Author Topic: Saat Teduh  (Read 66973 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

October 29, 2019, 06:32:45 AM
Reply #2070
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Tuhanlah Perlindunganku
Posted on Senin, 28 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 54

Pernahkah saudara mengalami situasi sukar dan tidak menyenangkan dalam hidup? Misalkan, saat harapan kita tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Kemudian, kondisi ini diperparah ketika masalah datang silih berganti menimpa seperti tiada henti.

Daud adalah Raja Israel yang luar biasa. Ia juga pernah berada dalam kondisi sukar dan tidak menyenangkan. Salah satunya ialah ketika Daud dikejar-kejar oleh Saul dan diancam akan dibunuh. Mazmur 54:1 mengingatkan kita akan peristiwa tersebut.

Mazmur 54 dipercaya sebagai doa Daud saat dalam kesesakan. Ia tahu bahwa hanya Tuhan sajalah yang mampu melindungi dan menolongnya (6). Tuhan menjadi satu-satunya penolong yang akan menjauhkannya dari orang-orang yang berniat jahat (5). Tuhan tidak seperti manusia karena Ia adalah sumber keadilan (3). Ia akan membela mereka yang benar dan menopang orang yang bersandar kepada-Nya.

Atas segala pertolongan yang diberikan Tuhan, pada dasarnya, Ia tak menuntut banyak. Ia hanya meminta kita untuk mengandalkan-Nya senantiasa dan bersyukur untuk segala karya-Nya.

Saat ini, mungkin berbagai permasalahan hidup sedang menghimpit kehidupan kita. Harapan seolah-olah hilang dan kita kehilangan semangat menjalani kehidupan. Bahkan, mungkin saja kita sudah sampai meragukan pemeliharaan Tuhan.

Jika hal itu terjadi, teduhkanlah hati dan pikiran kita. Marilah kita mengingat bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat perlindungan yang kukuh. Dialah yang menopang kita untuk melintasi badai kehidupan. Mari kita belajar dari Daud. Ia ditimpa banyak permasalahan hidup yang amat berat. Namun, ia tetap percaya bahwa Tuhan akan menolongnya dan melepaskannya dari kesesakan. Jangan berhenti berharap kepada-Nya, sebagaimana Allah juga tak pernah berhenti mengasihi kita.

Doa: Tuhan, ajar kami untuk selalu meyakini perlindungan dan pertolongan-Mu dalam hidup kami. [WN]








Gereja dan Diskriminasi
Posted on Senin, 28 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca:  Kisah Para Rasul 17:22-31

Diskriminasi adalah sikap atau tindakan yang tidak adil atau tidak seimbang yang dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu terhadap individu atau kelompok lainnya. Dengan kata lain, diskriminasi adalah perbedaan perlakuan terhadap sesama. Diskriminasi dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Diskriminasi terhadap sesama bisa dilakukan berdasarkan warna kulit, golongan, ras, ekonomi, sosial, gender, agama, dan sebagainya.

Mungkin kita bertanya, “Apakah diskriminasi dapat terjadi di gereja?” Jawabannya adalah bahwa hal itu mungkin saja terjadi. Diskriminasi dapat terjadi bila gereja atau anggota gereja tidak memahami hakikat manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Secara natural, semua orang merupakan gambar Allah dan rupa Allah. Dalam kedaulatan-Nya, Allah menciptakan manusia dengan keadaan baik, bahkan sungguh amat baik (Kejadian 1:31), dan semua manusia sama di mata Tuhan. Dosa membuat manusia melihat dirinya, budayanya, sukunya, rasnya, warna kulitnya, sebagai yang terbaik bila dibandingkan dengan yang lain. Perasaan superior (lebih tinggi, lebih baik) daripada orang lain ini membangkitkan sikap merendahkan, lalu muncullah sikap diskriminatif (membeda-bedakan).

Dalam khotbahnya yang terkenal di kota Athena (Kisah Para Rasul 17:16-34), Rasul Paulus menguraikan suatu visi alkitabiah tentang suatu masyarakat yang multirasial (terdiri dari banyak suku bangsa), bahwa Allah adalah Tuhan bagi semua ciptaan. Didalam Dia kita ada, kita hidup, kita bergerak. Dia adalah Bapa dari seluruh umat manusia. Diskriminasi merupakan kejahatan, bahkan merupakan dosa, di mata Tuhan. Mengenal Allah secara benar sebagai Pencipta atas seluruh umat manusia, seluruh ras, dan etnis akan berdampak pada sikap kita terhadap sesama manusia. Dengan demikian, akan tergenapi penglihatan Rasul Yohanes di pulau Patmos tentang gereja, ‘Kemudian daripada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun – daun palem di tangan mereka.” (Wahyu 7:9).  Inilah visi alkitabiah yang akan tergenapi saat parousia (Yesus Kristus datang untuk kedua kali) tiba. [GI Laazar Manuain]


October 30, 2019, 05:43:57 AM
Reply #2071
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Berhenti Khawatir
Posted on Selasa, 29 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 55

Tidak ada satu pun manusia yang hidup bebas dari persoalan. Selalu saja ada banyak persoalan yang merintangi kehidupan kita. Cara menyikapi sebuah persoalan menjadi suatu hal penting untuk dilatih oleh setiap orang.

Mazmur 55 merupakan cara pemazmur dan juga orang-orang sezamannya dalam menghadapi sebuah persoalan. Persoalan yang dibicarakan dalam konteks perikop ini ialah ketika seseorang dikejar-kejar oleh musuh dan mara bahaya. Dalam ayat 2-9 terlihat sebuah doa memohon pertolongan.

Mazmur ini malah terkesan memaksa Allah untuk bertindak. Kenapa timbul kesan demikian? Pemazmur merasakan mara bahaya yang mendekat dan mengancam hidupnya. Ia merasa tidak ada lagi yang bisa menolongnya kecuali Allah sendiri. Allah adalah sumber perlindungan dan pertolongannya. Jadi, pada dasarnya ia sama sekali tidak memaksa Allah. Justru, doa tersebut adalah simbol kebergantungan mutlak kepada Allah.

Pemazmur percaya bahwa Allah akan bertindak (17). Atas keyakinan tersebut, maka manusia tidak perlu merasa khawatir. Rasa cemas dan khawatir adalah hal yang wajar. Marilah kita serahkan segala kekhawatiran kepada Allah (23). Ia akan mendengar orang yang berseru kepada-Nya.

