Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 137615 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

February 15, 2020, 06:23:20 AM
Reply #2990
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24726
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>

Ketika kita mulai dipandang dewasa oleh Allah, Ia mengizinkan kita mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh, kejatuhan ekonomi yang tidak kunjung pulih, tertekan di tempat kerja, direndahkan, difitnah, diperlakukan tidak adil, dirugikan, disakiti, dan lain sebagainya. Ternyata, melalui semua itu Allah mau mengangkat kita untuk mencapai tingkat yang Allah kehendaki, yaitu iman yang makin sempurna yang sama dengan ketaatan seperti yang dimiliki Yesus. Melalui semua kejadian, baik yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, kita bisa mencium aroma keharuman kehadiran Allah yang bernilai jauh lebih tinggi.




February 16, 2020, 01:25:16 PM
Reply #2991
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24726
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Berjalan Bersama Bapa
15 February 2020
00:00


https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2020/02/15-FEBRUARI-2020-BERJALAN-BESAMA-BAPA.mp3


Setiap saat Allah sebagai Bapa mendidik kita. Tidak ada satu detik pun Allah tidak hadir dalam hidup kita. Ini berarti, sejatinya, pengalaman hidup kita adalah fragmen yang sangat luar biasa. Kalau seandainya bisa ditulis, nilainya lebih dari biografi tokoh hebat mana pun yang tidak berjalan dengan Allah. Sayangnya, banyak orang Kristen yang tidak menyadari anugerah yang begitu besar yang Allah karuniakan. Jadi, ketika Yesus berkata bahwa Dia menyertai kita sampai akhir zaman, itu berarti kehidupan kita menjadi bernilai sebab kita berjalan bersama Allah yang hidup, melalui dan di dalam Roh-Nya. Hal ini bisa terjadi atau berlangsung karena darah Yesus telah memperdamaikan kita dengan Allah, dan membenarkan kita di hadapan Allah Bapa, sehingga kita bisa menjadi anak-anak-Nya. Dengan menjadi anak-anak Allah, kita menerima didikan-Nya.

Karena tidak menyadari anugerah yang besar ini, banyak orang yang hidup secara sembarangan, sehingga fragmen hidup yang mestinya terangkai dalam kehidupan, tidak terangkai sesuai kehendak-Nya. Banyak orang lebih tertarik menjadi orang kaya agar terhormat, bisa berelasi dengan para pejabat tinggi atau orang-orang penting dunia, serta orang-orang kaya lainnya. Banyak orang lebih tertarik menjadi orang terkenal sehingga dipuja, dikagumi oleh banyak orang, dan bisa bersentuhan dengan orang-orang terkenal lainnya. Banyak orang lebih tertarik bersentuhan dengan orang-orang yang dinilai memiliki kelebihan di mata manusia. Tetapi mereka semua tidak tertarik bersentuhan dengan Allah yang Mahamulia, dan tidak berkerinduan berjalan bersama-Nya. Tentu saja mereka tidak sungguh-sungguh merasa membutuhkan Allah.

Di lingkungan gereja, tidak sedikit pengerja atau majelis gereja yang merasa lebih terhormat menjadi pemimpin di lingkungan orang-orang Kristen dan bersentuhan dengan pendeta daripada bersentuhan dengan Allah dan berjalan bersama-Nya. Tidak sedikit pendeta yang lebih tertarik pada jabatan sebagai pemimpin jemaat, pemimpin wilayah, bahkan kalau bisa menjadi ketua sinode. Dengan jabatan tersebut, seorang pendeta dapat bersentuhan dengan orang-orang kaya, pemimpin-pemimpin gereja lain, dan dengan pejabat-pejabat tinggi pemerintah. Mereka kurang tertarik bersentuhan dengan Allah dan berjalan bersama Dia dibanding dengan hal-hal di atas. Tentu saja hal ini tidak mudah diakui, tetapi kenyataannya demikian. Kita harus memiliki perasaan takut akan Allah dan pengadilan-Nya, karena keadaan kita yang sebenarnya akan dibuka di depan semua orang.

