Author Topic: Hal Bersunat (Khitan)  (Read 1905 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 25, 2017, 06:46:55 PM
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 1
  • Denominasi: protestan
Shalom,
Sebelumnya saya rasa apa yang menjadi pertanyaan saya ini sudah sangat usang bagi mereka yang hanya mengandalkan tafsiran semata tentang Alkitab. ada beberapa hal yang ingin saya dan sdra/i diskusikan dengan baik diforum ini, salah satunya adalah tentang hal Bersunat (khitan).

Mengapa di dalam Kristen tidak diwajibkan untuk Sunat? bukankah Allah sudah menetapkan HukumNya tentang hal ini? (Kejadian 17 ayat 9 - 14).
dan bukankah Yesus yang adalah kita yakini sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah juga Bersunat?
(Lukas 2 : 21).

Lalu, jika dengan alasan (Gal 5 : 2) tentang apa yang Paulus katakan, bukankah Paulus juga Bersunat, memang tidak secara gmbalng dijelaskan dalam Alkitab tentang bersunat atau tidaknya Paulus, tapi dia hidup dimasa Yesus hidup sebagai Manusia.

Jika dalam PB dikatakan (tepatnya di 1 Kor 7:18-19) bahwa bersunat dan tidak bersunat itu tidak penting, yang penting ialah menaati hukum-hukum Allah. "bukankah Sunat juga merupakan perintah Allah yang abadi dan turun temurun, jika manusia tidak bersunat, apakah itu tidak masuk kategori tidak menaati Hukum Allah?"

Terimakasih,
Salam - RADINAL
May 25, 2017, 07:52:55 PM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 943
  • Denominasi: Protestan
Berdasarkan yang tertulis,

Kej 17:10 LAI-TB,
Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu (Abraham), yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;

Yang gue tahu, berdasarkan silsilahnya, Yesus itu keturunan Abraham. So, mesti disunat.
Paulus juga keturunan Abraham, so pasti disunat.
Pun kalo elo juga keturunan Abraham, otomatis elo juga mesti disunat.
May 25, 2017, 09:13:18 PM
Reply #2
  • FK - Junior
  • **
  • Posts: 89
Orang-orang Kristen yang telah mengerti kebenaran Firman Tuhan tentang sunat.
Pada Galatia 6:15, Paulus berkata bahwa Sunat atau Tidak Bersunat itu tidak ada artinya. Tidak ada bedanya. Tidak berpengaruh apapun dalam kehidupan rohani kita.
Sebab itu hanyalah sebuah tanda lahiriah yang tidak berarti apapun bagi rohani kita.

Sunat awalnya pada zaman Abraham adalah menjadi tanda bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan dan tanda menjadi pengikut Tuhan.

Tetapi saat ini, orang memandang Sunat menjadi sebuah tradisi, sebuah kebiasaan, sebuah budaya.

Sehingga mereka melakukan Sunat tanpa mengerti makna sesungguhnya dibalik Sunat itu sendiri.

Apalah artinya Sunat yang tidak dibarengi dengan pertobatan?

Sebab Paulus katakan bukan sunat lahiriah yang penting, tetapi sunat keinginan daging kitalah yang penting. Keinginan daging kita yang harus disunat. Segala perbuatan daging itulah yang harus kita sunat dan kita buang.

Firman Tuhan dalam Kolose 2:11
berkata bahwa di dalam Dia lah kita telah disunat. Bukan dengan sunat yang dilakukan oleh tangan manusia, tetapi dengan Sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa.

Penaggalan akan tubuh yang berdosa. Segala keinginan dosa kita, segala perbuatan daging kita yang menyebabkan dosa, itulah semua yang harus kita tanggalkan.

Jadi, Sunat atau Tidak?

Secara rohani, sama saja. Tidak ada artinya.

Jika saudaraku hendak bersunat karena mengira ini adalah sebagai tanda sebagai orang percaya, maka mending tidak usah. Karena yang membedakan kita sebagai orang yang percaya atau tidak bukanlah dengan disunatnya bagian tubuh kita, tetapi dengan disunatnya perbuatan daging, keinginan daging. Hidup memikul salib, hidup dalam kebenaran walau berat. Itulah sunat kita.

