Author Topic: Daily Devotional  (Read 49690 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

April 15, 2020, 02:58:04 PM
Reply #1810
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26102
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=1855&lang=id


15
Apr
Renungan Harian
Iman Yang Digoncang

Matius 26:30-35; Zakharia 13:7

Maka berkatalah Yesus kepada mereka : Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis : Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.

(Matius 26:31)

 

Iman yang tergoncang oleh karena perbuatan kita sendiri sudah pasti sering kita alami. Bahkan sengaja atau tidak kita sering menuduh Tuhan sebagai biangnya. Kita harus selalu ingat bahwa Allah Bapa tidak pernah mencobai umatNya, tetapi IA menginjinkan pencobaan itu terjadi kepada kita. Jangankan pencobaan, sehelai rambut kita yang jatuh saja jika tidak seizin Tuhan maka rambut kita tidak akan jatuh.  Kalau kita mau membaca dengan jeli pada surat Yakobus 1:13-14 iman kita tergoncang oleh karena keinginan-keinginan kita dan kita terpikat olehnya. Dosa terjadi karena ada kesempatan untuk melakukannya dan kesempatan itu timbul dari dalam hati, serta keinginan hati dan mata sehingga akhirnya berbuahkan dosa.

Tetapi bagaimana jika Tuhan Yesus sendiri yang akan menggoncang iman kita itu? Wah pastilah kita tidak akan bisa tahan. Dengan keinginan kita sendiri saja iman kita sering kalah, bagaimana kesudahaannya jika demikian? Ujian iman yang datang pada saat penangkapan Yesus di taman Getsemani. Seorang murid Yesus tergoncang imannya dan dia melakukan sesuatu yang membuat daun telinga seorang prajurit menjadi putus. Itu baru permulaan, bagaimana dengan kejadian beberapa tahun yang lalu? Banyak keluarga Kristen yang menjadi korban ketidakadilan dan terjadi pembakaran gereja-gereja dan juga keluarga hamba-hamba Tuhan yang menjadi korban, dibakar hidup-hidup bersama-sama didalam gereja. Tergoncangkah iman mereka? Tidak! Sebab Tuhan memberikan kekuatan kepada mereka untuk melalui semua pencobaan-pencobaan (1 Korintus 10:13). Kalaupun toh harus kehilangan nyawa, mereka mati secara sahid atau martir.

Tetapi banyak orang yang hanya menginginkan berkat-berkatnya saja, tetapi untuk pikul salib rasanya berat atau malah bahkan tidak mau sama sekali. Sebab salah satu dari iman yang digoncangkan juga termasuk memikul salib. Kekristenan tidak hanya berkata tentang berkat-berkat saja tetapi juga tentang penderitaan yang Tuhan Yesus ijinkan menimpa kepada kita. Apakah pada saat iman yang digoncang itu kita tahan atau tidak ? Itulah yang harus kita lalui.

 

Renungan :

Iman yang digoncangkan akan membawa kepada kita kedewasaan iman, jika kita berhasil melampauinya maka kita naik kelas. Tetapi jika kita melawan atau menyerah kepada keadaan, maka kita tidak lulus dalam ujian kenaikan tingkat rohani.

 

Tuhan Yesus Kristus izinkan ujian iman itu datang kepada kita.




April 16, 2020, 04:25:03 PM
Reply #1811
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26102
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=1856&lang=id


16
Apr
Renungan Harian
Taman Penderitaan Dan Kekuatan

Matius 26:36-46; Mazmur 29:11

Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya : ”Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.”

(Matius 26:36)

Ada sebuah taman di luar kota dan taman itu bernama Getsemani, yang artinya "pemerasan minyak zaitun". Lokasinya di seberang sungai Kidron. Di taman itu terjadi peristiwa yang akan mengubah seluruh dunia. Nasib manusia ditentukan oleh Yesus di taman itu. Ada apa gerangan di taman itu ?

