Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 149426 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

August 07, 2020, 09:39:28 AM
Reply #3300
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26509
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


----------------------------------------------------------------------------------------------

Dalam Filipi 2:5-9 dikatakan bahwa Ia taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Inilah kelas manusia yang sempurna. Ibrani 5:7-9, Ia belajar taat dari apa yang diderita-Nya, walaupun Ia Anak Allah. Setelah mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan bagi orang yang taat kepada-Nya. Ia menjadi manusia yang sempurna. Inilah kesempurnaan yang Allah kehendaki untuk kita juga capai dan alami, supaya sama seperti Yesus mendapat pengakuan dari Bapa, “Ini anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan,” demikian juga pengakuan itu kita miliki.






August 08, 2020, 05:29:30 AM
Reply #3301
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26509
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/jangan-tinggalkan-dia/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/07/08-AGUSTUS-2020.mp3


Jangan Tinggalkan Dia
08 August 2020

Play Audio Version

Setelah Yesus dibaptis, Ia memilih murid-murid-Nya. Mereka adalah orang-orang biasa seperti kita, dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Mereka bukan orang-orang hebat atau memiliki keistimewaan. Mereka adalah rakyat jelata yang berpendidikan tidak tinggi, bukan kalangan bangsawan, melainkan hanya nelayan. Murid-murid Yesus pun pada mulanya mengikut Yesus hanya karena mau mengubah nasib. Mereka berharap Yesus menjadi Raja seperti Herodes dan mereka akan memeroleh bagian jabatan, harta, kemuliaan, dan sebagainya. Bisa dibayangkan, jadi apa orang-orang ini? Tetapi, Yesus dengan kesabaran dan hikmat-Nya, dan juga dengan kebesaran pribadi-Nya menuntun dan membimbing mereka. Kebenaran ini harus kita tangkap, bahwa tidak mudah bagi seseorang untuk mengalami perubahan. Sampai Yesus sudah bangkit saja, murid-murid-Nya masih menuntut kapan Israel dipulihkan, kapan mereka bisa melihat Yesus menjadi Raja dunia, raja versi mereka. Yesus berkata, “mengenai waktunya, kamu tidak perlu tahu,” bukan tidak ada. Ada, tapi tidak perlu tahu. “Jadi saksi-Ku dulu sampai ke ujung bumi,” baru nanti mereka akan melihat pemulihan segala sesuatu (Kis. 1:6-8).

Satu hal yang penting di sini adalah kita harus seperti murid-murid, tetap bersama Tuhan dalam keadaan apa pun. Hendaknya kita tidak memiliki agenda sendiri yang sampai membuat kita kehilangan kesempatan mengalami keselamatan, seperti Yudas yang menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga. Yudas tidak berbuat salah dalam satu hari. Firman Tuhan mengatakan bahwa memang dia suka mencuri uang perbendaharaan (Yoh. 12:6). Jadi, bukan hanya satu kali Yudas berbuat salah. Ini masalahnya. Karena kebiasaan mencuri ini, membuat Yudas terikat dengan uang atau harta, sampai ia menjual Gurunya.

Kalau Petrus menyangkal Yesus tapi akhirnya bisa bertobat, berbeda dengan Yudas. Yudas sudah terlalu terikat dengan kekayaan, sampai tidak bisa lagi diperbaiki. Sampai rusak total. Sampai tingkat namanya “menghujat ROH KUDUS.” Tentu ini prosesnya tidak terjadi dalam satu hari. Oleh sebab itu, kalau kita berbuat salah, kita tidak boleh menyimpan kesalahan itu. Kita harus segera membereskannya di hadapan Tuhan. Kalau kita tidak segera membereskannya di hadapan Tuhan, nanti akan menjadi akumulasi pemberontakan dan kebiasaan melakukan kesalahan yang lebih besar.  Yudas memulai dari mencuri uang kas yang dipercayakan Tuhan kepadanya, sampai dia berani menjual Yesus kepada imam-imam kepala. Jadi, dosa tidak terjadi dalam satu hari, dimana tiba-tiba orang melakukan kesalahan fatal. Tetapi melalui sebuah proses yang bertahap. Demikian pula dengan kesucian. Kesucian juga harus melalui proses yang bertahap, dari sederhana sampai kepada kesucian yang berstandar Allah, artinya ketepatan bertindak seperti Tuhan.

