Author Topic: tradisi manusia VS perintah Allah ?  (Read 1116 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

August 24, 2015, 12:07:12 PM
Reply #10
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13038
    • fossil coral cantik
Pernikahan adalah Lembaga Pertama yang ditetapkan Allah
event pernikahan itu sendiri spt 3 point yang saya tuliskan di TS kan ya pak ?

Quote
1. ada orang yang memberkati
2. selain nomor 1 - ada saksi : bisa orang - bisa juga tanda/tulisan aja tanpa orang.
3. tentunya pria dan wanita itu sendiri.
Dengan kata lain, ketiga point diatas itu adalah event pernikahan.


Quote
* Kejadian 1:27-28
1:27   Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
1:28   Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
So... saya ngikut henhen dulu bhw, event Allah memberkati itu = point-1 diatas. Namun bagaimana dengan point-2 ?

Quote
Tuhan Yesus memandang itu merupakan persatuan yang disatukan Allah, dimana manusia tidak boleh menceraikannya:

* Matius 19:6
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Nah itu... kalimat merah itu kan secara literally (real) nya kan : apa yang telah dipersatukan manusia ---> dimana kosakata "manusia" disini :
a. mewakili Tuhan ? (baik dari pov orang yang memberkati - maupun dari pov pasangan yg diberkati)
b. seseorang yg merasa dirinya Tuhan ?
c. seseorang yg merasa dirinya ditunjuk oleh Tuhan ?
d. pasangan yang berpendapat seseorang tsb adalah wakil Tuhan ?
e. pasangan yg berpendapat seseorang tsb adalah Tuhan ?

Bagaimana dengan yang point-2 diatas ?
Tuhan membutuhkan bukti ? ataukah orang membutuhkan bukti ?
Begimana itu pada kasus misal wanita dan pria terdampar di pulau ?
Wanita : "maap bang, walopun kita saling mencintai namun kita tidak bisa bersetubuh utk beranak pinak karena tidak ada orang yang memberkati kita" (?)  :char11:

IMO, pabila jawabannya adalah : orang membutuhkan bukti
Tidakkah ini jadinya bisa dipendapati bhw orang melakukan event pernikahan karena tuntutan society / tradisi (manusia) ?

Quote
Bisa dibaca bahasannya di http://www.sarapanpagi.org/nikah-pernikahan-vt4295.html#p23428
makasih atas linknya pak. Nanti segera sempet saya baca.

:)
salam.
August 24, 2015, 12:08:44 PM
Reply #11
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4778
  • Merdeka di dalam Kristus
    • SARAPANPAGI BIBLIKA
oleh karena itulah saya jadi berpikir yg aneh aneh... kok manusia itu spertinya jadi kayak Tuhan, ya ?  :char11:

Pernikahan itu (setidaknya di indo, saya gak tau kalu diluar indo) biasanya melibatkan dua legalisasi ("memberkati") :
1. orang dr pihak Negara "memberkati" pasangan ybs
2. orang dr pihak Agama "memberkati" pasangan ybs.
 maksud henhen, air bah itu dikarenakan tidak ada event "memberkati" spt di point-2 yah ?
Dengan kata lain, karena cuma Nuh dan istrinya aja yang berhubungan sex setelah diberkati oleh orang dari agama maka Nuh aja yang selamat ... sementara sisanya, semua orang2 di jaman itu berhubungan sex tanpa melalui seseorang yang "memberkati" mereka sehingga mereka pada mati kena air bah ?


Ya ga' aneh, dalam teologi Kristiani memandang bahwa pemerintah adalah wakil Allah yang memiliki hak menetapkan hukum2 untuk kemaslahatan.
Bahkan lembaga pengadilan yang dimiliki pemerintah adalah juga wakil dari Allah. oleh sebab itu kita lazim memanggil Sang Hakim sebagai "Yang Mulia" sebab para hakim ini mewakili Allah untuk menciptakan tatanan hukum sipil yang adil. Bahkan dalam beberapa kasus, Alkitab menggunakan kata "ELOHIM" sebagai sebutan bagi para hakim, sebab mereka mewakili Allah.

Oleh sebab itu, orang2 Kristen diajar oleh Alkitab untuk menjadi warganegara yang baik, yang tunduk kepada pemerintah setempat.

