Author Topic: Saat Teduh  (Read 66859 times)

0 Members and 4 Guests are viewing this topic.

October 17, 2019, 06:13:19 AM
Reply #2060
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23970
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Cemburu Ilahi
Posted on Rabu, 16 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 11:1-15

Apa yang membuat Rasul Paulus merasa cemburu? Apakah dia cemburu bila melihat pelayanan orang lain lebih sukses daripada dirinya? Apakah dia cemburu bila orang lain mendapat uang lebih banyak daripada dirinya? Tidak! Rasul Paulus tidak memandang pelayanannya sebagai suatu kompetisi! Pelayanannya bukanlah profesi untuk mencari uang! Pelayanannya semata-mata dilandasi oleh kasih yang telah lebih dulu diterimanya dari Allah. Dia melayani bukan untuk mencari uang, bahkan dia tidak mau menerima uang dari jemaat Korintus! Dia melayani jemaat Korintus secara cuma-cuma! (11:7). Sebaliknya, Rasul Paulus bersedia menerima bantuan keuangan dari jemaat di Makedonia (11:9) yang notabene adalah jemaat yang miskin (bandingkan dengan 8:1-2). Pemaparan Rasul Paulus ini dari satu sisi merupakan suatu sindiran kepada jemaat Korintus yang relatif kaya bila dibandingkan dengan jemaat di Makedonia. Di sisi lain, pemaparan Rasul Paulus ini memperlihatkan bahwa dia melayani secara tulus. Pelayanannya sama sekali tidak dilandasi keinginan mencari keuntungan (uang). Dia memilih tetap bekerja sebagai tukang kemah untuk memenuhi kebutuhannya agar masalah uang tidak menjadi batu sandungan bagi orang-orang Korintus untuk menerima berita Injil. Oleh karena itu, dia merasa cemburu (sangat kesal) saat melihat atau mendengar bahwa jemaat Korintus bisa disesatkan oleh guru-guru palsu yang mengaku sebagai rasul-rasul yang hebat (11:2-5). Rasa cemburu yang diungkapkan Rasul Paulus ini bukan rasa cemburu duniawi yang dilandasi oleh hawa nafsu, melainkan rasa cemburu ilahi yang dilandasi oleh kasih kepada Allah dan kasih kepada jemaat Korintus.

Apa yang membuat Anda cemburu? Apakah Anda cemburu saat melihat orang yang lebih sukses, lebih populer, lebih kaya, lebih disukai daripada diri Anda? Sebaliknya, apakah Anda merasa cemburu dengan cemburu Ilahi seperti Rasul Paulus yang merasa sangat kesal saat melihat jemaat disesatkan oleh ajaran-ajaran palsu yang menyesatkan? Apakah Anda merasa kesal terhadap para pengajar palsu yang ajarannya menarik sehingga menyesatkan banyak orang yang sudah lebih dulu menerima Injil yang sejati? Ingatlah bahwa cemburu Ilahi selalu dilandasi oleh kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia, bukan oleh kasih kepada diri sendiri atau oleh keinginan mencari keuntungan.







Allah Telah Menyembuhkanku
Posted on Rabu, 16 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 41

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang kebal terhadap penyakit. Kita semua pernah mengalaminya. Sejak bayi hingga menjadi tua, tidak terhitung banyaknya penyakit yang pernah kita alami, dari penyakit ringan, seperti flu sampai penyakit berat dan kronis, seperti kanker. Cara dan sikap orang-orang pun berbeda dalam menghadapi penyakit. Ada yang menganggapnya biasa; ada yang berjuang untuk sembuh; tetapi ada juga yang pasrah.

Dalam bacaan kita, pemazmur juga sedang sakit. Entah penyakit apa, namun tampaknya bukanlah penyakit ringan. Parahnya, orang-orang justru menginginkan kematiannya dari penyakit itu (6). Para pembencinya menyusun rencana jahat terhadapnya (8), bahkan sahabat karibnya menghina dan melawannya (10). Penulis mazmur merasakan dan mengakui bahwa penyakitnya begitu berat (jahanam) (9).

Bagaimana sikap pemazmur dan caranya menghadapi penyakit? Ia tidak mengingkari bahwa dirinya sedang sakit dan butuh pertolongan. Namun mula-mula, ia menyerukan dirinya untuk berbahagia (2). Karena, ia percaya Tuhan pasti akan melindungi, memelihara nyawanya (3), dan menyembuhkan penyakitnya (4). Lalu dengan jujur, ia mengakui dosanya dan memohon belas kasihan Tuhan (5). Ia menutup mazmurnya dengan pujian kepada Allah (14) seolah-olah Allah telah menyembuhkannya.

Adakah hari ini kita sedang menderita sakit penyakit? Berat maupun ringan, tetap saja itu sangat mengganggu aktivitas kita. Kita menjadi tidak bisa maksimal melakukan apa pun. Untungnya, Tuhan memberi kita akal budi sehingga dengan begitu kita berusaha untuk sembuh. Caranya bisa dengan menemui dokter, meminum obat, dan beristirahat. Tuhan juga memberi kita iman. Dengan iman inilah, kita percaya bahwa hanya dengan campur tangan Tuhan kita dapat sembuh. Dokter dan obat hanyalah alat di tangan-Nya untuk menyembuhkan kita.

Doa: Tuhan, aku percaya dalam tangan-Mu ada kesembuhan. [IT]






October 18, 2019, 05:53:03 AM
Reply #2061
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23970
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Rindukah Kau kepada Allah?
Posted on Kamis, 17 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 42-43

Rasa rindu adalah perasaan yang sangat alami dan wajar. Rindu terjadi karena perasaan cinta yang besar, namun tidak bisa terpuaskan karena terbatas oleh ruang dan waktu. Perasaan rindu ini tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia. Kerinduan juga bisa kita tujukan kepada Tuhan, tempat, peristiwa, suasana, hewan, dan benda-benda tertentu.

Pemazmur mengungkapkan kerinduannya kepada Allah. Kerinduan itu dilukiskan seperti rusa yang haus merindukan sungai yang berair (2-3). Tampaknya, pemazmur berada pada situasi yang tidak memungkinkan baginya beribadah kepada Allah. Ia berada di tempat yang jauh, yaitu di tempat di mana orang tidak mengenal Tuhan (42:7; 43:2). Orang-orang di situ mencela kepercayaannya kepada Allah (42:4,10-11; 43:1-2). Dalam kerinduan, ia teringat perannya dahulu sebagai pemimpin umat dalam menyanyikan pujian kepada-Nya (42:5).

