Author Topic: Saat Teduh  (Read 66069 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

November 08, 2019, 06:01:04 AM
Reply #2080
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Terancam Bahaya
Posted on Kamis, 7 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 64

Apakah Anda pernah merasa takut? Semua orang pasti pernah takut. Tetapi, jika memercayai Tuhan dan menjadikan Dia sebagai perisai perlindungan, kita akan berani melangkah. Karena Allah menganugerahkan keberanian yang membangkitkan kekuatan kepada orang percaya.

Mazmur ini berisi curahan hati Daud bahwa musuh-musuh di sekitarnya telah merancang kejahatan terhadap dirinya. Mereka hendak mencabut nyawanya (2). Ia merasa terancam dan Daud pun berdoa kepada Tuhan. Ia memohon agar Tuhan menyelamatkannya dari orang-orang jahat (3). Perasaannya tidak tenang dan hatinya sakit (4). Mereka menyebarkan kebohongan dan memfitnah yang tidak bersalah (5). Mereka bersekongkol melakukan kejahatan dan menyangka tidak ada yang melihat (6).

Orang-orang itu licik dan curang, namun penakut. Karena hendak mencabut nyawa seseorang dari tempat yang tersembunyi (7). Namun, mata Tuhan tertuju kepada orang yang rendah hati. Dia melindungi orang yang baik dan menghukum orang yang jahat (8). Tuhan adil dalam perbuatan-Nya. Sehingga, semua orang yang melihat menggelengkan kepala (9). Tetapi, orang benar dan jujur akan bergembira karena berlindung kepada Tuhan (11).

Pemazmur mengajarkan bahwa Allah bertindak secara adil. Ia adalah Pelindung dari segala bahaya. Orang benar tidak akan goyah karena mereka mengandalkan Tuhan dan kekuatan-Nya. Mereka akan bersukacita.

Sungguh, Tuhan itu dahsyat dalam perbuatan-Nya. Dia menjawab doa orang yang rendah hati. Ia meluputkan mereka dari rancangan orang-orang jahat. Demikianlah, Tuhan tidak menyerahkan orang benar ke dalam tangan musuh, sebaliknya Dia membebaskannya. Bila merasa terancam, berserulah kepada Tuhan. Dia adalah Allah yang mendengar doa orang yang berharap kepada-Nya sehingga mereka mengalami kebaikan dan keselamatan dari Tuhan.

Doa: Tuhan, aku mencari perlindungan-Mu. Kiranya aku mendapatkan keselamatan. [CVSN]







Persembahan dan Ibadah
Posted on Kamis, 7 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 7

Persiapan untuk penahbisan Kemah Suci membutuhkan ketelitian, ketekunan, dan pengorbanan. Persiapan penahbisan ini penting karena kehadiran Kemah Suci menandakan kehadiran Tuhan semesta alam di tengah umat-Nya. Perhatikanlah bahwa persiapan penahbisan Kemah Suci ini diatur oleh Tuhan sendiri dengan perantaraan Musa (7:11). Salah satu persiapan yang dilakukan untuk penahbisan Kemah Suci ini adalah pengumpulan persembahan. Para pemimpin umat Israel diatur untuk memberi persembahan ke hadapan Tuhan. Tindakan membawa persembahan ini merupakan simbol bahwa para pemimpin beserta seluruh rakyat memandang Tuhan sebagai Raja yang selama ini memimpin dan memerintah bangsa Israel. Oleh karena itu, wajarlah bila pengaturan persembahan yang dilakukan oleh Allah itu harus dipandang seperti perintah seorang raja yang harus ditaati.

Pengumpulan persembahan bukanlah satu-satunya tujuan bagi pendirian Kemah Suci. Dalam 7:89, dikemukakan bahwa Musa masuk ke Kemah Pertemuan untuk “berbicara dengan Dia, mendengar suara-Nya dan mendengar Dia berfirman”. Tujuan utama keberadaan Kemah Suci adalah agar umat menyadari keberadaan Tuhan di tengah mereka dan agar mereka selalu memiliki kerinduan untuk datang beribadah ke hadapan Tuhan. Jadi, tujuan utama keberadaan Kemah Suci adalah menjadi tempat berkumpul bagi umat untuk bersama-sama beribadah kepada TUHAN.

Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita bahwa sehubungan dengan keberadaan Rumah Tuhan, umat Allah wajib untuk membawa persembahan. Memberi persembahan merupakan ungkapan ketundukan dan kepatuhan kita kepada Tuhan. Kita harus senantiasa menyadari bahwa Rumah Tuhan bukanlah hanya sekadar tempat untuk berkumpul atau tempat untuk mengobrol, melainkan tempat untuk beribadah kepada Tuhan. Apakah selama ini, Anda telah membiasakan diri untuk memberikan persembahan secara pantas di hadapan Tuhan? Apakah selama ini, Anda telah setia mengikuti pertemuan ibadah di gereja Anda? Semoga Tuhan menolong dan memampukan kita untuk beribadah dengan setia, sehingga kita bisa menjadi anak-anak Allah yang hidup berkenan kepada Allah. [GI Roni Tan]



November 09, 2019, 05:31:05 AM
Reply #2081
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Hidup Bersyukur
Posted on Jumat, 8 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 65

Bersyukur agaknya menjadi hal yang langka dan sulit dilakukan hari ini. Manusia lebih suka menuntut dan menganggap bahwa seharusnya Tuhan memberkati. Melalui mazmur ini, Daud mengajarkan bahwa bersyukur itu sudah selayaknya dilakukan.

Mazmur ini terdiri atas tiga bagian:

Pertama, puji-pujian kepada Allah yang mendengar doa. Umat memasyhurkan Allah di Sion. Mereka datang kepada Allah (2-3). Di hadapan Allah, pemazmur sadar akan keberdosaannya dan Tuhan mengampuninya (4), lalu pemazmur memuji Allah: ”Berbahagialah orang yang Kaupilih, yang Kaupanggil untuk diam di rumah-Mu (5).

Allah telah memilih umat-Nya, namun mereka dapat jatuh ke dalam dosa. Dalam hal ini, kasih setia Tuhan lebih besar dari keberdosaan manusia. Karena itu, Tuhan mengampuni, memulihkan, dan tetap memberkati umat-Nya.

