Author Topic: Saat Teduh  (Read 69590 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

December 07, 2019, 05:30:41 AM
Reply #2110
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Akibat Ketidaksetiaan
Posted on Jumat, 6 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 89:39-53

Semua pilihan yang dibuat dalam hidup pasti memiliki konsekuensi, baik kepada diri sendiri maupun orang di sekitar yang terkait dengan pilihan tersebut. Ketika memilih taat atau tidak taat kepada Tuhan, pasti ada konsekuensi yang harus kita terima.

Konteks Mazmur 89 adalah kesetiaan Tuhan, baik kepada Daud atau pun umat-Nya, yang tidak lekang oleh waktu. Bagian terakhir dari Mazmur ini mengindikasikan ketidaksetiaan umat kepada Tuhan dan firman-Nya. Sekalipun hal ini tidak mengubah kesetiaan Tuhan terhadap janji-Nya, namun ketidaksetiaan itu tidak dapat menghindari umat dari hukuman Allah.

Hukuman Allah atas umat-Nya tetap dinyatakan untuk menunjukkan sifat Allah, yaitu Allah yang Mahakasih itu juga mahaadil dan mahakudus. Saat umat-Nya melanggar hukum dan ketetapan-Nya, mereka akan dihukum berdasarkan perbuatannya.

Pemazmur juga menggambarkan hukuman dan kemarahan Tuhan seolah-olah Tuhan meninggalkan dan menyembunyikan diri dari umat-Nya. Di sini pemazmur berbicara tentang cara Allah menghukum mereka, yakni membiarkan umat-Nya ditindas oleh bangsa-bangsa lain. Kehancuran Yerusalem dan pembuangan Israel memperlihatkan tindakan Allah yang membiarkan umat-Nya ditindas oleh bangsa-bangsa.

Murka Allah yang bernyala-nyala atas dosa manusia diekspresikan sepenuhnya di atas kayu salib. Allah menghukum dosa umat manusia dalam murka yang ditimpakan kepada Putra-Nya sendiri.

Kita bersyukur Tuhan telah menanggung dosa, yaitu maut. Kita berterima kasih karena Allah tidak meninggalkan kita selamanya. Ia senantiasa mencari kita yang terhilang melalui Yesus Kristus. Hal ini bukan berarti kita bebas melakukan apa saja tanpa konsekuensi. Ketidaktaatan kepada Tuhan ada konsekuensinya dalam hidup. Karena itu, jangan bermain-main dengan murka Tuhan.

Doa: Tuhan, ajar aku tetap setia kepada-Mu sehingga Engkau berkenan kepadaku. [AB]







Dua Jalan Kehidupan
Posted on Jumat, 6 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 1

Dalam percakapan sehari-hari, mungkin kita sering mendengar kehidupan digambarkan dengan berbagai macam ungkapan. Ada yang menggambarkan hidup seperti roda yang selalu berputar, kadang kala di atas, kadang kala di bawah. Ada pula yang menggambarkan hidup seperti tumbuhan, mulai dengan benih yang bertunas, tumbuh, berbuah, lalu mati. Ada banyak lagi ungkapan lain yang dipakai untuk menggambarkan kehidupan. Setiap gambaran yang ada mengajarkan suatu pelajaran penting mengenai kehidupan.

Di permulaan kitab Mazmur, hidup manusia digambarkan seperti “jalan.” Di sini dikontraskan antara dua jenis jalan hidup. Jalan hidup yang pertama adalah kehidupan yang dijalani berdasarkan masukan dari orang-orang fasik (1:1). Orang fasik, orang berdosa dan pencemooh adalah gambaran pribadi-pribadi yang menjalani hidup tanpa takut akan Allah. Mereka berusaha mengajak orang lain untuk “berjalan,” “berdiri”, dan “duduk” bersama mereka, yaitu mengikuti pola pikir, cara hidup, serta nilai-nilai mereka yang tidak saleh. Dalam penilaian pemazmur, jalan hidup orang fasik ini seumpama sekam (1:4). Sekam adalah kulit yang menutupi biji-bijian gandum atau padi. Berbeda dengan gandum dan padi yang dikumpulkan untuk dimakan, sekam biasanya hanya dipakai sebagai bahan bakar. Kehidupan yang dijalani dengan nilai-nilai kefasikan ibarat sekam yang tidak menghasilkan buah. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang ateis—orang yang menolak dan melawan Allah—yang bisa memberi dampak terhadap lingkungan dan masyarakat. Namun, berguna atau tidaknya kehidupan seseorang harus dilihat dari akhir jalan hidupnya di hadapan Allah (1:5-6). Yang paling penting, hidup harus dijalani secara bertanggung jawab, pertama-tama dan terutama kepada Allah. Tanpa ketaatan kepada Allah, segala pencapaian macam apa pun tidak berguna di mata Allah.

Jalan hidup yang kedua —yang berkebalikan dengan jalan hidup berdasarkan masukan orang fasik—adalah jalan hidup yang berdasarkan firman Allah (1:2). Jika jalan hidup yang pertama dicirikan dengan kemandulan dan ketidakbergunaan, maka jalan hidup yang kedua seumpama pohon yang berbuah banyak (1:3). Hidup yang dijalani berdasarkan nasihat firman Allah adalah hidup yang berbahagia, berbuah, dan berkenan kepada Allah. [GI Williem Ferdinandus]



December 08, 2019, 04:40:37 AM
Reply #2111
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Pemeliharaan Allah
Posted on Sabtu, 7 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 90

Kebanyakan orang menjalani hidupnya setiap hari dengan aktivitas yang rutin dan hal itu terkadang membosankan. Mereka yang sibuk dengan pekerjaan kantoran bisa jadi lebih mudah merasa lelah dan jenuh. Tidak dipungkiri bahwa ada kecenderungan untuk melarikan diri dari tanggung jawab karena kejenuhan.

Agaknya, perasaan seperti inilah yang sedang dialami Musa dan bangsa Israel. Perasaan jenuh dan bosan berada di tengah-tengah padang gurun. Setiap hari yang dilihat oleh mereka hanyalah hamparan pasir. Tidak ada keindahan yang dapat dinikmati. Semuanya terlihat datar saja seperti hari-hari yang sudah dilalui. Perasaan itu kian menyeruak beberapa tahun belakangan. Bangsa Israel seakan-akan sudah melupakan sebuah kisah besar tentang penyertaan Allah dalam sejarah hidup mereka. Sesungguhnya, setiap perlindungan-Nya begitu sempurna dan ajaib.