Untuk menguatkan hati, pemazmur menyerukan kepada dirinya sendiri untuk berharap dan bersyukur kepada-Nya (42:2,6; 43:5). Ia berharap bahwa Allah akan membawanya kembali pulang untuk beribadah kepada-Nya (43:3-4).

Pernahkah kita mengalami perasaan rindu sedemikian dalam kepada Allah? Pernahkah kita merindukan suasana beribadah bersama umat Tuhan?

Rindu terkadang berubah menjadi perasaan yang berat. Namun, Allah adalah pribadi yang begitu dekat dengan kita. Jika ingin bertemu dengan-Nya, kita bisa berjumpa dengan-Nya lewat firman, doa, dan pujian kepada-Nya. Dahulu umat Israel beribadah hanya di tempat tertentu. Namun sekarang, kita menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Artinya, tidak ada lagi yang bisa membatasi kita. Bahkan jika kita ingin merasakan persekutuan bersama umat Tuhan, gereja sudah ada di mana-mana. Walaupun waktu dan keadaan membatasi, ibadah kita kepada-Nya tak mungkin lagi terhalang. Sebab, lewat iman dan roh, kita langsung berpaut kepada Allah.

Doa: Tuhan, terima kasih saat kami merindukan-Mu, di situ Engkau selalu hadir dan menyapa kami. [IT]







Jangan Mengalah Terhadap Penyesat!
Posted on Kamis, 17 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 11:16-33

Rasul Paulus bisa bersikap lembut, tetapi bisa bersikap keras juga. Terhadap anggota jemaat yang telah bertobat dan menyesali dosanya, dia bersikap lembut dan menghibur. Ia tidak menghendaki bahwa orang yang telah bertobat terus tenggelam dalam penyesalan dan kesedihan yang tidak berujung. Oleh karena itu, supaya orang yang telah bertobat tidak terus bersedih, sikap Rasul Paulus adalah menghibur (bandingkan dengan 2:7). Akan tetapi, dia benar-benar merasa kesal dan sulit bersabar saat menghadapi guru-guru palsu yang telah menyesatkan jemaat yang dilayaninya. Perkataan “karena kamu begitu bijaksana” (11:19) adalah sindiran yang mengungkapkan kekesalan hati Rasul Paulus terhadap sikap jemaat Korintus yang terlalu lunak terhadap para pengajar sesat. Dalam keadaan biasa, dia selalu bersikap rendah hati. Akan tetapi, saat menghadapi ajaran sesat yang hendak menghancurkan pelayanannya, kesabarannya habis. Rasul Paulus tidak akan mengucapkan perkataan yang bisa ditafsirkan sebagai tindakan menyombongkan diri seandainya jemaat Korintus tidak sedang terancam oleh ajaran sesat. Karena sikap para pengajar sesat yang meninggikan dirinya sendiri itu amat mempesona dan membuat jemaat meremehkan pengajaran yang disampaikan oleh Rasul Paulus, Rasul Paulus terpaksa mengungkapkan kelebihan dirinya agar jemaat tidak terus terpesona terhadap ajaran sesat dan memperhatikan pengajarannya. Dari sisi latar belakang keturunan, pengabdian, pengorbanan, dan pelayanan, Rasul Paulus tidak kalah—bahkan sebenarnya melampaui—para guru palsu itu (11:5-13, 21-33).

Bila Anda beranggapan bahwa Anda telah berusaha melayani dengan baik, tetapi Anda mengalami respons yang mengecewakan, Anda merasa tidak dihargai, renungkanlah ungkapan isi hati Rasul Paulus dalam pasal 11 ini. Siapakah di antara kita yang—karena kesetiaan memberitakan Injil—harus mengalami keadaan dipenjarakan, dipukuli, dicambuk, serta menghadapi ancaman bahaya maut yang datang dari bencana alam dan dari perampok? Bukankah tantangan yang dialami oleh orang-orang Kristen pada umumnya belum seberat yang dialami oleh Rasul Paulus? Dalam melayani, walaupun kita harus bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang menyesali dosanya, kita tidak perlu ragu untuk bersikap keras terhadap para penyesat! [GI Purnama]



October 19, 2019, 05:55:05 AM
Reply #2062
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23970
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Tetap Setia pada Kasih Setia-Nya
Posted on Jumat, 18 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 44

Dalam sejarah Kekristenan, perjalanan atau penziarahan adalah salah satu gambaran umum dalam melukiskan relasi dengan Allah. Dalam relasi dengan Allah, kita pasti mengalami pasang dan surut kehidupan.

Bacaan kita kali ini merupakan sebuah refleksi pemazmur. Ia menggambarkan penziarahan bangsa Israel bersama dengan Allah di dalam sejarah. Sekilas, perikop ini sedang bercerita tentang seruan bangsa Israel kepada Allah ketika mengalami penindasan. Namun jika dilihat secara utuh, ternyata ada sebuah dinamika yang lebih mendalam.

Mazmur 44:10-17 memang menceritakan mengenai keluh kesah bangsa Israel. Mereka mengalami penderitaan, penindasan, dan serta penghinaan dari bangsa lain. Dalam penderitaan yang demikian hebatnya, Allah dirasa telah meninggalkan mereka. Bahkan, Ia dianggap bertanggung jawab atas segala penderitaan yang mereka alami (14).

Ternyata, walau mengalami penderitaan hebat, bangsa Israel tidak pernah melupakan Allah, Sang Pencipta hidup. Mereka tetap mengingat sejarah perjalanan bangsanya. Dari situ, bangsa Israel menemukan kenyataan bahwa Allah begitu mengasihi dan menyertai mereka (1-9).

Karena itu, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk berhenti memercayai Allah. Sebab, apa pun yang terjadi dalam hidup ini, Allah tetap dan akan selalu menyertai. Walaupun badai penderitaan melanda, tidak ada alasan untuk mengkhianati Allah dan perjanjian dengan-Nya (18).

