Author Topic: Saat Teduh  (Read 67250 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

October 07, 2019, 06:26:24 AM
Reply #2050
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Mengubah Kebiasaan
Posted on Minggu, 6 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 14:12-14

Dengan tangan apa Anda biasa menulis? Jika menggunakan tangan kanan, cobalah menulis dengan tangan kiri. Apa yang Anda rasakan? Rasanya tentu tak nyaman, terasa aneh, dan janggal. Oh, betapa sulitnya mengubah kebiasaan.

Hari itu Yesus mencoba untuk mengubah kebiasaan dalam mengadakan perjamuan makan. Ia hendak mengubah cara orang dalam berelasi dan memandang sesamanya.Yesus berkata: ”Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya” (12). Yesus mencoba mengalihkan kebiasaan dengan melihat hal lain yang dapat dilakukan. ”Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta” (13).

Tuhan ingin agar para pendengar-Nya itu mengetahui makna kebahagiaan dalam mengubah kebiasaan berelasinya. Kebahagiaan sejati didapatkan dalam relasi yang beragam dan tidak kaku. Tuhan sedang merobohkan tembok pemisah antara orang kaya, dan orang miskin. Mereka mesti kita perhatikan. Tuhan tidak sedang membatasi hubungan kita dengan sahabat, keluarga, atau pun relasi lainnya. Tuhan hanya ingin kita mengingat akan orang-orang yang tak beruntung, orang miskin, dan orang cacat.

Orang mungkin sibuk memperbaiki relasinya demi mendapatkan keuntungan dan kehormatan diri. Namun, Tuhan ingin agar kita mengubah kebiasaan itu. Ia ingin agar kita memperhatikan orang miskin, orang cacat, orang buta, dan orang lumpuh. Tuhan mengajak kita masuk dalam persekutuan berdasarkan anugerah. Relasi indah yang tak terbalaskan oleh siapa pun. Dalam relasi itu hanya ada pemberian tanpa mengharapkan balas jasa. Kondisi ini akan membuat kita semakin menghargai relasi kita dengan Tuhan.

Doa: Tuhan, ubahlah cara kami dalam berelasi dan memperlakukan sesama tanpa batasan apa pun. [SY]









Rumah Di Sorga: Sumber Pengharapan Kita
Posted on Minggu, 6 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 5:1-10

Pengharapan itu amat penting. Tanpa pengharapan, masalah yang kita hadapi bisa terasa sangat berat menghimpit dan mengarahkan hidup kita, sehingga kita tidak sanggup memilih untuk tetap melakukan apa yang benar yang sesuai dengan kehendak Allah. Bagi Rasul Paulus, salah satu sumber pengharapan yang membuat ia sanggup menghadapi penderitaan adalah bahwa Allah telah menyediakan rumah di surga bagi setiap anak-anak-Nya. Perlu diperhatikan bahwa kata “kemah” (5:1) menunjuk kepada “tubuh” kita yang terus semakin merosot karena proses penuaan (4:16), sedangkan “tempat kediaman di sorga” (5:1) menunjuk kepada sesuatu yang belum sepenuhnya kita pahami (1 Korintus 2:9). Yang jelas, setiap orang percaya akan menerima tubuh yang baru yang bisa disebut sebagai “tubuh kebangkitan” yang kondisinya sempurna, tidak bisa merosot (bandingkan dengan 1 Korintus 15:35-49). Selain itu, perlu diingat dengan penuh keyakinan bahwa saat ini, Tuhan Yesus telah menyediakan “tempat di surga” bagi setiap orang yang percaya kepadaNya (bandingkan dengan Yohanes 14:1-4).

Memegang pengharapan yang kita miliki itu tidak mudah karena kita harus terus mempercayai apa yang belum kita lihat. Oleh karena itu, Allah memberikan ROH KUDUS sebagai jaminan sampai kita memiliki penggenapan janji itu seutuhnya (2 Korintus 5:5). ROH KUDUS akan mengingatkan kita akan janji-janji Allah, sehingga kita disanggupkan untuk “melihat” apa yang tidak kelihatan. Dari pihak kita, kita harus membangun “iman” terhadap apa yang belum kita lihat (Ibrani 11:1). Apakah pengharapan tentang “rumah di sorga” sudah menjadi sumber pengharapan Anda? Saat Anda menghadapi berbagai macam masalah dalam kehidupan, apakah Anda menyadari bahwa semua masalah itu bersifat sementara dan akan berlalu? Apakah “kesenangan masa kini” masih lebih menarik bagi Anda dibandingkan dengan “pengharapan besar” yang perwujudannya belum kita lihat saat ini? Bila saat ini, Anda sedang bergumul untuk mengatasi godaan yang hendak mengalihkan pandangan Anda dari apa yang tidak (belum) kelihatan, bacalah pergumulan tokoh-tokoh iman dalam Ibrani 11. Ada banyak orang yang didaftarkan dalam pasal tersebut yang sedang bergumul menghadapi berbagai macam tantangan iman. Jangan biarkan Iblis mengalihkan pandangan Anda dari pengharapan yang Anda miliki! [GI Purnama]


October 08, 2019, 06:27:09 AM
Reply #2051
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Apa yang Paling Penting?
Posted on Senin, 7 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 14:15-24

Pernahkah kita berhadapan dengan situasi yang memaksa kita harus berpikir keras tentang apa yang paling penting dalam hidup ini? Ataukah kita memiliki waktu yang dengan sengaja diluangkan untuk berpikir sejenak mengenai apa yang paling berharga bagi kita?

Salah seorang tamu dalam perjamuan makan telah menyimak ajaran Yesus. Kemudian ia merespons, ”Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah” (15).

Yesus pun memberikan perumpamaan bahwa betapa sulitnya orang masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebuah jamuan besar sudah disiapkan dan undangan banyak diberikan pada siapa pun (16). Respons para undangan terhadap jamuan besar itu beraneka ragam. Ada yang sibuk dengan pekerjaan dan usahanya (18-19). Ada yang sibuk dengan kenikmatan relasi duniawi (20). Tak sedikit juga yang disibukkan dengan kesusahan hidup (21-22). Undangan sukarela telah diberikan, namun diabaikan. Undangan dengan paksaan untuk datang dalam kebahagiaan telah dikumandangkan namun tetap tak dihiraukan.