Musa menaikkan nyanyian kepada Allah dengan harapan bahwa ucapan syukur yang dipanjatkannya dapat menguatkan pengharapannya pada tahun-tahun penuh tekanan. Musa yakin bahwa Allah tidak pernah sekali-kali meninggalkan mereka. Ia berkata, ”Seluruh hari yang kami lalui karena gemas-Mu, ajari kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga hati kami menjadi bijaksana” (9-12).

Tahun-tahun sulit yang dilalui Israel membuat mereka melupakan kebaikan Tuhan. Mereka lebih memfokuskan diri pada kesusahan dan penderitaan yang harus mereka alami dan lalui daripada kasih setia Tuhan. Itu alasan mengapa Musa memohon kepada Tuhan untuk mengajari mereka lebih bersyukur atas kasih-Nya.

Mengakui kelemahan diri adalah hal yang baik. Tanpa Tuhan, hidup seseorang dapat dipastikan tidak memiliki arti. Dalam kedaulatan dan kekuasaan-Nya, Ia berkenan menjadi tempat perlindungan bagi anak-anak-Nya. Ingatlah bahwa Allah selalu menopang hidup kita. Pemeliharaan-Nya sempurna dalam hidup kita.

Doa: Ajar kami untuk bersyukur atas segala sesuatu, apakah itu baik atau buruk, daripada berkeluh kesah. [AS]







Raja Yang Diurapi Tuhan
Posted on Sabtu, 7 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 2

Dalam Perjanjian Lama, kita menemukan bahwa orang yang akan dipakai Tuhan pada umumnya diurapi dengan minyak. Pengurapan atas para imam, para nabi dan para raja merupakan simbol pemilihan dan pengudusan mereka untuk melayani Allah (bandingkan dengan Imamat 8:10-13; 1 Samuel 9-10; 16:1-13; 1 Raja-raja 19:16; Mazmur 105:15). Dalam Mazmur 2, terdapat rujukan terhadap “yang diurapi Tuhan” (2:2). Dari ayat-ayat selanjutnya, kita dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud adalah raja Israel (2:6).

Dari permulaan Mazmur ini, kita bisa menemukan adanya penolakan terhadap kepemimpinan dari raja yang diurapi Tuhan (2:1-3). Penolakan ini tidak main-main karena yang menolak pemerintahan sang raja adalah bangsa-bangsa, raja-raja dunia, dan para pembesar. Raja yang diurapi adalah pelayan Allah. Oleh karena itu, perlawanan pada dirinya adalah bentuk perlawanan kepada Tuhan. Namun, Tuhan adalah Allah yang mahakuasa dan berdaulat. Tidak ada yang dapat melawan ketetapan dan kuasa-Nya (ay. 4-9). Perlawanan kepada Tuhan dan raja yang diurapi-Nya akan berakhir dengan kehancuran dan kebinasaan (2:9). Oleh karena itu, respons yang tepat semestinya adalah menundukkan diri dan menghormati Allah, yang dalam hal ini diwakili oleh raja yang diurapi-Nya (2:10-12). Jelas bahwa ketundukan pada raja yang diurapi ini memprasyaratkan bahwa sang raja sendiri adalah raja yang adil, benar, dan hidup dalam ketaatan pada hukum Tuhan (bandingkan dengan Ulangan 17:14-20).

Selanjutnya, penting bagi kita untuk mencermati bahwa kata Ibrani untuk istilah “yang diurapi” adalah “Mesias”, sedangkan kata Yunaninya adalah “Kristus.” Tidaklah mengherankan bahwa dalam Perjanjian Baru, para rasul beranggapan bahwa Mazmur 2 ini membicarakan Yesus Kristus sebagai sosok Raja yang diurapi Tuhan (Kisah Para Rasul 4:25-26; 13:33; Ibrani 1:5). Yesus Kristus adalah Raja yang adil dan benar, yang ditetapkan Allah untuk memerintah dan menghakimi umat-Nya. Kita hanya mempunyai dua pilihan, yaitu menundukkan diri kepada Yesus Kristus atau menolak Dia. Agar kita bisa memiliki kehidupan yang bercirikan damai sejahtera dan sukacita, kita harus menundukkan diri di hadapan Yesus Kristus. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!  [GI Williem Ferdinandus]


December 09, 2019, 06:31:58 AM
Reply #2112
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Ketika Aku Takut
Posted on Minggu, 8 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 91:1-16

Tidak ada manusia yang bebas dari masalah. Dan pengalaman merupakan guru terbaik. Pengalaman hidup mengajarkan kepada manusia bahwa ketakutan tidak dapat meniadakan masalah. Jika ada masalah, kita tidak harus menghindar atau melarikan diri. Sebaiknya, kita menghadapi setiap masalah dengan tenang sembari mencari solusinya.

Kitab Mazmur adalah nyanyian, pujian, dan ungkapan bangsa Israel yang dilantunkan dalam bentuk syair kepada Allah. Orang-orang Yahudi kebanyakkan menggunakan mazmur dalam ibadah mereka (bnd. 1Kor. 14:26; Ef. 5:19; Kol. 3:16). Isi mazmur menyatakan pujian manusia kepada pribadi dan karya Tuhan.

Karena itu, dalam mazmur kita bisa melihat berbagai macam ekspresi dan perasaan yang mendalam tentang pernyataan kekuasaan Allah, kemegahan Allah, pertolongan Allah, dan sebagainya. Di sini dapat disimpulkan bahwa Allah adalah satu-satunya tempat pertolongan bagi bangsa Israel untuk mengadu dan bersandar saat mereka menghadapi kesulitan.

Mazmur 91 merupakan ungkapan pengharapan kepada Allah pada saat bangsa Israel mengalami ketakutan. Mereka menaikkan pujian dan pengharapan kepada Allah. Pengharapan mereka teguh dan pasti karena bagi mereka Tuhan adalah ”Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku” (2).

Pemazmur percaya Allah akan membentangkan sayap-Nya untuk menudungi dan melindungi dari musuh. Umat-Nya tidak perlu takut dengan kedahsyatan malam, panah di waktu siang, terhadap penyakit, terhadap seribu orang bahkan sepuluh ribu orang, terhadap malapetaka dan tulah, antukan batu, dan terhadap singa dan ular tedung yang mengerikan (5-13). Kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. Pemazmur menggambarkan betapa penyertaan Tuhan sungguh-sungguh sempurna sehingga umat tidak perlu takut apa pun. Allah menjamin bahwa umat-Nya akan dikasihi dan diluputkan dari semua yang mereka takutkan.