Orang yang kurang atau tidak tertarik bersentuhan dengan Allah secara nyata dan berjalan bersama Dia, tidak akan mengalami proses pembentukan untuk menjadi anak-anak Allah yang menyukakan hati-Nya. Pada dasarnya, orang-orang seperti ini tidak mengenal kebenaran. Kalaupun mereka memiliki pengetahuan teologi, pastilah bukan kebenaran yang murni yang sesuai dengan Alkitab. Bisa saja orang mengelak, tetapi buah kehidupannya atau kualitas hidupnya jelas menunjukkan kualitas pengajarannya. Sebab, kebenaran yang murni pasti mendesak seseorang untuk berperilaku dalam standar kesucian Allah. Pada dasarnya, orang yang kurang atau tidak tertarik bersentuhan dengan Allah secara nyata dan berjalan bersama Dia adalah orang yang tidak mengasihi Allah sehingga tidak menghormati Allah secara patut. Orang-orang seperti ini tidak mendapat bagian berkat kekal, yaitu pembentukan Allah seperti yang termuat dalam Roma 8:28.

Bersentuhan dengan Allah secara nyata dan berjalan bersama Dia, menghasilkan kehidupan yang semakin diubahkan menjadi anak kesukaan Allah, sebab kebersamaan dengan Allah adalah pengalaman penggarapan Allah atas hidup kita. Ini pengalaman yang lebih dari mengalami Allah karena mukjizat-mukjizat, kejadian-kejadian spektakuler seperti mengalami kesembuhan, ekonomi yang dipulihkan, menerima kenaikan jabatan, dan lain sebagainya. Hendaknya, bukan melalui hal-hal tersebut, seakan-akan kita baru dapat “merasakan” kehadiran Allah. Memang bagi orang Kristen yang baru, pengalaman mereka dengan Allah seputar hal-hal tersebut yaitu pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi setelah kita menjadi dewasa rohani, pengalaman berjalan dengan Allah haruslah seputar perubahan karakter menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.

<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<




February 16, 2020, 01:25:45 PM
Reply #2992
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24726
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>

Ketika kita mulai dipandang dewasa oleh Allah, Ia mengizinkan kita mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh, kejatuhan ekonomi yang tidak kunjung pulih, tertekan di tempat kerja, direndahkan, difitnah, diperlakukan tidak adil, dirugikan, disakiti, dan lain sebagainya. Ternyata, melalui semua itu Allah mau mengangkat kita untuk mencapai tingkat yang Allah kehendaki, yaitu iman yang makin sempurna yang sama dengan ketaatan seperti yang dimiliki Yesus. Melalui semua kejadian, baik yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, kita bisa mencium aroma keharuman kehadiran Allah yang bernilai jauh lebih tinggi.




February 17, 2020, 03:40:05 PM
Reply #2993
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24726
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Dinista
17 February 2020
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2020/02/17-FEBRUARI-2020-DINISTA.mp3

Firman Tuhan dalam 1 Petrus 4:14 tertulis, “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.” Orang percaya pada gereja mula-mula bukan hanya mengalami penganiayaan, melainkan juga mengalami berbagai penistaan. Namun, mereka merasa terhormat dengan keadaan tersebut. Hal ini berbeda dengan orang-orang Kristen sekarang. Banyak orang beragama Kristen lebih merasa terhormat kalau menjadi pimpinan sinode gereja atau menjadi pendeta yang dihormati orang banyak. Penderitaan apa yang kita alami? Tidak ada. Kalau tidak ada penderitaan, berarti Roh Kemuliaan tidak ada pada orang-orang tersebut. Roh Kemuliaan ini ada pada orang yang menderita karena Kristus. Orang-orang percaya yang benar, yang berusaha hidup dalam kebenaran, pasti mengalami penistaan. Penistaan tersebut justru sering datang bukan hanya dari orang-orang di luar Kristen, tetapi saudara-saudara seiman sendiri.

Sejak Konsili Nicea (thn. 325) yang digagas oleh Kaisar Constantin—yang sebenarnya masih belum dibaptis—lahirlah “spirit” menghakimi saudara seiman. Gereja dan para teolog merasa berhak memiliki otoritas ilahi yang bisa menetapkan orang lain sesat. Pada abad-abad pertengahan, gereja bukan saja bisa menetapkan seseorang sesat, tetapi juga mengutuk, menghukum, mengucilkan, sampai menjatuhkan hukuman mati. Sesuatu yang tidak diajarkan oleh Yesus. Tradisi ini masih dibawa sampai sekarang atas orang-orang yang merasa doktrinnya benar dan menunjuk orang yang tidak sepaham dengan dirinya sebagai sesat. Mengadakan persekusi secara atau melalui medsos dengan berbagai kata-kata yang tidak pantas diucapkan sebagai orang saleh. Perbedaan pendapat sangat mungkin tejadi, merasa diri benar bukan sesuatu yang bisa disalahkan, tetapi tindakan mendzolimi sampai menista orang lain harusnya tidak dilakukan. Tidak sedikit penistaan tersebut berangkat dari ketidakpuasan atau kekecewaan terhadap seseorang, yang disebabkan karena perbedaan pendapat, perasaan iri, dan lain sebagainya. Dari hal ini, mudah dikenali bahwa mereka yang suka menista sesamanya pasti bukan orang percaya yang benar.