Namun demikian, secara medis telah terbukti bahwa sunat itu sangat sehat. Secara medis sunat itu baik karena menjaga kebersihan tubuh kita.

Jadi untuk alasan medis, saya menyarankan saudara untuk bersunat. Bukan karena alasan rohani, tetapi karena kesehatan semata.
« Last Edit: May 25, 2017, 09:18:43 PM by Reformasi_Eight »
May 26, 2017, 07:25:34 AM
Reply #3
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 925
Shalom,
Sebelumnya saya rasa apa yang menjadi pertanyaan saya ini sudah sangat usang bagi mereka yang hanya mengandalkan tafsiran semata tentang Alkitab. ada beberapa hal yang ingin saya dan sdra/i diskusikan dengan baik diforum ini, salah satunya adalah tentang hal Bersunat (khitan).

Mengapa di dalam Kristen tidak diwajibkan untuk Sunat? bukankah Allah sudah menetapkan HukumNya tentang hal ini? (Kejadian 17 ayat 9 - 14).
dan bukankah Yesus yang adalah kita yakini sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah juga Bersunat?
(Lukas 2 : 21).

Lalu, jika dengan alasan (Gal 5 : 2) tentang apa yang Paulus katakan, bukankah Paulus juga Bersunat, memang tidak secara gmbalng dijelaskan dalam Alkitab tentang bersunat atau tidaknya Paulus, tapi dia hidup dimasa Yesus hidup sebagai Manusia.

Jika dalam PB dikatakan (tepatnya di 1 Kor 7:18-19) bahwa bersunat dan tidak bersunat itu tidak penting, yang penting ialah menaati hukum-hukum Allah. "bukankah Sunat juga merupakan perintah Allah yang abadi dan turun temurun, jika manusia tidak bersunat, apakah itu tidak masuk kategori tidak menaati Hukum Allah?"

Terimakasih,
Salam - RADINAL


Dua model sakramen PL itu mengandung pencurahan darah yaitu sunat dan paskah yang merupakan bayang bayang akan pencurahan darah Yesus Sang Mesias di kayu salib.

Setelah Yesus selesai dengan karya keselamatannya didalam PB dengan mencurahkan darah-Nya sendiri untuk menebus dosa dosa manusia,maka dua sakramen tersebut berubah menjadi Baptisan dan Perjamuan Kudus yang bermakna sebagai tanda/lambang dan peringatan akan karya penebusan Kristus yg berguna untuk meneguhkan kerohanian orang percaya. Disini tidak ada pencurahan darah lagi karena Yesus hanya satu kali untuk selamanya mencurahkan darahnya diatas salib.

Ibrani  7:27 yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.

Demikianlah penjelasannya.

« Last Edit: May 26, 2017, 07:30:32 AM by semper »
June 25, 2017, 06:02:23 AM
Reply #4
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4778
  • Merdeka di dalam Kristus
    • SARAPANPAGI BIBLIKA
Apa yang diungkapkan teman2 di atas adalah benar. Dan khusus mengenai latar belakang mengapa Paulus secara khusus bicara mengenai "sunat dan tidak perlu sunat" adalah dalam konteks budaya saat itu. Sebab menjadi bersunat dan tidak bersunat akan sangat kentara dalam pergaulan mereka. Dan jika ada seorang Goyim mengaku Kristus dan seandainya dia "harus disunat" itu akan membuatnya "susah hidup di komunitasnya."

Maka dalam 1 Korintus 7:17-20, Rasul Paulus menetapkan "great rule" bahwa: "Tetaplah menjadi dirimu," yang Yahudi tetap Yahudi, yang Goyim tetap Goyim."

Bahasannya di http://www.sarapanpagi.org/tetaplah-menjadi-dirimu-1-korintus-7-17-20-vt8595.html#p50557

Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? (Galatia  4:16)
June 25, 2017, 03:32:48 PM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1593
Sunat ga sunat ga gitu penting di hadapan Tuhan .
Pada manusia, tergantung perfektifnya masing2, antara lain :
Ada yang bilang biar sehat, enak, lebih indah, cantik, macho,tahan lama, makanya sunat dong
Ada lagi yang bilang : Sehat2 ga sehat tergantung dari Sifat "jorok" dan sifat "Jajan" kamu, Apresiasi kamu aja yang menganggap hasil ciptaan Tuhan itu sendiri belum sempurna/belum sehat,belum indah, belum enak,dll.