Doa: Tuhan, segala hal kuserahkan kepada-Mu karena Engkau adalah Allah yang selalu melindungi. [AS]







Allah Lebih Besar dari Masalah Anda
Posted on Minggu, 8 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 3

Pernahkah Anda mengalami kondisi saat seluruh dunia terasa seperti berkonspirasi memusuhi diri Anda, semua yang Anda kerjakan salah, dan orang yang dekat dengan diri Anda hanya menambah masalah? Jika Anda pernah atau sedang menghadapi masalah yang menumpuk yang membuat Anda sulit tidur atau tidak dapat tidur dengan tenang, Anda dapat berkaca dan belajar banyak dari Mazmur 3 ini.

Mazmur 3 ini ditulis oleh Daud saat ia lari dari Absalom (3:1), yaitu saat terjadinya peristiwa kudeta yang dilakukan oleh Absalom (2 Samuel 15). Absalom—anak kandung Daud—perlahan-lahan merebut hati rakyat dan mendeklarasikan diri sebagai raja Israel. Tidak hanya rakyat yang membelot, Ahitofel—penasihat kepercayaan Daud—juga turut membelot dan mendukung Absalom. Daud menyadari datangnya bahaya, sehingga ia segera melarikan diri dari Yerusalem bersama-sama dengan orang-orang kepercayaan yang masih setia kepadanya.

Mazmur 3 merekam kondisi jiwa Daud dalam situasi di atas. Jiwanya menyadari betapa banyak orang yang ingin menyingkirkannya, dan ia beranggapan bahwa tidak akan ada keselamatan baginya (3:2-3). Akan tetapi, Daud percaya penuh kepada Tuhan yang melindungi dirinya dan mendengar keluh kesahnya (3:4-5). Di tengah tekanan, ia tetap bisa tidur. Tidur adalah kondisi tanpa perlawanan. Orang yang sedang tidur tidak bisa menyandang pedang atau mengangkat perisai. Tidur adalah kondisi tanpa perlindungan. Oleh karena itu, orang yang merasa tidak aman akan sulit tidur dan sulit beristirahat. Akan tetapi, Daud bisa tidur dan bangun sebab ia percaya bahwa Tuhan menjaganya (3: 6-7).

Mengapa Daud bisa tetap berharap kepada Allah? Tampaknya, Daud mengingat pertolongan Tuhan di masa lalu. Ayat 8 mengatakan bahwa Tuhan “telah” menghukum musuh-musuhnya sebagai rangkuman semua peristiwa yang terjadi di masa lalu. Mungkin ia mengingat bagaimana Tuhan menolong saat ia masih menggembalakan kambing domba sampai setelah ia menjadi raja.

Seperti Daud, kita perlu senantiasa mengingat bahwa sesungguhnya Allah lebih besar dari segala masalah kita. Ia tidak pernah meninggalkan kita dan senantiasa mendengar keluh kesah kita. Agar keyakinan kita kepada Allah semakin kuat saat menghadapi masalah, ingatlah segala kebaikan dan pertolongan Allah di masa lalu. [GI Williem Ferdinandus]



December 10, 2019, 06:10:35 AM
Reply #2113
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Pujian dan Berkat
Posted on Senin, 9 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 92

Ketika acara Grammy Award digelar, semua aktor dan aktris terbaik akan maju ke depan untuk menerima piala sebagai penghargaan atas karya mereka. Bukan hanya itu, mereka juga mendapatkan banyak pujian dan karangan bunga karena prestasi yang gemilang. Kilau lampu kamera susul-menyusul mengabadikan prestasi itu. Apakah apresiasi yang serupa pernah diperlakukan bagi Allah?

Dalam Mazmur 92 bangsa Israel mengungkapkan nyanyian syukur atas hari-hari yang penuh kebaikan dan berkat yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Allah adalah Raja di atas segala raja. Ia bertakhta. Menaikkan syukur dan pujian kepada Allah merupakan perbuatan yang dikehendaki Allah dari mulut umat-Nya.

Ia adalah Allah. Karena itu, Ia layak menerima sujud sembah, pujian, hormat, dan kemuliaan. Pemazmur menyatakan semuanya ini lewat syair-syair yang dilantunkan. Mazmur ini mengajar kita bahwa memuji dan bersaksi atas pekerjaan Allah merupakan tindakan yang penting sebagai ekspresi iman yang sejati kepada Allah (6). Orang yang mengenal Allah adalah orang yang mengenal betapa besarnya pekerjaan Allah.

Pemazmur sendiri tidak menyangkali adanya berbagai kesulitan dan tantangan hidup. Beberapa sebutan seperti ”orang bodoh, orang bebal, orang fasik, dan orang yang melakukan kejahatan, musuh” (7-10) menyatakan bahwa pengenalan akan kebesaran Tuhan tidak berarti tanpa masalah. Tetapi, iman kepada Allah sebagai Hakim yang adil meyakinkan pemazmur bahwa Allah akan senantiasa memberkatinya, bahkan hingga hari tuanya (15-16).

Allah menjamin pemeliharaan-Nya bagi setiap anak-Nya. Ia mengasihi mereka. Selayaknya, Ia menerima pujian tertinggi dari ciptaan-Nya.

Hayatilah lebih dalam kebaikan Tuhan, naikkanlah puji syukur penuh resapan dan bertelutlah setiap waktu kepada Allah karena Dia berkenan atas hal tersebut. Kapankah terakhir kalinya kita takjub dan bersimpuh atas pekerjaan-Nya yang besar itu?

Doa: Bersyukur atas kebaikan-Mu dalam hidup. [AS]







Evaluasi Diri Sebelum Tidur
Posted on Senin, 9 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 4

Waktu tidur di malam hari menandakan bahwa satu hari telah berakhir dan besok—saat bangun—kita akan memasuki hari yang baru. Momen sebelum tidur, saat segala kesibukan berhenti, merupakan waktu yang baik untuk memeriksa kondisi jiwa kita. Mazmur 4 mengajar kita untuk melakukan hal itu. Perhatikanlah kata “tempat tidur” (4:5) dan “segera tidur” (4:9) dalam Mazmur yang kita baca hari ini. Kedua perkataan itu menunjukkan bahwa tampaknya mazmur tersebut dinyanyikan sebelum tidur di atas ranjang.

Apa yang diungkapkan oleh Mazmur ini dan apa yang bisa kita pelajari? Ada 3 jenis perkataan yang diungkapkan dalam Mazmur ini: Pertama , yaitu perkataan yang ditujukan kepada “lawan” khayalan (4:34). Dengan mengingat kekeliruan yang telah dilakukan oleh orang kepadanya, pemazmur tidak membiarkan kesalahan, kebohongan dan kesia-siaan lewat begitu saja seakan-akan tidak terjadi apa-apa (4:3). Pada saat yang sama, ia juga mengingat bahwa Tuhan mengkhususkan mereka yang dikasihi oleh-Nya (4:4).