Kedua, pemazmur memuji Allah karena perbuatan-Nya yang dahsyat (6-9). Kedahsyatan itu dilakukan Tuhan dalam keadilan dan keperkasaan. Dari Sion, Allah mencurahkan berkat-Nya kepada semua orang. Mereka dipuaskan dengan segala hal yang baik. Karena itu, semua bangsa berharap kepada Tuhan.

Ketiga, Tuhan memberkati ladang dan ternak (10-14). Tuhan memelihara tanah dengan hasil yang melimpah dan Ia memberkatinya. Tuhan menurunkan hujan sehingga padang rumput menjadi subur dan menghasilkan buahnya dengan limpah. Pemazmur menyatakan bahwa semua ini karena berkat Allah.

Pemazmur mengakui kuasa Allah nyata atas segala sesuatu. Allah menopang dan menyuplai semua kebutuhan umat-Nya. Sudah seharusnya mereka bersyukur. Selayaknya sorak-sorai dan nyanyian syukur dinaikkan bagi Allah. Naikkanlah nyanyian syukur karena berkat Allah. Pujilah nama-Nya. Allah menyukai ucapan syukur umat-Nya. Apakah dari mulut kita lebih sering keluar keluhan atau syukur kepada Tuhan?

Doa: Kami bersyukur karena Engkau memberkati tanah sehingga mengeluarkan hasil untuk dinikmati semua ciptaan-Mu. [CVSN]







Ditahirkan Agar Diterima
Posted on Jumat, 8 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 8

Suku Lewi adalah suku yang dipilih Tuhan untuk melayani Dia penuh waktu dan seumur hidup. Akan tetapi, apakah pemilihan Tuhan ini membuat mereka bebas untuk melakukan apa pun yang mereka anggap baik? Tidak, mereka tetap harus hidup dalam ketaatan terhadap perintah Tuhan untuk melakukan pelayanan di hadapan Tuhan. Dalam Bilangan 8:5-22 dituliskan tentang aturan yang harus mereka taati. Sebagai contoh, saat menjalankan tugas di hadapan Tuhan, mereka harus lebih dahulu dipercik dengan air penghapus dosa, mencukur, mencuci pakaian, dan mempersembahkan korban penghapus dosa. Tindakan ini bertujuan agar mereka dianggap layak oleh Tuhan. Pesan penting yang Tuhan ingin tanamkan pada Suku Lewi dan bangsa Israel adalah bahwa Tuhan itu kudus. Oleh karena itu, pelayan yang ingin melayani-Nya harus menjalani proses pengudusan. Perintah ini dilakukan secara “tepat” (8:20) oleh suku Lewi yang akan melayani di Kemah Pertemuan atau Kemah Suci. Setelah melakukan tindakan pentahiran, barulah mereka melakukan pekerjaan jabatan mereka (8:21-22).

Proses pentahiran yang Tuhan perintahkan ini mengingatkan kembali bangsa Israel—termasuk suku Lewi—bahwa kekudusan Tuhan harus dihormati dan dijaga. Bila mereka tidak menghormati kekudusan Tuhan, mereka akan menerima hukuman Tuhan, yaitu terkena tulah (8:19). Oleh karena itu, agar tulah tidak menimpa mereka, sikap dan tindakan mereka haruslah menaati semua perintah Tuhan secara tepat.

Kewajiban menghormati dan menjaga Kekudusan Tuhan bukan hanya berlaku pada masa Perjanjian Lama, tetapi juga berlaku bagi semua murid Kristus. Salah satu perkataan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam khotbah di bukit adalah, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Perkataan tersebut berlaku bagi semua anak-anak Allah. Apakah Anda menghormati dan menjaga kekudusan Tuhan dalam kehidupan Anda? Setiap kali jatuh dalam dosa, apakah Anda selalu segera mengaku dosa di hadapan Tuhan sehingga kehidupan, pelayanan, dan ibadah Anda layak di mata Tuhan? Tuhan yang kita sembah adalah kudus, sehingga Dia menuntut agar kita berhenti berbuat dosa dan menjalani hidup dalam kekudusan. Hendaklah setiap orang yang mengetahui keinginan Tuhan melakukan hal ini dalam anugerah-Nya. [GI Roni Tan]




November 10, 2019, 04:42:04 AM
Reply #2082
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kedahsyatan yang Disyukuri
Posted on Sabtu, 9 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 66

Apakah semua orang memuji perbuatan Allah yang dahsyat? Tidak, hanya mereka yang menyadari dan mengalami saja yang akan memuji perbuatan-Nya yang dahsyat.

Dalam mazmur ini, ada dua dasar pujian yang dinaikkan kepada Allah:

Pertama, bangsa Israel memuji Allah karena Ia telah memimpin mereka keluar dari tanah Mesir (1-12). Pemazmur memberi dorongan: ”Pergilah, pandanglah pekerjaan Tuhan” (5). Ini mengingatkan mereka akan peristiwa besar yang Allah lakukan pada waktu bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Ia membelah Laut Teberau menjadi tanah yang kering. Allah memerintah dengan perkasa (6-7).

Allah telah memimpin umat Israel sedemikian rupa dalam penyertaan-Nya siang dan malam. Namun, di padang gurun umat Israel memberontak kepada Allah sehingga mereka dibuang ke Babel dan mengalami kesukaran. Mereka mengalami pengujian, ibarat seseorang memurnikan emas dan perak. Yang lulus ujian akan dibebaskan dari pembuangan. Mereka akan memperoleh tanah perjanjian (8-12). Penyelamatan Israel merupakan bukti nyata agar bangsa-bangsa mengenal Tuhan dan memuji Dia. Sekalipun, umat itu tersebar ke seluruh bumi, hidupnya dipertahankan dan kakinya tidak goyah. Mereka tidak jatuh dan kehilangan identitas sebagai umat pilihan Allah karena Allah yang dahsyat menyertai mereka.

Kedua, pujian syukur kepada Allah atas keluputan dan keselamatan yang dianugerahkan (13-20). Dalam kesulitan (14), Allah telah menolong dan menyelamatkan umat-Nya. Pemazmur berjanji akan memenuhi nazarnya, memuji-Nya dan memasyurkan perbuatan-Nya yang dahsyat (13-20). Ia akan masuk ke rumah Allah dan mempersembahkan kurban bakaran.