Terserah kita masing2 kok berdasarkan dalil masing2, bagi Tuhan ga gitu penting, tapi DIA pasti tahu maksud/motivasi hati kita yang paling terdalam sekalipun.

Tuhan memberkati kita...
June 26, 2017, 08:07:34 AM
Reply #6
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1543
Shalom,
Sebelumnya saya rasa apa yang menjadi pertanyaan saya ini sudah sangat usang bagi mereka yang hanya mengandalkan tafsiran semata tentang Alkitab. ada beberapa hal yang ingin saya dan sdra/i diskusikan dengan baik diforum ini, salah satunya adalah tentang hal Bersunat (khitan).

Terimakasih,
Salam - RADINAL

Berdasarkan Alkitab, sunat adalah tanda perjanjian Allah dengan Abraham, yang tertulis dalam Kejadian Pasal 17 :1 - 27, Nah .. Sunat itu adalah "tanda Perjanjian", artinya adalah : Setiap orang yang percaya pada Perjanjian Allah dengan Abraham, maka orang tersebut "Harus di sunat".

Dalam Perjanjian Allah dengan abraham tersebut, ada beberapa point yang harus di ketahui, yaitu :
(1). Sewaktu Allah mengikat Perjanjian ini dengan Abraham, Sara isteri Abraham telah berusia lanjut dan Ishak belum di lahirkan, sehingga Abraham dan Sarah "meragukan Firman Tuhan tersebut", kemudian untuk "menepis" Keraguan mereka, maka Allah menetapkan Perjanjian tersebut dengan "Sunat sebagai tandanya".
(2). Dalam Perjanjian Allah dengan Abraham ini, ada hal yang "SANGAT  PENTING  SEKALI", yaitu .. tentang Janji Keselamatan, yang tertulis dalam Kejadian 17:13 .. maka dalam DAGING mu-lah, perjanjian Ku itu menjadi Perjanjian yang Kekal.

Nah, dari kedua point diatas yang merupakan bagian dari  "isi" perjanjian Allah dengan Abraham, maka point yang terpenting adalah .. apa yang tertulis dalam Kejadian 17:13 tersebut diatas., dimana pada Kejadian 17:13 ini, Allah menubuatkan Kelahiran Yesus atau tentang kedatangan Jusu Selamat, sebab bagian dari benih-benih Juru Selamat itu, masih berada dalam "Daging Abraham".

Nah, setelah Allah merealisasikan Janjinya pada Abraham dalam Kedatangan Yesus, maka tidak lagi dibutuhkan "tanda sunat tersebut", sebab Allah sudah menggenabi atau memenuhi Janjinya pada Abraham, itulah sebabnya .. setiap orang yang sudah percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya, seperti yang dijanjikan Allah pada Abraham, maka orang tersebut tidak perlu lagi untuk di sunat, tetapi sebaliknya adalah .. setiap orang yang masih menunggu Allah untuk menepati Janji Allah pada Abraham, maka orang tersebut "Harus di sunat".

Jadi, Sunat itu adalah Tanda bagi setiap keturunan Abraham yang "Masih menantikan Janjia Allah pada Abraham".

Salam ..
June 26, 2017, 08:14:13 AM
Reply #7
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2988
Sunat ga sunat ga gitu penting di hadapan Tuhan .
Pada manusia, tergantung perfektifnya masing2, antara lain :
Ada yang bilang biar sehat, enak, lebih indah, cantik, macho,tahan lama, makanya sunat dong
Ada lagi yang bilang : Sehat2 ga sehat tergantung dari Sifat "jorok" dan sifat "Jajan" kamu, Apresiasi kamu aja yang menganggap hasil ciptaan Tuhan itu sendiri belum sempurna/belum sehat,belum indah, belum enak,dll.