Mungkin, Tuhan mengizinkan manusia untuk merasakan pencobaan. Akan tetapi, pencobaan itu tidak selamanya hadir di hidup kita. Ia sendiri yang akan mengangkat manusia dari setiap pencobaan yang dialami.

Kini, kuatkanlah diri kita masing-masing dari setiap persoalan yang mungkin sedang dihadapi. Marilah kita berserulah kepada Allah dan mintalah pertolongan dari-Nya. Sebab, hanya Dialah satu-satunya sumber pertolongan kita. Kita tidak usah khawatir karena itu tidak memberikan solusi bagi persoalan. Kekhawatiran adalah simbol dari ketidakpercayaan kepada Allah. Kita mesti yakin bahwa Allah pasti memelihara hidup kita.

Doa: Tuhan ajarkan kami untuk tidak khawatir terhadap persoalan hidup yang sedang kami alami. [WN]







Gereja Itu Milik Tuhan
Posted on Selasa, 29 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 1 Petrus 2:1-10

Gereja adalah milik Tuhan, baik dilihat dari sudut pandang universal maupun lokal. Secara universal, gereja mencakup semua orang percaya mulai dari orang percaya yang berkumpul saat peristiwa Pentakosta terjadi sampai orang percaya yang diangkat untuk bertemu Tuhan Yesus saat Tuhan Yesus datang kedua kali (1 Tesalonika 4:13-17). Tuhan Yesus memilih orang percaya dari segala suku bangsa untuk dihimpun dalam suatu kumpulan besar orang percaya yang disebut Eklesia. Orang-orang percaya itu sebelumnya hidup dalam kegelapan dosa, kemudian bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus serta berpindah kepada hidup dalam terang. Orang-orang percaya itu bukan hanya sekadar dipilih Tuhan, tetapi mereka ditebus dengan harga yang telah lunas dibayar (1 Korintus 6:20). Karena orang-orang percaya itu adalah milik Tuhan, maka Tuhan akan melindungi dan membela mereka dalam segala situasi. Karena Pemilik gereja adalah Tuhan yang kudus, maka orang percaya harus hidup dalam kekudusan. Orang percaya harus mencerminkan kekudusan Allah dalam setiap aspek kehidupan. Rasul Petrus menyebut orang-orang percaya sebagai umat kepunyaan Allah (1 Petrus 2:9). Pilihan Allah semata-mata didasarkan atas anugerah, bukan atas usaha atau jasa manusia. Akan tetapi, ingatlah bahwa anugerah Allah disertai tanggung jawab untuk meninggalkan dosa, bertumbuh secara rohani, serta melayani Tuhan dan sesama.

Dalam pengertian sebagai gereja lokal, gereja juga merupakan milik Tuhan. Gedung dan seluruh aset gereja lokal adalah milik Tuhan. Semestinya, saat anggota jemaat hendak memberi persembahan kepada Tuhan, uang yang hendak dipersembahkan itu telah didoakan dan disiapkan, lalu dipersembahkan dengan segenap hati. Dengan demikian, semua yang dipersembahkan kepada Tuhan telah dikuduskan untuk Tuhan dan menjadi milik Tuhan. Oleh karena itu, seorang pun tidak ada yang boleh mengklaim persembahan itu sebagai milik pribadi atau mengambilnya sebagai milik pribadi.

Ketika Bait Suci akan dibangun kembali, Tuhan bersabda kepada nabi Hagai bahwa segala kemegahan bait suci itu adalah milik Tuhan. Bait Suci itu dikuduskan (dikhususkan) untuk Tuhan, tidak boleh di najiskan dengan sikap, tindakan atau perlakuan yang sembrono (Hagai 2:7-20). Kiranya Tuhan menolong kita untuk menyadari hal ini! [GI Laazar Manuaim]




October 31, 2019, 04:33:52 AM
Reply #2072
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Allah yang Kupercaya
Posted on Rabu, 30 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 56

Kita membutuhkan iman yang besar saat menantikan pertolongan Tuhan. Alkitab membuktikan bahwa penantian orang beriman tidak pernah berakhir sia-sia. Usaha memercayai Tuhan akan selalu berujung manis.

Daud ditangkap oleh orang Filistin di Gat. Saat itu, ia tengah melarikan diri. Ia sedang mencari tempat perlindungan dari kejaran Saul beserta tentaranya. Ini seperti keluar dari kandang singa, masuk ke mulut buaya. Daud merasa tidak ada tempat aman baginya.

Ayat 2-5 berisi permohonan Daud akan pertolongan Allah. Sebab, ke mana pun dia pergi selalu saja ada musuh yang memeranginya. Akan tetapi di saat yang sama, ia tetap percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya. Keyakinan ini menghilangkan rasa takutnya. Karena itulah ia berkata, ”Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Bagi Daud, orang yang berbuat jahat kepadanya akan mendapat balasan dari Allah. Sebab, Allah tahu kesusahan yang dialaminya dan Ia adalah Allah yang adil (8,10). Pertolongan baginya belum datang secara nyata. Namun, imannya mengatakan bahwa pertolongan dari Allah sedang datang bahkan sudah datang (14). Setelah kesusahannya lewat, ia akan membayar nazarnya kepada Allah (13).

Jika berada pada posisi Daud, pasti kita tidak mudah untuk tetap percaya kepada Allah. Belum selesai satu masalah, muncul lagi masalah lain telah mengintip di depan pintu. Berbagai masalah itu siap mendesak masuk dan menggerogoti jiwa kita.

Akan tetapi, dari peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan itulah kita akan melihat Allah. Kita akan melihat bagaimana Allah bekerja, mengenali-Nya, dan belajar untuk tetap percaya. Perjalanan ini memang tidaklah mudah sebab kepercayaan penuh kepada Allah memerlukan sebuah proses panjang. Rasa percaya kepada Allah bertumbuh lewat pengenalan kita akan Dia, baik melalui firman-Nya atau dari pengalaman bersama Dia.

Doa: Tuhan, bawa kami untuk lebih mengenal-Mu agar kami semakin tahu siapa Allah yang kami percaya. [IT]







Oikumene
Posted on Rabu, 30 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Yohanes 17:20-26

Kata oikumene berkaitan dengan kesatuan gereja. Gereja perlu bersatu dan bergandeng tangan untuk memberikan nilai yang khas kristiani dalam dunia ciptaan Allah. Kata oikumene berasal dari kata oikos yang artinya rumah atau tempat, dan mene atau menein yang artinya berdiam atau tinggal. Dunia bagaikan rumah besar yang di dalamnya berdiam atau tinggal segala mahkluk ciptaan Allah. Di dunia inilah, orang percaya (gereja) ditempatkan.  Oikumene sebenarnya adalah suatu istilah umum yang bisa diartikan sebagai bumi yang dihuni manusia. Dalam sejarah gereja, usaha-usaha Oikumene telah dan terus dilakukan agar tercipta suatu gereja Kristen yang esa.

