Author Topic: Saat Teduh  (Read 69584 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

November 18, 2019, 04:57:56 AM
Reply #2090
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Doa untuk Pemimpin
Posted on Minggu, 17 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 72

Kesejahteraan rakyat sangat bergantung kepada pemimpin. Dalam sistem kerajaan, raja yang bijaksana akan membawa kebaikan dan kemakmuran bagi rakyat. Raja yang jahat akan membuat rakyatnya menderita. Pemazmur mengajak umat untuk berdoa agar Tuhan memampukan seorang raja menjalankan pemerintahannya dengan adil.

Hal terutama yang diminta pemazmur adalah Tuhan memberikan hukum dan keadilan-Nya kepada raja sehingga ia dapat mengadili rakyat dengan adil. Kata ”adil” di sini dalam bentuk kata benda dan kata kerja telah muncul berkali-kali di awal mazmur (1,2,3). Baru setelah itu, pemazmur meminta dua hal, yaitu umur yang panjang kepada sang raja (5) agar raja membawa kemakmuran kepada rakyat (6-7,16) dan kekuasaan yang besar supaya semua raja tunduk kepadanya dan memberkatinya (8-11,17).

Kata yang diterjemahkan sebagai ”sebab” di ayat 12 dapat diterjemahkan sebagai ”jika”, yang berarti Tuhan kiranya menjawab doa tersebut jika ia adalah raja yang adil. Atau, kata ”sebab” itu menunjukkan bahwa pemazmur berdoa seperti ini karena rajanya adalah raja yang penuh dengan belas kasihan dan sayang kepada rakyatnya (12-14). Kita dapat melihat bahwa apa yang didoakan oleh pemazmur nantinya terwujud dengan sempurna dalam kerajaan Mesias.

Pemazmur sangat mengerti bahwa raja perlu didoakan oleh rakyatnya. Kalau rajanya baik berarti berkat bagi rakyat. Karena itu, pemazmur berdoa supaya Tuhan memberkati raja yang baik dengan umur panjang dan kekuasaan yang besar.

Kita perlu berdoa supaya Tuhan memberikan pemimpin yang baik. Karena kesejahteraan kita bergantung kepada seorang pemimpin yang berani menegakkan keadilan atau tidak dalam pemerintahannya.

Marilah berdoa supaya Tuhan memberikan kita kepala negara dan pejabat tinggi negara yang berani menegakkan hukum serta memiliki hati untuk menyejahterakan rakyatnya.

Doa: Tuhan, kiranya Engkau mengirimkan bagi kami para pemimpin yang jujur dan adil. [IT]







Allah yang Memilih Pemimpin
Posted on Minggu, 17 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 17

Dalam pasal 16, beberapa pemimpin Israel memberontak dan berusaha merebut kekuasaan dengan mengerahkan kekuatan massa. Mereka menuduh bahwa Allah tidak memenuhi janji-Nya karena setelah dikeluarkan dari Tanah Mesir (yang subur), mereka tidak (belum) memperoleh tanah warisan yang subur sesuai dengan janji Allah. Tuduhan itu membuat Allah murka. Mereka yang berusia di atas 20 tahun saat keluar dari Tanah Mesir pasti tidak akan bisa masuk ke Tanah Perjanjian. Perkataan, “Sesungguhnya kami akan mati, kami akan binasa, kami semuanya akan binasa” (17:12) menunjukkan kesadaran bahwa hukuman Tuhan yang disebabkan sungut-sungut mereka itu pasti akan terjadi.

Tuhan itu panjang sabar dan penuh kasih karunia. Di pasal 17, Tuhan memberi tanda bahwa Dia telah memilih Harun untuk menjadi imam dengan membuat tongkat Harun bertunas serta mengeluarkan bunga dan buah badam (17:8), sedangkan kesebelas tongkat yang lain tidak bertunas. Seperti tongkat yang lain, sebenarnya tongkat Harun adalah tongkat biasa yang berasal dari batang kayu yang sudah mati, sehingga mustahil bisa menjadi hidup. Akan tetapi, Tuhan menyatakan kuasanya dengan menumbuhkan bunga (yang menandai adanya kehidupan) pada tongkat Harun (yang sudah mati). Melalui tanda tersebut, Tuhan menegaskan bahwa Dialah yang memilih Harun sebagai imam besar. Tongkat Harun yang berbuah ini disimpan dalam Tabut Perjanjian sebagai tanda agar angkatan selanjutnya memahami kemahakuasaan Tuhan serta memelihara ketetapan-Nya. Jelaslah bahwa Tuhan membela Harun yang telah Dia pilih sebagai imam besar.

Adanya hierarki (urutan tingkatan) kedudukan merupakan hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah, ada hierarki guru dan murid dan kakak kelas dengan adik kelas. Di kantor, ada hierarki pimpinan dan karyawan. Di gereja, ada hierarki ketua dan anggota serta gembala dan jemaat. Sadarilah bahwa adanya hierarki mencerminkan adanya kepercayaan Tuhan terhadap orang yang memegang suatu jabatan. Tidak ada jabatan yang tidak ditetapkan (atau diizinkan) oleh Allah. Oleh karena itu, kita yang dipimpin atau digembalakan harus menghormati, mendoakan, dan mendukung pemimpin yang telah dipercaya Tuhan untuk menduduki suatu jabatan. Marilah kita berdoa agar Tuhan menyertai para pemimpin kita. [GI Roni Tan]



November 19, 2019, 06:29:11 AM
Reply #2091
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Melihat dari Perspektif Allah
Posted on Senin, 18 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 73

Dari zaman dahulu sampai sekarang, banyak orang benar yang merasa iri kepada orang fasik. Kelihatannya hidup mereka jauh lebih baik dari kehidupan orang benar. Mereka hidup dalam kemewahan, kebal hukum, dan juga disanjung dan dipuja. Seolah-olah Allah ”menutup mata” terhadap kefasikan mereka. Hal ini yang dirasakan oleh pemazmur.

Kata ”sesungguhnya” muncul 3x dalam bahasa Ibrani, yaitu ayat 1, 13, dan 18, yang menggambarkan perjalanan pergumulan Si Pemazmur. ”Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya” (1). Namun, pemazmur merasa ”sesungguhnya” sia-sia ia mempertahankan hati yang bersih (13). Ternyata orang fasik hidup dengan mujur, tanpa kesakitan (3-5), dan tidak kena tulah setiap hari (14).

