kami menghayati karunia kemerdekaan yang berasal dari-Mu dengan mengasihi sesama seperti kami mengasihi diri sendiri. [THIE]







Kekudusan Seksual
Posted on Selasa, 17 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 15

Ada tiga macam cairan—yang keluar dari tubuh manusia—yang membuat seseorang menjadi najis, bahkan bisa membuat orang atau benda yang tersentuh cairan itu menjadi najis. Ketiga cairan itu adalah lelehan yang keluar karena adanya penyakit kelamin, cairan mani pria, dan lelehan darah wanita yang keluar saat cemar kain (haid). Ketiga cairan itu menjadikan yang bersangkutan menjadi najis, tetapi “kadar” kenajisannya berlainan. Lelehan karena penyakit kelamin (15:215) membuat manusia dan benda yang tersentuh menjadi najis. Bekas tempat duduk dan ludahnya pun membuat orang yang tersentuh atau terkena menjadi najis. Mungkin peraturan kenajisan ini dibuat agar penyakit kelamin tersebut tidak menular kepada orang lain. Bila orang yang sakit itu telah sembuh (tidak mengeluarkan lelehan lagi), ia harus melewati tujuh hari lagi sebelum bisa dinyatakan sembuh, dan ia harus membawa dua ekor burung tekukur atau burung merpati kepada imam untuk dipakai sebagai korban penghapus dosa dan korban bakaran. Cairan mani yang tertumpah (15:16-18) membuat sang pria dan wanita yang tidur dengan pria itu menjadi najis sampai matahari tenggelam. Kewajiban mereka adalah mandi dan mencuci pakaian yang terkena tumpahan mani. Lelehan darah saat haid (15:19-24) membuat sang wanita dan pria yang tidur dengan wanita itu menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang mereka tiduri menjadi najis. Orang yang tersentuh tempat tidur mereka atau tersentuh banda yang diduduki wanita yang sedang haid menjadi najis sampai matahari tenggelam. Bila pendarahan itu berkepanjangan (15:25-30), efek kenajisan terus berlaku sampai pendarahan berhenti (bukan hanya seminggu). Setelah pendarahan berhenti, proses pentahiran berlaku sama seperti pentahiran pada pria yang berpenyakit kelamin.

Proses pentahiran dalam Imamat 15 ini sudah tidak berlaku lagi pada masa kini karena pengorbanan Tuhan Yesus telah mencakup penebusan dalam masalah seksual. Sekalipun demikian, semua orang percaya perlu mengingat bahwa kita harus menjaga kekudusan dalam hal kehidupan seksual. Hubungan seksual yang tidak wajar (bukan antara suami istri) harus dihindari agar kita tidak terjangkit penyakit kelamin. Apakah Anda sudah membiasakan diri untuk mendisiplin pikiran dan cara hidup agar terhindar dari godaan seksual? [GI Purnama]


September 19, 2019, 06:30:12 AM
Reply #2032
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24425
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Hidup yang Dipimpin oleh ROH KUDUS
Posted on Rabu, 18 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 5:16-26

Tanaman yang dirawat dan dipelihara dengan baik akan menghasilkan buah yang baik juga. Prinsip yang sama juga berlaku pada kehidupan rohani kita. Ketika kita menjaga kehidupan rohani dengan benar, kehidupan kita pun akan berbuah. Buah yang dihasilkannya pun akan menyenangkan Allah dan manusia.

Pada nas hari ini, Paulus mencoba menjelaskan ajaran penting ini. Paulus menegur jemaat Galatia agar mereka tidak lagi hidup dalam hawa nafsu kedagingan. Paulus menuntut agar mereka hidup di bawah pimpinan ROH KUDUS. Sebab ketika hidup dalam kedagingan, jemaat Galatia hanya akan menghasilkan berbagai perbuatan dosa yang tidak berkenan kepada Allah. Namun, jika mau hidup dipimpin oleh Roh, maka hidup mereka akan menghasilkan buah Roh (22-23).

Ketika jemaat Galatia memilih hidup dalam Kristus, mereka harus bersedia meninggalkan hawa nafsu kedagingan. Mereka mesti bersedia hidup dipimpin oleh ROH KUDUS (24-25). Mereka tidak bisa memilih untuk tetap percaya kepada Kristus, tetapi hidup berkubang dalam dosa. Pilihan mereka hanya dua, yaitu hidup dalam kedagingan dan menuai kebinasaan atau hidup dipimpin oleh ROH KUDUS serta menghasilkan buah Roh dalam hidupnya. Dalam hal ini, Paulus mendorong mereka agar hidup dipimpin oleh Roh supaya mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Nas ini juga berlaku bagi kita saat ini. Setelah percaya kepada Kristus, kita tidak bisa lagi hidup dalam dosa. Kita harus hidup dalam pimpinan ROH KUDUS. Itu artinya kita punya kerinduan untuk mendengar dan memelihara firman-Nya setiap hari. Kita bersedia untuk selalu menaatinya dan peka membedakan antara hasrat pribadi dan kehendak Tuhan.

Ketika hidup dipimpin oleh Roh, maka firman-Nya akan memenuhi pikiran kita. Semua tindakan kita bukan lagi dikendalikan oleh hawa nafsu, tetapi didorong oleh kasih Kristus semata.