Ucapan syukur itu sangat sakral dan bukan ucapan kosong tanpa dasar. Terlalu banyak hal dahsyat yang Allah lakukan. Hal itu membuat kita patut bersyukur. Sudahkah Anda menaikkan rasa syukur kepada Allah hari ini?

Doa: Kami bersyukur mempunyai Allah yang dahsyat dalam hidup ini. [CVSN]







Hari Raya Paskah
Posted on Sabtu, 9 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 9

Hari Raya Paskah adalah hari raya bangsa Israel yang diadakan untuk memperingati karya Allah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Tanah Mesir. Pada hari itu, mereka menyembelih seekor anak domba dan makan sayur pahit. Pada perayaan Paskah ini, para orang tua akan menceritakan kembali peristiwa di malam saat Tuhan membebaskan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir. Hari Raya Paskah diadakan setiap tanggal empat belas bulan pertama (Catatan: Dalam Keluaran 23:15, sebutan untuk bulan pertama ini adalah Abib . Akan tetapi, sesudah pembuangan, bangsa Israel memakai kalender Babel dan menyebut bulan pertama sebagai Nisan ) dan diikuti oleh Hari Raya Roti Tidak beragi selama seminggu. Selama seminggu itu, bangsa Israel harus memakan roti yang tidak beragi (Imamat 23:5-6). Tindakan ini bukan sekadar kerutinan, melainkan tanda syukur.

Pada masa Perjanjian Lama, orang yang menyentuh mayat menjadi najis dan tidak boleh mengikuti upacara keagamaan. Orang yang najis karena menyentuh mayat serta orang yang dalam perjalanan jauh diharuskan untuk merayakan Paskah sebulan berikutnya, yaitu pada tanggal keempat belas bulan yang kedua (9:10-11). Mereka yang tidak najis dan tidak dalam perjalanan, tetapi tidak mau ikut merayakan Paskah “harus” dilenyapkan (9:13). Orang asing yang ingin ikut merayakan Paskah diizinkan (9:14). Aturan di atas mengingatkan kita agar tidak mengabaikan pertemuan ibadah dan hari raya keagamaan (bandingkan dengan Ibrani 10:25).

Paskah dalam Perjanjian Lama—yaitu peringatan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan merupakan simbol dari penyelamatan umat manusia dari dosa yang diwujudkan melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Anak domba yang disembelih dalam Perjanjian Lama menunjuk pada Tuhan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang tidak bercacat cela yang dikorbankan untuk menebus manusia berdosa (Yohanes 1:29; Efesus 1:7). Tuhan Yesus bukan hanya mati untuk kita, tetapi Dia juga bangkit dari kematian, dan kebangkitan-Nya merupakan jaminan bahwa orang yang percaya kepada-Nya memperoleh pengampunan dosa dan memiliki kehidupan yang baru (Kisah Para Rasul 10:43; Roma 6:4). Apakah Anda sudah memiliki jaminan pengampunan dosa serta memiliki kehidupan yang baru? [GI Roni Tan]



November 11, 2019, 06:23:24 AM
Reply #2083
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Seharusnya Bersyukur
Posted on Minggu, 10 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 67

Allah adalah Sumber segala berkat. Sepatutnya setiap orang memuji dan bersyukur kepada-Nya. Tetapi, hal ini tidak secara otomatis menjadikan seseorang yang mampu menaikkan pujian kepada Allah.

Karena kasih-Nya, Allah memberkati ciptaan-Nya supaya bangsa-bangsa di bumi dapat mengenal-Nya. Mazmur ini berisi berkat Allah kepada umat-Nya. Allah memberkati kehidupan umat-Nya, sesudah kembali dari pembuangan (2). Berkat itu diucapkan melalui imam.

Dalam Perjanjian Lama, imam adalah wakil Allah untuk memberkati umat Israel supaya mereka mengalami kesejahteraan dari Allah. Ia memberkati dengan limpah agar semua suku-suku bangsa di bumi mengenal jalan-jalan-Nya (3,8). Berkat itu direspons umat dengan ucapan syukur (4,6). Umat bersukacita dan bersorak-sorai sebab Allah memerintah dengan adil (5). Ia memberkati tanah. Hasilnya dinikmati oleh segala suku bangsa di bumi. Mereka berkata, ”Allah, Allah kita memberkati kita” (7). Agaknya nyanyian ini merupakan pujian syukur umat dalam ibadah selama musim panen.

Hal ini juga mengingatkan umat akan kisah dipanggilnya Abraham (Kej. 12:1-3). Panggilan itu berhubungan dengan janji berkat. Abraham melakukan perintah Tuhan dengan taat. Kehendak Allah bagi Abraham adalah jelas, yaitu menjadikannya bapak bangsa yang besar. Tak salah jika Allah memberi gelar baru kepada Abraham, yaitu bapa segala bangsa yang olehnya semua bangsa di bumi diberkati. Allah memilih Abraham supaya melalui keturunannya, bangsa-bangsa lain dapat mengenal Allah.

Allah sungguh baik! Ia senantiasa memberkati kita. Karena itu, kita harus berpegang pada perintah-Nya. Menaati perintah Allah tidaklah berat jika dilakukan dengan hati yang tulus. Ketika dipanggil, hendaklah kita menjawab panggilan-Nya. Tuhan hendak menyatakan kemuliaan-Nya lewat hidup kita agar menjadi saksi Kristus dan saluran berkat kepada sesama. Belajarlah bersyukur setiap hari.

Doa: Segala puji hanya bagi Allah yang memelihara umat-Nya dengan berkat yang tak berkesudahan. [CVSN]







Saat Nafiri Berbunyi
Posted on Minggu, 10 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 10

Nafiri merupakan alat yang digunakan untuk memberi tanda atau memberi pengumuman kepada seluruh orang Israel, seperti misalnya panggilan untuk berperang, pengumuman bulan baru, pengumuman tahun Yobel, dan pengangkatan raja. Pada umumnya, nafiri ini terbuat dari tanduk domba jantan, tetapi bisa juga terbuat dari perak (10:2). Bangsa Israel sudah sangat mengenal maksud peniupan nafiri, sehingga mereka otomatis berespons untuk bertindak melakukan apa yang sedang diperintahkan. Peniupan nafiri juga merupakan tanda seruan mereka di hadapan Tuhan. Hal ini ditunjukkan melalui perkataan “diingat di hadapan Allahmu” (10:10) yang menunjukkan bahwa Tuhan akan menyelamatkan umat-Nya.