Di tengah-tengah kehidupan kita sehari-hari, mungkin, adakalanya penderitaan hebat menghimpit hidup ini. Akibatnya, muncullah perasaan bahwa Allah telah meninggalkan dan melupakan kita. Percayalah bahwa sesungguhnya Allah tetap berkuasa atas segalanya. Kasih setia-Nya berkuasa untuk membebaskan kita dari segenap penderitaan, asalkan kita tetap setia kepada-Nya.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk mampu melihat kasih setia-Mu di balik setiap pergumulan. Ajar kami senantiasa mensyukuri hidup ini. [WN]







Kekuatan dalam Kelemahan
Posted on Jumat, 18 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 12:1-10

Walaupun Rasul Paulus pernah mendapat penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan khusus dari Tuhan tentang sorga, dia beranggapan bahwa sebenarnya tidak ada faedahnya menceritakan pengalaman-pengalaman itu kepada jemaat (12:1-4). Selain itu, Rasul Paulus juga menyadari bahwa menceritakan pengalaman-pengalaman itu bisa membuat dirinya jatuh ke dalam dosa kesombongan. Untuk mencegah agar Rasul Paulus tidak menjadi sombong, Tuhan memberikan suatu duri di dalam dagingnya (12:7). Kita tidak bisa memastikan apa yang dimaksud dengan “duri di dalam daging” ini, tetapi ada kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah suatu penyakit di bagian perut yang menimbulkan rasa sakit (misalnya sakit maag atau sakit karena ada batu empedu). Rasa sakit ini sangat mengganggu pelayanan Rasul Paulus, sehingga “duri di dalam daging” ini juga disebut sebagai “utusan Iblis” yang menggocoh (meninju dengan keras) agar Rasul Paulus tidak menjadi sombong karena pengalaman spiritual yang ia alami. Rasul Paulus telah tiga kali berseru (berdoa) kepada Tuhan agar ia dibebaskan dari gangguan “utusan Iblis” itu, tetapi Tuhan menjawab, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Akhirnya, Rasul Paulus bisa menerima keadaan itu dan ia berkata, “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (12:8-9). Kelemahan yang dia alami membuat ia bisa menikmati kekuatan yang berasal dari Tuhan (12:10).

Bacaan Alkitab hari ini merupakan peringatan bagi setiap orang yang memiliki kelebihan (kuasa, pengetahuan, kekayaan, pengalaman, dan sebagainya) agar tidak menjadi sombong, serta merupakan dorongan bagi setiap orang yang memiliki kelemahan (penyakit, kesusahan) agar bergantung kepada kekuatan yang berasal dari Tuhan. Menyombongkan kelebihan maupun mengomel (mengeluh) karena kekurangan adalah dua penghalang yang membuat kita sulit mempersembahkan yang terbaik pada diri kita untuk kemuliaan Tuhan. Apakah Anda sering menyombongkan kelebihan Anda? Apakah Anda sudah bisa menerima semua kekurangan (penyakit, keterbatasan uang, keterbatasan pengetahuan, keterbatasan kuasa) dan tetap bisa bersyukur dalam segala situasi? [GI Purnama]




October 21, 2019, 07:51:13 AM
Reply #2063
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23970
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Allah, Kota Bentengku
Posted on Minggu, 20 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 46

Setiap orang memiliki pergumulannya masing-masing. Tidak satu pun dari kita manusia yang bisa melepaskan diri dari pergumulan dan kesesakan hidup. Kehidupan yang tanpa masalah adalah sebuah kemustahilan. Sebagai orang percaya, kita pun tak luput dari problematika kehidupan. Pergumulan bisa saja datang silih berganti. Namun, hanya satu yang tetap, yakni Tuhan sumber pertolongan kita.

Bangsa Israel selalu berpegang teguh pada satu keyakinan. Mereka percaya bahwa Allah adalah sumber pertolongan serta perlindungan. Keyakinan ini, oleh pemazmur, digambarkan dengan Allah sebagai ”Kota Benteng”. Artinya, Allah, selayaknya benteng, akan selalu berdiri teguh melindungi manusia dari mara bahaya. Ia adalah penolong dalam kesesakan.

Bahkan, pemazmur melukiskan Allah dengan cara yang dahsyat. Ia mengatakan sekalipun bumi berubah dan gunung-gunung berguncang manusia akan tetap merasa aman (2-3). Biarpun perang berkecamuk dan bangsa-bangsa saling menghancurkan, Allah akan menjadi Kota Benteng yang teguh. Ia akan tetap menjaga orang-orang yang berdiam di dalamnya. Bahkan pada akhirnya, Ia akan mendatangkan kedamaian pada dunia.

Dalam hidup ini, pergumulan hebat pasti pernah menimpa kita. Dalam kondisi itu, mungkin reaksi kita adalah pergi menjauhi Allah. Kita bahkan mungkin melancarkan protes kepada-Nya atas keadaan yang terjadi. Alih-alih masuk dalam dekapan Allah, Sang Kota Benteng yang teguh, kita malah dengan sengaja pergi menjauhi-Nya.

Pada hari ini, kita diingatkan oleh pemazmur. Ia menasihati agar kita yakin dengan iman yang teguh kepada Allah pada saat kita mengalami pergumulan hidup. Ia adalah Kota Benteng yang teguh sehingga di dalam Allah saja kita berdiam, merasa aman, dan tenteram.

Doa: Tuhan, tuntunlah dan mampukan kami untuk percaya kepada-Mu sepenuhnya dalam hidup kami. Biarlah pergumulan yang hadir dalam hidup kami adalah alasan agar kami semakin mengenal mengasihi-Mu. [WN]







Apakah Kristus Ada di dalam Kamu?
Posted on Minggu, 20 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 2 Korintus 13

Kunci kehidupan Kristen yang sukses adalah adanya kehadiran Kristus di dalam diri kita. Jika Kristus tidak ada di dalam diri kita, kita tidak akan tahan uji (13:5). Kita harus menyadari bahwa diri kita sebenarnya lemah. Rasul Paulus pun mengakui bahwa dia adalah seorang yang lemah (2 Korintus 13:4). Tanpa Kristus, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5). Tanpa Kristus, kita tidak akan sanggup melawan keinginan hawa nafsu kita, sehingga mau atau tidak, kita tetap akan melakukan dosa. Keinginan untuk melakukan dosa itu adalah ujian terhadap iman kita. Di dalam Kristus, kita akan sanggup menghadapi semua ujian terhadap iman kita. Harapan Rasul Paulus agar jemaat Korintus berusaha menjadi sempurna dalam melakukan kehendak Allah (13:11) hanya dapat terwujud bila mereka berdiam di dalam Kristus. Bila Kristus diam di dalam diri kita, kita memiliki kuasa yang tak terbatas yang membuat kita sanggup melawan dosa dan melakukan kebenaran (bandingkan dengan Galatia 2:20).