Doa: Tuhan, tolong kami agar tetap hidup dipimpin oleh ROH KUDUS. [ST]







Kekudusan dan Kasih Allah
Posted on Rabu, 18 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 16

Peringatan Hari Raya Pendamaian sudah tidak perlu kita lakukan lagi. Sekalipun demikian, memahami peringatan Hari Raya Pendamaian akan menolong kita untuk memahami dan menghargai kekudusan Allah. Sadarkah Anda bahwa pada zaman Perjanjian Lama, Imam Besar Harun tidak boleh sembarangan masuk ke Ruang Mahakudus untuk menghadap Allah yang menampakkan diri dalam awan di atas Tutup Pendamaian, yaitu penutup Tabut Perjanjian (16:2)? Imam Besar Harun hanya diperkenankan memasuki Ruang Mahakudus sekali dalam setahun untuk menyelenggarakan upacara pada Hari Raya Pendamaian. Dia tidak boleh sembarangan masuk untuk bertemu dengan Allah! Sebelum masuk, Ia harus melepaskan pakaian jabatannya yang megah, lalu mengenakan pakaian kudus yang terdiri dari kemeja, celana, ikat pinggang, dan serban yang semuanya terbuat dari lenan sederhana (16:4). Sebelum mempersembahkan korban bagi umat Israel, Imam Besar Harun harus lebih dulu mempersembahkan lembu jantan sebagai korban penghapus dosa bagi dirinya sendiri dan bagi keluarganya (16:6,11). Setelah itu, barulah ia boleh mempersembahkan korban bagi umat Israel. Dari umat Israel, Imam Besar Harun mengambil dua ekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa dan seekor domba jantan untuk korban bakaran (16:5). Dua ekor kambing jantan itu diundi: satu untuk TUHAN dan satu untuk Azazel (16:8). Kambing jantan untuk TUHAN diolah sebagai korban penghapus dosa, sedangkan kambing jantan untuk Azazel  dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun (16:10).

Kita sulit memastikan apa atau siapa yang dimaksud dengan Azazel. Akan tetapi, sebelum kambing jantan untuk Azazel dilepaskan, Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan itu,  mengakui segala kesalahan umat Israel dan menanggungkan semua dosa umat Israel ke atas kepala kambing jantan itu, baru kemudian ia melepaskan kambing jantan itu ke padang gurun. Upacara pelepasan ini mengingatkan kita kepada perkataan Yohanes Pembaptis saat melihat Tuhan Yesus, “Lihatlah Anak domba Allah, yang mengangkut dosa isi dunia.” (Yohanes 1:29, Alkitab Terjemahan Lama). Allah itu kudus sehingga Ia tidak bisa menerima keberadaan dosa. Akan tetapi, Allah itu kasih sehingga Anak Tunggal-Nya—Yesus Kristus—diutus untuk mengangkut dosa-dosa kita melalui kematian-Nya di kayu salib! [GI Purnama]

September 20, 2019, 05:01:20 AM
Reply #2033
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24425
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Perlindungan Allah bagi Orang Benar
Posted on Kamis, 19 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 6:1-10

Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Pedoman ini juga berlaku dalam hal pertumbuhan rohani kita sebagai seorang Kristen. Tanpa kehadiran dan peran orang Kristen lain, iman kita tidak akan bertumbuh.

Dalam bagian ini, Paulus mengingatkan jemaat agar menjaga diri supaya tidak jatuh dalam pencobaan (1). Di samping itu, mereka juga harus hidup saling memperhatikan dan saling menolong. Nasihat memperhatikan saudara seiman tidak bertujuan untuk menghakimi atau menegur dengan kasar.

Menurut Paulus, memperhatikan berarti menuntun kalau ada saudara seiman yang melakukan pelanggaran. Ia harus dibimbing dengan kasih dan kelembutan. Cara memperhatikan bisa juga dilakukan dengan saling mengingatkan dan saling menolong (2). Jika sudah dilakukan, maka hidup mereka sebagai anak-anak Tuhan senantiasa sepadan dengan Firman Tuhan.

Sikap demikian juga seharusnya kita lakukan di dalam hidup bersama dengan saudara seiman. Kita harus saling memperhatikan, saling menegur, saling mengingatkan, dan saling menolong dalam menanggung beban. Karena tidak ada seorang pun yang lebih kuat daripada yang lain. Adakalanya orang lain lemah dan kita harus menolong. Adakalanya kita lemah dan membutuhkan dukungan saudara yang lain.

Jangan sampai kita merasa paling rohani dan benar sehingga menegur dengan arogan. Kita juga jangan tidak acuh sehingga tidak mau tahu, apalagi menolong. Dengan rendah hati dan lemah lembut kita menegur saudara yang jatuh sembari terus mawas diri agar tidak terjatuh dalam dosa.

Saat jatuh ke dalam dosa, kita wajib membuka diri terhadap teguran dari saudara seiman karena kita pun tidak luput dari berbagai kelemahan.

Adakah saudara seiman kita yang membutuhkan teguran atau dukungan kita hari ini? Marilah dengan lembut dan rendah hati kita jangkau mereka kembali.

