Author Topic: Tuhan Yesus Kristus tidak mungkin dan tidak dapat berbuat dosa  (Read 8166 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

June 24, 2015, 12:13:47 PM
Reply #20
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 8052
  • Denominasi: Newbie Baru Belajar
I'm sorry ya sis Sdt
bukan maksud nyuekin

But I said I'm done
and I mean it
thank you for your understanding
okay kk Hen2..
tengkiu juga atas partisipasi dan masukannya..

Repentance and humility establish the soul. Charity and meekness strengthen it.
- Monk Evagrius
June 24, 2015, 01:16:38 PM
Reply #21
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 9235
Dia sampai saat ini adalah Imam Besar kita yg berbagi bersama-sama dengan kita, bukan?
Dia sampai saat ini juga adalah Manusia Yesus Kristus, bukan?

Di situlah superioritas dari Manusia Yesus Kristus.
Dia tidak berbuat dosa hingga selama-lamanya krn Dia sangat mampu untuk memilih tidak berbuat dosa.

Kelak itupulalah superioritas kita dibandingkan malaikat,
Krn ada malaikat berbuat dosa skalipun mreka melihat Tuhan langsung, sdgkn kita kelak di Sorga tidak pernah lagi mau berbuat dosa.

Kl mnrt saya,
Sgala yg kita alami saat ini btujuan mbentuk manusia yg bisa berbuat dosa namun tidak mau berbuat dosa krn mnyadari sbrapa baiknya kasih Allah dan sbrapa buruknya dosa.

Ini smua pnafsiran saya aja Bro.
Kl gereja orthodox dan katolik punya penafsiran beda.

Bagi mreka superioritas Manusia Yesus Kristus ada pada ketidakmungkinannya berbuat dosa (meski Ia bisa dicobai).

Klpun iya, maka bagi saya very good, hanya saya punya pandangan beda sampai saat ini.

Setuju Siip, sekarang ini kita dapat jatuh kedalam dosa, dan dapat menolak dosa dengan pertolongan Tuhan.

Nanti dengan tubuh rohaniah, tidak mungkin kita berbuat dosa lagi.

Itu yang dikatakan bapa gereja Agustinus.

Sekarang ini adalah perjuangan kita mempersiapkan diri kita untuk yang disana, dengan membuang sifat lama dan mengikuti teladan Kristus.

Jangan sampai kita malu bertemu dengan Tuhan kita.
« Last Edit: June 24, 2015, 01:18:48 PM by RITA RATINA »
June 24, 2015, 01:21:15 PM
Reply #22
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4778
  • Merdeka di dalam Kristus
    • SARAPANPAGI BIBLIKA
But, sorry...the question is not:
a. Tempted here in He 4:15 is in the perfect tense or in the past tense ?
b. was Jesus tempted ?


Kita memang tidak membicarakan tata bahasa, tapi karena Anda sebelumnya mengartikan kata "pepeiramenon" dengan "tempted" saja, seperti KJV menerjemahkannya, saya jadi tergelitik untuk memberi komen, bahwa terjemahan yg benar untuk kata tsb bukan "tempted" saja, tetapi lebih tepat sebagaimana NIV, NASB, Holman & NET menerjemahkannya: "the one who has been tempted"

Btw, paham gramatik Yunani bukan syarat masuk Surga kok :)
Jadi kita ga' perlu debat di soal ini.


The question is: "Could Jesus Sin?" >
a. Did Jesus Christ face his temptations without having a sin nature/propensity to sin/possibility of sinning ?
or
b. Did his temptations simply result in his not sinning?


Resultnya: Yesus Kristus memang tidak berdosa, dia tetap "TANPA DOSA" meski telah digoda.
Penulis Ibrani tidak menggunakan verba "tidak berdosa." Tetapi ia memakai nomina "TANPA DOSA" yang diekspresikan dengan nomina "genitive" "χωρὶς ἁμαρτίας - khôris hamartias" merujuk kepada keadaannya yang TETAP TIDAK ADA DOSA (eksistensi ketidakberdosaan).


Jesus not able to sin?

