Author Topic: By: Ellen G. White, Buku: Kebahagiaan Sejati  (Read 11435 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 11, 2016, 09:50:00 AM
Reply #10
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3018
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
berlanjut,,, Senin, 11/01/2016

Tiap-tiap pelanggaran, tiap-tiap kelalaian atau penolakan atas anugerah Kristus, mendatangkan reaksi atas dirimu sendiri; yaitu mengeraskan hati, merusak kemauan, mematikan pengertian, bukan saja membuat engkau kurang ingin berserah tetapi juga kurang mampu berserah terhadap bujukan Roh Suci Allah yang lemah lembut.

Banyak orang yang mendiamkan hati nurani dengan anggapan bahwa mereka dapat mengubah jalan yang jahat kapan saja mereka kehendaki; bahwa mereka meremehkan undangan-undangan karunia itu, namun pun demikian berulang-ulang hati mereka digerakkan. Mereka kira bahwa sesudah melakukan hal-hal yang merendahkan karunia Roh itu, setelah melontarkan diri mereka ke dalam pengaruh pihak Setan, nanti pada saat keadaan yang dahsyat mereka dapat mengubah jalannya. Tetapi ini tidak mudah dilakukan. Pengalaman, pendidikan, sepanjang hidup, telah membentuk tabiat sedemikian rupa sehingga hanya sedikit saja yang kemudian ingin menerima gambar Kristus.

Meski satu sifat tabiat yang salah, satu keinginan yang penuh dosa, jika terus menerus dilakukan dan ditimang-timang akan merusakkan semua kuasa Injil. Tiap-tiap perbuatan jahat yang dimanjakan mengukuhkan jiwa tidak senang terhadap Allah. Orang yang menunjukkan kekuatan yang tak beriman, atau pendirian yang sama sekali tidak peduli akan kebenaran Ilahi, akan menuai tuaian yang ditanaminya sendiri.

Di dalam Alkitab tiada satu amaran yang lebih menakutkan bagi orang yang membuang-buang waktu untuk melawan kejahatan seperti ucapan raja Salomo yang bijaksana, bahwa orang fasik “tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri” (Amsal 5:22).

Kristus telah bersedia melepaskan kita dari dosa, tetapi kehendak kita tidaklah dipaksa-Nya; tetapi jika pelanggaran-pelanggaran masih terus saja dilakukan maka kemauan itu sendiri dikeraskan kepada kejahatan, sehingga kita tidak ingin lagi bebas, dan jika kemauan tidak menerima karunia-Nya, apa lagi yang dapat Dia perbuat? Kita telah membinasakan diri kita sendiri dengan menentukan penolakan kita atas kasih-Nya. “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya hari ini adalah hari penyelamatan itu.” Pada hari ini jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.”(1 Kor. 6:2; Ibr. 3:7,8.)

“Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi... tetapi Tuhan melihat hati.” Hati manusia, dengan pergulatan-pergulatan perasaan gembira dan duka; hati yang mengembara dan sesat, tempat tinggalnya sekian banyak kecemaran dan tipu daya. (I Samuel 16:7). Tuhan mengetahui segala motif dan maksud tujuan. Pergilah pada-Nya dengan segala beban jiwamu yang cemar. Seperti pemazmur, bukalah bilik-bilik hatimu di hadapan Tuhan yang melihat segala sesuatu, seraya berkata: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”(Mazmur 139:23,24).
Banyak orang yang beragama secara pikiran saja, seolah-olah dalam bentuk satu kepribadian, sedang hatinya tidak dibersihkan. Biarlah doamu seperti berikut: “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaruilah batinku dengan roh yang teguh!”(Mazmur 51:12). Jujurlah terhadap dirimu sendiri! Jujur dan tuluslah serta teguh, seolah-olah hidupmu yang fana ini diancam bahaya maut. Inilah masalah yang harus diselesaikan untuk selama-lamanya. Pengharapan yang direka-reka tidak lebih daripada akan mendatangkan kebinasaan jiwamu saja.

Pelajarilah Firman Allah dengan penuh doa. Firman itu menampilkan ke hadapanmu hukum Allah dan kehidupan Kristus, prinsip-prinsip besar mengenai kesucian tanpa kesucian itu, “tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14). Ia meyakinkan kita dari hal dosa; dinyatakannya dengan jelas keselamatan itu. Dengarkanlah baik-baik padanya seperti suara Allah yang berbicara kepada jiwamu.
 
Jikalau engkau melihat jahatnya dosa itu dan jika engkau melihat dirimu sebagaimana adanya, janganlah putus asa. Kristus telah datang untuk menyelamatkan orang-orang yang berdosa. Kita tidak mendamaikan Allah kepada kita, tetapi - - O kasih yang maha ajaib!-- Sebab “Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus.” (2 Korintus 5:19). Dengan kasih dibujuk-Nya hati anak-anak-Nya yang telah tersesat.