Yesus dalam kesabaran-Nya membimbing murid-murid-Nya yang sering berbuat salah. Walaupun motif hati murid-murid pada mulanya masih salah, Yesus membimbing mereka dalam kesabaran. Dalam hal ini yang penting, tetap dekat dengan Tuhan. Barangkali kita sedang kecewa terhadap gereja, pendeta, atau siapapun, tetapi hendaknya kita tidak melepaskana genggaman kita dari tangan Tuhan. Kita harus tetap dekat dengan tuhan. Jam doa setiap hari, harus tetap dilakukan. Kita mungkin kecewa, tidak bergereja karena satu dan lain hal, tapi kita bisa mencari khotbah lewat YouTube, membaca buku rohani, duduk diam di kaki Tuhan. Hendaknya kita tidak meninggalkan Tuhan. Tuhan pun tetap dengan sabar menuntun kita untuk mengalami proses perubahan. Tapi kalau kita mulai kecewa, tidak mau ke gereja lagi, lalu hari-hari hanya diisi dengan menonton film seri, bergaul dengan orang yang tidak takut akan Allah, dan melakukan segala hal yang tidak berguna menumbuhkan iman, maka kita bisa binasa.

Kalau Yudas sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya (Yoh. 12:6) sampai bisa menjual Guru dan Tuhannya; sebaliknya, dari hal-hal sederhana kita mengasihi Tuhan sampai kita menyerahkan nyawa kita untuk Tuhan. Bukan hanya rupiah kita, waktu kita yang dua sampai tiga jam, melainkan juga seluruh hidup kita tanpa batas untuk Tuhan. Firman Tuhan mengatakan “selagi Tuhan bisa ditemui”, Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk belajar. Selama Tuhan masih memberikan waktu untuk kita boleh belajar dari Tuhan, kita tetap setia bersama dengan Dia.

----------------------------------------------------------------------------






August 08, 2020, 05:29:55 AM
Reply #3302
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26509
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



--------------------------------------------------------------------------------------

Mungkin ada di antara kita yang selama ini kecewa terhadap Tuhan, karena ada orang yang kita cintai meninggal dunia, karena jatuh miskin, atau sakit yang tidak tersembuhkan, atau kita dipermalukan oleh suatu keadaan seperti gagal berkarier, studi, berumah tangga, dan Anda merasa seperti ‘dijahati’ oleh Allah. Harus dimengerti bahwa Allah tidak menjahati anak-anak-Nya. Ia adalah Allah yang baik. Ia mengizinkan kita mengalami semua itu untuk dibimbing ke surga.






August 09, 2020, 12:04:54 PM
Reply #3303
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26509
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/menjadi-terhormat-di-kekekalan/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/07/09-AGUSTUS-2020.mp3


Menjadi Terhormat di Kekekalan
09 August 2020

Play Audio Version

Allah itu Bapa kita. Di dalam Ibrani 12:5-7 disebutkan bahwa Bapa mendidik kita. Kalau bapak di dunia tahu bagaimana mendidik anak-anaknya dalam waktu pendek sesuai apa yang dianggapnya baik (Ibr. 12:9-10), Bapa di surga mendidik kita agar kita mengambil bagian di dalam kekudusan-Nya. Seperti seorang pelatih yang melatih seorang atlit lompat tinggi. Ia akan melatih atlit dengan melompat 1 meter, lalu naik ke 1,2 meter, bertambah lagi sampai 1,3 meter, dan seterusnya. Pasti Allah Bapa juga melakukan hal itu kepada kita. Tidak langsung kita dituntut untuk menjadi sempurna. Oleh sebab itu, latihan demi latihan yang Allah izinkan kita alami, harus kita perhatikan dengan serius. Kita percaya, bahwa Tuhan akan menolong ketika kita berkata, “Tuhan, aku mau memiliki kesabaran dan kekudusan seperti Engkau.” Tuhan berkata, “mari, Aku latih kamu.” Tapi masalahnya, ketika kita memberi diri dilatih oleh Tuhan, kita tidak boleh memiliki interest terhadap apa pun, kecuali kepada Tuhan. Interest kita kepada Tuhan bukan pada berkat-Nya, melainkan pada karakter-Nya. Banyak orang memiliki interest kepada Tuhan karena Ia baik. Baik-Nya diukur dengan apa? Kesuksesan dalam berkarier, studi, berkat jasmani.

Tuhan tidak bisa mendidik kita kalau kita masih gaduh dengan masalah pribadi, dengan cita-cita dan keinginan pribadi. Kita pasti pernah dengar ketika orang berkata “berdoa, maka Tuhan akan memberkati hidupmu. Berdoa, maka Tuhan akan membuat kamu sukses.” Semua diukur dengan nilai materi, uang, gelar, pangkat. Mestinya, kalau kita menjadi anak-anak Allah yang mau menyenangkan hati Bapa di surga, kita berkomitmen menjadi seseorang yang hanya melakukan apa yang Dia kehendaki dalam hidup kita. Pikiran kita harus menjadi bejana yang terbuka untuk diisi oleh pikiran-Nya, hati kita harus terbuka menjadi bejana yang diisi oleh perasaan-Nya. Bagaimana pikiran dan perasaan kita itu menampung apa yang Allah pikirkan dan rasakan? Tuhan pasti melatih kita.

