Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 155221 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 19, 2021, 06:43:22 AM
Reply #3610
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28115
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
-----------------------------------------------

Ini nilai yang tidak bisa dicapai oleh sebagian besar orang. Bagaimana menjadi seorang yang takut akan Allah, yang dalam segala hal menjaga perasaan Allah, hidup berkenan bagi Allah, dan ini tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. Hendaknya kita menjadikan ini sebagai agenda satu-satunya dalam menjalani hidup. Untuk itu, kita hayati kehadiran Allah sampai kita tidak perlu lagi konsentrasi dalam menghayati kehadiran-Nya karena kita sudah dengan sendirinya bisa menghayati kehadiran Allah tersebut. Tidak usah konsentrasi, karena hal menghayati kehadiran Allah sudah merupakan hal biasa, dan dalam segala hal yang kita lakukan, kita selalu mempertimbangkan perasaan Allah. Secara otomatis kita bisa melakukan itu.

Kalau kita bisa hidup dengan cara demikian—yang disebut dengan hidup di hadirat Allah—nama kita pasti dikenal oleh Allah. Tapi bukan hanya diri kita. Anak cucu kita pun akan diingat dan dikenal oleh Allah. Dalam menghadapi dunia yang semakin sulit, semakin sukar, tidak menjanjikan ini, Tuhan tetap akan memprotek kita. Artinya, kesulitan yang kita alami pun menjadi cara Allah mempersiapkan kita untuk masuk ke Kerajaan Surga. Dan puji Tuhan, bukan hanya kita yang dipersiapkan untuk masuk langit baru bumi baru menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, tinggal di istana Tuhan Yesus, dan menikmati kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus, melainkan juga orang-orang yang kita kasihi. Tentu pasangan hidup, anak, cucu, menantu, juga sahabat-sahabat kita yang bersama-sama dengan kita melayani pekerjaan Tuhan.

Orang-orang yang mencintai Suara Kebenaran, yang bersama-sama bertumbuh, berkemas-kemas untuk menyongsong langit baru bumi baru adalah orang-orang yang menjadi masyarakat surgawi yang suatu hari akan bersama-sama dalam Kerajaan Surga. Dunia kita tidak menjanjikan. Kita tidak bisa optimis terhadap dunia. Dunia ini sudah begitu rusak, begitu tidak ideal untuk dihuni. Tetapi puji Tuhan, kita memiliki langit baru bumi baru. Kita optimis menyongsong langit baru bumi baru. Kita tidak optimis menyongsong yang lain. Optimisme kita hanya pada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Dalam menyongsong kehidupan ke depan yang buruk, makin berat, makin sulit–baik yang kita alami, maupun yang dihadapi oleh anak cucu dan orang-orang yang kita kasihi—kita percaya pemeliharaan, perlindungan Tuhan atas kita semua.

Oleh sebab itu, kita harus mengandalkan Tuhan dan bergantung pada-Nya. Lebih dari itu, yang harus kita ketahui adalah bagaimana supaya kita bisa menjadi orang yang layak dilindungi Tuhan, orang yang layak mengandalkan Tuhan. Siapa orang yang layak dilindungi Tuhan dan orang yang layak mengandalkan Tuhan? Mereka yang hidupnya hanya menyenangkan hati Allah, tidak hidup dalam percintaan dunia, dan tidak hidup dalam dosa, merekalah orang-orang yang berharga di hadapan Allah di bumi ini sampai kekekalan.