Doa: Tuhan, ajari kami bahasa kasih-Mu agar kami bisa hidup saling menolong. [ST]







Kebebasan yang Terbatas
Posted on Kamis, 19 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 17

Sebelum aturan tentang persembahan korban yang berpusat di Kemah Suci atau Kemah Pertemuan ditetapkan, bangsa Israel mempersembahkan korban di mana saja. Akan tetapi setelah Kemah Suci didirikan, persembahan korban harus dilakukan di Kemah Suci dan yang menyelenggarakan upacara pengorbanan haruslah seorang imam. Pada zaman itu, masyarakat zaman itu biasa mempersembahkan korban kepada jin-jin di padang. Melalui aturan bahwa persembahan korban harus di Kemah Suci, Allah mencegah umat-Nya mengikuti kebiasaan kafir itu. Yang menjadi pertanyaan, “Mengapa orang Israel tidak boleh menyembelih lembu atau domba atau kambing sendiri?” (17:3-4). Kita perlu memahami bahwa perintah TUHAN ini diberikan saat bangsa Israel berada dalam perjalanan menuju Tanah Kanaan. Karena mereka belum menetap, daging binatang ternak terbatas. Oleh karena itu, seluruh daging ternak yang halal dipakai untuk upacara pengorbanan. Bangsa Israel hanya makan daging pada hari raya. Itulah sebabnya, saat mereka bosan memakan “manna” saja, mereka melakukan “demo” meminta daging kepada Musa (Bilangan 11:1-4). Kita juga perlu menyadari bahwa peraturan pembatasan memakan daging itu hanya bersifat sementara. Setelah mereka memasuki Tanah Kanaan, peraturan pembatasan memakan daging itu akan dicabut dan mereka boleh bebas makan daging (Ulangan 12:10, 15).

Pada zaman ini, kita bebas makan daging. Akan tetapi, kita harus waspada agar kebebasan kita tidak melampaui batas. Kita tidak boleh mengikuti kebiasaan orang-orang yang tidak mengenal Allah, yang memberikan persembahan kepada roh-roh, baik ditujukan pada para dewa atau ditujukan kepada arwah orang yang sudah mati. Kita harus selalu menyadari bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang cemburuan. Allah sakit hati bila kita menyembah ilah lain. Hanya Dia yang patut untuk disembah! Orang percaya tidak boleh menyembah ilah lain, apa pun alasannya! Menyembah ilah lain demi mendapatkan kekayaan, kekuasaan, jodoh, popularitas, kesenangan, dan sebagainya adalah terlarang! Walaupun kita bebas memakan apa pun atau melakukan apa pun, kita harus senantiasa menyadari bahwa ada batas yang tidak boleh diterjang, yaitu bahwa apa yang kita lakukan tidak boleh menghilangkan kesetiaan kita kepada Allah! [GI Purnama]




September 21, 2019, 05:57:36 AM
Reply #2034
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24425
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kerohanian yang Sejati
Posted on Jumat, 20 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 6:11-18

Kesalehan dan kualitas kerohanian seseorang tidak dilihat dari penampilan luarnya. Praktik keagamaan yang dijalani dengan ketat tidak otomatis membuat seseorang lebih suci. Hanya penghayatan dan ketaatan pada firman Allah yang bisa mengubah seseorang. Pendeknya, proses perubahan terjadi dari dalam dan tampak ke luar melalui tindakan.

Fenomena seperti inilah yang terjadi di jemaat Galatia. Rupa-rupanya, orang-orang Yahudi yang menjadi Kristen memaksa mereka untuk tetap melakukan hukum Taurat, yaitu sunat. Mereka beranggapan bahwa menjadi Kristen tidak cukup hanya dengan percaya kepada Kristus, tetapi harus juga melaksanakan Hukum Taurat.

Paulus memberi penjelasan pada bagian akhir suratnya kepada jemaat Galatia. Bagi Paulus, alasan mereka yang menekankan sunat dan Hukum Taurat hanya karena takut dianiaya (12). Bahkan, ada yang melakukan semua itu supaya mereka dianggap lebih saleh daripada yang lain. Padahal, semua itu sia-sia.

Pada dasarnya, sunat sudah tidak mempunyai arti lagi karena satu-satunya hal yang penting adalah menjadi ciptaan baru dalam Kristus (15). Paulus ingin mengatakan bahwa percuma jemaat tampak rohani dari luar, tetapi nilai dan cara hidupnya jauh dari Tuhan. Sebaliknya ketika menjadi ciptaan baru, mereka berubah dari dalam dan berbuah ke luar. Itulah kerohanian yang sejati.

Hari ini kita banyak melihat orang berpenampilan rohani, namun kehidupannya mengecewakan. Hal ini tentu tidak mengherankan karena bertumbuh secara rohani tidak semudah mengubah penampilan kita menjadi lebih alim. Kita menjadi dewasa dalam kerohanian ketika mengalami perubahan dari dalam. Seiring dengan hal itu, penampilan luar kita akan mengikuti sebagai buahnya. Sebab itu, kita jangan hanya fokus pada penampilan lahiriah, tetapi utamakanlah menjadi ciptaan baru yang mengenal Tuhan, taat pada firman-Nya, dan mengasihi-Nya. Dengan begitu, usaha kita tidak akan sia-sia.

Doa: Tuhan, tolong kami menjadi ciptaan yang baru dengan hidup seturut firman-Mu. [ST]







Jangan Mengikuti Kebiasaan Kafir
Posted on Jumat, 20 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 18

Kehidupan di sekitar kita tidak selalu bisa menjadi contoh. Bahkan, dalam banyak hal, kita harus mempertahankan gaya hidup yang berbeda dengan lingkungan kita. Dengan tegas, Allah memerintahkan bangsa Israel agar tidak meniru perbuatan orang Mesir maupun orang Kanaan, melainkan mereka harus mematuhi peraturan dan ketetapan Allah. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Allah melarang hubungan seks antar kerabat dekat (18:6-8), perselingkuhan (18:20) dan hubungan seks yang tidak wajar (18:22-24). Waktu manusia masih sedikit jumlahnya, pernikahan antar saudara tidak dapat dihindarkan. Akan tetapi, sesudah jumlah umat manusia berkembang, pembatasan itu penting. Sesudah terjadinya banjir besar pada zaman Nuh, gen (pembawa sifat keturunan) manusia telah rusak (cacat). Dalam hubungan pernikahan antar saudara, ada kemungkinan bahwa gen cacat akan bertemu dengan gen cacat yang sama dan menghasilkan keturunan yang cacat. Poligami terhadap wanita-wanita yang masih kerabat dekat adalah perbuatan yang akan membangkitkan rasa iri hati, sakit hati, dan perpecahan dalam keluarga. Perselingkuhan dengan ibu tiri—seperti yang terjadi dalam jemaat Korintus (1 Korintus 5:1)—merupakan perbuatan yang amat tercela.