Saya paling ga' setuju kalau apa yang ditulis dalam Alkitab itu ditafsirkan atau yang memberikan asumsi "maen sandiwara doang kayak drama Korea". Misalnya gini:

Yesus meratapi Yerusalem (Matius 23:37), saya dan Anda tentu percaya bahwa saat mengucapkan itu, Yesus benar2 berduka atas penolakan Israel menolak keselamatan dari-Nya.
Tapi kalau memakai tafsir "Calvinis" dalam kurungan predestinasi ala Calvin... Ratapan Yesus "sangat tidak berarti" menjadi seperti sandiwara doang, kayak drama Korea.... lha ngapain meratap wong Dia gak mempredestinasikan kok.

Jadi,  sama saja dengan Ibrani 4:15 ini, seandainya Yesus dalam masa Inkarnasi ini "tidak mungkin berbuat dosa." Maka pujian yang ditulis penulis Ibrani ini ga' ada esensinya, pendeknya ga' usah pakai lebay komentarlah.... wong Dia memang "not able to sin."
Emangnya ketika Yesus digoda Iblis 3 kali itu cuma sandiwara doang?  Dan, si Iblis cuma jadi pelengkap penderita doang, buat seru seruan doang, karena Yesus "not able to sin"?

Justru karena Allah menempatkan diri-Nya sebagai manusia biasa dalam masa inkarnasi ini, mengambil rupa "hamba", artinya dalam keadaan yang tidak terlalu spesial, dan juga ngga' seperti superman. Dalam keadaannya sebagai "hamba", Dia membuktikan bahwa Dia tidak seperti Adam yang pertama yang gagal dalam pencobaan!

Kita bandingkan:

ADAM yang Pertama, dia diciptakan dalam keadaan "TANPA DOSA" ("χωρὶς ἁμαρτίας - khôris hamartias");
YESUS pun lahir ke dunia juga dalam keadaan "χωρὶς ἁμαρτίας - khôris hamartias".

Sama-sama dalam eksistensi "χωρὶς ἁμαρτίας - khôris hamartias" (tanpa dosa)

Tapi:

ADAM yang Awal, jatuh dalam pencobaan
Sedangkan ADAM yang Akhir, tidak jatuh dalam pencobaan.

Maka,

Ibrani 4:15 adalah benar2 pujian, sebab Yesus lulus dari godaan, tidak seperti Adam yg pertama.
Ibrani 4:15 bukan retoris, bukan sandiwara.

Ini pendapat saya...

Kalau Anda masih ngotot berpendapat "Jesus not Able to Sin" dalam masa inkarnasinya itu, ya silahkan...

Selanjutnya saya ikut HenHen.... komentar saya sampe disini ajah... :)





Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? (Galatia  4:16)
June 24, 2015, 02:08:07 PM
Reply #23
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1542
  • Denominasi: Gak tau dah...
buat saya pendapat yang saya tulis di reply sebelumnya sudah final, saya tak menerima gugatan dalam bentuk apapun :)

selanjutnya silahkan kalau rekan2 lain mau menanggapi

Selanjutnya saya ikut HenHen.... komentar saya sampe disini ajah... :)

Lah??? Jadi saya cuma menyimak sampai di sini sajah???
June 24, 2015, 02:19:21 PM
Reply #24
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6341
  • Mistery
  • Denominasi: Karismatik
Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati (Pkh 9:4)

https://manusia-biasa-saja.blogspot.com
June 24, 2015, 02:21:18 PM
Reply #25
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4778
  • Merdeka di dalam Kristus
    • SARAPANPAGI BIBLIKA
hehe, ya beginilah kalo "debat tafsir", namanya juga "tafsir" :)

btw, ntar nunggu komen2 selanjutnya deh...
Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? (Galatia  4:16)
June 24, 2015, 02:27:18 PM
Reply #26
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12160
  • Gender: Male
  • Denominasi: Kharismatik - OSAS
Kita memang tidak membicarakan tata bahasa, tapi karena Anda sebelumnya mengartikan kata "pepeiramenon" dengan "tempted" saja, seperti KJV menerjemahkannya, saya jadi tergelitik untuk memberi komen, bahwa terjemahan yg benar untuk kata tsb bukan "tempted" saja, tetapi lebih tepat sebagaimana NIV, NASB, Holman & NET menerjemahkannya: "the one who has been tempted"

Btw, paham gramatik Yunani bukan syarat masuk Surga kok :)
Jadi kita ga' perlu debat di soal ini.