Penggunaan nafiri untuk berkomunikasi bukan hanya terdapat pada masa Perjanjian Lama, tetapi juga kembali muncul pada saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali di akhir zaman. Perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 24:31, “dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka (para malaikat) akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya …” menunjukkan bahwa saat nafiri (sangkakala) berbunyi, orang-orang pilihan Allah akan dikumpulkan bersama-sama dengan Tuhan. Selain itu, nafiri merupakan tanda bahwa Tuhan mengingat dan menyelamatkan orang-orang pilihan-Nya. Tuhan tidak pernah melupakan orang-orang pilihanNya! Sekalipun orang beriman bisa saja mengalami pergumulan iman yang berat, Tuhan tidak membiarkan orang benar sendirian. Tuhan selalu memperhatikan dan perhatian Tuhan akan dibuktikan saat bunyi nafiri dikumandangkan di akhir zaman.

Saat ini, kita harus bergumul untuk bisa meyakini kepedulian Tuhan terhadap diri kita dalam perjalanan hidup yang sedang kita jalani. Kita juga menantikan penggenapan janji bahwa pada akhir zaman, Tuhan Yesus akan menyatakan kemuliaan-Nya secara nyata dalam kehidupan umat-Nya dan membawa umat-Nya untuk tinggal bersamaNya di rumah Bapa di surga. Inilah kerinduan hati orang percaya di segala abad dan di segala tempat saat menantikan penggenapan janji bahwa semua orang percaya akan dikumpulkan bersama-sama dengan Tuhan Yesus dalam kekekalan. Pada masa penantian ini, kita diingatkan untuk bertahan dalam iman kepada Tuhan Yesus dalam anugerah kasihNya.  [GI Roni Tan]


November 12, 2019, 06:23:41 AM
Reply #2084
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Ia Tak Tertandingi (1)
Posted on Senin, 11 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 68:1-19

Tidak semua orang yang percaya kepada Allah mengenal pribadi-Nya dengan benar dan intim. Adakalanya, pengenalan kita terhadap Allah karena kepentingan dan ego pribadi. Ada juga orang yang memahami Allah berdasarkan khayalan pikiran yang sempit. Ternyata, itu bukanlah Allah yang dinyatakan Alkitab. Apakah kita mengenal Allah dengan benar? Pemazmur mengenal Allahnya dan ia menuangkannya dalam mazmur ini.

Pemazmur menyingkapkan pengenalannya akan Allah dalam bentuk mazmur. Ia menyanyikan Allah yang bangkit. Ketika Ia bangkit, musuh-musuh-Nya, orang yang membenci Dia, dan orang fasik tidak akan berdaya, sebab Allah adalah Pribadi yang tak tertandingi (2-3). Sebaliknya, orang percaya akan bersukacita bersama Allah, yang nama-Nya disebut TUHAN (4-5).

Mereka yang percaya akan mengekspresikan hidup yang penuh sukacita dan harapan kepada-Nya. Siapakah musuh orang percaya yang sanggup melawan Allah yang berpihak kepada mereka? Semuanya akan terserak, tunduk, dan tak berdaya di hadapan Allah yang tak tertandingi itu. Sudah seharusnya semua orang mengakui dan memuji Allah. Karena Dia adalah Pribadi yang berkuasa atas seluruh alam ciptaan-Nya. Seluruh umat manusia harus takluk kepada-Nya.

Bagaimana pengenalan kita akan Allah selama ini? Acap kali kita melihat Allah secara sempit, yaitu Dia hanya sebatas pemenuhan keinginan kita dalam doa. Kalau doa tidak terjawab, kita lalu menyalahkan Tuhan. Padahal, rencana Allah jauh lebih agung dan indah daripada rencana manusia. Kita kurang bisa bersabar menunggu waktu Tuhan yang menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya.

Marilah kita terus-menerus belajar mengenal Allah dan percaya bahwa Dia adalah Allah yang tak tertandingi. Hanya mereka yang hidup di hadirat-Nya yang akan menikmati kebaikan dan kuasa-Nya selamanya.

Doa: Tuhan, bukalah mata hati dan iman kami untuk memercayai dan mengenal-Mu dengan benar. [PC]







Firman Yang Pasti Terjadi
Posted on Senin, 11 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 11

Tuhan yang telah menyatakan diri pada bangsa Israel adalah TUHAN yang hidup dan yang berkuasa. Tuhan yang berkuasa itu telah menyertai nenek moyang bangsa Israel dan terus-menerus menyertai bangsa Israel. Tuhan senantiasa berfirman kepada umat-Nya, baik secara langsung maupun melalui perantaraan Musa. Setiap firman yang keluar dari mulut Allah pasti terjadi. Bilangan 11 menjelaskan tentang murka Tuhan atas bangsa Israel yang disebabkan karena mereka bersungut-sungut kepada Tuhan tentang nasib buruk yang mereka alami (11:1). Mereka mengeluh tentang makanan yang hanya sekadar manna , bukan daging dan makanan enak lainnya (11:4-9). Tindakan bersungut-sungut ini membuahkan murka dan penghukuman Tuhan. Sekalipun demikian, syukurlah bahwa murka Tuhan akhirnya berhenti dan Tuhan tetap memelihara umat-Nya. Tuhan berfirman bahwa Ia akan memberi daging untuk dimakan oleh bangsa Israel selama satu bulan (11:18-20). Firman ini dianggap mustahil oleh Musa karena Musa mempertimbangkan jumlah orang Israel dibandingkan dengan jumlah hewan peliharaan yang dimiliki oleh bangsa Israel pasti tidak mungkin bisa mencukupi kebutuhan daging bagi seluruh orang Israel, apalagi bila hal itu dilakukan sepanjang satu bulan penuh. Akan tetapi, Tuhan telah berfirman dan firman-Nya pasti terwujud. Tuhan pasti menggenapi janji-Nya untuk memberikan daging.