Perkembangan teknologi informasi telah membuat berbagai berita tentang hubungan seks yang tidak wajar (termasuk LGBT dan hubungan seks dengan binatang) tersebar luas. Para aktivis LGBT terus berusaha agar keberadaan mereka bisa diterima oleh masyarakat. Beberapa negara Barat telah melegalkan hubungan sesama jenis. Bila tidak diwaspadai, gejala buruk ini bisa meluas pula di Indonesia. Orang Kristen harus menolak penyimpangan seksual ini sejak dini. Dilegalkannya pernikahan sejenis di sebagian negara Barat amat menyedihkan. Perjuangan menegakkan hak asasi manusia tidak boleh dilakukan sambil menentang ketetapan Allah. Allah telah menetapkan bahwa pernikahan hanya boleh terjadi di antara seorang pria dan seorang wanita (Kejadian 2:24). Gereja harus menentang dengan tegas setiap penyimpangan terhadap ketentuan Allah tentang pernikahan ini. Sikap sebagian gereja di negara Barat yang merestui pernikahan sejenis harus ditolak! Saat berinteraksi dengan orang-orang yang beragama lain, kita harus toleran, tidak memaksa, tetapi tidak boleh kompromi. Apakah Anda memiliki tekad untuk menaati Allah dalam segala situasi? [GI Purnama]





September 22, 2019, 03:39:28 AM
Reply #2035
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24425
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Memiliki dan Menghidupi Iman
Posted on Sabtu, 21 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 11:37-54

Jika Anda adalah pengurus dan aktivis gereja, mungkin komentar miring tentang pelayanan pernah singgah di telinga Anda. Komentar ini terasa menyakitkan karena menganggap pelayanan Anda sia-sia. Anda mungkin jengkel kepada para komentator itu karena merasa tidak dihargai. Herannya, Yesus sendiri pun pernah melontarkan komentar bahkan kecaman kepada pengurus dan aktivis agama pada masa-Nya.

Dalam nas ini, Yesus mengecam dua kelompok masyarakat. Pertama, kelompok orang Farisi. Yesus mengecam karena kehidupan keagamaan mereka yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Mereka merasa sudah benar hanya karena menaati peraturan agama. Sementara dalam keseharian, mereka melakukan hal-hal yang jahat di mata Tuhan. Yesus menyebut mereka sebagai kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya tidak mengetahuinya (44).

Kedua, kelompok ahli Taurat. Yesus mengecam mereka karena kehidupan keagamaan mereka yang justru diletakkan pada orang lain. Mereka mengkaji berbagai aktivitas rohani yang seharusnya dilakukan oleh umat Tuhan, tetapi mereka sendiri tidak tersentuh atau tidak melakukannya (46). Mereka penuh dengan pengetahuan agama, tetapi mereka sendiri tidak mempraktikkannya. Jadi, Yesus mengecam kehidupan keagamaan yang hanya membangun pengetahuan, tetapi tidak dilaksanakan di dalam kehidupan sehari-hari.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita supaya kita memiliki kehidupan Kekristenan yang utuh. Kita wajib memiliki pengetahuan akan kebenaran, sekaligus juga mempraktikkannya dalam seluruh aspek kehidupan. Jadi, Kekristenan kita tidak hanya tampak saat ibadah, namun juga hadir pada saat kita bekerja, mendidik anak, bermasyarakat, dan dalam bidang kehidupan lainnya. Kekristenan yang demikian berasal dari kehidupan rohani yang hidup dan dinamis.

Doa: Tuhan, tolonglah kami agar tidak hanya menambah teori pengetahuan tentang kebenaran Allah, tetapi juga menghidupinya. [RG]







Mengasihi Sesama
Posted on Sabtu, 21 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 19

Dalam Kekristenan, mengasihi Allah dan mengasihi sesama itu saling berkaitan. Bila kita sungguh-sungguh mengasihi Allah, kita pasti mengasihi sesama. Tidak mungkin kita benar-benar mengasihi Allah bila kita tidak mengasihi sesama. Iman bukanlah sekadar relasi dengan Allah dalam ruang tertutup. Bila kita sungguh-sungguh beriman kepada Allah, maka kita akan meniru cara pandang Allah dalam memandang segala sesuatu dalam kehidupan ini. Sewajarnyalah bila kita mengasihi sesama karena Allah mengasihi manusia. Standar kita dalam  mengasihi Allah adalah sikap kita terhadap diri sendiri (19:18). Kita akan berbuat baik kepada sesama sebagaimana kita akan berusaha melakukan yang terbaik untuk diri kita sendiri. Bila kita tidak bisa mempedulikan (mengasihi) diri sendiri, mungkin hal itu disebabkan karena kita kurang memahami kasih Allah terhadap diri kita. Bila kita telah menerima kasih Allah, sudah sewajarnya bila kasih itu tersalur kepada orang lain.