Oikumene bukanlah sekedar aktivitas bersama atau suatu program atau target tertentu yang wajib dipenuhi (diusahakan) oleh setiap gereja, namun oikumene merupakan sikap iman yang mendorong gereja-gereja untuk bersama-sama melangkah pada tujuan dan arah yang sama. Arah dan tujuaan yang dimaksud adalah agar dunia percaya kepada Tuhan. Kesatuan gereja akan membuat gereja memiliki kekuatan yang lebih besar untuk melaksanakan tiga fungsi gereja, yakni persekutuan ( koinonia ), pelayanan kasih ( diakonia ), dan kesaksian ( marturia ). Panggilan dan fungsi gereja pada tataran teori dipahami oleh semua gereja. Namun, dalam aplikasi praktis, gereja sulit bersama-sama dalam satu kesatuan gerak pelayanan. Walaupun, pada hakekatnya, gereja adalah satu dalam Kristus, ego pribadi—yang menganggap gereja sendiri paling benar dan gereja lain salah, hamba Tuhan gereja sendiri paling benar dan hamba Tuhan gereja lain sesat— membuat gereja terkotak-kotak dalam denominasi masing-masing, dan pada gilirannya mengancam kesatuan gereja.

Sebelum naik ke surga, Tuhan Yesus sungguh-sungguh berdoa bagi para murid-Nya dan juga bagi orang-orang percaya yang akan percaya kepada Yesus Kristus melalui pemberitaan para murid-Nya. Ia berdoa agar orang percaya di segala tempat dan segala abad bersatu. Yesus Kristus yang adalah Tuhan pasti mengetahui apa yang akan terjadi terhadap para murid-Nya dan setiap orang percaya di dunia ini. Oleh karena itu, sebelum meninggalkan dunia ini dan naik ke surga, Ia berdoa bagi semua pengikut-Nya. Kesatuan yang sempurna membuat dunia dapat mengenal sumbernya. (Yohanes 17:23). [GI Laazar Manuaim]


November 01, 2019, 05:18:07 AM
Reply #2073
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Tetap Bernyanyi
Posted on Kamis, 31 Oktober, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 57

Nyanyian merupakan salah satu bentuk ekspresi perasaan manusia. Orang yang bersedih biasanya menyanyikan lagu sedih, begitu pun sebaliknya. Agak aneh terdengar jika orang sedih menyanyikan lagu bahagia atau sukacita. Tidak demikian dengan mazmur yang kebanyakan ditulis saat penulis sedang menghadapi masalah.

Salah satu dari mazmur itu adalah Mazmur 57. Mazmur ini ditulis saat Daud bersembunyi dalam gua untuk menghindar dari kejaran Saul (1). Daud begitu terdesak hingga dengan sangat memohon belas kasihan dan perlindungan dari Allah. Ia seperti berada di tengah-tengah singa yang siap melumatnya dengan gigi tajamnya (2, 5). Ia seperti berada di tengah-tengah musuh yang memasang jaring perangkap pada setiap langkahnya (7).

Dalam keadaan demikian, ia tetap percaya kepada Allah. Ia yakin Allah akan melindunginya seperti anak rajawali di bawah kepak sayap induknya (2). Ia tahu ketika berseru kepada Allah yang Maha Tinggi, Allah akan menyelesaikan perkaranya (3). Baginya, Allah begitu mulia hingga mengatasi langit dan bumi (6). Oleh Karena itu, Daud tetap menyanyi bagi Tuhan. Ia bermazmur bagi nama-Nya dengan permainan gambus dan kecapi. Ia senantiasa bernyanyi bahkan sebelum fajar menyingsing (8-12).

Mengapa Daud tetap memuji Tuhan sekalipun keadaannya tidak baik? Alasannya, Daud telah memasrahkan dirinya kepada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. Saat kita berada dalam keadaan di luar batas kemampuan, tidak ada jalan lain selain berserah kepada-Nya. Kita wajib memercayakan diri sepenuhnya kepada kuasa Tuhan. Sebab, apa pun yang kita perbuat tidak akan berdampak apa-apa, malahan mungkin akan memperburuk. Kita harus membiarkan Tuhan bekerja dengan cara-Nya. Kita mengikuti ke mana Tuhan memimpin dan membawa kita. Dalam proses itu, kita sambil tetap bernyanyi memuji Dia karena ada kuasa dalam puji-pujian kepada Allah.

Doa: Tuhan, ajar kami untuk tetap memuji-Mu, sekalipun pergumulan dan tantangan berat yang sedang kami alami dan hadapi. [IT]







Tuhan Menjaga Gereja-Nya
Posted on Kamis, 31 Oktober, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 16:13-19

Sebagaimana umat Israel adalah bangsa pilihan Allah, demikian juga orang percaya (gereja) adalah umat pilihan Allah. Baik umat Israel maupun gereja disebut sebagai umat kepunyaan Allah. Apa yang membedakan umat Israel atau gereja dari umat atau bangsa yang lain? Perbedaannya terletak pada kehadiran dan penyertaan Allah. Selama umat Israel dalam perjalanan di padang belantara, Allah hadir dan menuntun mereka dalam bentuk tiang api di malam hari dan tiang awan di siang hari sebagai bukti bahwa Tuhan menyertai dan menjaga umatNya (Keluaran 13:21).

Pada masa kini, Tuhan tetap dan terus menjaga gereja-Nya melalui penyertaan ROH KUDUS. ROH KUDUS terus-menerus menyertai kehidupan orang percaya, baik dalam proses pengudusan yang berlangsung seumur hidup maupun dalam membimbing orang percaya ke dalam seluruh kebenaran (Yohanes 16:13; 14:26). Karena Allah hadir di antara kita, menyertai orang percaya, apa yang harus kita takutkan? Dalam komunitas kita sebagai gereja, Tuhan menyertai kita. Tuhan menjaga gereja-Nya. Dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di kota Roma, terdapat “teriakan” yang lantang, “jika Allah di pihak kita siapakah yang akan melawan kita?” Tidak ada! Tuhanlah Pembela kita! (Roma 8:31-34).