Apakah Anda sudah memiliki keyakinan bahwa Kristus berdiam di dalam diri Anda (bandingkan dengan pertanyaan dalam 2 Korintus 13:5)? Bila Anda belum yakin, Anda perlu memeriksa kembali keyakinan Anda tentang berita Injil, yaitu bahwa Kristus telah menerima hukuman Allah dengan mati di kayu salib untuk menggantikan orang berdosa, sehingga setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dibebaskan dari hukuman Allah dan menerima hidup yang kekal (menerima kehidupan baru di dalam Kristus sehingga menjadi ciptaan baru—2 Korintus 5:17). Orang yang percaya kepada Kristus menjadi ciptaan baru karena Kristus berkenan untuk tinggal di dalam kehidupannya melalui kehadiran ROH KUDUS (bandingkan dengan Efesus 1:13). ROH KUDUS yang berdiam di dalam kehidupan semua orang yang percaya kepada Kristus inilah yang membuat orang percaya sanggup menghadapi ujian iman yang terus muncul dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana dengan Anda: Apakah Anda selalu tegak dalam iman saat menghadapi masalah dalam kehidupan Anda. Bila Anda gagal, segeralah datang kepada Allah yang selalu setia terhadap umat-Nya, mengakui segala dosa kita, dan memohon kekuatan untuk kembali melawan dosa. Jangan pernah putus asa dan teruslah mengejar kesempurnaan (1 Yohanes 1:9; 1 Korintus 10:13; 2 Korintus 13:11; Matius 5:48). [GI Purnama]



October 22, 2019, 05:11:00 AM
Reply #2064
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23970
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Allah adalah Raja Semesta
Posted on Senin, 21 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 47

Jika melihat dan merenungkan keberadaan bangsa ini, sering kali kita menjadi khawatir. Persoalan demi persoalan hadir dan mengusik kemajuan bangsa yang selalu kita impikan. Dalam situasi ini, sebagai orang percaya, kita bisa memilih bersikap positif atau pun sebaliknya.

Ketika nas ini ditulis, bangsa Israel pun sedang mengalami berbagai masalah. Namun, mereka berjuang untuk tetap merespons segala sesuatunya dengan positif.

Lantas bagaimana caranya agar dapat berpikir positif atas pergumulan bangsa yang sedang terjadi? Salah satu caranya adalah dengan mengumandangkan bahwa Allah adalah Raja atas semesta. Mereka meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Tinggi adalah dahsyat. Ia merupakan Raja atas seluruh bumi (3). Buah dari pengakuan tersebut adalah seluruh bangsa di bumi merupakan kepunyaan Allah semata. Allah sebagai pemimpin segala bangsa. Pemazmur mendorong segenap bangsa untuk selalu mengingat kenyataan ini. Segala bangsa harus terus menyatakan kekaguman dan pujian mereka kepada Allah.

Allah menginginkan agar segenap bangsa sungguh tunduk pada ketetapan-Nya. Keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan seharusnya menjadi agenda bersama. Semua bangsa harus turut serta mewujudkan hal ini karena ketiganya merupakan bagian dari ketetapan Allah.

Sebagai orang percaya, sudah sepatutnya kita berserah kepada Allah. Marilah kita menyerahkan segala pergumulan bangsa kepada Sang Raja yang Agung. Doakanlah para pemimpin dan pengambil kebijakan agar diberikan kekuatan untuk memerintah. Kita doakan agar mereka mengedepankan perwujudan ketetapan Allah di dunia. Sebagai rakyat yang baik, kita pun harus terus mendoakan bangsa. Seraya itu, kita juga ikut berjuang untuk senantiasa berkontribusi positif terhadap kemajuan bangsa ini.

Doa: Tuhan, kami mau berserah sepenuhnya kepada pimpinan-Mu. Pimpinlah bangsa ini agar bisa menjadi alat kemuliaan nama-Mu. [WN]







Gereja Berada di Dunia
Posted on Senin, 21 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca:  Yohanes 17:9-21 ; Matius 5:13-16

Gereja—sebagai persekutuan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus—diutus untuk berada di dunia (Yohanes 17:18). Gereja belum berada di sorga! Penekanan ini penting: Gereja harus memberi dampak terhadap dunia! Kata untuk “dunia” dalam bahasa Yunani adalah  (baca: kosmos). Kata “Kosmos” umumnya dipakai dalam arti yang terbatas, yakni untuk manusia di alam semesta ini. Kosmos menunjuk kepada “Dunia yang Teratur”. Akan tetapi, melalui pelanggaran satu orang (yaitu Adam), dosa telah masuk ke dalam dunia (Roma 5:12). Sebagai akibatnya, dunia telah menjadi dunia yang tidak teratur di dalam cengkraman si jahat (1 Yohanes 5:19). Karena dunia telah tercemar oleh dosa, maka dunia membutuhkan Pribadi yang suci yang dapat menyucikan dunia. Dunia bukanlah surga! Dunia bukan tempat yang steril dari dosa! Gereja tidak di karantina di tempat yang bebas gangguan. Di dunia yang telah tercemar itulah gereja ditempatkan.