Ketika pemazmur datang ke Bait Allah, pada akhirnya ia menyadari ”sesungguhnya” Tuhan menaruh orang-orang fasik tersebut di tempat-tempat licin (18). Mereka akan dijatuhkan Tuhan dan binasa dalam sekejap mata (19). Itu sebabnya, pemazmur bersyukur bahwa selama pergumulannya ia terus berada di dekat Tuhan, walaupun ia dalam kebingungan (21-23). Tuhan terus memegang tangannya, menuntun, dan meneguhkan kembali imannya yang sempat goyah (23-26).

Awalnya pemazmur merasa cemburu kepada orang fasik yang hidupnya makmur dan tanpa rasa sakit. Beda halnya dengan hidup orang benar yang penuh dengan kesulitan. Tetapi, ketika pemazmur terus berada di dekat Tuhan dan belajar melihat dari perspektif Tuhan, akhirnya ia mengerti bahwa mereka yang fasik akan dibinasakan dan dihancurkan oleh Tuhan.

Kita hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa dan penuh dengan ketidakadilan. Kita harus mengerti bahwa kita hanya melihat dunia dari sudut pandang yang bersifat sementara. Memang hidup orang fasik sepertinya sangat senang. Meski demikian, kita perlu belajar melihat dunia dari sisi Allah dan melihat betapa hidup orang fasik sedang berjalan menuju kehancuran dan kebinasaan.

Doa: Mampukan aku melihat segala sesuatu dari perspektif-Mu, Tuhan. [IT]







Tanggung Jawabnya Juga Besar
Posted on Senin, 18 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 18

Harun berasal dari suku Lewi, suku yang dikhususkan Tuhan untuk melayani Dia dalam Kemah Pertemuan atau Kemah Suci dengan mempersembahkan korban dan menjadi perantara antara umat Israel dengan Allah. Dari antara keturunan Lewi, Tuhan memilih Harun dan keturunannya untuk menjadi imam. Walaupun Harun dan anakanaknya—seperti semua anggota suku Lewi yang lain—tidak menerima warisan tanah, mereka memperoleh hak untuk menerima persembahan khusus dari suku-suku Israel lainnya dan juga hak untuk memakan bagian korban yang dikhususkan bagi para imam (18:8-20).

Suku Lewi memperoleh hak untuk menerima persepuluhan dari umat Israel di luar suku Lewi (18:21, 24). Akan tetapi, mereka juga harus memberikan persepuluhan—dari persembahan persepuluhan yang mereka terima— kepada Imam Harun (18:26-28). Suku Lewi harus melaksanakan semua tugas menyangkut Kemah Suci untuk menjaga agar hubungan umat Allah dengan TUHAN tetap baik, sehingga mereka tidak dimurkai TUHAN. Suku Lewi harus menjaga agar umat Allah (di luar suku Lewi) tidak memasuki Kemah Suci yang merupakan wilayah terlarang dengan ancaman hukuman mati bagi bukan imam yang menerobos masuk. Harun dan keturunannya harus menjalankan tugas keimaman, yaitu mempersembahkan korban. Mereka harus senantiasa menjaga kekudusan hidup. Bila melakukan pelanggaran, mereka harus segera datang meminta pengampunan dan membawa persembahan korban ke hadapan Tuhan agar Tuhan melayakkan mereka untuk kembali melayani Dia di Kemah Suci.

Dalam 1 Petrus 2:9, semua orang percaya disebut sebagai imamat rajani yang bisa menjalin relasi secara langsung dengan Allah, sebagaimana imam pada zaman Musa yang mewakili umat Allah untuk mempersembahkan korban kepada Allah. Status sebagai imamat rajani mengharuskan setiap orang percaya untuk tekun menjalin relasi dengan Tuhan. Sebagian orang percaya dipanggil secara khusus untuk menjadi hamba Tuhan yang melayani penuh waktu. Hamba Tuhan penuh waktu harus setia melayani dan menjaga diri agar hidupnya menjadi teladan bagi orang-orang percaya yang lain. Dengan demikian, hidupnya berkenan di hadapan Tuhan dan dia bisa menjadi alat yang siap dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan Allah di dunia ini. [GI Roni Tan]




November 20, 2019, 05:41:43 AM
Reply #2092
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Doa dengan Memberikan Alasan
Posted on Selasa, 19 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 74

Allah yang kudus tidak akan ”membebaskan orang yang bersalah dari hukuman” (Kel. 34:7). Umat Israel terus-menerus berdosa dan memberontak kepada Allah. Namun, Ia akan menghukum mereka. Apa yang harus dilakukan ketika Allah sedang menghukum kita? Mazmur 74 mengajarkan apa yang perlu dilakukan.

Pemazmur memulai dengan pertanyaan mengapa Allah masih terus murka terhadap umat-Nya (1). Ia memohon supaya Allah kembali mengingat umat-Nya yang telah ditebus dan dijadikan milik-Nya (2). Alasannya adalah karena musuh telah menghancurkan dan menistakan tempat kudus Allah (4-7). Apalagi, Allah tidak lagi mengirimkan nabi-Nya sehingga umat tidak tahu berapa lama lagi Ia akan membiarkan nama-Nya dinistakan (9-10), padahal TUHAN adalah Allah yang Maha Dahsyat yang memiliki seluruh bumi (12-17). Karena itu, pemazmur menutup mazmur ini dengan memohon supaya Tuhan tidak membiarkan nama-Nya dinistakan (18,22-23) dan jangan melupakan perjanjian serta umat-Nya (20-21).

Pemazmur juga memohon Tuhan untuk cepat bertindak menyelamatkan umat-Nya dengan memberikan beberapa alasan, yaitu: mereka yang dibuang adalah umat Tuhan yang telah ditebus oleh-Nya; mereka itu umat perjanjian-Nya; para musuh mereka telah menista nama dan tempat kudus Tuhan.

Beberapa alasan tersebut memperlihatkan pemazmur mengerti bahwa Tuhan adalah Allah yang Mahatahu dan Mahakuasa. Saat yang sama, Tuhan mau umat-Nya melakukan kewajibannya, termasuk bertekun dalam doa. Inilah alasan mengapa Tuhan perlu segera menolong umat-Nya.

Ketika Tuhan murka terhadap kita yang sering melakukan berbagai dosa, maka kita perlu bertobat dan memohon belas kasihan-Nya. Selain itu, kita perlu memberikan alasan mengapa Tuhan perlu secepatnya menolong agar kita mengerti apa yang perlu didoakan dan percaya bahwa kita telah berdoa dengan benar seturut kehendak-Nya.

