Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 121416 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

September 13, 2019, 06:33:34 AM
Reply #2750
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

<===

Manusia yang diciptakan ini diharapkan dapat menampilkan suatu kehidupan yang bersekutu dengan Bapa, taat, menghormati, memuliakan Allah, dan meninggikan Allah Bapa, serta mengabdi dan melayani-Nya secara pantas. Manusia harus menampilkan diri sebagai makhluk ciptaan yang berlaku benar sebagai ciptaan; diciptakan hanya untuk mengabdi dan melayani Penciptanya. Hal tersebut dapat menjadi bukti terhadap kesalahan Lusifer sehingga ia bisa dihukum. Inilah rule of the game-nya. Kalau ada pertanyaan: mengapa bukan malaikat lain yang tidak jatuh yang membuktikan kesalahan Lusifer, mengapa harus manusia sehingga Allah harus menciptakan makhluk ini? Jawabnya adalah bahwa Lusifer bukanlah malaikat, tetapi anak Allah yang diciptakan secara khusus untuk tugas-tugas istimewa seperti yang telah dijelaskan pada bab terdahulu (penjelasan secara lengkap dapat ditemukan dalam buku LUSIFER karya penulis). Iblis bukan hanya berbentuk roh yang melayani. Iblis memiliki keberadaan yang istimewa yang juga bisa berbentuk fisik. Itulah sebabnya Allah harus menciptakan anak-anak-Nya yang lain,yang memiliki keberadaan serupa (Yeh. 28:12-19).Ini merupakan tatanan Allah.


September 14, 2019, 05:13:42 AM
Reply #2751
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan

14 September 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/09/14-SEPTEMBER-2019-TATANAN-ALLAH-DALAM-PENCIPTAAN-MANUSIA.mp3


Ternyata Allah menciptakan manusia bukan sekadar ingin memiliki makhluk yang segambar dengan diri-Nya, ditempatkan dalam sebuah taman untuk mengelolanya. Tentu tidak sesederhana itu. Ada rancangan atau agenda yang lebih besar dari hal tersebut. Ternyata manusia diciptakan untuk menggenapi rencana Bapa, yaitu mengalahkan Iblis dengan membuktikan bahwa ia bersalah (sebagai corpus delicti). Itulah sebabnya bahan dasar yang dimiliki manusia pada hakikatnya adalah dari dalam Allah sendiri, yaitu melalui hembusan nafas-Nya. Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan diri-Nya sendiri. Sangat luar biasa. Hal itu dilakukan Bapa agar manusia bisa mengalahkan Lusifer yang jatuh tersebut. Disini manusia menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk mengakhiri sepak terjang Lusifer.

Mandat untuk menaklukkan Lusifer jelas sekali tersirat pada mandat yang diberikan kepada manusia yang tertulis dalam Kejadian 1:28, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Dari penjelasan diatas ini, yang penting yang hendak dikemukakan adalah bahwa manusia harus menghadapi segala rintangan kehidupan. Bukan hanya yang material, tetapi juga yang non-material. Justru yang non-material inilah yang lebih berat, yaitu Lusifer dengan malaikat-malaikat yang jatuh (Yes. 14:12: Yeh. 28:18). Di bumi ini manusiaharus bisa mengalahkan atau menaklukkannya.

Dalam perjalanan sejarah kehidupan, ternyata manusia gagal memenangkan pergumulan melawan Lusifer. Manusia malah mengikuti jejak atau jalan Lusifer, manusia juga ingin menjadi seperti Allah. Ada sebagian jejak Iblis yang ditularkan kepada manusia (Kej. 3). Hal inilah yang membuat manusia tidak bisa lagi mencapai kesucian Allah. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Manusia pertama gagal menggenapi rencana Allah.

Untuk membuktikan kesalahanLusifer agar ia pantas dihukum, harus ada mahkluk yang diciptakan oleh Allah yang memiliki segambaran dengan Allah yang bisa hidup dalam persekutuan dengan Allah. Mahkluk yang diciptakan untuk membuktikan kesalahan Lusifer yang jatuh tersebut adalah manusia. Dengan demikian,sejatinya Adam di taman Eden bukan hanya dididik untuk bisa taat, tetapi bisa mencapai suatu persekutuan yang ideal dengan Allah untuk membuktikan bahwa Lusifer bersalah dan pantas dihukum.