Kedua , perkataan kepada diri sendiri (4:5-6). Pemazmur menegaskan bahwa perasaan marah dan terluka karena kesalahan orang perlu dihadapi dengan benar (4:5). Hal ini mengingatkan kita bahwa setiap emosi perlu diekspresikan secara sehat dan tidak dipendam. Tidak ada orang yang bisa tidur dengan nyenyak selama ia masih dikuasai oleh amarah. Cara menyelesaikan emosi tersebut adalah dengan membawanya ke hadapan Tuhan (4:6). Amarah dan keinginan untuk membalas hanya dapat dipadamkan oleh keyakinan bahwa Tuhan adalah Allah yang adil yang akan membalas menurut waktu dan kehendak-Nya (bandingkan dengan Roma 12:19).

Ketiga , perkataan kepada Allah (4:7-9). Di dalam Alkitab, “wajah Tuhan” adalah perkataan yang mengungkapkan kehadiran Allah. Di sini, pemazmur mengingat kehadiran Tuhan yang sifatnya terus-menerus dalam kehidupannya. Ia merenungkan sukacita yang diberikan Allah, yang tidak ditentukan oleh kelimpahan materi. Menghayati kehadiran Allah serta meresapi sukacita di dalam dan dari diri-Nya akan membuat kita bisa menutup hari dan beristirahat dengan damai. Sebelum berbaring dan tidur pada hari ini, sediakanlah waktu untuk membaca ulang Mazmur 4 ini dan memeriksa jiwa kita di hadapan Allah. [GI Williem   Ferdinandus]



December 11, 2019, 05:11:27 AM
Reply #2114
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Allah yang Mulia
Posted on Selasa, 10 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 93

Di satu sisi, raja itu sosok yang mulia. Di sisi lain, ia juga ditakuti oleh rakyatnya. Namun, raja yang baik senantiasa dicintai rakyatnya. Zaman dahulu seorang raja selalu menjamin keamanan dan ketenteraman bagi rakyatnya. Mengusahakan kesejahteraan di wilayah kekuasaannya merupakan prioritas utama seorang raja. Menjaga dan melindungi rakyatnya dari segala ancaman dan bahaya adalah juga tanggung jawab raja.

Pemazmur menggambarkan Allah sebagai Raja di bumi. Ini merupakan posisi tertinggi yang ada dalam kehidupan sosial zaman itu. Mazmur 93 ini menceritakan kemegahan Allah sebagai Raja yang kekal. Penggambaran Allah sebagai Raja yang bertakhta dan berkuasa dengan jelas dilukiskan pemazmur (1-2). Dalam kekuatan-Nya, Allah menegakkan dunia untuk sepanjang masa. Takhta-Nya kekal dari dahulu, sekarang, dan selamanya. Ia menjabat secara kekal. Ia memiliki kedaulatan mutlak. Allah berada di atas takhta-Nya dan memerintah dalam keadilan-Nya secara kekal. Ciptaan-Nya (sungai dan laut) pun mengangkat suara memuji-Nya (3-4). Kuasa Allah melampaui segala sesuatu yang ada (3-4). Peraturan Tuhan sangatlah kukuh (5) sehingga layak menjadi pedoman dalam segala aspek kehidupan umat. Dan bait-Nya itu kudus untuk sepanjang masa sehingga harus diperlakukan dengan penuh hormat dan gentar.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus digambarkan sebagai seorang Raja. Keunikannya adalah Raja ini mengurbankan diri-Nya untuk menebus manusia dari belenggu dosa. Dialah Raja kekal yang berkuasa atas maut dan kebangkitan-Nya membuktikan kuasa-Nya. Sungguh, kemuliaan Raja berada dalam segala perbuatan Kristus.

Yesus Kristus adalah Raja yang kekal itu. Segala lutut bertelut kepada-Nya. Ketika Raja kekal itu memberikan tugas kepada kita, apakah kita akan menerimanya? Apakah kita sudah menghidupi panggilan yang diberikan secara khusus bagi kita dari Sang Raja?

Doa: Tuhan Raja yang mulia, tolonglah aku untuk menjadi alat kerajaan dan kemuliaan-Mu semata. [AS]







Mengeluh Menghadapi Kebohongan
Posted on Selasa, 10 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 5

Pada tahun 2016, Kamus Oxford menjadikan kata “pasca kebenaran (post-truth)” sebagai kata tahun ini (word of the year). Istilah “Paska kebenaran” kerap dipakai untuk menggambarkan kondisi sosial di seluruh dunia. Pada masa lampau, benar salahnya sebuah pernyataan dinilai berdasarkan bukti dan fakta obyektif. Akan tetapi, pada masa kini, orang menilainya berdasarkan perasaan subyektif. Misalnya, dalam 10 tahun terakhir, berdiri 3 gedung gereja di tempat yang penduduknya mayoritas non-Kristen. Orang-orang tertentu yang terganggu berkata, “semakin banyak gereja berdiri di sini dan kita semua akan terlibas.” Benar tidaknya pernyataan tersebut tidak dinilai berdasarkan data yang teramati (misalnya: berapa tepatnya jumlah orang yang berpindah keyakinan), tetapi berdasarkan opini dan sentimen emosional saat melihat dan merasakan perubahan yang terjadi dalam 10 tahun terakhir. Dalam era pasca kebenaran, hoaks dan ujaran kebencian menjamur di mana-mana. Celakanya, perkembangan teknologi membuat hoaks dan ujaran kebencian itu menyebar cepat dan semakin menambah sentimen emosional masyarakat banyak. Kita semua hidup dalam era seperti ini!

Dalam Mazmur 5, tampak bahwa pemazmur sangat terganggu oleh para lawannya. Secara berulang-ulang dan mendesak, ia mengeluh kepada Tuhan (5:2-4). Perhatikan bahwa sebagian besar kejahatan yang ia keluhkan berhubungan dengan perkataan yang tidak benar. Ia meyakini bahwa Allah bersikap anti terhadap pembual, pembohong, penipu, orang munafik, dan orang yang perkataannya mematikan (5:57,10). Dalam kondisi semacam itu, pemazmur mengingat anugerah Allah dan melekatkan diri kepada-Nya (5:8-9). Ia mengekpresikan imannya melalui keyakinan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan akan senantiasa dilindungi Allah (5:12-13).