***
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 11, 2016, 10:02:51 AM
Reply #11
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3018
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
***

Tiada orangtua di dunia ini yang begitu sabar terhadap kesalahan-kesalahan dan dosa anak-anaknya seperti kesabaran Allah terhadap orang-orang yang diusahakan untuk menyelamatkannya. Tiada bujukan manusia yang lebih lembut daripada bujukan terhadap orang yang melanggar. Tiada bibir manusia yang pernah mencurahkan kelembutan yang melebihinya, kepada orang yang tersesat, daripada yang dilakukan-Nya, semua janji-janji-Nya, peringatan-peringatan yang diberikan-Nya; semata-mata pernyataan kasih yang tidak terucapkan.

Apabila Setan datang mengatakan padamu bahwa engkau adalah seorang yang besar dosanya, pandanglah kepada Juruselamatmu dan bicaralah mengenai pengorbanan-Nya. Itulah yang dapat membantu engkau memandang kepada terang-Nya. Akuilah dosamu, bahkan katakan kepada musuh itu bahwa “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” dan engkau pun dapat diselamatkan oleh kasih-Nya yang tiada taranya.(1Tim.1:15).

Yesus pernah menanyakan kepada Simon sebuah pertanyaan tentang dua orang yang berutang. Salah seorang di antaranya berutang pada tuannya dengan jumlah yang besar dan yang lain sangat sedikit, tetapi majikannya menghapuskan utang kedua-duanya, dan Kristus menanyakan siapakah dari antara keduanya yang lebih mengasihi majikannya. Lalu jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapus utangnya” (Lukas 7::43). Kita adalah orang-orang yang berdosa besar, tetapi Kristus telah mati supaya kita diampuni. Jasa pengorbanan-Nya cukup lengkap di hadapkan kepada Allah Bapa demi kepentingan kita. Orang yang  paling banyak mendapat keampunan daripada-Nya akan lebih mengasihi Dia pula, dan akan berdiri dekat sekali ke takhta-Nya yang tiada taranya. Kalau kita betul-betul memahami kasih Allah maka kita pun akan menyadari jahatnya dosa itu. Apabila kita melihat panjangnya rantai yang memahami sesuatu dari hal pengorbanan yang tiada batasnya yang telah dilakukan Kristus demi kita, maka hati pun akan diluluhkan dalam kelembutan dan penyesalan.

---Bab III Selesai---
besok berlanjut Bab IV.

salam.
TYM
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 12, 2016, 08:19:54 AM
Reply #12
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3018
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
Berlanjut, Selasa, 12/01/2016

Bab IV, PERTOBATAN

Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkan akan disayangi” (Amsal 28:13).
Syarat-syarat untuk memperoleh kemurahan Tuhan Allah adalah sederhana, adil dan pantas. Tuhan Allah tidak mengharuskan kita melakukan hal yang amat sulit supaya kita dapat memperoleh keampunan dosa. Kita tidak perlu mengadakan perjalanan yang panjang dan meletihkan, atau membuat tebusan Tuhan yang di surga atau untuk melenyapkan pelanggaran-pelanggaran kita; melainkan orang yang mengaku dan meninggalkan dosanyalah yang akan mendapat kemurahan. Seorang rasul berkata: “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh” (Yakobus 5:16).

Akuilah dosamu kepada Tuhan Allah, hanya dialah yang dapat mengampuninya, demikian pula kesalahanmu kepada satu dengan yang lain. Jikalau engkau menghina sahabat atau tetanggamu, engkau harus mengakui kesalahanmu, maka adalah kewajibannya mengampuni engkau. Kemudian carilah keampunan Allah, karena saudara yang telah engkau lukai hatinya adalah milik Allah, dan dengan melukai dia berarti engkau berdosa melawan Khalik dan penebusnya. Masalah itu sampai ke hadapan Pengantara yang sejati yang hanya satu-satunya itu, yakni Imam Besar kita yang telah, “dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” dan karenanya dapat membasuhkan kita dari setiap noda kesalahan kita. (Ibrani 4:15.)

Orang-orang yang belum merendahkan dirinya di hadapan Allah dengan jalan mengakui kesalahan mereka, berarti belumlah memenuhi syarat pertama penerimaan itu. Jika kita belum mengalami pertobatan yang tidak perlu disesalkan, serta belum mempunyai rendah hati yang sejati dalam jiwa dan roh pengakuan yang luluh mengakui dosa-dosa kita, jijik akan kesalahan-kesalahan kita, berarti kita belum berusaha dengan sungguh-sungguh mencari keampunan dosa; dan jika kita tidak pernah mencarinya dengan sungguh-sungguh maka kita tidak akan pernah mendapat damai Allah. Satu-satunya sebab mengapa kita tidak mendapat keampunan dosa-dosa kita pada masa lampau ialah karena kita tidak mau merendahkan hati serta menurut syarat-syarat Firman kebenaran itu. Petunjuk-petunjuk yang jelas telah diberikan mengenai hal ini.