Yesus sadar bahwa waktuNya sudah semakin dekat. Dia tahu bahwa Dia harus menanggung penderitaan seluruh umat manusia dan memikul dosa seluruh dunia ini. Betapa beratnya! Dia sangat menderita. Bahkan ketika berdoa, peluhnya seperti tetesan darah ke atas tanah. Dia mengalami perjuangan yang amat berat dan terberat dalam hidupNya. Dia menghadapi pilihan apakah meneruskan misiNya ataukah berhenti "di tengah jalan” dan langsung terangkat ke surga saat itu juga.

Saudara, tidakkah kita melihat adanya perbedaan antara taman Firdaus dengan Getsemani ? Di Firdaus, manusia pertama menyerah kepada dosa. Mereka tidak taat dengan menyantap buah larangan itu. Tetapi Manusia yang kedua ini tegar dan tetap setia pada komitmen untuk menyelamatkan manusia.

Luar bisa! Yesus sanggup meminum cawan yang seharusnya tidak diminumNya. Tetapi tidak ada cara lain untuk menyelamatkan manusia kecuali melalui penumpahan darahNya. Tetapi taman yang menjadi tempat penderitaan itu lalu menjadi taman kekuatan. Lihatlah bagaimana Bapa memberikan kekuatan kepada Yesus untuk dapat menyelesaikan tugasNya tersebut.

Saudara, ketika kita berada di taman penderitaan, itulah saatnya kita menikmati juga taman kekuatan, sebab di tengah penderitaan Tuhan memberikan kekuatan kepada kita. Tidak ada piala tanpa perjuangan. Tidak ada mahkota tanpa pergumulan. Tidak ada surga tanpa penderitaan. Bahkan Paulus berkata, ”Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (2 Timotius 3:12).

 

Renungan :

Setiap orang memiliki taman sendiri-sendiri. Tetapi percayalah bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kita sendirian. Ketika kita nyaris tidak berdaya, Dia akan mencurahkan kekuatannya kepada kita.

 

Ketika kita tidak berdaya, segera kita akan menikmati kekuatan Tuhan.





April 17, 2020, 12:56:53 PM
Reply #1812
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26102
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=1857&lang=id


17
Apr
Renungan Harian
Melarikan Diri

Matius 26:47-56; Zakharia 13:7

”Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.”

(Matius 26:56)

 

Penampilan seseorang di panggung pelayanan tidak secara otomatis mencerminkan kehidupan dan kepribadiannya sehari-hari. Seringkali kita mendengar orang-orang berkata, "Aku mengasihi dan berdoa senantiasa untuk pemulihan Indonesia". Tetapi jika terjadi sesuatu dengan Indonesia, apakah kita akan menjadi orang terakhir yang mempertahankan Indonesia? Atau bahkan menjadi orang pertama yang meninggalkan Indonesia alias melarikan diri? Dan ini pernah terjadi sehingga waktu itu ibadah minggu di satu kota di Indonesia banyak yang kacau. Kenapa? Ya karena pendetanya juga ikut eksodus ke luar negeri. Siapa yang melaksanakan ibadah?

Ada lagi yang berkhotbah tentang pelayanannya membantu orang-orang yang kesusahan secara finansial. Begitu selesai ibadah ada jemaat yang datang padanya mohon bantuan. Namun apa reaksinya? Dia mengelak dan melarikan diri dari jemaat tersebut seolah-olah lupa dengan isi khotbah yang baru saja disampaikannya.

Seorang pelayan Tuhan dengan bangganya bercerita bahwa dia adalah lulusan sekolah theologia ternama dari luar negeri dan sekarang siap untuk memberikan hidupnya bagi Indonesia. Namun tidak lama kemudian dia mengundurkan diri hanya karena sedikit tekanan dan gesekan dalam pelayanan.

Betapa mudahnya orang melarikan diri dan menghindar dari komitmen yang pernah diucapkan seolah-olah berkata-kata dan berjanji itu memang tidak ada harganya? Di zaman yang serba instan dan cepat ini memang tidak dipungkiri bahwa banyak orang juga yang secara instan dipakai dalam pelayanan. Tidak masalah jika memang demikianlah kebutuhan pelayanan itu sendiri. Namun yang penting adalah tetap setia dengan panggilan pelayananmu walau apapun yang terjadi sesudahnya. Jangan melarikan diri.