Kalau kita dinista, kita tidak perlu tertekan dan menjadi marah. Penistaan-penistaan tersebut sebenarnya merupakan berkat abadi, sebab dengan penistaan-penistaan tersebut justru membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalani hidup dan mengoreksi diri. Kita akan lebih memerhatikan fakta pengadilan Kristus nanti, di mana semua keadaan manusia akan dibuka. Pada waktu itu, akan terbuka dan terbukti orang yang benar-benar anak Allah dan mereka yang palsu. Kiranya Allah menolong setiap kita dan mereka yang suka menista agar disadarkan oleh Allah untuk hidup sebagai anak-anak Allah yang meneladani Yesus. Penderitaan yang kita alami bukan karena kejahatan kita melainkan dijahati oleh orang, dapat menjadi kebahagiaan (1Ptr. 4:15-16).

Kita harus waspada sebab Allah memperhadapkan kita pada ketegasan-Nya, seperti yang dikatakan oleh Petrus, “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?” (1Ptr. 4:17). Maksud kata “dihakimi” di sini adalah “ditampi.” Ini adalah bentuk justifikasinya melalui penderitaan. Penderitaan memurnikan iman dan mendewasakan. Semua itu mendatangkan kebaikan bagi orang percaya, karena untuk masuk Kerajaan Surga bukan sesuatu yang mudah. Petrus dalam suratnya menulis: “Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa? Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia” (1Ptr. 4:18).

Mesin anugerah berjalan terus. Kematian Yesus di kayu salib adalah awal mesin itu berputar. Lalu, Allah memberikan ROH KUDUS dan Injil. Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan. Masalahnya, kita belajar Alkitab atau tidak, kita berdoa atau tidak, kita memerhatikan setiap peristiwa dalam hidup ini atau tidak teliti? Mesin anugerah yang telah disediakan itu harus kita manfaatkan. Hendaknya kita tidak sibuk sendiri dengan hal-hal yang tidak berarti. Kita harus memproyeksikan hidup ini kepada kesempurnaan sepeti Bapa dan fokus ke langit baru dan bumi baru.

<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<




February 17, 2020, 03:40:37 PM
Reply #2994
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24726
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>>

Untuk itu, kita perlu memerhatikan dua hal ini: Pertama, kalau kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita harus hidup suci meskipun untuk itu kita dirugikan secara materi, menderita, dan kadang menjadi sangat susah. Kedua, kita harus percaya bahwa langit baru dan bumi baru adalah tempat pelabuhan kita. Allah tidak menurunkan standar, tetapi Allah menyiapkan fasilitas. Bentuk kita harus makin jelas. Kita bertanggung jawab untuk menemukan bentuk. Bentuk itu tentu adalah wajah Tuhan Yesus yang harus tergambar dalam hidup kita.




February 18, 2020, 12:02:12 PM
Reply #2995
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24726
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Episentrum Kebenaran
18 February 2020
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2020/02/18-FEBRUARI-2020-PUSAT-PUSARAN.mp3

Semakin seseorang serius dengan Allah—yang ditandai dengan hati yang mengasihi Dia, walau hal ini tidak mudah ditangkap oleh orang lain dan memang tidak perlu dipamerkan—semakin seseorang dibawa kepada pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran), yang makin hari makin cepat. Seperti suatu benda berada di pusat pusaran atau episentrum sebuah gerak air yang berputar (karena semakin ke tengah, geraknya semakin cepat). Ini berarti semakin banyak pengalaman dengan Allah, semakin seseorang mengerti kehendak-Nya untuk dilakukan dan rencana-Nya untuk dipenuhi. Dalam level ini, barulah seseorang bisa menghayati kehadiran Allah dengan kuat, sehingga ia bisa hidup di hadirat Allah sepanjang waktu. Kegentaran akan Allah terasa dalam jiwa dan mencengkeram semakin hebat. Dengan demikian, mendorong seseorang semakin hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Di lain pihak, memiliki kekuatan atau keteguhan menghadapi segala sesuatu. Pada zaman gereja mula-mula, penganiayaan memaksa orang percaya hidup dalam pusat pusaran atau episentrum kebenaran (1Ptr. 4). Allah yang menghendaki demikian.