Pengakuan dosa, apakah di hadapan orang banyak atau hanya sendirian, haruslah dengan penuh hati dan dinyatakan dengan tulus. Bukannya harus karena terpaksa dari orang yang berdosa itu. Bukan pula dengan cara sembrono dan remeh, atau dipaksa dari orang-orang yang tidak menyadari rasa jijiknya sifat dosa itu. Pengakuan yang mengalir dari segenap jiwa berjalan menuju Allah yang mempunyai kasih tiada batasnya. Penulis Mazmur berkata seperti berikut: “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (Mazmur 34:19).

Pengakuan yang sesungguhnya senantiasa merupakan satu sifat yang unik, serta mengakui dosa-dosa khusus pula. Mungkin keadaan dosanya itu demikian rupa sehingga harus dibawa ke hadapan Allah saja; mungkin pula kesalahan-kesalahan mereka itu haruslah diakui kepada orang-orang yang telah menderita karenanya, atau mungkin pula kesalahan yang dilakukan di hadapan orang banyak, maka perlu diakui di hadapan orang banyak. Tetapi semua pengakuan haruslah pasti langsung pada sasarannya, mengakui dosa yang nyata-nyata telah dilakukan.
 

---Bersambung---
Salam

TYM
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 13, 2016, 07:11:49 AM
Reply #13
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3018
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
--Berlanjut-- Rabu, 13 January 2016

Pada zaman Nabi Samuel orang-orang Israel jauh sesat dari Tuhan. Mereka telah menderita menanggung akibat dosa mereka, karena mereka telah kehilangan iman dalam Tuhan, kehilangan kearifan akan kuasa serta kebijaksanaan Tuhan dalam memerintah bangsa, hilang keyakinan dan mempertahankan pekerjaan-Nya. Mereka berpaling dari Pemerintah yang besar atas semesta alam dan mereka ingin memerintah sebagaimana bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya. Sebelum mereka mendapat damai mereka membuat pengakuan yang pasti seperti berikut: “Sebab dengan meminta raja bagi kami, kami menambah dosa kami dengan kejahatan ini” (1 Samuel 12:19). Dosa yang mereka sadari itulah yang harus diakui. Rasa tak berterima kasih mereka menekan jiwa-jiwa mereka serta memisahkan mereka dari Allah.

Tanpa pertobatan dan pembaruan yang sejati pengakuannya tidak akan diterima Allah. Harus ada perubahan yang pasti di dalam kehidupan; segala sesuatu yang sifatnya menyerang Allah haruslah dibuangkan. Inilah hasil yang murni dari penyesalan kita akan dosa itu. Pekerjaan yang hendak kita lakukan amat jelas dipampangkan di hadapan kita: “Basuhlah bersihkanlah dirimu jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikan orang kejam. Belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!”(Yesaya 1:16,17). “Orang jahat itu mengembalikan gadaian orang, ia membayar ganti rampasannya, menuruti peraturan-peraturan yang memberi hidup, sehingga tidak berbuat curang lagi, ia pasti hidup, ia tidak akan mati” (Yehezkiel 33:15).

Berbicara mengenai pekerjaan pertobatan ini Paulus berkata “Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah itu mengerjakan pada kamu kesungguhan yang besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kerinduan, kegiatan, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah membuktikan, bahwa kamu tidak bersalah di dalam perkara itu” (2 Korintus 7:11).

Apabila dosa sudah mematikan ajaran-ajaran moral, maka orang-orang yang berdosa tidak akan dapat lagi melihat kekurangan tabiatnya atau pun menyadari hebatnya kejahatan yang telah dilakukannya; jadi kecuali dia menyerah dalam kuasa ROH KUDUS yang meyakinkannya maka dia masih tetap tinggal buta terhadap dosa-dosanya. Pengakuan-pengakuan yang diadakannya tidak sungguh-sungguh dan tulus hati. Terhadap pengakuan segala dosanya selalu ditambahi dalih-dalih mengatakan bahwa kalau bukan karena situasi tertentu dia tidak akan pernah melakukan ini dan itu atas hal mana dia ditegur.

Sesudah Adam dan Hawa memakan buah pohon larangan itu, mereka dipenuhi satu perasaan malu dan takut. Mula-mula yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana mencari dalih atau maaf atas dosa mereka lalu lepas dari hukuman maut yang menakutkan itu. Ketika Tuhan Allah menanyakan dari hal dosa mereka, maka Adam menyahut, menyalahkan Tuhan dan teman hidupnya. “Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan” (Kejadian 3:12,13). Mengapa Engkau jadikan ular itu? Mengapa engkau membiarkannya datang ke taman Eden? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang   terselubung di dalam dalihnya atas dosanya, justru menuduh Allah bertanggung jawab atas kejatuhan mereka kepada dosa.

