Author Topic: [SPIRITUALITY] Meditasi Yesus - Doa Batin Yang Berakar Dalam Tradisi Gereja  (Read 16513 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 15, 2015, 11:04:30 PM
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 725
  • Gender: Male
    • Meditasi Yesus
  • Denominasi: Katolik
Pengantar

Pada kesempatan ini saya  ingin membagikan sebuah doa batin yang semangatnya berakar dalam tradisi Gereja, yaitu Meditasi Yesus. Saya percaya bahwa bentuk doa ini sangat umum, tidak hanya dapat dipraktekkan oleh teman-teman yang beragama Katolik, tapi juga semua pengikut Kristus lainnya. Karena tujuan topik ini untuk membagikan pengetahuan rohani, maka saya berharap tanggapan yang ada sejalan dengan semangat itu, bukan berupa perdebatan atau polemik. Meskipun demikian, bukan hak saya untuk membatasi tanggapan ataupun komentar apapun dari anggota forum yang lain.

Semoga bermanfaat.
-------------------------------------------------------

Keheningan Yang Langka

Sekarang ini kita sulit membedakan antara pergi untuk beribadah kepada Tuhan di gereja dan pergi untuk menghadiri pesta rakyat atau pertemuan sosial. Sudah sangat umum kita melihat ada banyak sorak sorai, tepuk tangan, dan kegaduhan-kegaduhan lainnya di dalam gereja. Bahkan juga ada hiburan musik yang meriah dan tari-tarian, seperti dalam sebuah konser, yang menjadi bagian dari perayaan liturgi. Dan setelah menghadiri semua itu banyak orang yang sudah merasa telah memenuhi kewajibannya untuk berbakti pada Tuhan sebagai seorang pengikut Kristus. Tapi bagi sebagian orang yang lain, perayaan liturgi dengan semangat yang semakin profan semacam ini menyisakan kekosongan dan dahaga spiritual yang tak terpuaskan.

Apakah kita sudah melupakan cara berdoa yang diajarkan Tuhan sendiri? Tuhan mengajarkan kita untuk masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu untuk bertemu dengan Tuhan di tempat yang tersembunyi (Mat. 6:6). Dengan kata lain Tuhan mengajarkan kita untuk berdoa dalam keheningan batin, bukan dalam kegaduhan dan sorak-sorai yang meriah. Lalu dimana keheningan itu sekarang? Bahkan di gereja sekalipun saat ini kita sudah sulit menemukannya.

Ada ungkapan "Lex Orandi Lex Credendi", cara kita berdoa mempengaruhi kualitas iman kita. Ketika kita kehilangan keheningan dalam berdoa maka kualitas iman kita juga menjadi pudar. Hidup kita kehilangan kekuatan rohaninya dan menjadi kering, Kita membaca Kitab Suci, namun tidak mengerti maknanya. Kita mengetahui ajaran Yesus namun tidak memahami maksudnya dan tidak mampu menjalankannya. Kita memuji Tuhan dengan bibir namun hati kita semakin jauh dari Tuhan.

Gereja tidak muncul begitu saja di abad ini, melainkan berasal dari suatu tradisi panjang selama berabad-abad. Jika di gereja saat ini kita kesulitan menemukan semangat doa dalam keheningan, kita dapat berpaling dan belajar pada tradisi gereja. Disanalah terdapat kekayaan doa batin yang menjadi sumber kekuatan rohani Gereja yang sesungguhnya.


to be continued....#6
« Last Edit: January 22, 2015, 03:36:25 AM by MentalRevo »
Tuhan hanya mendirikan SATU GEREJA, SEKALI untuk SELAMANYA, dan hanya menunjuk Petrus sebagai pemimpinnya, SEKALI untuk SETERUSNYA. Apa yang sudah ditetapkan oleh Tuhan tidak dapat diubah oleh manusia.
January 16, 2015, 02:41:13 AM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2373
  • Denominasi: Trinitarian Non Denominasi !!
Pengantar

