Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 128772 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 07, 2019, 05:36:29 AM
Reply #2390
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Berjalan Mundur
  07/09/2019 
Berjalan Mundur
Baca: Filipi 2:1-11 | Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 1–2 ; 1 Korintus 16
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-09-07.mp3

Melainkan [Yesus] telah mengosongkan diri-Nya sendiri. —Filipi 2:7

Tanpa sengaja, saya menemukan potongan film milik kru berita Inggris yang merekam Flannery O’Connor saat masih berumur enam tahun di lahan pertanian keluarganya pada tahun 1932. Flannery menarik perhatian kru tersebut karena mengajari seekor ayam berjalan mundur. Bagi saya, terlepas dari uniknya perbuatan Flannery, potongan masa lampau itu adalah gambaran yang sempurna dari pencapaian Flannery di kemudian hari sebagai penulis terkenal. Lewat ketajaman sastra dan keyakinan imannya, Flannery menghabiskan tiga puluh sembilan tahun masa hidupnya berpikir dan menulis dengan “berjalan mundur”—melawan arus budaya pada masanya. Baik penerbit maupun pembaca dibuat tercengang karena tema-tema iman yang diangkatnya telah melawan arus pandangan agama yang lazim saat itu.

Kehidupan yang melawan arus juga tidak terhindarkan bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin meneladan Yesus. Dalam surat Filipi kita melihat bagaimana Yesus, yang “walaupun dalam rupa Allah”, melakukan sesuatu yang tak terduga dan tak lazim (Flp. 2:6). Dia tidak menganggap kuasa-Nya “sebagai milik yang harus dipertahankan”, tetapi justru “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba” (ay.6-7). Kristus, Tuhan atas seluruh ciptaan, telah menyerahkan nyawa-Nya karena kasih. Dia tidak mengejar gengsi tetapi justru menunjukkan kerendahan hati. Dia tidak merebut kekuasaan tetapi justru melepaskan kendali. Dengan kata lain, Yesus “berjalan mundur”—melawan arus dunia yang mengejar dan mengutamakan kuasa.
Seperti Yesus, kita dipanggil untuk melayani dan bukan mendominasi.

Kitab Suci memerintahkan kita untuk melakukan hal yang sama (ay.5). Seperti Yesus, kita dipanggil untuk melayani dan bukan mendominasi. Kita mengejar kerendahan hati dan tidak meninggikan diri. Kita harus lebih suka memberi daripada menerima. Dengan kuasa Tuhan Yesus, kita pun berani melawan arus.
Bagaimana Yesus memperlihatkan cara hidup yang melawan arus di dunia ini? Di manakah Allah memanggil Anda untuk meneladan Kristus yang rendah hati?
Satu-satunya jalan menuju pemulihan, kebaikan, dan kemajuan, adalah dengan “berjalan mundur” dan melawan arus bersama Yesus.
Oleh Winn Collier | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam Filipi 2:1-11, Paulus menasihati orang percaya untuk tidak terseret oleh kebudayaan mereka. Ia paham bahwa orang-orang percaya bisa saja digerakkan oleh “kepentingan sendiri” (ay.3), oleh ambisi atas kuasa atau kendali. Sangat wajar bila orang percaya di Filipi meneruskan kebiasaan yang mereka serap dari budayanya, suatu gaya hidup yang Paulus gambarkan sebagai “angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat” (ay.15).

Namun, Paulus mendorong mereka untuk hidup “berpadanan dengan Injil Kristus” (1:27). Dalam pasal 2, ia memaparkan gaya hidup luar biasa yang seharusnya dinikmati oleh orang percaya, yaitu kasih yang berkorban (ay.1-4). Hidup dalam komunitas yang penuh kerukunan, sukacita, dan kebebasan hanya bisa terjadi bila kita mengikuti teladan Kristus (ay.5) dan tetap berakar dalam Roh, dipelihara, serta ditopang oleh-Nya (ay.1). —Monica Brands





September 08, 2019, 04:37:12 AM
Reply #2391
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Lintasan Biru
  08/09/2019 
Lintasan Biru
Baca: Amsal 4:10-27 | Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 3–5 ; 2 Korintus 1
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-09-08.mp3

Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus. —Amsal 4:11

Jalur perlombaan ski yang menuruni bukit sering kali ditandai dengan cat biru yang disemprotkan ke permukaan salju yang putih di sepanjang lintasan. Lengkungan yang dibuat kasar itu mungkin mengganggu pemandangan penonton tetapi terbukti sangat penting bagi kesuksesan dan keselamatan para peserta lomba. Cat tersebut berfungsi sebagai panduan bagi para pembalap untuk mempunyai gambaran tentang jalur tercepat menuju dasar bukit. Selain itu, warna biru yang kontras dengan permukaan salju memberikan persepsi kedalaman kepada para pembalap, dan itu sangat penting bagi keselamatan mereka saat melaju dalam kecepatan yang sangat tinggi.