Doa: Mampukan aku untuk mengerti apa yang aku doakan. [IT]







Najis dan Tahir
Posted on Selasa, 19 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 19

Najis dan Tahir merupakan dua kondisi bertolak belakang yang bisa dialami orang Israel. Najis terjadi bila mereka menyentuh mayat, orang yang mati terbunuh oleh pedang, tulang manusia, kubur (19:16) atau imam yang selesai membakar korban maka imam itupun najis (19:7). Ada kondisi najis yang berlangsung sampai matahari terbenam (19:8b) dan ada yang berlangsung selama 7 hari (19:11). Kenajisan yang dipertahankan bisa mendatangkan hukuman mati (19:13). Mereka yang dinilai najis akan diasingkan dan kemudian dibasuh dengan air pentahiran (19:13). Bila seorang yang dianggap najis menyentuh sesuatu, maka apa yang disentuh menjadi najis (19:22). Pentahiran merupakan tindakan untuk menjaga komunitas umat Allah dari pengaruh yang membuat cemar serta menerapkan tegaknya kemurnian moral. Orang yang tahir harus memercikkan air pentahiran ke kemah, segala bejana, dan orang-orang yang najis agar semuanya kembali menjadi tahir (19:18) di hadapan TUHAN dan bagi sesama.

Bacaan Alkitab hari ini mengajar kita untuk menjaga kelayakan hidup di hadapan Tuhan dengan memahami apa yang boleh kita lakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, sehingga kita tidak jatuh dalam dosa (menjadi najis) di hadapan Tuhan. Bila kita jatuh dalam dosa yang sama, kita perlu mengintrospeksi diri dan memohon pengampunan Tuhan. Bila kita berada dalam kondisi tahir, kita harus menjaga diri agar kita jangan sampai jatuh ke dalam dosa. Kita dipanggil untuk menolong rekan-rekan seiman yang sedang bergumul melawan dosa, sehingga mereka segera sadar bila melakukan dosa dan mereka bisa menerima pengampunan dari Tuhan.

Apakah Anda memiliki kerinduan untuk dipakai oleh Allah guna membantu sesama yang sedang bergumul melawan dosa agar bisa melepaskan diri dari jerat dosa dan kembali kepada Tuhan? Ingatlah bahwa sebenarnya banyak orang yang membutuhkan pertolongan dari sesama saudara seiman. Mereka yang memerlukan pertolongan kita itu mungkin adalah keluarga, tetangga, teman, atau mereka yang selama ibadah minggu duduk di sebelah Anda. Mereka yang membutuhkan pertolongan Anda itu mungkin sengaja Tuhan tempatkan di dekat diri Anda agar Anda bisa menolong mereka, sehingga kita semua memiliki kehidupan yang berkenan pada Tuhan. [GI Roni Tan]



November 21, 2019, 06:22:50 AM
Reply #2093
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Allah Menghancurkan Kuasa Orang Fasik
Posted on Rabu, 20 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 75

Kenyataan bahwa orang- orang fasik sangat berkuasa dan berada di sekitar kita kadang membuat kita mempertanyakan keadilan Allah, bahkan meragukan jika Allah dapat menghancurkan kekuatan orang fasik. Menyadari pergumulan umat Tuhan yang sering tertindas, Mazmur 75 sekali lagi menegaskan bahwa Allah kita adalah Allah yang adil, yang akan menghancurkan kekuatan orang fasik.

Pemazmur bersyukur karena segala perbuatan Allah yang ajaib dikisahkan oleh umat-Nya (2). Hal utama yang patut disyukuri pemazmur adalah kenyataan bahwa Allah adalah Hakim yang akan merendahkan orang fasik dan meninggikan orang benar (8).

Dalam mazmur ini, orang fasik bangga dengan kekuatan mereka. Kekuatan digambarkan dengan kata ”tanduk.” Perhatikan kata ”tanduk” muncul 4x (5,6,11 [2x]). Dua kali Allah memperingatkan orang fasik tidak mengangkat tanduk mereka tinggi-tinggi (5,6). Ketika mereka terus meninggikan tanduknya, pada akhirnya piala yang berisikan murka Allah akan dituangkan ke atas mereka (9) dan ”segala tanduk orang-orang fasik akan dihancurkan-Nya” (11). Sedangkan, ”tanduk-tanduk orang benar akan ditinggikan” (11b).

Pemazmur percaya bahwa walaupun kekuatan orang fasik begitu dahsyat, tetapi Allah dengan mudah menghancurkan kekuatan mereka dan meninggikan orang benar. Jadi, jangan takut dengan kuasa orang fasik, meski terlihat hebat, dahsyat, dan tidak terkalahkan. Mereka dapat berkuasa saat Allah masih membiarkan mereka berkuasa. Ketika tiba masa penghakiman, kekuatan mereka dengan mudah dipatahkan dan Allah akan menegakkan hak orang benar.

Saking hebatnya berita hoaks dan fitnahan dalam setiap pilkada dan pilpres, terkadang hal itu membuat kita pesimis dan bertanya-tanya: apakah kebenaran akan menang? Melalui kesaksian pemazmur, kita diingatkan untuk percaya kepada Allah. Pada akhirnya, Allah akan meninggikan orang benar dan menghancurkan kuasa orang fasik.

Doa: Jangan biarkan kekuatan orang fasik membuatku takut. [IT]







Ketaatan Lebih Dari Hasil
Posted on Rabu, 20 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 20

Kebiasaan bersungut-sungut adalah salah satu kelemahan bangsa Israel. Dalam Bilangan 20, orang Israel kembali bersungut-sungut karena tidak memiliki tempat untuk menabur, tidak ada pohon ara, anggur, dan delima, serta tidak ada air. Mereka menilai tempat mereka sebagai tempat celaka (20:5). Sungut-sungut mereka didengar Tuhan dan Musa. Tuhan memastikan bahwa mereka akan mendapat air untuk diri mereka dan untuk ternak mereka. Mereka akan mendapat air dari dalam bukit batu yang akan mengeluarkan air yang melimpah. Air ini sangat cukup untuk memuaskan rasa haus mereka, dan ternak mereka akan mendapat minum.

Perintah Tuhan kepada Musa sangat jelas, yaitu agar ia mengumpulkan orang Israel dan berkata pada bukit batu untuk mengeluarkan air. Air pasti akan keluar dari bukit batu itu. Sayangnya, yang dilakukan Musa tidak tepat seperti yang diperintahkan Tuhan. Pertama , setelah Musa dan Harun mengumpulkan orang Israel, yang dikatakan Musa adalah, “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, …” (20:10). Perkataan itu berfokus pada dirinya sendiri, padahal saat itu ia sedang mewakili Tuhan. Kedua , Musa menyapa orang Israel sebagai orang durhaka. Sapaan ini bukanlah sapaan yang diperintahkan Tuhan. Ketiga , Musa memukul bukit batu, padahal yang diperintahkan Tuhan hanyalah agar Musa berkata saja kepada bukit batu itu agar mengeluarkan air. Memang benar bahwa air keluar dari bukit batu dan orang Israel beserta ternak mereka bisa minum. Akan tetapi, hasil (keluarnya air) tidak berarti bahwa ketidaktaatan (memukul bukit batu) bisa diterima.