Pada kesempatan ini saya  ingin membagikan sebuah doa batin yang semangatnya berakar dalam tradisi Gereja, yaitu Meditasi Yesus. Saya percaya bahwa bentuk doa ini sangat umum, tidak hanya dapat dipraktekkan oleh teman-teman yang beragama Katolik, tapi juga semua pengikut Kristus lainnya. Karena tujuan topik ini untuk membagikan pengetahuan rohani, maka saya berharap tanggapan yang ada sejalan dengan semangat itu, bukan berupa perdebatan atau polemik. Meskipun demikian, bukan hak saya untuk membatasi  tanggapan ataupun komentar apapun dari anggota forum yang lain.
Semua Sharing /  membagikan pengetahuan rohani, selayaknya INDAH karena gunanya kita "berjema'at adalah agar saling nengingatkan dan menambah Hikmat Alkitabiah kita  !" (Salah satu Surat Rasul Paulus) 
Diskusi yg Baik tidak akan menjadi suatu perdebatan atau polemik bila didalamnya menggunakan "banyak mendengar (+menyimak) (dua telinga) dan sedikit berbicara (satu mulut)" dengan semangat membangun rohani sehingga diperlukan Kelapangan Hati untuk memperbaiki apa yg  SALAH, menambah apa yg  KURANG dan membagikan apa yg LEBIH !
Tak seorang pun sempurna. Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.
Quote
Semoga bermanfaat.

 Harus pak, Bila seseorang bisa memilih Ambilah yg Baik dan memilah "memisahkan" apa yg Buruk !
-------------------------------------------------------

Quote
Keheningan Yang Langka

Sekarang ini kita sulit membedakan antara pergi untuk beribadah kepada Tuhan di gereja dan pergi untuk menghadiri pesta rakyat atau pertemuan sosial.
Sudah sangat umum kita melihat ada banyak sorak sorai, tepuk tangan, dan kegaduhan-kegaduhan lainnya di dalam gereja. Bahkan juga ada hiburan musik yang meriah dan tari-tarian, seperti dalam sebuah konser, yang menjadi bagian dari perayaan liturgi. Dan setelah menghadiri semua itu banyak orang yang sudah merasa telah memenuhi kewajibannya untuk berbakti pada Tuhan sebagai seorang pengikut Kristus. Tapi bagi sebagian orang yang lain, perayaan liturgi dengan semangat yang semakin profan semacam ini menyisakan kekosongan dan dahaga spiritual yang tak terpuaskan.

Apakah kita sudah melupakan cara yang berdoa yang diajarkan Tuhan sendiri? Tuhan mengajarkan kita untuk masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu untuk bertemu dengan Tuhan di tempat yang tersembunyi (Mat. 6:6). Dengan kata lain Tuhan mengajarkan kita untuk berdoa dalam keheningan batin, bukan dalam kegaduhan dan sorak-sorai yang meriah. Lalu dimana keheningan itu sekarang? Bahkan di gereja sekalipun saat ini kita sudah sulit menemukannya. (???)

Ada ungkapan "Lex Orandi Lex Credendi", cara kita berdoa mempengaruhi kualitas iman kita. Ketika kita kehilangan keheningan dalam berdoa maka kualitas iman kita juga menjadi pudar. Hidup kita kehilangan kekuatan rohaninya dan menjadi kering, Kita membaca Kitab Suci, namun tidak mengerti maknanya. Kita mengetahui ajaran Yesus namun tidak memahami maksudnya dan tidak mampu menjalankannya. Kita memuji Tuhan dalam bibir namun hati kita semakin jauh dari Tuhan.

Gereja tidak muncul begitu saja di abad ini, melainkan berasal dari suatu tradisi panjang selama berabad-abad. Jika di gereja saat ini kita kesulitan menemukan semangat doa dalam keheningan, kita dapat berpaling dan belajar pada tradisi gereja. Disanalah terdapat kekayaan doa batin yang menjadi sumber kekuatan rohani Gereja yang sesungguhnya.
to be continued....
Karena masih to be continued...., belum saya SHARING atas Pengajaran dan Pelajaran ini .... HANYA saya melihat TS tidak bisa membedakan antara Berdoa dan Beribadah makanya banyak Argumen diatas yg salah  tempat ! Pernahkah  anda melihat ada Doa yg GADUH dan sorak-sorai, yg ADA adalah Ibadah yg merangsang Emosional makanya timbul Sukacita/Keharuan dalam ekspresi Tepuk Tangan / Haru menetes air mata !
Ditunggu kelanjutannya, pak ! :coolsmiley: :happy0062:
« Last Edit: January 16, 2015, 04:09:55 AM by octafalto »
January 16, 2015, 04:09:12 AM
Reply #2
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 725
  • Gender: Male
    • Meditasi Yesus
  • Denominasi: Katolik
... HANYA saya melihat TS tidak bisa membedakan antara Berdoa dan Beribadah makanya banyak Argumen diatas yg salah  tempat ! Pernahkah  anda melihat ada Doa yg GADUH dan sorak-sorai, yg ADA adalah Ibadah yg merangsang Emosional makanya timbul Sukacita/Keharuan dalam ekspresi Tepuk Tangan / Haru menetes air mata !
Ditunggu kelanjutannya, pak ! :coolsmiley: :happy0062:
Tentu ada bedanya.
Tapi dari cara ibadah kita bisa melihat apakah keheningan itu masih dihargai ataukah tidak.