Salomo meminta putra-putranya untuk mencari hikmat dengan harapan agar mereka selamat di dalam arena kehidupan. Salomo berkata bahwa hikmat akan “memimpin [mereka] di jalan yang lurus” dan menjaga mereka agar tidak tersandung (Ams. 4:11-12), seperti garis biru di lintasan lomba tadi. Harapan terbesarnya sebagai seorang ayah adalah agar anak-anaknya menikmati hidup yang berkelimpahan, bebas dari kerusakan yang akan dialami ketika hidup jauh dari hikmat Allah.
Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus. —Amsal 4:11

Allah, sebagai Bapa kita yang penuh kasih, juga memberikan “garis biru” sebagai panduan dalam Alkitab. Meskipun Allah memberikan kebebasan kepada kita untuk bergerak ke mana pun kita suka, hikmat yang Dia berikan dalam firman-Nya, seperti garis-garis penanda lintasan ski, akan “menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya” (ay.22). Saat kita berbalik dari kejahatan dan memilih berjalan bersama-Nya, jalan hidup kita akan diterangi oleh kebenaran-Nya. Kebenaran itu menjaga kita agar tidak tersandung dan memandu perjalanan kita setiap hari (ay.12,18).
Dengan merenungkan hikmat Allah, bagaimana Anda telah dijaga sehingga tidak tersandung? Dalam hal apa saja Anda menjadi semakin serupa dengan Yesus?
Allahku, terima kasih untuk firman-Mu. Tolonglah aku teguh berpegang kepada hikmat yang Engkau berikan.
Oleh Kirsten Holmberg | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Struktur kitab Amsal sangat mudah dikenali. Pasal 1–9 berisi nasihat seorang bapa kepada anaknya, meliputi tema-tema seperti hikmat dan kekudusan hidup. Pasal 10–31 sebagian besar berisi kumpulan pepatah bijak yang kerap membandingkan kehidupan berhikmat dalam sembilan pasal pertama dengan kebebalan yang membinasakan diri sendiri. —Bill Crowder



September 09, 2019, 04:45:57 AM
Reply #2392
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Sudah Tahu Siapa Pemenangnya
  09/09/2019 
Sudah Tahu Siapa Pemenangnya
Baca: Wahyu 21:1-5 | Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 6–7 ; 2 Korintus 2
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-09-09.mp3

Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka. —Wahyu 21:4

Atasan saya adalah penggemar berat tim bola basket sebuah kampus. Tim tersebut berhasil menjadi juara nasional tahun ini, maka salah seorang rekan kerja mengirimkan pesan ucapan selamat kepadanya. Masalahnya, atasan saya belum sempat menonton tayangan pertandingan final itu! Ia pun kesal karena sudah mengetahui hasilnya. Namun, ia mengakui, ketika menonton rekaman pertandingan itu, ia tidak lagi gugup ketika skor kedua tim begitu ketat hingga akhir pertandingan. Itu karena ia sudah tahu siapa pemenangnya!

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi esok hari. Terkadang hidup terasa monoton dan membosankan, sementara hari lain penuh dengan kegembiraan. Di lain waktu, hidup dapat terasa melelahkan, bahkan menyakitkan, untuk jangka waktu yang lama.
Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka. —Wahyu 21:4

Namun, meskipun kita mengalami pasang surut kehidupan yang tidak terduga, kita masih dapat merasa aman dalam damai sejahtera Allah. Itu karena, seperti penyelia saya, kita sudah mengetahui akhir ceritanya. Kita sudah tahu siapa “pemenangnya”.

Wahyu, kitab terakhir dalam Alkitab, menyingkapkan kepada kita peristiwa spektakuler yang terjadi pada akhir zaman. Setelah kekalahan terakhir dari maut dan kejahatan (Why. 20:10,14), Yohanes menggambarkan sebuah kemenangan yang indah (21:1-3) ketika Allah diam bersama umat-Nya (ay.3), menghapus “segala air mata dari mata mereka” dan “maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita” (ay.4).

