Author Topic: Saat Teduh  (Read 69264 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 28, 2019, 10:14:27 AM
Reply #2040
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Mengenali dan Mengisi Zaman
Posted on Jumat, 27 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 12:54-59

Dapatkah kita menilai zaman ini? Kalau bisa, bagaimana caranya? Ini menjadi pertanyaan penting untuk kita pikirkan ketika membaca nas hari ini. Sebab, pertanyaan serupa diutarakan Yesus kepada banyak orang (56). Ia mengatakan bahwa rupa bumi dan langit dapat mereka nilai. Mereka tahu kapan akan datang hujan (54) dan kapan hari panas terik (55). Akan tetapi, mereka tidak tahu bagaimana menilai zaman (56). Bahkan, mereka sampai tidak bisa memutuskan sendiri apa yang benar (57).

Untuk mempertajam konsep pengajaran-Nya, Yesus memakai kisah tentang pertikaian dua orang yang ingin mengajukan perkara mereka kepada pemerintah. Di tengah perjalanan menuju kantor pemerintah, Yesus menyarankan kepada pihak yang berseteru agar segera berdamai sehingga masalah itu tidak sampai pada penuntutan. Pasalnya, kalau tuntutan tiba di meja hakim, hasilnya hanyalah penyesalan atas kesalahan dan kebodohan mereka (58).

Mereka yang menghidupi ajaran Kekristenan adalah orang-orang yang mempunyai hikmat dan kebijaksanaan yang bersumber dari ajaran Firman Tuhan. Akses kita kepada Firman Tuhan bisa dengan banyak cara, seperti membaca Alkitab, mendengarkan khotbah, membaca Santapan Harian, buku, dan sebagainya.

Namun, jangan dilupakan bahwa sumber utama hikmat kita adalah pimpinan ROH KUDUS yang selalu menyertai. Kita wajib menyatukan hati dan pikiran agar selaras dengan hati dan pikiran Allah melalui firman-Nya.

Hal-hal yang terjadi di dunia ini seluruhnya ada dalam kendali Allah. Untuk itulah kita harus selalu memohon pimpinan Tuhan dalam mengambil keputusan setiap hari. Hanya dengan cara inilah kita dapat menyongsong, memahami, dan mewarnai zaman. Rela memberi diri dipimpin Tuhan merupakan langkah yang tepat agar kita bisa menjadi garam dunia. Bahkan, ini menjadi senjata bagi kita untuk menyambut masa depan yang penuh kemenangan.

Doa: Tuhan, tolonglah kami agar dapat mengisi zaman ini sesuai dengan pimpinan-Mu. [ER]







Kearifan Allah
Posted on Jumat, 27 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 25:1-28

Aturan Tahun Sabat (setiap tahun ketujuh, tanah tidak boleh ditanami, 25:3-4) dan Tahun Yobel (setiap tahun kelima puluh, tanah yang dibeli harus dikembalikan kepada pemilik semula, 25:28) adalah aturan yang menunjukkan adanya kearifan (kebijaksanaan) yang luar biasa. Aturan Tahun Sabat menjaga kesuburan tanah, sedangkan aturan Tahun Yobel membuat bangsa Israel memiliki pengharapan untuk terbebas dari kemiskinan tanpa batas. Eksploitasi (pemanfaatan) tanah yang tanpa batas membuat banyak tanah di daerah yang semula subur menjadi tandus atau setidaknya berkurang kesuburannya. Hal ini terlihat jelas bila (misalnya) kita membandingkan kesuburan tanah di Pulau Jawa yang tanahnya dieksploitasi (dimanfaatkan) habis-habisan dengan kesuburan tanah di Pulau Papua yang tanahnya belum dimanfaatkan. Bila aturan Tahun Yobel diterapkan secara ketat, orang miskin (yang sudah menjual tanahnya) memiliki pengharapan untuk kembali memiliki tanah, dan hal itu berarti juga memiliki pengharapan untuk tidak terus miskin. Bandingkanlah kondisi ini dengan kondisi rakyat di banyak daerah di Indonesia yang sebagian besar tidak memiliki tanah, tetapi ada sebagian kecil tuan tanah yang memiliki tanah ratusan—bahkan ribuan—hektar. Bila umat Tuhan menaati aturan Tahun Yobel, keadilan sosial bukan lagi sekadar slogan, melainkan pasti akan terwujud.

Aturan Tahun Sabat mengingatkan umat Allah untuk memperhatikan kondisi lingkungan hidup. Kita bekerja bukan hanya sekadar mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, melainkan kita harus tetap memperhatikan kepentingan lingkungan hidup kita. Anak-anak Allah yang taat bukan hanya memikirkan pembangunan pabrik yang akan mendatangkan kekayaan besar, melainkan juga memikirkan pengolahan limbah, sehingga keuntungan yang diperoleh tidak merugikan masyarakat. Aturan Tahun Yobel mengingatkan umat Allah untuk menghargai kemanusiaan. Kita tidak boleh mengeksploitasi (memanfaatkan) tenaga orang lain tanpa memikirkan masa depan mereka yang bekerja untuk kita. Seharusnya kita merasa bahagia bila orang-orang yang telah bekerja untuk kepentingan kita bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. Para majikan seharusnya ikut memikirkan masa depan dari para karyawannya, bukan hanya memikirkan keuntungan bagi dirinya sendiri saja. [GI Purnama]


September 29, 2019, 04:17:43 AM
Reply #2041
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Dosa dan Petaka
Posted on Sabtu, 28 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 13:1-5

Tanggapan Yesus terhadap kabar kematian orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus seperti ini: ”Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?” (Luk. 13:2).

Ada beberapa orang Galilea yang dibunuh tentara, berdasarkan perintah Pilatus, sewaktu mempersembahkan kurban di Bait Allah. Tak hanya dibunuh, darah korban dicampur dengan darah kurban yang hendak dipersembahkan di Bait Allah. Para sejarawan menduga, orang-orang itu adalah pejuang Zelot yang bermarkas di Galilea. Siapa pun mereka, kematian mereka mengenaskan dan membuat orang bertanya: ”Mengapa?”