Saat bercakap-cakap dengan para murid-Nya, Tuhan Yesus mengemukakan suatu pernyataan yang kuat “… di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat – K u dan alam maut tidak akan menguasai nya“ (Matius 16:18) . Tuhan menjaga gereja-Nya! Kata dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan menjadi “alam maut”  adalah hades . Dalam mitologi Yunani, kata hades menunjuk kepada dewa dunia bawah. Dunia bawah adalah tempat bagi orang mati. Padanan kata hades dalam bahasa Ibrani adalah sheol yang juga menunjuk kepada dunia orang mati. Hades  tidak bisa merebut jemaat Tuhan. Di sepanjang sejarah, gereja telah melewati berbagai tantangan dan ujian yang sangat hebat, tetapi gereja tetap ada dan bisa menjalankan tugas panggilannya di dunia yang berdosa ini. Kenyataan bahwa Tuhan sudah terbukti sanggup menyertai dan melindungi gereja-Nya di sepanjang sejarah sampai saat ini merupakan jaminan bahwa Tuhan yang sama akan sanggup untuk terus menjaga gereja-Nya sampai Tuhan Yesus datang kembali untuk kedua kalinya. [GI Laazar Manuain]




November 02, 2019, 05:30:27 AM
Reply #2074
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Mengkritik Pemerintah
Posted on Jumat, 1 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 58

Bagaimana sikap orang Kristen kepada pemerintah? Rasul Paulus menasihati untuk taat kepada pemerintah karena mereka ditetapkan oleh Allah (Rm. 13:1). Paulus juga menekankan bahwa pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikan rakyatnya (Rm. 13:4). Bagaimana jika pemerintah tidak mengusahakan apa yang baik bagi rakyat?

Daud tidak tinggal diam ketika raja tidak menjalankan kuasanya dengan baik. Dalam mazmur 58, Daud mengajak raja bercermin: ”Sungguhkah kamu memberi keputusan yang adil, hai para penguasa?” (2). Tugas raja adalah mengambil keputusan karena dialah pemimpin tertinggi di kerajaannya. Raja adalah benteng terakhir keadilan, di mana segenap rakyat mengalamatkan permasalahannya. Karena itu, raja dituntut bersikap seadil-adilnya.

Daud juga mengaitkan keadilan dengan kejujuran (2). Itu berarti raja harus bertindak jujur dan berhati bersih. Raja harus tidak berat sebelah dan bersikap terbuka. Keputusan yang diambil raja—yang merupakan wakil Allah—secara moral harus benar. Ketika raja tidak benar, Daud berani memberikan kritik.

Daud percaya bahwa raja merupakan wakil Allah di dunia ini. Sebagai wakil Allah, raja harus bertindak seturut kehendak Allah. Raja tidak boleh menjalankan kuasanya berdasarkan kemauannya sendiri. Kuasa itu dikaruniakan Allah bukan untuk menindas, tetapi untuk menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Ketika raja tidak menjalankan kehendak Allah, Daud berharap Allah menyatakan keadilan-Nya (7-12).

Bagaimana dengan kita? Panggilan seorang Kristen adalah mendoakan pemerintah dan menjalankan kewajiban sebagai warga negara dengan baik. Dan ketika pemerintah berbuat salah, kita juga dipanggil untuk mengingatkan pemerintah, tentu dengan cara yang benar, santun dan demokratis. Sebagaimana peribahasa: ”Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah.”

Doa: Tuhan, berikan kami kemampuan mengingatkan pemerintah dengan benar. [YM]







Ada Bagian Masing-masing
Posted on Jumat, 1 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 1

Kitab Bilangan diawali dengan dua perintah kepada Musa menyangkut bangsa Israel.

Perintah pertama adalah perintah untuk melakukan pencatatan jumlah semua laki-laki yang berusia 20 tahun ke atas di dua belas suku Israel (Catatan: Dalam penghitungan ini, keturunan Yusuf dihitung sebagai dua suku—yaitu Efraim dan Manasye—sedangkan suku Lewi tidak ikut dihitung) untuk dipersiapkan menjadi tentara Israel (1:2-3). Tentara itu disiapkan untuk berperang merebut Tanah Perjanjian.

Perintah kedua adalah perintah untuk menghitung jumlah semua laki-laki Suku Lewi yang berusia satu bulan ke atas (3:15), dan selanjutnya menghitung jumlah laki-laki suku Lewi berusia 30-50 tahun untuk melaksanakan tugas khusus, yaitu mengurus Kemah Suci dan seluruh kegiatan peribadatan di Kemah Suci atau Kemah Pertemuan (4:3).

Manakah yang lebih penting dari kedua perintah di atas? Kedua perintah tersebut sama–sama penting karena masing-masing perintah memiliki kepentingan tersendiri, sehingga kedua perintah itu harus ditaati. Dalam 1:54, dituliskan bahwa “orang Israel berbuat demikian; tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah diperbuat mereka.” Dalam sejarah bangsa Israel, kita sering melihat respons yang bertolak belakang dengan respons di atas, sehingga bangsa Israel sering disebut sebagai “bangsa yang tegar tengkuk”. Akan tetapi, kali ini, ternyata bahwa bangsa Israel memberi respons ketaatan terhadap perintah Allah melalui Musa.

Dalam Alkitab, terdapat banyak perintah yang harus kita taati sesuai dengan situasi yang sedang kita hadapi. Karena setiap orang menghadapi situasi yang berbeda, wujud dari ketaatan terhadap perintah Allah bagi setiap orang bisa berbeda-beda. Perbedaan wujud ketaatan bagi setiap orang percaya ini juga disebabkan karena setiap orang percaya memiliki karunia yang unik, yang berbeda dengan karunia yang diberikan Allah kepada orang lain. Akan tetapi, penerapan karunia yang berbeda-beda itu sama penting dan semuanya berguna bagi komunitas orang percaya. Oleh karena itu, kita tidak perlu (dan tidak boleh) membandingkan karunia (dan tugas) kita dengan karunia (dan tugas) orang lain. Marilah kita memuliakan Tuhan melalui ketaatan menjalankan karunia (tugas) yang telah dipercayakan kepada diri kita masing-masing. [GI Roni Tan]




November 03, 2019, 04:54:48 AM
Reply #2075
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Tuhan: Allah Semesta Alam
Posted on Sabtu, 2 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 59

Konteks Mazmur 59 adalah ketika Saul menyuruh orang mengawasi rumah Daud untuk membunuhnya (1). Saul berikhtiar membunuh menantunya. Ini bukan kali pertama. Sebelumnya, Saul telah melemparkan lembingnya kepada Daud, namun meleset. Jauh sebelumnya, Saul berupaya membunuh Daud dengan mengirimkannya ke banyak pertempuran dengan harapan mati dalam tugas, tetapi Daud selalu menang. Segala tindakan Saul didasari iri dan ketakutan bahwa Daud akan mengambil alih kerajaannya.