Perumpamaan ini hendak mengajarkan sesuatu yang penting. Tuhan mengingatkan bahwa hal terpenting dalam hidup adalah relasi dengan-Nya, sekarang, dan dalam kekekalan. Jangan sampai kesibukan pekerjaan atau bisnis menghalangi relasi kita dengan-Nya. Kesibukan dalam rumah tangga bukan berarti menyita waktu kita untuk datang kepada-Nya. Bahkan, kesusahan hidup jangan menjadi alasan untuk kita menyalahkan diri atau menyalahkan Tuhan. Tak ada ruang bagi kita untuk melupakan Tuhan karena kita tercipta untuk berelasi kekal dengan-Nya.

Apa yang telah menyita perhatian kita dari berelasi dengan-Nya selama ini? Undangan untuk masuk dalam persekutuan indah telah Tuhan berikan kepada kita. Apakah kita mendengar suara-Nya? Jangan sampai Tuhan memanggil kita lewat kegagalan, kegelapan, dan penyesalan diri agar bisa lebih dekat kepada-Nya.

Doa: Tuhan, pandulah kami agar kami dapat tetap berelasi dengan-Mu. [SY]









Takut akan Tuhan
Posted on Senin, 7 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 5:11-21

Pengertian “takut akan Tuhan” ada dua macam, tergantung dari pandangan orang itu terhadap Tuhan. Bagi orang yang membenci Tuhan, “takut akan Tuhan” menunjuk kepada perasaan terpaksa yang dilandasi oleh rasa takut terhadap hukuman Tuhan. Bagi orang yang mengasihi Tuhan, “takut akan Tuhan” menunjuk kepada rasa hormat yang dilandasi oleh kasih kepada Tuhan. Dalam bacaan Alkitab hari ini, jelas bahwa “takut akan Tuhan” (5:11) menunjuk kepada pengertian yang kedua. Rasa hormat kepada Tuhan yang dilandasi oleh kasih akan membuat seseorang berusaha melakukan kehendak Tuhan. Dia merasa “takut” menentang kehendak Tuhan, bukan karena kekuatiran bahwa Tuhan akan menghukum dirinya, tetapi karena adanya kasih membuat dia tidak ingin menyakiti hati Tuhan.

“Takut akan Tuhan” yang digerakkan oleh kasih merupakan landasan bagi seluruh kehidupan Rasul Paulus, termasuk menjadi landasan bagi cara pandangnya terhadap sesama (5:14, 16) dan bagi pelayanannya (meyakinkan orang, 5:11). Karena pelayanannya dilandasi oleh takut akan Tuhan, Rasul Paulus tidak pernah menyerah saat menghadapi penolakan, bahaya dalam perjalanan, penjara, dan penganiayaan. Komitmen pelayanannya tidak pernah pudar. Bisa dikatakan bahwa Rasul Paulus tidak takut menghadapi tantangan apa pun karena satu-satunya yang dia takuti adalah menyakiti hati Tuhan. Tepatlah bila Rasul Paulus mengatakan, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami” (5:14). Di dalam Kristus, Rasul Paulus—mantan penganiaya orang-orang Kristen— berubah total dan menjadi seorang yang menyerahkan dirinya untuk melayani Tuhan secara habis-habisan.

Bagaimana dengan diri Anda: Apakah Anda mengasihi Tuhan? Apakah kasih Anda kepada Tuhan cukup besar sehingga Anda takut menyakiti hati Tuhan? Apakah Anda memiliki kerinduan untuk melaksanakan kehendak Tuhan dalam kehidupan Anda? Bila Anda tidak pernah mengaitkan hidup Anda dengan kehendak Tuhan bagi diri Anda, hal itu merupakan petunjuk bahwa Anda kurang mengasihi Tuhan. Evaluasilah diri Anda: Apakah Anda benar-benar meyakini bahwa Tuhan Yesus sudah mati untuk menebus dosa Anda? Bila Anda sudah memperoleh keselamatan di dalam Kristus, seharusnya Anda meneruskan berita keselamatan itu kepada orang-orang yang sedang menuju kebinasaan!       [GI Purnama]




October 09, 2019, 06:07:08 AM
Reply #2052
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Murid Sepanjang Masa
Posted on Selasa, 8 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 14:25-35

Sejak dahulu kala, banyak orang tertarik datang kepada Yesus karena berbagai alasan. Ada yang datang untuk mendengar pengajaran-Nya, sekadar ingin melihat-Nya, atau untuk meminta kesembuhan. Ia menghargai itu semua, walaupun kerinduan-Nya adalah agar setiap orang datang karena ingin menjadi murid-Nya.

Hari itu banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya (25). Ia berhenti sejenak dan mengatakan bahwa mengikuti-Nya adalah sebuah proses untuk menjadi murid sepanjang masa. Dalam nas ini, Yesus memberikan empat makna menjadi murid-Nya sepanjang masa.

Pertama, fokus hidup berubah (26-27). Seorang murid memiliki fokus hidup kepada Allah. Kecintaan terhadap keluarga memang sangat penting. Namun, kecintaan terhadap Tuhan, yang memberi kita keluarga, adalah yang terutama. Hidup bukan lagi menjadi milik kita seutuhnya tetapi untuk memuliakan Allah.

Kedua, memiliki perencanaan (28-30). Seorang murid harus hidup dengan perencanaan. Seperti pembuat menara, ia harus merancang anggaran biaya sampai menara itu selesai dibangun. Kita harus hidup dengan rencana yang matang, bukan emosi sesaat.

Ketiga, pertimbangan matang (31-32). Seorang murid perlu pertimbangan dalam mengambil keputusan terbaik bagi diri dan sekelilingnya. Seumpama seorang raja, ia tahu kapan harus berdamai dan kapan harus menyerang. Ia mengenali kekuatan dan kelemahan dirinya.

Keempat, memiliki manfaat bagi sesama (34-35). Seorang murid Kristus akan bermanfaat bagi sesamanya. Seperti garam berfungsi memberikan rasa pada makanan dan menjadi pengawet dalam kebusukan. Jika garam tak ada fungsinya, ia tak akan terpakai lagi. Jika seorang murid tidak berpengaruh bagi sesamanya, ia telah kehilangan fungsinya.

Sudah berapa lama kita menjadi murid Kristus? Dalam empat makna di atas, di area mana Tuhan ingin kita berubah?