Pilatus, menurut Stefans Leks, senang menghina bangsa Yahudi pada setiap kesempatan, merampas milik mereka, memperlakukan orang Yahudi seenaknya, dan membunuh tanpa perasaan. Sang Gubernur akhirnya dipecat Kaisar karena membantai sejumlah orang Samaria di Gunung Gerizim.

Masyarakat Yahudi, juga masyarakat Indonesia, beranggapan bahwa petaka adalah hukuman Allah. Kematian tak wajar juga dianggap sebagai hukuman Allah. Akan tetapi, Yesus memerintahkan para muridnya untuk tidak begitu saja menilai setiap kejadian mengerikan itu sebagai hukuman Allah. Yesus juga menegaskan bahwa 18 orang yang mati tertimpa menara dekat Siloam belum tentu lebih jahat ketimbang yang masih hidup (4). Itu namanya penghakiman dan pasti ketidakadilan. Sudah jadi korban, kenapa masih harus dihakimi!

Mungkin memang ada kaitannya. Allah bisa saja menjadikan sebuah peristiwa naas sebagai hukuman atas dosa. Akan tetapi, kita dilarang menilai seluruh petaka sebagai hukuman Allah.

Namun demikian, itu tidak berarti kita boleh hidup seenaknya. Tuhan mendorong kita untuk bertobat dan terus memperbarui diri. Sebab jika tidak, kita pun akan mengalami nasib yang sama!

Doa: Tuhan tolong kami untuk senaniasa menjaga hati, pikiran, dan tubuh kami! [YM]







Tanggung Jawab Sosial Umat Allah
Posted on Sabtu, 28 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 25:29-55

Aturan Tahun Yobel untuk penjualan tanah, rumah, dan manusia (budak) berbeda-beda. Tanah warisan orang Israel tidak pernah dijual mutlak. Si penjual atau kerabatnya berhak menebus tanah itu. Bila tanah tidak ditebus, tanah yang dijual harus dikembalikan pada si penjual pada Tahun Yobel (25:23-28). Seperti aturan untuk tanah, rumah di desa juga boleh ditebus, dan—bila tidak ditebus—harus dikembalikan pada Tahun Yobel (25:31). Namun, kesempatan menebus rumah di kota berpagar tembok hanya satu tahun. Bila tidak ditebus dalam satu tahun, rumah itu menjadi milik si pembeli untuk seterusnya tanpa batas waktu (25:29-30). Khusus untuk suku Lewi (yang tidak mewarisi tanah), status rumah sama seperti status tanah di luar suku Lewi. Orang Lewi boleh menebus rumah kapan pun, dan bila tidak ditebus, rumah itu harus dikembalikan pada Tahun Yobel (25:32-33). Orang asing boleh dijadikan budak (25:44-45), tetapi perbudakan tidak diizinkan di antara bangsa Israel sendiri. Sesama orang Israel harus membantu saudaranya yang jatuh miskin tanpa meminta bunga atau riba. Orang Israel yang jatuh miskin hanya boleh dijadikan pekerja upahan, tidak boleh dijadikan budak. Bila orang Israel yang jatuh miskin menjadi budak pendatang yang kaya, orang Israel itu boleh menebus dirinya sendiri (bila mampu). Saudara atau kerabatnya juga berhak menebus dia. Harga tebusan dihitung berdasarkan jumlah tahun sampai datangnya Tahun Yobel. Bila tidak ditebus, orang Israel itu harus dibebaskan pada Tahun Yobel (25:35-41).

Aturan di atas menunjukkan bahwa pada dasarnya, Allah tidak menghendaki perbudakan. Orang Israel harus memiliki kasih, terutama kepada sesama orang Israel. Mereka harus berusaha menebus saudara atau kerabat dekat yang menjual dirinya sebagai budak orang asing karena jatuh miskin. Prioritas membantu saudara atau kerabat dekat ini kemudian berkembang menjadi prioritas membantu saudara seiman pada masa Perjanjian Baru (Galatia 6:10). Walaupun situasi pada zaman ini sudah sangat berbeda dengan situasi pada zaman Alkitab, orang Kristen perlu memikul tanggung jawab sosial. Orang Kristen yang kaya perlu membantu saudara seiman yang miskin. Di Indonesia, komunitas orang Kristen di kantong-kantong kemiskinan perlu menjadi perhatian orang Kristen yang lebih kaya. Apakah gereja Anda telah memiliki kepedulian terhadap saudara seiman yang miskin? [GI Purnama]


September 30, 2019, 05:44:50 AM
Reply #2042
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Beriman dan Berbuah
Posted on Minggu, 29 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 13:6-9

Tentunya, kita berharap muncul rasa enak dari setiap buah yang kita makan. Hampir bisa dipastikan, tidak ada di antara kita yang ingin memakan buah yang rasanya getir atau pahit. Inilah yang menjadi perhatian kita dari renungan di dalam nas ini. Kita diminta untuk berbuah. Akan tetapi, tidak berhenti di situ, buah yang kita hasilkan pun harus enak rasanya. Buah tersebut adalah esensi iman Kekristenan kita yang berbeda dari agama lain.

Kehidupan Kekristenan tampaknya mempunyai tuntutan yang sama dengan pohon ara dalam nas ini. Setelah dilahirkan kembali, iman orang-orang Kristen (denominasi apa pun) terus dituntun untuk bertumbuh dalam Yesus. Sama halnya dalam pertumbuhan jasmani, iman yang tidak bertumbuh pun tidak elok dipandang. Inilah siklus pertumbuhan pada umumnya.

Namun, Yesus meminta orang Kristen tidak hanya bertumbuh, tetapi juga berbuah. Pertanyaannya berbuah apa? Menarik untuk dicermati bahwa buah dalam Kekristenan tentu banyak. Jika merujuk kepada tulisan Paulus (Gal.5:19), ada sembilan aspek dari buah Roh. Buah itu diberikan kepada orang yang hidupnya dituntun oleh ROH KUDUS. Sembilan buah ini bukan pilihan, namun satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Sembilan buah Roh ini harus berkembang bersamaan. Kita jangan hanya memupuk kualitas salah satu buah Roh, kemudian melupakan dimensi yang lain. Misalnya, kita hidup dalam kesabaran, namun tetap hidup dalam keserakahan dan kedengkian. Ironisnya, kita mungkin membela diri jika gagal mengembangkan buah yang lain. Pembelaan kita, ”Kan saya masih manusia!”