Roh pembenaran diri sendiri bermula di dalam bapa segala dusta itu dan telah ditunjukkan pula oleh semua putra-putri Adam. Pengakuan-pengakuan semacam ini bukanlah diilhamkan oleh Roh Allah dan tidak akan diterima Tuhan. Pertobatan yang sejati akan menuntut manusia untuk menanggung kesalahannya sendiri serta mengakuinya tanpa tipu atau kemunafikan. Seperti seorang pemungut cukai yang tidak berani mengangkat kepalanya menengadah ke langit, dia berseru: “Ya Allah, kasihankanlah aku yang berdosa ini,” dan barangsiapa yang mengaku salahnya akan dibenarkan, karena Yesus memohonkan dengan darah-Nya demi jiwa yang bertobat.
 
***
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 13, 2016, 07:21:20 AM
Reply #14
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3018
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
***

Pelbagai teladan dari hal pertobatan yang murni dan kerendahan hati di dalam Firman Tuhan menunjukkan satu pengakuan di dalam mana tiada dalih untuk dosa atau usaha mencoba membenarkan diri sendiri. Rasul Paulus tidaklah berusaha menudungi dirinya sendiri; dia melukiskan dosanya dalam corak yang sehitam-hitamnya, tidak berusaha mengecilkan kesalahannya. Katanya, “Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing” (Kisah 26:10,11).

Dia tidak segan-segan menyatakan bahwa “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa. Dan di antara mereka akulah yang paling berdosa” (1 Tim. 1:15).

Hati yang hancur dan rendah hati, ditaklukkan oleh pertobatan yang sejati, akan menghargai sesuatu dari hal kasih Allah dan kematian di Golgota dan sebagai seorang anak yang mengaku dosanya kepada Bapa yang penuh kasih, demikianlah orang yang berdosa dengan sepenuh hati membawa semua dosa-dosanya ke hadapan Tuhan Allah. Dan ada tertulis, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yohanes 1:9).

Bab IV, Selesai

catatan:
walaupun Bab IV ini sangat singkat, tetapi pelajarannya luar biasa sekali, bagi teman teman yang rindu mengetahui pertobatan yang benar bagaimana, saranku bacalah Bab IV ini berulang ulang.



---Bersambung Besok Bab V---

 :)

salam
TYM
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 14, 2016, 07:36:39 AM
Reply #15
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3018
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
Berlanjut, Kamis 14/01/2016

Bab V, KEHENDAK BEBAS

Janji Allah ialah: “Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati” (Yeremia 29:13).
Haruslah segenap hati diserahkan kepada Tuhan Allah, kalau tidak maka perubahan tidak akan pernah berlangsung di dalam diri kita, perubahan yang akan memulihkan kita menjadi seperti Dia. Dengan keadaan kita ini kita cerai dari Allah. ROH KUDUS melukiskan keadaan kita dengan kalimat seperti berikut: “Kamu dulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosanya.” “Seluruh kepala sakit dan seluruh hati lemah lesu,” “tidak ada yang sehat.” (Efesus 2:1; Yesaya 1:5,6.) Kita telah di kungkung di dalam jerat Setan, “yang telah mengikat mereka pada kehendaknya,” (2 Timotius 2:26) Allah ingin menyembuhkan kita, membuat kita bebas. Tetapi karena ini memerlukan perubahan yang menyeluruh, pembaruan seluruh keadaan kita, kita harus menyerahkan segenap diri kita pada-Nya.

Peperangan melawan diri sendiri adalah merupakan peperangan yang terbesar yang pernah diadakan.

Penyerahan diri sendiri, memasrahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah, mengharuskan satu pergumulan; tetapi jiwa itu harus lebih dulu diserahkan kepada Allah barulah dapat dibarui di dalam kesucian.
Pemerintahan Allah bukanlah, seperti yang digambarkan Setan, didasarkan atas penyerahan yang buta, satu pengendalian yang tidak masuk di akal. Pemerintahan itu menarik pikiran dan hati nurani. “Marilah, baiklah kita berperkara!” adalah merupakan undangan Khalik Pencipta kepada makhluk ciptaan-Nya.(Yesaya 1:18.) 

Allah tidak memaksa kehendak makhluk ciptaan-Nya. Tuhan tidak mau menerima perbaktian yang diberikan dengan pikiran dan kemauan yang tidak rela. Sebuah penyerahan yang demikian hanyalah membuat seseorang seperti tidak mempunyai pikiran. Bukan demikianlah yang dimaksud Khalik Pencipta. Tuhan Allah ingin supaya manusia itu, makhluk ciptaan-Nya yang mulia, akan mencapai pertumbuhan yang paling penting yang dapat dicapainya. Dia menaruh di hadapan kita puncak kemurahan, ke tempat mana Ia ingin membawa kita melalui karunia-Nya. Dia mengundang kita supaya memasrahkan diri kita kepada-Nya, supaya Dia dapat mengerjakan kehendak-Nya di dalam kita. Terserah kepada kitalah memilih apakah kita mau dilepaskan dari rantai dosa, dan mendapat bagian dalam kebebasan yang mulia dengan anak-anak Allah.

