Author Topic: Saat Teduh  (Read 67024 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

November 28, 2019, 05:46:24 AM
Reply #2100
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Keadilan Berpihak pada yang Lemah
Posted on Rabu, 27 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 82

Dalam sebuah persidangan di pengadilan, peran seorang hakim sangat penting karena melaluinya diharapkan lahir keputusan yang adil dan benar. Karena itu, hakim dipanggil dengan sebutan ”Yang Mulia” dalam persidangan. Hal ini memperlihatkan betapa besarnya kuasa yang dimiliki oleh seorang hakim.

Gambaran Allah yang berdiri dalam sidang Ilahi merupakan hal yang lazim dalam pemikiran Israel kuno. Siapa saja yang hadir di sana? Hal ini memang tidak dijelaskan terperinci. Kemungkinan bisa para malaikat, para ilah, anak-anak Allah dan lainnya (bdk. Ayb 1:6). Gambaran itu bisa juga dilihat sebagai sebuah kiasan (metafora) di mana para allah itu adalah para pemimpin atau raja-raja dunia. Karena konteks saat itu raja dianggap sebagai ”allah” oleh manusia. Di tangan mereka, ada kuasa yang besar. Dalam kuasa mereka, bergantung nasib hidup orang banyak. Karena itu, mereka diperintahkan oleh Allah, Sang Hakim Tertinggi untuk berlaku adil kepada anak yatim, orang miskin, yang lemah tak berdaya (3-5), dan jangan berlaku lalim apalagi memihak kepada orang jahat (2).

Allah senantiasa menunjukkan keberpihakan-Nya untuk membela kaum yang miskin dan lemah. Karakter Allah ini tampak dalam teladan Kristus yang hadir menyapa dan melayani mereka yang dianggap lemah, hina, dan rendah dalam tatanan sosial. Karena itu, karakter Kristus seharusnya tampak dalam cara berpikir, sifat, dan perilaku kita yang adalah pengikut Kristus. Berlaku adil dan peduli terhadap kaum lemah yang ditindas harus menjadi salah satu prinsip kebenaran Allah yang patut dipraktikkan.

Di tengah kehidupan berbangsa yang penuh dengan kecurangan, korupsi, dan ketidakadilan, kita semakin ditantang untuk menunjukkan prinsip hidup demikian. Sehingga, bukan hanya nama Allah yang kita muliakan, tetapi juga prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang tertulis dalam teks Pancasila dapat terwujud melalui kontribusi orang beriman.

Doa: Tuhan, ajar kami untuk mampu adil dan berpihak kepada mereka yang miskin dan lemah. [YWA]







Korban Tanda Kesetiaan
Posted on Rabu, 27 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 28

Korban, pada umumnya, dihubungkan dengan bangsa—bangsa di dunia kuno. Mereka mempersembahkan korban kepada dewa— dewa mereka. Yang dipakai sebagai korban bukan hanya binatang, tetapi juga bisa manusia. Mereka mempersembahkan korban karena mereka diselimuti ketakutan bahwa mereka akan ditimpa malapetaka bila mereka tidak mempersembahkan korban. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk mempersembahkan korban di hadapan-Nya. Korban yang dipersembahkan bisa berupa korban binatang (misalnya kambing, domba, lembu, dan burung) atau tepung. Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah memerintahkan—bahkan Tuhan melarang—pengorbanan anak, yang malahan dianggap sebagai suatu kekejian di hadapan Tuhan.

Umat Israel diwajibkan untuk mempersembahkan korban di hadapan Tuhan. Setiap jenis korban yang dipersembahkan disebut dengan istilah tersendiri. Jenis korban yang disebut dalam Alkitab adalah korban bakaran, korban sajian, korban keselamatan, korban penghapus dosa, dan korban penebus salah. Sebenarnya, persembahan korban kepada Tuhan sudah ada sejak zaman nenek moyang Israel. Dalam Kitab Kejadian, kita bisa membaca tentang persembahan korban yang dilakukan oleh Kain, Habel, Abraham, Ishak, dan Yakub. Setelah orang Israel dituntun oleh Tuhan untuk keluar dari Tanah Mesir, barulah perintah untuk mempersembahkan korban diberikan dan dilaksanakan. Banyaknya korban sembelihan dan korban bakaran yang dipersembahkan di atas mezbah menunjukkan begitu banyaknya pelanggaran yang sudah dilakukan umat Allah, tetapi begitu besar pula pengampunan yang sudah diberikan oleh Tuhan.

Akhirnya, Allah memberikan Anak-Nya sendiri—Yesus Kristus— sebagai korban penghapus dosa yang sempurna, yang hanya satu kali saja dipersembahkan. Pengorbanan Yesus Kristus itu membuat kita saat ini sudah tidak perlu lagi mempersembahkan korban binatang ke hadapan Tuhan. Akan tetapi, kita dipanggil untuk hidup dalam ketaatan dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1). Mempersembahkan tubuh adalah respons yang wajar terhadap keselamatan dan pengudusan yang telah kita terima. [GI Roni Tan]




November 29, 2019, 06:37:41 AM
Reply #2101
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Pengharapan Melampaui Ancaman
Posted on Kamis, 28 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 83

Apakah Anda pernah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari orang yang dihormati, seperti: dilecehkan, dicuekkan, dipandang sebelah mata, dan sebagainya. Hal itu membuat kita jengkel, marah, mendendam, atau tawar hati.

Pemazmur memohon kepada Allah untuk tidak bungkam, diam, dan berpangku tangan (2). Permohonan itu menunjukkan betapa besarnya harapan pemazmur kepada Allah. Hal ini dikarenakan hidupnya dan bangsa Israel sedang terancam oleh bangsa-bangsa yang berniat untuk menghancurkan mereka (3-6). Total ada sepuluh bangsa yang digambarkan mengancam Israel (7-9).