Kadang-kadang kita bisa bersikap seperti Musa: Kita mendengar atau mengetahui Firman Tuhan, tetapi kita menerapkan dengan cara yang semaunya, menurut cara yang kita anggap sebagai paling benar. Kita beranggapan bahwa yang paling penting adalah hasil. Adanya hasil kita anggap sebagai tanda bahwa Allah berkenan terhadap diri kita. Tidak mengherankan bila kita bisa memakai cara apa pun untuk mendapatkan hasil. Akan tetapi, kisah yang kita baca pada hari ini menunjukkan bahwa ketaatan lebih penting daripada hasil. Bila kita taat, hidup kita pasti berkenan kepada Allah. Jadi, ketaatan lebih penting daripada hasil. Mana yang lebih penting bagi Anda: ketaatan terhadap kehendak Allah atau pemenuhan keinginan Anda? [GI Roni Tan]



November 22, 2019, 07:08:54 AM
Reply #2094
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Allah yang Berperang bagi Kita
Posted on Kamis, 21 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 76

Alkitab menggambarkan adanya dua dunia, yaitu dunia yang kelihatan secara kasat mata (akal budi) dan dunia yang tidak kelihatan (iman). Manakah yang lebih penting di antara kedua dunia itu?

Dalam Perjanjian Lama, umat Israel sangat paham bahwa Allahlah yang maju memerangi para musuh mereka (bdk. Yos. 24:12-13). Mazmur 76 juga menggambarkan hal yang sama. Pemazmur melihat Allah sebagai Pahlawan Perang yang perkasa. Ia mematahkan panah berkilat, perisai, pedang, dan alat perang (4). Orang-orang yang berani dan gagah perkasa dari pihak musuh kehilangan kekuatannya dan mereka dijarah oleh Allah (6). Sebegitu perkasanya, Allah cukup menghardik dan semua musuh serta kuda mereka tertidur lelap (7). Semua pemimpin atau pun raja patah semangat dan tidak tahan menghadapi murka Allah (8,13). Bahkan, bumi pun takut dan tertegun mendengar keputusan-Nya (9). Ternyata, murka Allah itu ditujukan untuk menyelamatkan semua orang yang tertindas di bumi (10). Karenanya, pemazmur menutup mazmurnya dengan meminta umat membayar nazar dan memberikan persembahan kepada Tuhan yang ditakuti (12).

Pemazmur menekankan bahwa dalam setiap peperangan, Allah yang berperang bagi umat-Nya. Di tangan Allah yang perkasa, musuh mereka yang begitu kuat kehilangan kuasanya dan mudah ditaklukkan. Karena itu, umat perlu bersyukur kepada Allah yang memenangkan peperangan bagi mereka.Hal senada juga ditegaskan oleh Paulus bahwa peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan roh-roh jahat di udara (Ef. 6:12).

Marilah kita menyadari bahwa setiap keputusan yang diambil setiap hari adalah peperangan rohani. Kita perlu bergantung kepada Tuhan untuk mengambil sebuah keputusan yang benar dan tepat. Kita harus memercayakan peperangan rohani setiap hari ke dalam tangan Allah. Sebab, kita hanya dapat menang jika Allah yang maju berperang bagi kita.

Doa: Ajarkan aku untuk mengerti bahwa hidup adalah medan peperangan rohani. [IT]







Pandang, Maka Tetap Hidup
Posted on Kamis, 21 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 21

Bangsa Israel adalah bangsa pemberontak yang tidak pernah puas. Saat berjalan dari gunung Hor menuju Laut Teberau, mereka tidak dapat lagi menahan hati (21:4). “Tidak dapat lagi menahan hati” berarti tidak bisa sabar untuk menahan diri agar tidak menggerutu. Suka menggerutu sudah menjadi karakter bangsa Israel. Karena tidak bisa menahan hati, mereka menyalahkan TUHAN dan Musa. Tuhan dan Musa dinilai salah karena tidak memberikan roti dan air kepada mereka. Tuhan dan Musa dinilai salah karena hanya bisa memberkati mereka dengan roti yang hambar (21:5). Tindakan mereka membuat TUHAN murka. Oleh karena itu, banyak di antara mereka yang mati dan sakit karena dipagut ular-ular tedung (21:6). Bila Tuhan terus dalam murka-Nya dan tidak bertindak untuk menghentikan serangan ular—ular tedung itu, bisa saja mereka semua akan mati karena bisa ular tedung yang mematikan.

Dalam keadaan tidak berdaya dan berduka, mereka kembali meminta pertolongan Tuhan yang telah mereka sakiti hati-Nya. Puji Tuhan! Tuhan menolong mereka! Tuhan memerintahkan Musa membuat ular tembaga yang kemudian diletakkan di sebuah tiang (21:8-9). Setiap orang yang digigit ular tedung lalu memandang ular tembaga itu pasti akan disembuhkan dari bisa ular (21:9). Apakah ular tembaga itu memiliki khasiat menyembuhkan? Tidak! Sebenarnya, Tuhan-lah yang menyembuhkan mereka sehingga mereka tidak mati walaupun telah digigit ular. Ular tembaga itu merupakan simbol dari Tuhan Yesus yang telah mengorbankan diri-Nya sampai mati di kayu salib. Tuhan Yesus bersabda dalam Yohanes 3:14-15, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Kesembuhan dari orang yang memandang ular tembaga merupakan gambaran dari keselamatan yang diperoleh oleh setiap orang yang mempercayai pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib untuk menyelamatkan orang berdosa.

Janganlah ragu untuk memercayai pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib agar murka dan hukuman Allah terhenti dan diganti dengan anugerah yang melimpah dari Allah Bapa, kasih dari Tuhan Yesus Kristus, dan pertolongan dari Allah ROH KUDUS. Percayalah bahwa Tuhan Yesus menanti agar kita datang kepada-Nya! [GI Roni Tan]



November 23, 2019, 06:29:04 AM
Reply #2095
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Apakah Allah telah Berubah?
Posted on Jumat, 22 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 77

Ketika kesulitan datang bertubi-tubi dan kita telah berseru kepada Allah, Ia ternyata tidak menjawab doa kita. Yang muncul dalam pikiran adalah Allah telah berubah. Ia tidak lagi peduli, apalagi mengasihi kita. Pemazmur pun menggumulkan hal yang sama. Pertanyaannya adalah apa yang harus kita lakukan?