Mungkin kita berkata, “itu mustahil.” Ya benar, tapi bagi Allah tidak ada yang mustahil. Yesus berkata, “kamu harus sempurna seperti Bapa,” maka berarti pasti kita bisa mencapainya. Kalau kita mengatakan “tidak mungkin,” berarti kita menganggap Tuhan Yesus berbohong. Dalam Alkitab kita menemukan, Paulus bisa berkata dalam Galatia 2:19-20, “hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Ini berarti kita bisa mengenakan hidup Kristus.

Bapa akan melatih kita agar kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Mengambil bagian dalam kekudusan-Nya itu sama seperti berkarakter seperti Dia, cerdas rohani seperti Bapa. Supaya segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kalau hal ini benar-benar kita alami, kita mengalami proses untuk mengenakan pikiran, perasaan Tuhan, memiliki kecerdasan rohani sehingga segala sesuatu yang kita putuskan, pilih, lakukan, selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Waktu kita pulang ke surga kita akan disambut sebagai anak dengan suara Bapa “Anak-Ku pulang,”. Begitulah kira-kira Bapa di surga menyambut kita. Itu adalah sebuah kehormatan. Kita harus merindukan untuk menjadi orang terhormat di kekekalan, bukan di mata manusia hari ini.

Kenyataan yang kita temui hari ini, tidak sajadi kalangan para politisi, di kalangan pendeta dan majelis pun terjadi kekisruhan, konflik, perebutan kedudukan. Dari kedudukan ketua majelis, ketua wilayah, sampai ketua sinode. Kalau seseorang sungguh-sungguh anak Allah, tidak akan melakukan hal tersebut. Mereka adalah orang-orang yang masih mencari hormat bagi dirinya sendiri dari manusia. Mereka menjadi orang yang tidak terhormat di hadapan tuhan. Seharusnya, kita mencari hormat hanya dari Allah. Oleh sebab itu, didikan yang Allah berikan kita responi dengan kesediaan dimana kita tidak memiliki interest untuk yang lain.

--------------------------------------------------------------------------












August 09, 2020, 12:05:24 PM
Reply #3304
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26509
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

------------------------------------------------------------------------------

Interest kita hanyalah memiliki kehidupan yang diubah sempurna seperti Bapa, diubah untuk memiliki kecerdasan rohani seperti Bapa, mengenakan pikiran dan perasaan Kristus. Inilah sebenarnya kesuksesan yang sejati. Tidak ada orang yang bisa menghalangi kita melakukan hal ini. Baik itu kemiskinan, sakit penyakit, kurang pendidikan, dan sebagainya. Tidak ada yang menghalangi kita untuk mencapai prestasi ini.  Oleh sebab itu hendaknya kita tidak perlu merasa gagal hanya karena mengalami kegagalan dalam berumah tangga, bisnis dan studi. Itu semua belumlah kegagalan yang sesungguhnya. Kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang gagal menjadi manusia Allah (man of God). Dalam konteks Kristen, gagal menjadi orang yang melakukan kehendak Bapa. Allah menyediakan fasilitas yang luar biasa, yang dikatakan oleh Yohanes 1:12-13 sebagai exousia; kuasa, previlege, hak istimewa. Kalau kita gunakan hak itu untuk mencapai tujuan segambar dan serupa dengan Allah kita pasti bisa mencapainya.












August 10, 2020, 07:09:31 AM
Reply #3305
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26509
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/keniscayaan/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/07/10-AGUSTUS-2020.mp3



Keniscayaan
10 August 2020

Play Audio Version

Allah itu Bapa kita. Di dalam Ibrani 12:5-7 disebutkan bahwa Bapa mendidik kita. Kalau bapak di dunia tahu bagaimana mendidik anak-anaknya dalam waktu pendek sesuai apa yang dianggapnya baik (Ibr. 12:9-10), Bapa di surga mendidik kita agar kita mengambil bagian di dalam kekudusan-Nya. Seperti seorang pelatih yang melatih seorang atlit lompat tinggi. Ia akan melatih atlit dengan melompat 1 meter, lalu naik ke 1,2 meter, bertambah lagi sampai 1,3 meter, dan seterusnya. Pasti Allah Bapa juga melakukan hal itu kepada kita. Tidak langsung kita dituntut untuk menjadi sempurna. Oleh sebab itu, latihan demi latihan yang Allah izinkan kita alami, harus kita perhatikan dengan serius. Kita percaya, bahwa Tuhan akan menolong ketika kita berkata, “Tuhan, aku mau memiliki kesabaran dan kekudusan seperti Engkau.” Tuhan berkata, “mari, Aku latih kamu.” Tapi masalahnya, ketika kita memberi diri dilatih oleh Tuhan, kita tidak boleh memiliki interest terhadap apa pun, kecuali kepada Tuhan. Interest kita kepada Tuhan bukan pada berkat-Nya, melainkan pada karakter-Nya. Banyak orang memiliki interest kepada Tuhan karena Ia baik. Baik-Nya diukur dengan apa? Kesuksesan dalam berkarier, studi, berkat jasmani.