Pemazmur datang kepada Allah karena kebaikan dan kehebatan-Nya telah teruji. Midian, Sisera, Yabin, Oreb, Zeeb, Zebah, dan Salmuna dapat dijadikan contoh konkret. Mereka pernah merasakan kedahsyatan kuasa Allah (10-12).

Di muka bumi ini tidak ada sesuatu pun yang lebih besar dibandingkan Allah yang Mahatinggi. Meski Israel tidak luput dari berbagai ancaman, tetapi mereka belajar beriman dan berharap kepada Allah.

Hidup kita sebagai orang beriman pun tidak lepas dari ancaman. Sudah cukup sering kita dengar bahwa umat Kristen diancam, kariernya dihambat, bahkan dipecat jika ia bertahan dalam imannya. Satu-satunya cara agar kariernya lancar, ia harus meninggalkan keyakinan imannya. Mungkin saja ancaman yang dihadapi lebih luas dan tidak sebatas pada karier, tetapi juga prestasi, ekonomi, sampai relasi dengan sesama. Gentarkah kita saat menghadapi semua ancaman? Goyahkah iman dan pengharapan kita kepada Allah? Lihatlah keyakinan iman pemazmur yang terus-menerus menyala kepada Tuhan, demikian seharusnya iman kita. Kita tahu, Allah lebih besar daripada segala hal yang dapat mengancam kita. Karena itu, ingatlah selalu untuk bersabar dalam menghadapi semua ancaman. Tetap bersukacita dalam pengharapan dan bertekun dalam doa (Rm. 12:12).

Doa: Tuhan, kuatkanlah kami dalam menghadapi berbagai ancaman yang menerpa hidup kami. [YWA]







Perayaan Bagi TUHAN
Posted on Kamis, 28 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 29

Dalam Alkitab, terdapat berbagai peraturan tentang perayaan hari-hari raya bagi bangsa Israel. Dalam bacaan Alkitab hari ini, yang dibahas adalah korban-korban yang dipersembahkan pada hari raya yang berlangsung di bulan ketujuh, yaitu Hari Raya Peniupan Serunai pada tanggal satu (29:1-6), Hari Raya Pendamaian pada tanggal sepuluh (29:7-11), dan Hari Raya Pondok Daun pada tanggal lima belas (29:12-38). Pada ketiga hari raya tersebut, selain ada persembahan korban juga ada pertemuan kudus. Saat berlangsungnya pertemuan yang kudus itu, bangsa Israel dilarang melakukan pekerjaan berat. Dengan demikian, setiap orang bisa memusatkan perhatian pada pertemuan tersebut. Adanya pertemuan kudus di antara umat pilihan Tuhan ini mengingatkan kita akan pentingnya menyediakan waktu untuk menjaga kesatuan dan persatuan orang percaya. Walaupun adanya berbagai perayaan itu menuntut biaya yang mahal, berbagai perayaan itu penting untuk menjaga relasi antara umat Israel dengan Allah serta relasi antar umat Israel sendiri. Perayaan-perayaan itu penting bukan hanya bagi generasi saat itu, tetapi juga penting untuk menjadi sarana mengajar generasi berikutnya, supaya generasi muda belajar menjalin relasi dengan Allah dan dengan sesama.

Dalam kehidupan orang Kristen masa kini, hari-hari raya pada masa Alkitab sudah tidak kita rayakan lagi karena konteks orang Kristen pada umumnya bukanlah konteks Yahudi. Saat ini, gereja menyelenggarakan beberapa hari raya yang berkaitan dengan kehidupan dan karya Yesus Kristus serta ROH KUDUS, yaitu Natal (memperingati kelahiran Tuhan Yesus), Jumat Agung (memperingati kematian Tuhan Yesus), Paskah (memperingati kebangkitan Tuhan Yesus), Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, dan Pentakosta (memperingati turunnya ROH KUDUS untuk menyertai orang percaya di dunia ini). Perayaan-perayaan yang kita rayakan itu berkaitan dengan peristiwa sejarah yang amat penting (relevan) dengan kehidupan kita. Bila kita dan seluruh keluarga kita mengikuti perayaan-perayaan tersebut dengan setia setiap tahun, kita akan selalu diingatkan akan keyakinan-keyakinan terpenting dalam kepercayaan Kristen. Oleh karena itu, saat merayakan hari-hari raya di atas, fokus perhatian kita bukanlah bersenang-senang, melainkan menghayati karya Allah dalam kehidupan kita. [GI Roni Tan/GI Purnama]



November 30, 2019, 07:14:17 AM
Reply #2102
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Merindukan Allah
Posted on Jumat, 29 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. http://www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 84

Apakah Anda pernah merindukan seseorang? Apa yang paling diharapkan dari dia? Obat mujarab untuk mengatasi rasa rindu adalah berjumpa. Alangkah bahagia dan indahnya bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kita rindukan.

Pemazmur ini menunjukkan betapa besar kerinduannya bisa hadir dan berdiam di rumah Tuhan. Kerinduan itu semakin dipertegas melalui suatu perbandingan bahwa satu hari berada di rumah Tuhan jauh lebih baik daripada seribu hari di tempat lain (11). Bukan hanya manusia, burung pipit pun rindu dan memilih hidup di dekat mazbah Tuhan (4).

Merindukan rumah Tuhan sama saja artinya merindukan Tuhan itu sendiri. Karena pengertian rumah mengacu kepada kondisi kehadiran Tuhan. Hanya dalam rumah Tuhan, umat bisa menumpahkan segala kerinduannya kepada Tuhan. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Tuhan dan rumah-Nya begitu dirindukan? Jawabannya karena kasih dan kebaikan Tuhan. Kasih dan kebaikan-Nya akan menerangi hidup umat dan menjadi perisai yang melindungi mereka dari segala mara bahaya.