Pemazmur mempertanyakan diri Allah: apakah Allah yang kepada-Nya ia terus berseru (2-3) dan belum juga menjawab sudah tidak lagi bermurah hati? Apa kasih setia-Nya lenyap? Atau Ia sudah berubah (8-11)?

Dalam pergumulannya, pemazmur teringat kembali segala perbuatan ajaib yang dilakukan Allah. Perhatikan kata ”mengingat” muncul dalam ayat 4,7 (lih. LAI ”sebut-sebut”) dan ayat 12 (2x). Akhirnya, ia sadar bahwa Allah tidak berubah. Ia tetap menebus dan menuntun umat-Nya (15-21).

Keindahan jawaban Tuhan bahwa Ia tetap menuntun dapat dilihat dari beberapa kata yang diulang. Kata ”suaraku” (2; muncul 2x dalam bahasa Ibrani) dijawab dengan ”suara” guntur Allah (18-19). ”Tangan” pemazmur yang diulurkan (3) yang sepertinya tidak mendapat sambutan dan menimbulkan pertanyaan apakah ”tangan kanan” Yang Mahatinggi berubah (11)? Lalu, dijawab dengan tuntunan Tuhan melalui ”tangan” Musa dan Harun yang telah menuntun umat-Nya pada masa lampau (21).

Ketika seruan kita kepada Tuhan tidak dijawab, maka kita mulai ragu akan kasih dan kepedulian Allah. Cara terbaik adalah mengingat kembali segala karya Tuhan terhadap umat-Nya pada masa lampau. Dengan demikian, kita akan dikuatkan kembali bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Lagi pula Allah tidak pernah berubah.

Kita perlu mengenang semua perbuatan Allah yang tertulis dalam Alkitab, sekaligus mengingat-ingat (flashback) karya Allah dalam kehidupan kita. Tujuannya adalah ketika timbul keraguan akan kasih dan anugerah Allah, maka kita diyakinkan sekali lagi bahwa Allah tidak berubah dan kasih serta penyertaan-Nya selalu dicurahkan umat yang taat kepada-Nya.

Doa: Kiranya aku selalu ingat bahwa Allah tidak berubah. [IT]







Tuhan Menghendaki agar Kita Taat
Posted on Jumat, 22 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 22

Walaupun Bileam bertanya (meminta izin untuk mengutuk bangsa Israel) kepada Allah sebelum menanggapi permintaan Balak, pertanyaannya dilandasi keinginan mendapatkan uang yang ditawarkan oleh Balak, sehingga pertanyaan itu membangkitkan murka Allah (22:22). Malaikat Tuhan menghadang dengan pedang terhunus, tetapi Bileam selamat karena keledai yang ditumpanginya mogok. Bileam menganggap keledainya tidak patuh sehingga ia memukul keledainya. Terjadilah suatu mujizat karena keledai itu tiba-tiba bisa protes, “Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?” (22:28). Selanjutnya, Tuhan membuka mata Bileam sehingga ia melihat bahwa ada Malaikat TUHAN yang menghadang dengan pedang terhunus (22:31). Mengapa Tuhan murka kepada Bileam? TUHAN murka karena Bileam bertanya tanpa ketulusan (22:8, 19). Bileam tahu bahwa Allah tidak mengizinkan dia pergi. Oleh karena itu, pertanyaannya menunjukkan bahwa dia memaksa TUHAN. Inilah yang membuat TUHAN murka! Bileam baru sadar setelah Malaikat Tuhan memberi penjelasan (22:31-34). Keledai—binatang yang bodoh—bisa dipakai Tuhan untuk menyingkapkan kebodohan Bileam.

Kisah Bileam dan keledai tunggangannya mengingatkan agar kita tidak dengan sengaja menentang kehendak Tuhan. Kita bukan hanya harus mengembangkan kepekaan untuk bisa memahami kehendak Tuhan, tetapi kita juga harus mencari kehendak-Nya dengan ketekunan, kesabaran, dan kesediaan untuk taat. Bila kita dengan sengaja menentang kehendak Tuhan yang telah kita ketahui, kita akan menerima hukuman. Kita juga perlu menyadari bahwa cara Tuhan mengingatkan tidak selalu bisa kita duga sebelumnya, seperti hal keledai yang bisa berbicara dalam bacaan Alkitab hari ini. Tuhan menghendaki agar kita mengikuti panggilan-Nya, yaitu agar kita menjadi alat di tangan Tuhan yang dipakai untuk kemuliaan-Nya. Ingatlah bahwa mencari kehendak Tuhan itu menuntut ketekunan dan melakukan kehendak Tuhan itu menuntut pengorbanan. Apakah Anda memiliki ketekunan untuk mencari kehendak Tuhan dan memiliki kesediaan untuk menaati kehendak-Nya? Bila Anda tidak tekun mencari kehendak Tuhan atau Anda tidak memiliki komitmen (tekad) untuk melakukan kehendak-Nya, Anda tidak akan bisa memuliakan Tuhan melalui kehidupan Anda! [GI Roni Tan]



November 24, 2019, 04:10:25 AM
Reply #2096
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kasih Allah Dalam Sejarah Hidup Kita
Posted on Sabtu, 23 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 78

Jangan meninggalkan sejarah merupakan semboyan agar kita tidak melupakan sejarah perjuangan para pendahulu kita.

Ajaran untuk mengingat kembali sejarah hidup bangsa Israel juga tampak dalam bacaan kita ini. Orang Israel diminta memasang dan menyendengkan telinga bagi pengajaran dan cerita yang telah disampaikan sejak zaman nenek moyang (1-3). Apakah itu? Yaitu, tentang perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan oleh Tuhan (4) dan bagaimana respons nenek moyang mereka yang sering kali memberontak kepada Tuhan (8).

Tuhan telah memimpin nenek moyang Israel keluar dari tanah Mesir; memberikan tulah di tanah Mesir (43-51; bdk. Kel. 7-10, 12:29-42); membelah laut (13), menuntun melalui tiang awan dan tiang api (14); memenuhi kebuTuhan makan dan minum mereka (15,23-29); menghalau bangsa-bangsa; dan memberikan tanah perjanjian (55). Tetap saja di tengah itu semua selalu ada respons buruk dari umat Israel yang masih meragukan kekuatan serta kesetiaan Allah. Hal itu membuat Allah sakit hati (17-19,30,32,36-37,40,56) dan Ia menghukum umat-Nya. Karena kasih sayang Allah yang begitu besar, Ia tetap memilih menggembalakan dan menuntun mereka (72). Dari sini kita bisa melihat bagaimana kasih sayang dan kesetiaan Allah tidak pernah berubah, sekalipun umat menyakiti hati-Nya. Kasih Allah selalu ada bagi mereka.

