Author Topic: Daily Devotional  (Read 54831 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

December 29, 2020, 06:36:14 AM
Reply #2050
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=2084&lang=id


28
Dec
Renungan Harian
Terang Dunia

Yohanes 8:12-20; Hosea 6:3

Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: ”Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

(Yohanes 8:12)

 

Dalam sebuah tempat yang sekelilingnya gelap-gulita, tidak ada cahaya atau terang sama sekali, maka orang-orang yang berada di dalam tempat itu pasti merasa kalut dan menjadi gelisah. Mereka merasa tidak dapat melihat apapun. Ke mana mereka melangkah, apa yang mereka perbuat dan lakukan seolah tidak ada tujuan, dan langkahnya tak berarti. Namun saat ada secercah saja sinar terang di situ, maka orang-orang tersebut secara tidak langsung akan merasakan kelegaan, karena mereka dapat melihat keadaan di sekitarnya. Seolah mereka yang pada awalnya serasa buta, kini dapat melihat kembali.

Hal yang sama terjadi dalam kehidupan kita. Dahulu, ketika kita belum mengenal sang Terang itu, yaitu Tuhan Yesus Kristus, hidup kita seakan-akan "dibutakan" oleh kegelapan. Kita melangkah dan berjalan, namun tidak memiliki arah dan tujuan. Kita menjalani hidup ini dengan asal-asalan, karena kita belum mengenal Dia. Apapun yang kita lakukan tidak ada artinya, karena mata rohani kita dibutakan oleh dunia ini. Namun saat mata rohani kita dibuka olehNya, sehingga kita layak untuk menerima Tuhan Yesus Kristus, maka kehidupan kita menjadi diterangi olehNya. Dalam perjalanan hidup kita yang sudah diperbaharui olehNya, kita memiliki arah tujuan yang pasti, yaitu menyenangkan hatiNya. Kita membawa terangNya dalam kehidupan kita. Saat kita membawa terangNya, maka yang nampak hanyalah kemuliaanNya yang semakin bersinar.

Setelah kita menerima Terang itu, hidup menjadi refleksi bagi terangNya itu. kita menjadi alat bagi Tuhan untuk memantulkan TerangNya itu. Lihalah betapa gelapnya dunia yang kita tempati ini. Siapakah yang akan menerangi mereka yang berada dalam kegelapan kalau bukan gereja Tuhan yang telah menjadi duta bagi Kristus?

 

Renungan :

Yesus memang Terang dunia. Kita selajutnya memancarkan kembali terang itu kepada dunia

 

Terang telah terbit dan gereja Tuhan adalah yang memantulkan Terang itu.








December 30, 2020, 05:36:45 AM
Reply #2051
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=2085&lang=id


29
Dec
Renungan Harian
Menuju Kematian

Yohanes 8:21-29; Ulangan 30:19

”Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.”

(Yohanes 8:24)

 

Berapa banyak orang yang bisa mengerti, bahwa dirinya sedang menuju pada kematian? Semua orang tahu tentang kematian. Tahukah kita mengenai kematian yang kekal? Tidak banyak orang yang tahu tentang kematian kekal itu. Alkitab berkata bahwa semua manusia menuju kepada kematian (Roma 6:21). Terdapat dua kematian. Kematian yang pertama adalah kematian secara jasmani, dan yang kedua adalah kematian kekal.

Yang pertama adalah kematian jasmani. Setiap orang hidup pasti mati nantinya. Itulah kematian yang pertama. Yang kedua adalah kematian kekal. Kematian untuk selama-lamanya, setelah semuanya berakhir dan ada penghakiman. Itulah kematian kedua, dan inilah kematian kekal (Wahyu 21:8).

Yesus berkata pada ayat di atas (Yohanes 8:24), bahwa kita semua akan mati dalam dosa kita. Dunia ini menuju kepada kebinasaan, yang diawali dari perbuatan penghuninya. Berapa banyak kita yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah diutus oleh Allah Bapa sebagai Juru Selamat bagi dunia? Artinya, barangsiapa percaya kepadaNya, maka pasti akan beroleh hidup. Hidup yang tidak sekedar hidup, akan tetapi benar-benar hidup yang kekal. Hidup yang dihidupi oleh Roh Allah. Seperti kata rasul Paulus: "Hidupku bukan aku lagi, tapi Yesus yang hidup dalamku” (Galatia 2:20) Begitulah pengakuan rasul Paulus.

Kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Memang, berita kematian di luar sana mengatakan, bahwa jika sudah mati, maka kita tidak memikirkan apa-apa lagi. Benar. Kematian menuju pada kehidupan atau menuju pada kematian yang kekal. Kematian yang menuju pada kehidupan adalah kematian yang bersama Tuhan Yesus (Roma 6:3-5, Wahyu 20:6). Itulah kematian yang membawa kepada hidup, yakni hidup bersama-sama dengan Yesus Kristus, Tuhan kita. Sedangkan kematian kekal dialami oleh orang yang mati secara jasmani dan pada penghakiman terakhir nanti juga akan mengalami kematian yang kedua, yaitu kematian kekal (lbrani 10:27).

 

Renungan :

Berita kematian itu tidaklah menjadi bagian yang harus ditakuti. Sebab ada jalan keluarnya. Yesus telah menyatakan diri tentang hidup. Sebab barangsiapa yang percaya di dalam Yesus Kristus, maka dia tidak akan mati, tetapi pasti mendapatkan hidup, dan hidup yang dari Yesus Kristus adalah hidup yang kekal (Yohanes 3:15, Yohanes 14:6, Yohanes 11:25).

 

Kematian bagi orang percaya adalah keberangkatan menuju kekekalan bersama Kristus.







December 31, 2020, 05:33:58 AM
Reply #2052
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=2086&lang=id



30
Dec
Renungan Harian
Kristen Indekos

Yohanes 8:30-36; Amsal 4:18

Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.

(Yohanes 8:34-35)

Orang yang telah menerima keselamatan di dalam Tuhan akan tetap selamat. Namun, manusia juga diberi kehendak bebas oleh Tuhan untuk menentukan, apakah tetap di jalan keselamatan, atau menyiakan-nyiakan keselamatan yang telah diperolehnya. Cara untuk tetap berada di jalan keselamatan adalah, dengan tidak berbuat dosa lagi.

Pemahaman untuk tidak berbuat dosa lagi, seringkali ditafsirkan secara kurang tepat oleh sebagian orang. Mereka mengidentikkan berbuat dosa dengan hukum: boleh atau tidak boleh dan halal atau haram. Misalnya, mereka bertanya, boleh tidak merokok? Boleh tidak minum bir? Boleh tidak menonton film ke bioskop?

Kekristenan adalah hubungan (relationship). Keintiman hubungan seseorang dengan Tuhan, akan membawa yang bersangkutan kepada kekudusan yang semakin berkualitas. Keintiman hubungan itu didapatkan, bila kita berada di dalam hadiratNya. HadiratNya hadir di saat kita berkomunikasi dengan Dia di dalam doa, pujian dan penyembahan.

Jadi, yang terpenting bukan dalil-dalil hukum, ketika kita berbicara tentang kekudusan. Bahkan, kecenderungan yang ada di dalam diri manusia adalah, semakin dilarang, akan semakin penasaran. Semakin dia berpikir untuk tidak boleh melakukan, semakin dia tergoda untuk melakukannya. Contoh sederhana, pada saat tidak berpuasa, mungkin kita terbiasa melewati pagi hari tanpa sempat sarapan. Tetapi, begitu kita berniat untuk berpuasa, baru jam enam pagi, mungkin perut sudah keroncongan luar biasa. Ya itulah, kekuatan dosa di dalam pikiran.

Orang yang berbuat dosa, dia menjadi hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal di dalam rumah tuannya. Satu saat dia akan keluar. Hanya anak yang tinggal selamanya di rumah Bapa. Untuk dapat melawan dosa, tidak bisa dilakukan dengan kekuatan pikiran. Gunakan kekuatan roh. Di saat roh kita senantiasa berpadu dengan ROH KUDUS, maka kita menjadi orang Kristen yang tidak bisa berbuat dosa.

