Author Topic: Setujukah hukuman mati di Indonesia?  (Read 2723 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

December 12, 2014, 12:26:22 PM
Reply #20
  • FK - Junior
  • **
  • Posts: 59
  • Denominasi: Denominasi ....
Nah masalahnya hukum kan harus jelas dan pasti. Jika KUHP sudah ditentukan, ada hukuman mati adalah hukuman maksimal, ya itu yang bisa diterapkan, kalau hukuman tertinggi adalah hukuman kurungan seumur hidup, maka itu pulalah yang diterapkan.

Masalah kemudian apakah ada yang tertangkap basah atau terbukti karena penyelidikan polisi, atau justru karena rekayasa penyidik, urusannya di pengadilan. Dan celakalah kalau kemudian karena ketidak mampuan membayar pengacara yang handal berakibat kepentingan terdakwa tidak terbela, sehingga jatuhlah hukuman mati, dan lebih celaka lagi jika kemudian terungkap bahwa kejadiannya karena rekayasa.

Jadi, yang harus kita perjuangkan adalah penghapusan hukuman mati atau sebaliknya justru di undang undangnya,  di KUHP, bukan pada terpidana matinya.
Hukuman mati setahu saya hanya diterapkan pada kasus extra ordinary crime kan kalau di Indonesia seperti terorisme dan narkoba, walaupun kl di Amrik sana pembunuhan berencana juga diancam hukuman mati.

Jika undang-undang/KUHP nya diubah sehingga bandar narkoba dan para teroris tidak diancam demikian, maka mau jadi apa negara kita dan generasi kedepan.

Jika kejadiannya adalah salah penghukuman maka penyidik, kejaksaan dan kehakimannya yg harus dibenahi agar profesional. Kalaupun sekarang belum profesional, ada baiknya hukum tersebut ditangguhkan saja dulu , Menurut saya sih.... demi keadilan.
December 12, 2014, 12:32:37 PM
Reply #21
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13019
Hukuman mati setahu saya hanya diterapkan pada kasus extra ordinary crime kan kalau di Indonesia seperti terorisme dan narkoba, walaupun kl di Amrik sana pembunuhan berencana juga diancam hukuman mati.

Jika undang-undang/KUHP nya diubah sehingga bandar narkoba dan para teroris tidak diancam demikian, maka mau jadi apa negara kita dan generasi kedepan.

Jika kejadiannya adalah salah penghukuman maka penyidik, kejaksaan dan kehakimannya yg harus dibenahi agar profesional. Kalaupun sekarang belum profesional, ada baiknya hukum tersebut ditangguhkan saja dulu , Menurut saya sih.... demi keadilan.

Maksud anda dengan ditangguhkan, itu bagaimana, bro?

Apakah seseorang yang sudah divonis mati ditangguhkan eksekusinya?
Kalau itu yang terjadi, maka sesungguhnya siterhukum mendapat hukuman ganda, kurungan dan mati, lebih kasihan lagi dong.

December 12, 2014, 12:33:32 PM
Reply #22
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 8052
  • Denominasi: Newbie Baru Belajar
Setau wa (cmiiw):
Negara Italia secara final menghapus hukuman mati tahun 1948.
Sidang Umum PBB dalam deklarasi universal HAM meletakkan dasar bagi penghapusan hukuman mati pada pasal 3 mengenai jaminan atas hak hidup.
Tahun 1966 Traktat PBB berdasarkan DUHAM 1948 menyatakan menuntut penghapusan hukuman mati atau hukuman mati dilaksanakan dalam kasus amat berat.
Tahun 2007, Sidang Umum PBB menyetujui resolusi untuk penghapusan hukuman mati.
(cmiiw): Saat ini dari 140 negara anggota PBB yg menandatangani moratorium penghapusan hukuman mati, di antaranya sebanyak 98 negara di dunia telah menghapus hukuman mati secara keseluruhan, 7 negara menghapus hukuman mati untuk kejahatan umum dan 35 negara lainnya melakukan moratorium terhadap eksekusi mati. Hanya 58 negara di dunia, termasuk Indonesia yang masih memberlakukan.


UUD 1945 pasal 28a Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.