Dalam menghadapi hoaks dan ujaran kebencian, pertama-tama kita harus berdoa. Mendahulukan doa bukanlah berarti pasifisme (tidak menyuarakan atau melakukan apa pun untuk melawan kebohongan), tetapi doa menolong kita untuk membereskan hati lebih dahulu di hadapan Allah. Reaksi terhadap hoaks yang emosional hanya membuat upaya kita sia-sia, bahkan bisa makin memperburuk sentimen emosional yang telah ada. Hanya orang yang mempercayai keadilan dan perlindungan Allah yang dapat menghadapi hoaks dengan kepala dingin.  [GI Williem Ferdinandus]


December 12, 2019, 06:15:05 AM
Reply #2115
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Menjadi Seorang Petarung
Posted on Rabu, 11 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 94

Hidup itu penuh misteri. Banyak pertanyaan yang masih tidak terjawab. Dalam kehidupan iman pun, banyak pertanyaan tentang keadilan Allah atas orang fasik. Seolah-olah Allah membiarkan begitu saja kejahatan merajalela. Terkadang orang benar seakan-akan tidak benar, dan sebaliknya.

Konteks Mazmur 94 ini adalah bangsa Israel dilanda ketegangan, manakala keadilan tidak berpihak pada kebenaran yang selama ini mereka lakukan. Seakan-akan kebenaran telah hilang. Para musuh mencemooh dan mencela setiap hal yang mereka kerjakan. Dalam pergumulan seperti ini, pemazmur tetap yakin bahwa Tuhan adalah Hakim yang adil. Ia mengadili dan menghukum orang-orang jahat (1-3). Meskipun begitu, umat Tuhan harus bangkit dan mengambil bagian dalam pertempuran bagi kebenaran (16).

Hanya Allah saja yang mengetahui rancangan yang ada pada manusia (11). Dalam hati manusia selalu merancangkan berbagai macam hal, dari yang baik maupun yang jahat. Allah melihat seluruh kedalaman hati manusia. Allah pun memiliki rancangan, yaitu rancangan damai sejahtera (Yer. 29:11).

Di sini, Allah ingin mengajari kepada kita bagaimana menjadi petarung sejati yang bertarung di arena pertandingan (16). Berani bagi kebenaran, salah satunya adalah Gideon. Dahulu ia adalah seorang petani, namun Allah menyebutnya sebagai pahlawan gagah berani (Hak. 6:11-12). Dan ia menjadi seorang panglima tentara yang memimpin pasukan Israel untuk berperang dan menjadi hakim atas mereka. Jadi, Allah memilih Gideon untuk menjadi petarung.

Allah yang sama juga menginginkan kita menjadi petarung-petarung sejati yang mengalahkan kegelapan dunia. Menjadi berbeda adalah kunci kebenaran Allah. Tidak menjadi serupa dengan dunia ini (Rm. 12:2). Tangguh dan berani bagi Tuhan.

Jadilah berani bagi Kristus! Firman Tuhan adalah pedoman dalam melawan kegelapan. Tuhan akan menolong kita untuk berjuang. Ia akan menguatkan kita menjadi pejuang-Nya.

Doa: Berikanlah keberanian kepadaku untuk bertarung bagi Kristus. [AS]







Kasihani Aku, Tuhan!
Posted on Rabu, 11 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 6

Dalam Alkitab, kerap kali kita menemukan bahwa Allah menghukum umat-Nya yang telah berdosa dan menjauh dari-Nya. Misalnya, dalam Kitab Hakim-hakim, kita membaca bagaimana bangsa Israel jatuh ke dalam siklus berulang. Mereka berpaling dari Allah dan menyembah berhala. Kemudian, Allah mengirim bangsa lain untuk menjajah mereka. Saat tertindas, mereka mengeluh dan memohon ampun serta meminta pertolongan Allah. Allah menolong dengan mengirimkan seorang hakim. Setelah era hakim tersebut berakhir, Israel kembali berpaling kepada berhala. Demikianlah siklus itu terus berulang dalam sejarah Israel.

Ternyata, siklus semacam itu bukan hanya terjadi dalam kehidupan bangsa Israel, namun juga bisa terjadi dalam kehidupan setiap orang. Ada kalanya kesalahan tertentu langsung diganjar Tuhan dengan pendisiplinan yang bertujuan untuk mengarahkan umat-Nya agar kembali kepada-Nya. Dalam Mazmur 6, pemazmur menjerit karena penderitaan yang merupakan pendisiplinan Allah. Kemungkinan, pemazmur menghadapi lawan/musuh (6:8-9, 10) yang membuatnya sakit secara fisik dan tertekan secara psikis (kejiwaan). Ia sadar bahwa segala kesulitan yang ia hadapi sesungguhnya bersumber dari murka Allah (6:2). Ia tahu bahwa Allah yang menunjukkan murka-Nya adalah Allah yang akan menyelamatkan Dia. Oleh karena itu, mazmur tersebut penuh dengan permohonan agar Allah mengasihani, menyembuhkan, meluputkan, dan menyelamatkan pemazmur (6:3, 5). Lewat penutup mazmur ini, kita menemukan bahwa permohonan pemazmur tidak sia-sia karena doa dan keluhannya telah didengar oleh Tuhan (6:9-11).

Jelaslah bahwa setiap permasalahan atau pergumulan yang kita hadapi tidak bisa langsung kita tafsirkan sebagai bentuk pendisiplinan Allah (ingat kisah Ayub). Kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa penyakit, bencana, permusuhan dari orang sekitar adalah bentuk hukuman Allah. Akan tetapi, pada saat yang sama, kita perlu kepekaan untuk menyadari bahwa dosa tertentu memang bisa mendatangkan konsekuensi yang wajar. Seandainya ada pelanggaran yang menyebabkan kita mengalami tekanan dan permasalahan tertentu, kita perlu bertobat dan segera datang kepada Allah. Mintalah dengan sungguh pengampunan dan pertolongan dari-Nya, maka niscaya Ia akan mendengar!  [GI Williem Ferdinandus]


December 13, 2019, 06:34:31 AM
Reply #2116
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Menghargai Anugerah-Nya
Posted on Kamis, 12 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Efesus 1:1-14

Dipilih menjadi kudus sebagai anak-anak Allah adalah berkat rohani yang tak ternilai harganya. Ada yang sungguh meresapinya dan menghargainya, ada pula yang sebaliknya.

Pada bagian ini, Paulus menekankan betapa luar biasanya pemilihan Allah itu. Melalui Yesus Kristus, Allah menebus kita dengan darah-Nya dan menganugerahkan pengampunan dosa sehingga kita diselamatkan dan menjadi milik kepunyaan Allah. Pemilihan Allah ini bukan karena kita layak. Pemilihan itu berdasarkan keputusan Allah yang berdaulat.

Dalam penghayatan akan kebenaran ini, Rasul Paulus sangat bersyukur dan mengajak kita untuk memuji Allah di dalam Yesus Kristus yang telah mengaruniakan berkat rohani kepada orang percaya. Pemilihan Allah ini menjadikan kita kudus sebagai anak Allah yang dimeteraikan oleh ROH KUDUS (13) dan ROH KUDUS adalah jaminan penebusan yang menjadikan kita milik Allah (14).