Kegagalan manusia pertama menyisakan persoalan, siapakah yang dapat mengalahkan Iblis atau membuktikan bahwa Iblis bersalah dan pantas untuk dihukum? Tidak ada jalan lain, kecuali Anak Tunggal yang bersama-sama dengan Bapa. Anak Tunggal Bapa harus turun ke bumi menjadi manusia (Adam terakhir), di mana dalam segala halnya Ia disamakan dengan manusia (Ibr. 2:17). Allah Anak menjadi manusia untuk membuktikan bahwa ada pribadi yang bisa taat tanpa syarat kepada Bapa dan mengabdi sepenuhnya (Flp. 2:5-11; Yoh. 4:34). Hal ini akan membuktikan bahwa tindakan Iblis salah dan patut dihukum.

Sampai titik tertentu, ternyata Adam tidak bisa mencapai kesucian dan kebenaran yang Allah kehendaki, maka terpaksa ia harus diusir dari Eden. Adam telah meleset (Rm. 3:23). Seharusnya Adamlah yang harus membuktikan bahwa Iblis bersalah, tetapi Adam gagal. Tidak pernah kita tahu berapa lama jarak antara penciptaan manusia dan pemberian peringatan untuk tidak makan buah yang dilarang Allah dengan saat Adam dan Hawa makan buah yang dilarang tersebut. Buah pengetahuan yang baik dan jahat bukanlah buah yang dikonsumsi untuk fisik, tetapi jiwa atau pikiran. Buah ini figuratif atau menunjuk pengaruh jahat Lusifer. Manusia diperhadapkan pada pilihan, apakah berpikir seperti Allah berpikir sehingga menjadi seperti Bapa, atau memiliki pengertian (understanding) yang sama dengan Lusifer.

===>

September 14, 2019, 05:14:10 AM
Reply #2752
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

<===

Ternyata Adam ditempatkan di suatu tempat, di mana ia harus berhadapan dengan Iblis, ular tua. Manusia harus menentukan nasib dirinya dan keadaan semua keturunannya, bahkan nasib bumi ini. Di taman itu manusia harus mengemban tugas besar dari Bapa. Tugas besar itu adalah membuktikan bahwa Iblis bersalah dan patut dihukum. Dengan cara bagaimana manusia membuktikan bahwa Iblis bersalah kepada Bapa dan patut dihukum? Dengan pembuktian dalam bentuk cara hidup Adam yang menaati Bapa dan menghormati Bapa sepantasnya, itulah yang sama dengan memuliakan Bapa. Dengan kehidupan Adam yang benar, maka terbukti bahwa yang pernah dilakukan oleh Iblis salah. Dengan demikian, sebenarnya Eden adalah taman perjuangan, di mana manusia harus bergumul melawan kuasa jahat.

September 15, 2019, 04:45:39 AM
Reply #2753
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Membayar Utang
15 September 2019

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/09/15-SEPTEMBER-2019-MEMBAYAR-UTANG.mp3

Ada tatanan sebagai orang percaya, yaitu membayar utang. Paulus menyatakan: Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Rm. 8:12-14). Jelas sekali bahwa orang percaya adalah orang berutang. Dalam hal ini tidak ada sesuatu yang gratis sama sekali dalam kehidupan ini. Keselamatan adalah gratis, artinya penebusan berikut kuasa (exousia) atau sarana untuk dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula diberikan cuma-cuma. Kita memperolehnya tanpa terlebih dahulu berbuat baik atau melakukan jasa apa pun.

Tetapi dalam menjalani atau mengerjakan keselamatan tersebut, kita harus berjuang (Flp. 2:12-13). Bukan sesuatu yang gratis, artinya tidak dapat terjadi atau berlangsung dengan sendirinya. Dengan demikian orang yang mengaku Yesus sebagai Juruselamat mengalami penebusan dan menerima kuasa atau sarana keselamatan. Oleh sebab itu orang percaya harus mengerjakan proses dikembalikannya ke rancangan semula atau mengerjakan keselamatannya. Hal ini sama seperti utang yang harus dibayar. Utang di sini bukanlah utang yang harus dibayar oleh Tuhan Yesus. Ini adalah utang yang harus kita sendiri yang membayarnya. Tentu dalam pimpinan ROH KUDUS.