Koordinator peneliti Imparsial, Gufron Mabruri, mencatat Jaksa Agung, berencana mengeksekusi 5 terpidana mati pada akhir tahun 2014 dan tahun depan 20 orang. Menurutnya kebijakan itu bertentangan dengan janji Jokowi-JK ketika kampanye Pemilu Presiden 2014 yaitu mendorong penegakan HAM dan reformasi hukum.
* Imparsial adalah sebuah LSM yang bergerak di bidang mengawasi dan menyelidiki pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia. Lembaga ini berbadan hukum Perkumpulan dengan akte pendirian nomor 10/ 25 Juni 2002 oleh notaris Rina Diani Moliza, SH.


« Last Edit: December 12, 2014, 12:39:39 PM by Seek d Truth »
Repentance and humility establish the soul. Charity and meekness strengthen it.
- Monk Evagrius
December 12, 2014, 12:36:56 PM
Reply #23
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6347
  • Mistery
  • Denominasi: Karismatik
Justru disitulah masalahnya, bro.
Bahkan sistem hukum secanggih di AS atau Eropa sekalipun, bisa terjadi salah hukum. Kalau terjadi salah hukum kurungan, bisa diperbaiki dan diberikan kompensasi. Nah kalau terjadi salah hukum mati, urusannya ya the end.

 :mad0261:

Bro Brc,

Problemnya kan ada 3.
1. Kategorisasi kjahatan yg layak dganjar hukuman mati
Misal, apakah mhina presiden layak kena hukuman mati?

2. Rasa kemanusiaan bagi terdakwa yg djatuhi hukuman mati
Misal, pembunuh berantai apakah layak di-mati-kan

3. Kekuatiran kecacatan sistem hukum shg ada orang-orang yg kena hukuman mati pdhl tidak sharusnya kena

Bro mau fokus ke yg mana?

Stiap problem beda pnanganannya.
Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati (Pkh 9:4)

https://manusia-biasa-saja.blogspot.com
December 12, 2014, 12:43:31 PM
Reply #24
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13019
Bro Brc,

Problemnya kan ada 3.
1. Kategorisasi kjahatan yg layak dganjar hukuman mati
Misal, apakah mhina presiden layak kena hukuman mati?

2. Rasa kemanusiaan bagi terdakwa yg djatuhi hukuman mati
Misal, pembunuh berantai apakah layak di-mati-kan

3. Kekuatiran kecacatan sistem hukum shg ada orang-orang yg kena hukuman mati pdhl tidak sharusnya kena

Bro mau fokus ke yg mana?

Stiap problem beda pnanganannya.

Lhoh, masalahnya kan justru ini
Kita harus menentukan :

Apakah hukuman mati masih diperlukan di Indonesia ?

Jika masih, maka barulah kita menentukan kejahatan apa saja yang layak diganjar hukuman mati.
Nah, dalam hal hukuman untuk kejahatan apa saja, maka itu berada diluar dari apa yang saya ingin ketahui.

;D
December 12, 2014, 12:44:24 PM
Reply #25
  • FK - Junior
  • **
  • Posts: 59
  • Denominasi: Denominasi ....
Maksud anda dengan ditangguhkan, itu bagaimana, bro?

Apakah seseorang yang sudah divonis mati ditangguhkan eksekusinya?
Kalau itu yang terjadi, maka sesungguhnya siterhukum mendapat hukuman ganda, kurungan dan mati, lebih kasihan lagi dong.
Iya, dikurung aja dulu, eksekusinya nanti2 aja. Daripada setelah divonis seminggu kemudian langsung eksekusi.
Justru kl masih belum dieksekusi kan masih bisa menempuh jalur hukum seperti peninjauan kembali (PK).
Tergantung lawyer-nya pinter2 cari celah hukum atau bukti2 baru. Ga tau juga yah, saya bukan orang hukum.
Saya pernah baca (lupa dimana) sepertinya KUHP yg baru masih disusun kan, menyempurnakan KUHP kita yg peninggalan zaman Belanda. Mungkin saja nanti jadinya hukuman mati dihapuskan sesuai keinginan anda.