Doa: Tuhan, kami sadar bahwa mengikut-Mu adalah pembelajaran seumur hidup. [SY]









Jangan Sia-siakan Kasih Karunia Allah
Posted on Selasa, 8 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 6:1-10

Keselamatan di dalam Kristus merupakan kasih karunia Allah yang sangat berharga. Keselamatan itu merupakan kasih karunia (pemberian cuma-cuma) karena tidak ada suatu kebaikan pada diri kita yang membuat kita patut menerima keselamatan itu. Bagi Rasul Paulus, keselamatan yang dia terima dari Allah itu membuat dia amat bersyukur karena ia adalah mantan penganiaya orang Kristen. Kasih karunia yang telah diterimanya itu membuat dia tetap setia melayani walaupun ia harus menghadapi berbagai macam tantangan berat dalam hidupnya. Rasul Paulus selalu menunjukkan keteladanan sebagai seorang pelayan Allah yang sabar saat menghadapi penderitaan, kesesakan (kesusahan, kesedihan) dan kesukaran, saat menanggung dera (hukuman berupa pukulan), saat berada dalam penjara, saat menghadapi kerusuhan (dikeroyok), saat berjerih payah (bekerja keras), berjaga-jaga (kurang tidur) dan berpuasa (kekurangan makanan). Dia selalu menjaga kemurnian hati (ketulusan), berlaku bijaksana (berpengetahuan), sabar, dan murah hati; bergantung kepada pertolongan ROH KUDUS, mempertahankan kasih yang tulus. Dia mengajarkan kebenaran dengan kuasa Allah; memakai firman Allah (Alkitab) sebagai alat untuk menyerang maupun membela diri; menghadapi sanjungan dan hinaan, pujian dan fitnah. Dia bersikap jujur namun dianggap penipu, tidak dikenal namun terkenal. Dia nyaris mati karena dihajar (dianiaya) sampai disangka mati, namun tetap hidup. Dia dibuat sedih, namun tetap gembira; nampak miskin, tetapi membuat orang lain menjadi kaya; nampak tidak punya apa-apa, tetapi sebenarnya memiliki segala sesuatu (6:4-10).

Rasul Paulus selalu berusaha untuk bekerja dalam sebuah tim. Dia memberi teladan, kemudian mengajar orang lain untuk melakukan hal yang sama. Dia tidak mau menyia-nyiakan kasih karunia Allah yang telah dia terima, dan dia mendorong jemaat yang dilayaninya—yang disebutnya sebagai “teman-teman sekerja”—untuk melakukan hal yang sama (6:1). Dia menegaskan bahwa kasih karunia Allah itu ditawarkan dalam jangka waktu yang terbatas (6:2). Dia tidak mau menyia-nyiakan kasih karunia Allah, dan dia berusaha agar dirinya tidak menjadi penghalang bagi orang lain untuk menerima kasih karunia yang sama, yaitu keselamatan di dalam Yesus Kristus. Bagaimana sikap Anda terhadap karunia Allah yang telah ditawarkan juga kepada Anda itu? [GI Purnama]



October 10, 2019, 05:50:25 AM
Reply #2053
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Mencari dan Menyelamatkan
Posted on Rabu, 9 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 15:1-7

Tahukah kita maksud dan tujuan kedatangan Yesus ke dunia? Kitab Lukas mengatakan bahwa tujuan kedatangan-Nya adalah untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang. Dalam nas ini, Yesus menggunakan perumpamaan tentang domba yang hilang. Permisalan ini digunakan untuk menggambarkan betapa pentingnya mencari dan menyelamatkan yang terhilang.

Hari itu orang-orang Farisi dan ahli Taurat gelisah sekali. Pasalnya, mereka mendapati Yesus berteman dan makan bersama orang-orang berdosa (1-2). Yesus memberikan pengajaran pertama kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Ia memakai perumpamaan tentang domba yang hilang. Pertanyaan Yesus kepada mereka: ”Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” (4). Mengapa sang pemilik domba begitu terfokus pada satu yang terhilang? Ingat, ia adalah pemiliknya. Di hadapan pemilik, seluruh domba adalah harta berharganya. Sembilan puluh sembilan domba sama berharga dengan satu domba yang hilang. Bagi sang pemilik, ia tak mau kehilangan barang miliknya.

Tuhan pun demikian. Bagi Tuhan, kita semua adalah milik-Nya dan berharga di mata-Nya. Orang benar dan orang berdosa sama-sama milik Tuhan. Ketika satu saja orang berdosa terhilang, Tuhan akan mencari dan menyelamatkannya. Ada sukacita di surga ketika satu orang berdosa bertobat. Sukacita itu bahkan melebihi sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tak memerlukan pertobatan (7).

Di manakah posisi kita hari ini? Apakah kelimpahan hidup telah menjauhkan kita dari anugerah Tuhan? Ataukah kesulitan hidup membuat kita terhilang? Tuhan mencari dan ingin agar kita kembali. Sebab, Ia adalah Sang Pemilik hidup kita.

Doa: Tuhan, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau selalu mencari dan menyelamatkan kami yang terhilang. [SY]







Batas-batas dalam Pergaulan
Posted on Rabu, 9 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 6:1-10

Walaupun status orang percaya sebagai terang bagi dunia mengharuskan kita untuk bergaul dengan orang yang tidak percaya, pergaulan yang boleh kita jalin terbatas. Orang beriman (orang percaya) tidak boleh kehilangan kesadaran bahwa kita memiliki perbedaan identitas dengan orang-orang yang tidak percaya. Perbedaan itu amat kontras (mencolok)! Perbedaan itu setara dengan perbedaan antara kebenaran dan kedurhakaan atau antara terang dan gelap, bahkan perbedaan itu seperti perbedaan antara Kristus dengan Belial (sebutan “Belial” ini menunjuk kepada Setan). Oleh karena itu, saat kita bergaul dengan orang yang tidak percaya, ada kebiasaan atau tindakan orang tak percaya yang harus dihindari atau dijauhi, khususnya yang menyangkut penyembahan berhala. Pandangan orang percaya dengan orang yang tidak percaya tentang apa yang benar dan apa yang salah pun dalam hal-hal tertentu memiliki perbedaan yang tidak boleh dikompromikan. Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel berkali-kali melanggar perintah Allah yang mengharuskan mereka memisahkan diri dengan penduduk setempat yang notabene adalah para penyembah berhala. Pelanggaran itu membuat bangsa Israel berkali-kali jatuh ke dalam penyembahan berhala dan menerima hukuman Allah. Bila dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang percaya adalah garam dunia dan terang dunia (Matius 5:13-14), hal itu berarti bahwa orang-orang percaya harus mempertahankan identitas sebagai anak-anak Allah yang memiliki ciri berbeda dengan orang-orang tidak percaya.