Betapa bahagianya kita yang mendapat berkat rohani yang tak ternilai ini. Sudah sepatutnya kita hidup secara bertanggung jawab sebagai orang pilihan Allah, yaitu dengan hidup kudus dan menjadi puji-pujian bagi kemuliaan Allah.

Hidup kudus berarti kita harus berbeda dengan orang-orang yang hidup di luar Tuhan. Menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya berarti hidup ini harus bermakna, yaitu menjadi berkat dan memuliakan nama Tuhan. Hal yang sia-sia, yang tidak sesuai kehendak-Nya, yang menyakiti hati Allah, dan menjadi batu sandungan bagi sesama haruslah dibenci oleh orang kudus. Dalam kasih karunia-Nya, Ia menguatkan dan memampukan kita hidup sebagai orang pilihan-Nya di tengah dunia yang bobrok.

Hiduplah sebagai orang-orang pilihan Allah, karena Allah setia adanya (Ibr. 13:5b). Hidup sesuai kehendak Allah bukanlah pilihan, melainkan ungkapan syukur, iman, dan ketaatan kita yang seharusnya kepada Allah sebagai orang-orang yang telah menerima berkat rohani yang tak ternilai harganya.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami hidup sebagai orang yang diperkenan di hadapan-Mu melalui ketaatan kami. [GS]







Tuhan adalah Hakim yang Adil
Posted on Kamis, 12 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 7

Mazmur 7 perlu dibaca secara bersebelahan dengan Mazmur 6. Dalam Mazmur 6, sang pemazmur mengalami penderitaan karena dirinya telah melakukan kesalahan yang mendatangkan murka dan pendisiplinan Allah. Dalam Mazmur 7, pemazmur mengemukakan bahwa dirinya mengalami masalah, padahal dia merupakan pihak yang tidak bersalah.

Seperti dalam Mazmur 6, dalam Mazmur 7 pun, pemazmur merasakan ancaman dari lawan yang digambarkan seperti singa yang berupaya untuk menerkam dirinya (7:2-3). Lalu, apa yang dilakukan oleh pemazmur dalam menghadapi situasi seperti itu? Ia membawa perkaranya ke hadirat Allah dan berupaya untuk mengemukakan ketidakbersalahannya (7:4-6). Klaim ketidakbersalahan itu diikuti dengan kesiapan menanggung konsekuensi jika ternyata ia ditemukan bersalah. Pemazmur meyakini bahwa sifat Tuhan adalah adil (7:10, 12). Ia percaya bahwa Tuhan adalah Hakim atas segala bangsa, dan hal itu berarti bahwa Tuhan juga merupakan Hakim atas dirinya dan musuhnya (7:7-9). Ia tahu bahwa Allah bukan hanya memeriksa perbuatan yang kelihatan, namun juga memeriksa sampai kepada batin yang terdalam (7:10). Oleh karena itu, dia percaya bahwa ia akan ditemukan sebagai orang yang tulus ikhlas (7:9). Sementara itu, akan terungkap bahwa lawannya penuh dengan kejahatan dan kelaliman (7:15). Atas dasar keadilan Allah, ia percaya bahwa ia akan luput dari kejaran musuh, sedangkan rancangan musuh akan digagalkan dan bahkan akan dibalikkan kepada mereka sebagai wujud hukuman Allah (7:16-17).

Dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa, tidak jarang kita mengalami masalah yang bukan disebabkan oleh kesalahan kita. Bayangkanlah perundungan (bullying) yang dialami oleh anak yang “lemah” di sekolah, permusuhan dari partner di tempat kerja, serta persekusi dari orang yang berbeda keyakinan sebagai contoh tindakan permusuhan yang bisa jadi timbul tanpa adanya kesalahan dari pihak “korban”. Jika Anda sedang mengalami situasi seperti itu, bawalah perkara tersebut ke hadapan Tuhan kita. Mengeluhlah kepada-Nya, dan mintalah keadilan dari Tuhan. Hakim yang adil itu akan menunjukkan keadilan-Nya, baik secara langsung di dunia ini sekarang atau menyimpannya untuk penghakiman akhir kelak. [GI Williem Ferdinandus]



December 14, 2019, 06:05:18 AM
Reply #2117
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Mengenal Tuhan
Posted on Jumat, 13 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Efesus 1:15-23

Rasul Paulus terkesan akan iman dan kasih yang tampak dalam kehidupan jemaat Efesus. Hal itu membuatnya bersyukur kepada Tuhan. Ia berdoa supaya Tuhan memberikan hikmat kepada jemaat Efesus agar mereka memiliki pengenalan yang benar tentang Allah (17). Paulus juga berdoa agar mata hati mereka terang dalam memahami kekayaan kemuliaan yang ditentukan Allah bagi orang-orang kudus (18) dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya (19). Semuanya itu dikerjakan Allah dalam Kristus yang telah bangkit dan duduk di sebelah kanan Bapa di surga.

Kebangkitan dan kenaikan Kristus adalah karya Allah dan bukti kemenangan-Nya atas segala kuasa yang ada di dunia. Allah telah memberikan tempat yang terhormat dan kekuasaan tertinggi kepada Kristus, Sang Kepala atas jemaat, yang adalah tubuh-Nya. Allah menjamin bahwa Ia akan memimpin dan menyertai umat-Nya melalui ROH KUDUS selama-lamanya (21).

Rasul Paulus menyadari betapa pentingnya setiap orang Kristen mengenal Tuhan dengan benar supaya memiliki iman yang tangguh. Dengan iman yang kukuh, setiap orang Kristen mampu melewati setiap pergumulan dan beroleh kemenangan di dalam pertolongan-Nya.

Selain itu, iman yang kukuh akan mendorong orang Kristen menjadi saksi Allah, yaitu saksi yang akan berbicara tentang kekayaan kemuliaan-Nya dan tentang kuasa Allah yang telah membebaskan manusia dari dosa dan kuasa jahat.

Pada zaman ini siapa pun bisa terlena oleh berbagai aktivitas hidup yang nyaman sehingga ia lupa akan pentingnya mengenal pribadi Tuhan dengan benar. Pengenalan yang benar tentang Allah akan melahirkan sikap, tindakan, dan perbuatan hidup yang benar pula. Dan pada akhirnya, setiap orang Kristen yang menjadi saksi-Nya pasti akan mengharumkan nama Allah. Sudah benarkah pengenalan kita akan Allah? Hal ini nyata melalui sikap kita sehari-hari sebagai saksi-Nya.