Terkait dengan hal utang ini, kita harus menemukan dua jenis utang. Pertama, utang dosa yang hanya dapat dibayar oleh Tuhan Yesus di kayu salib; Tuhan Yesus membayar semua utang akibat perbuatan dosa manusia. Semua akibat dosa dipikul oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Pengorbanan Tuhan Yesus selain memikul dosa manusia juga menyediakan sarana keselamatan. Di sini orang percaya menerima penebusan. Itulah sebabnya orang yang mengakui korban Yesus di kayu salib harus menggunakan sarana tersebut untuk menanggulangi kodrat dosa di dalam dirinya. Hukuman dosa dipikul Tuhan Yesus di kayu salib, tetapi hukum atau kodrat dosa dalam diri seseorang harus digarap bersama, yaitu oleh masing-masing individu bersama dengan ROH KUDUS. Itulah sebabnya orang percaya harus hidup dalam pimpinan ROH KUDUS.

Dalam Roma 8:3, Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging. Dosa dilakukan dalam daging, maka daging juga yang harus memikul akibatnya. Tentu daging manusia, bukan daging binatang. Daging dan darah binatang hanya gambaran, simbol atau voucher dan tindakan propetis terhadap daging. Darah Anak Manusia, yaitu darah Tuhan Yesus, yang harus ditumpahkan sebagai solusi satu-satunya.

Utang yang kedua, utang kita yang telah menerima penebusan oleh darah Yesus Kristus. Kalau Tuhan Yesus telah membayar utang akibat dosa dan kesalahan kita, sekarang kita harus membayar utang untuk hidup sesuai dengan maksud pembayaran utang itu dilakukan oleh Yesus, yaitu agar kita hidup menurut roh. Hal ini sama dengan dikembalikan ke rancangan Allah semula. Banyak orang Kristen yang berpikir bahwa semua utang telah dibayar oleh Tuhan Yesus, sehingga orang percaya tidak perlu berbuat apa-apa lagi. Mereka merasa sudah selamat. Harus diperhatikan, kalau dikatakan bahwa kita adalah orang yang berutang, berarti kita harus berbuat sesuatu untuk membayar utang tersebut. Dalam teks aslinya kata utang adalah opheiletes (ὀφειλέτης). Kata opheiletes bisa berarti one who owes another, a debtor, one held by some obligation, bound by some duty (Orang yang berutang, seorang debitur, seorang yang memegang beberapa kewajiban, terikat oleh suatu tugas). Pada umumnya para penerjemah Alkitab menafsirkan sebagai a debtor (seorang yang berutang).

Ketika seseorang mendapat kesempatan untuk berbuat dosa, yaitu memuaskan daging atau keinginannya sendiri, pada waktu itulah ia berkesempatan untuk membayar utangnya. Kesempatan berbuat dosa, bukanlah kesempatan untuk memuaskan daging, tetapi kesempatan untuk membayar utang. Jadi, kepada orang yang dikasihi Tuhan, untuk dapat membayar utangnya, maka ia akan memiliki banyak kesempatan (diberi Tuhan kesempatan) berbuat banyak hal yang dapat memuaskan dagingnya atau melakukan apa yang menyenangkan hatinya dengan berbagai hal. Hendaknya ia tidak mengikuti kehendak sendiri tersebut, tetapi menuruti kehendak Allah atau hidup menurut roh. Itulah kesempatan untuk membayar utang dan menyukakan hati Tuhan.




September 17, 2019, 11:32:12 AM
Reply #2754
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Bukti Dan Buah Ketaatan
17 September 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/09/17-SEPTEMBER-2019-BUKTI-DAN-BUAH-KETAATAN.mp3

Allah adalah Allah yang berintegritas sempurna. Allah konsekuen dengan hukum keadilan yang ada pada diri-Nya yang juga merupakan hakikat-Nya. Ingatkah Saudara dengan pengusiran Adam dan Hawa dari Eden (Kej. 3:23)? Ini adalah bentuk atau bukti keagungan integritas Allah yang sangat sempurna. Ia harus “tega” mengusir Adam dan Hawa, anak-anak yang sangat dikasihi-Nya, demi keadilan yang harus digelar. Allah tidak akan “menjilat ludah sendiri”. Ia tegas berkata bahwa pada hari manusia makan buah itu pasti akan mati, maka Allah konsekuen dengan ketetapan-Nya tersebut. Karena kesalahannya, manusia “harus mati”. Hal ini juga diberlakukan Allah dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia, bahkan pada diri Tuhan Yesus sendiri, Anak Tunggal-Nya. Ketika Tuhan Yesus harus menebus dosa manusia, menggantikan tempat kita karena kesalahan kita, maka Bapa benar-benar meninggalkan Anak-Nya, sehingga Ia harus berseru, “eloi-eloi lama sabakhtani” (Mrk. 15:34). Sebenarnya kita yang seharusnya ditinggalkan oleh Bapa karena kejahatan dan pemberontakan kita, tetapi Anak Allah mengambil dan menggantikan tempat kita.