Reff: http://www.sarapanpagi.org/kepatuhan-kepada-pemerintah-vt3205.html

Pada mulanya, lembaga yang ditetapkan Allah adalah pernikahan itu. Adam dan Hawa ada di hadapan Allah, persatuan mereka diberkati untuk beranak cucu, dan lahir banyak keturunan.  Memang pada masa mula-mula, Alkitab tidak menulis adanya "surat kawin" atau "surat cerai", namun akan pasti ada hukum (mungkin tertulis atau tidak) atau sebuah kesepakatan seorang laki-laki mengambil istri bagi dirinya. Jaman Adam-Hawa dan manusia mula-mula sampai Nuh mungkin masih belum ada kantor catatan sipil, tapi sejak mulanya manusia sudah paham apa itu makna sebuah "Perjanjian/ Kesepakatan".
Tapi mungkin pada periode berikutnya manusia sudah mempunyai hikmat ttg hukum dan kesepakatan/ perjanjian. Kalau binatang paham siapa pasangannya (contoh burung merpati); manusia tentu pasti tahu siapa pasagannya, entah komitmennya tertulis atau tidak.

Ketika manusia menjadi banyak, ada lembaga pemerintahan, pemerintahan disini mewakili otoritas Allah mengatur kehidupan umat. Hal ini tampak jelas pada pemerintahan Theokrasi Musa kepada bangsa Israel, mengurus segala macam hal-ihwal kemaslahatan manusia, dan penetapan Hukum yang menyeluruh.
Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? (Galatia  4:16)
August 24, 2015, 12:13:40 PM
Reply #12
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 5740
  • Gender: Male
  • logikanya, logikamu, logikaku, logiskah
  • Denominasi: PKI (Penganut Kristen Independen)
saya percaya incest memang terjadi jaman itu
dan itu tidak berakibat jelek seperti yang kita kenal sekarang
karena saat itu manusia masih baik adanya
dan incest itu secara "resmi" baru dilarang pas jaman Musa

mungkin lengkapnya bisa disini :
http://www.sarapanpagi.org/istri-kain-incest-vt261.html
Terima kasih linknya, @HenHen.
Dibahas di topik berbeda saja, agar lebih fokus.

Salam logika macam-macam.
niat baik yang tidak dieksekusi adalah sia-sia
August 24, 2015, 12:14:43 PM
Reply #13
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4778
  • Merdeka di dalam Kristus
    • SARAPANPAGI BIBLIKA
event pernikahan itu sendiri spt 3 point yang saya tuliskan di TS kan ya pak ?

1. ada orang yang memberkati
2. selain nomor 1 - ada saksi : bisa orang - bisa juga tanda/tulisan aja tanpa orang.
3. tentunya pria dan wanita itu sendiri.
Dengan kata lain, ketiga point diatas itu adalah event pernikahan.

Yang memberkati itu kan orang (imam yang mewakili Allah); Adam dan Hawa langsung dihadapan Allah sendiri. Kurang apa lagi? Kurangnya dimana? Otoritas Allah masih kurang di mata Anda?

Justru PERNIKAHAN inilah lembaga yang pertama --> Saksinya Allah, yang menetapkan Allah pula, yang memberkati Allah pula.

Anda merasa kurangnya dimana?


Mosok Tuhan bikin Kantor catata sipil dulu, baru memberkati Adam-Hawa?

Justru dari Lembaga Pernikahan itulah kemudian ada penetapan bahwa Adam (laki-laki) adalah mandataris Allah. Dimana Adam (laki-laki) sebagai imam dalam keluarga-nya.

Lembaga pencatatan sipil justru muncul kemudian...... Dimana di kemudian hari Allah baru menunjuk keimamatan sebagai wakil-Nya.
Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? (Galatia  4:16)
August 24, 2015, 12:22:36 PM
Reply #14
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13038
    • fossil coral cantik
sebenarnya bukan kayak Tuhan
tapi mewakili Tuhan
Lalu eksis-nya poin-2 di awal TS mengenai bukti/saksi itu sendiri esensi ato nggak yah hen ?

Taroh kata ilustrasinya sbb:
Di pov pasangan, mr.X adalah wakil Tuhan.
Pasangan diberkati oleh mr.X tanpa eksisnya poin-2.
So... segera setelahnya itu artinya pasangan ini boleh berhubungan sex kan ?