Hukum-hukum Allah yang harus ditaati umat Israel itu mencakup lingkup yang amat luas. Perintah untuk menghormati orang tua, perintah memelihara hari Sabat, larangan membuat patung untuk disembah, serta larangan mencuri dan berdusta merupakan pengulangan dari sepuluh hukum (19:3-4,11-12,30). Larangan menabur dengan dua jenis benih dan memakai pakaian dari dua jenis bahan (19:19) merupakan hukum-hukum yang sulit dimengerti dan sudah tidak tepat bila diterapkan pada masa kini. Sekalipun demikian, sebagian besar hukum-hukum ini bersifat amat praktis, walaupun perlu penyesuaian saat hendak diterapkan pada masa kini. Saat panen, orang Israel harus dengan sengaja tidak memanen sampai habis, melainkan menyisakan hasil panen untuk orang miskin (19:9-10). Menyisakan hasil panen itu juga akan menolong para pendatang yang memerlukan bantuan (19:33-34). Terhadap orang kecil, orang Israel dilarang memeras, merampas, dan menahan upah (19:11-13). Sikap memikirkan kepentingan orang kecil seperti ini harus diperhatikan oleh para majikan atau orang kaya yang mempekerjakan orang lain pada masa kini. Para hakim harus berlaku adil (19:35-36): Membela orang miskin secara tidak wajar maupun membela orang kaya (orang besar) harus dihindari (19:15). Terhadap sesama yang bersalah, orang Israel tidak boleh membenci, membalas, atau mendendam, melainkan wajib menegor atau mengingatkan (19:17-18). [GI Purnama]




September 23, 2019, 07:54:43 AM
Reply #2036
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24425
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Takut dan Kasih akan Allah
Posted on Minggu, 22 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 12:1-12

Ketika bermain, anak-anak sering kali saling membanggakan bapaknya sebagai yang lebih hebat dari yang lain. Kebanggaan ini adalah cerminan pengakuan akan kehebatan sekaligus menunjukkan kedekatan mereka kepada bapaknya.

Yesus mengkhususkan pengajaran-Nya kepada para murid-Nya (1). Ia mengingatkan murid-murid agar waspada terhadap pengajaran orang Yahudi karena mereka munafik. Yesus memperingatkan para murid-Nya supaya mereka takut akan Tuhan. Sebab, Ia yang berkuasa atas kehidupan di dunia dan kehidupan setelah kematian (5). Tuhan berdaulat atas segala sesuatu yang terjadi. Manusia bisa melakukan banyak hal, tetapi tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar jangkauan-Nya. Bahkan, Allah tahu jumlah rambut di kepala manusia. Jadi, kehidupan murid-murid seharusnya jangan digerakkan oleh rasa takut kepada manusia dan aturan-aturan agama, tetapi digerakkan hanya oleh rasa takut akan Tuhan.

Apa artinya takut akan Allah? Yesus berkata kepada para murid-Nya bahwa mereka sangatlah berharga, bahkan lebih berharga dari banyak burung pipit (7). Inilah alasan mengapa kemudian Yesus berkata kepada mereka agar jangan takut kepada para majelis, pemerintah, dan penguasa (11). Hanya Allah yang layak ditakuti.

Seorang anak mengetahui bahwa bapaknya jauh lebih berkuasa dan merupakan pemilik hidupnya. Karena itu, seorang anak akan merasa takut kepada bapaknya, tetapi sekaligus mengasihinya. Maka, seorang anak akan dengan bangga mengakui bapaknya kepada teman-temannya.

Sebagai orang percaya, pengenalan kita akan Allah yang berdaulat akan memunculkan rasa hormat kepada Pencipta. Kita mengasihi-Nya karena perbuatan-Nya yang berharga. Rasa takut dan kasih ini senantiasa membuat kita menyaksikan perbuatan-Nya, baik dalam kehidupan pribadi maupun orang-orang di sekitar kita.

Doa: Ya Allah, kami bersyukur karena kami berharga di mata-Mu. Kami mau menyaksikan perbuatan-Mu di dalam hidup kami. [RG]







Hidup dalam Kekudusan
Posted on Minggu, 22 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 20

Hukum-hukum dalam pasal ini merupakan pengulangan dari hukumhukum yang pernah dikemukakan di pasal 18-19, tetapi secara khusus ditambahkan masalah hukuman. Ada berbagai pelanggaran yang diancam dengan hukuman mati, yaitu menyerahkan anak kepada dewa Molokh (20:2), mengutuki orang tua (20:9), berselingkuh (20:10-12), bersetubuh dengan sesama jenis (20:13), bersetubuh dengan binatang (20:15-16), dan dirasuk arwah atau roh peramal (20:27). Molokh adalah dewa yang disembah oleh bani Amon. Anak yang diserahkan kepada Molokh bisa diserahkan untuk menjadi korban bakaran atau diserahkan untuk menjadi pelacur bakti (pelacur dalam suatu upacara penyembahan, khususnya untuk memohon kesuburan tanah).

Inti dari pelanggaran yang mendatangkan hukuman mati adalah ketidaksetiaan. Penyembahan terhadap dewa-dewi dalam berbagai ungkapan (termasuk mempersembahkan anak) serta menjadi medium (penghubung antara manusia hidup dengan arwah orang mati) adalah ekspresi ketidaksetiaan kepada Allah. Perselingkuhan dengan istri orang lain merupakan ekspresi ketidaksetiaan terhadap istri sendiri. Perselingkuhan yang dilakukan dengan anggota keluarga (kerabat) merupakan pengkhianatan terhadap keluarga. Persetubuhan dengan sesama jenis dan dengan binatang adalah ekspresi ketidaksetiaan terhadap kodrat manusia (Ingatlah bahwa dalam pandangan Allah, seorang pria hanya cocok bila berpasangan dengan seorang wanita, bandingkan dengan Kejadian 2:18-24).