Demikian pula dengan hal kebangkitan Tuhan Yesus. Pasti dengan tegasnya Allah menetapkan, kalau seandainya Tuhan Yesus tidak taat sampai mati, maka Ia tidak akan pernah dibangkitkan. Apakah Bapa bisa tega? Tentu. Sebagaimana Bapa tidak menyayangkan Lusifer, pangeran-Nya dengan membuangnya ke bumi dan nantinya akan terbuang ke dalam kegelapan abadi, demikian pula Bapa pasti bertindak tegas pula kepada Anak Tunggal-Nya kalau Ia tidak taat. Haleluya, Anak Domba Allah telah menang. Kemenangan-Nya adalah kemenangan bagi Bapa dan semua manusia.

Kebangkitan Tuhan Yesus adalah bukti bahwa akan adanya kebangkitan bagi semua manusia untuk menjadi “orang hidup”. Kalau Tuhan Yesus gagal mengemban tugas kemesiasan-Nya, sehingga tidak ada kebangkitan, maka tidak akan ada “orang yang hidup”. Tidak terbayangkan apa jadinya jagat raya ini kalau tidak ada orang yang hidup, sebab Allah adalah Allah orang hidup, bukan Allah orang mati (Mat. 22:32; Mrk. 12:27; Luk. 20:38). Dalam hal ini kita mengerti mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia datang untuk memberi hidup dan Ia menyatakan bahwa Iblis adalah pembunuh. Dengan kebangkitan-Nya, Ia memberi pengharapan kepada semua orang yang percaya.

Kalau selama ini kita memahami mengenai darah Yesus yang berkuasa, dan salib sebagai puncak karya keselamatan dan kebangkitan Tuhan Yesus sebagai bukti kemenangan-Nya atas maut, kita terpaku pada “kuasa Allah yang luar biasa” yang membuat semua itu terjadi. Sebenarnya di balik semua karya Allah tersebut ada satu kata penting yang menjadi kuncinya. Kata itu adalah “ketaatan” Tuhan Yesus Kristus kepada Bapa. Iblis tidak takut darah Yesus sebelum Ia menaati Bapa sampai mati di kayu salib.Karena ketaatan-Nya kepada Bapa, maka darah Yesus bisa mengusir Iblis dari lingkungan para malaikat di surga (Why. 12:9-11). Salib tidak ada artinya kalau Tuhan Yesus tidak taat kepada Bapa, dan tidak akan ada kebangkitan tanpa kesalehan atau kesucian yang memenuhi standar Allah.

Ternyata hanya darah Anak Domba -yaitu darah Tuhan Yesus Kristus- yang bisa mengalahkannya (Why. 12:10-11). Demikian pula dengan pengampunan yang bisa diberikan kepada manusia, harus ada sarananya. Sarana satu-satunya agar manusia beroleh pengampunan adalah pengorbanan darah Anak Allah yang tidak bersalah, yang taat sampai mati di kayu salib. Jadi disini yang membuat Tuhan Yesus berhasil menyelesaikan tugas-Nya adalah ketaatan-Nya dan sikap hormat-Nya secara pantas kepada Bapa. Harus dipahami bahwa bukan karena Tuhan Yesus adalah Anak Allah, maka Bapa memberikan kemenangan dengan memberikan kemampuan-kemampuan ekstra. Dalam segala hal Ia disamakan dengan manusia (Ibr. 2:17). Jika tidak demikian, maka kemenangan Tuhan Yesus bukanlah kemenangan yang adil, tetapi kemenangan yang tidak adil. Ini berartipula Ia tidak bisa mengklaim bahwa kemenangan-Nya adalah kemenangan dari perjuangan-Nya sendiri. Alkitab menulis bahwa sekalipun Ia Allah Anak, tetapi Ia belajar taat kepada Bapa dari apa yang diderita-Nya (Ibr. 5:8-9). Dengan cara inilah maka Iblis bisa dikalahkan dan tidak mendapat tempat lagi di surga. Iblis bisa dinyatakan bersalah kalau ada pembuktiannya.