Iman dari murid Yesus yang benar bukan saja diminta untuk bertumbuh. Sekali lagi, kita juga wajib untuk berbuah. Buah yang dihasilkan pun harus bermanfaat bagi orang lain. Buah yang memberi kenikmatan, rasa damai, sukacita, dan kenyamanan. Dari buah itu, orang lain akan dipandu menuju pengenalan kepada Allah yang benar di dalam Yesus, Sang Juru Selamat.

Doa: Tuhan, tolong kami bertumbuh dan berbuah seperti yang Engkau inginkan. [ER]







Hukuman adalah Anugerah
Posted on Minggu, 29 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 26

Tuntutan Allah mencakup dua hal, yaitu sikap terhadap Allah dan ketaatan terhadap perintah-Nya. Karena kita adalah makhluk sosial (yang terpengaruh oleh orang-orang di sekeliling kita), waspadalah agar pandangan kita tentang Allah dan kesetiaan kita terhadap kehendakNya tidak terpengaruh oleh masyarakat di sekitar kita. Karena hukumhukum Allah baru diberikan pada zaman Musa, Allah ingin memisahkan umat Israel dari bangsa-bangsa kafir yang bisa menyesatkan mereka. Salah satu godaan terbesar adalah bahwa bangsa-bangsa kafir pada zaman kuno umumnya menyembah sembahan berupa patung yang bisa dilihat. Membuat patung sebagai sembahan yang menggambarkan Allah Israel adalah tindakan merendahkan atau melecehkan karena Allah Israel berbeda dengan sembahan bangsa-bangsa kafir (26:1). Ketetapan tentang Sabat, upacara keagamaan yang berpusat pada Kemah Suci, dan perintah-perintah yang mengatur cara hidup umat Israel adalah tuntutan Allah yang harus terus dipelihara oleh bangsa Israel (26:2-3).

Allah telah berjanji bahwa ketaatan terhadap ketetapan dan perintah-Nya akan mendatangkan berkat (26:4-13). Sebaliknya, pelanggaran terhadap ketetapan dan perintah Allah akan mendatangkan hukuman. Hukuman bertujuan agar umat Israel yang tersesat segera bertobat dan kembali kepada Allah. Bila hukuman tersebut diabaikan, Allah akan menjatuhkan hukuman yang semakin berat untuk mengingatkan umat-Nya (26:14-39). Hukuman puncak adalah hukuman pembuangan (mereka diserakkan di antara bangsa-bangsa lain, 26:33), dan hal ini benar-benar terwujud di masa depan. Sekalipun demikian, ancaman hukuman ini juga disertai dengan janji pemulihan bila umat Israel mau bertobat (26:40-45). Hukuman Allah tidak pernah dimaksudkan untuk membinasakan umat-Nya, melainkan untuk menyadarkan umat-Nya akan dosa mereka, dan agar umat-Nya kembali kepada Allah. Dalam kehidupan kita, Allah juga sering memakai kegagalan, kekecewaan, dan berbagai macam masalah untuk mengingatkan kita agar kita hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Oleh karena itu, bila Anda menghadapi bermacam-macam masalah dan kegagalan, Anda harus melakukan introspeksi diri. Apakah Anda telah membiasakan diri untuk melakukan introspeksi diri saat Anda menghadapi berbagai macam masalah dalam kehidupan Anda? [GI Purnama]



October 01, 2019, 06:26:03 AM
Reply #2043
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Demi Kasih dan Demi Sabat
Posted on Senin, 30 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 13:10-17

Dahulu, hari Sabat dimengerti hanya sebagai hari peristirahatan dan persiapan beribadah. Seseorang tidak dianjurkan melakukan kebaikan pada hari itu karena dianggap ada unsur ”kerja” di dalamnya.

Ketika Yesus mengajar di salah satu rumah ibadat, Ia melihat dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit karena dirasuk oleh roh (10-13). Namun, proses penyembuhan ini ternyata memancing amarah kepala rumah ibadat karena tindakan itu dipandang memiliki unsur bekerja (14).

Kepala rumah ibadat bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan menjaga kemurnian hukum Taurat di tengah masyarakat secara ketat. Jadi pada saat proses penyembuhan itu berlangsung, ia didorong kewajiban untuk menyatakan isi hukum Sabat kepada orang banyak.

Namun, Yesus memahami motif amarah kepala rumah ibadat itu, yaitu karena kemunafikan semata. Padahal bagi Yesus, tindakan menyembuhkan berarti membebaskan perempuan itu dari roh yang telah merasukinya selama belasan tahun sehingga ia bisa memuji Tuhan. Yesus memprioritaskan untuk membawa orang pada pengenalan akan Tuhan dengan benar daripada mengupayakan tidak bekerja pada hari Sabat.

Peraturan agama (gereja) memang harus ditegakkan guna menjaga ketertiban dan kenyamanan kita. Namun, menegakkan peraturan itu jangan sampai menutup mata kita atas hal yang substansial. Jangan sampai rangkaian aturan dan tata tertib gereja menghalangi kita dalam memberitakan Injil, misalnya. Berbagai peraturan itu perlu disesuaikan dengan konteks—asalkan tidak melanggar ajaran pokok iman kita. Dengan demikian, usaha membawa orang untuk mengenal Tuhan yang hidup dan mengajar firman-Nya jauh lebih penting daripada sekadar menegakkan peraturan gerejawi. Namun, alangkah baiknya jika kita bisa menyeimbangkan keduanya. Hal tersebut adalah usaha yang mulia

Doa: Tuhan, tolong kami untuk tidak terikat pada peraturan dunia. Ajarilah kami agar tetap berpegang pada ajaran-Mu. [ER]







Laksanakanlah Janjimu!
Posted on Senin, 30 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 27