Ungkapan kerinduan yang disampaikan oleh pemazmur ini merupakan salah satu ekspresi cintanya kepada Tuhan. Jika tidak ada cinta, mana mungkin ada rindu. Jika kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, pasti ada rasa rindu kepada Dia dan rumah-Nya. Apakah Anda pernah begitu merindukan Tuhan? Manakah yang lebih kita rindukan: dua minggu tidak bertemu kekasih atau dua minggu tidak datang ke rumah Tuhan? Kerinduan yang mendalam kepada Tuhan akan mendorong setiap orang untuk hidup yang semakin dekat kepada-Nya.

Jika dalam hati kita tidak memiliki cinta yang besar kepada Allah, maka jangan berharap akan sungguh-sungguh merindukan-Nya. Karena itu, marilah kita bangkitkan rasa cinta yang tulus kepada Tuhan. Perasaan cinta dapat timbul di hati kalau seseorang mengerti besarnya kebaikan dan kasih Allah dalam hidupnya.

Doa: Tuhan, penuhilah hati kami dengan rasa cinta dan rindu kepada-Mu! [YWA]






Nazar Bukan Nyasar
Posted on Jumat, 29 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 30

Istilah “nazar” dibahas terutama dalam Imamat 27, Bilangan 6, dan Ulangan 23. Dalam Bilangan 30, yang dibahas adalah pengesahan nazar seorang perempuan. Perbedaan nazar seorang perempuan dengan nazar pada umumnya adalah bahwa perempuan yang melakukan nazar tetap terikat dengan ayah maupun suaminya. Ayah atau suami perempuan yang bernazar bisa membatalkan nazar perempuan itu. Perlu diingat bahwa dalam tradisi Yahudi, perempuan berada di bawah kekuasaan laki-laki. Sebelum menikah, seorang perempuan berada dalam kekuasaan ayahnya. Sesudah sang ayah meninggal, ia berada dalam kekuasaan kakak laki-laki. Sesudah menikah, perempuan berada dalam kekuasaan suami. Perlu diingat juga bahwa peraturan ini dibuat untuk melindungi perempuan itu yang bisa jadi salah bernazar atau sembarangan saja bernazar, sehingga merugikan dirinya sendiri.

Berdasarkan tradisi Yahudi tersebut, tidaklah mengherankan bila Tuhan menetapkan peraturan bahwa nazar seorang perempuan dapat dibatalkan oleh ayahnya atau suaminya jika perempuan itu dinilai tidak mampu melaksanakan nazar tersebut. Karena kaum perempuan pada masa itu umumnya tidak mengetahui peraturan keagamaan, ketidaktahuan itu bisa membuat dia mengikrarkan nazar yang terlalu berat  atau yang bisa mempersulit dirinya atau keluarganya. Oleh karena itu, baik ayah maupun suami yang lebih memahami peraturan keagamaan berhak membatalkan nazar istrinya untuk melindungi sang istri dan seluruh keluarganya.

Peraturan dalam pasal ini mengajarkan bahwa sesuatu yang bertujuan baik tidak serta merta harus selalu disetujui dan didukung. Diperlukan hikmat untuk bisa melihat, menilai, dan memutuskan sesuatu secara tepat agar keputusan yang kita ambil tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Diperlukan komunikasi, kepedulian, serta ketegasan terhadap orang yang kita kasihi agar tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan. Apakah Anda sudah melaksanakan tanggung jawab dalam keluarga Anda? Sadarilah bahwa peran yang baik selalu dilandasi oleh relasi yang baik. Oleh karena itu, kita harus membangun dan memelihara relasi yang baik dengan anggota keluarga kita agar kita bisa saling mengingatkan, saling melindungi, dan saling mendukung satu dengan yang lain dalam kasih Allah. [GI Roni Tan]



December 01, 2019, 04:47:45 AM
Reply #2103
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Pemulihan yang Mendatangkan Sukacita
Posted on Sabtu, 30 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 85

Pemulihan merupakan salah satu kebutuhan dan kerinduan terpenting dalam kehidupan manusia. Setiap saat manusia memerlukan pemulihan. Ada yang ingin dipulihkan dari sakit penyakit; dari hubungan rumah tangga dan sesama yang retak; dari keterpurukan ekonomi, dan masih banyak lagi. Namun, ada satu pemulihan yang dapat mendatangkan sukacita dalam kehidupan kita, yaitu pemulihan hubungan dengan Allah.

Pemazmur menyadari dan mensyukuri bahwa Allah berkenan memulihkan dan mengampuni umat-Nya karena amarah Allah terhadap keberdosaan umat-Nya telah reda (2-4). Pemazmur juga menyadari bahwa pemulihan dari Allah itu senantiasa dibutuhkan oleh manusia. Dalam kelemahannya, manusia selalu jatuh dalam dosa. Itu sebabnya, setiap saat manusia, baik disengaja maupun tidak, dapat menyakiti hati Allah dan merusak relasi yang selama ini telah dibangun bersama Allah.

Karena itu, pemazmur terus berdoa kepada Tuhan supaya Dia memulihkan keadaan umat-Nya (5-8). Pemazmur memohon agar Tuhan tidak hanya meniadakan sakit hati dan murka-Nya, tetapi juga menghidupkan dan mengasihi umat-Nya kembali supaya tetap dalam relasi yang diperkenan-Nya. Bagi pemazmur, pemulihan dan kasih Allah ini merupakan sukacita yang tak ternilai dalam kehidupan manusia.

Pemulihan kondisi seperti apa yang paling Anda rindukan saat ini di hadapan Tuhan? Tidak ada yang salah jika kita mengharapkan disembuhkan dari sakit penyakit, kondisi keuangan yang sulit, dan hubungan antar sesama yang rumit. Keinginan seperti itu lumrah dan manusiawi. Namun, jangan sampai kondisi di atas membuat kita lupa pada prinsip kebenaran yang lebih penting, yaitu kondisi keberdosaan kita. Dosa membuat relasi kita semakin jauh dari Tuhan; iman kita goyah karena masalah duniawi. Sukacita terbesar kita adalah ketika mengalami pemulihan dari Tuhan karena Ia akan memampukan kita menghadapi berbagai masalah dalam hidup kita.