 

Renungan :

Hit and run - memang adalah salah satu gaya dalam pertarungan tinju tetapi itu tentu bukan gaya Paulus ketika dia berkata, "Aku bukan petinju yang memukul sembarangan." Dia tidak bertinju lalu melarikan diri, tetapi dia terus maju menyeruduk sampai menang.

 

Orang yang punya integritas tidak akan melarikan diri dari pelayanan dan ucapannya walau apapun yang terjadi.





April 18, 2020, 04:02:14 PM
Reply #1813
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26102
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=1858&lang=id


18
Apr
Renungan Harian
Jangan Tinju Dia !

Matius 26:57-68; Yesaya 53:3

”Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia”

(Matius 26:67)

Yesus mengalami penghinaan yang luar bisa dari para pemuka agama di zaman itu. Yesus sangat direndahkan ketika tangan-tangan kotor meninju wajahnya dan ludah-ludah yang jorok mengenai wajahNya yang suci. Seandainya kita adalah salah seorang dari malaikat yang melihat perkara itu, bisa jadi saya tidak tahan. Kita akan habisi orang-orang yang telah menghina Raja kita itu. Setiap orang mungkin akan berpikiran yang sama. Tetapi kita lihat bagaimana Yesus itu sangat sabar menerima penderitaan itu. Dia diam saja.

Yesus tahu bahwa itu baru awal menjelang penderitaan yang lebih berat lagi. Dia memang harus menanggung semuanya itu.

Setelah Yesus mati dan bangkit serta naik ke surga, Yesus kembali duduk di sebelah kanan Bapa. Dia menerima kembali segala kemuliaan-Nya. Tetapi apakah Dia sudah tidak menerima kembali segala tinjuan dan penghinaan lagi? Tahukah kita bahwa dosa itu adalah sama dengan meninjau wajah Allah? Ketika kita masih saja senang berbuat dosa, itu artinya kita telah meludahi dan meninju wajahNya. Betapa jahatnya manusia yang telah diselamatkan dan dikasihi tapi masih saja suka meninju wajah Allah!

Memang kita tidak bisa menjadi sempurna secara otomatis, karena kesempurnaan itu adalah proses dan pekerjaan Allah. Tetapi Tuhan mau kita bersungguh-sungguh untuk mau diubahkan dan dibentuk. Inilah masalahnya. Sebab orang Kristen hanya puas kalau sudah bisa ke gereja. Tetapi mereka tidak pernah mau dibentuk dan bertumbuh. Mereka masih saja suka keluar masuk klub malam dan keluyuran setiap malam untuk memuaskan kedagingannya.

Ada orang yang sama sekali tidak merasa telah meninju wajah Allah setelah perbuatan dosa yang dilakukannya. Tetapi kiranya ini bukan kita. Janganlah menjadi seorang peninju wajah Allah. Jadi siapkan diri setiap hari supaya Tuhan membentuk kita semakin sempurna dari hari ke hari.

 

Renungan :

Kita menjadi manusia yang sangat kurang ajar kalau masih saja suka hidup dalam kehidupan yang lama setelah Kristus mengangkat kita dari kubangan dosa.

 

Dosa itu adalah tamparan terhadap wajah Allah dan upaya untuk ”menyalibkan” Kristus lagi.






April 19, 2020, 10:38:47 AM
Reply #1814
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26102
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=1859&lang=id


19
Apr
Renungan Harian
Terjepit

Matius 26:69-75; Daniel 3:23

Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah ayam. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. (Matius 26:74-75)

 

Seorang tentara komunis di Cina berkata: "Bongkar muatannya, cari Alkitab di rumah itu! Air mata memenuhi mata Nyonya Lu Ying saat ia menonton empat penjaga komunis membongkar rumahnya. "Saya menemukannya"! teriak penjaga. Tetapi saat penjaga itu memegang Alkitab untuk menyerahkannya kepada kepala penjaga, Nyonya Lu Ying dengan berani merebutnya kembali.

