Author Topic: By: Ellen G. White, Buku: Kebahagiaan Sejati  (Read 7560 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 03, 2016, 08:31:31 AM
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2736
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
Minggu 03/January/2016

JUDUL ASLI BUKU: STEPS TO CHRIST

Bab, 2 MENYADARI KEPERLUAN-MU

MENYADARI KEPERLUANMU

Pada mulanya manusia dikaruniai kuasa berpikir yang mulia dan seimbang. Manusia itu sempurna tubuhnya, selaras dengan kehendak Allah. Pikiran-pikirannya bersih, maksud-maksudnya pun suci.

Tetapi karena durhaka, kuasanya berubah, lalu rasa mementingkan diri sendiri mengambil alih tempat kasih itu. Keadaannya menjadi amat lemah karena pelanggaran itu sehingga membuat dia tidak mungkin, dengan kekuatannya sendiri, melawan kuasa kejahatan itu.

Dia telah ditawan Setan dan akan tetap dikuasainya kalau Tuhan Allah tidak turut campur tangan secara khusus. Maksud penggoda ialah menghalang-halangi rencana Ilahi di dalam penciptaan manusia itu, lalu memenuhi bumi ini dengan bencana yang memilukan. Dan dia akan menunjukkan bahwa semuanya ini terjadi sebagai akibat daripada pekerjaan Tuhan Allah dalam menjadikan manusia itu.

Dalam keadaan tanpa dosa,  manusia dapat mengadakan hubungan yang menyenangkan dengan Allah yang “di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kolose 2:3). Tetapi sejak manusia jatuh ke dalam dosa, tiada lagi dia dapat menikmati kesenangan hubungan yang kudus itu, bahkan dia mencoba menyembunyikan dirinya dari hadapan hadirat Tuhan Allah.

Demikianlah selalu keadaan hati yang masih belum dibarui. Ia tidak sesuai dengan Allah dan tidak akan mendapat kesenangan dalam hubungan dengan Dia. Orang yang berdosa tidak senang di hadapan Allah, dia akan takut dan mengundurkan diri dari pergaulan dengan makhluk-makhluk yang suci.

Sekiranya dia diperkenankan memasuki surga, hal itu tidak akan menggembirakannya. Kasih yang tidak mementingkan diri sendiri yang bertahta di surga-- setiap hati yang menyambut hati kasih Allah yang tiada batasnya --tidak akan mendapat sambutan di dalam jiwanya. Pikiran-pikirannya, yang memikat hatinya, motif-motif yang terdapat padanya, berlawanan dengan orang-orang yang tiada berdosa yang tinggal di sana. Dia akan menjadi satu bunyi sumbang dalam irama surga. Baginya surga adalah tempat penuh siksa; dia lebih suka lenyap dari Tuhan yang menjadi terang itu, dan menjadi pusat dari segala kegembiraan.

Bukannya Tuhan yang sewenang-wenang memerintahkan supaya orang jahat itu enyah dari surga, mereka sendirilah yang telah mengatupkannya dengan ketidaklayakan mereka menghadapi pergaulan yang terdapat di sana. Bagi mereka kemuliaan Allah akan menjadi satu bara api yang menyala-nyala. Mereka menyambut kebinasaan supaya mereka dapat terlindung dari wajah Yesus Kristus yang telah mati untuk menebus mereka.

Mustahil bagi kita, dengan diri sendiri, keluar dari lubang dosa yang di dalamnya kita tenggelam. Hati kita jahat, kita tidak dapat mengubahnya. “Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorang pun Tidak!” “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.”( Ayub 14:4; Roma 8:6).

Pendidikan, kebudayaan, penguasaan diri, usaha manusia, dan semuanya mempunyai kegunaannya masing-masing, tetapi di sini itu semua tidak berdaya sama sekali. Semua yang disebutkan di atas mungkin saja menghasilkan tabiat yang amat baik secara lahiriah namun tiada dapat membersihkan sumber kehidupan batin itu.

Haruslah ada di dalamnya satu kuasa yang bekerja dari dalam, satu kehidupan baru dari atas, sebelum manusia dapat diubahkan dari dosa kepada kekudusan. Kuasa itu, ialah kuasa Kristus. Hanya anugerah-Nya saja yang dapat menghidupkan segala kuasa jiwa yang tiada berdaya itu, menariknya kepada Allah, kepada kekudusan.