Sebagai contoh kita bisa melihat perbedaan antara misa latin dengan misa novus ordo karismatik. Disitu terlihat mana yang masih menghargai keheningan dan mana yang kurang.
« Last Edit: January 16, 2015, 04:16:27 AM by MentalRevo »
Tuhan hanya mendirikan SATU GEREJA, SEKALI untuk SELAMANYA, dan hanya menunjuk Petrus sebagai pemimpinnya, SEKALI untuk SETERUSNYA. Apa yang sudah ditetapkan oleh Tuhan tidak dapat diubah oleh manusia.
January 16, 2015, 04:37:36 AM
Reply #3
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2373
  • Denominasi: Trinitarian Non Denominasi !!
Tentu ada bedanya.
Tapi dari cara ibadah kita bisa melihat apakah keheningan itu masih dihargai ataukah tidak.
Apakah anda tidak pernah membaca Mazmur Daud disana tertulis ..... Nyanyikanlah Pujian dengan sorak sorai dan gunakalah Gambus serta Kecapi dalam melakukan Ibadah di Bait Allah
Selama anda bisa LARUT dalam Situasi Emosional maka anda akan bisa menghayati Ibadah jenis  Nyanyikanlah Pujian dengan sorak sorai dan gunakalah Gambus serta Kecapi dalam melakukan Ibadah di Bait Allah nah baru pada saat BERDOA dengan  Kalimat2 Bebas yg tidak di ulang2 , ya timbulkan Keheningan, Chidmat dan rasa Hormat pada Yang Maha Tinggi itu, dong !
LIHAT semua Ibadah itu dalam Keheningan Batin dan dengan mata rohani maka baru kita mampu menghayati Jenis Ibadah tsb.
Seorang Pencinta  Musik Seriosa/Keroncong tak akan bisa menghayati dan memaknai Indahnya Musik Hip Hop dan Break Dance kalau dia tidak mampu merubah Persepsinya dalam mendengarkan dan melihat Tingkah Polah Street Dancer tsb ! :coolsmiley: :happy0062:
Nah itu  yg saya lakukan sebagai jemaat Gereja Kelompok Methodist dan  Presbyterian yg SEPI Nyanyikanlah Pujian dengan sorak sorai dan gunakalah Gambus serta Kecapi dalam melakukan Ibadah di Bait Allah, saat saya menghadiri Ibadah Kelompok Baptis,Pantekosta dan Kahrismatik sehigga Rasa Ngantuk dan Jemu tidak saya alami seperti saat saya mendampingi anak istri saya ibadahan di Gereja yg   mengedepankan yg mereka sebut Tradisi Gereja karena acapkali saya temui Khotbah ..... Kita membaca Kitab Suci, namun tidak mengerti maknanya. Kita mengetahui ajaran Yesus namun tidak memahami maksudnya dan tidak mampu menjalankannya. Kita memuji Tuhan dalam dengan  bibir namun hati kita semakin jauh dari Tuhan akibat Khotbah yg MONOTON dan KAKU ! :coolsmiley: :'(
January 16, 2015, 04:40:44 AM
Reply #4
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 725
  • Gender: Male
    • Meditasi Yesus
  • Denominasi: Katolik
Apakah anda tidak pernah membaca Mazmur Daud disana tertulis ..... Nyanyikanlah Pujian dengan sorak sorai dan gunakalah Gambus serta Kecapi dalam melakukan Ibadah di Bait Allah....
Kamu pernah ikut misa latin? Kamu pernah dengar lagu-lagu gregorian?
Bandingkan dengan lagu-lagu karismatik.
Kamu akan merasakan bedanya, mana ibadah yang menghargai keheningan dan mana yang kurang.
Tuhan hanya mendirikan SATU GEREJA, SEKALI untuk SELAMANYA, dan hanya menunjuk Petrus sebagai pemimpinnya, SEKALI untuk SETERUSNYA. Apa yang sudah ditetapkan oleh Tuhan tidak dapat diubah oleh manusia.
January 16, 2015, 05:16:29 AM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2373
  • Denominasi: Trinitarian Non Denominasi !!
Kamu pernah ikut misa latin? Kamu pernah dengar lagu-lagu gregorian?
Bandingkan dengan lagu-lagu karismatik.
Kamu akan merasakan bedanya, mana ibadah yang menghargai keheningan dan mana yang kurang.
Jawabannya sudah Termaktub dan Termasuk didalam INI :
Seorang Pencinta  Musik Seriosa/Keroncong tak akan bisa menghayati dan memaknai Indahnya Musik Hip Hop dan Break Dance kalau dia tidak mampu merubah Persepsinya dalam mendengarkan dan melihat Tingkah Polah Street Dancer tsb ! :coolsmiley: :happy0062:
Bila sudah "IN" maka tanpa Terasa saat menaikkan Pujian, Tangan pun Bertepuk Tangan dan Pinggulpun turut Goyang ber SAMBA Cha Cha dan Sukacita Sorgawipun Turun atas Jema'at saat itu  !
https://www.youtube.com/watch?v=V0ZYz0lYiFc
https://www.youtube.com/watch?v=7_UovZUFBEM
Mosok nyanyikan Lagu Sukacita Tanpa Ekspresi Sukacita  dan tanpa  Musik dengan Tempo Sukacita juga sih ?
https://www.youtube.com/watch?v=MEGGqDLoD9A&list=RDMEGGqDLoD9A#t=37
« Last Edit: January 16, 2015, 05:46:49 AM by octafalto »
January 16, 2015, 05:59:15 AM
Reply #6
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 725
  • Gender: Male
    • Meditasi Yesus
  • Denominasi: Katolik
Berdoa Dalam Keheningan Dan Tradisi Gereja