Perkataan, “Sekarang engkau akan melihat apakah firman-Ku terjadi kepadamu atau tidak!” (11:23b) menegaskan bahwa semua yang Tuhan janjikan pasti akan terjadi. Tuhan menggenapi firman-Nya dengan mendatangkan burung puyuh pada bangsa Israel untuk mereka olah dan makan (11:31-32) selama satu bulan penuh. Kenyataan yang dilihat oleh Musa jauh melebihi apa yang bisa dipahami oleh Musa. Kisah di atas mengajarkan bahwa Firman Tuhan pasti terwujud. Rasul Paulus menulis dalam 2 Korintus 1:20, “Sebab Kristus adalah ‘ya’ bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan ‘Amin’ untuk memuliakan Allah.” Firman Tuhan ini meneguhkan bahwa keyakinan pada Kristus berjalan beriringan dengan keyakinan pada Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Firman yang Tuhan sudah berikan pasti akan Tuhan genapi dalam kehidupan umat-Nya. Percayalah dan jangan meragukan Firman Tuhan karena Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab adalah “ya dan Amin”. [GI Roni Tan]



November 13, 2019, 05:51:49 AM
Reply #2085
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Ia Tak Tertandingi (2)
Posted on Selasa, 12 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 68:20-36

Pengenalan bahwa Allah itu sangat besar dan tak tertandingi akan menyebabkan ungkapan pujian yang semakin besar kepada Allah. Semakin biasa dan datar sebuah ungkapan pujian seseorang menunjukkan kadar pengenalannya akan Allah juga biasa-biasa saja.

Dalam bagian ini, pemazmur menyingkapkan lebih dalam pengenalannya akan Allah. Pertama, Allah hadir sebagai Juru selamat (20-24). Ia menanggung umat-Nya, Ia memberikan keluputan dari maut dan membebaskan dari musuh dengan niat jahat mereka. Kedua, Allah diarak sebagai Raja (25-28). Ini adalah peristiwa perayaan kemenangan dan penobatan sebagai Raja. Benyamin dan Yehuda mewakili suku-suku di selatan, sementara Zebulon dan Naftali mewakili suku-suku di utara. Ketiga, Allah ditinggikan sebagai Tuhan (29-36), sebagaimana dikatakan ”raja-raja menyampaikan persembahan kepada-Mu” (29).

Kelepasan dan pertolongan Allah yang nyata menunjuk pada kemenangan-Nya pada masa yang akan datang. Sesudah pernyataan tentang kemenangan tertinggi, semua bangsa dan kerajaan bumi ditantang untuk mengakui dan mengagungkan Allah sebagai Tuhan melalui puji-pujian. Dia layak dipuji karena kedahsyatan, kemegahan, dan kekuasaan-Nya dari tempat kudus-Nya (34-36).

Pengenalan terhadap Allah yang benar akan membawa pujian dan penyembahan yang semakin menggema. Pemazmur mengenal bahwa Allah itu sungguh besar tak tertandingi. Allah itu sungguh ajaib. Bahkan, hadir keinginan besar untuk mengajak lebih banyak orang untuk mengagungkan keperkasaan-Nya yang tak tertandingi. Bagaimana pengalaman kita selama ini? Apakah seraya semakin mengenal Allah, kita semakin memuji-Nya dan hati kita semakin rindu untuk mendekat dan menyembah-Nya? Apakah hati kita termotivasi untuk mendorong lebih banyak orang ikut mengagungkan Allah kita? Jika ya, lanjutkanlah perjalanan yang indah itu.

Doa: Tuhan, nyatakan diri-Mu agar kami semakin mengenal-Mu, semakin memuji dan menyembah-Mu. [PC]







Pembelaan Ilahi
Posted on Selasa, 12 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 12

Harun dan Miryam meragukan kepemimpinan tunggal Musa. Pernyataan “sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja?” (12:2) mengungkapkan keraguan terhadap penunjukan Tuhan terhadap Musa sebagai pemimpin bangsa Israel. Keraguaan ini muncul setelah Musa mengambil (menikahi) perempuan Kusy. Orang Kusy tidak termasuk dalam suku Israel. Kusy adalah suku yang tidak mengenal Tuhan. Akan tetapi, apakah alasan tersebut dapat diterima? Bila alasan itu dapat diterima, Tuhan pasti membela Harun dan Miryam, sehingga Musa-lah yang dihukum. Akan tetapi, ternyata Tuhan justru membela Musa dengan mengatakan bahwa Musa bukan hanya sekadar seorang nabi biasa (12:6), Musa adalah seorang hamba Tuhan yang setia dan yang diberi hak istimewa untuk berjumpa dengan Tuhan secara langsung (12:7-8). Inilah pembelaan Ilahi terhadap Musa. Perhatikan bahwa Musa tidak membela dirinya di hadapan Tuhan, tetapi dia setia mendengar apa yang dikemukakan oleh TUHAN. Sikap Musa menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang sangat lembut hatinya, melebihi setiap manusia yang hidup (12:3).

Pembelaan Ilahi ini membuahkan keputusan bagi si pendakwa, yaitu bahwa kemudian Miryam ditimpa oleh penyakit kusta—suatu penyakit yang dianggap kotor dan najis pada masa itu. Miryam mengalami kondisi titik terendah yang harus diterimanya sebagai hukuman dari TUHAN. Tindakan Miryam yang melawan Musa sangat menyedihkan karena Miryam adalah kakak kandung Musa. Miryam— yang seharusnya membela adiknya—justru bertindak jahat terhadap Musa sehingga TUHAN menghukum dia.