Setiap relasi dengan orang yang tidak percaya harus dievaluasi secara kritis (Bandingkan dengan 1 Korintus 15:33). Kerja sama bisnis harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar kita tidak terjerumus mengikuti cara-cara yang bertentangan dengan iman kita, Pernikahan dengan orang yang tak percaya bisa menghasilkan kesulitan (konflik) serius saat kita hendak mengekspresikan iman dalam hal-hal seperti menentukan arah pendidikan anak (anak akan bingung memilih mengikuti ayah atau mengikuti ibu). Oleh karena itu, orang percaya harus sangat berhati-hati dalam bergaul atau bekerja sama dengan orang yang tidak percaya. Apakah Anda pernah memikirkan batas-batas yang harus ditetapkan saat bergaul dengan orang yang tidak percaya? Bagaimana cara Anda bergaul saat ini? [GI Purnama]






October 11, 2019, 05:58:27 AM
Reply #2054
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kutemukan yang Terhilang
Posted on Kamis, 10 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 15:8-10

Ibuku memiliki kebiasaan menabung satu gram emas setiap kali menerima gaji. Ia mengumpulkannya sepanjang tahun. Ia tahu persis berapa jumlahnya. Suatu kali, Ibu menghitung berapa gram emas yang dimilikinya. Namun, emas yang ada padanya tak sesuai dengan catatannya. Ibu kehilangan satu gram emas. Dengan cemas, ia berupaya mencari kepingan kecil itu. Ia menyalakan penerangan lebih; ia memeriksa setiap bagian lemari dengan saksama. Dan saat ia menemukan kembali satu gram emas yang tercecer itu, ia merasakan kebahagiaan. Baginya, satu gram emas yang sempat hilang adalah hasil kerjanya selama satu bulan. Begitu berharga.

Perumpamaan dirham yang hilang adalah pelajaran kedua tentang prioritas mencari orang yang terhilang. Yesus melontarkan pertanyaan kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. ”Perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?” (8). Pemilik dirham tahu betul berapa jumlah dirhamnya. Baginya, dirhamnya adalah hasil kerja kerasnya, miliknya, dan harta berharganya. Jadi, ia akan terus berusaha menjaganya dengan baik.

Demikian juga dengan satu orang berdosa yang terhilang dan tersesat. Di hadapan Allah Sang Pemilik kehidupan, satu orang yang terhilang adalah harta berharga-Nya. Dalam kasih-Nya, Ia akan selalu mencari, dengan segala upaya agar orang berdosa datang kembali kepada-Nya. Tuhan mengatakan bahwa para malaikat surgawi akan bersorak-sorai saat satu orang berdosa bertobat.

Apakah hidup kita berada dalam kekelaman dosa? Apakah kita merasa tidak layak di hadapan Allah? Ingat, Tuhan selalu mencari dan menyelamatkan orang yang berdosa. Di hadapan-Nya, kita milik-Nya yang sangat berharga dan Ia senantiasa akan mencari jika kita terhilang dari-Nya.

Doa: Tuhan, kami bersyukur. Saat kami tersesat dan terhilang, Engkau terus mencari sampai Kaudapatkan kembali. [SY]







Teguran Sebagai Ungkapan Kasih
Posted on Kamis, 10 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 7:2-16

Ungkapan kasih sangat diperlukan dalam setiap hubungan, bukan hanya dalam sebuah keluarga, tetapi juga dalam sebuah gereja (jemaat). Akan tetapi, perlu diingat bahwa ungkapan kasih itu bukan hanya sekadar berupa ucapan yang menyenangkan, tetapi juga bisa berwujud teguran yang menyakitkan hati. Bahkan, bisa dikatakan bahwa teguran yang keras menandai kedekatan suatu hubungan. Teguran yang dilandasi oleh kasih bisa sangat menyakitkan, tetapi teguran semacam itu tidak akan membangkitkan kebencian. Seorang yang telah dewasa secara emosional dan secara rohani akan bisa mengatakan, “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi.” (Amsal 27:5). Inilah yang terjadi dalam hubungan antara Rasul Paulus dengan jemaat Korintus. Dalam 1 Korintus 5, Rasul Paulus menegur keras jemaat Korintus yang membiarkan saja terjadinya kasus asusila yang sangat memalukan, yaitu adanya orang yang hidup (dalam relasi seksual) dengan istri ayahnya. Teguran keras itu membuat hati jemaat Korintus menjadi sedih. Akan tetapi kesedihan itu menghasilkan pertobatan, dan kesedihan yang menghasilkan pertobatan itu disebut oleh Rasul Paulus sebagai “dukacita menurut kehendak Allah” (2 Korintus 7:8-11). Bisa dipastikan bahwa teguran Rasul Paulus yang amat keras itu membuat jemaat Korintus akhirnya menjatuhkan “sanksi gerejawi” terhadap anggota gereja yang telah melakukan perbuatan asusila di atas.

Perlu disadari bahwa teguran keras terhadap orang yang kita kasihi itu bukan hanya bisa menyakiti hati orang yang kita tegur, tetapi juga menyakiti hati kita yang menegur. Oleh karena itu, banyak orang memilih untuk menutup mata dan menghindar dari kewajiban menegur orang yang bersalah. Di gereja pun, sanksi gerejawi tidak populer. Dalam banyak rumah tangga, sering terjadi bahwa orang tua menghindari kewajiban mendisiplin (menghukum) anak yang bersalah. Sikap buruk anak yang dibiarkan oleh orang tua melahirkan kebiasaan buruk dan akhirnya memunculkan terjadinya tawuran pelajar, kenakalan remaja, serta akhirnya berbuah dalam wujud berbagai kejahatan yang bisa kita baca setiap hari di media massa. Marilah kita memeriksa diri kita masingmasing: Apakah Anda memiliki kasih yang cukup besar sehingga Anda berani menegur berlangsungnya dosa dalam rumah Anda dan juga dalam gereja Anda? [GI Purnama]




October 12, 2019, 06:12:14 AM
Reply #2055
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kembalilah Pulang!
Posted on Jumat, 11 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 15:11-32

Saya selalu mengingat perkataan Ayah kepada anaknya, Jimmy, yang menghabiskan masa mudanya dalam pergaulan buruk. Pesan Ayahnya: ”Jim, kalau di luar sana tidak ada lagi yang mau menerimamu, kembalilah pulang. Ayah akan selalu menerimamu dengan senang hati”. Jika berada di posisi Jimmy, apakah kita berani pulang saat tidak ada lagi yang sudi menerima kita?