<===

<===


September 17, 2019, 11:36:45 AM
Reply #2755
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

===>

Dalam Ibrani 5:7 dikatakan bahwa dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Tuhan Yesus memohon kepada Bapa agar Ia dapat dihindarkan dari maut atau bisa dibangkitkan. Alkitab mencatat, karena kesalehan-Nya, maka doa-Nya didengar atau dikabulkan. Dikabulkannya doa Tuhan Yesus bukan karena Ia adalah Anak Allah (Ibr. 5:8-9), tetapi karena Ia saleh atau taat kepada Bapa di surga. Ini sebuah pertaruhan yang luar biasa. Kalau Tuhan Yesus tidak taat, maka Ia tidak akan dibangkitkan. Kalau Ia tidak dibangkitkan berarti Ia menjadi milik kerajaan kegelapan. Tetapi akhirnya setelah perjuangan-Nya, Tuhan Yesus menang. Kemenangan-Nya adalah juga kemenangan surga dan dunia. Kemenangan-Nya adalah keselamatan surga dan dunia, sebab dengan kemenangan-Nya segala kuasa di surga dan di bumi ada dalam tangan Tuhan Yesus.

Yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus adalah taat kepada Bapa untuk membuktikan bahwa Iblis patut dipersalahkan dan dihukum. Dengan hal ini manusia bisa ditebus dari kuasa dan hukum dosa. Dari kuasa dosa artinya manusia bisa dihindarkan dari neraka abadi, sedangkan hukum dosa adalah keadaan di mana manusia tidak bisa mencapai kesucian yang dikehendaki oleh Allah. Hal ini tidak ada dalam agama dan kepercayaan manapun. Harus ditegaskan bahwa Allah tidak bisa mengampuni tanpa sarana. Itulah sebabnya Allah belum bisa menyelesaikan dosa Adam di taman Eden ketika jatuh dalam dosa.


September 18, 2019, 04:21:19 AM
Reply #2756
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Tatanan Keadilan Allah
18 September 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/09/18-SEPTEMBER-2019-TATANAN-KEADILAN-ALLAH.mp3


Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, semua manusia tanpa perhitungan sama sekali pasti meluncur terbuang ke neraka, sebab memang semua manusia telah berbuat dosa. Karena dosa Adam, semua keturunannya telah berkeadaan berdosa; terjual di bawah kuasa dosa. Pemberontakan manusia harus dihukum. Keadilan Allah menuntut hukuman atas kesalahan yang dilakukan oleh manusia. Allah memang penuh kasih sayang, tetapi Ia tidak akan membiarkan orang berdosa atau orang bersalah tidak memikul hukuman akibat kesalahannya. Dalam hal ini Allah tidak akan dengan mudah memberi pengampunan. Allah adalah Pribadi Agung yang memiliki tatanan. Allah tidak dapat mengampuni manusia secara mudah tanpa tatanan. Kalau ada allah atau sesembahan mengampuni manusia dengan mudah -dengan dasar karena hanya berkehendak mengampuni- maka ia adalah allah yang tidak memiliki tatanan. Jika Allah yang benar berhakikat demikian, maka Ia tidak akan mengusir Adam dan Hawa dari Taman Eden. Tentu saja Allah pasti mengampuni Adam dan Hawa sehingga mereka tidak terusir dari Taman Eden.

Setiap pelanggaran harus dihukum. Kalau manusia hendak menerima pembebasan dari hukuman, harus ada pribadi atau sosok yang tidak bersalah (tidak berdosa) menggantikan tempat manusia tersebut. Padahal tidak ada manusia yang tidak berdosa. Itulah sebabnya Anak Tunggal Bapa yang harus turun ke bumi melakukan penyelamatan dengan memikul dosa manusia. Allah tidak bisa mengampuni tanpa sarana. Sarananya adalah seorang yang memikul dosa manusia. Anak Tunggal Bapa itulah satu-satunya sarananya. Dengan demikian, tanpa sarana darah Yesus semua manusia meluncur ke neraka tanpa hambatan sama sekali. Dengan demikian tidak ada keselamatan di luar Kristus (Kis. 4:12). Satu-satunya Pribadi yang memikul dosa manusia adalah Yesus.

