Author Topic: Mundur menjadi pendeta.. Bolehkah?  (Read 2593 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

July 07, 2017, 03:37:44 PM
Reply #10
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6336
  • Mistery
  • Denominasi: Karismatik
Jika memang dia benar dipanggil dan diutus utk melayani (tidak terbatas hanya pd jabatan pendeta ya) maka jika ia mundur dari panggilan/pelayanan, akan datang konsekuensi.

Tp kl ia dari awalnya tidak dipanggil dan diutus utk melayani, hanya dari keinginan pribadinya utk mlayani, maka jika ia mundur less likely ada konsekuensi.

Alkitab berkata mreka yg tau kehendak Tuhan lalu meleset akan dapat pukulan lebih banyak.

Kita bisa tau darimana?
Salah satunya lihat apakah sesudah mundur ia kena konsekuensi-konsekuensi.
Kl ia hidupnya malah baik dan berbuah, maka ia memang belum dipanggil melayani, ia cuma sebatas merasa ingin melayani.
Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati (Pkh 9:4)

https://manusia-biasa-saja.blogspot.com
July 07, 2017, 04:30:21 PM
Reply #11
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 12
  • Gender: Female
  • Denominasi: Protestan
Jika memang dia benar dipanggil dan diutus utk melayani (tidak terbatas hanya pd jabatan pendeta ya) maka jika ia mundur dari panggilan/pelayanan, akan datang konsekuensi.

Tp kl ia dari awalnya tidak dipanggil dan diutus utk melayani, hanya dari keinginan pribadinya utk mlayani, maka jika ia mundur less likely ada konsekuensi.

Alkitab berkata mreka yg tau kehendak Tuhan lalu meleset akan dapat pukulan lebih banyak.

Kita bisa tau darimana?
Salah satunya lihat apakah sesudah mundur ia kena konsekuensi-konsekuensi.
Kl ia hidupnya malah baik dan berbuah, maka ia memang belum dipanggil melayani, ia cuma sebatas merasa ingin melayani.

Jika perubahan, dari segi karakter dan penguasaan diri saya lihat memang ada walaupun belum banyak. Tapi saya gak bisa memastikan apakah itu murni karena memang kesadaran pribadi untuk benar - benar berubah jadi lebih baik atau karena faktor lain. Karena saya masih mendapati perkataan kasar kepada orang lain ketika ybs sedang marah. Terus terang saya masih meragukan hal ini.

Mengenai konsekuensi, sejauh ini ybs merasa kesulitan untuk mendapatkan usaha (bisnis) yang direncanakannya. Bisa dikatakan masih belum jelas. Apakah keadaan ini bisa dimaksudkan kedalam konsekuensi yang anda sebutkan diatas?
July 08, 2017, 01:31:16 AM
Reply #12
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 790
  • Denominasi: Protestan
Jika dicontohkan dengan Yudas Iskariot, berarti ada hukuman (resiko) yang diterima dong ya? Sebagaimana kita tau, Yudas Iskariot akhirnya bunuh diri. Pengkhianatan yang berakhir dengan kematian. Kalau dalam kasus seorang pendeta, orang tersebut menurut saya bukan termasuk orang yang berkhianat, namun orang yang berdusta (tidak setia, tidak memegang janji/sumpah nya kepada Tuhan).
Maksud gue tidak nyampe ke soal akhir hidup Yudas Iskariot, sis.

Gue hanya mencontohkan kasus Yudas Iskariot, dimana di awalnya, Yesus Kristus sendiri yang memilih dan mengangkatnya menjadi rasul,

Luk 6:13
Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul:

Tetapi di akhirnya, dia tidak menjalankan (menjaga) panggilannya dengan baik.

Yoh 12:6
Hal itu dikatakannya bukan karena ia (Yudas Iskariot) memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia (Yudas Iskariot) adalah seorang pencuri; ia (Yudas Iskariot) sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.

Stop sampai poin itu aza.

Gue mah mana berani compare apple-to-apple kasus Yudas Iskariot dengan kasus mantan elo, sis. Yang mau gue garis bawahi adalah jika terjadi seperti itu, memang bukan merupakan suatu kemustahilan atau pinjam kalimat elo, ya itu "wajar-wajar saja" (tapi bukan berarti gue setuju atau apatis ya).

Di POV gue, mantan elo itu SALAH karena sudah mengabaikan kewajiban yang terkandung dalam pengutusan dan tugas penggembalaan dari gereja. Apalagi kalo dia sampai magabut (makan gaji buta). Kewajiban ditinggalin, hak jalan terus.