Yesus mengajarkan pelajaran ketiga tentang mencari serta menyelamatkan yang terhilang. Kali ini dengan perumpamaan anak yang hilang. Seorang anak bungsu meminta warisan kepada ayahnya dan kemudian hidup berfoya-foya (12-13).

Ia lupa hartanya bisa habis. Saat itu, ia tak memiliki siapa pun untuk menolongnya (14-15). Ia menjadi orang asing di negeri orang. Ia kelaparan dan tak seorang pun memberinya makan (16).

Akhirnya, ia teringat betapa indah hidup bersama bapaknya dalam segala kelimpahan (17). Ia menyadari kesalahannya dan kembali pulang ke rumah bapaknya (18-20).

Selalu ada kasih seorang bapak untuk anaknya yang terhilang. Bapaknya menyambut dengan segala persiapan dan perjamuan yang megah. Diberikan jubah terbaik, cincin pada jarinya, sepatu pada kakinya, serta hidangan terbaik (22-23). Bagi seorang ayah, kembalinya seorang anak yang hilang melebihi segala kekayaannya. Kesukaan besar yang tidak terkira.

Masa lalu tak akan pernah menjadi masa depanmu. Betapa pun buruk dan berdosanya kita di masa lalu, asal ada penyesalan dan pertobatan, hidup kita akan berubah. Anak bungsu pernah salah di jalan hidupnya. Akan tetapi, ada satu masa ia mengingat semua kesalahannya. Ia memberanikan diri untuk kembali pulang. Keberanian itu mendapat sambutan luar biasa. Saat kita menyadari kesalahan, maka beranilah kembali pulang pada kasih Allah yang tiada terukur. Kasih, pengampunan-Nya, dan kehidupan baru selalu tersedia untuk mereka yang terhilang.

Doa: Tuhan, di kala kami tersesat, ajar kami berani kembali kepada-Mu dengan rasa sesal dan tekad untuk bertobat. [SY]








Ujian Keikhlasan
Posted on Jumat, 11 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 8:1-15

Semua ungkapan kebaikan—termasuk memberi—haruslah dilandasi oleh kasih. Karena memberi kepada sesama itu bersifat sukarela, maka memberi itu merupakan ujian terhadap keikhlasan kasih jemaat Korintus (8:8). Rasul Paulus berusaha membangkitkan keikhlasan jemaat Korintus dengan memberikan informasi tentang jemaat-jemaat di wilayah Makedonia (termasuk di antaranya adalah jemaat di Filipi, Tesalonika, dan Berea), yang walaupun sangat miskin (bila dibandingkan dengan jemaat di Korintus), namun kaya dalam kemurahan, sehingga mereka dengan penuh semangat ikut mendukung pelayanan dengan kondisi keuangan mereka yang terbatas (8:1-4).

Selain memberikan contoh yang diperagakan oleh jemaat di Makedonia, Rasul Paulus menjelaskan beberapa prinsip tentang persembahan yang digunakan untuk pelayanan sosial:

Pertama , kasih karunia Tuhan Yesus Kristus (yang sebenarnya kaya) yang rela menjadi Manusia (yang menanggalkan kekayaan-Nya sehingga menjadi miskin) perlu kita teladani dengan cara berlaku murah hati kepada sesama yang memerlukan bantuan kita (bandingkan dengan 8:9).

Kedua , kata “keikhlasan” (8:8) menunjukkan bahwa tindakan menolong orang lain yang memerlukan bantuan kita itu harus dilakukan dengan sukarela (8:11-12).

Ketiga , tindakan menolong orang lain yang membutuhkan bantuan keuangan itu bukanlah dimaksudkan untuk memanjakan, tetapi supaya ada keseimbangan (8:13-14) yang membuat setiap orang (orang kaya maupun orang miskin) bisa menikmati berkat Tuhan. Prinsip keseimbangan ini mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kekurangan masing-masing, sehingga orang yang lebih kaya pun mungkin memiliki kekurangan yang membuat dia memerlukan bantuan sesama (yang lebih miskin, namun memiliki kelebihan dalam hal lain). Dengan demikian, prinsip keseimbangan ini akan membuat yang kaya tidak merasa superior dan yang miskin tidak merasa rendah diri, dan prinsip keseimbangan ini bersifat mempersatukan orang percaya.

Apakah Anda sudah mengembangkan kepekaan untuk membantu sesama? Ingatlah bahwa membantu ini bukan hanya menyangkut keuangan, tetapi bisa berarti memperhatikan, mengunjungi, mendoakan dan sebagainya. Kerelaan (keikhlasan) kita untuk membantu sesama akan membangun kesatuan umat Tuhan. [GI Purnama]



October 13, 2019, 04:59:11 AM
Reply #2056
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Bendahara yang Tidak Jujur
Posted on Sabtu, 12 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 16:1-9

Apa yang hendak Tuhan Yesus ajarkan kepada para murid-Nya berkenaan dengan perumpamaan ini? Jangan katakan bahwa Ia menyetujui ketidakjujuran sang Bendahara. Bagaimanapun, dia tidak mengerjakan tugasnya dengan baik. Tak hanya lalai dalam perhitungan, dia sengaja menghamburkan harta majikan. Bendahara itu telah bertindak sebagai pemilik harta. Dia tak lagi menjadi pengelola. Akibatnya jelas: dia harus mempertanggungjawabkannya dan siap dipecat.

Perumpamaan ini mengingatkan kita untuk menjalani profesi dengan setia. Sebab, profesi berarti kepercayaan.

Lalu, mengapa Yesus memujinya? Alasannya, karena dia menyadari keberadaannya pada masa depan dan cekatan mengambil tindakan. Perhatikan keresahannya: ”Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu” (3). Dia peka situasi. Terus, mau ngapain?

Masa depannya gamblang. Namun, hal itu tidak membuatnya berdiam diri. Dia ingin selamat. Itulah visinya sekarang. Agar tetap hidup, dia harus berbuat sesuatu. Demi mempertahankan hidup, dia mengambil jalan untuk mengambil hati orang-orang yang berutang kepada tuannya. Dengan cara demikian, dia berupaya menyelamatkan nyawanya. Tindakannya itu membuat dia berpiutang budi.