Resultnya: Yesus Kristus memang tidak berdosa, dia tetap "TANPA DOSA" meski telah digoda.
Penulis Ibrani tidak menggunakan verba "tidak berdosa." Tetapi ia memakai nomina "TANPA DOSA" yang diekspresikan dengan nomina "genitive" "χωρὶς ἁμαρτίας - khôris hamartias" merujuk kepada keadaannya yang TETAP TIDAK ADA DOSA (eksistensi ketidakberdosaan).


Jesus not able to sin?

Saya paling ga' setuju kalau apa yang ditulis dalam Alkitab itu ditafsirkan atau yang memberikan asumsi "maen sandiwara doang kayak drama Korea". Misalnya gini:

Yesus meratapi Yerusalem (Matius 23:37), saya dan Anda tentu percaya bahwa saat mengucapkan itu, Yesus benar2 berduka atas penolakan Israel menolak keselamatan dari-Nya.
Tapi kalau memakai tafsir "Calvinis" dalam kurungan predestinasi ala Calvin... Ratapan Yesus "sangat tidak berarti" menjadi seperti sandiwara doang, kayak drama Korea.... lha ngapain meratap wong Dia gak mempredestinasikan kok.

Jadi,  sama saja dengan Ibrani 4:15 ini, seandainya Yesus dalam masa Inkarnasi ini "tidak mungkin berbuat dosa." Maka pujian yang ditulis penulis Ibrani ini ga' ada esensinya, pendeknya ga' usah pakai lebay komentarlah.... wong Dia memang "not able to sin."
Emangnya ketika Yesus digoda Iblis 3 kali itu cuma sandiwara doang?  Dan, si Iblis cuma jadi pelengkap penderita doang, buat seru seruan doang, karena Yesus "not able to sin"?

Justru karena Allah menempatkan diri-Nya sebagai manusia biasa dalam masa inkarnasi ini, mengambil rupa "hamba", artinya dalam keadaan yang tidak terlalu spesial, dan juga ngga' seperti superman. Dalam keadaannya sebagai "hamba", Dia membuktikan bahwa Dia tidak seperti Adam yang pertama yang gagal dalam pencobaan!

Kita bandingkan:

ADAM yang Pertama, dia diciptakan dalam keadaan "TANPA DOSA" ("χωρὶς ἁμαρτίας - khôris hamartias");
YESUS pun lahir ke dunia juga dalam keadaan "χωρὶς ἁμαρτίας - khôris hamartias".

Sama-sama dalam eksistensi "χωρὶς ἁμαρτίας - khôris hamartias" (tanpa dosa)

Tapi:

ADAM yang Awal, jatuh dalam pencobaan
Sedangkan ADAM yang Akhir, tidak jatuh dalam pencobaan.

Maka,

Ibrani 4:15 adalah benar2 pujian, sebab Yesus lulus dari godaan, tidak seperti Adam yg pertama.
Ibrani 4:15 bukan retoris, bukan sandiwara.

Ini pendapat saya...

Kalau Anda masih ngotot berpendapat "Jesus not Able to Sin" dalam masa inkarnasinya itu, ya silahkan...

Selanjutnya saya ikut HenHen.... komentar saya sampe disini ajah... :)

Mumpung gak bakalan digugat lagi, saya tambahkan:

Jadi argumennya cuma karena takut Ibr 4:15 dibilang sandiwara.

Nurut anda pujian di Ibr 4:15 adalah karena Yesus PERNAH dicobai dan SEWAKTU Dia dicobai, Dia tidak jatuh, tanpa ada jaminan atau indikasi bahwa KELAK bisa jatuh/tidak.

Kalau nurut saya, Ibr 4:15 adalah pujian dimana Yesus telah TESTED dan terbukti TANPA DOSA. Ini merupakan pujian/kekaguman kepada sosok Yesus.

Sama seperti ketika Yesus meredakan angin ribut lalu orang-orang berkata dengan takjub 'Sesungguhnya Engkau Anak Allah.' Ini bukan dalam konotasi sandiwara 'Jelas aja Dia bisa redakan angin ribut, orang Dia Allah'.