Doa: Pulihkanlah hidup kami, agar kami dapat menikmati kasih dan rahmat-Mu. [AB]







Menjaga Kemurnian
Posted on Sabtu, 30 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 31

Kisah pemusnahan terhadap orang Midian berkaitan dengan perintah Tuhan dalam Bilangan 25:16-18, yaitu perintah kepada Musa untuk memusnahkan orang Midian. Perintah pemusnahan ini diberikan karena perempuan-perempuan Moab dan Midian telah bekerja sama membuat orang Israel jatuh pada penyembahan berhala. Akibatnya, Tuhan murka kepada orang Midian dan orang Israel. Inilah yang melatarbelakangi eksekusi perintah Tuhan kepada bangsa Israel. Misi ini berhasil karena orang Israel—masing-masing suku diwakili oleh seribu orang—dengan mudah mengalahkan dan membunuh laki-laki Midian. Sayangnya, para perempuan dan anak-anak tidak mereka binasakan, melainkan mereka jadikan tawanan. Sikap semacam ini merupakan pelanggaran di hadapan Tuhan dan setiap pelanggaran pasti mendatangkan hukuman. Syukurlah bahwa Musa bersikap tegas serta memerintahkan agar semua anak lakilaki dan semua wanita yang pernah bersetubuh dibunuh untuk mencegah agar mereka tidak jatuh kembali dalam penyembahan berhala dan Tuhan tidak murka. Selanjutnya, mereka yang telah bersentuhan dengan mayat harus ditahirkan selama 7 hari di luar tempat perkemahan (31:19), dan mereka juga harus membawa upeti bagi Tuhan (31:28). Semua tindakan yang dilakukan oleh Musa ini bertujuan untuk menjaga kemurnian umat pilihan di hadapan Tuhan. Pentahiran ini untuk mencegah murka Tuhan tertimpa atas umat-Nya.

Kompromi untuk tidak menaati perintah Tuhan secara penuh serta upaya mencari celah dari suatu peraturan yang Tuhan berikan akan membuat kita rentan untuk jatuh ke dalam dosa dan menjauhkan kita dari Tuhan. Syukurlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia terus menjaga dan menolong kita. Pengampunan dosa senantiasa tersedia untuk memurnikan kita dan membuat kita semakin berkenan kepada-Nya. Oleh karena itu, dengar-dengaranlah dan taatlah pada perintah Tuhan, niscaya hidup kita akan semakin dimurnikan oleh Tuhan di tengah dunia yang sangat kotor ini. Berdoalah agar telinga dan hati kita senantiasa siap menerima perintah-Nya dan kita siap melakukan perintah itu. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk melakukan perintah Tuhan dengan kesetiaan dan ketundukan. Ingatlah bahwa pelanggaran terhadap perintah Tuhan pasti akan membawa kita kepada penghukuman Tuhan. [GI Roni Tan]



December 02, 2019, 06:32:47 AM
Reply #2104
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Komitmen Harus Dilaksanakan!
Posted on Minggu, 1 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 32

Bani Ruben dan bani Gad memiliki sangat banyak ternak. Saat melintasi tanah Yaezer dan tanah Gilead, mereka melihat bahwa kondisi lokasi tanah di tempat itu sangat cocok untuk mengembalakan ternak, dan mereka bisa membangun kehidupan di sana. Akan tetapi, masalahnya adalah bahwa saat itu, belum waktunya bagi mereka untuk berhenti berperang karena tanah yang dijanjikan Tuhan masih belum semuanya berhasil direbut. Oleh karena itu, mereka memberanikan diri untuk memohon kepada Musa agar tanah yang mereka lewati itu diberikan kepada mereka dengan catatan bahwa kaum lelaki kedua suku tersebut tetap maju berperang bersama dengan suku Israel yang lain sampai semua daerah yang dijanjikan Tuhan berhasil direbut dan diberikan kepada setiap suku Israel. Musa mengabulkan permintaan tersebut dengan catatan bahwa suku Ruben dan Gad harus tetap memiliki komitmen untuk maju berperang sampai seluruh suku Israel mendapatkan tanah warisan masing-masing. Bila mereka mengingkari komitmen mereka dan tidak ikut berperang, mereka tidak boleh tinggal di sana dan mereka akan menanggung akibatnya, yaitu dosa mereka akan tertimpa atas mereka (32:23). Perkataan Musa ini pada akhirnya menjadi janji mereka di hadapan Tuhan.

Apakah Anda pernah memiliki komitmen untuk melakukan sesuatu dalam hidup Anda? Apakah Anda melaksanakan komitmen itu dengan setia atau Anda justeru sering melanggar komitmen yang telah Anda ikrarkan? Kita harus setia terhadap komitmen yang telah kita buat, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun komitmen untuk melayani Tuhan. Mintalah pertolongan Tuhan agar kita menjadi orang yang bisa dipercaya, baik dalam pandangan Tuhan maupun dalam pandangan sesama. Dalam kehidupan ini, kesetiaan terhadap komitmen lebih penting daripada kemampuan akademis maupun kemampuan bekerja. Orang yang dalam hidupnya memegang komitmen adalah orang yang setia dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas apa pun yang dipercayakan kepadanya. Apakah Anda saat ini memiliki komitmen tertentu dalam kehidupan—menyangkut pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan sebagainya—yang ingin Anda lakukan dengan setia di hadapan Tuhan? Semoga kita menjadi orang yang dapat dipercayai karena kita selalu mempertahankan komitmen. [GI Roni Tan]



December 03, 2019, 06:16:09 AM
Reply #2105
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kota Allah
Posted on Senin, 2 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 87

Kota kelahiran merupakan salah satu kota yang paling didambakan orang. Pada umumnya, orang membanggakan kota di mana ia lahir, yang mendatangkan sukacita ketika bernostalgia mengenai kota asalnya. Namun, ada satu kota yang seharusnya didambakan melebihi kota kelahiran kita, yaitu Sion yang disebut sebagai kota Allah.