Pembelaan Ilahi adalah hak Tuhan yang tidak tergantung pada kondisi kita atau pada permohonan kita.  Kita harus tetap mempercayai bahwa Tuhan tidak akan membiarkan orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya direndahkan, difitnah, atau ditindas oleh orang yang bermaksud jahat terhadap dirinya. Walaupun kita tidak meminta Tuhan membela kita, sangatlah mungkin bahwa Tuhan bertindak membela kita. Akan tetapi, bisa juga Tuhan membela kita sesudah kita berseru memohon pertolongan-Nya. Sebagai Penguasa hidup kita, Tuhan bertindak menurut kehendak-Nya sendiri. Jangan putus asa! Tetaplah menanti pembelaan Tuhan! [GI Roni Tan]



November 14, 2019, 05:59:55 AM
Reply #2086
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Selalu Memuji-Nya
Posted on Rabu, 13 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 69:1-19

Dimusuhi adalah hal yang tidak pernah diharapkan siapa pun. Adakalanya, musuh itu datang pada waktu kita hidup dalam kebenaran dan kasih. Allah ingin umat-Nya merespons permusuhan seperti ini dengan benar.

Pemazmur sedang meratapi keputusasaannya dengan keluhan karena dimusuhi tanpa sebab. Bahkan dia dipaksa mengembalikan apa yang tidak dirampasnya (5). ”Selamatkanlah aku… aku tenggelam ke dalam rawa yang dalam” (1-2) adalah permohonan yang menggambarkan keadaan bahaya yang dihadapinya. Kata-kata seperti ”air, rawa, air yang dalam dan gelombang pasang” dipakai untuk menggambarkan keadaan yang tidak mengenakkan dan kesusahannya. Musuhnya banyak, penuh kebencian, dan sangat kuat. Ketika pemazmur menilik lebih jauh, sebenarnya penderitaannya bukan tanpa alasan, tetapi ”karena Engkaulah…”(8). Tampaknya, penindasan atas dirinya dipandang sebagai akibat dari keyakinan agamanya. Karena kesetiaan, kesungguhan, dan semangat militannya kepada Allah, maka ia menderita. Ketika penderitaannya menjadi-jadi justru membuatnya lebih menggebu-gebu memuji Allah, dan lebih intens berdoa memohon pertolongan-Nya.

Banyak orang mungkin berpikir, orang memusuhi kita karena orang itu bermasalah dengan kita atau kita bermasalah dengan orang itu. Kalau bukan keduanya, maka kita berpikir orang itu memusuhi kita tanpa alasan. Belajar dari pemazmur, ternyata ada sebab yang lebih serius, entah itu karena iman kita atau karena kesetiaan kita kepada Allah, maka kita dimusuhi.

Jika kesetiaan kita kepada Allah menjadi alasan orang memusuhi kita, bukankah kita seharusnya semakin giat dan bersungguh-sungguh memuji dan berharap kepada Allah? Justru permusuhan seperti ini diizinkan Allah untuk menguji iman kita agar tidak takut kepada manusia, melainkan senantiasa setia, sekalipun manusia terus menghadang kita untuk percaya kepada-Nya.

Doa: Kuatkan kami untuk tetap memuji-Mu, meskipun dimusuhi karena iman. [PC]







Keberanian Duluan Pupus
Posted on Rabu, 13 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 13

Musa telah mempercayakan para pemimpin dari 12 suku Israel untuk melakukan pengintaian terhadap tanah Kanaan. Para pemimpin telah terpilih dari orang—orang terbaik yang ada di setiap suku Israel. Mungkin, mereka termasuk dalam kriteria orang terpintar, terkuat, atau pahlawan perang. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa mereka bisa masuk ke tanah Kanaan selama 40 hari (13:25) tanpa diketahui sehingga tidak membangkitkan reaksi dari orang Kanaan. Mereka membawa setandan buah anggur dengan di panggul berdua (13:23). Kesaksian bahwa tanah kanaan berlimpah susu dan madu merupakan gambaran dari betapa subur dan makmurnya Tanah Perjanjian yang akan Tuhan berikan terhadap bangsa Israel.

Sayangnya, semua usaha mereka selama 40 hari itu tidak dilanjutkan dengan keberanian untuk maju dan merebut Tanah Kanaan. Keberanian para pengintai—selain Kaleb dan Yosua—pupus sebelum mereka berperang. Pernyataan bahwa bangsa yang mendiami Tanah Kanaan kuat-kuat, kotanya berkubu dan sangat besar (13:28), negeri yang tidak aman (13:32) dan adanya orang-orang raksasa (13:33) merupakan gambaran bahwa keberanian sepuluh pengintai itu telah pupus. Penggenapan janji Tuhan yang pernah mereka saksikan sendiri tidak mereka ingat lagi sehingga mereka tidak yakin bahwa Tuhan mampu menggenapi janji-Nya. Walaupun kesepuluh pengintai itu adalah orang-orang pilihan, mereka gentar karena mereka tidak memiliki keyakinan bahwa Allah sanggup mewujudkan janji-Nya.

Pada masa kini, semua orang percaya—umat pilihan Allah—telah mewarisi janji-janji Allah, dan Allah telah melengkapi setiap orang percaya dengan karunia rohani. Akan tetapi, godaan, tantangan, kesulitan dan cengkeraman dunia yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari telah menghilangkan keberanian kita untuk bertindak berdasarkan keyakinan bahwa Tuhan sanggup melaksanakan janji-Nya. Syukurlah bahwa ROH KUDUS yang dikaruniakan kepada setiap orang percaya sanggup mengenyahkan segala ketakutan kita (2 Timotius 1:7). Kita perlu membangun iman agar pengharapan kita tidak tertuju kepada apa yang ditawarkan oleh dunia, tetapi pandangan kita terarah kepada Allah yang telah memberi kita karunia rohani serta janji-janji yang memungkinkan kita melakukan kehendak-Nya. [GI Roni Tan]




November 15, 2019, 05:35:45 AM
Reply #2087
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Tetap Memuji-Nya
Posted on Kamis, 14 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 69:20-37

Orang sering berpikir bahwa cara menghadapi orang yang memusuhi kita adalah dengan memberi berbagai alasan dan penjelasan untuk mencari perdamaian. Bagaimana jika orang yang memusuhi itu tidak mau mendengarkan kita? Sebaliknya, mereka semakin memusuhi kita dengan sengaja.

Dalam menghadapi keadaan seperti itu, ada baik kita belajar menanganinya seperti pemazmur. Pertama, pemazmur yakin Allah mengenal dirinya, masalahnya, dan musuh-musuhnya. Karena itu, ia tidak berusaha menghadapi pergumulan tersebut dengan caranya sendiri, tetapi dengan menyerahkannya kepada Tuhan. Biarlah Tuhan yang menyatakan murka-Nya dan membalas mereka sesuai perbuatannya (20-28).