---Bersambung---

 :wink:
salam
TYM
« Last Edit: January 04, 2016, 02:04:00 PM by Simatupang@123 »
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 04, 2016, 09:46:39 AM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2736
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
bersambung, Senin 14/01/2015

Juruselamat berkata: “Jika seorang tidak dilahirkan kembali,” kalau dia tidak menerima satu hati yang baru, kerinduan-kerinduan yang baru, maksud-maksud dan motif yang baru yang menuntun menuju kepada satu kehidupan baru, “tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yohanes 3:3).

Pikiran yang mengatakan bahwa satu-satunya yang perlu dipertumbuhkan ialah yang baik yang memang sudah ada di dalam diri manusia secara alamiah, adalah merupakan satu yang sesat dan amat berbahaya. “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” (1 Korintus 2:14). “Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.” (Yohanes 3:7). Tentang Kristus tertulis sebagai berikut, “Di dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia--tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Yohanes 1:4; Kisah 5:12).

Tidaklah cukup hanya sekadar mengerti kelembutan kasih Allah, melihat sifat kemurahan-Nya, dan kelembutan seorang Bapa. Tidak cukup hanya dengan mengenal hikmat dan keadilan hukum-Nya, melihat bahwa hukum itu didasarkan atas prinsip kasih yang abadi. Rasul Paulus melihat semuanya ini ketika dia berseru: “Aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik,” “Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.” Bahkan ditambahkannya di dalam jeritan jiwa yang pedih dan dengan rasa putus asa,” ... tetapi aku bersifat daging, terjual dan di bawah kuasa dosa” ( Rm 7:16,12,14). Dia merindukan kesucian, kebenaran, ke dalam mana dia sendiri tak berdaya memperolehnya, lalu berseru-seru: “Aku manusia yang celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Roma 7:24. Jeritan yang demikian  keluar dari bibir orang-orang yang dibebani dosanya di segenap penjuru dunia, pada sepanjang abad. Untuk menjawab semuanya ini, hanya satu jawab, yakni: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang mengangkut dosa isi dunia” (Yohanes 1:29).

Dengan banyak perumpamaan Roh Allah telah berusaha menggambarkan kebenaran ini, dan membuatnya demikian jelas kepada jiwa-jiwa yang sudah lama merindukan kebebasan dari kungkungan beban salah. Manakala setelah dosanya, yakni menipu Esau. Yakub melarikan diri dari rumah ayahnya, dia dibebani satu perasaan bersalah. Dalam keadaan seorang diri dan terbuang terpisah dari segala sesuatu yang membuat hidupnya berharga, satu pikiran yang paling dipikirkannya di dalam jiwanya, ialah rasa takut bahwa dosanya telah memisahkan dia dari Allah, bahwa surga telah meninggalkan dia. Dalam keadaan dukacita yang dalam dia membaringkan tubuhnya beristirahat sebentar di atas tanah, di sekitarnya terdapat hanyalah bukit-bukit sepi, dan di atasnya, bintang-bintang menyinari langit. Ketika dia tertidur lelap, seberkas cahaya mengambang dalam khayalnya; dan lihatlah, dari lembah tempat dia berbaring, ada jenjang tangga yang menjurus ke langit hingga ke pintu gerbang surga, dan di atasnya para malaikat Allah turun naik, sementara dari kemuliaan yang di atas, suara Allah kedengaran di dalam satu pesan penghiburan dan pengharapan. Demikianlah dinyatakan kepada Yakub pemenuhan kebutuhan dan kerinduan jiwanya--kerinduan akan seorang Juruselamat. Dengan perasaan gembira dan syukur dia telah memandang satu jalan yang mana dia sebagai seorang yang berdosa, dapat dipulihkan hubungannya dengan Allah. Jenjang tangga yang ajaib itu yang dilihat dalam mimpinya menggambarkan Yesus, satu-satunya jalan hubungan antara Allah dan manusia.
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 04, 2016, 10:01:46 AM
Reply #2
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2736
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist

Gambaran ini jugalah yang ditunjukkan Yesus di dalam percakapan-Nya dengan Natanael ketika Dia berkata: “Sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia” (Yohanes 1:51). Di dalam kemurtadan manusia memang menjauhkan dirinya dari Tuhan, dunia tercerai dari surga. Antara jurang yang memisahkan itu, tiada hubungan. Tetapi melalui Kristus, dunia kembali dijembatani dengan surga. Dengan jasa-Nya sendiri, Kristus telah menjembatani jurang yang dibuat dosa, sehingga malaikat-malaikat yang melayani dapat berhubungan dengan manusia. Kristus menghubungkan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa itu dan di dalam kelemahan dan keadaan tiada daya itu, dengan sumber kuasa yang tiada batasnya.
 
