Author Topic: Renungan Harian Air Hidup  (Read 202916 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

February 11, 2020, 06:35:49 AM
Reply #2280
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24726
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

Tuesday, February 11, 2020
RINDUKAN KEDIAMAN TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Februari 2020

Baca:  Mazmur 84:1-13

"Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!"  Mazmur 84:2

Ayat nas di atas merupakan suatu nyanyian yang berisikan tentang kerinduan orang untuk selalu dekat dengan Tuhan, berada di hadirat-Nya.  Pernyataan pemazmur ini menyiratkan keadaan hatinya yang terasa kosong dan hampa saat ia berada jauh dari Tuhan, sebab dunia dan segala isinya tidak bisa memberikan sukacita, kepuasan, kelegaan dan ketenangan sejati.  Adalah lebih baik satu hari di pelataran Tuhan dari pada seribu hari di tempat lain;  lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Tuhan dari pada diam di kemah-kemah orang fasik  (Mazmur 84:11).  Kerinduannya yang teramat besar kepada Tuhan itu pun diibaratkan seperti rusa yang merindukan sungai yang berair  (Mazmur 42:2).

     Banyak orang Kristen begitu bersemangat dan merasakan hadirat Tuhan pasca menghadiri acara-acara KKR, tapi hal itu tak bertahan lama, api kembali padam, jiwa kembali lelah dan tiada berdaya.  Mengapa?  Karena mereka tak lagi mau membangun kekariban dengan Tuhan, tak punya kerinduan untuk tinggal dekat Tuhan dan berada di pelataran-Nya.  Bangsa Israel pun mengalami hal yang sama, yaitu melangkah jauh dari hadirat Tuhan dan jalan-jalan-Nya.  Mereka lebih memilih mencintai dunia ini, sehingga diutuslah nabi Yeremia oleh Tuhan untuk menegor dan memperingatkan,  "Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. Tetapi mereka berkata: Kami tidak mau menempuhnya!"  (Yeremia 6:16).

     Kunci untuk hidup dipulihkan adalah senantiasa rindu dekat dengan Tuhan dan mengingini hadirat-Nya,  "...itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya."  (Mazmur 27: 4).  Bersekutu dengan Tuhan melalui jam-jam doa yang rutin dan menyediakan waktu untuk merenungkan firman-Nya secara teratur, serta melatih diri dalam hal ibadah, akan memberikan kelegaan bagi jiwa kita.  Oleh sebab itu,  "Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN."  (Ratapan 3:40).  Semakin kita menjauh dari pelataran Tuhan dan hadirat-Nya, semakin kita hidup dalam kesia-siaan.

"Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau."  Mazmur 84:5



February 12, 2020, 07:07:36 AM
Reply #2281
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24726
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

Wednesday, February 12, 2020
TIDAK MAU BEKERJA, JANGAN MAKAN!
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Februari 2020

Baca:  2 Tesalonika 3:1-15

"Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."  2 Tesalonika 3:10

Ada banyak orang Kristen beranggapan bahwa bekerja itu tidak penting, tidak rohani atau tidak Alkitabiah.  Mereka beranggapan bahwa bekerja menunjukkan ketidakpercayaan kita pada pemeliharaan Tuhan;  dengan bekerja berarti kita hidup mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri, bukan mengandalkan Tuhan.  Lalu mereka mengutip ayat ini:  "Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur."  (Mazmur 127:2).  Ini adalah pemahaman yang salah!

     Rasul Paulus sangat geram bila melihat ada orang-orang yang malas bekerja:  "...jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."  (ayat nas).  Bekerja adalah kehendak Tuhan!  Alkitab menunjukkan bahwa Bapa adalah pekerja utama, yang sibuk dengan penciptaan dunia  (Kejadian 1:1-15), Ia bekerja selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh.  Bapa adalah pribadi pertama yang melakukan pekerjaan di bumi, dan Kristus pun menegaskan,  "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga."  (Yohanes 5:17).  Orang yang bekerja berarti hidup seturut dengan kehendak Tuhan.  Namun bekerja yang bagaimana, ini yang penting!  "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya."  (Kolose 3:23-24).

     Bekerja sebagai bentuk pelayanan kepada Tuhan bila dilakukan secara totalitas, bukan bekerja seenaknya dan asal-asalan.  Orang percaya yang menyadari kebenaran ini pasti akan menjadi pekerja-pekerja berkualitas di mana pun ia ditempatkan.  "Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya. Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu."  (Amsal 10:4-5).  Berkat itu tidak langsung jatuh dari sorga!  Bagian Tuhan adalah memberkati, bagian kita adalah bekerja dengan sungguh-sungguh.

Ingin diberkati?  Milikilah kekuatan untuk menjadi kaya, yaitu segala yang dijumpai tanganmu, kerjakan itu sekuat tenaga  (Pengkhotbah 9:10).