Kedua, pemazmur tetap percaya akan keselamatan dan perlindungan Tuhan, meski ia tertindas dan sakit. Bahkan, ia lebih sungguh memuji Allah. Baginya, apa yang dilakukan ini lebih daripada kurban dalam ibadah (30-32). Ketiga, pemazmur meyakini bahwa orang yang memuji Tuhan akan mendapatkan segala kebaikan-Nya. Itu sebabnya, ia mengakhiri mazmurnya dengan mengajak langit dan bumi, lautan dan segala isinya untuk memuji Allah agar semua juga boleh menerima kebaikan-Nya (33-37).

Tidak jarang kita menahan banyak kekesalan dan kemarahan, ketika kita merasa lelah terhadap sikap permusuhan tanpa alasan. Dalam kondisi seperti itu, apakah kita telah habis daya dan cara untuk menghadapi mereka?

Mengapa kita tidak belajar dari pemazmur untuk mencari wajah Tuhan saat kita menghadapi persoalan. Kita harus yakin bahwa Tuhan sangat mengenal diri kita dan para musuh kita. Mengapa kita hanya mengandalkan kemampuan sendiri dan tidak menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan? Bukankah mereka yang memusuhi orang yang diperkenan Allah, secara tidak langsung telah menjadi musuh-Nya?

Doa: Tuhan, tolong saya terus-menerus mendoakan dan menyerahkan orang yang memusuhi saya ke dalam tangan-Mu! [PC]







Hati Dijaga, Murka Tidak Menimpa
Posted on Kamis, 14 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 14

Bacaan Alkitab hari ini menceritakan tentang bangsa Israel yang begitu mudah menggambarkan kenikmatan hidup di Mesir serta menyalahkan Tuhan yang mereka anggap membuat hidup mereka menjadi terasa sulit. Sikap menyalahkan ini terlihat dari perkataan, “Mengapakah Tuhan membawa kami … (14:3). Kondisi ini membuat mereka berteriak dan menangis (14:1) serta membuat mereka ingin mengangkat seorang pemimpin yang akan membawa mereka kembali ke Mesir (14:4). Mengapa mereka bersikap seperti itu? Mereka menyalahkan Tuhan karena mereka telah terhasut oleh 10 pengintai yang menceritakan tentang kondisi tanah Kanaan dengan berbagai kesulitan dan kemustahilan yang akan muncul bila mereka ingin merebut Tanah Perjanjian itu.

Tuhan merespons protes bangsa Israel dengan menunjukkan kemuliaan-Nya di Kemah Pertemuan (14:10). Tuhan sangat kecewa dan sangat murka pada orang Israel yang walaupun telah melihat kemuliaanNya, tanda mujizat-Nya di Mesir dan di padang gurun, namun sudah 10 kali mencobai Tuhan (14:22). Akibatnya, mereka akan mati dalam masa pengembaraan di padang gurun selama 40 tahun. Mereka yang berumur 20 tahun ke atas dipastikan tidak akan masuk ke Tanah Perjanjian (14:29, bandingkan dengan Yosua 5:6).

Bangsa Israel telah gagal menjaga hati untuk selalu memercayai bahwa apa yang Tuhan sudah janjikan pasti akan digenapi. Sebaliknya,. mereka menyalahkan Tuhan saat menghadapi kondisi yang tidak sesuai dengan pemikiran atau harapan mereka. Anak-anak Allah harus selalu berusaha menjaga hati. Bila kita berani bersikap jujur, kita pasti akan mengakui bahwa kita pernah meragukan dan mempertanyakan kebaikan Tuhan saat kita menghadapi kesulitan, mengalami sakit, atau kita kehilangan orang yang kita sayangi. Akan tetapi, bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan memiliki perasaan dan Dia bisa berespons bila perasaan-Nya disakiti. Jadi, jagalah hati agar kita bisa tetap setia kepada Tuhan dan jangan sampai kita menyakiti hati Tuhan. Saat kita mengalami sakit atau penderitaan, bila hati kita tenang dan kita bisa mengarahkan hati kita untuk mengingat kebaikan dan pertolongan Tuhan pada masa yang lampau, barulah kita akan bisa meyakini bahwa Tuhan itu memang baik. [GI Roni Tan]



November 16, 2019, 06:19:30 AM
Reply #2088
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kedudukan Berasal Dari Tuhan
Posted on Sabtu, 16 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 16

Kedudukan berasal dari Tuhan! Inilah kesimpulan dari Bilangan 16. Bilangan 16 membicarakan tentang usaha merebut kekuasaan atas bangsa Israel yang telah dipercayakan Tuhan kepada Musa dan Harun. Pemberontakan itu dipimpin oleh Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi bersama dengan tiga orang dari Suku Ruben, yaitu Datan dan Abiram— anak-anak Eliab—dan On bin Pelet, diikuti oleh 250 orang lain (16:1-2) Bila dilihat sepintas lalu, alasan pemberontakan kelihatan rohani, yaitu bahwa semua orang Israel adalah orang-orang kudus dan bahwa Tuhan berada di tengah umat-Nya (16:3), sehingga mereka merasa tidak perlu hidup di bawah kepemimpinan Musa dan Harun. Mereka kecewa terhadap Musa dan Harun yang telah mengeluarkan mereka dari Tanah Mesir—yang digambarkan sebagai negeri yang penuh susu dan madu— tetapi tidak segera memasuki negeri dengan kualitas yang sama, serta tidak memberikan tanah milik untuk mereka kelola. Sebaliknya, setelah keluar dari Tanah Mesir, mereka menemui kesukaran, kelaparan, dan penderitaan. Protes mereka membuat Musa sangat marah (16:13-15).

Protes (pemberontakan) di atas membuat TUHAN murka dan para pemrotes dihukum mati dengan cara yang belum pernah terjadi (yaitu tanah terbuka serta menelan Korah, Datan, dan Abiram bersama seluruh keluarga mereka hidup-hidup, lalu Tuhan mengirimkan api yang membakar 250 orang pengikut mereka). Respons Tuhan terhadap protes di atas memperlihatkan bahwa kepemimpinan Musa dan Harun berasal dari Tuhan (16:23-35).