Doa: Tuhan, berilah kami hati yang rindu senantiasa agar kami dapat mengenal-Mu dengan benar. [GS]







Mengenal Diri dan Mengagumi Allah
Posted on Jumat, 13 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 8

Mazmur 8 diawali dan diakhiri dengan pujian terhadap keagungan nama Allah (8:2, 10). Pujian itu mengapit rangkaian ungkapan kekaguman pemazmur akan posisi manusia dalam ciptaan. Jelas bahwa setiap pernyataan didasarkan pada kisah penciptaan yang termuat dalam permulaan Kitab Kejadian. Dalam mazmur ini, kejatuhan dalam dosa digemakan secara tersirat dalam ungkapan “lawan”, “musuh” dan “pendendam” (8:3). Keheranan pemazmur pertama-tama timbul dari perbandingan antara kebesaran alam semesta dengan manusia (8:4-5). Secara khusus, yang membuat pemazmur merasa heran adalah perhatian Allah kepada manusia yang begitu kecil di dalam alam raya yang demikian besar (8:5). Selanjutnya, ia juga heran dan kagum saat merenungkan kuasa dan hak istimewa atas ciptaan non-manusia yang diberikan kepada manusia (8:6-9). Manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah diberi nilai yang lebih tinggi dari ciptaan lain, dan diberi kuasa atas segala binatang darat, air, dan udara.

Walaupun Mazmur 8 semula dimaksudkan untuk dinyanyikan oleh bangsa Israel, di dalamnya tersirat bahwa yang dibicarakan bukan hanya bangsa Israel, melainkan umat manusia secara umum. Secara khusus, dalam terang Perjanjian Baru, kita menemukan bahwa Yesus Kristus adalah gambaran manusia sejati yang ideal yang dimahkotai dengan kehormatan dan kemuliaan setelah menderita, mati, dan bangkit sebagai perwakilan manusia berdosa (bandingkan dengan Ibrani 2:6-9).

Kira-kira lima abad yang lampau, John Calvin memulai tulisan mahakaryanya dengan dua pernyataan yang bersifat paradoks, “Tanpa pengenalan akan diri sendiri, tidak ada pengenalan akan Allah. Tanpa pengenalan akan Allah, tidak ada pengenalan akan diri sendiri”. Kedua pernyataan itu tepat dan menunjukkan betapa pentingnya pengenalan akan Allah dan diri sendiri. Dalam kaitan dengan Mazmur 8, boleh dikatakan bahwa manusia tidak akan memahami kebesaran Allah tanpa melihat betapa kecilnya dirinya. Renungkanlah betapa kecil dan tidak berartinya diri kita dan betapa luar biasanya Allah yang mau mengasihi dan mengindahkan kita yang demikian kecil. Dengan terus-menerus merenungkan hal ini, kita akan terbentuk menjadi pribadi-pribadi yang penuh kerendahan hati dan juga penuh dengan kekaguman yang akan meluap keluar lewat pujian yang tulus kepada Allah. [GI Williem           Ferdinandus]


December 15, 2019, 04:24:46 AM
Reply #2118
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Meneruskan Kebaikan-Nya
Posted on Sabtu, 14 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Efesus 2:1-10

Beberapa agama besar memberikan penekanan terhadap usaha manusia untuk memperoleh keselamatan. Hal ini berbeda dengan ajaran Alkitab yang menegaskan: ”Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” (8).

Ada dua hal penting yang dikemukakan Paulus, yakni: Pertama, kalimat ”Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman” menjelaskan bahwa manusia dahulu mati karena dosa-dosanya. Karena kasih karunia Allah, kita dihidupkan melalui kematian dan kebangktian Kristus sehingga beroleh keselamatan dalam iman kepada Yesus Kristus. Kedua, kalimat ”Itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” menjelaskan bahwa tak ada alasan apa pun bagi kita untuk menyombongkan diri. Sebab, keselamatan itu semata-mata pekerjaan dan anugerah Allah.

Menerima kasih karunia Allah tidak berarti kita dapat hidup terus-menerus dalam hawa nafsu duniawi, menurut kehendak daging, dan pikiran yang jahat. Yesus menghendaki setiap orang Kristen menyadari keberadaan-Nya sebagai orang yang telah diselamatkan untuk hidup kudus dan benar. Tidak lagi hidup dalam dosa dan dimurkai Allah. Sama seperti orang-orang di luar Kristus yang akhirnya akan menerima penghukuman kekal.

Rasul Paulus mengingatkan bahwa orang-orang yang diselamatkan Allah adalah milik Kristus. Sebagai milik Kristus, Allah mempersiapkan kita untuk melakukan pekerjaan baik. Ia sudah mempersiapkan kita sebelumnya untuk pekerjaan baik tersebut (10). Itulah tujuan Allah menjadikan kita milik-Nya. Segala kebaikan yang telah diterima, akan diteruskan kepada orang lain supaya mereka mengalami kebaikan Tuhan.

Mungkin ada yang berpikir di mana kita dapat meneruskan kebaikan Tuhan kepada sesama? Di mana pun kita berada, di situlah pekerjaan baik itu dinyatakan demi kemuliaan Tuhan. Itulah hidup yang meneruskan kebaikan-Nya.

Doa: Tolong kami melakukan pekerjaan baik supaya sesama kami juga mengalami kebaikan-Mu. [GS]







Sang Pelindung
Posted on Sabtu, 14 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 9

Ketika diperhadapkan dengan kesesakan, kesengsaraan dan penindasan dari musuh, kondisi kita bagaikan seorang anak kecil yang diganggu oleh segerombolan anak berbadan besar, berharap dirinya memiliki bodyguard (pengawal atau pelindung) yang dapat melindunginya. Kehadiran seorang bodyguard akan membuatnya merasa aman, lega, dan terbebas dari situasi yang menghimpitnya. Sayang sekali, umumnya seorang bodyguard dipekerjakan untuk melindungi mereka yang beruang atau terkemuka. Lalu, bagaimana dengan kita yang hanya “orang biasa” ini, siapakah yang dapat melindungi kita dari setiap situasi yang menyesakkan? Siapakah yang dapat kita andalkan?

Melalui Mazmur 9 ini, kita melihat ucapan syukur dan nyanyian sukacita pemazmur (9:2-3), bahkan ajakan untuk bermazmur (9:12). Mengapa? Di dalam kesesakan, kesengsaraan, dan penindasan yang dialaminya dari musuh-musuhnya, pemazmur mendapati bahwa Allah adalah Pelindung dan Pembela yang dapat diandalkan (9:4-5, 14). Jika para hakim dunia berpihak kepada mereka yang dapat menyuapnya dengan sejumlah uang, Allah adalah Hakim yang adil yang menghakimi dunia dengan keadilan serta mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran (9:5, 9). Di dunia ini, umumnya mereka yang beruang memperoleh perhatian istimewa. Akan tetapi, Allah tidak melupakan teriakan mereka yang tertindas maupun mereka yang miskin (9:13, 19).