Menarik, dalam keadaan sebagai musuh nomor satu dari orang nomor satu di Israel, Daud menaruh harapannya hanya kepada Allah. Mazmurnya dimulai dengan permohonan agar dilepaskan dari musuh (2). Daud percaya bahwa Allah sanggup melepaskan dirinya dari orang-orang yang akan membunuhnya. Karena Tuhan, Allah semesta alam, adalah Allah Israel (6), maka tidak ada yang dapat terjadi di luar izin-Nya. Daud memercayakan dirinya kepada Allah.

Menarik pula disimak bahwa Daud tidak mengeluh tentang keadaannya. Mungkin kita berpikir bahwa Daud punya alasan untuk mengeluh. Bagaimanapun, Anak Isai itu tidak melakukan suatu kesalahan apa pun (4) sehingga Saul ingin membunuhnya. Orang-orang suruhan Saul pun agaknya menutup mata terhadap ketidakbersalahan Daud. Mereka hanya ingin menyenangkan hati raja.

Berkenaan dengan situasi yang dialaminya, Daud tidak melakukan pembelaan diri. Dia juga tidak angkat senjata untuk melawan orang-orang yang hendak membunuhnya, tetapi memercayakan semuanya kepada Allah. Meski situasinya penuh dengan ketegangan, Daud tetap bernyanyi tentang kekuatan dan kasih setia Allah (17).

Bagaimana dengan kita? Situasi yang dialami Daud bisa menimpa kita kapan saja. Kita bisa belajar dari Daud yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi menyerahkan semua persoalannya kepada Allah. Sebab Tuhan adalah Allah semesta alam.

Doa: Tuhan, mampukan kami menyerahkan diri kami sepenuhnya kepada-Mu! [YM]







Memelihara Identitas Kepunyaan
Posted on Sabtu, 2 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 2

Yakub memiliki dua belas orang anak yang berkembang menjadi dua belas suku Israel. Setiap suku Israel memiliki identitas masing–masing yang unik. Dalam identitas itu terdapat kebanggaan, loyalitas, dan simbol. Panji–panji dalam Bilangan 2 merupakan simbol dalam wujud bendera. Panji–panji itu tidak untuk disimpan, tetapi harus selalu dikibarkan, baik saat menempuh perjalanan maupun saat berhenti dan menetap di suatu daerah, bahkan juga saat berperang. Saat bangsa Israel melakukan perjalanan, panji–panji ini dibawa di barisan terdepan setiap suku. Saat mereka berhenti di suatu daerah, setiap suku berkemah di dekat panji-panji masing–masing suku (2:2). Jadi, saat dalam perjalanan maupun saat berhenti dan berkemah, setiap orang harus berkumpul dengan orang-orang sesuku dan mengikuti komando yang diberikan oleh pembawa panji-panji. Walaupun setiap suku Israel memiliki panji-panji masing-masing, pusat yang mempersatukan mereka semua adalah kehadiran Tuhan dalam Kemah Pertemuan. Kemah Pertemuan ini selalu ditempatkan di tengah-tengah perkemahan bangsa Israel.

Penekanan Tuhan terhadap identitas kesukuan dan kebangsaan amat penting bagi bangsa Israel. Selama tinggal di Tanah Mesir, identitas bangsa Israel adalah sebagai budak yang tidak memiliki hak atas dirinya sendiri. Setelah keluar dari Tanah Mesir, mereka memiliki identitas baru, yaitu identitas sebagai bangsa pilihan Tuhan. Panji-panji dan kemah pertemuan merupakan tanda yang selalu mengingatkan bahwa mereka memiliki identitas baru yang harus selalu mereka ingat dan mereka pertahankan.

Orang Kristen pada masa kini juga menerima identitas baru saat percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dulu, identitas kita adalah sebagai hamba dosa (yang tidak bisa menghindar dari perbuatan dosa). Akan tetapi, saat ini, identitas kita adalah sebagai anak-anak Allah (Yohanes 1:12; 1 Yohanes 3:1), dan sekaligus sebagai hamba-hamba Tuhan yang seharusnya hidup untuk melakukan kehendak Tuhan (bandingkan dengan Lukas 1:38). Identitas yang baru ini harus terus-menerus kita pertahankan dan kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari yang selalu berpusat pada Tuhan yang telah menyelamatkan kita, sehingga orang lain bisa mengenal Tuhan melalui kehidupan kita. Apakah Anda merasa bangga terhadap identitas baru yang telah Tuhan berikan pada diri Anda? [GI Roni Tan]




November 04, 2019, 06:04:11 AM
Reply #2076
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Bersandar pada Allah
Posted on Minggu, 3 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 60

Konteks Mazmur 60 adalah ketika Daud memerangi orang Aram-Mesopotamia dan orang Aram-Zoba, dan ketika Yoab pada waktu pulang telah memukul kalah dua belas ribu orang Edom di Lembah Asin (2). Baik Daud maupun Yoab berhasil mengalahkan musuh-musuh mereka. Pada waktu itulah, Daud membuat syair untuk diajarkan kepada umat Israel.

Di awal syair, Daud menekankan bahwa kekalahan Israel sebelumnya bukanlah karena musuh terlalu kuat. Bukan itu. Alasan utama kekalahan Israel adalah karena Allah membiarkan Israel mengalami kekalahan. Allah tidak lagi menjadi Pembela Israel. Sehingga dengan tegas, di awal syairnya, Daud memohon pemulihan dari Allah sendiri (3). Bagi Daud, Israel kalah bukan karena musuh terlalu kuat, dan jika menang pun, bukan karena Israel hebat. Semuanya itu karya Allah semata.

Daud percaya, meski Allah mengizinkan musuh membuat umat-Nya menderita, toh rasa kepemilikan Allah terhadap umat-Nya tidak pernah hilang (9). Terlebih, ketika umat Israel mengakui kesalahannya dan mohon pengampunan-Nya. Dan karena itulah, Daud memohon, ”Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sia penyelamatan dari manusia” (13).