"Buku ini berisi segala yang saya perlukan untuk mengenal Tuhan dan Juruselamat yang saya kasihi. Saya tidak mau terpisah dari buku ini," ia memohon kepada penjaga sambil memegang di dadanya erat-erat. "Bawa dia keluar," Teriak kepala penjaga. "Kita lihat berapa lama ia mau memegang buku tentang Yesusnya itu." Empat penjaga membawanya kejalan menghinanya dan memukulinya sampai ia tidak sanggup berdiri. "Apakah kamu masih percaya pada buku mitosmu itu?" Dengan mulut yang berdarah dan bengkak. Nyonya Lu Ying tetap teguh dengan pernyataan imannya. Para penjaga mengambil tongkat besi dan memukul tulang-tulang tangannya sehingga menyebabkan tangannya lumpuh.

Hal yang sama juga pernah di alami oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego, yang karena iman mereka harus dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala dalam keadaan terikat (Daniel 3:23). Namun mereka sangat percaya akan kasih sayang Tuhan, sehingga dalam keadaan kritis, iman mereka tidak mundur, dan pertolongan Tuhan pun sungguh nyata.

Lalu bagaimana dengan Petrus. apakah ia gagal dalam imannya? Tidak, kisah Petrus menunjukkan sisi manusia yang manusiawi saat menghadapi situasi terjepit. Hal ini memberikan kepada kita pembelajaran, betapa mahalnya harga dari sebuah keyakinan. Saat itu Petrus takut mengungkapkan keyakinannya karena ia tahu apa akibatnya. Tidak ada pilihan lain bagi Petrus selain ia menyangkali Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatnya, sebab keadaannya memang sangat sulit.

Namun akhirnya Petrus menyesal dengan apa yang dilakukannya, dan seiring dengan pertumbuhan imannya, ia semakin berani menyatakan Injil Kristus. Akhir hidupnya dipenuhi penderitaan karena nama Yesus termasuk dianiaya dan dipenjara.

Pelajaran berikutnya yang bisa kita ambil dari kisah Petrus adalah adalah saat kita terjepit jangan pernah mengambil keputusan yang salah.

 

Renungan :

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (Roma 8:35).




April 20, 2020, 07:48:11 AM
Reply #1815
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26102
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=1862&lang=id


20
Apr
Renungan Harian
Pernah Menyesal ?

Matius 27:1-10; Yeremia 26:13

”Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua”

(Matius 27:3)

 

Pernah menyesal? Merasa percuma? Memang. Hanya menyesal memang percuma. Karena yang lebih penting adalah memperbaikinya. Siapa sih yang enggak pernah menyesal? Ada saja hal-hal yang bisa bikin kita menyesal setengah mati. Bayangkan, bagaimana enggak menyesal kalau sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita lakukan seandainya kemarin kita tidak rajin buang waktu. Kita menyesal karena kurang optimal hingga kemampuan kita hanya begini-begini saja, padahal sebetulnya kita bisa lebih. Atau kita menyesal karena sudah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.

Bicara soal penyesalan tidak akan pernah ada habisnya. Kita juga pastinya sudah bosan dengan pepatah, penyesalan selalu datang terlambat. Tiba-tiba saja kita menyesal karena saat menjelang ujian kita tidak mempersiapkan diri dengan optimal. Padahal, kalau saja kita mengurangi jatah di depan televisi atau main game, kita gunakan untuk belajar, pasti bisa lulus.

Ah, kalau saja kita berani bilang tidak sama tawaran sobat untuk nyoba ngisep mungkin saat ini kita masih bisa bermain, tersenyum, dan pergi sekolah seperti biasanya. Seandainya saja kita tegas menolak pacar untuk menemani belajar di rumahnya, berdua saja, pasti ini semua enggak akan terjadi! Tetapi kalau sudah terlanjur?