Mari lihat sejenak sejarah hidup kita, yaitu bagaimana Allah bekerja menuntun kita hingga sampai saat ini. Berapa banyak hal yang sudah Allah lakukan dan berikan kepada kita? Seberapa besar kasih sayang-Nya yang telah kita rasakan dalam hidup ini? Bahkan di tengah segala kebaikan dan kasih-Nya itu, terkadang kita masih menyakiti hati Allah? Misalnya, sering berkeluh kesah, marah, memberontak, ketidakpercayaan, tidak belajar bersyukur. Marilah kita hidup dengan penuh kasih, kerendahan hati, ketaatan, kesetiaan kepada Tuhan, dan sebagainya.

Doa: Tuhan, ajar kami menjadi umat yang taat dan setia kepada-Mu. [YWA]







Itulah Yang Akan Kukatakan
Posted on Sabtu, 23 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 23-24

Balak—raja Moab diselimuti ketakutan besar saat melihat bangsa Israel berjalan mendekati daerah kekuasaannya. Ketakutan ini bisa dipahami karena sebelumnya, TUHAN telah melakukan banyak perkara ajaib dalam memimpin perjalanan bangsa Israel keluar dari Tanah Mesir. Peristiwa tenggelamnya Firaun bersama pasukannya yang gagah perkasa saat mengejar bangsa Israel telah tersebar di antara bangsabangsa yang selama ini tunduk pada kerajaan Mesir. Dalam bacaan Alkitab hari ini, bangsa Israel telah berada di daerah Moab.

Kegentaran Balak terhadap bangsa Israel membuat ia memanggil Bileam untuk mengutuki bangsa Israel. Pemikirannya, bila bangsa Israel mendapat kutuk, mereka akan mudah dikalahkan oleh bangsa Moab. Raja Balak mengantar Bileam ke tiga lokasi yang berbeda untuk mengutuk bangsa Israel, tetapi Bileam bertindak sebaliknya, yaitu memberkati bangsa Israel dan bukan mengutuki. Walaupun Raja Balak telah menjanjikan upah yang besar bila Bileam mengutuki bangsa Israel, Bileam tidak sanggup melanggar titah TUHAN. Bileam berkata, “Apa yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kukatakan” (24:13). Dalam hal ini, Bileam menyatakan bahwa dia tunduk terhadap perintah TUHAN. Bileam tidak sanggup mengutuki bangsa Israel bila TUHAN menghendaki agar dia memberkati.

Bila Anda sudah mengenali kehendak Tuhan, apakah Anda berani dengan setia mengatakan hal-hal yang sesuai dengan kehendak-Nya, apa pun juga risiko yang harus Anda hadapi? Manakah yang lebih penting bagi diri Anda: Keinginan dan kepuasan diri sendiri atau keinginan dan kepuasan Tuhan? Apakah perkataan Anda umumnya menjadi berkat bagi orang lain atau justru membuat orang lain menjadi kesal atau berduka? Apakah perkataan Anda selalu membuat Allah dimuliakan? Marilah kita memeriksa kembali perkataan yang biasa kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun kita bebas mengatakan apa pun, kita harus mengusahakan agar perkataan kita bersifat membangun orang lain dan mendatangkan kemuliaan Tuhan. Perkataan kita haruslah mencerminkan ketaatan terhadap perintah Tuhan. Kita harus menyediakan waktu untuk membaca, mendengar, mempelajari, dan merenungkan Firman Tuhan agar kita bisa memahami kehendak Tuhan serta bisa menerapkan Firman Tuhan dalam hidup kita. [GI Roni Tan]



November 25, 2019, 06:02:58 AM
Reply #2097
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Menghadapi Kesusahan? Carilah Tuhan!
Posted on Minggu, 24 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 79

Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Sering kali kesusahan dan ancaman melahirkan ketakutan dan kekhawatiran dalam hidup kita.

Pemazmur menceritakan kesusahan yang dialami oleh bangsa Israel karena ancaman dari bangsa-bangsa lain yang telah memasuki Yerusalem. Mereka menghancurkan Bait Allah, kota, dan rakyat (1-3). Inilah peristiwa yang menandai jatuhnya Kerajaan Yehuda (Israel Selatan) ke tangan Babel (lih. 2Raj. 25:8-10). Peristiwa itu ditambah dengan penghinaan atas iman mereka kepada Allah yang gagal menolong mereka dari kehancuran (10).

Sekalipun dihina seperti itu, pemazmur tidak menunjukkan kegoyahan iman kepada Allah. Sebaliknya, ia menyerukan perlunya dasar iman yang teguh, yaitu satu-satunya sumber pertolongan yang sejati ada dalam Tuhan. Dalam kesusahan dan penderitaan yang hebat inilah, seruan permohonan ini ditujukan kepada Allah. Seruan itu disertai dengan pengakuan dosa sebagai bentuk refleksi diri yang jujur bahwa penderitaan yang mereka alami merupakan konsekuensi dan akibat dosa umat (8-9). Pertolongan dan pengampunan dari Allah saja yang melahirkan rasa syukur dan puji-pujian (13).

Semua orang pernah mengalami kesusahan dan penderitaan, baik dalam hal pribadi, keluarga, karir, bergereja, bermasyarakat, dan sebagainya. Saat menghadapi hal itu, kita pasti berharap agar bisa dilepaskan dari kesusahan dan penderitaan. Kita bisa memilih mencari pertolongan manusia, meskipun berharap kepada manusia justru menimbulkan kekecewaan. Karena itu, orang beriman harus mencari pertolongan Tuhan. Kita datang di hadapan-Nya dengan segala kejujuran dan kerendahan hati.

Ketika kita meminta bantuan Allah, satu kondisi yang diperlukan, yakni memercayakan segala sesuatu ke dalam tangan-Nya. Sebab, kita tahu dalam Tuhan ada pertolongan dan keselamatan, dan Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pkh. 3:11).