Untuk zaman sekarang, apakah jemaat hidup dalam episentrum kebenaran? Dalam hal ini, yang paling berperan dalam gereja adalah pelayan Firman atau pengkhotbah dan pemimpin gereja secara organisasi. Kalau hidup pendeta tidak benar, tidak suci, masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, maka dirinya menjauh dari pusaran. Ini adalah kehidupan yang bersahabat dengan dunia (Yak. 4:4). Tentu saja sebagai dampaknya atau imbasnya, semua jemaat yang dilayani dan mendengarkan khotbahnya ikut menjauh dari pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran). Hal ini terjadi dalam kehidupan mereka yang selalu berbicara mengenai berkat jasmani dan pemenuhan kebutuhan jasmani serta mukjizat-mukjizat.

Kegiatan gereja tetap bisa aktif dengan berbagai program yang kelihatannya rohani dan mendukung pekerjaan misi, pertemuan-pertemuan dalam acara kebaktian sangat semarak seakan-akan Allah hadir dalam pertemuan tersebut dan disukakan, tetapi secara dasariah mereka tidak mengalami pertumbuhan untuk sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Inilah yang disebut sebagai pasivitas rohani. Dalam kehidupan setiap hari, tampak bahwa mereka tidak merindukan langit baru dan bumi yang baru. Hati mereka masih tertambat di dunia ini.

Sejatinya, titik pusaran (episentrum) yang dimaksud adalah kehidupan Yesus yang harus dikenali dan dikenakan dalam kehidupan ini. Kita harus sungguh-sungguh merindukan dan sangat mengingini ada di titik pusaran itu. Semua isi pemberitaan Firman harus menjurus ke titik pusat pusaran tersebut. Kalau gereja masih bicara berkat-berkat jasmani, pemenuhan kebutuhan jasmani, dan mukjizat, berarti masih jauh dari pusatnya. Memang pelayanan Yesus dimulai dari pemenuhan kebutuhan jasmani bagi mereka yang sakit, tetapi hal tersebut bukanlah tujuan. Tujuannya adalah menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus yang melakukan kehendak Bapa.

Kalau seseorang sudah ada di pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran) ini, kerinduannya hanya Allah dan Kerajaan-Nya. Semakin berada di pusat pusaran kebenaran, semakin seseorang terpisah dari dunia ini. Dengan demikian, semakin dapat memenuhi apa yang diajarkan oleh Yesus bahwa hidup ini hanya untuk mengumpulkan harta di surga (Mat. 6:19-21), atau memikirkan dan mencari “perkara-perkara yang di atas” (Kol. 3:1-3). Inilah yang sebenarnya dimaksud dengan semakin terbang tinggi bagai rajawali, atau bisa berarti “semakin meninggalkan dunia ini.” Dengan demikian, hati semakin dipindahkan, sesuai yang dikatakan oleh Yesus “di mana ada hartamu di situ hatimu berada” (Mat. 6:21).

Kita harus fokus kepada Tuhan dengan memberikan perhatian yang sepatutnya untuk perkara-perkara rohani di tengah-tengah pergumulan atau pergulatan hidup, baik dalam hidup pribadi, rumah tangga, keluarga, dan lingkungan (di gereja, sekolah teologi, badan perguruan tinggi, dan lain-lain). Kita harus terus melekat kepada Tuhan untuk semakin menuju episentrum kebenaran atau kehidupan di hadapan Allah. Banyak orang tidak belajar menuju ke pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran) tersebut dengan sungguh-sungguh, sehingga hanya terhenti di radius yang jauh dari pusat pusaran kebenaran. Kalau seseorang tekun mendengar Firman yang murni, maka akan makin masuk ke pusat pusaran. Tetapi hal ini bukan sesuatu yang mudah, karena menuntut perjuangan yang sungguh-sungguh dan kerelaan kehilangan dunia. Semakin seseorang “menanggalkan beban dan dosa,” semakin cepat menuju pusat pusaran kebenaran tersebut.

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>




February 18, 2020, 12:02:38 PM
Reply #2996
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24726
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<

Semakin seseorang berada di pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran) tersebut, semakin tidak bisa berbalik ke dunia. Ia sudah berada pada “titik tidak balik.” Dengan demikian, keselamatan menjadi milik yang pasti (Ibr. 6:11), dan semakin memiliki hak penuh masuk Kerajaan Allah (2Ptr. 1:11). Sampai pada level ini, seseorang ada pada keadaan atau status “sekali selamat tetap selamat.” Keadaan atau status ini tidak bisa dikenakan kepada sembarang orang Kristen, karena mereka memang tidak bertumbuh secara normal di hadapan Allah.