Sama dengan 'TESTED dan terbukti TANPA DOSA', ini bukan dengan konotasi 'Jelas aja Dia tanpa dosa, orang Dia Tuhan/tidak bisa berdosa'.

 
If salvation can be lost, then who is righteous enough to keep their own salvation?
June 24, 2015, 02:44:31 PM
Reply #27
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 8052
  • Denominasi: Newbie Baru Belajar
Resultnya: Yesus Kristus memang tidak berdosa, dia tetap "TANPA DOSA" meski telah digoda.
Penulis Ibrani tidak menggunakan verba "tidak berdosa." Tetapi ia memakai nomina "TANPA DOSA" yang diekspresikan dengan nomina "genitive" "χωρὶς ἁμαρτίας - khôris hamartias" merujuk kepada keadaannya yang TETAP TIDAK ADA DOSA (eksistensi ketidakberdosaan).


Jesus not able to sin?

Saya paling ga' setuju kalau apa yang ditulis dalam Alkitab itu ditafsirkan atau yang memberikan asumsi "maen sandiwara doang kayak drama Korea".

Misalnya gini:

Yesus meratapi Yerusalem (Matius 23:37), saya dan Anda tentu percaya bahwa saat mengucapkan itu, Yesus benar2 berduka atas penolakan Israel menolak keselamatan dari-Nya.
Tapi kalau memakai tafsir "Calvinis" dalam kurungan predestinasi ala Calvin... Ratapan Yesus "sangat tidak berarti" menjadi seperti sandiwara doang, kayak drama Korea.... lha ngapain meratap wong Dia gak mempredestinasikan kok.
Four Patristic Models of Christ’s Impeccability:
(1) Sinless by Inherent Impeccability,
(2) Sinless by Deification,
(3) Sinless by the Divine Hegemony, and
(4) Sinless by Empowering Grace




Repentance and humility establish the soul. Charity and meekness strengthen it.
- Monk Evagrius
June 24, 2015, 02:44:51 PM
Reply #28
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 8052
  • Denominasi: Newbie Baru Belajar
Jadi,  sama saja dengan Ibrani 4:15 ini, seandainya Yesus dalam masa Inkarnasi ini "tidak mungkin berbuat dosa." Maka pujian yang ditulis penulis Ibrani ini ga' ada esensinya, pendeknya ga' usah pakai lebay komentarlah.... wong Dia memang "not able to sin."
...
Justru karena Allah menempatkan diri-Nya sebagai manusia biasa dalam masa inkarnasi ini, mengambil rupa "hamba", artinya dalam keadaan yang tidak terlalu spesial, dan juga ngga' seperti superman. Dalam keadaannya sebagai "hamba", Dia membuktikan bahwa Dia tidak seperti Adam yang pertama yang gagal dalam pencobaan!
James 1:17 Every good gift and every perfect gift is from above, and cometh down from the Father of lights, with whom is no variableness, neither shadow of turning.

John 5:19 Then answered Jesus and said unto them, Verily, verily, I say unto you, The Son can do nothing of himself, but what he seeth the Father do: for what things soever he doeth, these also doeth the Son likewise.


Jesus couldn't sin because His Father could not.
His temptations were allowed to prove this fact.

We don’t always praise people just because they succeeded when they could have failed (either through weakness or a deliberate act of the will).
Sometimes we praise people and things just because they are good and there is no way they could fail.

For example, which is more impressive -- A ship that is unsinkable as long as the captain follows the instructions, or a ship that can’t possibly sink under any condition?
I would say the latter is more impressive.
Likewise, which is more impressive – a being that could fail but works really hard not to, or a being that is just goodness and perfection itself and so is immune to failure or sin.

I don’t stand in awe of Jesus because he avoided sinning in the same way that a tightrope walker avoids plunging to his death.
I stand in awe of Jesus because he is God.
The infinite act of being who, for our sake, humbled himself and became man.
I trust in him for my salvation not because he is “really good” at being holy, but because holiness is a part of his nature and goodness ultimately comes from his divinity.