Doa: Tuhan ajar kami untuk mencari pertolongan hanya kepada-Mu. [YWA]







Dosa Lagi, Hukuman Lagi
Posted on Minggu, 24 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 25

Karena bangsa Israel begitu mudah jatuh dalam dosa, akhirnya murka Allah ditimpakan lagi kepada mereka. Allah menjatuhkan hukuman mati kepada orang-orang Israel yang telah berzinah dengan perempuan-perempuan Moab serta turut dalam penyembahan kafir dengan mempersembahkan korban kepada Baal-Peor. Tindakan orang Israel ini melanggar dua hukum dari sepuluh hukum Taurat, yaitu “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (hukum pertama, Keluaran 20:3) dan “Jangan berzinah” (hukum ketujuh, Keluaran 20:14). Ingatlah bahwa kekudusan Tuhan membuat Ia pasti menghukum dosa!

Tuhan menjatuhkan hukuman mati terhadap setiap orang Israel yang secara berpasangan menyembah Baal Peor (25:5). Saat Musa dan seluruh umat Israel menangis menyesali peristiwa di atas, Pinehas—anak Eleazar yang adalah anak imam Harun—melihat kedatangan seorang Israel yang membawa seorang perempuan Moab. Dia menjadi amat marah sehingga ia segera membunuh mereka berdua (25:6-8). Tindakan Pinehas ini menyurutkan murka Tuhan terhadap bangsa Israel. Mengapa hukuman Tuhan demikian keras? Jelas bahwa TUHAN menghendaki agar bangsa Israel menjauhi dosa dengan menaati seluruh perintah Allah untuk menghormati kekudusan-Nya. Sebagai umat pilihan Allah, mereka tidak boleh meniru penyembahan berhala yang dilakukan oleh bangsabangsa kafir yang masih menyembah berhala. Sebagai hukuman terhadap orang Midian yang membuat orang Israel berdosa dengan ikut menyembah Baal-Peor, Tuhan menjatuhkan hukuman mati (25:16-17).

Dalam perjalanan ke Tanah Kanaan, bangsa Israel sering melanggar perinntah Tuhan, sehingga Tuhan menjatuhkan beraneka ragam hukuman, mulai dari tulah sampai kematian.  Riwayat bangsa Israel menyadarkan kita bahwa kita ini rentan jatuh ke dalam dosa. Banyak godaan yang berupaya menjatuhkan kita. Kita harus memilah keinginan-keinginan kita serta memilih keputusan yang hendak kita ambil dalam hidup kita. Dalam segala kondisi, kita harus menyandarkan pikiran, hati, dan hidup kita pada Tuhan. Kita harus mempertahankan relasi yang sehat dengan Tuhan agar kita bisa menghindari pelanggaran dan belajar untuk menjalani hidup dalam ketaatan kepada Allah. Apakah Anda telah dan terus menjalin relasi dengan Tuhan dan setia menjalankan segala perintah-Nya? [GI Roni Tan]



November 26, 2019, 06:28:22 AM
Reply #2098
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Komitmen Atas Pertolongan Allah
Posted on Senin, 25 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 80

Sepenggal syair lagu ”Air mata” yang dipopulerkan oleh salah satu grup band Indonesia berbunyi, ”Air mata yang telah jatuh membasahi bumi, takkan mampu menghapus penyesalan…Menangislah bila harus menangis, karena kita semua manusia”. Syair ini hendak menunjukkan bahwa air mata dan tangisan adalah bagian dari kehidupan manusia, tatkala seseorang menghadapi musibah dan kesesakan.

Pemazmur menaikkan doa dan permohonan kepada Tuhan agar melepaskan umat Israel dari penderitaan mereka (2-3). Permohonan itu tampak dalam ungkapan ”buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat” (4,8,20). Tiga kali ungkapan itu muncul dan hal itu menunjukkan betapa besarnya kerinduan umat akan hadirnya pertolongan Tuhan. Mengapa? Karena penderitaan umat yang begitu besar menyebabkan banyak tetesan air mata (6).

Hidup umat digambarkan laksana pokok anggur yang pernah tumbuh baik, namun berbalik menjadi hancur tak berarti (9-14). Di tengah penderitaan dan permohonan akan pertolongan Tuhan, terucap sebuah komitmen untuk hidup tidak menyimpang dari jalan-Nya dan tetap setia kepada Tuhan (19). Umat bukan hanya meminta, tetapi juga menyatakan kesiapan memberikan komitmen dan kesetiaan mereka.

Kita adalah kawanan domba Allah dan sudah selayaknya menaruh pengharapan dan mencari perlindungan hanya kepada Sang Gembala Agung, yaitu Allah. Sebagai orang beriman, kita diminta bertumbuh bukan hanya bisa meminta kepada Tuhan, tetapi juga bisa memberi kepada-Nya! Dalam bacaan ini, kita diingatkan bahwa Allah menuntut ketaatan dan kesetiaan. Jangan sampai hanya meminta saja, namun ketika sudah menerima malahan kita melupakan Tuhan. Ibarat habis manis sepah dibuang.

Marilah kita kembali mengawali setiap hari dalam hidup kita dengan komitmen untuk tetap taat dan setia kepada Tuhan. Tanpa hal ini, tidak mungkin kita berkenan kepada Allah.

Doa: Inilah komitmen kami kepada-Mu, ya Tuhan, yaitu untuk taat dan setia hanya kepada-Mu. [YWA]







Hukuman Tuhan Pasti Terlaksana
Posted on Senin, 25 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 26

Tuhan menjatuhkan hukuman kepada bangsa Israel yang telah memberontak pada Tuhan, yaitu bahwa bangsa Israel harus mengembara di padang gurun selama 40 tahun. Dalam pengembaraan itu, seluruh generasi tua Israel akan mati semua di padang gurun, kecuali Kaleb dan Yosua. Hukuman tersebut telah terwujud saat Musa dan Imam Harun melaksanakan sensus yang kedua di padang gurun Sinai. Dalam sensus kedua ini, jelaslah bahwa generasi tua bangsa Israel telah meninggal semua di padang gurun Sinai (26:64-65). Hasil sensus kedua ini menunjukkan bahwa ancaman hukuman Tuhan telah dilaksanakan. Angkatan yang dicatat dalam sensus kedua ini merupakan angkatan baru bangsa Israel.

Pencatatan kali ini ditujukan kepada orang Israel yang berusia 20 tahun ke atas (26:2). Jumlah mereka dihitung karena merekalah laskar Israel yang harus berjuang untuk merebut Tanah Kanaan. Mereka mengemban tugas untuk merebut Tanah Perjanjian dan mengibarkan panji Tuhan. Tugas yang mereka emban menuntut ketaatan dan kekudusan hidup  di hadapan Tuhan, sehingga hidup mereka senantiasa diberkati dan dipelihara oleh Tuhan. Kekudusan hidup itulah kunci keberhasilan mereka dan kunci perkenanan Tuhan atas mereka.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan tentang dua hal:

Pertama , walaupun setiap generasi memiliki kisah dan pengalaman masing-masing, setiap generasi harus senantiasa hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan, sehingga setiap generasi seharusnya merupakan generasi orang beriman yang hidup memuliakan TUHAN.