Namun sebenarnya apa yg salah jika hukuman mati itu pantas bagi pelakunya?
December 12, 2014, 12:51:24 PM
Reply #26
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13019
Iya, dikurung aja dulu, eksekusinya nanti2 aja. Daripada setelah divonis seminggu kemudian langsung eksekusi.
Justru kl masih belum dieksekusi kan masih bisa menempuh jalur hukum seperti peninjauan kembali (PK).
Tergantung lawyer-nya pinter2 cari celah hukum atau bukti2 baru. Ga tau juga yah, saya bukan orang hukum.
Saya pernah baca (lupa dimana) sepertinya KUHP yg baru masih disusun kan, menyempurnakan KUHP kita yg peninggalan zaman Belanda. Mungkin saja nanti jadinya hukuman mati dihapuskan sesuai keinginan anda.

Namun sebenarnya apa yg salah jika hukuman mati itu pantas bagi pelakunya?

Ngga begitu maksudnya, bro. Yang saya sebutkan adalah sudah inkracht, maksudnya sudah tidak ada upaya hukum lain lagi, sudah punya ketetapan hukum.

Hukuman mati, adalah soal mencabut nyawa, bro.
Tentunya kita tidak bisa mencari pembenaran untuk melakukan hak Tuhan itu.
Walau secara manusiawi, saya justru bisa sangat memaklumi hukuman mati, contohnya bandar besar narkoba yang tidak kapok, pembunuh sadis berantai, teroris, tetapi tetap saja itu masih saya rasakan sebagai alasan pembenar saja untuk melakukan 'pembalasan'. Padahal kita mengenal Kasih dan Pengampunan kan?

Jadi, ya .... istilahnya galau, gitu deh... he he he

December 12, 2014, 12:52:52 PM
Reply #27
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 8052
  • Denominasi: Newbie Baru Belajar
Bro Brc,

Problemnya kan ada 3.
1. Kategorisasi kjahatan yg layak dganjar hukuman mati
Misal, apakah mhina presiden layak kena hukuman mati?

2. Rasa kemanusiaan bagi terdakwa yg djatuhi hukuman mati
Misal, pembunuh berantai apakah layak di-mati-kan

3. Kekuatiran kecacatan sistem hukum shg ada orang-orang yg kena hukuman mati pdhl tidak sharusnya kena

Bro mau fokus ke yg mana?

Stiap problem beda pnanganannya.
Maaf menyela...
IMO: Sedapat mungkin digunakan cara- cara penghukuman yang lain selain hukuman mati, karena di tengah- tengah 'culture of death' yang marak terjadi di dunia dewasa ini, perlu diteguhkan pentingnya makna hidup manusia, termasuk hidup para narapidana.
Paus mengatakan, di jaman ini, "Masyarakat modern mempunyai banyak cara untuk menekan tingkat kriminalitas dengan efektif dengan menyebabkan para narapidana menjadi tidak berbahaya, tanpa perlu menolak memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki diri."


Utk orang-orang kedagingan, yg cocok diterapkan adalah Taurat.
Paulus pernah mngatakan bhw hukum Taurat adalah baik jika dgunakan dg tepat, yaitu bagi para pembunuh, pencuri, dll.

Krn orang-orang itu tidak bisa bicara bahasa kasih, maka mreka akan mdengarkan bahasa Taurat.

Adanya ancaman hukuman mati bisa mngurangi intensi dari orang-orang daging utk mlakukan tindakan yg dapat djatuhi hukuman mati.
Andaikan mreka tetap mlanggar, maka risiko itu mrekalah yg timbulkan krn mreka tetap mlanggar skalipun sudah tau hukumannya mati.

Jd orang-orang Kristen tidak perlu mrasa bsalah/btanggung jawab ktika negara mhukum mati sso ssuai dengan ksalahannya.

Bagi mreka yg djatuhi hukuman mati, jangan protes hukumannya, biarkan saja hukumnya jalan, tetapi kita brusaha slamatkan jiwa orang itu mlalui Injil.