Quote
begitulah
karena tertulis jelas kan Allah tidak suka perbuatan manusia yang seenaknya ngambil istri
Nah ... begimana orang2 (termasuk Nuh) di jaman itu bisa tau bhw [orang bisa menjadi wakil Tuhan] sementara kitab Genesis itu sendiri belon eksis ?  :char11:

Oleh karena itu saya berpendapat bhw event pernikahan itu adalah tradisi ---> idea logikal dari manusia, dimana logic itu sendiri adalah karunia Tuhan yg ada pada tiap2 manusia dan terkait erat dengan era/jaman/sikon/sosbud/lokasi yg sedang ada (berlaku) saat itu :char11:

:)
salam.
August 24, 2015, 12:34:48 PM
Reply #15
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 9654
  • Gender: Male
  • You are free to choose
    • Living Testimony (LiTe)
  • Denominasi: Pentakosta Karismatik
Lalu eksis-nya poin-2 di awal TS mengenai bukti/saksi itu sendiri esensi ato nggak yah hen ?

Taroh kata ilustrasinya sbb:
Di pov pasangan, mr.X adalah wakil Tuhan.
Pasangan diberkati oleh mr.X tanpa eksisnya poin-2.
So... segera setelahnya itu artinya pasangan ini boleh berhubungan sex kan ?

Pada mulanya ga perlu saksi
wong Tuhan Allah sendiri yang memberkati masa kredibilitasnya diragukan?

saksi itu adalah sistem yang kemudian diciptakan manusia untuk lebih memperkuat suatu perkara saja, pernikahan salah satunya

Nah ... begimana orang2 (termasuk Nuh) di jaman itu bisa tau bhw [orang bisa menjadi wakil Tuhan] sementara kitab Genesis itu sendiri belon eksis ?  :char11:

Oleh karena itu saya berpendapat bhw event pernikahan itu adalah tradisi ---> idea logikal dari manusia, dimana logic itu sendiri adalah karunia Tuhan yg ada pada tiap2 manusia dan terkait erat dengan era/jaman/sikon/sosbud/lokasi yg sedang ada (berlaku) saat itu :char11:

:)
salam.

saya percaya saat itu orang2 masih bisa berhubungan langsung dengan Allah dan bahkan secara audible
jadi walaupun mereka tidak tahu sekalipun mereka akan diberi tahu oleh Allah

contohnya Kain yang ditegur Allah sendiri karena membunuh Habel
dan Henokh yang diangkat ke sorga karena bergaul karib dengan Allah

jadi pada saat orang2 jaman itu mau menikah, mereka akan minta restu orang tuanya sebagai wakil Allah (ini kemungkinan yang paling mungkin), kalau ada yang ga mau dan mau seenaknya sendiri, Allah pun tetap akan menegur mereka mungkin lewat suara hati atau suara audible sekalipun

karena Allah sudah berulang kali menegur mereka dan mereka tak mau bertobat akhirnya dimusnahkanlah dengan air bah, hal ini konsisten dengan perjalanan bangsa Israel di padang gurun
Allah ga pernah maen langsung membinasakan manusia tanpa memberikan mereka kesempatan untuk bertobat

so pendapat saya tetap : pernikahan itu adalah ide orisinil dari Allah, yang kemudian Allah wahyukan kepada manusia dari awalnya, dan manusia yang mau nurut sama Allah akan memegang erat prinsip ini.

manusia sendiri ga bakalan bisa menciptakan ide pernikahan, isi otak lelaki tidak memungkinkan hal itu :) , kalau hal tersebut diserahkan kepada manusia, ga bakalan ada aturan pernikahan sampai sekarang, dan kita semua sedang kawin seenaknya saat ini :)
August 24, 2015, 12:50:32 PM
Reply #16
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13038
    • fossil coral cantik
Pada mulanya
Inilah yang saya maksudkan pak sarpag ---> kita gunakan kacamata bhw kita itu sendiri lagi di masa "pada mulanya" ... jadi maksud saya, kita jangan gunakan kacamata dari apa yang sudah kita ketahui mengenai event perkawinan itu kayak begimana - jangan pula gunakan kacamata seolah-olah tulisan2 sudah eksis saat itu.

Quote
lembaga yang ditetapkan Allah adalah pernikahan itu
Nah... kita2 itu yang idup di masa "pada mulanya" ....  itu darimana/begimana bisa tau bhw [harus ada event orang memberkati laki dan perempuan sbg wakil Allah] ?