Permohonan Daud didasari oleh pengakuan bahwa tak ada guna mengharapkan pertolongan manusia. Sebab, kemungkinan besar ada pamrih di balik pertolongan itu, yang malah merugikan diri sendiri. Lagi pula, pertolongan manusia bersifat sementara dan mudah berubah. Kalau hari ini mereka menolong kita, bisa jadi besok mereka lebih suka memikirkan diri mereka sendiri.

Berharap hanya kepada Allah merupakan tindakan jitu karena kasih setia Allah kekal sifatnya. Dia senantiasa mengingat umat-Nya, meski umat sering melupakan-Nya. Ketika kita terus menyandarkan diri kepada kasih setia Allah, dan bukan kepada manusia, maka pertolongan Allah nyata. Daud telah membuktikannya. Bagaimana dengan Anda?

Doa: Tuhan, kuatkanlah percaya kami untuk tetap bersandar hanya kepada-Mu! [YM]







Khusus Untuk Melayani Tuhan
Posted on Minggu, 3 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 3

TUHAN telah menetapkan suku Lewi sebagai suku yang dikhususkan untuk melayani Tuhan dan menyelenggarakan peribadatan di Kemah Suci atau Kemah Pertemuan. Hanya suku Lewi yang memiliki hak untuk melayani Tuhan di Kemah Pertemuan. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa ayat yang mengatakan bahwa orang awam yang mendekat (ke tempat kudus) harus dihukum mati (3:10,38). Perhatikan bahwa pencatatan suku Lewi yang dimulai dari laki–laki berusia satu bulan (3:15) menunjukkan bahwa orang yang dipanggil untuk melayani Tuhan sudah dikhususkan untuk Tuhan sebelum pelayanannya dilaksanakan. Pengkhususan suku Lewi ini menunjukkan bahwa status dan peran Suku Lewi sebagai pelayan dan penyelenggara peribadatan (3:31) sangatlah penting.

Apakah kekhususan suku Lewi masih tetap berlaku sampai saat ini? Karya penebusan di kayu salib yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus telah membuat sistem peribadatan yang diselenggarakan pada masa kini berbeda dengan sistem peribadatan pada masa Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru, kita mengenal istilah “imamat yang rajani” (1 Petrus 2:9). Status sebagai “imamat yang rajani” diberikan kepada orang percaya yang telah memperoleh keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Oleh karena itu, sebagaimana Suku Lewi bertugas untuk melayani di Kemah Suci, orang percaya juga dipanggil untuk melayani Tuhan, baik dalam gereja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Hanya orang yang percaya kepada Tuhan Yesus yang mendapat panggilan untuk melayani Tuhan. Ingatlah bahwa setiap orang—yang telah memperoleh keselamatan di dalam Kristus—dipanggil untuk melayani Allah.

Saat membaca kisah tentang Suku Lewi yang dikhususkan untuk melaksanakan pelayanan di Kemah Suci, ingatlah bahwa semua orang percaya—sebagai umat pilihan Allah—didorong untuk merespons panggilan Tuhan untuk melayani Dia sesuai dengan karunia yang telah Tuhan berikan kepada setiap orang percaya (1 Petrus 4:10). Apakah Anda telah memperoleh keselamatan yang tersedia di dalam Tuhan Yesus Kristus? Bila Anda telah memperoleh keselamatan, apakah Anda telah merespons panggilan untuk melayani Dia? Pelayanan apa yang pernah Anda lakukan dalam kehidupan Anda selama ini? Bila Anda belum merespons panggilan untuk melayani, segeralah untuk mulai merespons panggilan Allah tersebut! [GI Roni Tan]



November 05, 2019, 05:49:18 AM
Reply #2077
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Doa bagi Raja
Posted on Senin, 4 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 61

Kekuasaan cenderung korup, kekuasaan mutlak pasti menyimpang. Demikianlah adagium Lord Acton tentang kuasa. Sepanjang sejarah, adagium ini terbukti benar. Sebut saja: Julius Caesar, Hitler, dan diktaktor lainnya. Juga di Indonesia. Sebagian besar kasus korupsi menimpa orang-orang yang mempunyai kuasa, entah kuasa eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.

Daud memahami besarnya kuasa raja yang cenderung menyimpang itu. Dia sejatinya korban dari raja yang tak mampu mengelola kuasa. Rasa iri—karena rakyat tampaknya lebih menyukai Daud (1Sam. 18:6-9)—membuat Saul menggunakan kuasa yang ada di tangannya untuk membunuh Daud. Dan karena itulah, Daud memohon perlindungan kepada Allah (4). Daud percaya bahwa kuasa sejati berasal dari Allah. Allah adalah Raja segala raja.

Yang menarik dari Daud—yang merupakan korban kesewenang-wenangan raja—adalah dia tidak meminta Allah menghukum raja, tetapi malah mendoakannya. Perhatikan doa Daud: ”Tambahilah umur raja, tahun-tahun hidupnya kiranya sampai turun-temurun; kiranya ia bersemayam di hadapan Allah selama-lamanya, titahkanlah kasih setia dan kebenaran menjaga dia” (7-8).

Daud memohon berkat Allah atas raja. Tampaknya Daud memahami bagaimanapun buruknya sikap dan perilaku raja, dia tetap membutuhkan berkat Allah. Daud memahami bahwa jika raja punya banyak masalah, maka seluruh kerajaan pasti akan merasakan imbasnya. Karena itu, ia mendukung raja dalam doanya.

Daud juga berdoa agar raja mau bersemayam di hadapan Allah selamanya. Duduk di hadapan Allah akan membuat raja memahami bahwa kuasa, sebesar apa pun, hanyalah dari Allah asalnya. Sebesar apa pun kuasa raja pastilah masih di bawah kuasa Allah. Duduk di hadapan Allah akan membuat raja senantiasa tunduk dan menjalankan kuasanya dengan kasih dan kebenaran.
Berhadapan dengan kuasa yang cenderung korup, Daud punya langkah jitu, yakni: doa. Bagaimana dengan Anda?