Mengapa ada orang Kristen indekos? Sebentar merdeka, sebentar jadi hamba dosa lagi? Ya, karena dia tidak tetap dalam hadirat Tuhan. Coba dia senantiasa hidup dalam keintiman dengan Tuhan. Pasti lain ceritanya. Jangan jadi Kristen indekos!

 

Renungan :

Kekuatan pikiran sangat terbatas untuk melawan dosa. Aktifkan senantiasa kuasa ROH KUDUS di dalam diri kita. Dia adalah kekuatan dahsyat yang dapat membawa kita muak dengan dosa.

 

Dosa tidak dapat dilawan dengan kekuatan pikiran; lawanlah dengan kekuatan ROH KUDUS.







January 02, 2021, 05:20:46 AM
Reply #2053
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=2087&lang=id


01
Jan
Renungan Harian
Kenal Sungguh - Sungguh

Yohanes 8:48-59; Hosea 6:3

Jawab Yesus : "Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. . . ”

(Yohanes 8:54-55)

 

Ketika seseorang percaya diperhadapkan pada satu pertanyaan, "Apakah engkau mengetahui Dia, sang Juru Selamat itu?” Maka biasanya jawaban orang tersebut adalah, "Tentu saja saya mengenalNya. Saya sudah dibaptis dalam namaNya kok.” Jawaban tersebut seringkali kita dengar. Namun saat seseorang diberikan pertanyaan yang mirip dengan pertanyaan yang sama, yaitu, “Apakah engkau mengenal Dia, sang Juru Selamat itu?” Mungkin dari sekian banyak orang percaya, ada beberapa yang hanya mengetahui Tuhan Yesus, namun tidak benar-benar mengenalNya.

Jika seseorang hanya mengetahui Tuhan Yesus, tanpa mengenalNya lebih dalam, maka seseorang tersebut tidak bertemu dan mengalami kasihNya yang sungguh besar itu. Maksud dari kata mengalami Tuhan Yesus sendiri adalah perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus dan memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan Yesus. Seperti halnya Tuhan Yesus yang dimuliakan oleh BapaNya, demikian juga dengan kita dengan bertemu dengan Tuhan Yesus tersebut, setiap perbuatan kita akan membawa kemuliaan bagi Bapa kita, bukan kemuliaan kita sendiri.

Kemuliaan Bapa yang melebihi dari segala sesuatu itulah yang bercahaya, bukan kemuliaan kita. Oleh karena itu mari kita memperbaharui hubungan kita dengan Bapa kita. Kita yang hanya mendengar nama Tuhan Yesus hanya dari perkataan orang-orang, mari kita memulai mengenal pribadiNya yang penuh dengan kemuliaan itu, sehingga saat kita mengalamiNya, hal itu akan membawa kita pada kemenangan demi kemenangan.

Nabi Hosea berkata seperti ini, "Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; la pasti muncul seperti fajar, la akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi” (Hosea 6:3). Saat kita menjad haus akan perkara-perkara ilahi, Tuhan akan bereaksi cepat untuk memberikan kepuasan kepada rohani kita yang lapar tersebut.

 

Renungan :

Menjadi orang Kristen itu tanpa mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh adalah perkara yang sia-sia. Jadi pastikanlah bahwa kita bukanlah Kristen KTP saja.

 

Kekristenan tanpa pengenalan terhadap Kristus adalah bualan.







January 05, 2021, 05:47:50 AM
Reply #2054
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=2090&lang=id


04
Jan
Renungan Harian
Mendengarkan

Yohanes 10:22-39; 1 Samuel 15:22

”Domba-dombaKu mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.”

(Yohanes 10:27-28)

 

Betapa sulitnya untuk dapat mendengarkan. Perbandingannya adalah, memberi korban persembahan lebih mudah daripada mendengarkan. Tetapi bagi Tuhan, mendengarkan lebih baik daripada berkorban. Karena, mendengarkan adalah langkah awal menuju ketaatan bahkan identik dengan ketaatan.