Pemazmur menunjukkan pentingnya Sion dalam kehidupan umat Allah. Keistimewaan kota Sion adalah dibangun oleh Allah sendiri dan Dia lebih mencintai Sion daripada kediaman Yakub (Betel/Samaria). Tidak heran Sion disebut kota mulia.

Pemazmur juga membandingkan Sion dengan beberapa kota yang dibanggakan oleh orang-orang yang lahir di sana, seperti Rahab, Babel, Filistea, Tirus, dan Etiopia. Sion menjadi sangat istimewa karena berbagai tindakan Allah terhadap Sion (Yerusalem), yaitu dibangun dan ditegakkan oleh Allah yang Mahatinggi (5). Di sanalah Sion menjadi pusat penyembahan kepada Allah, sekaligus simbol kehadiran Allah karena Dia mau berdiam bersama umat-Nya. Demikian pula dengan tempat yang harus menjadi dambaan kita adalah tempat di mana Allah berdiam dan hadir di tengah-tengah hidup kita.

Selain itu, Sion dikaitkan dengan Kota Suci yang tercatat dalam Kitab Wahyu 21:9-27, yaitu Yerusalem baru. Yerusalem baru ini adalah penantian terbesar dan paling didambakan oleh setiap orang percaya. Sama seperti perkataan pemazmur bahwa kota ini akan mendatangkan sukacita, nyanyian, dan sorak-sorai. Demikian juga Yesusalem baru akan mendatangkan kebahagian kekal bagi orang percaya.

Sebagai orang percaya, saat ini kita hidup dalam penantian terhadap sebuah tempat di mana kita dapat menikmati sepenuhnya persekutuan dengan Allah. Apa pun yang kita lakukan setiap hari, kita harus mengerjakannya bukan untuk hidup yang sementara, melainkan untuk kekekalan yang mendatangkan kemulian bagi Tuhan.

Doa: Jadikanlah hidupku hari ini bernilai bagi Kota Suci yang Engkau sediakan. [AB]







Berdoa pada Masa Kesesakan
Posted on Senin, 2 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 86

Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap kali diperhadapkan dengan situasi yang menekan. Masalah dan pergumulan itu adakalanya menghimpit iman dan membuat kita berada dalam kesesakan. Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit orang yang putus asa. Apakah yang harus dilakukan supaya kesesakan tidak membuat kita putus asa?

Sama seperti manusia pada umumnya, Daud pun pernah mengalami pergumulan dan penderitaan dalam hidupnya. Dia pernah berada dalam beratnya kesesakan (7). Dalam kesesakan hidup tidak ada hal lain yang dapat dilakukan oleh Daud, selain berseru dan berdoa memohon pertolongan Tuhan. Melalui seruan dan doanya, kita mendapati bahwa Daud sungguh-sungguh berharap kepada Allah. Hal itu tampak dari perkataan Daud: ”Sendengkanlah telinga-Mu; peliharalah nyawaku; pasanglah telinga kepada doaku.”

Doa dalam kesesakan ini dipanjatkan Daud dengan penuh keyakinan kepada Tuhan. Sekalipun belum menerima jawaban atas doanya, tetapi Daud sama sekali tidak memiliki keraguan terhadap Tuhan. Ia berkata, ”Sebab Engkau menjawab Aku” (7). Keyakinan Daud ini bukan sekadar optimisme naif, melainkan sebuah pernyataan iman yang memiliki dasar kuat, yaitu karena tidak ada yang dapat bertindak secara ajaib dan mulia, selain Tuhan yang disembah Daud.

Jika Anda hari ini berada dalam kesesakan, entah karena impitan ekonomi, penyakit, masalah keluarga, dan sebagainya, jangan putus asa! Kita memiliki sarana istimewa yang disediakan Tuhan untuk kita, yaitu berseru kepada-Nya dalam doa. Percayalah bahwa Dia adalah Allah yang peduli terhadap pergumulan umat-Nya. Ia akan menjawab doa kita sesuai dengan waktu-Nya.

Jangan terlalu berharap kepada manusia dan solusi yang diberikan dunia. Sebab, kita memiliki Allah yang tiada bandingannya. Tuhan yang kita sembah jauh lebih besar daripada masalah yang menimbulkan kesesakan dalam hidup kita.

Doa: Dengarkanlah seruan pada masa sesak yang mengimpitku, ya Tuhan. [AB]



December 03, 2019, 06:19:44 AM
Reply #2106
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Selesaikan Sampai Tuntas
Posted on Senin, 2 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 33

Tanah Kanaan adalah tanah yang telah dijanjikan Tuhan untuk diberikan sebagai warisan kepada bangsa Israel. Tanah Kanaan merupakan tanah yang sangat subur sehingga digambarkan sebagai tanah yang penuh susu dan madu. Tanah Kanaan merupakan tanah terbaik di kawasan itu. Sayangnya, bangsa Kanaan menyembah banyak dewa, antara lain Baal Hadad (dewa badai) dan banyak sekali dewa lainnya. Oleh karena itu, dengan sangat tegas dan jelas, Tuhan menyampaikan kepada bangsa Israel melalui Musa bahwa seluruh penduduk asli Tanah Kanaan harus dihalau (diusir) dari Tanah Kanaan (atau bisa juga berarti harus dibunuh) dan semua barang atau tempat yang berkaitan dengan penyembahan berhala (batu berukir, patung tuangan, bukit pengorbanan) harus dimusnahkan (33:51-55).