Bila kita tidak sadar bahwa gereja diutus ke dunia yang telah tercemar, gereja tidak akan bisa berfungsi dengan baik. Pada gilirannya, orang-orang Kristen (Gereja) tidak akan terdorong untuk melakukan fungsi sosialnya di tengah dunia ini. Gereja hanya akan berpikir dan bergelut tentang bagaimana membawa orang berdosa ke surga, dan tidak akan pernah memikirkan  bagaimana menularkan nilai-nilai yang khas kristiani di tengah dunia yang sudah rusak ini. Sebagian orang Kristen memahami pengutusan hanya sebagai pemberitaan injil melalui kesaksian secara verbal, tetapi tidak pernah menyentuh aspek sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam doa-Nya yang terakhir, Tuhan Yesus berdoa bagi murid-muridNya dan mengutus mereka ke dalam dunia. Pengutusan ini ditegaskan pula oleh Tuhan Yesus dalam khotbah di bukit, yaitu  bahwa orang percaya adalah garam dan terang dunia.  Sebagai “garam dunia” dan “terang dunia”, gereja semestinya memiliki fungsi yang penting bagi dunia yang telah dirusak oleh dosa ini. Orang percaya dituntut untuk menjaga citra diri sambil hidup berbaur di tengah masyarakat, agar fungsi sebagai garam dunia dan terang dunia dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Sebagai seorang Kristen, Marilah kita bersungguh-sungguh menyadari bahwa kita berada di dunia dan kita harus dapat berfungsi dengan baik. [GI Laazar Manuain]



October 23, 2019, 06:05:55 AM
Reply #2065
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23970
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Gereja dan Tanggung Jawab Sosial
Posted on Selasa, 22 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca:  Yeremia 29:1-7

Sepanjang sejarah, umat Allah dituntut untuk memberikan nilai dan dampak yang positif dalam kehidupan sosial masyarakat. Adam Ferguson, seorang Pemikir Skotlandia, memunculkan istilah “ Civil Society ” yang menunjuk pada suatu masyarakat sipil non pemerintah yang beradab dan menghargai hak-hak asasi anggotanya.Gereja termasuk civil society yang harus berperan serta dalam mengusahakan masyarakat yang adil, makmur dan berkeadilan sosial. Dalam pemaknaan ini, tampaknya gereja perlu memikirkan kembali tentang perannya dalam kehidupan sosial. Pemikiran kembali ini diharapkan bisa memberi pencerahan yang diperlukan bagi terciptanya sebuah teologi yang seimbang. Apabila gereja lemah atau sama sekali tidak pernah mengajarkan tentang partisipasi sosial, maka jemaatnya bisa mengabaikan realitas sosial.

Gereja sering hanya mengurus hal-hal yang terkait dengan ritual ibadah semata serta melupakan tanggung jawab sosial. Dalam merancang program pelayanan gereja, berapa besar persentase dana untuk kegiatan dan persentase dana untuk pelayanan sosial?

Ketika umat Allah dibuang ke Babel, Tuhan berbicara kepada nabi Yeremia untuk mengingatkan umat Allah akan tanggung jawab sosial mereka. “Usahakanlah…. berdoalah….” (Yeremia 29:7). Mengusahakan kesejahteraan kota harus menjadi tindakan yang intensional (disengaja) untuk kebaikan “kota” atau tempat umat Allah berada.  Tanggung jawab ini tetap melekat pada umat Allah di sepanjang sejarah.

Gereja perlu memikirkan pelayanan yang seimbang. Melalui pelayanan yang seimbang, kita belajar untuk semakin mengenal Tuhan. Adalah keliru bila gereja hanya menekankan relasi secara vertikal (hubungan manusia dengan Tuhan) dan mengabaikan relasi secara horizontal (hubungan manusia dengan sesamanya).Gereja harus mengajar jemaat untuk mengasihi Tuhan dan sekaligus mengasihi sesama (dalam lingkup sosialnya). Sering kali, sikap gereja lemah (tidak bersuara) terhadap pelanggaran HAM dan ketidakadilan sosial. Kebanyakan gereja hanya merasa perlu mengajarkan pokok-pokok Alkitab terhadap anggotanya, namun tidak mengajarkan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Kiranya Tuhan menolong kita dan gereja kita untuk berperan serta melaksanakan tanggung jawab sosial. [GI Laazar Manuain]




October 24, 2019, 05:35:44 AM
Reply #2066
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23970
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Allah Adalah Sandaran
Posted on Rabu, 23 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 49

Pada masa kini, dunia mengajarkan bahwa kekayaan, status, dan jabatan adalah syarat untuk memperoleh kebahagiaan. Maka tidaklah mengherankan jika orang-orang menghalalkan segala cara untuk memperoleh ketiganya.

Mazmur 49 merupakan sebuah peringatan akan kecenderungan hidup yang demikian. Bagi Tuhan, semua manusia adalah setara. Allah tidak membedakan mereka yang kaya atau miskin; berjabatan atau tidak (1-5). Dalam hal ini, kita bisa menyimpulkan bahwa Allah tidak mengacu pada nilai yang ditetapkan dunia.

Bagi pemazmur, orang yang hanya mengandalkan dirinya dan kekayaannya sedang mengarahkan diri kepada kebinasaan. Pada akhirnya setelah ajal menjemput, bukankah semuanya akan tertinggal di dunia (18)? Karena itu, keselamatan orang percaya tidak terletak pada banyaknya harta atau tinggi rendahnya jabatannya. Keselamatannya ada pada sikap hidup yang selalu mengandalkan Allah semata.

Orang yang hanya mengandalkan Allah di dalam kehidupannya akan menemukan kebebasan di dalam hidupnya. Sukacita hatinya tidak bergantung pada apa pun, melainkan hanya pada keintiman relasinya dengan Allah. Relasi dengan Allah itulah satu-satunya hal yang kekal dalam hidup ini (16).

Pesan Allah melalui Mazmur 49 ini amatlah keras. Allah merombak pemikiran umat-Nya. Allah mengajarkan bahwa harta dunia tidak menjamin seseorang untuk memperoleh keselamatan jiwa. Seseorang tidak boleh mengandalkan dirinya sendiri, atau hartanya, apalagi jabatannya.

Mulai sekarang, kita jangan lagi memprioritaskan diri hanya untuk mencari kekayaan, status, dan jabatan. Apabila ini terjadi, kekayaan fisik kita mungkin saja semakin bertambah. Namun, pada saat yang sama, jiwa kita semakin miskin akan kehadiran dan relasi dengan Allah. Sadarilah bahwa Allah sajalah satu-satunya tempat kita bersandar.