Inti dari seluruh tuntutan Allah adalah agar umat Allah hidup dalam kekudusan. Artinya, hidup kita harus dikhususkan sepenuhnya untuk memuliakan Allah, yaitu dengan berpegang pada ketetapan Allah dan dengan melakukan firman-Nya (20:7-8). Allah memberikan Tanah Kanaan sebagai Tanah Perjanjian untuk bangsa Israel. Akan tetapi, Allah menghendaki agar bangsa Israel hidup menurut ketetapan TUHAN, bukan mengikuti cara hidup bangsa-bangsa di sekitar mereka (20:23).  Orang tua adalah wakil Allah yang harus memimpin seluruh keluarga untuk menaati kehendak Allah. Oleh karena itu, menghormati orang tua merupakan perintah yang penting! Allah harus menempati tempat yang paling utama dalam kehidupan kita. Kita tidak boleh mengizinkan diri kita dikendalikan oleh sesuatu yang bukan Allah. [GI Purnama]


September 24, 2019, 06:57:57 AM
Reply #2037
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24425
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Waspada terhadap Ketamakan
Posted on Senin, 23 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 12:13-21

Dalam nas sebelumnya, kita membaca peringatan Yesus kepada para murid agar waspada terhadap kemunafikan orang Farisi. Pada nas hari ini, Yesus kembali mengajar dengan peringatan agar kita waspada terhadap ketamakan.

Untuk itu, Yesus membuat sebuah perumpamaan tentang orang kaya yang karena hartanya merasa sudah memiliki segala sesuatu. Lantas, ia menjadi lupa bahwa nyawanya sendiri adalah milik Allah. Setelah semua usahanya mengumpulkan harta yang begitu banyak, singkat cerita Allah kemudian mencabut nyawanya (20).

Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat menjamin kehidupan kita. Kita hanya bisa mengusahakan untuk memiliki sesuatu di bumi ini. Bisa saja kita mempunyai banyak asuransi, uang tabungan, dan kekayaan. Akan tetapi, Allahlah pemilik kehidupan kita. Karena itu, Yesus memperingatkan kita agar waspada terhadap ketamakan.

Perumpamaan ini disampaikan setelah salah satu dari orang banyak meminta agar Yesus menegur saudaranya agar berbagi warisan (13). Lantas, mengapa Yesus memberi perumpamaan ini? Tampaknya, orang itu ingin memanfaatkan kepopuleran Yesus dan status-Nya sebagai guru untuk mewujudkan keinginannya.

Kerap kali, kita juga mengikut Tuhan hanya untuk memanfaatkan-Nya mewujudkan berbagai keinginan kita. Kita memperalat Tuhan demi memuaskan hasrat dan nafsu kedagingan kita. Padahal, kalau Tuhan adalah pemilik hidup kita, maka Dia jugalah pemilik segala sesuatu dalam hidup ini. Kita seharusnya tidak perlu tamak dan rakus akan harta dunia. Karena kita yakin Tuhan akan memelihara kita dengan baik dan berkecukupan.

Bagaimana sikap kita terhadap harta benda yang kita miliki? Apakah kita lebih melekat pada harta itu daripada kepada Tuhan yang memberikannya? Apakah dalam hati kita terselip ketamakan?

Doa: Tuhan, tolonglah kami agar tidak jatuh ke dalam ketamakan. Bantulah kami agar tidak memanfaatkan-Mu untuk mewujudkan ketamakan kami. [RG]







Tuntutan bagi Pelayan TUHAN
Posted on Senin, 23 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 21

Jabatan sebagai seorang imam—apalagi sebagai imam besar—adalah jabatan yang terhormat. Akan tetapi, jabatan yang terhormat itu diiringi dengan tuntutan yang lebih tinggi daripada tuntutan terhadap rakyat biasa. Tingginya tuntutan Allah terhadap seorang imam terlihat dari peraturan menyangkut pengurusan jenazah. Pada masa itu, bila ada orang yang meninggal, semua orang yang mendekati (apalagi memegang) jenazah menjadi najis selama tujuh hari (lihat Bilangan 19:14). Oleh karena itu, seorang imam tidak boleh mengurus orang mati, kecuali bila yang meninggal adalah kerabat terdekat (orang tua, anak, saudara lakilaki, dan saudara perempuan yang belum menikah, Imamat 21:1-3). Imam (yang sudah diurapi) yang merupakan anak sulung sama sekali tidak boleh mengurus jenazah—sekalipun yang meninggal adalah orang tuanya sendiri—supaya dia dapat tetap melaksanakan tugas di tempat kudus dalam Kemah Suci. Bila yang meninggal bukan keluarga dekat seorang imam, tentu saja jenazahnya tetap harus diurus, dan yang harus mengurus adalah orang-orang yang bukan imam. Aturan ketat yang lain yang berlaku bagi seorang imam adalah dalam memilih istri (21:7). Seorang imam (keturunan Harun) yang cacat tidak diizinkan melaksanakan tugas di tempat kudus (21:21). Dengan kata lain, imam yang cacat tidak boleh menjalankan fungsi imam secara utuh.