Perintah membunuh seluruh penduduk asli Tanah Kanaan itu sepintas lalu nampak sebagai perintah yang kejam. Akan tetapi, Allah memberikan perintah itu karena Ia mengasihi bangsa Israel, umat pilihan Allah. Agaknya penduduk asli Tanah Kanaan itu sudah sedemikian jahat, sehingga bangsa Israel tidak akan bisa mempengaruhi mereka untuk bersama-sama menyembah Allah Israel. Bila perintah membunuh itu diabaikan, penduduk asli Tanah Kanaan yang dibiarkan hidup itu akan menjadi sumber masalah karena mereka pasti akan menyesatkan dan membawa bangsa Israel kepada penyembahan berhala. Bila bangsa Israel tersesat, maka bangsa Israel harus berhadapan dengan penghukuman Tuhan (33:55-56). Oleh karena itu, perintah pemusnahan ini harus mereka laksanakan sampai tuntas dan tanpa kompromi agar mereka terhindar dari hukuman Tuhan.

Jadi, Bilangan 33 yang kita baca hari ini mengingatkan kita bahwa setiap kali kita membaca Firman Tuhan, seluruh perintah Tuhan di dalam firman-Nya harus kita taati sepenuhnya tanpa kompromi agar kita tidak jatuh ke dalam dosa dan kita terhindar dari murka Tuhan. Apakah Anda telah berjuang untuk berusaha memahami Firman Tuhan dan Anda telah bertekad untuk setia menjalankan perintah Tuhan sampai akhir hidup Anda? Apakah Anda pernah memikirkan hal-hal apa saja pada masa kini yang bisa menyesatkan diri Anda dan membuat Anda mengabaikan kehendak Tuhan dalam hidup Anda? Singkirkanlah segala hal yang bisa membuat Anda menjauhi Tuhan! [GI Roni Tan/ GI Purnama]



December 04, 2019, 05:21:14 AM
Reply #2107
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Asa Dalam Keputusasaan
Posted on Selasa, 3 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. http://www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 88

Apakah Anda pernah berada dalam titik terendah dan tidak bisa bangkit lagi? Kondisi inilah yang dialami oleh pemazmur dalam Mazmur 88. Masalah yang berat dan bertubi-tubi dapat membuat kita putus asa dalam menjalani hidup. Bagaimana kita dapat bertahan dalam kondisi ini?

Mazmur 88 ini merupakan salah satu dari beberapa mazmur di mana kita tidak menemukan jawaban dari sebuah harapan terhadap pergumulan yang dialami. Pemazmur menggambarkan pergumulan hidup yang dihadapinya dengan nada putus asa. Dia melukiskan betapa hidupnya sangat dekat dengan kematian, lemah karena penyakit, bahkan ditinggalkan teman-temannya. Ini kondisi yang menunjukkan titik terendah dalam hidupnya. Seolah-olah ia tidak menemukan jawaban dan pertolongan Tuhan.

Dalam keputusasaan seperti ini, apakah kita dapat menemukan gairah hidup dan titik terang yang membawa kita keluar dari kegelapan. Hal itu diperlihatkan pemazmur melalui ketekunannya dalam doa kepada Tuhan, walaupun dia belum menemukan jawaban.

Beberapa ayat terus diulang bagaimana pemazmur berdoa sepanjang sepanjang hari. Ini menunjukkan sebuah ketekunan doa yang luar biasa. Saat yang sama ia menunjukkan bahwa seberat apa pun beban hidup yang mengimpit kita, selalu ada harapan dalam Tuhan melalui doa. Karena doa adalah kekuatan yang memberi semangat kepada pemazmur dalam keputusasaannya.

Janganlah pernah berpikir bahwa hidup kita dapat otomatis lepas dari masalah. Pada titik tertentu, kita dapat mengalami keputusasaan karena beratnya beban kehidupan. Sebesar apa pun masalah yang dihadapi, kita dapat membawanya di hadapan Tuhan.

Tidak ada hal lain yang dapat membangkitkan semangat di tengah keputusasaan kita, selain bertekun dalam doa. Jawaban Tuhan pasti datang, meski tidak instan. Marilah berdoa dengan tidak jemu-jemu, dalam keputusasaan kita, kepada Tuhan.

Doa: Sendengkanlah telinga-Mu kepada seruanku dalam keputusasaanku. [AB]







Janji Tuhan Pasti Terlaksana
Posted on Selasa, 3 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 34

Janji Tuhan kepada Abraham (Kejadian 13:14-15; 15:18-21; 17:8) akan segera digenapi. Bangsa Israel akan segera memasuki Tanah Kanaan dan merampas tanah yang subur itu menjadi milik pusaka mereka. Dalam pasal ini, Tuhan mulai menjelaskan batas-batas tanah yang akan menjadi milik bangsa Israel (Bilangan 34:2-12). Dua setengah suku Israel (suku Ruben, suku Gad, dan setengah suku Manasye) telah menerima tanah di sebelah Timur Sungai Yordan. Tanah Kanaan merupakan milik pusaka bagi sembilan setengah suku Israel (34:13) yang masih belum mendapatkan pembagian tanah (Perhatikan bahwa keturunan Yusuf dihitung sebagai dua suku, yaitu suku Efraim dan suku Manasye, sedangkan Suku Lewi tidak dihitung). Untuk memastikan bahwa pembagian tanah dalam sembilan setengah suku Israel ini dilakukan secara merata (adil), Tuhan menetapkan seorang pemimpin dari setiap suku untuk melakukan pembagian.