Visi yang kuat semestinya mendorong manusia beraksi. Visi tanpa aksi hanyalah impian. Aksi tanpa visi merupakan kegiatan tanpa arah. Visi bendahara tadi jelas: menyelamatkan nyawanya. Visi itu membuatnya bertindak. Tindakan itulah misi.

Perumpamaan ini mengajar para murid agar tidak hanya memikirkan masa depan, tetapi melakukan sesuatu yang baik pada masa kini. Kita perlu belajar dari bendahara yang tidak jujur. Ia mampu melihat ke depan, memperhitungkan realitas, dan mampu bertindak tepat. Ya, bertindaklah! Tanpa misi, visi tak akan pernah menjadi kenyataan.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk hidup sesuai standar-Mu. [YM]







Saling Mendorong dalam Pelayanan
Posted on Sabtu, 12 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 8:16-9:5

Setiap orang yang telah sungguh-sungguh bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus pasti telah dilahirkan kembali menjadi manusia baru yang memiliki keinginan dan pola pikir yang baru yang sesuai dengan kehendak Allah. Akan tetapi, karena kita semua masih hidup di dalam lingkungan yang lama, tidak mudah bagi kita untuk menjalani cara hidup yang baru itu. Kita perlu mencari tahu kehendak Tuhan melalui membaca dan mendengar pemberitaan Firman Tuhan. Kita juga memerlukan saudara-saudara seiman yang mengingatkan dan mendorong kita untuk melakukan kehendak Allah.

Jemaat di Yerusalem sedang menderita kekurangan sehingga mereka memerlukan bantuan (bandingkan dengan Kisah Para Rasul 24:17). Agaknya Titus ikut berperan dalam mendorong jemaat Korintus untuk melaksanakan pelayanan kasih (pelayanan membantu orang lain, khususnya dengan sokongan keuangan), sehingga jemaat itu telah mulai melaksanakan pelayanan kasih. Akan tetapi, pelayanan kasih kepada jemaat di Yerusalem baru sekadar keinginan yang belum terwujud (2 Korintus 8:6, 10-11). Pelayanan kasih yang telah dimulai oleh jemaat Korintus (perlu diingat bahwa kota Korintus terletak di wilayah Akhaya) merupakan teladan yang membangkitkan keinginan yang besar dari jemaat di wilayah Makedonia (yaitu jemaat di kota Filipi, Tesalonika, Berea, dan sekitarnya) untuk memberi (9:1-2). Sebaliknya, respons jemaat Makedonia yang miskin, namun rela memberi melampaui kemampuan mereka, merupakan teladan ketulusan memberi bagi jemaat Korintus yang lebih kaya (8:1-4).

Untuk mempersiapkan pengumpulan bantuan bagi jemaat di Yerusalem, Rasul Paulus mengutus Titus (8:6) bersama seseorang yang terpuji di semua jemaat karena pekerjaannya dalam pemberitaan Injil (8:18, mungkin yang dimaksud adalah dokter Lukas), dan seorang lain lagi yang telah terbukti berusaha membantu (8:22, mungkin yang dimaksud adalah Apolos). Dalam melaksanakan pelayanan kasih, sering kali kita harus saling mendorong dan mengerjakan bersama-sama agar pelayanan kita membawa dampak yang lebih berarti. Itulah sebabnya, dalam gereja pada masa kini biasanya ada tim diakonia yang bertanggung jawab melaksanakan pelayanan kasih oleh gereja. Apakah Anda telah membiasakan diri untuk saling mendorong dalam pelayanan?   [GI Purnama]



October 14, 2019, 06:34:08 AM
Reply #2057
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Allah vs. Mamon
Posted on Minggu, 13 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 16:10-18

Integritas diuji salah satunya lewat cara kita menggunakan uang yang Tuhan percayakan. Ia memanggil kita agar setia dalam perkara kecil. Kalau lulus, Ia akan memercayakan kita perkara yang besar.

Inilah yang ingin Yesus sampaikan. Secara khusus, Ia mengutarakannya kepada orang-orang Farisi. Sebab, mereka lebih mengutamakan uang daripada Tuhan (14). Yesus ingin menyadarkan mereka bahwa mengumpulkan harta di surga jauh lebih berharga daripada harta di dunia. Mereka harus memilih antara mengasihi Allah atau mengasihi Mamon. Mereka tidak bisa memilih keduanya sebab orang tidak bisa mengabdi kepada dua tuan. Ketika memilih mengasihi Allah, artinya mereka harus menomorduakan harta. Dengan begitu, mereka akan hidup dan bisa menikmati kekayaan surgawi. Sebaliknya, jika memilih uang dan dunia ini, mereka akan berakhir pada kebinasaan.

Namun sayangnya bukannya bertobat, mereka malah merasa diri benar dan mencemooh Yesus (15).

Bagaimana dengan kehidupan kita hari ini? Adakah kita lebih mencintai uang daripada Allah? Jika masih sering khawatir dan mengeluh soal uang, kemungkinan kita masih menempatkan uang lebih utama daripada Allah. Indikasi lainnya adalah dari penggunaan waktu, pikiran, dan tenaga. Jika tiga hal ini diprioritaskan mencari uang, maka uang adalah tuan kita yang sejati. Sikap lebih mengasihi Mamon juga terlihat ketika kita sulit memberi, namun berani berutang hanya demi memenuhi keinginan.

Hati-hati dengan uang, ia memang berguna, tetapi juga dapat mengendalikan kita. Uang memang menjanjikan kenikmatan hidup. Namun, faktanya, uang tidak dapat membeli kesehatan, kebahagiaan, dan hidup kekal. Oleh karena itu, kita jangan meletakkan rasa aman pada uang. Tuhan adalah satu-satunya tuan dalam hidup kita. Dengan ini, kita akan menerima damai sejahtera dan rasa aman sejati yang bernilai kekal.