Saudaraku, tidak ada manusia yang tidak pernah menyesal, meskipun penyesalan itu memiliki kadar kesalahan yang berbeda-beda pula Yudas juga menyatakan penyesalan ketika dia melihat gurunya yang telah dijualnya itu ternyata dijatuhi hukuman mati. Alkitab dengan jelas berkata bahwa Yudas menyesal. Sampai di sini kita melihat itikad yang baik dari Yudas, meskipun mulanya dia yang menjual Yesus. Tetapi apa yang terjadi setelah itu sungguh bertolak belakang, sebab penyesalan itu tidak sampai kepada pengampunan Kristus tetapi justru kepada kematian alias bunuh diri (ay. 5).

Jikalau saat itu Yudas bertobat, maka Tuhan akan ampuni, tetapi itu tidak sampai terjadi. Yudas keburu mengambil jalan pintas tersebut!

 

Renungan :

Kita semua pernah melakukan kesalahan dan ujung-ujungnya penuh penyesalan. Asal tahu saja bahwa penyesalan harus disampaikan kepada Tuhan dan jangan mengulanginya lagi !

 

Penyesalan tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan pertobatan yang benar.
April 21, 2020, 06:42:45 AM
Reply #1816
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26102
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=1863&lang=id


21
Apr
Renungan Harian
Jangan Gila Harta

Matius 27:1-10; Amsal 17:16

”Itulah sebabnya tanah itu sampai pada hari ini disebut Tanah Darah.”

(Matius 27:8)

 

Banyak orang yang ingin cepat kaya. Banyak cara yang ditempuh tanpa memikirkan akibatnya. Yang penting cepat kaya!

Jika kita melihat tayangan yang ada di televisi akhir-akhir ini, sungguh sangat membuat kita prihatin. Hanya ingin semua kebutuhannya terpenuhi seorang harus melakukan yang jahat di mata Allah. Dengan bertindak curang atau menjual sesuatu yang sudah tidak layak untuk dikonsumsi, seseorang tega melakukannya.

Ada cerita klasik. Karena hanya ingin mendapatkan kekayaan seorang merelakan anaknya menjadi tumbal. Ini adalah kekejian di mata Allah. Allah Bapa tidak pernah menyuruh kita untuk mengorbankan anak-anak kita sebagai budak di alam lain. Alangkah kejamnya manusia itu! Binatang saja tidak pernah memakan anak-anak mereka, tetapi mengapa manusia yang katanya makhluk paling mulia itu melakukannya?

Sepertinya cerita ini tidak terjadi pada masa kini saja, tetapi dua ribu tahun yang lalu juga terjadi. Motivasinya sama, yakni hanya karena ingin memiliki banyak harta dan ia tega melakukan apa saja. Ingat, akar dari kejahatan adalah cinta akan uang (1 Timotius 6:10). Siapa sih yang tidak ingin uang? Pastilah setiap orang butuh uang. Tidak seorangpun yang tidak membutuhkannya. Namun janganlah kita menjadi hamba uang, seperti yang terjadi pada Yudas.

Di dalam Injil Yohanes 13:29 diceritakan Yudas menjadi bendahara yang tidak jujur dan sering menyalahgunakan uang kas yang dipercayakannya. Karena keinginannya yang tidak bisa ia redam dan kuasai, maka ia melakukan apa saja untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin bagi dirinya sendiri. Sehingga suatu saat ia membuka celah untuk iblis merasukinya dan memikat serta menyeretnya untuk menyerahkan Yesus kepada imam-imam dengan imbalan 30 keping perak.

Mulanya memang yang dilakukannya adalah mencuri kas kecil-kecilan, tetapi setelah itu tentunya dia tergiur untuk mendapatkan uang lebih besar lagi. Dan terbukti memang dia melakukan dengan jalan menjual Yesus.

 

Renungan :

Jangan menjadi hamba uang. Cukupkanlah diri kita dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita.

 

Uang memang diperlukan, tetapi jangan menjadikannya tuan.



April 22, 2020, 12:31:29 PM
Reply #1817
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26102
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=1864&lang=id


22
Apr
Renungan Harian
Terbawa Arus

Matius 27:11-26; Yeremia 26:15

Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata : "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!"