Di tengah masa yang sulit, kita dapat berpegang pada janji ini. Kelak, tidak ada lagi kekalahan atau tangisan. Tidak ada lagi penyesalan atau sakit hati. Kita akan hidup bersama Juruselamat kita selamanya. Alangkah luar biasa perayaan itu nantinya!
Bagaimana harapan akan surga menguatkan Anda di saat-saat sulit? Adakah kisah yang “berakhir bahagia” yang Anda sukai? Bagaimana kisah itu mencerminkan apa yang kita baca dalam Wahyu 21?
Suatu hari nanti, Allah akan menghibur setiap hati yang sedih, menyembuhkan setiap luka, dan menghapus setiap tetes air mata.
Oleh Adam Holz | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Bila tidak berhati-hati, gambaran kita mengenai surga bisa dipengaruhi oleh pandangan yang tidak Alkitabiah, misalnya awan dan malaikat kecil bersayap memegang kecapi. Itu bukan gambaran dalam kitab Wahyu. Awan yang digambarkan Yohanes berhubungan dengan penghakiman dan kesusahan besar (10:1; 14:14-16). “Musik” bagai kecapi yang terdapat di dalam pasal 14 adalah seperti suara “desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat” (ay.2). Malaikat yang muncul pun benar-benar mengerikan (14:6-20). Namun, dalam pasal 21, terdapat salah satu perikop yang paling menguatkan. Penghiburan terbesar kita adalah bahwa "kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka” (ay.3). Kita tidak tahu pasti bagaimana hal ini akan terjadi, tetapi ketika Yesus sendiri berkata, “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" (ay.5), kita tahu itu sesuatu yang dahsyat. Dunia yang sekarang pun “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Tentunya langit dan bumi yang baru pun tidak kalah baiknya. —Tim Gustafson





September 10, 2019, 04:28:24 PM
Reply #2393
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Aku Tidak Takut Bahaya
  10/09/2019 
Aku Tidak Takut Bahaya
Baca: Mazmur 23 | Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 8–9 ; 2 Korintus 3
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-09-10.mp3

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. —Mazmur 23:4

Pada tahun 1957, Melba Pattillo Beals terpilih menjadi salah satu dari sembilan siswa kulit hitam pertama yang boleh bersekolah di Central High School, sebuah sekolah di Little Rock, Arkansas yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi siswa kulit putih. Dalam memoarnya yang terbit di tahun 2018, I Will Not Fear: My Story of a Lifetime of Building Faith under Fire (Aku Takkan Takut: Perjuangan Hidupku Membangun Iman di Bawah Tekanan), Beals mengungkapkan kisah memilukan tentang perjuangannya menghadapi ketidakadilan dan pelecehan yang ditanggungnya dengan berani setiap hari sebagai siswa berusia lima belas tahun.

Namun, ia juga menulis tentang imannya yang teguh kepada Allah. Di saat-saat tergelapnya, ketika ketakutan nyaris melumpuhkannya, Beals berulang kali mengucapkan ayat-ayat Alkitab yang sudah dipelajarinya sejak kecil dari neneknya. Saat mengucapkannya, Beals diingatkan kembali akan penyertaan Allah, dan Alkitab memberinya keberanian untuk bertahan.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. Mazmur 23:4

Beals sering mengucapkan Mazmur 23 dan sangat terhibur dengan menyatakan bagian ini: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” (ay.4). Selain itu, ia juga dikuatkan oleh dorongan semangat dari sang nenek yang selalu meyakinkannya bahwa Allah “sangat dekat denganmu, dan kau hanya perlu berseru kepada-Nya bila membutuhkan pertolongan.”

Meskipun situasinya mungkin berbeda, kita pasti akan mengalami masa-masa sulit dan keadaan menakutkan yang mudah membuat kita menyerah. Di saat-saat itulah, kiranya hati Anda dikuatkan oleh kebenaran tentang kuasa kehadiran Allah yang akan selalu menyertai kita.
Pernahkah Anda merasakan kehadiran Allah dalam situasi yang menakutkan? Bagaimana kebenaran tentang Allah yang selalu menyertai itu menghibur Anda?
Ya Bapa, ketika aku takut, tolong aku mengingat bahwa Engkau dekat, dan memperoleh keberanian dalam kehadiran-Mu yang berkuasa.
Oleh Lisa M. Samra | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mazmur 23 karya Daud merupakan suatu ungkapan kepercayaan kepada Allah. Gambaran yang dipakai adalah kiasan Allah sebagai Gembala memimpin umat-Nya (ay.1), suatu metafora yang umum dipakai untuk para raja (2 Samuel 5:2; Yesaya 44:28). Sang Gembala membimbing pemazmur “ke air yang tenang” (Mazmur 23:2) dan “di jalan yang benar” (ay.3), lambang kedamaian yang menopang perjalanan kita, sekalipun “dalam lembah kekelaman” (ay.4).