Kita bisa melihat bayangan bulan dengan jelas di atas air danau atau kolam yang tenang. Lemparkanlah sebuah batu kecil ke dalamnya hingga permukaannya tidak lagi tenang, maka bayangan bulan tadi akan kacau balau. Demikian juga dalam hati yang tenang, kita dapat lebih baik merasakan kehadiran Tuhan sehingga kita juga dapat berdoa dengan lebih baik.

Itu sebabnya Yesus sendiri sering menyendiri untuk bisa memperoleh keheningan yang dibutuhkan agar dapat berdoa kepada Bapa (contohnya, Mat. 14:23, Mrk. 1:35, dan lain-lain). Bahkan satu-satunya cara berdoa yang diajarkan Yesus adalah masuk ke dalam kamar dengan menutup pintu untuk berdoa kepada Bapa di tempat yang tersembunyi (Mat.6:6). Ini tidak lain adalah berdoa dalam keheningan batin.

Rasul Petrus juga mengatakan, "Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa" (1Ptr.4:7). Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa berdoa dalam keheningan batin adalah cara berdoa yang diajarkan oleh Yesus dan diikuti juga oleh para murid-murid-Nya. Kenyataan ini menginspirasi orang-orang Kristen awal untuk melakukan praktek serupa dengan menjalani kehidupan asketik untuk mengupayakan keheningan agar dapat berdoa seperti yang diajarkan Yesus.

Pada abad ketiga upaya untuk mencari keheningan batin ini memasuki tahap yang baru yang menjadi cikal bakal kehidupan monastik. St. Antonius dari Mesir yang mendengarkan perintah Yesus dalam Injil, "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.", segera menjual semua kekayaannya dan memilih hidup sebagai pertapa di padang gurun. Memang sejak awal sudah banyak orang Kristen yang memilih hidup asketik, tapi tidak secara ekstrim dengan menyendiri di padang gurun yang jauh dari komunitas. Cara hidup St. Antonius ini menarik minat banyak orang untuk mengikutinya, hingga akhirnya terbentuklah komunitas pertapa yang menjadi inspirasi hidup doa Kekristenan. St. Antonius kemudian dikenal sebagai pelopor kehidupan monastik Gereja.