Dalam menyerahkan diri kita sendiri kepada Allah, kita harus menanggalkan semua hal-hal yang memisahkan kita daripada-Nya. Oleh karena itu Juruselamat berkata: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak dapat menjadi murid-Ku.”( Lukas 14:33). Apa pun yang menjauhkan hati dari Tuhan harus dienyahkan.

Banyak orang yang ber-ilahkan Mamon. Cinta uang, ingin kaya, adalah rantai emas yang mengikat mereka pada Setan. Golongan lain pula ber-ilahkan kemuliaan duniawi. Hidup menyenang-nyenangkan diri sendiri serta bebas dari tanggung jawab adalah berhala bagi orang yang lain juga. Tetapi rantai yang memperbudak ini harus di retas. Kita tidak boleh setengah-setengah milik Allah dan setengah-setengah milik dunia. Kita bukanlah anak-anak Allah kecuali kita berserah diri sepenuhnya.
 
Banyak orang yang mengaku menyembah Allah padahal mereka bergantung atas usaha-usaha mereka sendiri untuk menurut hukum-Nya, untuk membentuk sebuah tabiat yang benar, dan untuk mendapatkan keselamatannya; hati mereka bukannya digerakkan oleh perasaan yang mendalam akan kasih Kristus, melainkan mereka berusaha membentuk tanggung jawab-tanggung jawab hidup Kristen sebagaimana yang diwajibkan Allah bagi mereka dalam rangka memperoleh surga. Agama yang demikian tiada gunanya. Apabila Kristus berdiam di dalam hati, maka jiwa akan dipenuhi kasih-Nya, dengan hubungan yang menggembirakan hati, sehingga jiwa akan berpaut pada-Nya, dan di dalam merenung-renungkan Dia, diri sendiri haruslah dilupakan. Kasih kepada Kristus akan menjadi sumber pancaran perbuatan yang baik. Barangsiapa yang merasakan kasih Allah tidak akan menanyakan betapa kecilkah yang diberikan untuk memenuhi syarat-syarat tuntunan Allah, mereka tidak akan meminta ukuran yang rendah, melainkan bertujuan menuju kesempurnaan sesuai dengan kehendak Penebusnya. Dengan kerinduan yang sungguh-sungguh mereka memasrahkan semuanya dan menyatakan perhatian yang seimbang terhadap nilai benda yang mereka cari. Mengaku pengikut Kristus tanpa kasih mendalam seperti ini hanyalah omong kosong belaka, formalitas yang kering serta pekerjaan yang amat hina.

---Bersambung---
salam.  :)

TYM
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 15, 2016, 08:27:28 PM
Reply #16
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3018
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
Berlanjut, Sabtu 16/01/2016


Apakah engkau merasa penyerahan yang sepenuhnya kepada Kristus terlalu berat? Tanyalah kepada dirimu sendiri pertanyaan seperti berikut: “Apakah yang Kristus telah berikan kepadaku?” Anak Allah itu telah memasrahkan semuanya kasih dan hidup-Nya, serta penderitaan demi untuk menebus kita. Dan sampai hatikah kita, makhluk yang hina dengan kasih yang demikian besar, menjauhkan hati kita daripada-Nya? Setiap saat dari kehidupan kita, kita turut ambil bagian dalam karunia berkat-berkat-Nya, dan oleh karena itulah kita masih betul-betul belum menyadari dalamnya kebodohan dan kesengsaraan dari tempat mana kita telah diselamatkan. Dapatkah kita memandang Dia yang telah ditikam karena dosa-dosa kita, tapi menghinakan kasih dan pengorbanan-Nya yang begitu besar? Melihat Tuhan yang penuh kemuliaan itu merendahkan diri-Nya, patutkah kita bersungut-sungut karena kita dapat memasuki kehidupan itu hanya melalui peperangan dan merendahkan diri?

Banyak orang yang berhati sombong bertanya: “Apa perlunya bertobat dan merendahkan diri sebelum saya tahu dengan pasti bahwa Tuhan akan menerima saya?” Saya arahkan engkau kepada Kristus. Dia tiada berdosa sama sekali, dan lebih daripada ini, Dia adalah Putra Allah; tetapi demi kepentingan manusia Dia menjadi dosa bagi umat manusia. ‘Ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak” (Yesaya 53:12).
Tetapi apakah yang kita korbankan, apabila kita menyerahkan semuanya? Hati yang telah dikotori dosa supaya disucikan Yesus, dibasuhkan oleh darah-Nya sendiri, serta untuk diselamatkan dengan kasih-Nya yang tiada taranya. Namun orang masih mengira berat untuk menyerahkan semuanya itu! Saya merasa malu mendengar orang mengatakan demikian, malu pula menuliskannya.