Nazar adalah janji kepada Tuhan untuk mempersembahkan (mengkhususkan) sesuatu kepada Tuhan bila suatu permohonan terkabul. Nazar ini bisa berupa janji untuk mempersembahkan orang, hewan, rumah, atau tanah. Pada prinsipnya, setiap nazar harus ditepati tanpa ditunda-tunda (Pengkhotbah 5:3). Akan tetapi, pelaksanaan nazar harus mengikuti aturan. Bila persembahan itu berupa orang (untuk melayani Tuhan), yang bisa dilakukan oleh orang yang bukan dari suku Lewi amat terbatas karena upacara di Kemah Suci hanya boleh dilayani oleh imam keturunan Harun dan pekerjaan di Kemah Suci hanya boleh dikerjakan oleh orang-orang dari suku Lewi. Untuk mengatasi hal itu, pembayaran nazar berupa orang bisa diganti dengan uang sesuai dengan ketentuan (Imamat 27:2-8). Jika nazar itu mengenai hewan halal, nazar itu tidak boleh diganti dengan uang dan binatang itu harus digunakan sebagai hewan korban. Jika karena alasan tertentu hewan itu diganti, gantinya harus hewan yang halal juga. Jika nazar itu mengenai hewan haram, imam akan menentukan nilai hewan itu. Bila hewan haram itu hendak ditebus, jumlah tebusan adalah nilai hewan itu ditambah seperlima. Demikian pula halnya bila nazar itu menyangkut rumah (27:9-15). Khusus untuk nazar berupa tanah, perhitungan nilai tanah mempertimbangkan aturan tentang pembebasan tanah pada tahun Yobel (27:16-25). Anak sulung—baik manusia maupun hewan yang halal—adalah milik Tuhan sehingga tidak bisa dinazarkan (27:26). Nazar berupa anak sulung hewan yang haram harus ditebus sesuai dengan nilainya ditambah seperlima (27:27). Aturan tentang nazar ini juga berlaku bagi persembahan persepuluhan. Secara umum, persepuluhan diharapkan untuk tidak ditukar atau ditebus. Akan tetapi, bila ada yang hendak ditebus juga, nilainya harus ditambah seperlima (27:30-34).

Bagi kita saat ini, aturan di atas terasa asing dan tidak relevan. Sekalipun demikian, aturan di atas mengingatkan kita agar tidak sembarangan berjanji. Bila kita sudah berjanji, kita harus menepatinya. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus mengajarkan agar kita tidak bersumpah, tetapi ucapan kita harus memiliki kualitas seperti sumpah dalam arti harus ditepati (Matius 5:33-37). Apakah Anda telah membiasakan diri untuk selalu berhati-hati sebelum mengucapkan perkataan dan Anda selalu menepati janji? [GI Purnama]


October 02, 2019, 05:51:41 AM
Reply #2044
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Bertumbuh Kembang
Posted on Selasa, 1 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 13:18-21

Dalam nas ini, Yesus mengumpamakan Kerajaan Allah dengan dua hal.

Pertama, dengan biji sesawi yang ditaburkan orang di kebunnya. Biji sesawi adalah biji paling kecil dari segala jenis benih yang ada di bumi (Mrk. 4: 31). Biji itu tumbuh besar (Mat. 13: 32) dan menjadi pohon sehingga burung-burung bisa bersarang pada cabang-cabangnya.

Kedua, Kerajaan Allah juga diumpamakan dengan ragi yang diadukkan ke dalam tepung terigu sampai khamir (menjadi ragi) seluruhnya.

Perumpamaan mengenai Kerajaan Allah berbicara tentang pemerintahan Allah di dunia. Pesan inilah yang diberitakan oleh Yesus melalui pengajaran dan mukjizat-Nya sehingga manusia hidup dari dan dalam karunia Allah. Kerajaan Allah akan bertumbuh dan memberi pengaruh di dalam dunia.

Pengaruh dan proses pertumbuhan Kerajaan Allah diumpamakan lewat pengalaman umum manusia, yaitu menabur biji sesawi dan mengaduk ragi dalam tepung terigu. Pengalaman menabur benih dekat dengan pengalaman petani. Mereka berharap agar benih yang ditabur bisa bertumbuh. Untuk itu, mereka berjerih lelah melakukan serangkaian proses agar tujuan itu tercapai, seperti menggarap tanah agar mudah ditanami, menabur atau menanam benih sesuai dengan jenis tumbuhan, menyirami atau menakar air sesuai kebutuhan, menyianginya agar pertumbuhan benih itu tidak rusak oleh rumput dan semak.

Sama halnya dengan pengalaman mengaduk ragi dengan tepung terigu dalam membuat roti. Adonan ragi akan membuat tepung terigu itu mengembang dan membesar sehingga membantu proses pembakaran hingga menjadi roti.

Bersukacitalah karena Kerajaan Allah itu menjadi nyata, bertumbuh, dan berpengaruh dalam kehidupan kita melalui pengajaran Yesus Kristus bagi kita. Kita, sebagai orang percaya, diajak untuk memberitakan dan meneruskan pengajaran itu kepada dunia.

Doa: Ya Bapa, kami bersyukur karena di dalam dan melalui Yesus Kristus kami memperoleh pengajaran dan kasih karunia-Mu. [TP]







Penderitaan adalah Kenyataan Hidup
Posted on Selasa, 1 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 1:1-11

Bila ada seorang bertanya, “Apa kabar?” Bagaimana Anda menjawab? Saat ini, sedang berkembang suatu pandangan—termasuk di kalangan Kristen—bahwa kita harus mengatakan bahwa kabar kita baik, bahkan “luar biasa baik”. Bila jawaban semacam itu dilandasi oleh iman akan pemeliharaan Allah dan keyakinan bahwa Allah dapat memanfaatkan apa saja yang kita alami untuk kebaikan kita, jawaban semacam itu merupakan jawaban yang wajar. Yang tidak wajar adalah bila jawaban itu merupakan penyangkalan terhadap realitas penderitaan yang dialami seseorang. Tidak benar bila adanya masalah, kesulitan, kegagalan, dan penderitaan dianggap sebagai ciri bahwa seseorang “kurang rohani”. Kita harus memahami bahwa Rasul Paulus pun tidak kebal terhadap realitas penderitaan. Bahkan, penderitaan yang dialami oleh Rasul Paulus sedemikian berat, sehingga beliau sampai merasa putus asa (1:8-9). Akan tetapi, penderitaan yang berat itu membuat Rasul Paulus bisa mengalami penghiburan dari Allah yang berlimpah-limpah. Penghiburan yang berlimpah-limpah ini nampaknya berupa pertolongan Allah yang tak terduga dan kesadaran bahwa Kristus pun telah rela menderita sampai mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia (1:5; bandingkan dengan Ibrani 12:2-4). Pengalaman menerima penghiburan saat menghadapi penderitaan itu membuat Rasul Paulus sanggup menghibur anggota jemaat yang sedang mengalami penderitaan (2 Korintus 1:3-4).