Tetapi sia-sialah impian-impian akan kemajuan, segala usaha mereka meninggikan manusia, jika mereka melupakan satu-satunya sumber pengharapan dan pertolongan bagi umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, di turunkan dari Bapa segala terang” (Yakobus 1:17), yaitu berasal dari Allah Bapa. Tiada kemuliaan tabiat yang sempurna kalau tidak dari Dia. Dan satu-satunya jalan kepada Allah ialah Kristus. Kata-Nya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

---bersambung---

salam  :wink:
TYM
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 05, 2016, 07:50:42 AM
Reply #3
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2736
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
---Berlanjut, 01/05/2015---

Hati Allah rindu terhadap anak-anak-Nya yang di dunia dengan satu kasih yang lebih kuat daripada kematian. Di dalam memasrahkan Anak-Nya itu, Dia telah memasrahkan kepada kita segenap surga di dalam satu pemberian kehidupan Juruselamat dan kematian serta pengantaraan-Nya, pelayanan malaikat-malaikat, Roh yang memohonkan, Allah Bapa bekerja di atas dengan segala perkara, perhatian yang tiada putus-putusnya dari makhluk-makhluk surga semuanya dikerahkan demi penebusan umat manusia.

Oh, marilah kita renungkan pengorbanan yang ajaib yang telah dibuat untuk kita! Marilah kita coba menghargai pekerjaan dan tenaga surga yang telah dikerahkan untuk merebut yang hilang serta membawa mereka kembali ke rumah Bapa.

upah yang besar, kesenangan surga, pergaulan para malaikat, hubungan dan kasih Allah dan Anak-Nya, peninggian dan perluasan segala kuasa kita sampai selama-lamanya--bukankah ini pendorong yang maha kuat dan memberi keberanian mendorong kita menyerahkan pelayanan kasih kepada Khalik dan Penebus kita?

Dan sebaliknya, hukuman yang dinyatakan Allah untuk melawan dosa, pembalasan yang tidak terelakkan, dari hal kerendahan tabiat kita, dan kebinasaan yang terakhir, sudah diterangkan di dalam Firman Tuhan untuk mengamarkan kita supaya melawan pekerjaan Setan.

Apakah kita meremehkan anugerah Allah itu? Apalagi yang patut dilakukan-Nya? Marilah kita taruh diri kita sendiri di dalam hubungan yang baik dengan Dia yang telah mengasihi kita dengan kasih yang ajaib. Marilah kita menggunakan bagi diri kita kesempatan yang telah diberikan-Nya kepada kita supaya kita dapat diubahkan menjadi serupa dengan Dia, dan dipulihkan kembali ke dalam persahabatan dengan malaikat-malaikat yang melayani, ke dalam hubungan yang harmonis dengan Allah Bapa dan Anak itu.


Bab 2 Selesai,
Berlanjut Besok, Bab III


 :wink:
salam

TYM
« Last Edit: January 05, 2016, 07:54:22 AM by Simatupang@123 »
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 06, 2016, 07:23:48 AM
Reply #4
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2736
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
berlanjut, 06/01/2016

Bab 3.
AKUILAH KESALAHANMU

Bagaimanakah seorang manusia dapat benar di hadapan Allah? Bagaimanakah orang berdosa itu dapat dibenarkan? Hanya melalui Kristuslah kita dapat rukun dengan Allah, dengan kesucian,

tetapi bagaimanakah kita datang kepada Kristus?
Banyak orang yang menanyakan pertanyaan yang serupa itu, sebagaimana yang juga ditanyakan orang banyak pada Hari Pentakosta, ketika dosanya ditunjukkan, mereka berseru: “apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” Jawab Petrus kepada mereka: “Hendaklah kamu bertobat,” Kisah 2:37,38. Pada saat yang lain dengan singkat dikatakannya: “Karena itu sadarlah dan bertobatlah supaya dosamu dihapuskan” (Kisah 3:19).