Allah tidak mengharuskan kita menyerahkan segala sesuatu yang terbaik disimpan bagi keperluan kita sendiri. Di dalam segala sesuatu yang dilakukan-Nya, Dia selalu mengingat kebajikan anak-anak-Nya. Betapa sekiranya semua orang yang belum memilih Kristus itu dapat menyadari bahwa Dia (Tuhan) mempunyai sesuatu yang jauh lebih baik untuk diserahkan kepada mereka daripada yang mereka cari untuk diri mereka sendiri. Manusia mengerjakan kejahatan sendiri apabila dia berpikir dan bertindak melawan kehendak Allah. Tiada kegembiraan sejati yang didapat pada jalan yang dilarang oleh Dia yang mengetahui apa yang terbaik mengikhtiarkan kebaikan bagi makhluk ciptaan-Nya. Jalan pelanggaran adalah jalan kesengsaraan dan kebinasaan.
 
Salahlah anggapan bahwa Tuhan Allah senang melihat anak-anak-Nya menderita sengsara. Semua penghuni surga menaruh perhatian terhadap kebahagiaan manusia. Bapa kita yang di surga tidak menutup saluran kegembiraan makhluk ciptaan-Nya. Tuntutan-tuntunan Ilahi meminta kita supaya menjauhkan diri dari segala kemanjaan yang akan membawa sengsara dan kekecewaan, yang akan mengatupkan pintu kebahagiaan dan surga bagi kita. Penebus dunia menerima manusia itu sebagaimana adanya, dan dengan segala kekurangan-kekurangan mereka, ketidaksempurnaan mereka, kelemahan-kelemahannya; dan Dia bukan saja membasuhkan dari dosa serta memberi tebusan melalui darah-Nya, melainkan akan memuaskan kerinduan hati semua orang yang mau menanggung kuk-Nya, menanggung beban-Nya. Maksud-Nya ialah memberikan perdamaian dan sentosa kepada semua orang yang datang kepada-Nya meminta roti hidup. Dia menuntut kita supaya mengerjakan hanya tanggung jawab-tanggung jawab yang akan menuntun langkah-langkah kaki kita menuju kebahagiaan yang lebih tinggi yang tidak dapat diperoleh orang-orang yang durhaka. Kehidupan jiwa yang benar dan menggembirakan ialah dengan memperoleh Kristus di dalam hati, pengharapan kemuliaan itu.


---Bersambung---

salam
TYM
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 17, 2016, 10:43:31 AM
Reply #17
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3018
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
berlanjut, Minggu 17?01/2016

Banyak orang yang bertanya: “Bagaimanakah saya dapat memasrahkan diri saya sepenuhnya kepada Tuhan Allah?” Engkau ingin memasrahkan dirimu sendiri kepada Allah tetapi engkau lemah dalam kuasa moral, dikungkung kekhawatiran, serta dikendalikan oleh kebiasaan-kebiasaan hidupmu yang penuh dosa. Janji-janji dan segala keputusan hatimu adalah bagaikan tali yang terbuat dari pasir. Engkau tidak mampu menguasai pikiran-pikiranmu, dorongan-dorongan hatimu, dan keinginanmu. Sadar akan janji-janji yang tidak dapat kau tepati serta tekad yang hilang begitu saja melemahkan keyakinanmu di dalam ketulusan hatimu, menyebabkan engkau merasa bahwa Allah tidak dapat menerima engkau; tetapi kau tidak perlu putus asa.

Apa yang perlu kau pahami ialah tenaga kemauan yang sejati. Inilah kuasa yang memerintahkan di dalam tabiat manusia, kuasa mengambil keputusan, atau kuasa memilih. Segala sesuatu tergantung atas perbuatan kemauan yang benar. Kuasa memilih Allah telah diberikan kepada manusia; inilah yang harus digunakan manusia. Engkau tidak dapat mengubah hatimu, dengan dirimu sendiri engkau tidak dapat memberikan kepada Allah segala keinginan-keinginan hati itu; tetapi engkau dapat memilih melayani Dia. Engkau dapat memberikan kemauan pada-Nya.

Dengan demikian semua tabiatmu akan dibawa ke bawah pimpinan Roh Kristus; keinginan-keinginanmu akan dipusatkan pada-Nya, pikiran-pikiranmu akan setuju dengan Dia.

Kerinduan-kerinduan akan kebajikan dan kesucian memang baik adanya; tetapi jika engkau berhenti sampai di situ saja, maka tiadalah gunanya. Banyak orang yang hilang sementara berharap dan ingin menjadi orang Kristen. Mereka tidak sampai pada titik penyerahan kemauan kepada Allah. Mereka tidak memilih sekarang juga menjadi orang-orang Kristen.

Dengan menggunakan kemauan dengan benar, maka perubahan yang menyeluruh akan terjadi di dalam kehidupanmu. Dengan menyerahkan segenap kemauan kepada kehendak Kristus, engkau menghubungkan dirimu sendiri dengan kuasa yang berada di atas segala kuasa dan penguasa. Engkau akan mendapat kekuatan dari atas yang menahan engkau sanggup menghidupkan kehidupan yang baru, yaitu hidup di dalam iman.