Jika memang pendeta termasuk dalam kategori "sedikit yang dipilih", kira-kira mengapa Tuhan memanggilnya untuk kuliah teologia, bahkan memberkati sampai pengutusan sekalipun akhirnya tidak menjadi bagian yang terpilih?
Itu belum FINAL, sis. Masih dalam pemrosesan.
Siapa tahu kisahnya bisa berakhir seperti Nabi Yunus atau Rasul Petrus.

Berharaplah senantiasa kepada Tuhan supaya mantan elo itu segara sadar dan kembali kepada cinta pertamanya (kasih mula-mula) kepada Yesus Kristus.

Itu juga doa gue untuk mantan elo yang pendeta itu.

Betewe, dia "mantan terindah" elo atau bukan?  :ashamed0004:
« Last Edit: July 09, 2017, 11:58:15 AM by viruskasih »
July 10, 2017, 10:44:31 AM
Reply #13
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6336
  • Mistery
  • Denominasi: Karismatik
Mengenai konsekuensi, sejauh ini ybs merasa kesulitan untuk mendapatkan usaha (bisnis) yang direncanakannya. Bisa dikatakan masih belum jelas. Apakah keadaan ini bisa dimaksudkan kedalam konsekuensi yang anda sebutkan diatas?

Waktulah yg bisa mbuktikannya.
Namun apapun alasan entahkah benar atau tidak, dalam waktu-waktu ini dia akan diproses Tuhan utk mengenal Dia lebih baik lagi.
Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati (Pkh 9:4)

https://manusia-biasa-saja.blogspot.com
July 10, 2017, 03:41:10 PM
Reply #14
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 12
  • Gender: Female
  • Denominasi: Protestan

Di POV gue, mantan elo itu SALAH karena sudah mengabaikan kewajiban yang terkandung dalam pengutusan dan tugas penggembalaan dari gereja. Apalagi kalo dia sampai magabut (makan gaji buta). Kewajiban ditinggalin, hak jalan terus.

Untuk magabut kayakanya gak ya... karena setau saya, si mantan ini gak digaji dari gereja pusat nya. Kalau pun ada, mungkin gak seberapa, karena gereja ini gereja yang masih belum cukup besar. Terlebih juga si mantan melayani dengan merintis dari awal pembukaan gereja itu di daerah pinggiran kota. Jika boleh sedikit cerita, si mantan ini punya perjuangan yg besar sekali dalam menghadapi orang - orang setempat ketika membuka gereja tsb. Bahkan sampai mengancam nyawa si mantan waktu itu. Karena tau perjuangan tersebut, makanya saya gak habis pikir kenapa terkesan mudah sekali meninggalkan jemaatnya dan mengundang saya bertanya2 seperti dalam topik ini  :D


Itu belum FINAL, sis. Masih dalam pemrosesan.
Siapa tahu kisahnya bisa berakhir seperti Nabi Yunus atau Rasul Petrus.

Berharaplah senantiasa kepada Tuhan supaya mantan elo itu segara sadar dan kembali kepada cinta pertamanya (kasih mula-mula) kepada Yesus Kristus.

Itu juga doa gue untuk mantan elo yang pendeta itu.

Amin.. terimakasih ya...
ya saya doakan juga

Betewe, dia "mantan terindah" elo atau bukan?  :ashamed0004:

Hahaha kalau yang ini, seperti nya belum tepat disebut mantan terindah.. tapi ya cuma bisa mengingat hal - hal baik nya aja... setiap orang pasti ada kekurangannya.  :)
July 10, 2017, 03:43:45 PM
Reply #15
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 12
  • Gender: Female
  • Denominasi: Protestan
Waktulah yg bisa mbuktikannya.
Namun apapun alasan entahkah benar atau tidak, dalam waktu-waktu ini dia akan diproses Tuhan utk mengenal Dia lebih baik lagi.

Hmm iya proses itu pasti ya... semoga saja dia menjadi pribadi yang lebih mengenal Dia.
Terimakasih ya
July 12, 2017, 05:32:36 PM
Reply #16
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1364
Shalom, teman - teman seiman.
Saya ingin bertanya. Apakah seorang pendeta yang sudah diutus dan telah menjadi seorang gembala gereja, kemudian dengan alasan pribadi (masih mudah marah, emosional, memiliki kemarahan dengan orang lain, serta ingin mempersiapkan modal untuk menikah) menjadi meninggalkan pelayanan sebagai pendeta, dan memilih untuk membuka usaha, adalah hal yang sah - sah saja? Bagaimana menurut pandangan Firman Tuhan mengenai hal ini? Apakah ada kemungkinan Tuhan murka (marah) dengan orang tersebut? mengingat seorang pendeta pasti sudah diambil sumpah dan sudah diutus untuk melayani. Apa konsekuensi yang mungkin diterima oleh orang tersebut?