Doa: Tuhan, mampukan kami dengan tulus berdoa bagi pemerintah! [YM]







Tiap Orang, Tiap Bagian
Posted on Senin, 4 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 4

Bilangan 4 membahas sensus (4:2-3, 22, 29-30) dan pemberian tugas bagi Bani Kehat (4:4-20), bani Gerson (4:24-28) dan Bani Merari (4:31-33). Kata “bani” berarti “anak cucu” atau “keturunan”. Kehat, Gerson, dan Merari adalah anak-anak Lewi, sehingga ketiga bani itu merupakan keturunan Lewi. Suku Lewi adalah suku yang dikhususkan oleh TUHAN untuk melayani dalam peribadatan di Kemah Pertemuan. Oleh karena itu, penunjukkan tugas terhadap ketiga bani tersebut—untuk mereka yang berusia di antara 30 sampai 50 tahun—merupakan hal yang lumrah dilakukan. Secara jelas, TUHAN memberikan tugas yang harus mereka lakukan serta menyampaikan apa yang dilarang untuk dilakukan. Bila larangan Allah dilanggar, mereka akan menghadapi kematian (4:15, 18-20)

Masing–masing bani dalam suku Lewi mendapat tugas yang berbeda dari Tuhan. Bani Kehat bertugas mengurus barang–barang yang mahakudus seperti tabut, meja, kandil, mezbah dan perkakas tempat kudus (4:4). Bani Gerson bertugas mengurus  tirai pintu Kemah Pertemuan, di sekeliling Kemah Suci dan mezbah (4:24–25). Bani Merari bertugas mengurus papan kemah suci, kayu lintang, alas dan segala perabotannya (4:31-32). Semua tugas tersebut dilakukan secara terstruktur dan tertata dengan baik karena ada orang yang ditunjuk untuk menjadi penanggung jawab (4:49). Tujuan dari pembagian tugas itu adalah agar semua kegiatan peribadatan di Kemah Suci bisa terlaksana dengan baik.

Penugasan pada keturunan Lewi ini mengingatkan kita bahwa setiap orang percaya memiliki peran masing–masing dalam keluarga Tuhan. Kepelbagaian peran itu bukan sekadar berdasarkan kemauan kita semata, tetapi berdasarkan pengaturan Tuhan sendiri. Tuhan telah memberikan tugas kepada kita masing-masing sesuai dengan karunia yang telah Dia berikan kepada kita. Dia menginginkan agar kita melakukan tugas itu dengan setia. Oleh karena itu, kita harus terus bergumul agar bisa mengerti dan melaksanakan pelayanan yang telah Tuhan percayakan kepada kita dengan setia dan dengan penuh ucapan syukur. Bila kita masih bingung atau bergumul dalam melayani, mulailah dengan melakukan pelayanan yang telah tersedia dengan setia dan dengan dilandasi kasih kepada Tuhan. [GI Roni Tan]
November 06, 2019, 05:30:18 AM
Reply #2078
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Tenang Dekat Allah
Posted on Selasa, 5 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 62

Hanya dekat Allah saja aku tenang (2). Demikianlah Daud memulai Mazmurnya. Ini merupakan pengakuan iman. Dari pengakuan ini, Daud paham kebutuhan terdalam manusia, yakni rasa tenang. Situasi yang sangat cepat berubah sering membuat manusia merasakan kecemasan. Rasa cemas yang berlebihan akan membuat manusia tidak mampu melakukan apa pun. Dalam situasi seperti ini, sejatinya manusia hanya membutuhkan ketenangan. Rasa tenang membuat manusia berpikir jernih, dan akhirnya mampu mengambil keputusan.

Ketenangan Daud tentu bukan tanpa dasar. Daud tenang karena Allah adalah sumber keselamatannya (2). Sejak lahir, manusia butuh diselamatkan. Tangisan pertama merupakan bukti bahwa manusia merasa tidak aman dan nyaman di dunia. Dia butuh selamat. Ungkapan selamat—misalnya: ”Selamat Pagi!” (KBBI: mudah-mudahan selamat pada pagi hari ini)—memperlihatkan bahwa manusia memang butuh keselamatan. Dan Allah merupakan sumber keselamatan sejati.

Alasan kedua, Allah adalah sumber pengharapan (6). Manusia tidak pernah tahu hari esok. Manusia hanya bisa berharap bahwa hari esok akan lebih baik dari hari ini. Ada juga yang mencoba meramal, dan memegang ramalan itu. Tetapi, tidak ada seorang pun yang dapat memastikannya. Tetapi Allah tahu, dan karena itulah, Dia dapat diandalkan sebagai sumber pengharapan.

Daud selanjutnya mengajak umat untuk mencurahkan isi hati kepada Allah (9) karena Allah itu kasih dan berkuasa mewujudkan kasih-Nya (12-13). Allah adalah Pribadi yang mau dan mampu menolong. Meminta tolong kepada orang mampu, namun tidak mau menolong, akan membuat kita frustasi. Meminta tolong kepada orang yang mau menolong, tetapi tidak mampu, akan membuat orang itu frustrasi. Meminta tolong kepada Allah merupakan tindakan iman yang terbaik karena Dia kasih dan berkuasa.

Curahkanlah isi hati Anda kepada Allah! Hal ini hanya bisa terjadi saat Anda dekat Allah.

Doa: Tuhan, raih kami untuk dekat kepada-Mu! [YM]







Kekudusan Menuntut Pengudusan
Posted on Selasa, 5 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 5

Kekudusan Tuhan merupakan salah satu tema penting dalam Perjanjian Lama. Istilah “kudus” berarti “dikhususkan, diistimewakan, dipisahkan, diabdikan kepada”. Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa diri-Nya adalah kudus. Kekudusan Tuhan menuntut adanya aturan dan tindakan Tuhan yang menunjukkan kekudusan-Nya. Selain itu, Tuhan menuntut bangsa Israel untuk menghormati kekudusan-Nya. Bila bangsa Israel melanggar kekudusan Tuhan, mereka akan menerima hukuman berupa tulah (kemalangan), penyakit, dan bahkan kematian.

Kekudusan Tuhan membuat Ia menuntut agar bangsa Israel menjadi umat yang kudus. Oleh karena itu, kekudusan menjadi cermin bagi kita untuk memahami setiap larangan, penghukuman, pengucilan, dan hukuman mati yang dikenakan pada bangsa Israel. Bilangan 5:1-4 membicarakan tentang orang yang sakit kusta, orang yang mengeluarkan lelehan, dan orang yang menjadi najis karena menyentuh mayat. Perintah Tuhan jelas, yaitu agar mereka yang najis diasingkan dari antara bangsa Israel (5:3). Setelah mendengar perintah tersebut, bangsa Israel berbuat seperti yang Tuhan perintahkan. Mereka yang najis itu baru boleh kembali dalam komunitas setelah mereka dinyatakan sembuh/tahir. Perintah tersebut adalah tindakan untuk menguduskan bangsa Israel, agar mereka yang masih sehat tidak tertular oleh mereka yang sedang berstatus najis.