Bab V Selesai.
---Bersambung Besok, Bab VI---

salam
 :)
TYM
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 18, 2016, 04:39:21 PM
Reply #18
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3018
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
Berlanjut, Senin 18/01/2016

Bab VI
BAGAIMANA MEMILIKI DAMAI DALAM PIKIRAN

Jika hati nuranimu sudah digerakkan oleh ROH KUDUS, engkau telah melihat sesuatu dari hal jahatnya dosa itu, tentang kuasanya, kesalahan-kesalahan itu dan celakanya; maka engkau akan melihat dosa itu dengan kebencian.

Engkau merasakan bahwa dosa itu telah memisahkan engkau dari Tuhan , bahwa engkau berada dalam kungkungan kuasa jahat. Semakin berusaha berjuang melepaskan diri daripadanya, semakin engkau sadari kelemahanmu. Motifmu tidak suci, hatimu kotor. Engkau lihat bahwa kehidupanmu telah dipenuhi dengan dosa dan rasa mementingkan diri sendiri. Engkau rindu diampuni, dibersihkan, dan dilepaskan. Rukun dengan Allah , menjadi seperti Dia--apakah yang dapat engkau lakukan untuk memperolehnya?
Yang engkau perlukan ialah damai -- keampunan dari surga dan damai serta kasih di dalam jiwa. Uang tidak dapat membelinya, intelek juga tidak dapat memperolehnya, kebijaksanaan tidak dapat mencapainya; engkau tidak akan pernah memperolehnya dengan usaha-usahamu sendiri. Tetapi Tuhan Allah memberikan kepadamu sebagai suatu pemberian, “orang yang tidak mempunyai uang, marilah!” (Yesaya 55:1). Engkau akan memilikinya hanya dengan mengulurkan tanganmu dan menerimanya. Tuhan berkata: “sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yesaya 1:18).
“Kamu akan kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam hatimu” (Yehezkiel 36:26).


Engkau sudah mengakui dosa-dosamu dan membuangkannya jauh-jauh dari dalam hatimu. Engkau telah bertekad memasrahkan dirimu sendiri kepada Allah. Sekarang pergilah pada-Nya dan pinta supaya Dia mau membasuh semua dosa-dosamu serta memberi hati yang baru bagimu. Dan yakin bahwa Dia melakukan ini karena Dia telah menjanjikannya. Inilah pelajaran yang telah diajarkan Yesus ketika Dia masih berada di atas dunia ini, bahwa pemberian yang dijanjikan Allah kepada kita, haruslah kita percayai betul-betul kita terima, maka itu pun akan menjadi milik kita.

Yesus menyembuhkan penyakit-penyakit orang banyak apabila mereka mempunyai iman di dalam perkara-perkara yang tidak dapat dilihat mereka -- menuntun mereka supaya percaya di dalam kuasa-Nya, dibantu-Nya mereka di dalam perkara-perkara yang tidak dapat dilihat mereka--menuntun mereka supaya percaya di dalam kuasa-Nya mengampuni dosa-dosa. Hal ini sangat jelas dikatakan-Nya waktu menyembuhkan orang yang sakit lumpuh; “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa--lalu berkatalah Ia kepada orang yang lumpuh itu, “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Matius 9:6.)  Oleh karena itulah Yohanes pengabar Injil itu berkata, mengenai mukjizat-mukjizat yang diperbuat Yesus, “Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yohanes 20:31).

Dari cerita Alkitab yang sederhana bagaimana Yesus telah menyembuhkan orang sakit, kita dapat mempelajari bagaimana percaya di dalam Dia supaya mendapat keampunan dosa-dosa. Marilah kita mengenang kisah orang yang sakit lumpuh yang di Betesda. Penderita yang hina itu tiada daya sama sekali, dia tidak dapat menggunakan kakinya selama tiga puluh tahun. Namun demikian Yesus menyuruh dia” “Bangkitlah engkau berdiri, angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Mungkin orang yang sakit itu akan berkata, “Tuhan, jika Tuhan menyembuhkan saya, maka saya akan menurut Firman-Mu.” Tetapi bukan demikian, dia percaya dalam Sabda Tuhan Yesus, percaya bahwa dia telah disembuhkan, dan dia berusaha, dia mau berjalan, dan dia berjalan. Dia melakukannya sesuai dengan Firman Kristus, dan Tuhan memberi kuasa. Dia disembuhkan.
 
Demikian juga engkau seorang yang berdosa. Engkau tidak dapat menghapuskan dosa-dosa masa lalumu, engkau tidak dapat mengubah hatimu dan menyucikan dirimu sendiri. Tetapi Allah berjanji melakukan semua ini bagimu melalui Kristus. Engkau mempercayai janji itu. Engkau mengakui dosa-dosamu serta menyerahkan dirimu seperti sendiri kepada Allah. Engkau mau melayani Dia. Hanyalah dengan melakukan hal seperti ini Allah dapat memenuhi Firman-Nya padamu. Jika engkau percaya pada janji itu - percaya bahwa engkau sudah diampuni dan disucikan--Allah mewujudkannya, engkau akan disempurnakan sebagaimana Kristus telah memberi kuasa berjalan bagi orang yang lumpuh ketika dia percaya bahwa dia sudah disembuhkan. Demikianlah adanya jika engkau mempercayainya.