January 20, 2021, 05:48:37 AM
Reply #3611
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28115
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/pertobatan-sejati/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/20-JANUARI-2021-Pertobatan-Sejati-1.mp3



Pertobatan Sejati
20 January 2021

Play Audio

Suatu hari nanti, ketika seseorang berada di ujung maut dimana ia tinggal memiliki sedikit lagi waktu untuk hidup—biasanya ada di ruang ICU atau ICCU dan dalam keadaan sekarat—barulah ia menghargai betapa berharganya hidup ini. Apalagi kita yang sudah mengenal sebagian kebenaran atau mengenal sedikit kebenaran atau mungkin banyak kebenaran, bahwa setiap kita harus berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita. Pada waktu itu, banyak orang sebenarnya tidak siap menghadap takhta pengadilan Kristus. Mereka mengandalkan apa yang mereka miliki selama masih ada di bumi atau selama masih sehat, sebelum ada di ujung maut. Mereka tidak sungguh-sungguh mencari perkenanan Tuhan, tidak pernah sungguh-sungguh memeriksakan diri di hadapan Tuhan, bagaimana penilaian Tuhan terhadap dirinya. Mereka tidak sungguh-sungguh mempersoalkan itu.

Mestinya kita membuat simulasi setiap hari seakan-akan kita ada di hadapan takhta pengadilan Kristus. Jika ada sesuatu yang tidak patut masih ada pada kita—seperti kebiasaan-kebiasaan yang tidak berkenan di hadapan Allah atau ada percintaan dunia—maka kita dapat segera menyelesaikannya. Jadi, waktu hidup yang diberikan Tuhan kepada kita menjadi kesempatan untuk berbenah guna mempersiapkan diri agar kelak ketika kita berhadapan dengan Tuhan, kita didapati benar-benar tidak bercacat dan tidak bercela. Tetapi sayang sekali, banyak orang menyia-nyiakan waktu yang Tuhan berikan. Fokus hidupnya ditujukan kepada banyak hal yang tidak terkait atau tidak berdampak positif untuk kehidupan rohaninya. Banyak orang yang tenggelam dengan kesenangan-kesenangan jiwa seperti yang dimiliki oleh anak-anak dunia—yaitu keinginan mata, apa yang orang lain miliki, ingin ia miliki, dan juga keangkuhan hidup mengingini sebuah kehormatan, pujian, dan sanjungan manusia. Ini satu hal yang biasa dilakukan oleh semua orang. Tetapi yang mestinya kita lakukan adalah bagaimana kita dengan sungguh-sungguh membenahi diri agar kita benar-benar didapati Tuhan tidak bercacat dan tidak bercela.

Sejatinya, fokus hidup kita hanya untuk hal ini saja, lebih dari segala fokus hidup lainnya—bahkan mestinya ini menjadi agenda kita satu-satunya. Ketika seseorang ada di ujung maut, biasanya orang baru sadar betapa berharganya 1 menit, 1 jam, 1 hari waktu hidupnya. Sebab untuk membenahi diri, seseorang membutuhkan waktu tertentu atau stadium tertentu. Masalahnya, ada orang-orang yang tidak sanggup lagi bukan saja membenahi diri untuk berkenan, melainkan juga untuk memercayai keberadaan Allah. Ia tidak sanggup percaya bahwa Allah itu ada, dan memang barangkali di ujung maut itu Allah juga sudah tidak menyertai dia karena selama hidupnya ia juga tidak menyertai Tuhan, tidak menyertai pekerjaan-Nya, tidak belajar kebenaran—yang dalam pembahasan ini kita istilahkan “tidak menyertai Tuhan.” Orang seperti ini hanya mau disertai Tuhan karena ia mau memanfaatkan Tuhan.

Tuhan Yesus berkata: “Kamu yang bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan, kepadamu aku tetapkan hak-hak bagi Kerajaan-Ku.” Artinya, orang seperti ini yang akan mendapat kemuliaan bersama Yesus, yaitu mereka yang setia. Banyak orang Kristen tidak setia, sama sekali tidak memikirkan perasaan Bapa di surga dan sama sekali tidak memikirkan apa penilaian Tuhan terhadap dirinya. Yang mereka persoalkan adalah bagaimana mereka dapat memiliki uang banyak, memiliki berbagai fasilitas yang juga dimiliki orang lain, menjadi terhormat di mata manusia, dan lebih konyol lagi kalau sampai mereka hidup di dalam dosa, hidup di dalam kejahatan, hidup di dalam pemuasan nafsu. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak takut Tuhan dan tidak menghormati Tuhan dengan pantas. Jangan berpikir kalau di ujung maut baru minta ampun, bertobat, lalu dibawa Tuhan ke surga. Mereka mau mengakal-akali Tuhan, mau menipu Tuhan.