Pada zaman ini, jabatan imam sudah tidak ada (karena saat ini sudah tidak ada lagi system pengorbanan seperti yang berlangsung dalam Kemah Suci atau Bait Suci). Sekalipun demikian, orang yang ingin melayani Allah juga harus menjaga kesucian hidupnya agar bisa melaksanakan tugas yang dipercayakan Allah kepadanya tanpa terhalang. Rasul Paulus mengatakan, “Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (2 Timotius 2:20-21). Banyak hal menyangkut pekerjaan Tuhan yang bisa dikerjakan oleh orang percaya. Akan tetapi, bila seorang percaya tidak menjaga kehidupannya, ia tidak akan bisa mengerjakan pekerjaan besar untuk Tuhan! [GI Purnama]



September 25, 2019, 06:21:50 AM
Reply #2038
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24425
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Menjadi Orang Paling Kaya
Posted on Selasa, 24 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 12:22-34

Kita mungkin berpendapat bahwa orang kaya adalah mereka yang memiliki banyak harta sehingga mereka tidak lagi merasa kekurangan. Namun, ada juga orang yang tampak berlimpah harta, tetapi selalu mengeluh karena tetap merasa kekurangan. Kalau situasinya begitu, sebenarnya, orang tersebut masih tergolong miskin, bukan? Artinya, derajat kekayaan seseorang sebenarnya tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dimilikinya, tetapi dari sejauh mana ia merasa cukup. Kecukupan inilah yang nantinya akan terkait dengan tingkat kemampuannya dalam memberi kepada orang lain. Semakin seseorang bisa memberi, maka semakin kayalah dia. Sebaliknya, seseorang yang tidak pernah merasa cukup akan terus khawatir dan selalu merasa miskin.

Dalam nas bacaan kita hari ini, Yesus mengajar para murid-Nya agar cara hidup mereka berbeda dari gaya hidup dunia. Kalau mereka masih berorientasi kepada kekayaan di dunia, itu artinya mereka masih sama dengan bangsa-bangsa lain. Kehidupan murid-murid tentu lebih berharga daripada burung-burung pipit. Karena mereka adalah kepunyaan Allah, apalagi kita yang dicipta segambar dengan-Nya. Kalau kita memiliki Sang Pemilik segala sesuatu, lalu mengapa kita khawatir akan kehidupan ini?

Sebagai manusia kita memang memiliki sifat untuk khawatir. Akan tetapi, kekhawatiran adalah ekspresi dari ketidakpercayaan. Sebagai anak-anak Tuhan, jangan sampai kekhawatiran tersebut menunjukkan seolah-olah kita tidak memiliki Allah. Karena itulah, kita tidak perlu ambisius mengejar kesenangan dunia sebab orientasi kita adalah mencari Kerajaan Surga dan kebenaran-Nya.

Marilah kita menjadi orang kaya bukan karena ukuran harta, tetapi karena amal dalam memberi. Ini adalah pertanda bahwa kita tidak memiliki kekhawatiran lagi terhadap kehidupan ini. Mari kita berserah kepada Tuhan, Sang Perawat kehidupan.

Doa: Tuhan, kami bersyukur untuk segala kecukupan hari ini. Tolonglah kami agar tidak khawatir dan mau berbagi kepada sesama. [RG]







Memuliakan Tuhan dengan Persembahan
Posted on Selasa, 24 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 22

Memberi persembahan berbeda dengan berbuat amal (melakukan kebaikan dengan tujuan agar mendapat balasan atau berkat dari Tuhan). Saat berbuat amal, kita melakukan kebaikan (sesuatu yang menguntungkan) terhadap orang yang menerima amal (objek amal). Akan tetapi, saat kita memberi persembahan kepada Tuhan, Tuhan tidak mendapat keuntungan apa pun. Memberi persembahan adalah respons terhadap kebaikan Tuhan. Saat memberi persembahan, seharusnya kita merasa bersyukur, bukan merasa berjasa kepada Tuhan. Memberi persembahan tidak sepatutnya disertai rasa bangga atau rasa superior (merasa diri tinggi atau terhormat) melainkan harus disertai kerendahhatian. Itulah sebabnya, dalam bacaan Alkitab hari ini, jelas bahwa Allah menetapkan syarat kepada orang yang hendak memberi persembahan, yaitu bahwa orang itu harus tidak sedang berada dalam keadaan najis (kotor, tidak memenuhi syarat untuk mengikuti suatu upacara keagamaan). Orang yang najis harus membersihkan dirinya dan menunggu sampai dirinya menjadi tahir (bersih, layak mengikuti upacara keagamaan), Para imam yang menyelenggarakan upacara pengorbanan dan keluarga imam yang berhak mendapat bagian dari korban persembahan pun dikenakan persyaratan kekudusan sebelum diizinkan memakan bagian persembahan yang diperuntukkan bagi mereka.

Semua penjelasan di atas menunjukkan bahwa mempersembahkan korban itu tidak boleh dilakukan dengan seenaknya. Binatang yang dipakai sebagai korban persembahan pun harus yang dalam kondisi sempurna (tidak bercacat). Mempersembahkan korban cacat merupakan penghinaan kepada Tuhan. Tuhan tidak berkenan kepada korban persembahan yang cacat. Karena Tuhan Yesus sudah mengorbankan diri -Nya sendiri sebagai korban yang sempurna (tanpa cacat), sekarang sudah tidak perlu lagi diadakan persembahan korban. Sekalipun demikian, kita masih bisa mempersembahkan uang, pikiran, dan tenaga kita untuk kepentingan pekerjaan Tuhan melalui gereja-Nya. Apakah Anda sudah berusaha memberikan yang terbaik bagi Tuhan? Bila Anda adalah seorang yang sibuk, apakah Anda merasa bahwa sudah cukup bila Anda mempersembahkan uang, pikiran, dan tenaga sisa (seadanya) kepada Tuhan? Bila Anda sudah sering terlibat dalam pelayanan, apakah Anda selalu berusaha melayani sebaik mungkin agar Tuhan dimuliakan?        [GI Purnama]