February 19, 2020, 06:55:27 AM
Reply #2997
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24726
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Mengenakan Hidup-Nya
19 February 2020
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2020/02/19-FEBRUARI-2020-MENGENAKAN-HIDUP-YESUS.mp3

Kalau kita dengan tekun dapat melewati beratnya mengikut Yesus—artinya mengenakan hidup-Nya—sukacita yang murni dapat kita rasakan. Tidak banyak orang yang bisa terbawa sampai ke episentrum ini. Banyak orang mau nyaman di luar, putar-putar di luar episentrum. Kalau seseorang tidak sampai pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran), ketika meninggal dunia, ia akan melihat kenyataan yang mengerikan; seperti seorang yang masuk ke dalam mimpi buruk tetapi ternyata sebenarnya adalah kenyataan. Namun, kalau kita sekarang ini menderita bagi Allah, merasakan beratnya mengiring Yesus, ketika mati, kita seperti terbangun dari mimpi buruk. Pada waktu kita membuka mata di kekekalan, kita dapat mengerti dengan sempurna bahwa hidup kita selama 70-80 tahun yang begitu banyak beban tidak ada artinya sama sekali. Terkait dengan hal ini Paulus menyatakan, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm. 8:18).

Banyak gereja sibuk membangun gereja, membangun sekolah, sibuk dengan kegiatan misi, diakonia, pekerjaan sosial, dan lain-lain. Tentu saja melakukan semua kegiatan tersebut tidak salah, tetapi harus dipertanyakan: apa tujuan seluruh kegiatan tersebut? Hendaknya semua kegiatan tersebut bukan suatu produk yang memang dibuat untuk membuat gereja eksis, aspek lain bisa mendapat income untuk kehidupan para rohaniwannya. Tidak salah seorang hamba Tuhan hidup dari pelayanan, tetapi kalau uang sudah menjadi tujuan, itu bukanlah motif yang benar bagi pelayan pekerjaan Tuhan. Kegiatan pelayanan hamba-hamba Tuhan seperti ini tidak membawa sesorang masuk episentrum kebenaran.

Jangan sampai kita membuka mata di kekekalan, seperti mimpi buruk yang menakutkan. Lebih baik hidup yang kita jalani sekarang seperti mimpi buruk, artinya harus memikul salib, tetapi di balik kubur kita menemukan kehidupan yang indah. Memang, semakin ke pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran) di mana kita berjalan dengan Tuhan, perjuangan akan makin berat. Tetapi ajaibnya, ketika kita benar-benar semakin sampai ke titik pusat pusaran, rasa berat itu tidak akan ada lagi. Kita baru benar-benar merdeka. Semakin kita ke titik pusat pusaran kebenaran, kita akan makin merdeka. Salib menjadi keindahan dan kebahagiaan. Sampai pada level ini, kita hidup hanya untuk mencari kesukaan Allah, tidak lagi kesukaan diri sendiri. Dunia tidak lagi menarik sama sekali. Kerinduan kita terhadap Kerajaan Surga begitu kuat. Kalimat Doa Bapa Kami: “Datanglah Kerajaan-Mu” bisa dihayati dengan benar.

Orang percaya yang menghadirkan pemerintahan Allah pasti kelihatan dalam seluruh gerak hidupnya. Ini berbeda dengan mereka yang tidak menghadirkan Kerajaan Allah. Biaya menghadirkan Kerajaan Allah hanya dengan satu cara, yaitu darah Yesus. Kerajaan Allah itu sebenarnya sudah datang, dihadirkan oleh Yesus. Namun, bagaimana hidup di dalam pemerintahan Allah itu atau sama dengan pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran) itu bisa terjadi atau berlangsung dalam kehidupan kita? Bagaimana kita bisa makin mengerti kehendak Allah dan menghayati kehadiran-Nya? Kalau kita menghayati kehadiran-Nya, kita akan sulit berbuat dosa atau berbuat salah. Dunia tidak lagi membelenggu kita atau menyandera kita, karena atmosfer Kerajaan Allah itu akan dirasakan. Kita tidak lagi memiliki rasa takut terhadap apa pun dan siapa pun. Kita makin berani menghadapi hidup karena kita hanya memiliki satu kepentingan, yaitu hidup untuk kemuliaan nama-Nya, yang sama dengan hidup hanya untuk kesenangan Allah Bapa. Tuhan Yesus adalah satu-satunya manusia yang berhasil menyukakan hati Allah Bapa. Oleh sebab itu, kita harus mengenal Dia dengan benar untuk meneladani hidup-Nya.

<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<






 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)