--------------------------------------

---------------------------------------------------








January 20, 2021, 05:49:03 AM
Reply #3612
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28115
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


----------------------------------------------------

Tuhan tidak bisa ditipu! Kalau pada dasarnya seseorang memang tidak mengasihi dan tidak menghormati Tuhan—walaupun di ujung maut ia mengaku bertobat minta ampun—percuma, sebab sudah terlambat. Sejujurnya, ia pun bertobat minta ampun dengan hati yang tidak mengasihi Tuhan, hati yang tidak menghormati Tuhan. Pertobatannya di ujung maut itu hanya main-main, akal-akalan, dan tentu Tuhan tahu isi hati terdalam setiap insan. Tuhan tidak menerima pertobatan pura-pura seperti itu, karena pertobatan sejati atau pertobatan Kristiani yang benar adalah pembaharuan pikiran, bukan ucapan pengakuan dosa semata, lalu minta ampun dan diampuni, bukan itu! Dosa-dosa kita telah selesai dipikul di kayu salib, yang belum selesai adalah kodrat dosa kita. Dan untuk menyelesaikan kodrat dosa, kita harus mengalami pembaharuan pikiran.

Dari pembaharuan pikiran itulah maka kita memiliki gaya hidup, cara hidup yang berubah. Pembaharuan tersebut ada di dalam sikap hati kita, sikap batin kita, yang jika itu bertumbuh dengan baik, maka sikap hati kita menjadi benar di hadapan Tuhan. Tidak ada niat untuk berbuat dosa, takut dan hormat pada Allah secara patut, tidak terikat dengan dunia, tidak ada keinginan untuk dipuji, dihormati orang. Jadi, hati yang menghormati dan takut kepada Allah secara benar itu menjadi irama permanen yang dimiliki sehingga melahirkan kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, dan itu merupakan suatu bangunan hidup yang juga dapat digambarkan sebagai sebuah lukisan yang indah. Kalau di ujung maut seseorang baru minta ampun karena menyadari bahwa lukisan hidupnya buruk dan berharap dalam seketika dia bisa membuat lukisan hidupnya bagus, itu jelas suatu kebohongan. Oleh sebab itu, kita harus dari jauh-jauh hari berkemas-kemas, berbenah untuk menjadi seorang yang berkenan di hadapan Allah.








January 21, 2021, 02:37:03 PM
Reply #3613
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28115
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/proses/


http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/21-JANUARI-2021-Proses-1.mp3



Proses
21 January 2021

Play Audio

Satu hal yang harus kita mengerti, bahwa memahami kebenaran itu tidak bisa dalam waktu singkat, tidak bisa dipadatkan. Karena, kebenaran yang kita pahami itu bertahap. Ini paralel dengan ilmu pengetahuan yang lain seperti matematika, bahasa, dan berbagai bidang ilmu pengetahuan lainnya. Maka, proses merupakan prinsip penting di dalam kehidupan. Yesus sendiri—seperti yang kita baca dalam Alkitab—mengalami proses. Dalam Lukas 2:52 tertulis: “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Jadi, tidak bisa dalam sekejap seseorang itu menjadi dewasa, tidak dalam sekejap seseorang itu mengenal kebenaran; perlu sebuah proses.