(Matius 27:24)

 

Konspirasi untuk membunuh Yesus sudah banyak terjadi, sejak la memulai pelayanan di bumi. Banyak cara yang telah disusun untuk menghabisi Yesus, mulai dari cara yang halus sampai kasar. Dimulai dari masalah menyembuhkan orang yang sakit di hari sabat sampai membayar kewajiban kepada kaisar dan pemerintah. Setelah semua tidak bisa mereka buktikan maka mereka mencari jalan lain untuk menjerat Yesus, hingga akhirnya melalui Yudas Iskariotlah semua konspirasi berjalan mulus. Tetapi sebenarnya semua sudah diatur supaya nama Allah Bapa dipermuliakan dalam anak-Nya yang tunggal.

Semua orang yang pernah menikmati kuasa dan pengajaran Tuhan Yesus seakan-akan tenggelam dalam kemarahan yang mereka sendiri tidak mengetahui akan sebenarnya terjadi. Mereka sekedar mengikuti arus. Mereka tidak memiliki pendirian pribadi. Keputusan mereka untuk menyalibkan Yesus sudah bulat. Keputusan mereka tidak bisa lagi ditawar, bahkan Pilatus pun tidak bisa memberikan keputusan, dia menyerahkan Yesus kepada keputusan para Imam dan ahli taurat serta banyak orang di situ yang telah menaruh dengki kepada Yesus. Tetapi ini semua harus terjadi supaya Yesus mati dan bangkit serta mendahului para murid-murid Tuhan menuju Galilea dan naik ke surga untuk menyediakan tempat bagi kita yang telah mengasihi DIA.

Maka dengan kesombongannya mereka menginginkan kematian Tuhan Yesus (ayat 25), mereka tidak pernah mengetahui apa yang sebenarnya mereka lakukan, mata dan hati nurani mereka tertutupi oleh selubung kebencian dan kedengkian yang bagi mereka adalah kepalsuan belaka. Tetapi setelah mereka melaksanakan proses penyambukan (penyiksaan) sampai penyaliban, mereka tetap meneriakkan kematian Yesus Kristus, tetapi setelah disalibkan dan terjadi gempa maka kepala pasukan itu bertobat sebab dia mengetahui kalau yang telah disalibkan itu adalah benar-benar anak Allah. Barulah mereka semua yang meneriaki kematianNya merasakan bahwa yang mereka salibkan itu benar-benar anak Allah, dan mereka telah melakukan kesalahan yang sangat amat besar, tetapi semuanya telah terjadi.

 

Renungan :

Arus yang membawa mereka untuk menyalibkan Tuhan Yesus Kristus telah terbukti, tetapi semua harus terjadi supaya seluruh umat manusia ditebus dari dosa.




April 23, 2020, 06:20:38 AM
Reply #1818
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26102
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=1865&lang=id


23
Apr
Renungan Harian
Mahkota Duri

Matius 27:27-31; Kejadian 3:18

Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!"

(Matius 27:29)

Banyak orang Kristen yang kurang menghayati penderitaan Kristus sebelum dan saat Dia meregang nyawa di kayu salib. Selama ini kita membaca kisah penderitaan-Nya hanya melalui tulisan atau film yang kurang seru memberitakan yang sebenarnya. Tetapi kalau kita pernah melihat film "Passion of The Christ” mungkin kita melihat film yang "lebih baik" dalam menggambarkan penderitaan Kristus daripada film-film sebelumnya. Tetapi apakah itu cukup? Belum! Penderitaan yang dialami Kristus tersebut sangat mengerikan dan melebihi segala daya imajinasi kita.

Sekarang kita lihat bagaimana sebelum disalibkan Yesus harus mengalami penghinaan secara luar biasa. Yesus diberi jubah ungu dan mahkota duri. Pemberian jubah ungu bertujuan untuk mengejek, karena pada jaman itu jubah ungu hanya dipakai oleh orang kaya, bangsawan, raja dsb (bandingkan Lukas 16:19). Sekalipun demikian, bagi Yesus ini juga merupakan penderitaan yang hebat. Pada waktu jubah ungu itu dipakaikan kepada-Nya, memang tidak apa-apa. Tetapi pada waktu jubah ungu itu dilepaskan, itu pasti sangat menyakitkan, karena jubah ungu itu sudah melekat pada luka-luka di tubuh Kristus.