Mohon pendapat dari teman - teman seiman ya...
terimakasih
Yang saya tahu, Tuhan bisa marah kalau dia memaksakan juga untuk tetap jadi Hamba Tuhan (Dengan masih memiliki sifat cepat Emosi, jiwa bisnis, ego yang tinggi), mau dibawa kemana umatnya ?

Tuhan memberkati...
July 17, 2017, 02:10:03 PM
Reply #17
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4615
  • Gender: Male
Shalom, teman - teman seiman.
Saya ingin bertanya. Apakah seorang pendeta yang sudah diutus dan telah menjadi seorang gembala gereja, kemudian dengan alasan pribadi (masih mudah marah, emosional, memiliki kemarahan dengan orang lain, serta ingin mempersiapkan modal untuk menikah) menjadi meninggalkan pelayanan sebagai pendeta, dan memilih untuk membuka usaha, adalah hal yang sah - sah saja? Bagaimana menurut pandangan Firman Tuhan mengenai hal ini? Apakah ada kemungkinan Tuhan murka (marah) dengan orang tersebut? mengingat seorang pendeta pasti sudah diambil sumpah dan sudah diutus untuk melayani. Apa konsekuensi yang mungkin diterima oleh orang tersebut?

Mohon pendapat dari teman - teman seiman ya...
terimakasih

Pendapat saya jabatan pendeta dan tugas kependetaan adalah dari manusia kepada manusia. Sedangkan pelayanan dan tugas melayani adalah dari Kristus bagi semua orang yang disebut murid-murid. Jadi ada yang datang dari organisasi manusia yaitu gereja dan ada yang dari Kristus sendiri.

Seorang yang setelah ditugaskan menjadi gembala sidang oleh organisasi gerejanya kemudian mengundurkan diri sebab merasa bukan panggilan dia untuk menjadi gembala, maka menurut saya jangan dipaksakan ia menjadi gembala sidang. Memaksakannya malah akan menimbulkan banyak kerusakan dan kemunduran dalam pelayanan.

Tiap orang dipercaya Tuhan untuk melayani sesuatu, beberapa dipercaya memegang jawatan tertentu. Jawatan berbeda dengan jabatan. Jawatan bukan berdasar atas keinginan manusia atau gereja, tetapi ditatapkan sendiri oleh Kristus dengan pernyataan kuasa dan karunia yang mendukung pelayanan jawatan tersebut. Gereja menyikapi dengan memberikan jabatan kepada mereka yang menerima karunia jawatan dari Kristus. Bergulirnya waktu, gereja semakin membumi dan tinggalah system jabatan saja tanpa lagi menilai jawatan seseorang, sehingga sering gereja mengangkat seorang untuk jabatan tertentu namun orang tersebut tidak dipercayai jawatan tersebut oleh Kristus.

Sebagai contoh adalah yang anda ceritakan. Seorang yang diangkat organisasi gerejanya menjadi gembala sidang, lalu kemudian karena tempramen dan kebiasaannya tidak menunjukan kepadanya Kristus mempercayakan jawatan gembala, bisa saja ia mundur dari jabatan tersebut dari pada ia tidak berbuah-buah.

Namun demikian bukan berarti lalu seorang tersebut yang kembali bekerja bukan lagi sebagai gembala sidang sepenuh waktu tidak memiliki tugas pelayanan dari Tuhan. Ia punya tugas pelayanannya sendiri dan orang tesebutlah yang harus mencari tahu pekerjaan Allah yang seperti apa yang telah disiapkan untuk ia kerjakan. Kita semua juga sama. Kita harus mencari tahu bagian kita untuk kita kerjakan. Bukan berarti semua orang yang rindu melayani harus jadi pendeta dan jadi gembala sidang. Tidak demikian! Jika ada gereja yang melakukan demikian, maka kemungkinan besar gereja itu sedang bermasalah dalam mengorganisasi gerejanya.

Pertanyaan anda pakah Tuhan murka? "Tidak" jika ia mencari tahu apa sebenarnya tugas pelayanan yang dipercayakan Kristus kepadanya. Namun bisa jadi "ya" jika kemudian ia menjadi gembala sidang lagi padahal sudah ditinggalkan sebelumnya seakan dibuat main-main saja.
« Last Edit: July 17, 2017, 02:18:07 PM by Krispus »
July 17, 2017, 04:28:44 PM
Reply #18
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 12
  • Gender: Female
  • Denominasi: Protestan

Namun demikian bukan berarti lalu seorang tersebut yang kembali bekerja bukan lagi sebagai gembala sidang sepenuh waktu tidak memiliki tugas pelayanan dari Tuhan. Ia punya tugas pelayanannya sendiri dan orang tesebutlah yang harus mencari tahu pekerjaan Allah yang seperti apa yang telah disiapkan untuk ia kerjakan. Kita semua juga sama. Kita harus mencari tahu bagian kita untuk kita kerjakan. Bukan berarti semua orang yang rindu melayani harus jadi pendeta dan jadi gembala sidang. Tidak demikian! Jika ada gereja yang melakukan demikian, maka kemungkinan besar gereja itu sedang bermasalah dalam mengorganisasi gerejanya.