Terserah kita masing2 kok berdasarkan dalil masing2, bagi Tuhan ga gitu penting, tapi DIA pasti tahu maksud/motivasi hati kita yang paling terdalam sekalipun.

Tuhan memberkati kita...

Sunat secara rohani itu penting.

September 26, 2017, 04:48:39 PM
Reply #8
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 110
Jika mahu bersunat tiada halangan dlm Kristen.
September 29, 2017, 12:10:47 AM
Reply #9
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4732
  • Gender: Male
Shalom,
Sebelumnya saya rasa apa yang menjadi pertanyaan saya ini sudah sangat usang bagi mereka yang hanya mengandalkan tafsiran semata tentang Alkitab. ada beberapa hal yang ingin saya dan sdra/i diskusikan dengan baik diforum ini, salah satunya adalah tentang hal Bersunat (khitan).

 -cut-

Mentaati hukum-hukum Allah yang dimaksud oleh rasul Paulus adalah mentaati hukum Taurat yang sudah disingkapkan oleh Tuhan Yesus Kristus (2 Korintus 3:14-16). Contohnya seperti yang anda baca dalam Matius 5:17-48. Contoh lain seperti tentang hari Sabat, dalam Matius 12:1-13.

Tentang sunat demikian para rasul menjelaskan bahwa bukan sunat jasmani yang menjadi hukum Allah namun sunat rohani yang dimaksudkan dalam hukum Allah (Roma 3:28-29). Kolose 2:11 dengan jelas menyatakan, "Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa." Karena itulah sunat bagi murid-murid Yesus bukanlah kewajiban agama lagi, sebab hukum tentang sunat dalam Taurat telah disingkapkan kepada kita di dalam Kristus.

Mengapa rasul Paulus bersunat? Sebab ia adalah orang Yahudi sejak lahir, ia disunat sejak usia 8 hari (Kej 17:12, Fil 3:5). Demikian juga dengan Yesus dalam Lukas 2:21 juga disunatkan karena Yesus juga orang Yahudi. Para rasul semuanya disunat sesuai hukum Taurat karena mereka orang Yahudi.

Setelah Yesus mati dan bangkit, serta naik ke sorga, maka mulailah Tuhan Yesus Kristus memberi perintah memberitakan injil kepada seluruh bangsa dan menjadikan mereka murid-murid Yesus. Jaman gereja dimulai banyak non Yahudi juga menjadi bagian dari Tubuh Kristus. Kepada mereka yang non Yahudi tidak ada kewajiban tradisi Yahudi yang harus mereka jalani sebagai bagian dari masyarakat Yahudi. Jadi mereka tidak perlu disunat.

Dalam Kisah 15:15-31 dikisahkan tentang polemik sunat bagi orang non Yahudi.
5  Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.
6  Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu.
7  Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: "Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya.
8  Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan ROH KUDUS juga kepada mereka sama seperti kepada kita,
9  dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman.
10  Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?
11  Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga."


Demikianlah mereka memutuskan bahwa orang non Yahudi tidak perlu disunat sesuai dengan tradisi Yahudi, sebab mereka telah disunat oleh sunat Krisus dan lagi mereka punya tradisinya sendiri. Jadi sunat bagi Yahudi sekalipun telah menjadi tradisi bukan lagi perintah hukum Taurat. Namun jika ada orang bersunat karena ia percaya bahwa demikianlah perintah Allah dalam hukum Taurat agar dibenarkan Allah, barulah itu berbahaya bagi imannya. Galatia 5:3-4 berkata, "Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia." Tidak dibenarkan sunat karean alasan diperintahkan oleh hukum Taurat.

Tambahan tentang orang yang disunat karena alasan-alasan lainnya. Misalkan Timotius disunatkan oleh Paulus dalam Kisah 16:2-3 karena desakan saudara-saudara Yahudi di daerah itu, berhubung ia anak seorang Yunani. Namun kebalikannya Titus orang Yunani yang lain tidak didesak oleh orang Yahudi di daerah pelayanannya dalam Galatia 2:3.

Sunat yang dilakukan oleh Timotius adalah agar dapat diterima oleh orang Yahudi yang mereka layani (1Korintus 9:19-22). Berhubung sunat bukanlah dosa maka mereka menyunatkan Timotius.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)