Masalah, kesulitan, kegagalan, dan penderitaan merupakan kenyataan yang wajar bagi setiap orang. Bahkan, Rasul Paulus memandang penderitaan yang dialaminya sebagai karunia Allah (Filipi 1:29). Bila orang Kristen menghadapi perlakuan yang tidak semestinya dari orangorang yang tidak menyukai Kekristenan, penderitaan yang ia alami harus dipandang sebagai kesempatan untuk menghayati penderitaan Kristus. Tidak benar bila ada orang yang menganggap penderitaan sebagai ciri kurangnya iman atau ciri rendahnya kerohanian seseorang. Sebaliknya, penderitaan adalah alat di tangan Allah untuk membuat kehidupan seorang beriman menjadi semakin bergantung kepada Allah (2 Korintus 1:9). Bila Anda sedang mengalami penderitaan, tetaplah bertekun mempertahankan iman Anda (Yakobus 5:11)! Ingatlah bahwa Kristus, Rasul Paulus, dan amat banyak tokoh beriman, juga pernah mengalami penderitaan (bandingkan dengan kisah tokoh-tokoh iman dalam Ibrani 11).              [GI Purnama]




October 03, 2019, 06:33:31 AM
Reply #2045
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Yang Diselamatkan
Posted on Rabu, 2 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 13:22-30

Seseorang bertanya kepada Yesus perihal jumlah orang yang diselamatkan. Alih-alih memberi jawaban lugas, Yesus malah menganjurkan agar kita berjuang masuk melalui pintu yang sesak selagi terbuka. Sebab, apabila pintu telah ditutup, tuan rumah tidak lagi akan membuka bagi siapa saja yang mengetuknya. Bahkan, ia akan mengusir serta menyatakan mereka sebagai pelaku kejahatan. Selanjutnya, Yesus menghubungkannya dengan orang-orang yang datang dari empat penjuru mata angin yang duduk makan di dalam Kerajaan Allah.

Jawaban Yesus tentang orang yang diselamatkan mengingatkan kita pada dua hal. Pertama, mengetuk pintu dan makan bersama. Lukas 13: 25 mengumpamakan Tuhan sebagai tuan rumah. Tugas kita adalah berjuang untuk segera masuk ke pintu yang sesak itu. Jika terlambat, kesempatan kedua tidak ada lagi.

Kedua, orang akan datang dari Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Penulis Mazmur menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah ditebus Tuhan dari kuasa yang menyesakkan (Mzm.107:1-3).

Dengan demikian, kita bisa memahami satu aspek tentang berita keselamatan. Tuhan menyelamatkan mereka yang dikehendaki dan dikenal-Nya.Mereka diperbolehkan masuk, duduk, dan makan bersama di dalam Kerajaan Allah.

Namun, kita juga butuh berjuang (24) untuk tetap berada dalam keselamatan itu. Yesus memperingatkan bahwa kita bisa saja menjadi yang terdahulu atau yang terakhir. Jadi, kita harus mengerjakan bagian masing-masing, yaitu berjuang melalui pintu yang sesak itu. Untuk itulah mengapa kita harus selalu mendengarkan dan taat pada firman-Nya. Inilah ciri bahwa kita telah mengenal-Nya.

Bersyukurlah jika Tuhan telah berkenan menyelamatkan kita. Mari kita nyatakan rasa syukur itu lewat aksi nyata di tengah keluarga, jemaat, dan masyarakat. Berdoalah juga agar setiap orang diselamatkan oleh Tuhan.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih untuk anugerah keselamatan yang Engkau berikan dan karuniakanlah itu juga bagi setiap umat yang mengharapkannya. [TP]







Melayani dengan Tulus
Posted on Rabu, 2 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca:  2 Korintus 1:12-2:4

Melayani itu tidak mudah! Bila kita melihat cara Rasul Paulus melayani jemaat, kita tentu berharap bahwa Beliau selalu mendapat respons positif. Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian. Hoaks atau tuduhan bersifat fitnah yang dimaksudkan untuk merusak pelayanan Rasul Paulus sudah ada pada zaman itu. Ada orang yang menyebarkan berita bahwa perkataan Rasul Paulus tidak bisa dipercaya. Walaupun Rasul Paulus pernah membatalkan rencana kunjungan ke jemaat di kota Korintus, hal itu tidak berarti bahwa perkataan Rasul Paulus tidak bisa dipercaya. Beliau membatalkan rencana kunjungan, karena dia merasa bahwa saat itu adalah waktu yang tidak tepat. Ada masalah yang harus dibereskan lebih dulu supaya tidak muncul suasana yang tidak nyaman.

Rasul Paulus menegaskan bahwa pelayanannya dilandasi oleh ketulusan dan kemurnian (1:12). Rencana kunjungannya dilandasi oleh maksud baik (supaya menjadi berkat bagi jemaat di kota Korintus), dan pembatalan rencananya juga dilandasi oleh niat baik (supaya kedatangannya tidak menimbulkan kesedihan, 2:1). Bila Beliau mengatakan bahwa ia menulis dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, perkataan tersebut bukanlah dimaksudkan untuk membangkitkan kesedihan, melainkan untuk menjelaskan bahwa ia sangat mengasihi jemaat Korintus.