Setiap pelanggaran atau dosa harus dihukum, hanya kematian Tuhan Yesus yang dapat memuaskan keadilan Allah. Karena daging manusia yang bersalah, maka hukuman juga harus dijatuhkan pada daging manusia. Tentu hanya manusia yang harus memikul dosa, bukan hewan atau makhluk lain. Manusia mana yg bisa menanggung atau memikul dosa itu, sebab semua manusia telah jatuh dalam dosa? Untuk itu Anak Tunggal Bapadiutus oleh Bapa menjadi manusia atau masuk ke dalam daging. Anak Tunggal Bapa dikandung oleh Maria bukan oleh karena hubungan biologis.

Yesus tidak mewarisi kodrat dosa seperti manusia. Yesus berkeadaan seperti Adam sebelum jatuh dalam dosa atau sebelum kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Yesus yang tidak berdosa inimenjadi pertaruhan, kalau Yesus bisa taat atau tidak seperti Adam yang memberontak, maka Ia bisa menggantikan semua manusia yg berdosa. Oleh karena satu orang (Adam) semua manusia yang lahir di bumi harus hidup dalam bayang-bayang maut dan dosa, maka oleh satu orang Adam terakhir (Yesus) manusia diberi kebebasan untuk menentukan keadaan kekalnya. Inilah keadilan Allah. Di dalam keadilan Allah ini nampak tatanan Allah yang agung dan mulia.

Setiap seorang anak manusia lahir, dia tidak mengerti kalau dirinya sudah di bawah bayang-bayang maut, di bawah kutuk dosa,atau di bawah hukum dosa. Didalam dirinya mengalir sinful nature atau kodrat dosa. Anak-anak manusia dilahirkan dalam keadaan tidak tahu kalau ia berkeadaan seperti itu. Sebenarnya,seandainya sebelum dilahirkan ia mengerti keadaan ini, belum tentu seseorang mau dilahirkan ke bumi. Sesungguhnya Yesus mati untuk semua orang yang lahir di bumi ini, tak terkecuali. Inilah bentuk keadilan Allah. Oleh satu orang semua manusia hidup di bawah bayang-bayang maut kekal, tetapi oleh seorang Penyelamat yang memikul dosa manusia maka ada pengharapan memperoleh kehidupan kekal.

Harus dipahami bahwa kalau Yesus mati untuk semua orang, bukan berarti secara otomatis semua orang masuk surga. Dengan adanya korban Kristus di kayu salib, maka penghakiman atau pengadilan dapat berlangsung atau dapat dilakukan atas semua manusia secara adil. Adil artinya setiap orang dihakimi menurut ukuran yang berbeda sesuai dengan porsi dan keadaan masing-masing. Dalam hal ini tidak semua orang dihakimi dengan ukuran yang sama. Jadi sangatlah keliru kalau ada yang berpandangan bahwa dengan pengorbanan Yesus menebus dosa manusia, maka ada manusia yang tidak perlu dihakimi, tetapi secara otomatis masuk surga. Semua orang -termasuk orang Kristen- harus menghadap takhta pengadilan Kristus.


September 19, 2019, 06:24:28 AM
Reply #2757
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Tatanan Mengenai Moral Allah
19 September 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/09/19-SEPTEMBER-2019-TATANAN-MENGENAI-MORAL-ALLAH.mp3

Allah adalah kudus, Allah menghendaki manusia yang dirancang segambar dan serupa dengan diri-Nya juga berkeadaan kudus seperti keberadaan-Nya. Dalam 1 Petrus 1:17, Firman Tuhan mengatakan: “kuduslah kamu sebab Aku kudus”. Tuhan menghendaki kesucian orang percaya berstandar kesucian-Nya. Bagaimanakah sebenarnya kesucian yang dikehendaki oleh Tuhan itu? Banyak orang Kristen yang tidak mengerti kesucian yang harus dikenakan dalam kehidupannya. Untuk memahami bagaimana mencapai kesucian Allah, terlebih dahulu kita memahami arti dosa bagi umat Perjanjian Lama, bangsa-bangsa lain, dan umat Perjanjian Baru. Bagi bangsa Israel, pada prinsipnya dosa berarti ketidaktaatan kepada hukum Taurat yang tertulis di atas loh batu dan perkamen (sejenis alat tulis). Dalam hal ini dosa bagi orang Yahudi ukurannya adalah hukum Taurat yang tertulis. Tidak melakukan hukum Taurat berarti berdosa di hadapan Allah.