Di dalam pertobatan termasuk penyesalan akan dosa dan berpaling dari padanya. Kita tidak akan meninggalkan dosa itu kecuali kita melihat betapa jahatnya dosa-dosa itu; sebelum kita mengenyahkannya dari dalam hati kita, tidak akan ada perubahan yang sesungguhnya di dalam kehidupan.

Banyak orang yang gagal mengerti keadaan yang sesungguhnya daripada pertobatan itu. Orang banyak merasa sedih karena mereka telah berbuat dosa dan mengadakan pembaruan secara lahiriah karena mereka takut terhadap perbuatan yang salah yang dilakukan mereka akan membawa bencana kepada diri mereka sendiri. Tetapi bukan pertobatan yang semacam ini yang dikatakan di dalam Alkitab.

Mereka meratapi kesengsaraan melebihi dosa itu sendiri. Demikianlah duka yang dialami oleh
Esau ketika hak sulungnya hilang untuk selama-lamanya.
Balhum, takut karena Malaikat berdiri di tengah jalannya dengan pedang yang terhunus, mengaku kesalahannya supaya nyawanya jangan hilang tetapi bukan itulah pertobatan sejati terhadap dosanya, tiada perubahan maksud, tiada kemuakan akan kejahatan.
Yudas Iskariot, setelah mengkhianati Tuhannya berseru: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah”(Matius 27:4). Pengakuan terdorong dari jiwanya yang merasa bersalah dengan perasaan akan hukuman yang dahsyat dan satu pandangan yang menakutkan atas pehukumannya. Akibat-akibat yang ditanggungnya memenuhi dirinya dengan perasaan dahsyat, namun tiada berakar dalam, dengan hati yang hancur di dalam jiwanya, karena dia telah mengkhianati Anak Allah yang tiada bersalah sama sekali serta menyangkal Yang Maha Suci orang Israel.
Firaun, yang mengakui salahnya untuk menghindarkan hukuman yang berikutnya, bahkan kembali melawan Allah begitu kutuk itu dihentikan.

Semua ratapan semacam ini hanyalah akibat-akibat dosa itu, tetapi bukan karena berduka cita atas dosa itu sendiri.


---untuk menjawab bagaimana pertobatan yang benar Berlanjut Besok[/b---

 :wink:
salam

TYM
« Last Edit: January 06, 2016, 07:45:19 AM by Simatupang@123 »
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 07, 2016, 09:10:39 AM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2736
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
Berlanjut, Kamis, 07/01/2015

Tetapi apabila hati menyerah kepada pengaruh Roh Allah, maka hati nurani akan dihidupkan, dan orang yang berdosa akan melihat hal-hal yang dalam dan kekudusan hukum Allah yang suci, dasar pemerintahan Allah di surga dan dunia.

Karena “Terang yang sesungguhnya yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia,” menerangi segenap sudut yang gelap dalam jiwa itu, dan hal-hal yang tersembunyi di dalam kegelapan dinyatakan (Yohanes 1:9). Keyakinan mencekam hati dan pikiran. Orang yang berdosa beroleh satu perasaan gentar untuk menghadap, di dalam kesalahan dan ketidaksuciannya sendiri, di hadapan Allah yang menyelidik hati manusia. Dia memandang kasih Allah, keindahan kesucian, kegembiraan kesucian, dia ingin disucikan dan dipulihkan dalam hubungan dengan Surga.
 
Doa Daud setelah kejatuhannya menggambarkan keadaan duka sejati atas dosa itu. Pertobatan yang jujur dan dengan hati tulus dan dalam. Padanya tidak ada usaha meringankan kesalahannya; tiada keinginan melarikan diri dari pehukuman yang mengancam, membuat dia tekun dalam doa. Daud melihat betapa besarnya pelanggaran yang mengancam, membuat dia tekun dalam doa. Daud melihat betapa besarnya pelanggaran yang diperbuatnya, diketahuinya jiwanya yang kotor, ia benci terhadap dosanya. Bukan saja keampunan yang dimintanya, tetapi juga hati yang sejati. Dia merindukan kegembiraan yang kudus supaya dipulihkan selaras dengan hubungan kepada Allah.

Inilah ungkapan jiwanya. “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!

*Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan yang tidak berjiwa penipu!” (Mazmur 32:1,2).
*“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!
*Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.
*Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.
*Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.
*Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju.... Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!
Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus daripadaku!
*Bangkitkanlah kembali kepadaku kegirangan karena selamat yang daripada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!
Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu. Lepaskanlah aku dari utang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu! Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu” (Mazmur 51:2-17).