Tuhan tidak bisa mendidik kita kalau kita masih gaduh dengan masalah pribadi, dengan cita-cita dan keinginan pribadi. Kita pasti pernah dengar ketika orang berkata “berdoa, maka Tuhan akan memberkati hidupmu. Berdoa, maka Tuhan akan membuat kamu sukses.” Semua diukur dengan nilai materi, uang, gelar, pangkat. Mestinya, kalau kita menjadi anak-anak Allah yang mau menyenangkan hati Bapa di surga, kita berkomitmen menjadi seseorang yang hanya melakukan apa yang Dia kehendaki dalam hidup kita. Pikiran kita harus menjadi bejana yang terbuka untuk diisi oleh pikiran-Nya, hati kita harus terbuka menjadi bejana yang diisi oleh perasaan-Nya. Bagaimana pikiran dan perasaan kita itu menampung apa yang Allah pikirkan dan rasakan? Tuhan pasti melatih kita.

Mungkin kita berkata, “itu mustahil.” Ya benar, tapi bagi Allah tidak ada yang mustahil. Yesus berkata, “kamu harus sempurna seperti Bapa,” maka berarti pasti kita bisa mencapainya. Kalau kita mengatakan “tidak mungkin,” berarti kita menganggap Tuhan Yesus berbohong. Dalam Alkitab kita menemukan, Paulus bisa berkata dalam Galatia 2:19-20, “hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Ini berarti kita bisa mengenakan hidup Kristus.

Bapa akan melatih kita agar kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Mengambil bagian dalam kekudusan-Nya itu sama seperti berkarakter seperti Dia, cerdas rohani seperti Bapa. Supaya segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kalau hal ini benar-benar kita alami, kita mengalami proses untuk mengenakan pikiran, perasaan Tuhan, memiliki kecerdasan rohani sehingga segala sesuatu yang kita putuskan, pilih, lakukan, selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Waktu kita pulang ke surga kita akan disambut sebagai anak dengan suara Bapa “Anak-Ku pulang,”. Begitulah kira-kira Bapa di surga menyambut kita. Itu adalah sebuah kehormatan. Kita harus merindukan untuk menjadi orang terhormat di kekekalan, bukan di mata manusia hari ini.

Kenyataan yang kita temui hari ini, tidak sajadi kalangan para politisi, di kalangan pendeta dan majelis pun terjadi kekisruhan, konflik, perebutan kedudukan. Dari kedudukan ketua majelis, ketua wilayah, sampai ketua sinode. Kalau seseorang sungguh-sungguh anak Allah, tidak akan melakukan hal tersebut. Mereka adalah orang-orang yang masih mencari hormat bagi dirinya sendiri dari manusia. Mereka menjadi orang yang tidak terhormat di hadapan tuhan. Seharusnya, kita mencari hormat hanya dari Allah. Oleh sebab itu, didikan yang Allah berikan kita responi dengan kesediaan dimana kita tidak memiliki interest untuk yang lain.

--------------------------------------------------------------------------






August 10, 2020, 07:12:10 AM
Reply #3306
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26509
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Interest kita hanyalah memiliki kehidupan yang diubah sempurna seperti Bapa, diubah untuk memiliki kecerdasan rohani seperti Bapa, mengenakan pikiran dan perasaan Kristus. Inilah sebenarnya kesuksesan yang sejati. Tidak ada orang yang bisa menghalangi kita melakukan hal ini. Baik itu kemiskinan, sakit penyakit, kurang pendidikan, dan sebagainya. Tidak ada yang menghalangi kita untuk mencapai prestasi ini.  Oleh sebab itu hendaknya kita tidak perlu merasa gagal hanya karena mengalami kegagalan dalam berumah tangga, bisnis dan studi. Itu semua belumlah kegagalan yang sesungguhnya. Kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang gagal menjadi manusia Allah (man of God). Dalam konteks Kristen, gagal menjadi orang yang melakukan kehendak Bapa. Allah menyediakan fasilitas yang luar biasa, yang dikatakan oleh Yohanes 1:12-13 sebagai exousia; kuasa, previlege, hak istimewa. Kalau kita gunakan hak itu untuk mencapai tujuan segambar dan serupa dengan Allah kita pasti bisa mencapainya.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)