Meskipun demikian St. Antonius bukanlah orang Kristen pertama yang hidup bertapa di padang gurun. St. Paulus dari Thebes sudah melakukannya beberapa puluh tahun sebelumnya. Demi menghindari penganiayaan terhadap orang-orang Kristen pada masa Kaisar Decius, St. Paulus pergi menyendiri ke padang gurun dan tidak pernah kembali selama lebih dari 90 tahun lamanya. Menjelang akhir hidupnya St. Paulus bertemu dengan St, Antpnius sehingga kita bisa mengenal kisahnya. Kisah hidup St. Antonius sendiri ditulis oleh sahabatnya, St. Athanasius, uskup suci penakluk arianisme.

Kedua orang ini, St. Antonius Bapa Kehidupan Monastik dan St. Paulus Pertapa Pertama, menjadi sumber inspirasi banyak orang Kristen untuk mengikuti cara berdoa yang diajarkan Yesus, yaitu berdoa dalam keheningan. Cara berdoa seperti ini juga yang seharusnya tetap menjadi cara berdoa kita sekarang. Tidak ada cara yang lebih baik dari itu, jika ada tentu Yesus sudah mengajarkannya.

to be continued...#9
,
« Last Edit: January 16, 2015, 08:23:39 PM by MentalRevo »
Tuhan hanya mendirikan SATU GEREJA, SEKALI untuk SELAMANYA, dan hanya menunjuk Petrus sebagai pemimpinnya, SEKALI untuk SETERUSNYA. Apa yang sudah ditetapkan oleh Tuhan tidak dapat diubah oleh manusia.
January 16, 2015, 06:24:41 AM
Reply #7
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2373
  • Denominasi: Trinitarian Non Denominasi !!
Berdoa Dalam Keheningan Dan Tradisi Gereja

Kita bisa melihat bayangan bulan dengan jelas di atas air danau atau kolam yang tenang. Lemparkanlah sebuah batu kecil ke dalamnya hingga permukaannya tidak lagi tenang, maka bayangan bulan tadi akan kacau balau. Demikian juga dalam hati yang tenang, kita dapat lebih baik merasakan kehadiran Tuhan sehingga kita juga dapat berdoa dengan lebih baik.

Itu sebabnya Yesus sendiri sering menyendiri untuk bisa memperoleh keheningan yang dibutuhkan agar dapat berdoa kepada Bapa (contohnya, Mat. 14:23, Mrk. 1:35, dan lain-lain). Bahkan satu-satunya cara berdoa yang diajarkan Yesus adalah masuk ke dalam kamar dengan menutup pintu untuk berdoa kepada Bapa di tempat yang tersembunyi (Mat.6:6). Ini tidak lain adalah berdoa dalam keheningan batin.

Rasul Petrus juga mengatakan, "Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa" (1Ptr.4:7). Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa berdoa dalam keheningan batin adalah cara berdoa yang diajarkan oleh Yesus dan diikuti juga oleh para murid-murid-Nya. Kenyataan ini menginspirasi orang-orang Kristen awal untuk melakukan praktek serupa dengan menjalani kehidupan asketik untuk mengupayakan keheningan agar dapat berdoa seperti yang diajarkan Yesus.

Pada abad ketiga upaya untuk mencari keheningan batin ini memasuki tahap yang baru yang menjadi cikal bakal kehidupan monastik. St. Antonius dari Mesir yang mendengarkan perintah Yesus dalam Injil, "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.", segera menjual semua kekayaannya dan memilih hidup sebagai pertapa di padang gurun. Memang sejak awal sudah banyak orang Kristen yang memilih hidup asketik, tapi tidak secara ekstrim dengan menyendiri di padang gurun yang jauh dari komunitas. Cara hidup St. Antonius ini menarik minat banyak orang untuk mengikutinya, hingga akhirnya terbentuklah komunitas pertapa yang menjadi inspirasi hidup doa Kekristenan. St. Antonius kemudian dikenal sebagai pelopor kehidupan monastik Gereja.