Quote
Adam dan Hawa ada di hadapan Allah, persatuan mereka diberkati untuk beranak cucu, dan lahir banyak keturunan.
tapi disini artinya kita udah lagi bicara berangkat dengan pengetahuan kita sekarang mengenai kitab Kejadian, pak.

Quote
Memang pada masa mula-mula, Alkitab tidak menulis adanya "surat kawin" atau "surat cerai", namun akan pasti ada hukum (mungkin tertulis atau tidak) atau sebuah kesepakatan seorang laki-laki mengambil istri bagi dirinya.
Nah... bold itu didalam pengertian yang bagaimana ? (mohon jangan lupa, kita hidup di jaman tsb) :

a. adanya idea diberkati oleh manusia selain pasangan itu sendiri ?
b. hanya terjadi pada 2 insan tsb ... mereka mempunyai idea yang sama ... sepakat utk hidup berdua selamanya.

Yang memberkati itu kan orang (imam yang mewakili Allah); Adam dan Hawa langsung dihadapan Allah sendiri. Kurang apa lagi? Kurangnya dimana? Otoritas Allah masih kurang di mata Anda?

Justru PERNIKAHAN inilah lembaga yang pertama --> Saksinya Allah, yang menetapkan Allah pula, yang memberkati Allah pula.
Sekali lagi, kalimat diatas itu kita udah lagi bicara dgn kacamata bhw di jaman tsb sudah eksis kitab Genesis, pak.

Quote
Anda merasa kurangnya dimana?
Justru pertanyaan yg timbul di benak saya kebalikannya pak. Manusia itu merasa kurangnya dimana ? Apakah tidak cukup pabila Allah saja yang tau dan menjadi saksi ?

Quote
Mosok Tuhan bikin Kantor catata sipil dulu, baru memberkati Adam-Hawa?
bukan soal kantor camat atopun catatan sipilnya pak. Yang saya maksudkan adalah : begimana itu awal ceritanya manusia tau akan harus adanya pihak lain berupa manusia yang memberkati suatu pasangan yg ingin hidup berdua sehidup semati.

So... "tau"nya itu apakah idea logikal ?
ataukah "tau"nya itu literally ada sosok Allah yang ngebisikin ?

:)
salam.
August 24, 2015, 01:28:06 PM
Reply #17
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13038
    • fossil coral cantik
Pada mulanya ga perlu saksi
wong Tuhan Allah sendiri yang memberkati masa kredibilitasnya diragukan?
begini hen... mari kita coba tempatkan diri kita itu sendiri lagi hidup di jaman tsb.

Begimana kita bisa menyatakan kalimat di quote atas hen ? sementara saat itu kita gak tau apa apa ?

Quote
saksi itu adalah sistem yang kemudian diciptakan manusia untuk lebih memperkuat suatu perkara saja, pernikahan salah satunya
Orang yang memberkati pasangan ---> ini secara langsung juga sebagai satu2nya saksi kan yah hen ?

Nah... pertanyaannya

case-X
begimana itu asal-usulnya kita yg idup di jaman tsb berpendapat bhw kalo kita ingin sehidup semati dengan pasangan kita, maka selain kita berdua harus ada orang laen lagi yang tau. So, disini adalah pov pasangan.

Dilain sisi,
case-Y
begimana itu asal usulnya jadi ada rule : [kalo ada pria-wanita ingin sehidup semati maka harus ada orang laen lagi yang tau sbg saksi dan sbg orang yang memberkati]. So... disini bukan dari pov pasangan, melainkan pasangan ngikut pov rule.

Untuk tambah puyeng lagi :
jadi mana yang duluan ? yang X atokah yang Y ?  :cheesy: :char11: :D

Quote
saya percaya saat itu orang2 masih bisa berhubungan langsung dengan Allah dan bahkan secara audible
jadi walaupun mereka tidak tahu sekalipun mereka akan diberi tahu oleh Allah
Dengan demikian, terbuka kemungkinan HANYA Nuh dan CALON istri-nya lah yang dikasih tau Allah mengenai perihal ini kan yah hen ? Pertanyaannya :
1. kepada siapa Nuh meminta orang utk menjadi saksi sbg wakil Allah atas keinginan Nuh dgn calon istrinya tsb sehidup semati ? Sementara tidak ada satu orangpun yang pantas menjadi wakil Allah saat itu ?
2. jadi begimana pov orang2 laen di jaman tsb thdp Nuh dan istrinya ? Apakah mereka itu berstatus suami-istri ato bukan ?