Kekudusan Tuhan menuntut pengudusan hidup kita. Puji Tuhan! Tuhan tidak hanya sekedar menuntut, tetapi Ia juga menyertai umat-Nya dengan maksud agar umat-Nya hidup dalam kekudusan. Pengudusan itu diawali dengan pengorbanan Tuhan Yesus melalui karya keselamatan yang Dia kerjakan di kayu salib dan melalui pengakuan percaya kita kepadanya, lalu berlanjut dengan proses pengudusan yang dilakukan oleh Allah ROH KUDUS sebagai Roh Penolong dan Penghibur yang membantu kita dalam proses pengudusan tersebut. Oleh karena itu, jangan menyerah saat menjalani proses pengudusan yang Tuhan kerjakan karena kita tidak sendirian dalam kelemahan kita saat menjalani proses pengudusan tersebut. Bila kita jatuh dalam dosa, segeralah mengaku di hadapan Allah untuk mendapat pengampunan. Setiap orang percaya pasti menjalani proses pengudusan dan memerlukan pertolongan Tuhan dalam menjalani proses tersebut. [GI Roni Tan]


November 07, 2019, 07:16:25 AM
Reply #2079
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Rindu akan Tuhan
Posted on Rabu, 6 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 63

Bagaimanakah perasaan orang yang merindukan Tuhan? Ada gejolak di dalam diri. Daud merindukan Tuhan dan berusaha menemui-Nya selama di padang gurun, di tempat perlindungannya. Ia tinggal di pegunungan, di padang gurun Zif (1Sam. 23:14), menghindar dari kejaran Saul yang hendak membunuhnya.

Di padang gurun Daud merasa sepi dan sendirian. Jiwanya haus, kosong, dan tidak bersemangat. Karena itu, ia mencari Tuhan. Daud memikirkan Tuhan sepanjang malam di tempat tidurnya (2,7). Ia mengharapkan kasih setia-Nya. Daud percaya bahwa Allah pasti menolongnya. Akhirnya, Daud diselamatkan. Karena Allah tidak menyerahkannya ke tangan Saul.

Dalam pergumulan itu, Daud memandang Allah dan melihat kekuatan serta kemuliaan-Nya (3). Jiwanya bersukacita dan bersorak-sorai di dalam Tuhan. Lalu, Daud berkata, ”Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu” (4-6).

Daud bersukacita sebab mengalami pertolongan Tuhan (8). Ketika sendirian, ia tidak takut dan putus asa lagi. Sebab jiwanya melekat kepada Tuhan (9). Sebaliknya, orang yang mencintai kejahatan akan mati oleh pedang dan menjadi makanan anjing hutan (10,11). Orang yang mencari Allah dan mengakui pertolongan-Nya akan bersukacita (12).

Pemazmur mengajarkan bahwa Tuhan berkenan ditemui ketika orang merindukan-Nya. Tuhan tidak akan membiarkan umat-Nya merasa sepi. Penghiburan-Nya akan menguatkan mereka dalam bentuk melindungi dan menyelamatkan mereka dari bahaya. Itu sebabnya Daud selalu merindukan Tuhan di sepanjang hidupnya, sekalipun ia menghadapi banyak persoalan. Ia tidak takut dan putus asa karena ia tahu Tuhan menyertainya dalam segala perkara.

Kalau Anda merasa sepi, rindukanlah Tuhan, niscaya jiwa Anda akan tenang dan damai.

Doa: Tuhan, di saat aku kesepian, aku mencari Engkau. Berilah penghiburan-Mu, ya Tuhan. [CVSN]







TUHAN, Sumber Berkat
Posted on Rabu, 6 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 6

Kita pasti tidak asing dengan berkat imam yang ditulis dalam Bilangan 6:22–27. Doa berkat imam itu sering kali digunakan oleh hamba Tuhan dalam doa berkat yang disampaikan saat mengakhiri ibadah. Bacaan Alkitab hari ini menjelaskan bahwa doa berkat ini adalah rumusan yang diajarkan Tuhan untuk digunakan oleh para imam guna memberkati umat Tuhan. Imam menjadi sarana yang Tuhan gunakan untuk menyampaikan berkat dari Tuhan kepada umat-Nya. Jadi, doa berkat ini bukanlah sekadar ungkapan keinginan manusia, melainkan ungkapan keinginan Tuhan bagi umat-Nya. Melalui doa berkat imam. Tuhan menjanjikan berkat, perlindungan, terang yang menuntun, kasih karunia, dan damai sejahtera kepada umat -Nya (6:24–26).

Melalui doa berkat yang disampaikan oleh seorang imam, Tuhan meletakkan nama-Nya atas orang Israel dan Ia berjanji untuk memberikan berkat-Nya (6:27). Kata ‘meletakkan” bisa berarti menempatkan atau menyebutkan nama Tuhan. Saat nama Tuhan disebutkan oleh imam, berkat akan mengalir atau melekat pada diri umat Tuhan. Jadi, berkat yang disampaikan oleh imam itu berasal dari Tuhan, Sang Sumber berkat. Imam atau hamba Tuhan hanyalah alat atau saluran di tangan Tuhan untuk menyampaikan kepastian yang datangnya dari Tuhan untuk umat-Nya.

Saat menyadari bahwa berkat yang sesungguhnya berasal dari Tuhan, kita dipanggil untuk senantiasa mengarahkan hidup kita kepada Tuhan. Kita tidak boleh mengagungkan para hamba-Nya dan mengabaikan keagungan Tuhan yang adalah Sang Tuan yang sesungguhnya. Panggilan kita adalah agar  kita hidup untuk memuliakan TUHAN, bukan untuk memuliakan manusia atau untuk memuliakan diri sendiri. Kita harus hidup untuk melayani Tuhan sepenuhnya, tanpa keinginan untuk dilihat atau untuk dipuji oleh manusia. Percayalah kepada Tuhan, Sang Sumber berkat yang senantiasa memberkati kita yang hidup taat kepada-Nya dengan sepenuh hati dan dengan seluruh hidup kita. Marilah kita mempersembahkan hidup kita untuk menyenangkan hati Tuhan, bukan hanya sekadar merindukan berkat Tuhan saja. Sadarilah bahwa damai sejahtera yang dihasilkan saat kita dekat dengan Tuhan lebih berharga daripada berkat-Nya. [GI Roni Tan]



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)