Doa: Tuhan, mampukan kami untuk hanya menyandarkan hidup kami kepada-Mu saja. [WN]









Gereja dan Perubahan Zaman
Posted on Rabu, 23 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Lukas 12:54-59

Kita hidup dalam dunia yang terus berubah mengikuti zaman yang tak pernah berhenti berubah. Perubahan zaman ini “memaksa” gereja untuk ikut berubah (beradaptasi) agar gereja tidak tersingkir dan tetap dapat menjalankan fungsinya dalam dunia. Arus perubahan zaman ini tidak bisa dihentikan oleh siapa pun atau oleh kekuatan apa pun.

Bagaimana sikap Gereja dalam menghadapi perubahan zaman? Di sepanjang sejarah gereja, setiap zaman selalu memiliki ciri yang menonjol. Saat ini, kita berada pada zaman informasi. Arus informasi yang sangat pesat membuat banyak orang tidak memiliki fokus (terombangambing) dalam hidupnya. Arus nilai dunia yang begitu kuat membuat banyak orang bimbang dalam memilih mana berita yang benar dan mana yang hoax . Ada orang yang menolak kemajuan teknologi dan terus melanjutkan gaya pelayanan yang lama, tetapi ada orang yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk membuat pelayanan menjadi lebih efektif. Kemajuan teknologi bisa memudahkan kita dalam segala hal serta mengefisienkan waktu dan tenaga, tetapi bisa pula membuka akses ke arah hal yang negatif (penyebaran berita hoax, modus penipuan, dan sebagainya). Gereja harus belajar menilai zaman agar bisa memberi pelayanan yang tepat (sesuai dengan perubahan zaman).

Tuhan Yesus menegur orang banyak dengan keras atas ketidakpekaan mereka terhadap kondisi zaman. Mereka dapat melihat fenomena alam dengan jelas, tetapi mereka tidak bisa melihat krisis rohani yang ada di depan mata. Dengan mata jasmani, mereka bisa melihat dan menilai segala sesuatu. Akan tetapi, kebutaan rohani membuat mereka tidak bisa melihat krisis rohani yang ada di depan mata. Sebagai murid Tuhan Yesus, seharusnya mereka dapat melihat betapa seriusnya krisis rohani yang ada saat ini. Banyak orang meninggalkan Tuhan, memilih jalan sendiri dan hidup dalam dosa, hidup tanpa arah. Krisis rohani saat ini (ciptaan meninggalkan Sang Pencipta) merupakan masalah serius, bahkan merupakan tragedi yang serius, Tuhan Yesus datang ke dalam dunia untuk mati di kayu salib guna memulihkan relasi antara ciptaan (manusia) dan Sang Pencipta (Tuhan). Tuhan Yesus menyebut orang yang acuh tak acuh terhadap krisis rohani sebagai orang munafik atau orang fasik atau orang bodoh. Teguran Tuhan Yesus yang keras ini berlaku juga bagi setiap orang percaya di sepanjang zaman. [GI Laazar Manuain ]




October 25, 2019, 06:23:04 AM
Reply #2067
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23970
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Ibadah yang Sejati
Posted on Kamis, 24 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 50

Sering kali, kita merasa cukup baik kalau sudah rajin beribadah kepada Tuhan. Seolah, urusan kita dengan Tuhan hanya sebatas ritual belaka. Kemudian, kita beranggapan bahwa kehidupan sehari-hari adalah urusan kita semata; Tuhan tidak boleh ikut campur. Maka tidak heran bila di Indonesia tempat ibadah penuh sesak, namun ketidakadilan tetap marak. Kita hampir tidak melihat hubungan yang positif antara ketekunan menjalankan aktivitas agama dan perubahan perilaku sehari-hari.

Maka baiklah bila kita mendengar refleksi penulis mazmur dalam nas kali ini. Ia menggambarkan Allah sebagai Sang Pencipta yang memanggil umat-Nya untuk mendengarkan titah-Nya (1-6). Allah mengingatkan bahwa yang terpenting dari segala kurban persembahan adalah motivasi yang mendasarinya.

Bangsa Israel berusaha mencari kurban yang terbaik. Mereka percaya kualitas kurban atau ibadah yang dilakukan adalah sogokan agar Allah berbuat sesuatu. Padahal, bagi Allah yang terpenting adalah rasa syukur atas pemeliharaan-Nya. Inilah seharusnya yang tercermin melalui ritual-ritual tersebut (14).

Rasa syukur, yang mendasari ibadah orang percaya, harus tercermin pula dalam perilaku hidup sehari-hari. Allah mengkritik orang-orang fasik. Mereka rajin berkurban dan fasih akan ketetapan, hukum, dan peraturan dari Allah. Namun di sisi lain, mereka melakukan hal-hal yang mendukakan hati Tuhan (16-21). Orang-orang itu mengira bahwa mereka dapat menipu Allah, sebagaimana mereka menipu sesamanya lewat tampilan luar dengan jubah kegiatan agama.

Pada akhirnya, kebaikan-kebaikan Allah seharusnya menuntun kita untuk mewartakan kebaikan-Nya dalam hidup sehari-hari. Artinya, ibadah tidak berakhir di hari Minggu, tetapi juga berlanjut di hari-hari selanjutnya. Setiap hari, praktik hidup kita harus sama. Jika hari Minggu kita hidup jujur, pada hari yang lain pun kita mesti berlaku serupa.

Doa: Tuhan, mampukan kami untuk beribadah kepada-Mu setiap saat terutama melalui perilaku kami sehari-hari. [WN]







Gereja Yang Kudus dan Am
Posted on Kamis, 24 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 1 Korintus 3:10-17

Dalam pengakuan iman rasuli, kita menemukan perkataan “Gereja yang Kudus dan Am”. Dalam Alkitab, kata “gereja” atau “Jemaat” selalu menunjuk pada orang (segenap orang percaya), bukan pada tempat atau bangunan. Dr. Verkuyl menyimpulkan bahwa “Hakekat Gereja ialah umat Allah yang dipanggil dari antara segala bangsa, persekutuan orang-orang beriman dari segala zaman dan tempat, orang -orang jahat yang dibenarkan, dan kini dipanggil untuk memberitakan kebaikan Dia yang memanggil mereka keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib”.