Quote
jadi pada saat orang2 jaman itu mau menikah, mereka akan minta restu orang tuanya sebagai wakil Allah (ini kemungkinan yang paling mungkin)
Dengan demikian jawaban atas pertanyaan ijo adalah point-X  ? Dengan kata lain secara ilustrasi :

Seth (anak ketiga AdamHawa) dan calon istrinya adalah pasangan pertama yang meminta restu kepada ortu sbg wakil Allah ....  BUKAN AdamHawa-lah yang duluan kasih tau ke Seth bhw "kalo Seth ingin sehidup semati dgn perempuan minta restulah ke kami" DAN ini tidak tertulis. So.... bisa dikatakan sebuah tradisi oral donk ya.


Quote
so pendapat saya tetap : pernikahan itu adalah ide orisinil dari Allah
Ya... idem dengan "jangan makan babi" dlsb dlsb adalah idea orisinil Allah.

Quote
yang kemudian Allah wahyukan kepada manusia dari awalnya, dan manusia yang mau nurut sama Allah akan memegang erat prinsip ini.
Dengan demikian, restu dari ortu udah cukup bagi pasangan, dimana selanjutnya pasangan bisa bersetubuh.

Quote
manusia sendiri ga bakalan bisa menciptakan ide pernikahan
Lah... emangnya idea-idea logical cemerlang yg ada pada orang2 pinter menurut henhen itu bukan dari Allah melainkan idea manusia itu sendiri ?

BTT,
(pada asumsi apa yg menuruh henhen adalah benar dan memang begitulah adanya)
nah setelah Seth sbg orang yg pertama kali ber-idea demikian, selanjutnya ini bisa dikatakan jadi tradisi oral kan ya ? yakni : pasangan yg ingin berdua sehidup semati itu harus disertai eksisnya saksi sbg pihak yg memberkati/merestui.

:)
salam.
August 24, 2015, 01:41:01 PM
Reply #18
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6474
  • Mistery
  • Denominasi: Karismatik
Oda,
Pengetahuan itu diteruskan scr lisan.
Adam diajari oleh Allah bhw psatuan suami-istri harus atas spengetahuan orang tua.
Adam ngajari ke Set, Set ajarin ke anak-anaknya, dst.

Yg lisan ini juga pasti dituliskan, tetapi mungkin kita tidak angkat tulisan-tulisan itu sbg Kitab Suci (ataupun tulisan-tulisan itu tidak dilestarikan krn dianggap surat biasa).

Jd ngga bisa juga kita dg naif mengira bhw sblm ada Taurat maka jaman dulu tidak berlaku apapun sbgmn yg ttulis di Taurat.

Kl mnrt saya bahkan,
Ada aturan-aturan yg sudah scr tradisi dijalankan di kalangan masyarakat Israel sebelum Taurat muncul.
Taurat mungkin saja re-write tradisi tsb mjd suatu ketetapan sejajar Kitab Suci.

Misal,
Sblm Taurat itu orang Israel udah sunat.
Nah, sunat itu mreka terapkan mulai kapan? Taurat kan muncul jaman Musa.
Lalu Abraham knp ber-sunat?
Apakah ide logis saja?

Ngga.
Abraham mdapat itu dari Tuhan langsung kmudian mnerapkan tradisi lisan.
Maka anak-anaknya mneruskan tradisi lisan ini.

Blakangan Taurat menuliskan ulang tradisi lisan ini dan tradisi ini mjd bagian dari Kitab Suci.

Saya misalkan lagi ya,
Sblm ke-4 penulis Injil mnuliskan soal Pjamuan Kudus, atas dasar apa Gereja mula-mula mlakukan pjamuan kudus?
Simpel, atas dasar tradisi lisan.
Pasti ada juga penatua yg mnuliskan soal tradisi pjamuan kudus ini, namun tulisan penatua tsb tidak dianggap sbg Kitab Suci.
« Last Edit: August 24, 2015, 01:44:23 PM by Siip »
Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati (Pkh 9:4)

https://manusia-biasa-saja.blogspot.com
August 24, 2015, 02:08:04 PM
Reply #19
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 9654
  • Gender: Male
  • You are free to choose
    • Living Testimony (LiTe)
  • Denominasi: Pentakosta Karismatik
begini hen... mari kita coba tempatkan diri kita itu sendiri lagi hidup di jaman tsb.