Bukankah apa yang disaksikan pemazmur ini menjadi sebuah berita baik bagi kita? Di tengah kesesakan, kesengsaraan serta penindasan yang membelenggu kita, kita dapat bernafas lega dan merasa aman. Mengapa? Ada Pribadi yang dapat kita andalkan sebagai Pelindung dan Pembela kita. Pribadi itu bukanlah sosok yang biasa saja. Dialah TUHAN, Raja yang bertakhta untuk selama-lamanya dan yang menghakimi dengan adil (9:8-9, 17). Kelegaan ini hanya akan dialami oleh setiap orang yang mengenal nama-Nya, percaya kepada-Nya dan yang mencari Dia karena Allah tidak akan meninggalkan orang-orang yang demikian (9:11). Jika saat ini, Anda seakan-akan tercekik oleh berbagai tekanan dan himpitan, ingatlah bahwa Allah lebih kuat dari musuh terkuat manapun . Ia adalah tempat perlindungan bagi orang ya




December 16, 2019, 06:15:09 AM
Reply #2119
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kasih yang Mempersatukan
Posted on Minggu, 15 Desember, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Efesus 2:11-22

Kedatangan Kristus ke dalam dunia menjadi sebuah berita sukacita bagi seluruh dunia. Kristus datang memberitakan damai sejahtera bagi mereka yang dekat (Mzm. 148:14), yaitu bangsa Israel; dan juga bagi mereka yang jauh, yakni yang bukan berasal dari keturunan Israel. Sangat disayangkan, bangsa Israel yang memiliki Kitab Perjanjian Lama justru menolak Kristus sebagai Mesias yang dijanjikan Allah untuk menyelamatkan dunia. Bagaimanapun, kedatangan Kristus ke dunia ini telah merobohkan tembok pemisah, yaitu perseteruan antara yang dekat dan jauh, lalu mempersatukannya melalui kematian-Nya di kayu salib sehingga keduanya dapat hidup dalam kesatuan damai sejahtera.

Paulus menjelaskan ada tiga hal yang dilakukan Kristus di kayu salib, antara lain:

Pertama, membatalkan hukum taurat (15);

kedua, menciptakan satu umat yang baru (15); dan

ketiga mendamaikan orang Yahudi dan non Yahudi sehingga mereka menjadi umat kepunyaan Allah. Umat yang telah didamaikan Kristus adalah anggota Kerajaan Allah dan kawan sekerja Allah (19).

Paulus menekankan pentingnya kesatuan tubuh Kristus. Meskipun ada perbedaan, namun tetap ada kerendahan hati untuk menjaga kesatuan tubuh Kristus agar tidak terpecah belah. Gereja seharusnya saling menghargai perbedaan dan melihat perbedaan itu sebagai keragaman yang memperkaya, bahkan kekuatan untuk saling melengkapi. Perbedaan bukan untuk saling merendahkan dan menghancurkan satu sama lain sehingga kesaksian menjadi rusak. Gereja dipanggil sebagai alat Tuhan untuk menyaksikan kasih Kristus dalam kesatuan umat di tengah dunia yang terpecah ini. Keharmonisan seharusnya dapat ditemukan dengan mudah di gereja-Nya.

Dengan memaknai kedatangan Kristus ke dalam dunia ini, gereja dipanggil untuk saling mengasihi, menghormati, dan melayani agar damai sejahtera Kristus selalu ada di tengah kehidupan kita.

Doa: Tuhan, tolong kami menjaga keutuhan dan kesatuan tubuh Kristus. [GS]







Ketika Allah Terasa Jauh
Posted on Minggu, 15 Desember, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 10

Apa yang biasanya kita lakukan saat kita menjumpai kenyataan bahwa pelanggaran/kejahatan tetap tidak bisa ditindak sekalipun sudah diperhadapkan dengan hukum? Mungkin, kita akan mulai mempertanyakan pihak yang berwenang, bahkan mempertanyakan otoritas dari hukum yang berlaku. Hal semacam inilah yang sempat dipertanyakan oleh Daud kepada Allah, “Mengapa Engkau berdiri jauhjauh dan menyembunyikan diri-Mu pada waktu-waktu kesesakan?” (10:1). Keluhan Daud didasarkan atas kenyataan yang dialaminya. Ia menjumpai orang fasik yang seakan-akan menari-nari di atas kenyataan bahwa ada Allah yang menghakimi dunia. Orang fasik ini digambarkan sebagai orang yang congkak dan penuh tipu daya (10:2). Mereka sombong dan berani menista Tuhan (10:3). Mereka berpikir bahwa mereka aman dari penghakiman Allah (10:4, 6, 11). Tindakan-tindakan mereka selalu berhasil (10:5). Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, tipu dan kelaliman (10:7). Mereka menindas orang yang lemah dan orang yang tidak bersalah untuk kepentingan mereka sendiri (10:8-10).

Umumnya, orang bisa menjadi bersikap skeptis (ragu-ragu, kurang percaya) terhadap penegakan hukum saat melihat kejahatan dan penderitaan yang terjadi di sekitarnya. Bahkan, skeptisisme ini dapat membuat orang mempertanyakan keberadaan Allah. Argumennya: Allah yang baik dan mahakuasa tidak mungkin membiarkan kejahatan terjadi. Oleh karena itu, adanya kejahatan menunjukkan bahwa Allah yang baik dan mahakuasa itu tidak ada. Akan tetapi, Daud tidak bersikap seperti itu. Sekalipun Daud merasa bahwa Allah itu jauh (10:1), Daud tetap berseru kepada Allah agar Allah menghajar orang-orang yang berbuat kejahatan (10:15). Ia percaya bahwa Allah melihat —termasuk melihat kesusahan dan sakit hati—dan akan bertindak adil (10:14a). Allah tidak hanya melihat , tetapi Ia juga memasang telinga untuk mendengarkan serta menguatkan orang yang tertindas (10:17). Mengapa? Supaya keadilan dinyatakan dan setiap manusia menyadari keterbatasannya dan kedudukannya yang sebenarnya di hadapan Allah (10:18).

Sering kali mudah bagi kita untuk menuduh Allah meninggalkan atau menyembunyikan wajah-Nya dari ketidakadilan yang terjadi di dunia ini. Akan tetapi, percayalah bahwa sesungguhnya Allah melihat , mendengar , dan akan mengulurkan tangan Nya.  [GI Michele Turalaki]




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)