***
« Last Edit: January 07, 2016, 09:40:15 AM by Simatupang@123 »
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 07, 2016, 09:32:07 AM
Reply #6
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2736
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
***
Satu pertobatan semacam ini di luar kemampuan kita untuk melengkapkannya; itu dapat diperoleh hanyalah dengan Kristus, yang telah terangkat ke atas dan telah memberikan segala karunia kepada manusia.

Justru di sinilah banyak orang yang sesat dan karena itu mereka gagal menerima bantuan yang ingin diberikan Kristus kepada mereka. Mereka kira bahwa mereka tidak dapat datang kepada Kristus kecuali pertama-tama mereka bertobat, dan pertobatan yang demikian menyediakan jalan keampunan atas dosa-dosa mereka.

Memang benar bahwa pertobatanlah yang pertama mendahului keampunan dosa-dosa; karena hanya orang yang telah hancur hatinya yang akan dapat merasakan perlunya seorang Juruselamat. Tetapi haruskah orang berdosa menunggu sampai dia telah bertobat sebelum dia menerima Kristus? Apakah pertobatan itu merupakan satu penghalang di antara orang yang berdosa dengan Juruselamat?

Alkitab tidak mengajarkan bahwa orang berdosa harus bertobat sebelum dia dapat mengindahkan undangan Kristus, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28).
Kebajikan yang datang dari Kristus itulah yang menuntun orang menuju pertobatan yang sejati.

Rasul Petrus membuatnya dengan jelas di dalam ucapannya kepada orang-orang Israel manakala dia berkata: “Dialah yang telah ditinggilkan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kisah 5:31). Terlebih lagi kita tidak dapat bertobat tanpa Roh Kristus yang membangunkan hati nurani dan kita tidak dapat diampuni tanpa Kristus.

Kristuslah sumber tiap-tiap penggerak yang benar. Dialah satu-satunya yang dapat menanamkan di dalam hati itu sifat melawan dosa. Tiap-tiap keinginan akan kebenaran dan kesucian, setiap keyakinan kesadaran akan dosa-dosa kita sendiri, adalah merupakan bukti bahwa Roh Kristus bergerak di dalam hati kita.
 
Yesus berkata: “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik orang datang kepada-Ku” (Yohanes 12:32). Kristus haruslah dinyatakan kepada orang berdosa sebagai Juruselamat yang mati untuk dosa-dosa dunia; dan kalau kita menatap pada Domba Allah yang tergantung di kayu salib Golgota, rahasia penebusan mulai dibuka ke dalam pikiran kita dan kebaikan Tuhan akan menuntun kita menuju pertobatan. Di dalam kematian bagi orang-orang berdosa, Kristus menunjukkan satu kasih yang tiada terduga dalamnya, dan kalau orang yang berdosa memandang pada kasih ini, maka hatinya akan dilembutkan, hatinya hancur, dan penyesalan pun timbul di dalam jiwanya.


---Bersambung---  :wink:

salam
TYM
« Last Edit: January 07, 2016, 09:53:29 AM by Simatupang@123 »
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 08, 2016, 02:37:38 PM
Reply #7
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2736
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
Berlanjut, Jumat, 08/01/2015

Memang benar bahwa manusia itu kadang-kadang malu terhadap jalan-jalannya yang penuh dosa serta meninggalkan kebiasaan-kebiasaan mereka yang buruk, sebelum mereka sadar bahwa mereka sedang tertarik kepada Kristus.  Satu pengaruh yang tidak mereka sadari bekerja di dalam jiwa mereka, sehingga hati nurani dibangunkan, dan kehidupan tabiat pun diperbaiki. Manakala Kristus menarik mereka supaya menatap pada salib-Nya, menatap Dia yang telah tertikam oleh karena dosa-dosa mereka itu, maka mulailah hukum Tuhan bermukim di dalam hati nurani. Jahatnya kehidupan mereka, dalamnya dosa-dosa mereka berakar di dalam jiwa, diperlihatkan kepada mereka itu. Mereka mulai memahami sesuatu mengenai kebenaran Kristus serta berseru-seru: “Apakah dosa itu sehingga mengharuskan satu korban penebusan bagi orang-orang yang menjadi korbannya? Apakah semua kasih, segala derita, segala kehinaan ini dituntut, supaya kami jangan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal?