Kisah di atas mengingatkan kita yang hidup pada masa kini untuk tunduk kepada pengaturan Tuhan. Walaupun kita tidak selalu bisa mengerti mengapa seseorang dipilih Tuhan untuk menjadi pemimpin dan yang lain (termasuk kita) tidak dipilih untuk kedudukan yang sama, kita tidak boleh memprotes pengaturan Tuhan. Dalam kehidupan bergereja, setiap anggota gereja perlu belajar untuk menghargai para pemimpin dalam gereja. Bila pemimpin kita memiliki kekurangan atau kesalahan, kita wajib mendoakan dan memberi masukan secara sopan, bukan menghina dan menjatuhkan. Kita harus menunggu Tuhan sendiri yang bertindak menghukum mereka. Apakah Anda sudah terbiasa mendoakan para pemimpin di gereja Anda? Bila Anda belum pernah mendoakan mereka, mulailah berdoa! [GI Roni Tan]





November 17, 2019, 04:43:01 AM
Reply #2089
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kenangan dan Pengharapan
Posted on Sabtu, 16 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 71

Seorang profesor yang pernah mengajar saya mengatakan, ”the greatest enemy of faith is forgetfulness” (musuh utama dari iman adalah kelupaan). Karena itu, penting bagi kita untuk selalu mengingat berbagai perbuatan Allah yang ajaib dalam hidup kita. Kenangan tersebut memampukan kita percaya bahwa Tuhan senantiasa menolong kita dalam kesusahan, baik saat ini maupun masa datang.

Pemazmur adalah umat yang sudah lanjut usia (18). Ia sudah percaya dan bergantung kepada Tuhan sejak masih kecil (17). Bahkan, pemazmur menggambarkan bahwa ia sudah bergantung kepada Tuhan sejak ia ada dalam kandungan (6). Karena itu, ketika berada dalam bahaya, ia meminta Tuhan melepaskannya dari tangan orang fasik (4). Pemazmur percaya bahwa Tuhan yang sudah membuatnya mengalami banyak kesusahan dan malapetaka telah menyelamatkannya pada masa lampau dan akan menolongnya kembali (20). Ia meminta agar musuhnya mendapat malu dan musnah (13).

Pemazmur mengaitkan permintaannya agar Tuhan menghukum musuhnya dengan cara menceritakan dan memasyhurkan keadilan Tuhan (15-16). Bahkan, pemazmur kembali memuji keadilan Tuhan yang sampai ke langit (19). Di sini, yang diminta pemazmur adalah Tuhan yang adil kembali menolongnya dari pengejaran para musuhnya.

Perjalanan orang percaya bukanlah perjalanan yang mudah. Pemazmur mengalami banyak kesulitan selama hidupnya, dari muda sampai tua. Pertolongan yang Tuhan berikan melahirkan iman dan pengharapan bahwa Tuhan senantiasa menolong dan memberikan keadilan kepadanya serta menghukum mereka yang jahat.

Ketika kita berada dalam kesulitan dan mulai meragukan pertolongan Tuhan, ingatlah kembali saat di mana Ia memberikan pertolongan dan perlindungan. Marilah kita belajar mencatat berkat dan mengingat pertolongan Tuhan sampai saat ini.

Doa: Mampukan aku untuk terus mengingat kasih setia dan pertolongan-Mu. [IT]







Kedudukan Berasal Dari Tuhan
Posted on Sabtu, 16 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 16

Kedudukan berasal dari Tuhan! Inilah kesimpulan dari Bilangan 16. Bilangan 16 membicarakan tentang usaha merebut kekuasaan atas bangsa Israel yang telah dipercayakan Tuhan kepada Musa dan Harun. Pemberontakan itu dipimpin oleh Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi bersama dengan tiga orang dari Suku Ruben, yaitu Datan dan Abiram— anak-anak Eliab—dan On bin Pelet, diikuti oleh 250 orang lain (16:1-2) Bila dilihat sepintas lalu, alasan pemberontakan kelihatan rohani, yaitu bahwa semua orang Israel adalah orang-orang kudus dan bahwa Tuhan berada di tengah umat-Nya (16:3), sehingga mereka merasa tidak perlu hidup di bawah kepemimpinan Musa dan Harun. Mereka kecewa terhadap Musa dan Harun yang telah mengeluarkan mereka dari Tanah Mesir—yang digambarkan sebagai negeri yang penuh susu dan madu— tetapi tidak segera memasuki negeri dengan kualitas yang sama, serta tidak memberikan tanah milik untuk mereka kelola. Sebaliknya, setelah keluar dari Tanah Mesir, mereka menemui kesukaran, kelaparan, dan penderitaan. Protes mereka membuat Musa sangat marah (16:13-15).

Protes (pemberontakan) di atas membuat TUHAN murka dan para pemrotes dihukum mati dengan cara yang belum pernah terjadi (yaitu tanah terbuka serta menelan Korah, Datan, dan Abiram bersama seluruh keluarga mereka hidup-hidup, lalu Tuhan mengirimkan api yang membakar 250 orang pengikut mereka). Respons Tuhan terhadap protes di atas memperlihatkan bahwa kepemimpinan Musa dan Harun berasal dari Tuhan (16:23-35).

Kisah di atas mengingatkan kita yang hidup pada masa kini untuk tunduk kepada pengaturan Tuhan. Walaupun kita tidak selalu bisa mengerti mengapa seseorang dipilih Tuhan untuk menjadi pemimpin dan yang lain (termasuk kita) tidak dipilih untuk kedudukan yang sama, kita tidak boleh memprotes pengaturan Tuhan. Dalam kehidupan bergereja, setiap anggota gereja perlu belajar untuk menghargai para pemimpin dalam gereja. Bila pemimpin kita memiliki kekurangan atau kesalahan, kita wajib mendoakan dan memberi masukan secara sopan, bukan menghina dan menjatuhkan. Kita harus menunggu Tuhan sendiri yang bertindak menghukum mereka. Apakah Anda sudah terbiasa mendoakan para pemimpin di gereja Anda? Bila Anda belum pernah mendoakan mereka, mulailah berdoa! [GI Roni Tan]


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)