September 27, 2019, 04:40:35 AM
Reply #2039
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24425
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Sebuah Kesempatan
Posted on Kamis, 26 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 12:49-53

Banyak orang yang menantikan Yesus menganggap bahwa kedatangan-Nya adalah untuk memberikan kelegaan, ketenangan, dan kedamaian. Ternyata, tidak selamanya begitu. Yesus datang bukan hanya untuk memberikan apa yang dinantikan oleh orang banyak. Ia juga datang untuk melemparkan api ke bumi (49) dan membawa pertentangan (51). Namun demikian, apakah situasi tersebut sungguh-sungguh akan terjadi?

Yesus telah melakukan berbagai hal dalam pelayanan-Nya, seperti mukjizat, pengajaran, dan sebagainya. Namun, tetap ada saja orang-orang yang tidak menyukai-Nya. Hal itu pun terjadi di dalam keluarga. Ada anggota keluarga yang menolak dan ada yang menerima. Sehingga pertentangan terhadap keputusan untuk mengikut Yesus tidak dapat terelakan lagi (52-53).

Pertentangan itu masih terjadi hingga hari ini. Sampai sekarang, kita masih melihat adanya konflik horizontal antara umat Kristen dengan mereka yang non-Kristen karena berbeda pemahaman tentang identitas Kristus. Ironisnya, konflik serupa juga terjadi dalam internal tubuh Kristus sendiri, yaitu sesama orang percaya sehingga kerap menimbulkan perselisihan dan perpecahan.

Meskipun ada banyak pertentangan, nas ini mengajak kita untuk tetap teguh beriman kepada Yesus dan firman-Nya. Pertentangan itu justru harus kita pandang sebagai suatu kesempatan untuk memberitakan karya keselamatan yang dikerjakan Yesus.

Dalam hal pemberitaan kabar keselamatan, orang-orang terdekat kita adalah ”target” yang sangat efektif. Siapakah mereka? Mereka adalah orang tua, saudara, anak, rekan sejawat, dan tetangga. Caranya ialah dengan menunjukkan cara hidup beriman. Inilah salah satu cara memberitakan iman kita kepada dunia.

Marilah kita terus berpegang teguh pada firman-Nya dan terus-menerus menunjukkan kualitas cara hidup beriman kita kepada orang lain.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk melihat pertentangan sebagai kesempatan untuk memberitakan kabar baik. [ER]







Menjaga agar Terang Tetap Menyala
Posted on Kamis, 26 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 24

Secara umum, hukum-hukum dalam Perjanjian Lama menyangkut dua hal, yaitu menyangkut upacara keagamaan (yang bersifat simbolik) dan menyangkut moral (praktik hidup). Dalam Imamat 24, TUHAN memerintahkan agar Harun—sang imam besar—menjaga agar lampu-lampu di depan tabir yang memisahkan ruang kudus dan ruang mahakudus selalu menyala (24:1-4), sedangkan umat Israel (suku di luar suku Lewi) bertanggung jawab untuk menyediakan minyak zaitun tumbuk yang diperlukan. Lampu-lampu itu mengingatkan kita bahwa Tuhan Yesus adalah Terang Dunia (Yohanes 8:12) yang selalu menerangi kehidupan kita melalui firman-Nya, sehingga kita dapat memantulkan Terang itu dan kita pun juga menjadi terang yang menerangi dunia ini (Matius 5:14). Supaya bisa tetap menerangi dunia, kita harus selalu terhubung dengan Terang yang sesungguhnya (Yohanes 1:9). Perhatikan bahwa tugas menjaga agar lampu-lampu di depan tabir pemisah di Kemah Suci tetap menyala adalah tugas bersama antara umat (yang menyediakan minyak) dan imam atau imam besar yang mengawasi dan memastikan bahwa lampu-lampu itu tetap menyala.

Pada masa kini, setiap orang percaya bisa menjaga agar Terang Yesus Kristus tetap menyala melalui kehidupan yang sesuai dengan Firman Tuhan. Kisah seorang laki-laki yang dihukum mati karena “menghujat nama TUHAN” (Imamat 24:10-16) merupakan peringatan bagi keluarga Kristen dalam mendidik anak. Dicantumkannya keterangan bahwa ayah dari laki-laki yang menghujat nama TUHAN itu adalah seorang Mesir (24:10) memberi petunjuk bahwa menikah dengan seorang yang berasal dari luar umat TUHAN mengandung risiko besar! Zaman Musa adalah masa awal pemberian hukum Taurat. Penerapan hukuman secara tegas diperlukan supaya umat Allah tidak gampang melakukan pelanggaran terhadap hukum Allah. Aturan “patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi” (24:20) tidak boleh dipandang sebagai hukum yang kejam, melainkan sebagai pembatasan terhadap tindakan kejam yang berlebihan yang umum dilakukan pada masa itu. Pada masa kini, keberadaan orang percaya sebagai terang dunia akan terwujud bila kita sungguh-sungguh menerapkan kasih kepada Tuhan dan kasih terhadap sesama. Apakah Anda selalu berjaga-jaga agar bisa terus-menerus memancarkan terang kepada dunia ini? [GI Purnama]



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)