Walaupun janji Tuhan kepada Abraham sudah berlalu ratusan tahun, Allah tidak pernah melupakan janji-Nya! Kewajiban bangsa Israel adalah memercayai, menaati, serta menjalankan perintah Tuhan, dan mereka pasti akan menerima penggenapan janji Tuhan. Dalam Alkitab, terdapat banyak sekali janji Tuhan kepada umat-Nya. Pada masa kini, semua orang percaya (atau yang sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat) telah diangkat menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12) dan berhak mewarisi janji-janji Allah (Roma 8:17; Galatia 3:29). Janji Allah tersebut meliputi janji untuk masa kini dan janji untuk masa depan. Janji Allah untuk masa kini antara lain adalah janji penyertaan melalui ROH KUDUS (misalnya Matius 28:20; Yohanes 14:16, 26) dan janji pemeliharaan (misalnya Filipi 4:19). Janji Allah untuk masa depan—yang merupakan janji paling utama—adalah janji bahwa Tuhan Yesus akan datang untuk kedua kalinya guna menjemput orang percaya, sehingga kita akan tinggal bersama-sama dengan Dia (Yohanes 14:3). Masalahnya, apakah Anda memiliki iman untuk terus menantikan penggenapan janji Allah? Apakah Anda sanggup bertahan menghadapi berbagai tantangan iman dalam kehidupan Anda? Sementara menanti kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, marilah kita mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan giat. Ingatlah: Jerih payah yang Anda lakukan di dalam Tuhan tidak akan sia-sia (1 Korintus 15:58). [GI Roni Tan/ GI Purnama]



December 05, 2019, 06:09:27 AM
Reply #2108
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Janji Setia Tuhan
Posted on Rabu, 4 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 89:1-19

Seseorang akan disebut setia pada janji ketika janji itu ditepati. Faktanya, banyak orang mengingkari janjinya dan hal itu membuat kita kecewa. Bahkan, banyak juga pasangan suami istri yang berjanji sehidup semati tidak menepatinya ketika ada tantangan. Bagaimana dengan janji setia Tuhan kepada umat-Nya?

Mazmur 89 diawali dengan sebuah keyakinan akan kasih setia Tuhan. Pemazmur hendak menyaksikannya turun-temurun. Kasih setia Tuhan itu adalah janji Tuhan kepada Daud bahwa Dia akan menegakkan kerajaan Daud selamanya (bnd. 2Sam. 7:8-16). Janji Tuhan tersebut telah melewati berbagai tantangan dan melampaui zaman, namun Tuhan tidak pernah lupa akan janji-Nya.

Meskipun dalam sejarah Israel sepertinya janji ini tidak terwujud. Misalnya, ketika Yerusalem hancur dan keturunan Daud tidak memerintah lagi. Semuanya tidak serta-merta membatalkan janji Tuhan pada masa mendatang. Tuhan tetap setia pada janji-Nya dan puncaknya Ia wujudkan ketika Mesias lahir dari keturunan Daud.

Dasar keyakinan kita terhadap janji setia Tuhan adalah Ia berkuasa atas alam semesta. Dialah pemilik langit bumi dan berkuasa mengendalikan seluruh sejarah kehidupan manusia. Kebenaran, keadilan, kasih, dan kesetiaan-Nya menjadi cara Allah menopang agar dunia yang gelap dan berdosa ini tidak semakin rusak. Berdasarkan hal ini, pemazmur memegang teguh keimanannya dan kesetiaan janji Tuhan.

Sejarah adalah bukti janji Tuhan. Keselamatan melalui Yesus Kristus adalah peristiwa tak terbantahkan yang memperlihatkan kasih Tuhan kepada manusia. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk meragukan kesetiaan Tuhan. Karena Allah telah membuktikan kasih-Nya yang besar dan mustahil Ia mengingkari janji-Nya. Pertanyaannya adalah apa yang seharusnya kita lakukan? Percaya dan meletakkan seluruh pengharapan kita dalam kasih serta kesetiaan Tuhan.

Doa: Tuhan, kami berterima kasih untuk janji setia-Mu yang tidak pernah berkesudahan dalam hidupku. [AB]







Tegakkanlah Keadilan!
Posted on Rabu, 4 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 35

Ada pembunuhan yang disengaja dan ada pembunuhan yang tidak disengaja atau pembunuhan yang sebenarnya merupakan suatu kecelakaan. Sering terjadi bahwa pihak yang terbunuh—keluarga atau teman—dikuasai oleh emosi sehingga melakukan pembalasan tanpa berpikir panjang. Akibatnya, kadang-kadang terjadi pembalasan yang salah sasaran atau pembalasan kepada orang yang sesungguhnya tidak bersalah. Untuk mengatasi persoalan semacam itu, ditetapkanlah kotakota perlindungan yang tersebar di enam kota. Tersangka pembunuh yang melakukan pembunuhan secara tidak sengaja dapat melarikan diri ke kota-kota itu, dan di sana penuntut balas tidak boleh melakukan pembalasan sebelum tersangka pembunuh itu dihadapkan ke rapat umat untuk diadili. Rapat umat itulah yang akan memutuskan apakah tersangka pembunuh itu benar-benar bersalah atau tidak, dan rapat umat itu juga yang memutuskan hukuman yang dijatuhkan bila ternyata bahwa tersangka pembunuh itu memang bersalah.

Tuhan menetapkan kota-kota perlindungan karena Tuhan yang adil itu menentang ketidakbenaran dan ketidakadilan. Dia selalu menghakimi secara adil dan keputusan-Nya tidak pernah salah. Kota perlindungan ditetapkan untuk memastikan terjadinya penghakiman yang adil. Dengan demikian, bisa dihindarkan terjadinya penumpahan darah orang yang tidak bersalah. Berlaku adil merupakan salah satu tuntutan Tuhan yang terutama terhadap umat-Nya (bandingkan dengan Mikha 6:8). Praktik suap adalah suatu praktik yang terkutuk karena suap bisa membuat keadilan diputarbalikkan (Ulangan 16:19; 27:25). Praktik menerima suap yang dilakukan oleh anak-anak Nabi Samuel membuat mereka tidak bisa meneruskan posisi ayah mereka sebagai hakim yang amat dihormati di Israel (1 Samuel 8:3-5). Tuhan menginginkan agar keadilan ditegakkan bukan hanya dalam masalah-masalah kriminal, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perdagangan, berlaku adil juga berarti menjauhi kecurangan. Ketepatan timbangan amat ditekankan dalam Perjanjian Lama (Imamat 19:35-36; Bilangan 25:13; Ulangan 25:15; Amsal 11:1; 16:11; 20:10, 23; Mikha 6:11). Apakah dalam posisi Anda saat ini (sebagai orang tua, pemimpin perusahaan, pemimpin organisasi, penegak hukum, dan sebagainya), Anda telah berlaku adil dalam setiap keputusan yang Anda ambil? [GI Roni Tan/ GI Purnama]