Di sini dibutuhkan waktu. Tentu waktu tidak bisa kita ciptakan. itu anugerah, pemberian dari Tuhan, sebab kita tidak bisa menambah sehasta pun umur hidup kita. Jadi, Tuhan yang memberikan waktu. Dari pihak kita, ketekunan. Tekun untuk mendengarkan kebenaran Firman Tuhan. Di balik ketekunan tersebut kita juga harus memiliki kesediaan untuk melepaskan semua hal yang membuat kita tidak fokus akan kebenaran, terutama kesenangan-kesenangan hidup, kesenangan-kesenangan yang membuat kita tidak atau kurang menyukai kebenaran. Kalau jujur, semua manusia akan mengakui bahwa banyak kesenangan yang membuat kita jadi kurang atau tidak menyenangi Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kalau dikatakan “kurang” atau “tidak menyukai Tuhan” mungkin berlebihan, tetapi pada dasarnya begitu, kurang dan tidak menyukai kebenaran. Banyak orang Kristen yang tidak berpikir mengenai Kerajaan Surga, tidak pernah berpikir mengenai langit baru bumi baru, tidak pernah berpikir mengenai Rumah Bapa. Bahkan ketika mendengar kata “Rumah Bapa” juga sudah membuat mereka merinding, merasa takut.

Padahal, semestinya justru itu adalah hal yang menyenangkan, karena itu rumah kita. Dunia ini bukan rumah kita. Demikian pula dengan Kerajaan Surga, banyak orang yang tidak tertarik dengan Kerajaan Surga. Mendengar kalimat “langit baru bumi baru,” mereka jadi resistan, padahal mestinya tidak. Jika kita tidak tertarik dengan hal itu, sama juga kita tidak mengasihi Tuhan, tidak menghormati Tuhan. Kalau kita tidak merindukan langit baru bumi baru namun kita merasa mengasihi Tuhan, berarti kita ditipu oleh diri kita sendiri. Sama dengan orang yang tidak sungguh-sungguh merindukan kebenaran, berarti memang ia tidak menghormati Tuhan, dan tentu orang-orang seperti ini tidak mungkin setia kepada Tuhan.

Waktu yang Tuhan berikan adalah kesempatan untuk menghimpun, menumpuk, mengumpulkan kebenaran yang Tuhan sediakan bagi kita. Oleh sebab itu, waktu yang Tuhan berikan harus kita gunakan dengan sungguh-sungguh. Kalau perlu—dan semestinya—setiap hari kita memiliki jadwal untuk mendengarkan khotbah, membaca buku rohani. Kita tidak boleh berpikir atau tidak boleh membiasakan diri hanya pada waktu “mau atau senang dengar” saja, tapi jika sedang “tidak mau atau tidak senang dengar,” ya, tidak dengar. Tidak boleh begitu! Kita harus mendisiplin diri kita dengan menyediakan waktu secara khusus untuk mendengar khotbah; untuk belajar Firman Tuhan, harus kita alokasikan waktu untuk itu. Jadi bukan pada saat kita mau mendengar khotbah saja kita mendengarkannya, dan pada waktu kita tidak mau, kita tidak mendengarkan khotbah. Dalam berolahraga juga kita tidak boleh menggunakan dasar “mau atau tidak mau.” Kalau ada selera, baru kita olahraga; tidak ada selera, kita tidak olahraga. Ini pasti tidak membuat kita memiliki tubuh yang sehat secara baik. Olahraga juga harus kita alokasikan waktunya, dan itu dijadwalkan. Apalagi hal kebenaran Firman Tuhan yang menyangkut nasib kekal kita, tentu harus kita alokasikan. Jangan berpikir nanti kalau sudah longgar waktunya, kita baru belajar dengan sungguh-sungguh. Tidak boleh kita berprinsip seperti itu.

Tuhan Yesus berkata: “Kumpulkan harta di surga.” Kata “kumpulkan” menunjuk sebuah langkah bertahap, proses akumulasi. “Harta di surga” bisa diartikan sebagai proses pendewasaan; harta di surga juga berarti proses memahami kebenaran. Perhatikan ayat 21—setelah Yesus berkata kumpulkan harta di surga—Yesus berkata: “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Lalu Tuhan berkata di ayat berikutnya: “Mata adalah pelita tubuh. Kalau matamu baik, baiklah seluruh tubuhmu. Kalau matamu gelap, gelaplah seluruh hidupmu.” “Mata” dalam ayat ini berbicara mengenai pengertian. Pengertian kita tidak bisa dibangun dalam waktu 1 hari, tidak cukup dalam waktu 1 tahun. Sepanjang umur hidup kita ini adalah proses belajar untuk menyerap kebenaran sebanyak-banyaknya.