Banyak kiasan dalam Alkitab yang menolong kita untuk mengerti makna gereja, yaitu antara lain: bangsa yang terpilih, umat yang kudus, imamat rajani, milik Allah, pengantin Kristus, dan bait Allah. Dengan kiasan-kiasan ini, orang percaya bertanggung jawab untuk hidup kudus di hadapan Allah (1 Petrus 1:15-16). Dalam perkataan “Gereja yang kudus dan am”, kata “kudus” berarti Allah memilih kita menjadi milik-Nya. Kita dikhususkan dari dunia ini untuk dipakai Allah. Kata “am” artinya umum atau universal. Jika kata “am” dipakai untuk gereja, maka gereja yang am berarti gereja yang bersifat universal atau yang maknanya adalah semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus di seluruh dunia dan sepanjang masa, tanpa memandang denominasi. Orang-orang percaya ini dipanggil bukan hanya untuk mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi, tetapi juga untuk hidup bersama saudara seiman yang lain. Dalam pengertian inilah, kita disebut sebagai gereja yang kudus dan am.

Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus dan semua orang percaya akan sesuatu yang seharusnya sudah mereka ketahui, yaitu bahwa mereka adalah bait Allah. Bait Allah adalah tempat suci. Dalam pengertian ini, Rasul Paulus menggunakan kata Yunani naos  (bait) untuk secara khusus menunjuk pada tempat kediaman Allah (1 Korintus 3:16). Jadi, Tuhan bukan hanya menciptakan kita, lalu bersikap tidak peduli. Akan tetapi, Ia memilih kita dari segala bangsa supaya kita menjadi terang dunia dan garam dunia yang memperkenalkan Allah dan kehendak-Nya terhadap dunia ini. Karena Allah yang kudus berkenan untuk berdiam dalam hidup kita, bolehkah kita hidup sembrono? Bolehkah kita meremehkan pilihan Tuhan atas diri kita dan kita tidak mempedulikan kehendak-Nya dalam kehidupan kita? [GI Laazar Manuain]




October 26, 2019, 06:13:49 AM
Reply #2068
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23970
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Sadarilah Dosamu
Posted on Jumat, 25 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 51

Semua manusia adalah makhluk berdosa dan tak luput dari kesalahan. Respons terhadap kesalahan inilah yang membedakan kita. Ada orang-orang yang mau mengakui dosanya. Mereka bergegas meminta ampun kepada Tuhan atas kesalahan yang telah dilakukan. Sebaliknya, ada juga orang yang tidak bersikap demikian. Mereka seperti tidak sadar akan perbuatan dosanya. Hal ini yang membuat perjalanan iman seseorang selalu berlika-liku, penuh tantangan, dan tidak pernah sama.

Bacaan saat ini merupakan doa dan refleksi iman Daud. Ia begitu menyesali dosanya dan memohon pengampunan kepada Allah. Secara khusus, doa penyesalan dosa ini terkait penyesalan Daud yang merampas Batsyeba, istri Uria.

Penyesalan dan pengampunan selalu diawali dengan pengakuan. Sebuah pengakuan yang didasarkan oleh kesadaran betapa rapuh diri yang penuh dosa ini (5). Dosa bagaikan belenggu yang menawan dan menjerat hidup manusia. Akibat dosa ialah rusaknya relasi dengan sesama dan Tuhan.

Daud sadar betul bahwa untuk memulihkan relasi itu, Tuhan perlu campur tangan. Berulang kali ia memohon pengampunan dan campur tangan Allah (10-12).

Daud yakin bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya. Sebab, Tuhan adalah pribadi yang penuh kasih terhadap umat-Nya. Ia akan mengasihani umat-Nya dan dalam rahmat-Nya manusia akan diberikan hidup yang baru (3).

Nas ini adalah pesan bagi kita saat ini. Ia mengajak kita agar selalu menyadari dan menyatakan dosa kepada Allah. Sering kali, kita berlagak seolah-olah bisa ”menyembunyikan dosa” dari Allah yang maha mengetahui segalanya. Padahal, tidak ada yang bisa bersembunyi dari dekapan kasih-Nya. Akuilah dosa kita di hadapan-Nya, maka pengampunan Allah pasti tersedia bagi kita. Sadarilah bahwa pulihnya relasi dengan Allah adalah satu-satunya yang berharga di dunia ini.

Doa: Tuhan, kami memohon rahmat-Mu untuk mengampuni dosa-dosa kami. [WN]







Gereja dan Visi Bersama
Posted on Jumat, 25 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Efesus 4:1-6

Hasil studi berkelanjutan dari dewan gereja-gereja sedunia, menghasilkan suatu dokumen yang diberi judul “The Church Towards a Common Vission”. Dokumen ini sangat bermanfaat untuk mendorong gereja-gereja di Indonesia menggumuli bersama pemahaman tentang gereja dan misi gereja dalam masyarakat Indonesia yang majemuk serta menyikapi perubahan zaman yang begitu cepat. Gereja-gereja di Indonesia merupakan bagian dari gereja di semua belahan dunia. Gereja adalah tubuh Kristus yang utuh. Gereja harus bersatu untuk menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di tengah realitas dunia yang ditandai konflik dan perpecahan. Gereja terpanggil dalam visi bersama untuk hadir dalam pergumulan-pergumulan dan ikut berperan memberi solusi untuk kemaslahatan (kebaikan) dunia. Gereja-gereja sedunia bagaikan arak-arakan oikumene (tanpa dibatasi oleh denominasi gereja) menuju suatu panggilan bersama demi kemuliaan Allah.

Dalam cakupan yang lebih kecil, setiap gereja lokal mempunyai visi tersendiri. Visi gereja lokal diberikan Tuhan kepada setiap komunitas anak Tuhan dalam suatu gereja. Kepada jemaat Efesus, Rasul Paulus memaparkan “visi“ yang secara umum harus dihayati dan dilakukan oleh setiap gereja: Pertama, setiap gereja harus mengajar jemaatnya untuk hidup berpadanan dengan panggilan sebagai pengikut Kristus (Efesus 4:1). Hidup berpadanan dengan panggilan adalah hidup berintegritas (ada kesamaan antara pengetahuan dengan perbuatan atau perilaku sehari-hari). Kedua, gereja harus bersatu. Setiap anggota gereja harus memiliki semangat kesatuan, Tanpa kesatuan, gereja tidak akan bisa berfungsi dengan baik. Sadarilah bahwa bersatu itu tidak harus berarti seragam. Bersatu bisa dilakukan dalam keberagaman. Kesatuan harus dipelihara (Efesus 4:3; Yohanes 17:21), bukan hanya secara internal dalam sebuah gereja, tetapi juga secara eksternal bersama gereja lain.