Pemberontakan orang Yahudi terhadap Allah sering terjadi, khususnya ketika bangsa itu menyembah berbagai berhala atau allah lain seperti Asitoret, Baal, Dagon, Molok, Milkom, dan lain sebagainya. Ketika mereka menyembah kepada allah asing, maka secara bersamaan mereka melanggar hukum-hukum dalam Taurat. Pelanggaran terhadap hukum Taurat ini seperti seorang warga negara melanggar hukum yang diberlakukan di sebuah negara atau kerajaan. Jadi, pelanggaran terhadap hukum Taurat sama artinya dengan sikap atau tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Dalam Roma 2:23 dijelaskan bahwa orang-orang Yahudi telah melanggar hukum Taurat. Kata “melanggar” dalam teks asli bahasa Yunani menggunakan kata parabasis (παράβασις). Hukum Taurat telah ditetapkan untuk dipatuhi guna mengatur kehidupan bangsa Yahudi, tetapi orang-orang Yahudi tidak mematuhinya. Dengan demikian pelanggaran terhadap Taurat yang tertulis adalah dosa. Taurat di sini sebagai tolak ukur pengaturan Tuhan atas umat pilihan-Nya. Dalam hal ini hukum Taurat diberikan kepada bangsa Israel untuk menunjuk standar kebenaran moral mereka. Selain itu hukum Taurat menunjukkan bahwa manusia dalam ketidakberdayaan karena kodrat dosa tidak akan dapat melakukan hukum dengan sempurna.

Kalau bagi orang Yahudi, dosa berarti pelanggaran terhadap hukum Taurat, lalu bagaimana dengan orang non-Yahudi yang tidak memiliki hukum Taurat? Non Yahudi di sini adalah mereka yang bukan orang Israel yang hidup sebelum zaman anugerah atau orang-orang yang hidup di zaman anugerah tetapi yang tidak pernah mendengar Injil. Untuk menjawab persoalan ini Paulus mengemukakan kebenaran dalam Roma 2:12-16. Bagi orang non-Yahudi, dosa berarti pelanggaran terhadap hati nurani. Dalam teks tersebut disinggung oleh Paulus bahwa orang yang tidak memiliki hukum Taurat yang tertulis harafiah, mereka memiliki hukum di dalam hati mereka. Tuhan yang menuliskannya.

Bagi umat Perjanjian Baru, kata dosa yang paling sering atau paling banyak digunakan adalah “hamartia” (ἁμαρτία). Kata ini berarti suatu “keluncasan” atau meleset. Kata hamartia ini sebenarnya dari pengertian katanya sendiri berarti luncas, tidak kena sasaran, atau meleset. Sebenarnya kata itu sendiri secara etimologi (asal usul kata) tidak mengandung unsur atau makna “kejahatan”. Ibarat suatu target memanah atau menembak, bila tembakan tidak tepat mengenai pusat pusaran target berarti meleset. Inilah hamartia itu.

Bagi orang percaya dosa bukan hanya berarti melanggar hukum atau norma umum, tetapi dosa segala sesuatu yang tidak sesuai (menyimpang atau meleset) dari kehendak Allah; jadi tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Berkenaan dengan hal ini harus diingatkan bahwa ada moral yang diperuntukkan bagi orang percaya. Moral atau kesucian orang percaya berdasarkan ukuran “seperti Bapa” (Mat. 5:48). Ini berarti orang percaya dipanggil untuk memiliki moral seperti moral Allah Bapa. Hanya kalau seseorang bermoral seperti Bapa maka dapat disebut sebagai anak-anak Allah.

Setiap orang Kristen dituntut memiliki standar kesucian seperti Bapa atau sempurna. Jadi bila kehidupan kita belum seperti Yesus atau belum seperti yang Bapa kehendaki, itu berarti belum sesuai dengan kehendak-Nya. Selama masih belum seperti Bapa, maka itu berarti masih “luncas”. Dalam hal ini pengertian luncas atau hamartia bukanlah sebuah dosa yang “fatalistik”. Sekilas penjelasan ini membuat kesan seolah-olah meremehkan pengertian dosa, sebenarnya tidak. Dosa dunia telah ditanggulangi oleh Tuhan Yesus Kristus. Semua orang yang “menerima-Nya”, dimerdekakan dari kutuk dosa. Dimerdekakan dari kutuk dosa artinya kemerdekaan dari akibat dosa Adam. Tetapi keadaan orang percaya harus suci, artinya selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)