Orang berdosa mungkin menolak kasih ini, dapat menolak ditarik pada Kristus; tetapi jika dia tidak menolaknya maka dia akan ditarik pada Kristus, satu pengetahuan tentang rencana keselamatan akan menuntun dia ke kaki salib di dalam pertobatan dari dosa-dosanya, yang telah mendatangkan kesengsaraan yang begitu besar terhadap Anak Allah yang kekasih.

Pikiran Ilahi yang demikian yang juga bekerja di atas alam kejadian berbicara ke dalam hati manusia dan menciptakan satu kerinduan yang tak terlukiskan terhadap sesuatu yang tiada dimiliki mereka. Perkara-perkara dunia ini tidak memuaskan kerinduan mereka. Roh Tuhan memohon bersama mereka untuk mencari perkara-perkara yang satu-satunya dapat memberikan damai sejahtera karunia Kristus, yaitu kegembiraan akan kesucian. Melalui pengaruh-pengaruh yang tidak kelihatan dan yang kelihatan, Juruselamat kita senantiasa bekerja menarik pikiran manusia dari kesenangan-kesenangan dosa yang tidak memuaskan itu kepada berkat-berkat yang tiada batasnya yang dapat mereka peroleh di dalam Dia.
Bagi semua jiwa-jiwa seperti ini, yang dengan sia-sia mencari minuman dari cawan dunia yang pecah ini, pekabaran Ilahi disampaikan. “Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil kehidupan dengan cuma-cuma!”( Wahyu 22:17).

Engkau yang merindukan sesuatu yang lebih baik daripada yang dapat diberikan dunia ini, mengenal kerinduan ini sebagai suara Allah bagi jiwamu. Pintalah pada-Nya supaya memberikan pertobatan, untuk menyatakan Kristus padamu di dalam kasih-Nya yang tiada batasnya, di dalam kekudusan-Nya yang sempurna. Di dalam kehidupan Kristus prinsip-prinsip hukum Allah--kasih kepada Allah dan manusia--diterangkan dengan jelas.

Kemurahan, kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, adalah kehidupan jiwa-Nya. Sementara kita memandang pada-Nya, sementara terang yang datang dari Juruselamat kita menerangi kita, maka kita melihat hati kita sendiri yang penuh dengan dosa.
 
Mungkin kita memuji-muji diri kita sendiri seperti yang dilakukan Nikodemus, bahwa kehidupan kita telah benar, tabiat kita mulia dan mengira bahwa kita tidak perlu lagi merendahkan hati di hadapan Tuhan, seperti orang berdosa pada umumnya; tetapi apabila kita melihat terang Kristus yang bersinar menerangi jiwa-jiwa kita, maka akan tampak kepada kita betapa tidak sucinya kita; kita akan melihat motif-motif yang mementingkan diri kita sendiri, bertentangan dengan Tuhan Allah, yang telah mencemarkan tiap-tiap tingkah laku kehidupan kita. Barulah kita mengetahui bahwa kebenaran kita sesungguhnya bagaikan kain yang buruk dan kotor, sehingga hanya darah Kristus sendirilah yang dapat membasuhkan hati kita dalam teladan-Nya sendiri.

Seberkas sinar kemuliaan Allah, sepercik sinar kesucian Kristus, menembusi jiwa, membuat setiap noda kecemaran itu nyata sekali, dan membentangkan kekurangan dan keburukan tabiat manusia, diperlihatkan keinginan-keinginan yang cemar, hati yang kurang percaya, bibir yang najis. Perbuatan-perbuatan manusia yang tidak senonoh di dalam melanggar hukum Allah, dibentangkan di hadapannya, dan jiwanya di lukai serta diusahakan di bawah pengaruh Roh Allah yang tajam. Dia muak akan dirinya sendiri apabila dipandangnya kesuciannya, tabiat Kristus yang tiada nodanya.

---Bersambung---

salam
TYM
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 09, 2016, 03:26:29 PM
Reply #8
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2736
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
Berlanjut, Sabtu, 09/01/2015

Manakala Nabi Daniel memandang kemuliaan yang mengitari juru kabar surga yang dikirim padanya, dia ditudungi satu perasaan kelemahan-kelemahan dan ketidaksempurnaan dirinya. Dalam melukiskan efek pemandangan yang menakjubkan itu dia berkata: “hilanglah kekuatanku; aku menjadi pucat sama sekali, dan tidak ada lagi kekuatan padaku” (Daniel 10:8). Jiwa yang telah disentuh-Nya akan membenci rasa mementingkan diri sendiri, benci terhadap sifat cinta diri sendiri, lalu akan mencari, melalui kebenaran Kristus,  kesucian hati yang seirama dengan hukum Taurat dan sifat Kristus.