Beberapa contoh yang terjadi di dalam gereja, tentang sulitnya untuk dapat mendengarkan. Misalnya, kelompok jemaat yang mempunyai kemampuan di bidang keuangan. Sebagian diantara mereka, biasanya ingin melayani tetapi tidak bisa menerima instruksi. Yang terjadi adalah, mereka melayani dengan cara mereka sendiri. Dan kalau ditegur, biasanya langsung tersinggung dan sakit hati. Pada puncaknya, mereka mengundurkan diri dari pelayanan.

Ada lagi yang ingin menerima mujizat dari Tuhan tetapi tidak mau mendengarkan Firman Tuhan. Yang terjadi adalah, mereka datang di awal ibadah untuk mengambil nomor antrian. Lho, antrian apa? Ya, antrian untuk didoakan oleh si Hamba Tuhan selesai kotbah nanti. Tetapi setelah dapat nomor antrian, mereka langsung pergi. Jemput anak ke sekolah, belanja ke pasar, urusan bank dan sebagainya. Ketika hampir tiba waktunya mau altar call, mereka datang lagi ke persekutuan itu dan siap-siap menunggu giliran nomor antriannya. Wah..model baru nih.

Yesus banyak melakukan pekerjaan baik di antara orang Israel. Tetapi orang Israel malah melempariNya dengan batu. Mereka bahkan menuduh Yesus menghujat Allah, karena Dia menyamakan diriNya sebagai Allah. Apakah Yesus berbohong ketika menyebut diriNya sebagai anak Allah? Tentu tidak. Tetapi orang Israel bahkan semakin marah dan hendak menangkap Yesus. Mengapa? Ya, karena mereka tidak mengerti isi kitab Taurat. Betapa sederhananya mendengarkan itu. Dan, betapa fatal akibat dari tidak mau mendengarkan. Bahkan iman kita tidak akan pernah bertumbuh, kalau tidak mau mendengarkan Firman Tuhan. Jadi, mendengarkan itu ternyata penting sangat penting.

 

Renungan :

Banyak orang ke gereja atau ke persekutuan, hanya ingin melihat dan mengalami mujizat. Tetapi mereka tidak mau mendengarkan Firman Tuhan. Jadilah mereka Kristen yang gampang goyah dan mudah rontok imannya.

 

Mampu mendengarkan Firman Tuhan adalah langkah awal untuk mentaatinya.







January 07, 2021, 05:52:15 AM
Reply #2055
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=2091&lang=id


06
Jan
Renungan Harian
Sindrome Lazarus

Yohanes 11:1-44; Yesaya 52:7

Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka : ”Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.”

(Yohanes 11:44)

 

Tahukah sauadara apakah itu sindrome Lazarus? Jika kita telah menerima kebaikan Tuhan dan mengecap segala karuniaNya, namun kita pelit untuk menceritakannya, maka itulah yang dinamakan dengan "sindrome Lazarus."

Sebab kita tahu ketika Lazarus dibangkitkan Tuhan, ternyata itu tidak ada kelanjutan yang menyatakan bahwa Lazarus bangkit dengan semangat menyala-nyala untuk menceritakan kisahnya itu. Dan kisah Lazarus itu berhenti hanya sampai di pasal 12! Tahukah saudara apa "prestasi” terakhir Lazarus di ayat 12 itu? Makan bersama! Tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan!

Betapa menyedihkan ketika sindrome semacam ini mewabah ke dalam gereja Tuhan. Kita menjadi pengikut setia sebuah gereja tetapi tidak menjadi pengikut setia Yesus. Kita begitu semangat kalau dihimbau untuk pergi ke gereja, atau menghadapi acara syukuran, tetapi kita mengabaikan tugas dari Tuhan kita, yakni menceritakan kebaikan Tuhan kepada orang lain.

Tetapi mengapa kita begitu bergairah menjadi seorang salesman? kita tidak pernah capek mencari pelanggan baru dan kita dengan semangat membara memberitakan keunggulan-keunggulan produk-produk yang kita tawarkan ? Oh ya karena kita dikejar target. Kita tidak mau melihat wajah bos kita menyeringai sambil menunjukkan "taringnya" kepada kita ketika melihat laporan kita yang tidak memuaskan hatinya.