------------------------------------------------------







January 21, 2021, 02:37:30 PM
Reply #3614
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28115
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

----------------------------------------------------------------

Lagipula Firman Tuhan mengatakan: “manusia hidup bukan hanya dari roti, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Sebagaimana kita membutuhkan makanan fisik untuk jasmani kita, demikian pula kita membutuhkan Firman yang menghidupi kehidupan rohani kita, membentuk karakter kita, membentuk watak kita. Dan Firman itu yang menguduskan; sebab kebenaran itu menguduskan (Yoh. 17:17). Jadi Firman ini adalah kebenaran, dan Firman inilah yang menguduskan hidup kita. Pengudusan ini bukan pengudusan oleh darah Yesus. Dosa-dosa kita disucikan oleh darah Yesus. Akibat perbuatan dosa kita telah selesai oleh darah Yesus, tetapi kodrat dosa kita ini dibersihkan, diluruskan, diubahkan oleh kebenaran Firman, dan itu memerlukan proses panjang, seumur hidup kita.







January 22, 2021, 06:02:20 AM
Reply #3615
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28115
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/proses/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/21-JANUARI-2021-Proses-1.mp3


Proses
21 January 2021

Play Audio

Satu hal yang harus kita mengerti, bahwa memahami kebenaran itu tidak bisa dalam waktu singkat, tidak bisa dipadatkan. Karena, kebenaran yang kita pahami itu bertahap. Ini paralel dengan ilmu pengetahuan yang lain seperti matematika, bahasa, dan berbagai bidang ilmu pengetahuan lainnya. Maka, proses merupakan prinsip penting di dalam kehidupan. Yesus sendiri—seperti yang kita baca dalam Alkitab—mengalami proses. Dalam Lukas 2:52 tertulis: “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Jadi, tidak bisa dalam sekejap seseorang itu menjadi dewasa, tidak dalam sekejap seseorang itu mengenal kebenaran; perlu sebuah proses.

Di sini dibutuhkan waktu. Tentu waktu tidak bisa kita ciptakan. itu anugerah, pemberian dari Tuhan, sebab kita tidak bisa menambah sehasta pun umur hidup kita. Jadi, Tuhan yang memberikan waktu. Dari pihak kita, ketekunan. Tekun untuk mendengarkan kebenaran Firman Tuhan. Di balik ketekunan tersebut kita juga harus memiliki kesediaan untuk melepaskan semua hal yang membuat kita tidak fokus akan kebenaran, terutama kesenangan-kesenangan hidup, kesenangan-kesenangan yang membuat kita tidak atau kurang menyukai kebenaran. Kalau jujur, semua manusia akan mengakui bahwa banyak kesenangan yang membuat kita jadi kurang atau tidak menyenangi Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kalau dikatakan “kurang” atau “tidak menyukai Tuhan” mungkin berlebihan, tetapi pada dasarnya begitu, kurang dan tidak menyukai kebenaran. Banyak orang Kristen yang tidak berpikir mengenai Kerajaan Surga, tidak pernah berpikir mengenai langit baru bumi baru, tidak pernah berpikir mengenai Rumah Bapa. Bahkan ketika mendengar kata “Rumah Bapa” juga sudah membuat mereka merinding, merasa takut.

Padahal, semestinya justru itu adalah hal yang menyenangkan, karena itu rumah kita. Dunia ini bukan rumah kita. Demikian pula dengan Kerajaan Surga, banyak orang yang tidak tertarik dengan Kerajaan Surga. Mendengar kalimat “langit baru bumi baru,” mereka jadi resistan, padahal mestinya tidak. Jika kita tidak tertarik dengan hal itu, sama juga kita tidak mengasihi Tuhan, tidak menghormati Tuhan. Kalau kita tidak merindukan langit baru bumi baru namun kita merasa mengasihi Tuhan, berarti kita ditipu oleh diri kita sendiri. Sama dengan orang yang tidak sungguh-sungguh merindukan kebenaran, berarti memang ia tidak menghormati Tuhan, dan tentu orang-orang seperti ini tidak mungkin setia kepada Tuhan.