Catatan:
"Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah."  (Roma 9:15-16).



February 15, 2020, 06:31:03 AM
Reply #2282
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24726
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

Saturday, February 15, 2020
BUKAN KANAK-KANAK, TAPI DEWASA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Februari 2020

Baca: Ibrani 5:11-14

"Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil."  Ibrani 5:13

Tidak lama lagi Kristus akan datang kembali ke dunia untuk yang kedua kalinya.  Pada kedatangan-Nya yang pertama Kristus datang sebagai bayi yang lahir melalui perawan Maria di Betlehem di tanah Yudea, tapi pada kedatangan-Nya yang kedua kelak Kristus akan datang sebagai pengantin laki-laki yang siap menjemput mempelai wanita-Nya.   'Mempelai wanita'  ini berbicara gereja Tuhan  (umat Tuhan)  yang dewasa rohaninya, bukan orang Kristen yang rohaninya masih kanak-kanak.

     Siapkah kita menyambut kedatangan Sang Mempelai laki-laki?  Mumpung masih ada waktu dan kesempatan, marilah kita pergunakan semaksimal mungkin untuk mengejar perkenanan Tuhan.  Kalau tidak, kita akan menjadi orang-orang Kristen yang tertinggal, sebab Kristus menghendaki anak-anak-Nya terus bertumbuh hingga mencapai kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak  (Efesus 4:23-24a).  Kerohanian yang tidak bertumbuh, atau tetap saja menjadi kanak-kanak, disebut pula kerdil rohani.  Di dalam Perjanjian Lama dinyatakan bahwa kerdil adalah salah satu jenis cacat rohani  (Imamat 21:18-20).  Kekerdilan rohani sangat menghambat kemajuan pekerjaan Tuhan.

     Banyak orang Kristen, yang sekalipun sudah mengikut Tuhan selama bertahu-tahun, tetap saja  'kerdil'  rohani, tak pernah bertumbuh sebagaimana yang Tuhan harapkan, sekalipun  "...ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok...dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras."  (Ibrani 5:12).  Tanda nyata orang yang kerdil rohani  (kanak-kanak rohani)  misalkan:  gampang sekali tersinggung, marah, bersungut-sungut, mengeluh, tidak mudah menerima nasihat atau teguran, selalu membenarkan diri sendiri, susah untuk taat.  Untuk bisa menjadi mempelai Kristus orang percaya harus bisa  "...meninggalkan sifat kanak-kanak itu."  (1 Korintus 13:11).

"Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia."  Wahyu 19:7



February 16, 2020, 01:30:35 PM
Reply #2283
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24726
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

Sunday, February 16, 2020
TELADAN HIDUP JEMAAT MULA-MULA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Februari 2020

Baca:  Kisah Para Rasul 2:41-47

"Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan."  Kisah 2:47b

Gereja mula-mula saat itu dimulai dari suatu tempat di Yerusalem.  Jemaat mula-mula berkumpul dan mengadakan persekutuan di Bait Tuhan.  Cara hidup jemaat mula-mula begitu luar biasa karena mereka menunjukkan kualitas hidup yang  'berbeda'  sekalipun berada di tengah situasi yang tidak baik dan penuh tekanan, sehingga keberadaan mereka benar-benar menjadi kesaksian:  "...mereka disukai semua orang."  (ayat nas).

     Mengapa mereka disukai semua orang?  Karena jemaat mula-mula menjadikan kasih sebagai pola hidup setiap hari.  Mereka senantiasa sehati sepikir dan sangat peka terhadap kebutuhan orang lain, dengan berprinsip:  "...segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing."  (Kisah 2:44-45).  Yang paling menonjol dari jemaat mula-mula adalah mereka hidup dalam persekutuan yang kuat dan memiliki rasa haus dan lapar akan Firman Tuhan.  Bila jemaat gereja mula-mula sangat peka terhadap kebutuhan orang lain, ini sangat kontradiktif bila dibandingkan dengan keadaan manusia di zaman sekarang yang cenderung bersikap egois, karena kasih kebanyakan orang sudah menjadi dingin.  Pola hidup jemaat gereja mula-mula ini seperti sebuah tamparan keras bagi jemaat masa kini, yang suka membangun kubu-kubu dan sengaja menutup mata terhadap saudara seiman yang membutuhkan.  Menyedihkan sekali bila orang Kristen tak punya kasih dalam wujud nyata.  Itu artinya mereka tak melakukan apa yang Tuhan perintahkan!

     Bagaimana orang percaya menjadi saksi-saksi Kristus di tengah dunia bila tak punya kasih?  Sebab orang lain menilai kita bukan dari apa yang kita ucapkan atau teori yang muluk-muluk tentang Alkitab, tapi dari apa yang telah kita perbuat bagi mereka.  Bagaimana kenyataannya?  Banyak orang Kristen yang enggan menabur kebaikan kepada sesamanya.  "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya."  (Amsal 3:27).  Ini adalah tantangan bagi gereja Tuhan untuk menjalankan perannya sebagai terang dunia!