Paulus mengatakan bahwa di dalam “mengajarkan kebenaran  hukum Taurat aku tidak bercacat.” (Filipi 3:6); tetapi apabila sifat rohani hukum itu yang dipandang maka dia melihat dirinya sebagai seorang yang berdosa. Menurut huruf hukum itu sebagaimana manusia menggunakannya dalam kehidupan secara lahiriah, maka dia lepas dari dosa; tetapi apabila dia memandang ke dalam kedalaman peraturan-peraturan yang suci itu serta membandingkan dirinya sendiri sebagaimana Tuhan memandang dia, dia tunduk di dalam kerendahan hati lalu mengakui kesalahannya. Katanya: “Dulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup”(Roma 7:9). Apabila dia memandang keadaan rohani hukum itu, dosa tampak dalam kekejiannya yang sebenarnya, dan pemegahan dirinya sendiri pun lenyaplah.

Allah bukannya memandang semua dosa itu sama besarnya; ada ukuran kesalahan di dalam timbangan-Nya, sebagaimana pada manusia itu sendiri; tetapi betapa kecil pun kesalahan ini dan itu menurut pandangan manusia, tiada dosa kecil di hadapan Allah. Pertimbangan manusia berat sebelah, mementingkan diri sendiri, tidak sempurna, tetapi ukuran Allah atas segala sesuatu adalah sebagaimana adanya yang sesungguhnya. Seorang pemabuk dihinakan dan telah dikatakan bahwa dosanya akan mengasingkan dia dari surga; sementara keangkuhan Roh mementingkan diri sendiri, dan ketamakan terlalu sering dibiarkan. Tetapi dosa-dosa inilah yang terutama dibenci Allah karena bertentangan dengan kemurahan tabiat-Nya, terhadap kasih yang tiada mementingkan diri sendiri yang merupakan suasana alam semesta yang tidak jatuh ke dalam dosa. Orang yang jatuh ke dalam sejumlah dosa-dosa dapat merasakan satu perasaan malu dan kemiskinan serta merasakan keperluannya akan anugerah Kristus, tetapi perasaan angkuh tidak merasa perlunya, sehingga menutup hati melawan Kristus serta berkat-berkat yang tiada batasnya yang mana Dia telah datang untuk mengaruniakannya.

Pemungut cukai yang berdoa kepada Tuhan “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Lukas 18:13) menganggap dirinya sendiri sebagai orang yang jahat, serta orang lain menatap padanya demikian, namun dia merasakan keperluannya, dan dengan beban kesalahannya serta yang memalukannya dia menghadap Tuhan, memohon kemurahan-Nya hatinya telah terbuka terhadap Roh Allah untuk melakukan pekerjaan kemurahan itu serta membebaskan dia dari kuasa dosa. Kesombongan orang-orang Farisi, doa pembenaran diri sendiri yang ditunjukkannya membuat hatinya tertutup dan melawan pengaruh Roh Suci. Karena jaraknya jauh dari pada Tuhan Allah, dia tidak mempunyai perasaan diri yang cemar, berlawanan dengan kesempurnaan kesucian Ilahi. Dia tidak merasa kekurangan apa-apa, sehingga dia pun tidak menerima apa-apa.
 
Jika engkau melihat dosa-dosamu dan merasakannya, janganlah lalai memperbaiki dirimu sendiri.

---Bersambung---

salam
TYM
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 10, 2016, 08:50:32 AM
Reply #9
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2736
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
Berlanjut, Minggu 10/01/2016

Betapa banyak orang yang menganggap dirinya tidak layak datang kepada Kristus. Apakah engkau berharap supaya menjadi lebih baik dengan usaha-usahamu sendiri? “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?” Yeremia 13:23. Hanya di dalam Allah saja kita dapat memperoleh pertolongan. Kita seharusnya janganlah menunggu bujukan-bujukan yang lebih kuat, untuk kesempatan-kesempatan yang lebih baik, atau perangai yang lebih suci. Kita tidak dapat berbuat sesuatu dengan diri kita sendiri. Kita harus datang kepada Kristus sebagaimana adanya.