Memberitakan Injil bukanlah sebuah pilihan, tetapi itulah amanat agung Sang Juru Selamat kita, Yesus Kristus. Sayang, kita kadang bertindak seolah-olah tidak tahu dengan perintah ini. Lihatlah akibat ulah gereja yang masa bodoh dengan tugas ini, ribuan bahkan jutaan manusia terjungkal ke dalam panasnya api neraka. Oh ya, tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus! Gereja harus bertindak radikal untuk urusan yang satu ini.

Seharusnya kita dijangkiti sindrome "perempuan Samaria". Sindrome apa pula ini? Dalam Yohanes Pasal 4 dijelaskan pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria di tepi sumur di daerah Samaria. Setelah pertemuan yang mengubahkan hidupnya itu, perempuan tersebut pergi memberitakan hal ini. Akibatnya? Banyak orang Samaria itu percaya karena perkataan perempuan itu (Yohanes 4:39).

 

Renungan :

Kita sedang "dijangkiti” sindrome apa? Kalau kita tidak mau membuka mulut dan menceritakan kebaikan Tuhan, kita divonis terkena SINDROME LAZARUS!

 

Gereja yang sehat akan senantiasa memberitakan kabar keselamatan.








January 08, 2021, 06:16:48 AM
Reply #2056
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=2092&lang=id


07
Jan
Renungan Harian
Belajar Seperti Kristus

Yohanes 11:45-57; Yesaya 33:22

”Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata : Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. . . . . Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.”

(Yohanes 11:47, 53)

Tuhan adalah hakim yang adil. Setiap kali kita disakiti dan diperlakukan tidak adil, pasti keadilan Allah akan ditegakkan. Itu sebabnya, ketika kita merasa disakiti dan diperlakukan tidak adil, Tuhan lebih tertarik melihat reaksi kita, daripada ketidakadilan itu sendiri. Masalah keadilan, itu adalah hak Tuhan untuk melakukannya. Tetapi masalah reaksi terhadap ketidakadilan, itu adalah hak kita untuk menyikapinya.

Problem yang sesungguhnya, sebenarnya tidak berasal dari luar diri kita. Problem tidak berasal dari apa yang dikatakan atau dilakukan orang terhadap kita. Problem berasal dari dalam, dari hati dan pikiran manusia. Dari, bagaimana reaksi kita menghadapi penolakan dan omongan yang menyakitkan perasaan.

Problemnya adalah, kita tidak cukup kuat untuk tidak bereaksi terhadap tindakan yang tidak bersahabat itu. Hal ini tidak bermaksud, bahwa kita harus menjadi manusia robot yang tidak berperasaan. Tetapi, bagaimana kita meresponinya dengan cara seperti yang Tuhan inginkan.

Seseorang yang memiliki buah ROH KUDUS di dalam dirinya, akan menggunakan kesempatan itu, untuk menghasilkan buah ROH KUDUS. Bagaimana kita menghadapinya dengan kasih, sukacita, panjang sabar, kelemahlembutan, penguasaan diri, dan sebagainya. Itu adalah PR yang senantiasa harus dikerjakan sepanjang hidup ini.

Seringkali kita menyanyikan lagu, “Ku mau seperti Mu Yesus, disempurnakan selalu". Tahukah saudara, bahwa perlakuan tidak menyenangkan yang dilakukan orang lain terhadap diri kita adalah bagian dari proses untuk menjadi seperti Yesus ? Yesus dimusuhi oleh sebagian besar tokoh masyarakat dan pemuka agama. Mereka bahkan bersepakat hendak membunuh Yesus. Bagaimana reaksi Yesus menghadapinya? Yesus memilih menghindar dan pergi ke Efraim.

 

Renungan :

Manusia batiniah akan memunculkan sikap, melabrak dan meminta pertanggungjawaban, ketika diperlakukan secara tidak menyenangkan. Manusia rohaniah yang dipimpin ROH KUDUS, akan menyerahkan semuanya pada keadilan Tuhan. Akhirnya, kita dibentuk menjadi seperti Yesus.