Kita harus ingat bahwa  "... dari buahnya pohon itu dikenal."  Matius 12:33b



February 17, 2020, 03:48:49 PM
Reply #2284
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24726
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

Monday, February 17, 2020
BERMEGAHLAH KARENA TUHAN, BUKAN YANG LAIN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Februari 2020

Baca:  Galatia 6:11-18

"Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia."  Galatia 6:14

Harta kekayaan, jabatan, gelar atau popularitas adalah hal-hal yang seringkali menjadi alasan bagi orang untuk bermegah, karena dengan memiliki semuanya itu orang tak lagi dipandang remeh oleh sesamanya.  Sebaliknya, orang yang tak memiliki apa-apa, keberadaannya di tengah lingkungan dipandang sebelah mata atau tak dianggap.

     Bermegah artinya membangga-banggakan diri.  Orang percaya tak sepatutnya bermegah atau membangga-banggakan diri tentang hal-hal yang lahiriah atau materi.  Kepada jemaat di Galatia rasul Paulus menegaskan bahwa ia sekali-kali tidak mau bermegah selain di dalam Tuhan?  Kita bermegah di dalam Tuhan karena status kita sebagai ciptaan baru di dalam Kristus:  "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."  (2 Korintus 5:17).  Maka dari itu  "...bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya."  (Galatia 6:15).  Apakah kita benar-benar sudah mengalami kelahiran baru di dalam Kristus?  Harta kekayaan yang melimpah, memiliki seluruh dunia ini sekalipun, takkan berarti apa-bapa bila kita masih hidup sebagai  'manusia lama'.

     Kita patut bermegah di dalam Tuhan karena kita memenuhi standar atau patokan.  "Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah."  (Galatia 6:16).  Standar atau patokannya apa?  Keselamatan.  Dinyatakan bahwa jika kita mengaku dengan mulut bahwa Kristus adalah Tuhan dan percaya dalam hati, bahwa Bapa telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, kita akan diselamatkan  (Roma 10:9).  "Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan."  (Roma 10:10).  Melalui iman kepada Kristus kita diselamatkan.  Jadi keselamatan itu bukan karena usaha kita, melainkan karena kasih karunia dari Bapa semata.  Inilah yang seharusnya membuat orang percaya bangga dan bermegah!

"Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN..."  Mazmur 20:8



February 18, 2020, 12:07:12 PM
Reply #2285
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24726
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

Tuesday, February 18, 2020
TAK TAHU KAPAN WAKTUNYA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Februari 2020

Baca:  Pengkhotbah 9:1-12

"Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba."  Pengkhotbah 9:12a

Seberapa berhargakah waktu bagi Saudara?  Orang yang menghargai waktu pasti tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang datang kepadanya, mengisi waktu dengan hal-hal yang berguna/bermanfaat.  Salah satu contoh sederhana menyia-nyiakan waktu adalah suka sekali menunda-nunda untuk mengerjakan sesuatu, misal pekerjaan.
 
    Menunda-nunda pekerjaan  (procrastination)  merupakan masalah yang dimiliki oleh hampir semua orang.  Sesuatu yang seharusnya bisa dikerjakan pada hari ini sering kita tunda untuk esok hari:  "Ah besok saja, masih banyak kesempatan.", padahal tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi esok hari.  Kita tak tahu secara pasti apakah kita masih beroleh kesempatan untuk menikmati hari esok.  "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu."  (Amsal 27:1).  Semakin kita menunda-nunda waktu untuk mengerjakan sesuatu, semakin menumpuklah pekerjaan yang harus kita kerjakan, semakin malas pula kita untuk mengerjakannya.  Apa yang Tuhan percayakan kepada Saudara untuk dikerjakan?  Apabila Tuhan mengutus Saudara untuk turut ambil bagian dalam pelayanan, sekarang adalah waktunya, bukan besok.  Bila Tuhan mengutus Saudara untuk bersaksi dan memberitakan Injil kepada orang-orang lain, sekarang adalah waktunya, bukan besok.  "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran."  (2 Timotius 4:2).

     Jangan suka mengulur-ulur waktu lagi, siapa tahu di kemudian hari kita tidak punya kesempatan lagi.  Bila menyadari bahwa kerohanian kita masih kerdil, mengapa kita tidak segera berbenah diri dan membuat komitmen untuk lebih serius lagi mencari Tuhan?  Ini saatnya kita  'berlari'  dan mengejar ketertinggalan kita.  Bila saat ini kita hidup jauh dari Tuhan dan tenggelam dalam dosa, ini waktunya untuk segera bertobat.

"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman"  Ibrani 3:15



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)