Ketulusan melayani sangatlah penting. Sayangnya, tidak semua orang melayani dengan ketulusan. Di setiap zaman, terdapat orangorang yang melayani dengan maksud untuk mendapat keuntungan. Ada orang yang memakai pelayanan sebagai sarana untuk menjalin relasi agar bisa mendapatkan pasangan hidup atau untuk mendapatkan proyek yang mendatangkan keuntungan besar. Sekalipun mendapatkan pasangan hidup serta berpartner bisnis dengan saudara seiman merupakan hal yang baik, mencari partner bukanlah motivasi yang tepat dalam pelayanan. Pelayanan kita harus dilandasi oleh kasih terhadap orang yang kita layani. Tujuan kita dalam melayani adalah untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang kita layani, bukan melayani untuk mencari keuntungan. Bila kita melayani dengan tulus, kita tidak akan takut dirugikan dan tidak akan mundur dari pelayanan bila menghadapi masalah. Bila Anda adalah pengikut Kristus, beranikah Anda memikul salib? (Lukas 9:23; 14:27) [GI Purnama]



October 03, 2019, 06:35:37 AM
Reply #2046
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Yang Diselamatkan
Posted on Rabu, 2 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 13:22-30

Seseorang bertanya kepada Yesus perihal jumlah orang yang diselamatkan. Alih-alih memberi jawaban lugas, Yesus malah menganjurkan agar kita berjuang masuk melalui pintu yang sesak selagi terbuka. Sebab, apabila pintu telah ditutup, tuan rumah tidak lagi akan membuka bagi siapa saja yang mengetuknya. Bahkan, ia akan mengusir serta menyatakan mereka sebagai pelaku kejahatan. Selanjutnya, Yesus menghubungkannya dengan orang-orang yang datang dari empat penjuru mata angin yang duduk makan di dalam Kerajaan Allah.

Jawaban Yesus tentang orang yang diselamatkan mengingatkan kita pada dua hal. Pertama, mengetuk pintu dan makan bersama. Lukas 13: 25 mengumpamakan Tuhan sebagai tuan rumah. Tugas kita adalah berjuang untuk segera masuk ke pintu yang sesak itu. Jika terlambat, kesempatan kedua tidak ada lagi.

Kedua, orang akan datang dari Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Penulis Mazmur menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah ditebus Tuhan dari kuasa yang menyesakkan (Mzm.107:1-3).

Dengan demikian, kita bisa memahami satu aspek tentang berita keselamatan. Tuhan menyelamatkan mereka yang dikehendaki dan dikenal-Nya.Mereka diperbolehkan masuk, duduk, dan makan bersama di dalam Kerajaan Allah.

Namun, kita juga butuh berjuang (24) untuk tetap berada dalam keselamatan itu. Yesus memperingatkan bahwa kita bisa saja menjadi yang terdahulu atau yang terakhir. Jadi, kita harus mengerjakan bagian masing-masing, yaitu berjuang melalui pintu yang sesak itu. Untuk itulah mengapa kita harus selalu mendengarkan dan taat pada firman-Nya. Inilah ciri bahwa kita telah mengenal-Nya.

Bersyukurlah jika Tuhan telah berkenan menyelamatkan kita. Mari kita nyatakan rasa syukur itu lewat aksi nyata di tengah keluarga, jemaat, dan masyarakat. Berdoalah juga agar setiap orang diselamatkan oleh Tuhan.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih untuk anugerah keselamatan yang Engkau berikan dan karuniakanlah itu juga bagi setiap umat yang mengharapkannya. [TP]







Melayani dengan Tulus
Posted on Rabu, 2 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca:  2 Korintus 1:12-2:4

Melayani itu tidak mudah! Bila kita melihat cara Rasul Paulus melayani jemaat, kita tentu berharap bahwa Beliau selalu mendapat respons positif. Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian. Hoaks atau tuduhan bersifat fitnah yang dimaksudkan untuk merusak pelayanan Rasul Paulus sudah ada pada zaman itu. Ada orang yang menyebarkan berita bahwa perkataan Rasul Paulus tidak bisa dipercaya. Walaupun Rasul Paulus pernah membatalkan rencana kunjungan ke jemaat di kota Korintus, hal itu tidak berarti bahwa perkataan Rasul Paulus tidak bisa dipercaya. Beliau membatalkan rencana kunjungan, karena dia merasa bahwa saat itu adalah waktu yang tidak tepat. Ada masalah yang harus dibereskan lebih dulu supaya tidak muncul suasana yang tidak nyaman.

Rasul Paulus menegaskan bahwa pelayanannya dilandasi oleh ketulusan dan kemurnian (1:12). Rencana kunjungannya dilandasi oleh maksud baik (supaya menjadi berkat bagi jemaat di kota Korintus), dan pembatalan rencananya juga dilandasi oleh niat baik (supaya kedatangannya tidak menimbulkan kesedihan, 2:1). Bila Beliau mengatakan bahwa ia menulis dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, perkataan tersebut bukanlah dimaksudkan untuk membangkitkan kesedihan, melainkan untuk menjelaskan bahwa ia sangat mengasihi jemaat Korintus.

Ketulusan melayani sangatlah penting. Sayangnya, tidak semua orang melayani dengan ketulusan. Di setiap zaman, terdapat orangorang yang melayani dengan maksud untuk mendapat keuntungan. Ada orang yang memakai pelayanan sebagai sarana untuk menjalin relasi agar bisa mendapatkan pasangan hidup atau untuk mendapatkan proyek yang mendatangkan keuntungan besar. Sekalipun mendapatkan pasangan hidup serta berpartner bisnis dengan saudara seiman merupakan hal yang baik, mencari partner bukanlah motivasi yang tepat dalam pelayanan. Pelayanan kita harus dilandasi oleh kasih terhadap orang yang kita layani. Tujuan kita dalam melayani adalah untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang kita layani, bukan melayani untuk mencari keuntungan. Bila kita melayani dengan tulus, kita tidak akan takut dirugikan dan tidak akan mundur dari pelayanan bila menghadapi masalah. Bila Anda adalah pengikut Kristus, beranikah Anda memikul salib? (Lukas 9:23; 14:27) [GI Purnama]



October 04, 2019, 05:32:00 AM
Reply #2047
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Yerusalem
Posted on Kamis, 3 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 13:31-35

Orang Farisi mengingatkan Yesus agar meninggalkan Yerusalem karena Herodes hendak membunuh-Nya. Akan tetapi, Yesus menolak usulan itu. Ia akan tetap melanjutkan perjalanan dan pelayanan-Nya. Yesus sebenarnya sudah sadar bahwa Yerusalem adalah tempat dibunuhnya para nabi (33). Namun, Ia bertekad untuk tetap tinggal karena didorong kerinduan untuk mengumpulkan ”anak-anak Yerusalem” (umat Tuhan), walau mereka tidak mau (34). Yesus juga menubuatkan bahwa Yerusalem akan ditinggalkan dan menjadi sunyi (35).