Itu mnurut saya...hehehe...
Allah menghendaki agar pertama-tama manusia mengenal adanya prinsip keadilan, di mana disebutkan dalam Perjanjian Lama, “mata ganti mata, gigi ganti gigi” (lih. Kel 21:24).
Namun Kristus menyempurnakan prinsip keadilan ini dengan hukum kasih seperti diajarkan oleh-Nya dalam Mat 5: 38-39.
Namun prinsip keadilan atau ‘mata ganti mata, gigi ganti gigi’ itu tetap perlu ada terlebih dahulu, sebelum hukum kasih dapat dilaksanakan; dalam hal ini, jika hukuman mati tidak diberlakukan kepada seseorang narapidana.
Sebab hukum kasih menekankan pentingnya penghormatan kepada martabat dan kehidupan manusia (karena Allah menghendaki agar kita mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri- Mat 22:39; Mrk 12:31), dan ini mengakibatkan dua implikasi:
1) sang narapidana harus tetap dihargai sebagai manusia, namun demikian ia tetap harus menerima konsekuensi dari segala perbuatannya dan agar ia menyadari kesalahannya
2) harus dibuat jaminan agar jangan sampai perbuatan narapidana tersebut terjadi lagi dan mengancam keselamatan orang yang lain.
Jika kedua hal ini tercapai sesungguhnya sudah dipenuhi prinsip keadilan, namun demikian tetap memberikan kesempatan kepada sang narapidana itu untuk bertobat dan kembali ke jalan Allah.

Dengan peradaban manusia di jaman ini, di mana sistem keadilan seharusnya semakin jelas diterapkan di dalam negara- negara yang berlandaskan hukum, maka dapat terjadi bahwa hal hukuman mati tidak lagi diperlukan.
Namun demikian, tentang hal ini, Firman Tuhan juga mengajarkan agar umat Katolik tunduk kepada keputusan pemerintah, sebagaimana diajarkan oleh Rasul Petrus:(cf. 1 Pet 2:13-14).
- Ingrid Listiati- katolisitas.org


Repentance and humility establish the soul. Charity and meekness strengthen it.
- Monk Evagrius
December 12, 2014, 12:54:22 PM
Reply #28
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2614
Presiden Jokowi menolak grasi 64 pidana mati kasus narkoba, 5 diantaranya akan segera dieksekusi.
Salut buat Pak Jokowi atas ketegasannya dalam mengambil keputusan penolakan tersebut.

Setujukah anda dengan penerapan hukuman mati di Indonesia?
Setuju.

Bagaimana jika terjadi kasus salah putusan? Seseorang dipidana mati untuk suatu tindakan yang ternyata tidak dilakukannya? Misalnya dituduh kasus pembunuhan dan ternyata kemudian tidak dilakukannya? Misalnya kasus Sengkon dan Karta atau seorang pemuda chinese Bekasi yang dituduh membunuh ayahnya sendiri kemudian terbukti dilakukan pegawainya?
Tanpa bermaksud apatis terhadap contoh-contoh kasus di atas, IMO, ini adalah konsekuensi yang tidak bisa dinolkan tapi bisa diminimalir. Harapan terbesar tentunya ada pada para penegak hukum (polisi, jaksa dan hakim) yang bersikap jujur, adil dan profesional dalam menjalankan tugas masing-masing plus hak pembelaan yang maksimal untuk terdakwa.

Btw, ane tidak tahu apakah ini terjadi juga di luar negeri tetapi AFAIK, aturan hukum untuk kasus-kasus "berbau" hukuman mati di indo, mulai dari pemeriksaan, penyelidikan, pengadilan, pembelaan, putusan akhir, penahanan sampai dengan pelaksanaan rata-rata memakan waktu yang lama sekali. Terutama sekali dari putusan akhir sampai pelaksaanan. Salah satu contoh adalah terpidana kasus Bom Bali 2002, yang divonis mati pada 2003 dan dieksekusi pada 2008. CMIIW.
December 12, 2014, 01:42:12 PM
Reply #29
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6347
  • Mistery
  • Denominasi: Karismatik
Lhoh, masalahnya kan justru ini
Kita harus menentukan :

Apakah hukuman mati masih diperlukan di Indonesia ?

Jika masih, maka barulah kita menentukan kejahatan apa saja yang layak diganjar hukuman mati.
Nah, dalam hal hukuman untuk kejahatan apa saja, maka itu berada diluar dari apa yang saya ingin ketahui.

;D

Perlu.
Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati (Pkh 9:4)

https://manusia-biasa-saja.blogspot.com
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)