December 06, 2019, 06:51:31 AM
Reply #2109
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/


Respons Manusia dan Kesetiaan Tuhan
Posted on Kamis, 5 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 89:20-38

Dosa membuat manusia bukan hanya sulit menepati janji, tetapi juga tidak tahu bersyukur dan berterima kasih. Ketika Tuhan memberikan kasih setia-Nya kepada manusia, bukan rasa terima kasih yang didapatkan oleh Tuhan, melainkan pengingkaran dan pengkhianatan.

Jika dalam Mazmur 89:1-19 kita melihat janji setia Tuhan yang tidak berkesudahan, maka dalam nas ini kita akan melihat bagaimana respons umat Allah. Pemazmur mengungkapkan bahwa kesetiaan Tuhan terhadap umat-Nya selayaknya direspons dengan kesetiaan kepada Tuhan pula. Seharusnya, umat Allah merespons sungguh-sungguh dengan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya Allah yang disembah dan diandalkan (27). Fakta yang terjadi justru tidak demikian karena mereka meninggalkan Firman Tuhan dan melanggar segala ketetapan-Nya.

Bagaimanakah reaksi Tuhan saat melihat respons dari umat yang dikasihi-Nya? Pemazmur dengan jelas mengatakan bahwa Tuhan pasti membalas dan menghukum umat atas ketidaksetiaan mereka. Sekalipun demikian, kasih setia Tuhan kepada umat-Nya tidak akan berubah. Mengapa demikian? Di satu sisi, murka dan penghukuman Tuhan merupakan konsekuensi yang harus ditanggung karena pengkhianatan umat. Di sisi lain, kesetiaan Tuhan itu tidak dapat dibatalkan oleh apa pun karena ada ikatan perjanjian antara Tuhan dan leluhur bangsa Israel pada masa lampau.

Apa pesan yang kita dapatkan dari pemazmur? Sebagai umat yang telah menikmati kasih setia Tuhan, kita harus merespons kesetiaan Tuhan dengan hidup bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya. Secara praktis, rasa syukur dan terima kasih itu dapat diwujudkan dengan cara melakukan firman dan kehendak-Nya dalam hidup kita. Meskipun kita adalah manusia lemah yang tidak mampu melakukannya dengan sempurna, namun Tuhan lebih menghargai kesungguhan hati dan kerja keras kita yang tidak berhenti mencoba walau harus jatuh bangun.

Doa: Tuhan, kuatkanlah aku untuk melakukan kehendak-Mu dalam hidupku. [AB]







Pusaka Tetap Pusaka
Posted on Kamis, 5 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 36

Penaklukan wilayah sebelah Timur sungai Yordan membuat suku Ruben, suku Gad, dan setengah suku Manasye bisa lebih dulu mendapat tanah sebagai milik pusaka mereka. Di tanah tersebut, mereka bisa membangun kota untuk tempat tinggal, bercocok tanam dan menggembalakan ternak. Karena tanah tersebut merupakan milik pusaka, tanah tersebut tidak boleh dijual kepada suku Israel yang lain (berganti kepemilikan), sehingga tanah itu tetap menjadi milik masingmasing suku Israel. Masalah muncul saat seorang dari suku Manasye bernama Zelafehad—yang tidak memiliki anak laki-laki—mewariskan tanahnya kepada anak-anak perempuan (36:2). Secara normal, anakanak perempuan itu akan menikah. Bila mereka menikah dengan suku lain, otomatis milik pusaka mereka akan beralih menjadi milik suku lain (suku suami mereka). Menghadapi kondisi seperti ini, Tuhan menetapkan peraturan bahwa anak-anak perempuan Zelafehad itu hanya diizinkan untuk menikah dengan pria dari sesama suku Manasye. Dengan demikian, tanah yang menjadi milik pusaka suku Manasye tidak beralih menjadi milik pusaka suku lain.

Bagi sembilan setengah suku Israel yang belum mendapat tanah sebagai milik pusaka, adanya milik pusaka itu masih merupakan suatu pengharapan yang harus diperjuangkan. Bagi orang percaya di luar bangsa Israel, kita memang tidak memiliki tanah yang menjadi milik pusaka. Akan tetapi, penulis kitab Ibrani menyebut tentang warisan tanah yang berbeda, yaitu tanah air sorgawi (Ibrani 11:16) yang akan menjadi milik pusaka setiap orang percaya. Di sanalah kita akan tinggal bersama dengan Tuhan selama—lamanya. Tanah pusaka itu tidak bisa diperjualbelikan dan pasti akan menjadi milik kita (bandingkan dengan Yohanes 14:2). Sama seperti bangsa Israel yang harus mempercayai dengan iman bahwa Allah telah menyediakan milik pusaka bagi mereka di Tanah Kanaan, demikian pula kita memerlukan iman untuk bisa meyakini bahwa Allah telah menyediakan tanah air sorgawi bagi kita. Dengan iman, kita bisa meyakini bahwa Tuhan pasti akan menggenapi janji-Nya dan bahwa Tuhan Yesus pasti akan datang kembali untuk menjemput setiap orang yang percaya kepada-Nya (bandingkan dengan 1 Tesalonika 4:14-17). Sementara kita menanti penggenapan janji di atas, jalanilah hidup yang berkenan kepada-Nya! [GI Roni Tan/ GI Purnama]





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)