When we say, “Jesus I trust in you” we are trusting in the most firm and reliable aspect of reality, not a God who could have failed but thankfully for us, did not.


Emangnya ketika Yesus digoda Iblis 3 kali itu cuma sandiwara doang?  Dan, si Iblis cuma jadi pelengkap penderita doang, buat seru seruan doang, karena Yesus "not able to sin"?
Shedd writes:
“It is objected to the doctrine of Christ’s impeccability that it is inconsistent with his temptability. A person who cannot sin, it is said, cannot be tempted to sin.

This is not correct; any more than it would be correct to say that because an army cannot be conquered, it cannot be attacked.
Temptability depends upon the constitutional susceptibility, while impeccability depends upon the will.
So far as his natural susceptibility, both physical and mental, was concerned, Jesus Christ was open to all forms of human temptation excepting those that spring out of lust, or corruption of nature.
But his peccability, or the possibility of being overcome by those temptations, would depend upon the amount of voluntary resistance which he was able to bring to bear against them.
Those temptations were very strong, but if the self-determination of his holy will was stronger than they, then they could not induce him to sin, and he would be impeccable.
And yet plainly he would be temptable.”
- (William G. T. Shedd, Dogmatic Theology, II, 396)


His temptation served as a clear message to Satan that the Sovereign Throne of the Kingdom was off limits and beyond Satan's control.


« Last Edit: June 24, 2015, 02:47:01 PM by Seek d Truth »
Repentance and humility establish the soul. Charity and meekness strengthen it.
- Monk Evagrius
June 24, 2015, 02:47:38 PM
Reply #29
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12160
  • Gender: Male
  • Denominasi: Kharismatik - OSAS
James 1:17 Every good gift and every perfect gift is from above, and cometh down from the Father of lights, with whom is no variableness, neither shadow of turning.

John 5:19 Then answered Jesus and said unto them, Verily, verily, I say unto you, The Son can do nothing of himself, but what he seeth the Father do: for what things soever he doeth, these also doeth the Son likewise.


Jesus couldn't sin because His Father could not.
His temptations were allowed to prove this fact.

We don’t always praise people just because they succeeded when they could have failed (either through weakness or a deliberate act of the will).
Sometimes we praise people and things just because they are good and there is no way they could fail.

For example, which is more impressive -- A ship that is unsinkable as long as the captain follows the instructions, or a ship that can’t possibly sink under any condition?
I would say the latter is more impressive.
Likewise, which is more impressive – a being that could fail but works really hard not to, or a being that is just goodness and perfection itself and so is immune to failure or sin.

I don’t stand in awe of Jesus because he avoided sinning in the same way that a tightrope walker avoids plunging to his death.
I stand in awe of Jesus because he is God.
The infinite act of being who, for our sake, humbled himself and became man.
I trust in him for my salvation not because he is “really good” at being holy, but because holiness is a part of his nature and goodness ultimately comes from his divinity.

When we say, “Jesus I trust in you” we are trusting in the most firm and reliable aspect of reality, not a God who could have failed but thankfully for us, did not.

Shedd writes: “It is objected to the doctrine of Christ’s impeccability that it is inconsistent with his temptability. A person who cannot sin, it is said, cannot be tempted to sin. This is not correct; any more than it would be correct to say that because an army cannot be conquered, it cannot be attacked.
Temptability depends upon the constitutional susceptibility, while impeccability depends upon the will. So far as his natural susceptibility, both physical and mental, was concerned, Jesus Christ was open to all forms of human temptation excepting those that spring out of lust, or corruption of nature. But his peccability, or the possibility of being overcome by those temptations, would depend upon the amount of voluntary resistance which he was able to bring to bear against them. Those temptations were very strong, but if the self-determination of his holy will was stronger than they, then they could not induce him to sin, and he would be impeccable. And yet plainly he would be temptable.”
(William G. T. Shedd, Dogmatic Theology, II, 396)

His temptation served as a clear message to Satan that the Sovereign Throne of the Kingdom was off limits and beyond Satan's control.
:afro: :afro: :afro: :afro: :afro:
Numpang kasih jempol aja.
Penjelasan yang sangat bagus.
If salvation can be lost, then who is righteous enough to keep their own salvation?
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)