Tetapi janganlah ada seorang pun yang menipu dirinya sendiri dengan anggapan bahwa Allah, di dalam kasih-Nya yang agung dan berkemurahan, akan menyelamatkan orang-orang yang menolak karunia-Nya. Dosa-dosa yang terbesar dapat ditimbang hanyalah di dalam terang salib itu. Bila orang mengatakan bahwa Allah terlalu baik untuk mencampakkan orang yang berdosa, biarlah dia memandang pada salib Golgota. Karena tiada jalan lain lagi di mana manusia dapat melepaskan diri dari kuasa dosa yang menajiskan dan dapat dipulihkan untuk berhubungan dengan makhluk-makhluk yang suci--mustahil bagi mereka menjadi orang yang turut ambil bagian dalam kehidupan rohani itu--oleh karena inilah Kristus telah menanggung atas Diri-Nya sendiri kesalahan orang yang tidak menurut dan menderita di dalam sengsara orang berdosa. Kasih, penderitaan, dan kematian anak Allah semuanya menyaksikan betapa dahsyatnya dosa, serta menyatakan bahwa tiada kelepasan dari kuasa itu, tiada pengharapan hidup yang lebih tinggi, kecuali melalui penyerahan jiwa kepada Kristus.

Orang-orang berdosa sering memaafkan diri mereka sendiri dengan mengatakan celaan kepada orang yang mengaku dirinya orang Kristen. “Saya juga sama baik dengan mereka itu. Mereka tidak mempunyai penyangkalan diri sendiri, sabar atau berhati-hati di dalam alam tingkah laku mereka sama seperti saya. Mereka senang kepelesiran dan memanjakan nafsu diri sendiri, sama juga dengan saya.
” Dengan demikian mereka membuat kesalahan-kesalahan orang lain sebagai maaf atas kelalaian mereka terhadap kewajiban mereka.[/u Tetapi dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan orang lain tidak memaafkan siapa pun, karena Tuhan Allah tidak pernah menunjukkan teladan yang salah kepada umat manusia. Anak Allah yang tiada bercela telah di karuniakan sebagai teladan kita, dan barangsiapa yang bersungut atas kesalahan orang yang mengaku dirinya Kristen adalah seorang yang harus menunjukkan hidup yang lebih baik dan teladan yang lebih mulia. Jika mereka mempunyai sebuah konsep yang amat tinggi dari hal bagaimana seharusnya orang Kristen itu, bukankah dosa mereka yang terlebih besar? Mereka mengetahui apa yang benar, tetapi tidak mau melakukannya.

Waspadalah terhadap penundaan-penundaan. Jangan lengah membuangkan dosa-dosamu serta mencari kesucian hati melalui Kristus. Di dalam hal seperti inilah ribuan orang yang telah tersesat dan menemui kebinasaannya untuk selama-lamanya.

Saya tidak akan tunjukkan di sini singkat dan tiadanya ketentuan hidup itu; tetapi ada satu bahaya yang mengerikan--satu bahaya yang tidak begitu dipahami--menunda-nunda menyerah pada bisikan suara Roh Allah, memilih hidup di dalam dosa; beginilah penundaan yang sebenarnya itu.

Dosa, betapa kecil pun anggapan atasnya, jikalau selalu dilakukan akhirnya akan membinasakan jiwa. Apa yang kita taklukkan, akan menaklukkan kita dan mendatangkan kebinasaan atas diri kita sendiri.
 
Adam dan Hawa meyakin-yakinkan diri mereka sendiri bahwa di dalam perkara kecil seperti memakan buah pohon larangan itu tidak akan mendatangkan akibat yang mengerikan seperti yang pernah dikatakan oleh Tuhan Allah. Tetapi perkara kecil ini adalah pelanggaran atas hukum Allah yang suci dan tak dapat diubah, itulah yang memisahkan manusia dari Allah lalu membuka pintu banjir kematian serta malapetaka atas dunia kita ini. Abad demi abad telah bangkit dari dunia ini teriak ratapan yang tidak kunjung putus-putusnya, dan semua ciptaan menanggung akibat pendurhakaan manusia. Surga sendiri telah merasakan akibat pemberontakan melawan Allah. Bukit Golgota merupakan tugu peringatan pengorbanan yang menakjubkan yang diharuskan grafirat atas pelanggaran terhadap hukum Ilahi. Janganlah kita anggap dosa sebagai perkara kecil.

---Bersambung---

salam
TYM
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)