Kedua , Firman Tuhan pasti akan terjadi. Ancaman penghukuman Tuhan pasti akan terlaksana sehingga tidak boleh diremehkan. Janji berkat Tuhan pun pasti akan terwujud sehingga janji-janji Tuhan bisa menjadi pegangan kita. Oleh karena itu, bila kita berbuat dosa, kita harus segera datang kepada Tuhan untuk mengakui pelanggaran kita, meminta pengampunan-Nya, dan kembali bertekad untuk hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Apakah kehidupan Anda bisa menjadi kebanggaan bagi Tuhan? Apakah anak-anak Anda merupakan generasi penerus yang menjalani kehidupan beriman di hadapan Tuhan? Jagalah diri Anda dan siapkanlah generasi anak-anak Anda agar kehidupan kita semua menjadi kehidupan yang memuliakan Tuhan. [GI Roni Tan]



November 27, 2019, 05:28:28 AM
Reply #2099
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Hidup Dalam Perjanjian dengan Allah
Posted on Selasa, 26 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 81

Acara perkawinan lazimnya dirayakan dengan penuh sukacita. Banyak pesta mewah digelar untuk merayakannya. Apa yang dirayakan? Bersatunya dua insan dalam sebuah relasi intim yang diikat melalui sebuah perjanjian.

Mazmur ini diawali dengan nyanyian sukacita yang berisi ajakan untuk bersorak-sorai dan bernyanyi bagi Allah (2-3). Alat-alat musik seperti rebana, kecapi, gambus, dan sangkakala menunjukkan betapa besarnya sukacita ini. Besar kemungkinan nyanyian ini dilakukan dalam sebuah hari raya (4), yaitu perayaan akan ikatan perjanjian antara Allah dan umat. Allah berjanji untuk melepaskan umat dari segala kesesakan (7-8), melindungi umat dari musuh dan orang-orang yang melawan mereka (16-17), serta mengenyangkan mereka dengan gandum dan madu (16-17). Sebagai gantinya, Allah menuntut umat untuk mendengarkan dan memperhatikan perintah-Nya, yakni setia untuk tidak menyembah allah lain dan hidup menurut jalan-Nya (9,10,14).

Cara hidup yang dibangun Allah dengan umat selalu bercorak perjanjian. Mulai dari perjanjian Allah secara personal dengan Nuh, Abraham, Daud, Salomo, hingga perjanjian secara komunal dengan Israel sebagai bangsa. Inilah cara hidup orang percaya, yaitu hidup dalam perjanjian dengan Allah. Itu sebabnya, Alkitab terdiri dari dua bagian, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, bukan janji lama atau janji baru.

Sepanjang hidup sudah berapa banyak janji yang dibuat dan diikrarkan sebagai bentuk perjanjian kita dengan Allah? Lalu, bagaimana kita menjalaninya? Masih setiakah kita dengan janji tersebut? Atau kita yang ingkar janji? Ingatlah bahwa janji-janji kita merupakan bagian dari ikatan perjanjian dengan Allah. Ikatan ini akan membawa kita masuk dalam relasi yang lebih intim dengan Allah. Jalanilah dengan setia dan penuh sukacita sekalipun itu berat. Karena Allah selalu setia dengan janji-Nya bahwa Ia selalu menyertai kita. Itu sebabnya Ia disebut Imanuel.

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami untuk bisa terus-menerus hidup dalam ikatan perjanjian dengan-Mu. [YWA]







Pemimpin Sebagai Gembala
Posted on Selasa, 26 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 27

Rombongan bangsa Israel beserta ternak mereka masih harus menempuh perjalanan panjang sebelum bisa memasuki Tanah Kanaan. Sementara itu, kesalahan yang dilakukan Musa membuat ia tidak diizinkan untuk ikut memasuki Tanah Perjanjian (20:12). Musa menyadari bahwa bangsa Israel memerlukan seorang pemimpin untuk menggantikan dirinya. Oleh karena itu, Musa memohon agar Tuhan mengangkat seorang pemimpin untuk menggantikan Musa, dan Tuhan menunjuk Yosua untuk menjadi pemimpin bangsa Israel. Untuk meneguhkan kepemimpinan Yosua, Tuhan memerintahkan Yosua untuk berdiri di depan Imam Eleazar. Musa diminta untuk memberikan sebagian wibawanya kepada Yosua di depan segenap umat Israel, kemudian imam Eleazar harus menanyakan keputusan Tuhan dengan memakai Urim (27:15-23).

Kepemimpinan seperti apa yang harus menjadi ciri khas Yosua? Kepemimpinan gembala (bandingkan dengan 27:17). Sebagai gembala, Yosua nanti harus memimpin perjalanan umat Israel, memimpin peperangan untuk merebut Tanah Perjanjian, membagi-bagi Tanah perjanjian pada setiap suku Israel. Gambaran tentang Yosua sebagai seorang pemimpin yang harus menggembalakan bangsa Israel ini mengingatkan kita kepada peran Tuhan dalam kehidupan umat-Nya. Jadi, bukan sekedar gambaran Tuhan sebagai Raja tapi juga gambaran Tuhan sebagai gembala atas umatNya yang digambarkan melalui kepemimpinan Yosua. Konsep Tuhan sebagai gembala banyak disebut dalam Perjanjian Lama dan juga dalam Perjanjian Baru. Dalam Matius 9:36, orang banyak disebut oleh Tuhan Yesus sebagai seperti domba yang tidak bergembala. Yosua merupakan gambaran tentang konsep Gembala Agung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Tuhan Yesus merupakan penggenapan dari Sang Gembala Agung yang menjagai dan mau mengorbankan nyawa-Nya bagi umat gembalaan-Nya. Tuhan Yesus juga memanggil kita untuk menjadi gembala bagi sesama kita (Bandingkan dengan Yohanes 21:15-17). Kita harus menjadi gembala yang memperhatikan dan menjagai sesama serta senantiasa siap sedia menolong sesama yang sedang mengalami kesulitan. Sudahkah Anda menjalankan tugas sebagai gembala bagi sesama umat Tuhan dengan menunjukkan kepedulian dan mendoakan mereka? [GI Roni Tan]




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)