Begimana kita bisa menyatakan kalimat di quote atas hen ? sementara saat itu kita gak tau apa apa ?
 Orang yang memberkati pasangan ---> ini secara langsung juga sebagai satu2nya saksi kan yah hen ?

gak tau apa2 gimana sih?
kan jelas2 Allah berkomunikasi dengan Adam, Adam berkomunikasi dengan Set, begitu seterusnya sampai Nuh, dan Allah pun bisa berkomunikasi dengan Set/Nuh secara langsung tanpa melalui Adam bahkan kalau Dia mau

malah saya yakin sekali loh Oda
kalau kamu hidup dijaman itu, kamu tidak mungkin tidak tahu bahwa menikah sembarangan itu dosa, dan jika kamu tetap melanggar hal itu, kamu modyar kena aer bah ;D

manusia kan masih sedikit, dan manusia itu hidup 900an tahun, artinya Adam bisa kita asumsikan masih mengajar cicitnya generasi ke-50 lebih kali ya? diluar itu Allah pun masih bisa berbicara kepada manusia pribadi lepas pribadi, entah dari suara hati atau audible

Nah... pertanyaannya

case-X
begimana itu asal-usulnya kita yg idup di jaman tsb berpendapat bhw kalo kita ingin sehidup semati dengan pasangan kita, maka selain kita berdua harus ada orang laen lagi yang tau. So, disini adalah pov pasangan.

Dilain sisi,
case-Y
begimana itu asal usulnya jadi ada rule : [kalo ada pria-wanita ingin sehidup semati maka harus ada orang laen lagi yang tau sbg saksi dan sbg orang yang memberkati]. So... disini bukan dari pov pasangan, melainkan pasangan ngikut pov rule.

Untuk tambah puyeng lagi :
jadi mana yang duluan ? yang X atokah yang Y ?  :cheesy: :char11: :D
 Dengan demikian, terbuka kemungkinan HANYA Nuh dan CALON istri-nya lah yang dikasih tau Allah mengenai perihal ini kan yah hen ? Pertanyaannya :
1. kepada siapa Nuh meminta orang utk menjadi saksi sbg wakil Allah atas keinginan Nuh dgn calon istrinya tsb sehidup semati ? Sementara tidak ada satu orangpun yang pantas menjadi wakil Allah saat itu ?
2. jadi begimana pov orang2 laen di jaman tsb thdp Nuh dan istrinya ? Apakah mereka itu berstatus suami-istri ato bukan ?
 Dengan demikian jawaban atas pertanyaan ijo adalah point-X  ? Dengan kata lain secara ilustrasi :

Seth (anak ketiga AdamHawa) dan calon istrinya adalah pasangan pertama yang meminta restu kepada ortu sbg wakil Allah ....  BUKAN AdamHawa-lah yang duluan kasih tau ke Seth bhw "kalo Seth ingin sehidup semati dgn perempuan minta restulah ke kami" DAN ini tidak tertulis. So.... bisa dikatakan sebuah tradisi oral donk ya.

 Ya... idem dengan "jangan makan babi" dlsb dlsb adalah idea orisinil Allah.
 Dengan demikian, restu dari ortu udah cukup bagi pasangan, dimana selanjutnya pasangan bisa bersetubuh.
 Lah... emangnya idea-idea logical cemerlang yg ada pada orang2 pinter menurut henhen itu bukan dari Allah melainkan idea manusia itu sendiri ?

BTT,
(pada asumsi apa yg menuruh henhen adalah benar dan memang begitulah adanya)
nah setelah Seth sbg orang yg pertama kali ber-idea demikian, selanjutnya ini bisa dikatakan jadi tradisi oral kan ya ? yakni : pasangan yg ingin berdua sehidup semati itu harus disertai eksisnya saksi sbg pihak yg memberkati/merestui.

:)
salam.

jawabannya sama bung Oda
mereka tau dari Allah

asumsinya? ayat Firman Tuhan yang saya yakini benar terjadi apa adanya itulah dasarnya

saya sih ga puyeng dan saya ga bisa kamu bikin puyeng Oda (khusus topik ini)
hahaha ;D
« Last Edit: August 24, 2015, 02:17:30 PM by HenHen »
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)