 

Penguasaan diri timbul dari sikap yang senantiasa berusaha memunculkan karakter Kristus.







January 10, 2021, 05:34:55 AM
Reply #2057
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=2093&lang=id


09
Jan
Renungan Harian
Iri Hati

Yohanes 12:9-11; Amsal 14:30

Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga,

sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.

(Yohanes 12:10-11)

 

Saudara kekasih dalam Tuhan, kadang kita sering iri hati kepada orang lain yang begitu beruntung, sementara kita merasa kita tidak. Kita melihat ada sebagian orang-orang begitu diberkati. Sedangkan kita merasa kurang diberkati. Pada hal kita sudah usaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan berkat itu. Namun tidak semudah sebagian orang. Mereka begitu mujur dan beruntung. Sangat mudah dan tidak terlalu bersusah payah.

Tetapi kita sebagai anak Allah janganlah kita seperti imam-imam kepala yang bermufakat untuk membunuh Lazarus karena banyak orang Yahudi yang percaya kepada Yesus dan meninggalkan mereka. Janganlah kita iri akan keberhasilan orang lain. Sehingga dengan menghalalkan segala cara kita tempuh untuk menjatuhkan orang yang lebih berhasil daripada kita. Sebab kata Yakobus, "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam pebuatan jahat (Yakobus 3:16).

Saudara janganlah kita mempunyai perasaan iri hati kepada orang lain yang lebih sukses daripada kita. Jika kita menaruh perasaan iri hati dan ditambah kita mementingkan diri sendiri, itu bukan berasal dari Allah, tetapi berasal dari dunia, dari nafsu manusia, dan dari setan-setan (Yakobus 3:14-15). Dari manakah datangnya sengketa dan petengkaran? Bukankah datangnya dari hawa nafsu kita. Kita mengingini sesuatu, tetapi kita tidak memperoleh, lalu kita membunuh, kita iri hati. Tidakkah kita tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yakobus 4:1-2a, 4)

Apakah kita sebagai Anak Allah, umat tebusanNya akan terus menerus menuruti hawa nafsu kita dan bersahabat dengan dunia yaitu iri hati kepada orang lain. Marilah kita merendahkan diri kita di hadapan Tuhan, maka Ia akan meninggikan kita. Jangan pernah iri terhadap kesuksesan orang lain. Karena kita punya kesuksesan kita sendiri yang sudah diatur oleh Tuhan. Oleh karena itu milikilah hikmat yang dari atas sebab hikmat dari atas itu pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. (Yakobus 3 : 17 ). Itulah buah dari orang yang suka hidup damai.

 

Renungan :

Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun. Sebab Firman Tuhan berkata berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Matius 5:9).

 

Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan.







January 12, 2021, 10:28:51 AM
Reply #2058
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=2094&lang=id


11
Jan
Renungan Harian
Cari Selamat

Yohanes 12:20-36; Yesaya 53:3

Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.  . . . "

(Yohanes 12:27-28)

Sebuah majalah rohani pernah mengadakan survei dengan responden para mahasiswa, dari berbagai perguruan tinggi theologia. Hasil survei ternyata cukup mengejutkan. Karena, sebagian besar responden ternyata lebih memilih menjadi guru dan pegawai setelah lulus nanti daripada menjadi seorang Hamba Tuhan. 

Sebuah survei lainnya menunjukkan bahwa, sebagian besar siswa Sekolah Alkitab lebih menjadikan kota-kota besar sebagai tempat impiannya untuk melayani Tuhan setelah lulus nanti. Hanya sedikit sekali yang ingin melayani di desa-desa. Bahkan siswa yang berasal dari desa pun kurang tertarik untuk kembali melayani di desa. 

Pengamatan dari beberapa kasus yang terjadi di berbagai gereja menunjukkan, bahwa jemaat dan para pengerjanya akan cenderung meninggalkan gereja yang dianggap sudah mulai goyah, daripada bersatupadu untuk mempertahankannya. Mereka beranggapan, lebih baik melompat menyelamatkan diri, ketika kapal sudah mulai karam diterpa ombak. 