Doa: Tuhan, tolong kami agar lebih mencintai-Mu daripada apa pun di dunia ini, termasuk harta. [ST]






Prinsip-prinsip Memberi
Posted on Minggu, 13 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 9:6-15

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Rasul Paulus menyampaikan dua prinsip yang merupakan pedoman bagi jemaat Korintus dalam memberi persembahan:

Pertama , perhatikan bahwa ada suatu prinsip umum dalam kehidupan yang berlaku dalam berbagai situasi, yaitu bahwa apa yang kita tuai akan sesuai dengan apa yang telah kita tabur (9:6). Dalam konteks persembahan, khususnya dengan mengingat bahwa jemaat di Makedonia telah memberi melampaui kemampuan mereka (8:1-5, lihat renungan 2 Korintus 8:1-15), memberi berarti membuka kesempatan bagi kita untuk melihat bahwa Allah sanggup mencukupi semua kebutuhan kita (9:8). Selain itu, pemberian kita akan melimpahkan ucapan syukur dari penerima pemberian tersebut (9:12). Bila kita tidak berani memberi (hanya berani memberi “uang sisa”), kita bisa kehilangan kesempatan untuk melihat bagaimana Tuhan mencukupkan kebutuhan kita, dan kita juga kehilangan kesempatan untuk melihat buah dari pemberian kita dalam kehidupan orang yang menerima pemberian kita.

Kedua , kita harus memberi secara sukarela, bukan karena terpaksa (9:7). Memberi secara sukarela ini hanya akan bisa terwujud bila kita memberi karena kasih. Dari satu sisi, kita memberi karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi diri kita. Bila kita mengingat pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib bagi kita, kita akan menyadari bahwa apa yang bisa kita berikan kepada sesama menjadi terasa tidak berarti. Dari sisi lain, kita memberi karena Tuhan menghendaki kita mengasihi sesama. Kasih orang percaya kepada sesama yang kelihatan merupakan wujud dari kasih kepada Tuhan yang tidak kelihatan (bandingkan dengan 1 Yohanes 4:20). Kasih kita kepada Tuhan belum terbukti bila kita belum memiliki kerelaan untuk mengasihi sesama.

Kedua prinsip di atas perlu diterapkan dengan kewaspadaan.

Pertama , sadarilah bahwa prinsip tabur-tuai itu tidak berarti bahwa kita memberi supaya kita bisa mendapat lebih banyak dari Tuhan (prinsip dagang). Berkat Tuhan harus kita pandang sebagai anugerah, bukan sebagai upah.

Kedua , memberi secara sukarela bukan berarti bahwa kita cukup memberi dengan “uang kecil”. Pemberian yang wajar adalah pemberian yang dilandasi oleh keinginan berkorban sebagai respons terhadap kebaikan Allah yang telah kita terima. Apakah kedua prinsip di atas sudah mewarnai cara Anda memberi persembahan? [GI




October 15, 2019, 06:18:41 AM
Reply #2058
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Mengasihi dengan Harta Kita
Posted on Senin, 14 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 16:19-31

Ada orang yang mengatakan, uang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang. Memang benar, untuk menjalani hidup ini kita membutuhkan uang. Akan tetapi, kalau hanya berfokus mengejar uang, kita akan kehilangan segalanya dan menuju kebinasaan.

Orang kaya dalam perumpamaan ini adalah anak Abraham (24). Dengan status ini, ia merasa yakin kelak akan masuk surga. Namun, setelah kematian, ia malah berada di neraka. Pasalnya, ia tidak mengasihi Allah dan sesama.

Sebaliknya, Lazarus adalah orang miskin. Selama hidup, ia menderita. Ia hanya bisa memohon pertolongan kepada Allah agar menikmati surga bersama Abraham.

Yesus menujukan perumpamaan ini kepada orang-orang Farisi. Yesus melihat mereka sebagai pencinta uang yang tidak peduli kepada sesama. Namun, mereka selalu merasa benar dan merasa layak masuk surga karena klaim sebagai anak Abraham. Oleh sebab itu, Yesus menegur mereka. Yesus mengatakan sekalipun berstatus keturunan Abraham, jika masih mencintai uang dan tidak memiliki kasih, mereka akan berakhir seperti orang kaya tersebut.

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa menjadi kaya itu dosa. Masalahnya adalah apakah kekayaan itu menguasai diri kita? Apakah kekayaan itu kita gunakan untuk memedulikan sesama dan mengasihi Tuhan? Alkitab selalu mengingatkan agar kita tidak terjebak dan tergoda oleh materi sehingga berakhir binasa. Sebab, jika tidak memprioritaskan Allah dan sesama untuk dikasihi, sesungguhnya kita sedang menuju kebinasaan.

Belajar dari perumpamaan ini, mari kita tidak menikmati kekayaan bagi diri kita saja. Sebaliknya, harta adalah sarana menyatakan kasih kepada Allah dan sesama selama kesempatan masih ada. Jika diberi kekayaan, biarlah hati kita tidak terpaut padanya. Kita senantiasa harus terpaut kepada Allah dan mengasihi sesama.

Doa: Tuhan, tolong aku mencintai-Mu lebih dari apa pun dan mengasihi sesama dengan hartaku. [ST]







Menghadapi Tantangan dan Pelayanan
Posted on Senin, 14 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 10:1-11

Rasul Paulus adalah seorang yang melayani dengan totalitas. Dia mencurahkan seluruh pikirannya, tenaganya, waktunya, bahkan juga uangnya (penghasilannya) untuk melayani orang lain secara tulus. Sekalipun demikian, dia tidak bebas dari tantangan. Dalam bacaan Alkitab hari ini, jelas bahwa ada orang yang menuduh dia sebagai seorang yang hidup secara duniawi (10:2) dan ada pula orang yang menganggap dia tidak memiliki integritas (10:10, surat-suratnya tegas dan keras, tetapi sikapnya lemah dan perkataannya tidak berarti atau sekadar omong kosong). Kedua tuduhan tersebut berbahaya dan bisa merusak pelayanannya serta merongrong kepemimpinannya.

Bila kita memperhatikan kehidupan dan pelayanan Rasul Paulus, jelas bahwa tuduhan-tuduhan semacam itu didasarkan pada fitnah dan hoaks. Beliau menyangkal keras tuduhan bahwa perjuangannya dilakukan secara duniawi (10:3, mengikuti standar umum yang mengutamakan kemenangan dan keuntungan), Rasul Paulus menegaskan bahwa dia mengandalkan kuasa Allah saat menghadapi semua tantangan dalam pelayanan (10:4-6). Sikapnya selalu dilandasi motivasi untuk membangun, bukan untuk menang atau meruntuhkan (10:8). Ucapan bahwa Beliau tidak berani bila berhadapan muka dan hanya berani bila berjauhan merupakan suatu sindiran terhadap jemaat Korintus. Sekalipun Rasul Paulus menghadapi tuduhan yang menyakitkan, ia tetap meneladani Kristus dalam hal bersikap lemah lembut dan ramah (10:1), tetapi ia juga menegaskan bahwa ia memiliki integritas (10:11, tindakan dan perkataannya sama).