Kesatuan gereja dan kehidupan yang berpadanan dengan panggilan sebagai seorang Kristen akan menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah dalam dunia yang sudah rusak ini. Di dunia yang sudah rusak Inilah, gereja harus bergandeng tangan untuk menghadirkan shalom Allah (damai sejahtera Allah) dalam dunia. Sudahkah kita hidup berpadanan dengan panggilan kita? Sudahkah kita hidup dalam kesatuan sebagai satu tubuh, yaitu tubuh Kristus? [GI Laazar Manuain]



October 28, 2019, 11:57:56 AM
Reply #2069
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23970
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Tuhan Memulihkan Bangsaku
Posted on Minggu, 27 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. http://www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 53

Jika kita memperhatikan berita yang terjadi di negeri ini, selalu saja ada banyak masalah. Banyak pemberitaan yang membuat kita resah dan mengelus dada. Setelah membaca berita tersebut, terkadang yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa. Sebuah doa agar Tuhan memulihkan keadaan bangsa ini.

Doa yang kita panjatkan bisa menjadi senada dengan syair doa pemazmur pada nas kali ini. Ia prihatin terhadap kondisi bangsa-Nya. Ia memohon kepada Allah untuk mengamati Israel dari surga (3). Allah melihat begitu banyak kejahatan dilakukan oleh umat manusia. Mereka sudah menyimpang dari jalan yang telah ditetapkan oleh Allah. Bahkan, seolah-olah tidak ada lagi orang yang berbuat baik (4).

Namun bagi pemazmur, kondisi tersebut bukanlah akhir dari segala sesuatu. Allah mulai bertindak memulihkan bangsa Israel. Bagi orang-orang yang melakukan kekejian di mata Allah, mereka akan merasa gentar. Sebab, penghakiman akan segera menimpa mereka (6). Campur tangan Tuhan, pada akhirnya mendatangkan pemulihan besar bagi bangsa Israel (7).

Pada akhirnya, Allah tidak akan membiarkan umat-Nya hancur dan dibinasakan oleh kejahatan. Itulah sebabnya kita mesti berharap akan pemulihan Allah yang begitu dahsyat. Teladan kita adalah pemazmur ini. Ia tetap berdoa dan berharap kepada Allah, meski kondisi bangsanya terlihat sudah tanpa harapan.

Sekarang penting bagi kita untuk memiliki pengharapan yang sama dengan penulis mazmur. Ia optimis dan percaya bahwa Allah akan memulihkan Israel. Hal yang sama juga akan terjadi bagi kita. Allah pasti akan memulihkan keadaan bangsa Indonesia.

Kita pun bisa turut berpartisipasi dalam proses pemulihan itu. Caranya, jangan jemu-jemu mendoakan pemulihan bangsa ini kepada Tuhan. Doa akan menggerakkan kita untuk melakukan tindakan nyata sebagai wujud kepedulian atas bangsa ini.

Doa: Tuhan, pulihkanlah bangsa ini. Ajarilah kami untuk ikut mengambil bagian dalam pembangunan bangsa ini ke arah yang lebih baik. [WN]







Kepemimpinan Gereja Masa Kini
Posted on Minggu, 27 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Efesus 4:11-16

Di sepanjang sejarah gereja, secara umum dikenal 3 model sistem pemerintahan gereja, yaitu:

Pertama , model episkopal atau model hierarkis . Dalam model ini, kekuasaan tertinggi gereja berada di tangan seorang pengawas (uskup). Jadi, ada garis komando dari atas ke bawah.

Kedua , model presbiterian . Model ini berakar pada ajaran Calvin yang mengacu pada Efesus 4:11. Kekuasaan tertinggi gereja berada di tangan sejumlah penatua atau majelis yang dipilih oleh para anggota gereja. Pendeta merupakan salah satu penatua atau majelis.

Ketiga , model kongregasional yang dapat disebut sebagai sistem independen. Dalam sistem ini, kekuasaan tertinggi gereja berada di tangan anggota jemaat. Setiap gereja memiliki pemerintahan sendiri atau otonom. Hak suara setiap anggota jemaat menentukan perwakilan jemaat melalui pembentukan panitia untuk menjalankan pelayanan gereja. Walaupun secara umum hanya ada 3 sistem pemerintahan gereja, namun ketiga sistem pemerintahan gereja ini memiliki perkembangan atau variasi, khususnya dalam hal ikatan dan kerja sama dengan gereja-gereja lain yang memiliki kepercayaan (doktrin) dan sistem yang sama.

Ketiga sistem pemerintahan gereja di atas didasarkan pada Firman Tuhan. Akan tetapi, kurang bermanfaat bila kita memperdebatkan mana sistem pemerintahan gereja yang lebih baik atau lebih alkitabiah. Yang penting, setiap gereja harus memilih suatu pemerintahan gereja yang paling cocok bagi gereja tersebut. Seiring dengan perkembangan zaman, para pemimpin gereja harus dapat menyesuaikan diri dengan konteks dan zaman tempat gereja berada dan melayani. Dalam bacaan Alkitab hari ini, jelas bahwa para pemimpin gereja (rasul, nabi, pemberita Injil, gembala-pengajar) berasal dari Allah (4:11). Hal ini berarti bahwa para pemimpin gereja haruslah memiliki reputasi yang baik, memenuhi kualifikasi rohani yang baik, bijaksana, dan terus mengembangkan karunia rohani yang ada pada mereka untuk melayani. Para pemimpin gereja harus menolong (memperlengkapi) para anggota untuk melakukan pekerjaan pelayanan. Usaha memperlengkapi anggota jemaat untuk melayani ini lazim disebut sebagai memuridkan. Bila para pemimpin gereja memuridkan para anggota jemaat untuk melayani bersama, pelayanan gereja akan bisa terus berkembang. Tanpa pemuridan, pelayanan gereja akan terbatas perkembangannya. [GI Laazar Manuain /GI Purnama]


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)