---Bersambung---
salam  :)
TYM
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
January 19, 2016, 10:18:49 AM
Reply #19
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3018
  • Gender: Male
  • karena Cinta Yesus lebih kuat daripada maut
  • Denominasi: Seventh-Day Adventist
Berlanjut, Selasa 19/01/2016

Jangan tunggu merasa dirimu sudah sempurna, tetapi katakanlah: “Saya mempercayainya, demikianlah adanya, bukan karena saya merasa demikian, tetapi karena Allah telah menjanjikannya.

Kata Yesus: “Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” Markus 11:24. Ada syarat atas janji ini --supaya kita dapat berdoa sesuai dengan kehendak Allah. Bahkan kehendak Allah ialah membersihkan kita dari dosa, membuat kita menjadi anak-anak-Nya, serta menyanggupkan kita supaya mendapat satu kehidupan yang suci. Oleh karena itu kita harus memohon berkat-berkat ini serta percaya bahwa kita menerimanya, lalu mengucap syukur kepada Tuhan karena kita telah menerimanya. Kita mempunyai hak datang kepada Kristus supaya disucikan, dan berdiri di hadapan hukum tanpa rasa malu atau sesal. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Roma 8:1,2).

Mulai saat itu engkau bukan lagi milikmu sendiri, engkau telah dibeli dengan harga tunai. “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia...bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus” (1 Petrus 1:18,19). Dengan mempercayai Allah secara sesederhana ini, ROH KUDUS telah melahirkan satu hidup baru di dalam hatimu. Sebagai seorang kanak-kanak engkau lahir di dalam keluarga Allah, dan Dia mengasihi engkau sebagaimana Dia mengasihi Anak-Nya.

Sekarang setelah engkau menyerahkan dirimu sendiri kepada Tuhan Yesus, janganlah undur, janganlah menjauh daripada-Nya, dari hari demi hari berkata: “Akulah milik Kristus, telah kuserahkan diriku sendiri pada-Nya” serta memohon pada-Nya supaya memberi ROH KUDUS padamu serta memelihara engkau dengan karunia-Nya.  Dengan menyerahkan dirimu kepada Allah, percaya di dalam Dia, engkau menjadi anak-Nya, oleh karena itu engkau sepatutnya hidup di dalam Dia. Seorang rasul berkata: “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita, karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia” (Kolose 2:6).

Ada beberapa orang yang merasa bahwa mereka haruslah lebih dulu dicoba, dan harus membuktikan kepada Tuhan Allah bahwa mereka sudah dibarui, sebelum mereka dapat menuntut berkat-Nya. Tetapi sekarang juga mereka dapat menuntut berkat Tuhan. Mereka harus mempunyai anugerah-Nya, Roh Kristus, untuk membantu kekurangan mereka itu, atau mereka sama sekali tidak dapat melawan kejahatan. Yesus suka kita datang pada-Nya sebagaimana adanya kita, dalam keadaan berdosa, tiada daya, dan hanya bergantung pada-Nya. Kita dapat datang pada-Nya dengan segala kelemahan kita, kebodohan kita, kita yang penuh dosa, dan menyembah di kaki-Nya dengan pertobatan. Adalah mulia bagi-Nya mengelilingi kita di dalam lengan kasih-Nya serta membebat luka-luka kita, membasuhkan kita dari segala kenajisan.
 
Di sinilah ribuan orang gagal; mereka tidak percaya bahwa Yesus mengampuni mereka secara pribadi, perseorangan. Mereka tidak percaya Firman Allah. Adalah merupakan kehormatan bagi semua orang yang menurut syarat-syarat itu mengetahui bagi diri mereka sendiri bahwa keampunan diberikan atas tiap-tiap dosa. Buangkanlah kecurigaan bahwa janji-janji Allah itu bukanlah untukmu. Janji-janji itu diberikan kepada setiap orang yang berdosa lalu bertobat. Kekuatan dan anugerah yang diadakan melalui Kristus akan diantarkan oleh malaikat-malaikat yang bertugas mengerjakannya bagi tiap-tiap jiwa yang percaya. Tiada orang yang begitu berdosa yang tidak akan mendapat kekuatan, kesucian dan kebenaran di dalam Yesus, yang telah mati bagi mereka. Yesus menanti hendak menanggalkan jubah mereka yang dinodai dosa lalu menukarkannya dengan jubah kebenaran yang putih; diminta-Nya mereka hidup bukannya mati.


---Bersambung---

salam
 :)
TYM
" Lamanya satu ajaran dianut tidak akan membuat kesalahan menjadi kebenaran, sebab kebenaran mampu berdiri sendiri. Doktrin yang benar akan tetap teguh oleh penyelidikan Alkitab yang seksama. "
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)