Ada yang menganggap bahwa pemberian mahkota duri bertujuan untuk menyiksa, dan karenanya untuk membuat mahkota itu mereka menggunakan tanaman berduri panjang yang mencocok kepala Yesus. Ada juga yang menganggap bahwa ini hanya bertujuan mengejek, bukan untuk menyiksa, sehingga mereka membuat mahkota itu sedemikian rupa sehingga duri-durinya menghadap ke atas. Oke, alasan di atas memang tidak salah, tetapi ada alasan menarik lainnya. Kejadian 3:18 berbicara tentang semak dan duri yang berkaitan dengan kutukan manusia mula-mula. Dan Yesus mengenakan mahkota duri itu sebagai gambaran bahwa Dia telah menanggung kutukan tersebut. Yesus harus terkutuk supaya manusia dapat memiliki kembali kemuliaan yang telah diterimanya sebelum mereka jatuh di dalam dosa.

 

Renungan :

Inilah saatnya kita untuk menghargai pengorbanan Kristus. Yesus telah menebus kita dari kutukan dosa dan maut. Jadi jangan lagi memaksa Yesus menerima penderitaan yang kedua kalinya.

 

Renungkanlah pengorbanan Kristus supaya kita lebih dapat menghargainya.




April 24, 2020, 06:09:48 AM
Reply #1819
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26102
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=1866&lang=id


24
Apr
Renungan Harian
Pengejek

Matius 27:32-44; Ayub 30:9

Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata : "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel ? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.”

(Matius 27:41-42)

Orang-orang yang bersama dalam satu pelayanan belum tentu mendukung pelayanan itu dan orang-orang yang dianggap teman seperjuangan belum tentu tidak akan meninggalkan dan mengecewakan kita. Orang-orang Farisi, para ahli Taurat berusaha senantiasa ada saat-saat Yesus melakukan pelayanan Nya. Tetapi motivasi mereka hanya ingin menunggu kapan saat Yesus salah mengucapkan berbicara atau salah bertindak sehingga mereka segera mendapat kesempatan untuk menyerang Yesus.

Di dalam gereja juga ada para pengejek yang selalu mencela apa pun yang menjadi visi dan program gereja. Mereka tidak pernah dengan sungguh-sungguh ingin mendukung visi itu dan bahkan kalau visi dianggap gagal maka mereka akan menjadi orang pertama yang berujar, "Kata saya juga apa? Gereja tidak mau dengar sih..."

Apa buah pelayanan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan kalau sepanjang umur pelayanan yang kita lakukan hanya mencela dan mengejek? Kepuasan batin seperti apa yang kita dapatkan dengan cara pelayanan yang seperti itu? Seolah-olah kita puas kalau melihat gereja itu hancur berantakan berkeping-keping. Masihkah kita berharap sesuatu yang baik dari Tuhan sementara kita terus menerus tampil sebagai pengejek di dalam pelayanan? Tidakkah kita sadari bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dalam pelayanan itu bukanlah untuk kepentingan manusia (walaupun mungkin ada saja pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dari kemajuan satu pelayanan) melainkan untuk mengejar mahkota-mahkota dan kemuliaan yang lebih besar lagi dalam Kerajaan Sorga?

 

Renungan :

Pribadi yang suka mencela dan mengejek dalam gereja bukanlah sesuatu yang baik untuk diteladani. Pelayanan ini adalah milik Tuhan dan semua manusia yang melayani hanyalah alat di tangan Tuhan. Jadi, tinggalkanlah sifat kekanak-kanakan itu dan jadilah pribadi yang senantiasa ingin mendukung pelayanan pekerjaan Tuhan.

 

Menjadi seorang pendukung atau pengejek dalam pelayanan adalah sebuah pilihan yang akan menentukan ukuran kemuliaan Allah dalam hidup kita.




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)