Meskipun demikian St. Antonius bukanlah orang Kristen pertama yang hidup bertapa di padang gurun. St. Paulus dari Thebes sudah melakukannya beberapa puluh tahun sebelumnya. Demi menghindari penganiayaan terhadap orang-orang Kristen pada masa Kaisar Decius, St. Paulus pergi menyendiri ke padang gurun dan tidak pernah kembali selama lebih dari 90 tahun lamanya. Menjelang akhir hidupnya St. Paulus bertemu dengan St, Antpnius sehingga kita bisa mengenal kisahnya. Kisah hidup St. Antonius sendiri ditulis oleh sahabatnya, St. Athanasius, uskup suci penakluk arianisme.

Kedua orang ini, St. Antonius Bapa Kehidupan Monastik dan St. Paulus Pertapa Pertama, menjadi sumber inspirasi banyak orang Kristen untuk mengikuti cara berdoa yang diajarkan Yesus, yaitu berdoa dalam keheningan. Cara berdoa seperti ini juga yang seharusnya tetap menjadi cara berdoa kita sekarang. Tidak ada cara yang lebih baik dari itu, jika ada tentu Yesus sudah mengajarkannya.

to be continued...
,
Kalau Berdoa memang BENAR butuh Keheningan dan Fokus ! Berdoa bagian dari Ibadah tetapi Ibadah isinya BUKAN Doa Semata, ada Pujian, Pembahasan Firman Tuhan, Pengakuan Dosa ,  Kolekte, Berkat dan Saat Teduh didalam Liturginya serta pada  saat tertentu ada Perjamuan Kudus didalamnya !.
January 16, 2015, 06:44:46 AM
Reply #8
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 725
  • Gender: Male
    • Meditasi Yesus
  • Denominasi: Katolik
Kalau Berdoa memang BENAR butuh Keheningan dan Fokus ! Berdoa bagian dari Ibadah tetapi Ibadah isinya BUKAN Doa Semata, ada Pujian, Pembahasan Firman Tuhan, Pengakuan Dosa ,  Kolekte, Berkat dan Saat Teduh didalam Liturginya serta pada  saat tertentu ada Perjamuan Kudus didalamnya !.
Bagus, kamu sudah setuju kalau berdoa itu butuh keheningan.
Yang dibahas dalam topik ini memang doa batin.
Tapi bagaimana suatu tradisi agama menghargai keheningan dapat dilihat dari cara ibadahnya juga.
Ibadah yang meriah seperti layaknya konser musik dan pesta rakyat saya kira kurang menghargai nilai keheningan yang dibutuhkan dalam doa. Bukankah dalam ibadah juga ada doa? Jika demikian seharusnya keheningan juga perlu ada.

Keheningan itu harus dibangun dalam keseluruhan liturgi, tidak bisa dalam kemeriahan bak konser tiba-tiba orang berkesempatan mendapatkan keheningan yang dibutuhkannya untuk berdoa. Absurd.

Itu sebabnya ibadah yang meriah bak konser musik dan pesta rakyat sulit dikatakan sebagai ibadah yang benar karena tidak mampu menyediakan ruang untuk keheningan yang dibutuhkan dalam berdoa. Atau, kalaupun keheningan juga diupayakan dalam ibadah semacam itu, kemungkinan besar kualitasnya dangkal.
« Last Edit: January 16, 2015, 03:21:26 PM by MentalRevo »
Tuhan hanya mendirikan SATU GEREJA, SEKALI untuk SELAMANYA, dan hanya menunjuk Petrus sebagai pemimpinnya, SEKALI untuk SETERUSNYA. Apa yang sudah ditetapkan oleh Tuhan tidak dapat diubah oleh manusia.
January 16, 2015, 08:22:56 PM
Reply #9
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 725
  • Gender: Male
    • Meditasi Yesus
  • Denominasi: Katolik
Continue from #6
-------------------


Hesychasme Dan Doa Yesus, Tradisi Spiritual Gereja Timur

Jika kita menggali tradisi sejarah Gereja, semangat untuk bertemu Tuhan dalam keheningan ini sudah mengakar sejak awal sejarah Gereja. Kisah-kisah heroik para bapa padang gurun dalam mencari Tuhan di keheningan pada abad-abad awal Kekristenan bisa menjadi inspirasi betapa berharganya keheningan untuk membangun kehidupan doa yang penuh kuasa rohani.