Waktu yang Tuhan berikan adalah kesempatan untuk menghimpun, menumpuk, mengumpulkan kebenaran yang Tuhan sediakan bagi kita. Oleh sebab itu, waktu yang Tuhan berikan harus kita gunakan dengan sungguh-sungguh. Kalau perlu—dan semestinya—setiap hari kita memiliki jadwal untuk mendengarkan khotbah, membaca buku rohani. Kita tidak boleh berpikir atau tidak boleh membiasakan diri hanya pada waktu “mau atau senang dengar” saja, tapi jika sedang “tidak mau atau tidak senang dengar,” ya, tidak dengar. Tidak boleh begitu! Kita harus mendisiplin diri kita dengan menyediakan waktu secara khusus untuk mendengar khotbah; untuk belajar Firman Tuhan, harus kita alokasikan waktu untuk itu. Jadi bukan pada saat kita mau mendengar khotbah saja kita mendengarkannya, dan pada waktu kita tidak mau, kita tidak mendengarkan khotbah. Dalam berolahraga juga kita tidak boleh menggunakan dasar “mau atau tidak mau.” Kalau ada selera, baru kita olahraga; tidak ada selera, kita tidak olahraga. Ini pasti tidak membuat kita memiliki tubuh yang sehat secara baik. Olahraga juga harus kita alokasikan waktunya, dan itu dijadwalkan. Apalagi hal kebenaran Firman Tuhan yang menyangkut nasib kekal kita, tentu harus kita alokasikan. Jangan berpikir nanti kalau sudah longgar waktunya, kita baru belajar dengan sungguh-sungguh. Tidak boleh kita berprinsip seperti itu.

Tuhan Yesus berkata: “Kumpulkan harta di surga.” Kata “kumpulkan” menunjuk sebuah langkah bertahap, proses akumulasi. “Harta di surga” bisa diartikan sebagai proses pendewasaan; harta di surga juga berarti proses memahami kebenaran. Perhatikan ayat 21—setelah Yesus berkata kumpulkan harta di surga—Yesus berkata: “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Lalu Tuhan berkata di ayat berikutnya: “Mata adalah pelita tubuh. Kalau matamu baik, baiklah seluruh tubuhmu. Kalau matamu gelap, gelaplah seluruh hidupmu.” “Mata” dalam ayat ini berbicara mengenai pengertian. Pengertian kita tidak bisa dibangun dalam waktu 1 hari, tidak cukup dalam waktu 1 tahun. Sepanjang umur hidup kita ini adalah proses belajar untuk menyerap kebenaran sebanyak-banyaknya.

----------------------------------------------








January 22, 2021, 06:02:51 AM
Reply #3616
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28115
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


---------------------------------------------------------------

Lagipula Firman Tuhan mengatakan: “manusia hidup bukan hanya dari roti, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Sebagaimana kita membutuhkan makanan fisik untuk jasmani kita, demikian pula kita membutuhkan Firman yang menghidupi kehidupan rohani kita, membentuk karakter kita, membentuk watak kita. Dan Firman itu yang menguduskan; sebab kebenaran itu menguduskan (Yoh. 17:17). Jadi Firman ini adalah kebenaran, dan Firman inilah yang menguduskan hidup kita. Pengudusan ini bukan pengudusan oleh darah Yesus. Dosa-dosa kita disucikan oleh darah Yesus. Akibat perbuatan dosa kita telah selesai oleh darah Yesus, tetapi kodrat dosa kita ini dibersihkan, diluruskan, diubahkan oleh kebenaran Firman, dan itu memerlukan proses panjang, seumur hidup kita.








 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)