Pertanyaan anda pakah Tuhan murka? "Tidak" jika ia mencari tahu apa sebenarnya tugas pelayanan yang dipercayakan Kristus kepadanya. Namun bisa jadi "ya" jika kemudian ia menjadi gembala sidang lagi padahal sudah ditinggalkan sebelumnya seakan dibuat main-main saja.

Jadi kesimpulannya, menurut Anda seseorang yang meninggalkan kependetaaan (jabatan) adalah hal yang tidak salah (bisa saja)? Namun, untuk ganjaran (murka Tuhan) tergantung orang tersebut mencari tau pelayanan apa yang dipercayakan Kristus kepadanya? kalau begitu, bagaimana dengan sifat Tuhan yang maha adil yang bahwa sekalipun Ia penuh belas kasih, Ia jg tetap akan memberikan hukuman bagi mereka yang melanggar firmanNya? Dalam hal ini ingkar janji terhadap sumpah yang diucapkan orang tersebut.
July 29, 2017, 01:12:16 PM
Reply #19
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4615
  • Gender: Male
Jadi kesimpulannya, menurut Anda seseorang yang meninggalkan kependetaaan (jabatan) adalah hal yang tidak salah (bisa saja)? Namun, untuk ganjaran (murka Tuhan) tergantung orang tersebut mencari tau pelayanan apa yang dipercayakan Kristus kepadanya? kalau begitu, bagaimana dengan sifat Tuhan yang maha adil yang bahwa sekalipun Ia penuh belas kasih, Ia jg tetap akan memberikan hukuman bagi mereka yang melanggar firmanNya? Dalam hal ini ingkar janji terhadap sumpah yang diucapkan orang tersebut.

Yesus pernah ditanya Petrus berapa kali ia harus mengampuni sesorang jika ia berkali-kali berbuat salah dan minta maaf kepadanya. Apa jawab Yesus adalah itulah yang dilakukan Allah kepada manusia.

Selama manusia menganakan tubuh daging ini maka manusia masih mungkin berbuat salah dan dosa. Demikian juga dengan apa yang diikrarkan sebagai janji seorang imam. Jika suatu saat ia menyadari bahwa bukan disana tempatnya tetapi disini misalkan, apakah manusia hendak mempersulit dirinya melakukan kehendak Allah demi peraturan yang dibuat oleh manusia? Kata yang indah yang diucapkan Yesus kepada pelacur pendosa adalah, "Aku tidak menghukum kamu, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi" - tetapi nafsu manusia adalah menghukumnya seakan dirinya tidak pernah berbuat dosa dan ingkat janji.

Tentang hajaran Allah itu bukan urusan manusia, sebab manusia suka menghakimi dan menghukum dengan emisinya agar hancur dan "kapok" namun tidak bagi Tuhan. Allah menghajar jika memang diperlukan sebab hajaran-Nya bukan untuk menghancurkan manusia tetapi membuatnya bertobat dan berbalik kepada jalan yang benar. Apakah menjadi pendeta itu adalah jalan yang paling benar bagi setiap orang? Anda terkecoh jika beranggapan demikian, sebab banyak juga mereka menjadi pendeta secara emosionil bukan benar-benar ditempatkan Allah untuk pelayanan tersebut.

Masing-masing orang hendaknya bersungguh-sungguh hati mencari tahu pekerjaan baik apa yang telah dirancangkan Tuhan bagi kita masing-masing untuk kita lakukan bagi membangun Tubuh Kristus. Tiap orang punya perannya masing-masing. Jangankan seorang pendeta, jemaat biasa yang setiap harinya hanya berdoa syafaat dirumah akan ditegur Tuhan jika memang ia lalai mengenerjakan pekerjaannya. Bahkan jika "lalainya" itu karena ia  menerima pelayanan dari gerejanya sekalipun. Tiap orang punya tempat dan tugasnya sendiri-sendiri dalam Tubuh Kristus.

Jika anda bicara tentang adil dan penghukuman dosa, maka saya akan bercerita tentang berita Injil kepada anda. Tidak ingatkah anda bahwa Yesus datang kedunia lahir sebagai seorang Anak Manusia dan mati dikayu salib dan dibangkitkan Allah pada hari ketiga adalah agar kita tidak menerima hukuman atas dosa-dosa kita pada hari penghakiman?
« Last Edit: July 29, 2017, 01:19:19 PM by Krispus »
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)