Apakah Anda merasa kecewa dan kecil hati saat menghadapi berbagai masalah dalam pelayanan Anda? Jangan kecil hati dan jangan mundur! Tuhan Yesus mengatakan dalam Lukas 9:23 bahwa setiap orang yang ingin menjadi pengikut-Nya harus rela menyangkal keinginan dirinya (bersedia mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan), memikul salib setiap hari (tekun menghadapi kesulitan dan penderitaan), serta tetap hidup mengikuti kehendak Allah (tidak pernah menyerah saat menghadapi kesulitan). Tantangan apa yang sedang Anda hadapi dalam pelayanan Anda? Apakah Anda tetap bisa mempertahankan iman Anda dan tetap menumbuhkan sukacita Anda saat Anda sedang menghadapi tantangan itu? [GI Purnama]


October 16, 2019, 06:44:00 AM
Reply #2059
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Hitung Berkat-Nya!
Posted on Selasa, 15 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 40

Pernahkah Anda menghitung berkat Tuhan yang telah Anda terima? Apa tujuan Anda menghitungnya? Masihkah Anda dapat melihat berkat-Nya dan bersyukur bahkan di saat sedang dalam kesusahan?

Mazmur dari Daud ini berisi ungkapan syukur kepada Allah atas segala berkat yang telah ia terima. Penulis mazmur mengawali dengan ungkapan kerinduannya kepada Tuhan (1). Kemudian ia mengakui apa yang telah Tuhan kerjakan dalam hidupnya. Ada tiga contoh penting yang disebutkan. Pertama, Tuhan mendengar teriaknya minta tolong (2). Kedua, Ia meloloskannya dari bahaya dan memberinya tempat yang aman (3). Ketiga, Ia memberinya alasan untuk selalu memuji Allah (4).

Daud juga mengungkapkan bahwa mengucapkan perasaan syukur atas berkat-Nya tidak cukup hanya dengan kurban sembelihan. Daud menegaskan bahwa kurban yang terutama adalah melakukan kehendak-Nya (7-9).

Bagian akhir dari Mazmur ini berisi doa. Penulisnya berharap agar dilepaskan dari bahaya yang sedang ia alami (12-18). Namun sekalipun keadaannya demikian, penulis mazmur tetap mengingat apa yang pernah Tuhan kerjakan. Ia menghitung berkat, penyertaan, dan pertolongan Tuhan. Hasilnya ternyata sangat banyak (5-6).

Saat keadaan kita baik dan penuh berkat, kita mudah memuji Tuhan. Namun, di kala kesusahan melanda, mengucapkan syukur kepada Tuhan menjadi terasa sulit. Hal ini disebabkan fokus kita hanya tertuju pada kejadian yang sedang menimpa.

Dalam tulisannya, penulis mazmur mengajak kita untuk sejenak melihat ke belakang. Ia berseru agar kita menghitung berkat Tuhan. Kita juga harus mengingat pengalaman masa kesusahan dan cara Tuhan menolong dan memberkati kita. Karya-Nya tidak akan terhitung jumlahnya dalam hidup kita. Inilah yang akan menolong kita. Sekalipun masa sulit melanda, tetapi kita tetap dapat bersyukur dan memuji Dia.

Doa: Ya Tuhan, tolong aku untuk tidak melupakan kebaikan-Mu agar saat hari esok terasa gelap, aku tetap dapat mengucap syukur. [IT]









Memahami Batas Pelayanan
Posted on Selasa, 15 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 10:12-18

Rasul Paulus adalah seorang hamba Tuhan senior. Sekalipun demikian, dia tidak mau membanggakan dirinya atau membanggakan pelayanannya. Dia beranggapan bahwa membandingkan diri sendiri dengan orang lain (supaya bisa membanggakan diri atau dipuji oleh orang lain) merupakan suatu kebodohan (10:12). Satu-satunya kebanggaan yang patut hanyalah bila kita dipuji Tuhan (10:18). Kita akan mendapat pujian dari Tuhan bila kita setia mengerjakan pelayanan yang ditugaskan Tuhan kepada diri kita. Bagi Rasul Paulus, Tuhan sudah menetapkan batas-batas pelayanannya, dan dia harus setia melakukan tugas tersebut (10:13-16).

Mengapa kita perlu memusatkan perhatian kita kepada tanggung jawab yang telah diberikan Tuhan kepada kita?

Pertama , kita harus memusatkan perhatian pada tanggung jawab yang Allah percayakan kepada kita karena kita harus mempertanggungjawabkan pelayanan kita kepada Tuhan (5:10). Tuhan sudah memberikan karunia-karunia rohani kepada setiap orang percaya, dan karunia-karunia tersebut harus digunakan untuk kepentingan bersama, sesuai dengan tujuan Allah bagi diri kita masing-masing (Roma 12:3-8; 1 Korintus 12:7-11).

Kedua , kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain karena setiap orang percaya bertanggung jawab secara pribadi di hadapan Allah (1 Korintus 12:28-30). Dalam melaksanakan tanggung jawab kita, kiita harus bekerja sama dengan orang lain untuk melakukan pelayanan bersama (Efesus 4:16), tetapi kerja sama itu bukanlah suatu kompetisi. Perlu selalu diingat bahwa tujuan pelayanan bukanlah kesuksesan diri sendiri, melainkan kemuliaan Tuhan.

Ketiga , membandingkan pelayanan kita dengan orang lain hanya membangkitkan kebanggaan diri (bila pelayanan kita lebih berhasil) atau rasa rendah diri (bila pelayanan orang lain lebih baik daripada pelayanan kita), dan kedua hal itu merupakan racun yang akan merusak pelayanan kita.

Apakah Anda memahami batas-batas pelayanan yang telah Allah percayakan kepada diri Anda dan apakah Anda telah bertanggung jawab melaksanakan tugas tersebut? Apakah Anda merasa puas terhadap batas-batas pelayanan yang telah Allah percayakan kepada diri Anda, sehingga Anda berjuang dengan sukacita dan dengan ketulusan untuk melaksanakan tanggung jawab Anda? [GI Purnama]



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)