Dimuliakan di bumi dan mendapatkan mahkota di Sorga. Wow...semua orang percaya pasti menginginkan hal tersebut. Namun ternyata, tidak banyak orang yang siap membayar harga untuk kemuliaan tersebut. Kebanyakan calon penerima kemuliaan dan mahkota, cenderung menyelamatkan diri, justru ketika ujian terhadap calon penerima kemuliaan itu baru akan dimulai.

Kemuliaan selalu berkaitan erat dengan tanggungjawab. Orang yang selalu mau mencari selamat untuk diri sendiri, cenderung tidak bertanggungjawab. Dia akan menyalahkan orang lain untuk setiap kegagalan. Sebaliknya, dia selalu mengingatkan orang akan peran dirinya untuk setiap keberhasilan. Manusia mungkin bisa dikelabui. Tapi bisakah kita mengelabui Tuhan?

 

Renungan :

Tanggungjawab adalah harga yang pantas untuk setiap kemuliaan yang diinginkan. Jangan mimpi mendapat kemuliaan, jika hanya mencari selamat saja tanpa tanggungjawab.

 

Orang-orang yang suka mencari selamat untuk diri sendiri bukanlah penerima kemuliaan yang utama di bumi dan di surga.






January 13, 2021, 06:51:53 AM
Reply #2059
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_newscat=2&lang=id

https://bethanygraha.org/id/renungan.php?id_news=2096&lang=id

12
Jan
Renungan Harian
Cari Kehormatan Allah

Yohanes 12:37-43; 1 Samuel 15:24

”Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah.”

(Yohanes 12:43)

Sekarang ini banyak manusia mencari ketenaran dengan segala cara untuk mencari kehormatan mereka masing-masing. Para pejabat berkampanye untuk menduduki suatu jabatan, yang mereka pikir, dengan menyandang jabatan tertentu mereka akan memiliki suatu kebanggaan di hadapan orang lain. Di sisi yang lain, para artis yang mulai turun pamornya, mulai membuat sensasi agar disorot oleh media, sehingga mereka bisa terkenal lagi, meskipun publikasi media itu menyorot hal-hal yang tidak sepatutnya disorot oleh khalayak umum. Segala cara mereka halalkan untuk mendapatkan kehormatan di hadapan manusia, bahkan cara yang keji pun mereka lakukan demi mendapat pujian dan kehormatan manusia lainnya. Mereka lebih memilih untuk mengorbankan kehormatan mereka di hadapan Tuhan Yesus.

Ketika diperhadapkan pada pilihan, apakah kita akan memilih kehormatan di hadapan manusia atau kehormatan di hadapan Allah, tentunya akan ada banyak pertimbangan bagi mereka yang merasa bimbang. Faktor ketenaran di hadapan manusia lebih dominan bagi mereka. Mereka tidak memikirkan bahwa segala upaya mereka ini menyakitkan hati Tuhan. Pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib dianggap sepele oleh mereka.

Saudara, jika ada di antara kita yang mulai menempatkan kehormatan manusia di atas segalanya, bertobatlah! Kita memang cenderung senang menerima kehormatan dari manusia, tetapi kita mengabaikan kehormatan Allah. Itu artinya meskipun perbuatan kita tidak berkenan kepada Tuhan, tetapi kita tetap lakukan, asalkan kita berkenan di hadapan manusia. Seperti Saul. Ketika Tuhan memerintahkan untuk menumpas semua orang Amalek dan segala yang hidup, ia menyisakan rajanya dan ternak-ternaknya yang baik. Alasannya, ia takut kepada rakyat (1 Samuel 15:24). Demi kehormatan diri ia mengorbankan perintah Tuhan.

 

Renungan :

Kalau kita mau berkenan kepada Tuhan, carilah hormat di hadapan Tuhan. Artinya, lakukan perbuatan seperti yang Tuhan inginkan. Apa artinya kita mendapatkan pujian di hadapan manusia kalau hidup kita tidak berkenan di hadapan Tuhan ?

 

Carilah kehormatan Allah, supaya hidup kita selalu dikenan.









 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)