St. Antonius Yang Agung Dan St. Paulus Pertapa Pertama adalah dua tokoh yang paling berpengaruh dan menjadi pelopor hidup monastik dalam sejarah Gereja. Keduanya menjadi sumber inspirasi bagaimana keheningan dan semangat penyangkalan diri untuk berdoa dan mengikuti Kristus menjadi jalan untuk menuju kesempurnaan hidup yang dipenuhi roh. Semangat ini kemudian ikut mempengaruhi gerakan spiritual hesychasme yang tumbuh subur di Gereja Timur di abad-abad berikutnya.

Hesychasme berasal dari kata hesychia yang dalam bahasa Yunani kurang lebih berarti ‘hening’. Hesychasme adalah sebuah metode spiritual yang berkembang pesat di Gereja Katolik ritus timur sejak abad 4 dan kemudian berkembang di Gereja Ortodoks / Byzantin sampai sekarang. Istilah hesychasme mulai dikenal sejak masa St. Yohanes Krysostomus dan bapa-bapa Kapadokia. Istilah ini juga muncul dalam tulisan-tulisan tentang kehidupan asketik Kristen yang berasal dari Mesir sebagaimana ditulis oleh Evagrius Pontikos (345 - 399). Selain itu hesychasme secara sistematis juga dibahas dalam buku-buku mistik Kristen timur klasik, “Tangga Pendakian Ilahi” karya St. Yohanes dari Sinai (523 -603) dan Philokalia yang merupakan kumpulan tulisan para pertapa sejak abad 4 sampai 15.

Hesychasme merujuk pada metoda doa yang dilakukan dengan mengupayakan keheningan sebagaimana terinspirasi oleh ajaran Yesus tentang cara berdoa:

“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.“ (Mat.6:6)

Dalam hesychasme ayat ini diartikan sebagai perlunya upaya menutup atau membatasi indera, termasuk juga upaya untuk memfokuskan pikiran secara total pada doa sehingga roh mendapatkan keheningan dan terbebas dari segala bentuk gangguan luar saat berdoa kepada Tuhan.  Oleh para pertapa padang gurun prinsip hesychasme ini kemudian diaplikasikan dalam bentuk doa sederhana berulang-ulang yang diselaraskan dengan irama pernafasan dalam mengisi hari-hari kehidupan asketik mereka. Bentuk doa seperti ini muncul secara alamiah karena para -pertapa ini hidup menyendiri  dan jauh dari komunitas sehingga mereka sangat jarang menghadiri upacara-upacara liturgi yang biasa.

Formula yang digunakan dalam doa singkat ini juga berkembang dari waktu ke waktu, hingga akhirnya menjadi sebuah bentuk doa dengan rumusan standar yang kemudian dikenal sebagai “Doa Yesus”:

“Tuhan Yesus Kristus Putra Allah, kasihanilah aku orang berdosa”

Praktek Doa Yesus yang sederhana ini selanjutnya menjadi sangat populer di Gereja Timur sampai sekarang. Biasanya didaraskan dengan menggunakan komboskini, sebuah untaian tali dengan sejumlah simpul untuk membantu dalam menghitung jumlah pengulangan doa. Fungsinya mirip dengan untaian kalung rosario yang populer di Gereja Barat. Di komunitas-komunitas religius seperti di biara pertapaan Gunung Athos, Doa Yesus ini didaraskan sampai ribuan kali setiap hari. Karena bentuknya yang sederhana dan mudah, Doa Yesus tidak hanya dipraktekkan oleh para pertapa dan kaum religius, tapi juga di oleh awam.


to be continued....#14
« Last Edit: January 17, 2015, 04:59:58 PM by MentalRevo »
Tuhan hanya mendirikan SATU GEREJA, SEKALI untuk SELAMANYA, dan hanya menunjuk Petrus sebagai pemimpinnya, SEKALI untuk SETERUSNYA. Apa yang sudah ditetapkan oleh Tuhan tidak dapat diubah oleh manusia.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)