Walau tidak diungkapkan, kita bisa merasakan betapa dalam kerinduan Yesus kepada Yerusalem dan umat-Nya. Konsekuensi dari keputusan-Nya untuk tetap tinggal sebenarnya serius. Ia akan ditolak, menderita, dan dianiaya. Namun, Yesus mengambil pilihan itu karena Ia merindukan Yerusalem yang penuh damai, seperti arti nama kota itu.

Tetapi, Yerusalem justru menolak Yesus. Di kota itu, tidak ada lagi rasa takut akan Tuhan. Kota itu hanya menyisakan kekerasan, penindasan, dan pembunuhan. Yerusalem, sebagai rumah bersama umat, akan kehilangan sukacita, kegembiraan, dan sorak-sorai. Hanya kesunyian dan kesepian yang tersisa.

Kidung Jemaat 155 menyatakan bahwa Yerusalem telah berubah. Wajahnya dingin membeku. Ia menyangkal maksud Tuhan dan tak mampu mewujudkan damai sejahtera. Yerusalem telah berbuat jahat, membunuh, merajam utusan Tuhan. Yerusalem terlalu angkuh.

Marilah kita berdiam diri untuk mengingat apa yang telah kita perbuat untuk Tuhan. Karena itu, kita harus jujur mengakui jika ada dosa yang telah melukai hati-Nya. Jika ada, kita memohon belas kasihan dan pengampunan-Nya. Kita juga meminta bimbingan Tuhan agar terus dibentuk menjadi pribadi yang berkenan di hadapan-Nya dan memiliki pikiran dan visi yang selaras dengan-Nya. Mari kita membangun komitmen untuk taat kepada Tuhan agar bisa menjadi agen pembawa damai.

Doa: Tuhan, ampunilah kami jika kerap menyangkali rencana dan maksud-Mu. [TP]








Mengampuni: Kunci Sukses Kebersamaan
Posted on Kamis, 3 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 2:5-17

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling membangun. Hubungan yang saling membangun ini bukanlah hubungan yang hanya saling mendorong atau saling menguatkan atau saling mendukung (menyetujui), melainkan juga hubungan yang saling menegur (mencela, mengingatkan). Dalam jemaat Korintus terdapat orang yang perbuatannya membuat orang-orang lain menjadi sedih (2:5). Orang ini mungkin adalah orang yang menyebar hoax atau yang telah menyakiti hati Rasul Paulus, tetapi bisa juga orang (pria) yang hidup (selingkuh) dengan istri ayahnya (1 Korintus 5:1, mungkin saja sang ayah sudah meninggal). Berhubungan (selingkuh) dengan ibu tiri merupakan dosa yang terkutuk. Dalam tradisi kafir pun, hubungan semacam ini dilarang. Agaknya jemaat Korintus telah memberikan teguran keras terhadap anggota jemaat yang melakukan dosa semacam ini. Setelah mendapat teguran keras, orang itu agaknya menjadi sadar dan sangat menyesal dan menjadi sedih. Terhadap anggota jemaat yang menyesal dan menjadi sedih setelah dosanya ditegur, para anggota jemaat yang lain harus berlapang dada dan memaafkan orang itu. Bila dosa anggota jemaat itu adalah sikap buruk terhadap Rasul Paulus. Rasul Paulus menegaskan bahwa dia telah mengampuni kesalahan orang itu (2 Korintus 2:10). Pengampunan akan membuat orang yang telah melakukan dosa itu tidak perlu terus tenggelam dalam penyesalan, melainkan bisa mulai menjalani kehidupan dengan cara hidup yang baru.

Bagaimana sikap Anda terhadap mantan narapidana yang telah bertobat atau terhadap orang pernah melakukan kesalahan, tetapi kemudian telah bertobat dan menjalani kehidupan yang baru? Apakah Anda bersedia menerima kehadiran orang seperti itu dalam gereja? Apakah sikap saling menegur dan saling mengampuni telah menjadi budaya dalam gereja Anda dan dalam kehidupan rumah tangga Anda? Ingatlah bahwa Tuhan Yesus mengasihi manusia berdosa, termasuk para pelacur, petugas pajak yang jahat dan bersikap menindas rakyat, serta penjahat kelas kakap yang disalibkan bersama diri-Nya! Mengasihi orang yang baik adalah sikap biasa yang bisa dilakukan oleh setiap orang. Akan tetapi, mengampuni dan mengasihi orang jahat, apalagi orang yang telah berbuat jahat terhadap diri kita sendiri, hanya bisa dilakukan dengan anugerah Allah. [GI Purnama]




October 05, 2019, 10:31:17 AM
Reply #2048
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Pelayanan yang Mulia
Posted on Jumat, 4 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 3

Pelayanan Musa pada masa Perjanjian Lama—yang didasarkan pada Hukum Taurat—adalah pelayanan yang mulia. Perjumpaan Musa dengan Allah membuat muka Musa bersinar, sehingga ia harus menyelubungi mukanya karena orang Israel tidak sanggup menatap wajahnya (3:7; bandingkan dengan Keluaran 34:29-35). Akan tetapi, pelayanan yang didasarkan pada hukum Taurat  hanya membuat umat Allah merasa berdosa karena menyadari ketidakmampuan mereka melaksanakan seluruh hukum Taurat. Oleh karena itu, pelayanan yang didasarkan pada hukum Taurat ini disebut sebagai pelayanan yang memimpin kepada kematian (3:7). Pelayanan pada masa Perjanjian Baru bukan didasarkan pada hukum Taurat, melainkan didasarkan pada anugerah Allah di dalam Kristus yang memimpin kepada pembenaran (3:9). Pembenaran bisa didapatkan oleh orang beriman karena tuntutan kesucian Allah (yang dinyatakan dalam hukum Taurat) telah dipenuhi melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Pelayanan pada masa Perjanjian Baru tidak berakhir pada kesadaran akan dosa, melainkan berlanjut dengan pembaruan batin yang dikerjakan oleh ROH KUDUS dan menghasilkan hati yang rindu untuk hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah (Yehezkiel 36:26). Oleh karena itu, pelayanan pada masa Perjanjian Baru merupakan pelayanan yang lebih mulia daripada pelayanan pada masa Perjanjian Lama (2 Korintus 3:7-9).

Gereja pada masa kini perlu menyadari perbedaan antara pelayanan pada zaman Perjanjian Lama yang didasarkan pada hukum Taurat dan pelayanan pada zaman Perjanjian Baru yang didasarkan pada pembaruan hidup atau pembaruan hati. Tidaklah cukup bila gereja pada masa kini hanya mengajar anggota jemaat untuk bisa membedakan antara yang benar dan yang salah (sudut pandang hukum). Gereja harus mengajar anggota jemaat untuk menjalin relasi dengan Kristus dan mengalami pembaruan hidup! Pembaruan hidup ini dikerjakan oleh ROH KUDUS yang berdiam di dalam hati setiap orang percaya. Pembaruan hidup ini membuat orang percaya memiliki kerinduan untuk melakukan kehendak Allah secara sukarela. Apakah Anda sudah mengalami pembaruan dalam kehidupan Anda? Apakah Anda sudah ikut terlibat dalam pelayanan yang merupakan tanggung jawab setiap orang percaya (bandingkan dengan Efesus 4:11-12)? [GI Purnama]


October 06, 2019, 11:09:50 AM
Reply #2049
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24414
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Dihormati
Posted on Sabtu, 5 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 14:7-11

Kali ini Yesus menyampaikan perumpamaan tentang tamu yang berusaha duduk di tempat terhormat. Dalam perumpamaan-Nya, Yesus berbicara soal para tamu. Yesus mengatakan, apabila seseorang diundang, janganlah pertama-tama memilih duduk di tempat kehormatan. Akan tetapi, lebih baik orang itu memilih duduk di tempat paling tidak terhormat dan rendah. Sebab, jika ia duduk di tempat terhormat dan setelah itu tamu terhormat tiba, tuan rumah akan memintanya pindah.

Dalam tradisi pesta perkawinan Yahudi, keluarga pengantin akan meminta seseorang menjadi pemimpin pesta yang dipercaya dan mengenal para undangan (bdk. Yoh. 2:9). Ia akan mengelola pesta perkawinan, seperti EO (event organizer) pada masa kini. Ia bertugas mengomunikasikan segala situasi kepada keluarga mempelai, termasuk jika tamu kehormatan datang.

Kebanyakan orang cenderung memilih duduk di depan agar lebih dekat dengan mempelai. Yesus dalam perumpamaan ini mengajak setiap orang, sebagai undangan, untuk memilih duduk di belakang. Ketika pemimpin pesta melihatnya sebagai tamu terhormat, ia akan memberitahukan kepada tuan rumah yang akan menjumpai dan menyambutnya. Dengan mengajak ke depan, tuan rumah akan mempersilakan tamu tersebut duduk di tempat yang telah dikhususkan baginya. Artinya, sang tamu ditinggikan bukan karena posisi duduk, melainkan karena tuan rumah menyambut dengan hormat di depan mata banyak orang.

Adegan ini disimpulkan Yesus dengan Firman: ”Barang- siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang-siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (11).Perumpamaan ini disampaikan Yesus untuk menegur kita yang haus ingin dihormati. Mari kita buka hati kita untuk teguran ini supaya kita lebih rendah hati dan mau lebih dahulu memberi hormat kepada orang lain.

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk selalu rendah hati, mendahulukan kepentingan orang lain, dan mengutamakan untuk menghormati daripada dihormati. [TP]







Kami Tidak Tawar Hati
Posted on Sabtu, 5 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 4

Bila Rasul Paulus hanya memperhatikan kesulitan yang harus dia hadapi dalam pelayanan, dia pasti tawar hati! Dia sudah merintis dan membangun gereja di kota Korintus dengan susah payah. Akan tetapi, sesudah ia meninggalkan kota itu dan melanjutkan perjalanan misi ke kota lain, muncul banyak masalah di sana. Ada guru-guru palsu yang ajarannya menyesatkan. Ada pula permasalahan moral yang memalukan. Dia juga mengalami penindasan, penganiayaan, bahkan ancaman kematian (4:8, 9, 11). Sekalipun demikian, ada dua hal yang membuat Rasul Paulus tidak tawar hati:

Pertama , dia tidak tawar hati karena dia mengalami kemurahan Allah (4:1). Dia mengakui bahwa kekuatannya dalam menanggung penderitaan berasal dari Allah (4:7). Walaupun mengalami penindasan, ia tidak terjepit. Walaupun kadang-kadang ia tidak mengerti lagi apa yang harus ia lakukan (menghadapi jalan buntu), ia tidak putus asa (4:8). Nampaknya, masalah yang dihadapi Rasul Paulus dibatasi oleh Tuhan (4:9, bandingkan dengan kisah Ayub dalam Ayub 1-2).

Kedua , dia tidak tawar hati karena ia tidak mau membiarkan pandangannya terarah pada masalah nyata yang sedang ia hadapi saat ini saja, melainkan ia menujukan perhatiannya pada kemuliaan kekal yang disediakan Allah sesudah penderitaan yang bersifat sementara ini berlalu (4:16-18). Perhatikan bahwa dengan mengingat kemuliaan kekal yang akan diterimanya kelak, permasalahan berat yang dihadapi Rasul Paulus saat ini menjadi terasa sebagai penderitaan ringan (4:17).

Apakah saat ini, Anda sedang melaksanakan pelayanan yang terasa berat? Apakah saat Anda melayani, Anda mengalami ketidakadilan atau kegagalan atau respons yang menyakitkan? Bila pengalaman hidup Anda terasa pahit, ingat kembali kemurahan Allah yang pernah Anda alami! Cobalah untuk mendaftarkan hal-hal baik yang telah Allah izinkan terjadi dalam hidup Anda di masa lampau. Selanjutnya, pikirkanlah kemuliaan yang disediakan Allah bagi setiap orang yang telah bersusah payah melayani Dia! Sadarilah bahwa bila kita menujukan perhatian kita pada masalah yang sedang kita hadapi saja, kita bisa melupakan Allah yang bersedia dan mampu menolong kita. Mulailah mengandalkan kekuatan Allah dan menanamkan keyakinan bahwa, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). [GI Purnama]


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)