Gada dan tongkat (ay.4) biasa dipakai oleh para gembala untuk membimbing dan melindungi dombanya. Dari pengalamannya menjadi gembala, Daud tahu bahwa gada dan tongkat harus selalu dipakai untuk menjaga gembalaan tetap aman (1 Samuel 17:34-35). “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku,” kata “mengikuti” ini berasal dari bahasa Ibrani radaph, yang juga berarti “mengejar.” Kalimat terakhir ini menegaskan bahwa Allah akan menyertai Daud selama hidupnya, baik di bumi maupun di surga, di mana ia kelak “diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa” (Mazmur 23:6). —Julie Schwab


September 11, 2019, 07:02:25 AM
Reply #2394
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Selalu Diperbarui
  11/09/2019 
Selalu Diperbarui
Baca: 2 Korintus 4:16–5:9 | Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 10–12 ; 2 Korintus 4
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-09-11.mp3


Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. —2 Korintus 4:16

Katedral Notre Dame di Paris adalah bangunan yang sangat menakjubkan. Arsitekturnya memukau, jendela-jendelanya yang berkaca patri dan interiornya yang indah sangatlah mempesona. Namun, setelah berabad-abad menjulang di atas kota Paris, sudah saatnya gereja itu diperbaiki—dan prosesnya telah berjalan pada saat kebakaran besar mengakibatkan kerusakan hebat pada bangunan kuno yang megah itu.

Warga yang mencintai gedung bersejarah yang dibangun pada abad kedelapan itu pun berbondong-bondong menyelamatkannya. Belum lama ini, pemerintah Prancis menyisihkan dana hingga lebih dari enam juta dolar untuk membantu pemugaran gereja tersebut. Tiang-tiang penopangnya harus diperkuat. Sebagian besar dinding batu di bagian luar perlu diganti, dan atapnya harus diperbaiki. Dana yang besar itu tidak akan keluar dengan sia-sia, karena bagi banyak orang, katedral kuno ini melambangkan harapan.
Hendaklah kamu penuh dengan Roh. Efesus 5:18

Demikian juga dengan diri kita. Tubuh kita, seperti gereja tua itu, lama-lama juga akan menua seiring berjalannya waktu! Namun, seperti dijelaskan Rasul Paulus, kabar baiknya adalah: walaupun kita lambat laun kehilangan kekuatan masa muda kita, tetapi diri kita yang sejati—“manusia batiniah” kita—dapat terus dibarui dan bertumbuh (2Kor. 4:16).

Ketika kita berusaha supaya kita “berkenan kepada [Allah]” (5:9), dengan bergantung kepada ROH KUDUS yang memenuhi dan mengubah kita (3:18; EF. 5:18), pertumbuhan iman kita sama sekali tidak perlu berhenti—bagaimanapun keadaan “bangunan” kita.
Kapan Anda melihat karya ROH KUDUS memperbarui manusia batiniah Anda? Bagaimana kesadaran bahwa pertumbuhan iman kita tidak pernah berhenti dapat mengilhami Anda untuk terus berharap kepada Allah?
Ya Allah, terima kasih untuk Roh-Mu yang senantiasa memperbarui dan mengubah kami. Teruslah memberikan kami kekuatan dan keberanian untuk bersandar kepada-Mu.
Oleh Dave Branon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Paulus kerap membandingkan keadaan saat ini dengan kehidupan bersama Allah dalam kekekalan nanti, contohnya dalam bacaan 2 Korintus hari ini. Untuk kedua kalinya, Paulus membicarakan hal tersebut kepada gereja Korintus. Dalam suratnya yang pertama, Paulus menghabiskan sebagian besar pasal 15 untuk membahas perbedaan kehidupan yang sekarang dan yang akan datang. Ia juga berbicara tentang pengharapan masa depan dalam surat Efesus (1:18-23), Filipi (1:20-23), 1 Tesalonika (4:13-18), dan 1 Timotius (6:17-19). —J.R. Hudberg




September 12, 2019, 02:07:29 PM
Reply #2395
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Penjinak Lidah
  12/09/2019 
Penjinak Lidah
Baca: Yakobus 3:1-6 | Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 13–15 ; 2 Korintus 5
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-09-12.mp3

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. —Efesus 4:29

Dalam buku West with the Night, penulis Beryl Markham menerangkan usahanya menjinakkan Camciscan, seekor kuda jantan yang beringas. Ternyata upaya itu tidak mudah. Apa pun strategi yang diterapkan, Markham tidak pernah benar-benar berhasil menjinakkan kuda jantan itu, bahkan hanya pernah menaklukkannya satu kali.

Berapa banyak dari kita pernah merasakan kesulitan yang sama dalam pergumulan menjinakkan lidah kita? Ketika Yakobus membandingkan lidah dengan kekang pada mulut kuda atau dengan kemudi kapal (Yak. 3:3-5), ia juga mengeluhkan, “dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi” (ay.10).
Tuhan Yesus, tolonglah aku mengawasi perkataan yang kuucapkan.

Jadi, bagaimana kita dapat menjinakkan lidah? Rasul Paulus memberikan nasihat bagaimana kita dapat melakukannya. Pertama, hanya kebenaran yang boleh keluar dari mulut kita (Ef. 4:25). Namun, bukan berarti kita boleh berbicara blak-blakan atau apa adanya dengan cara yang dapat menyakiti orang lain. Paulus menyambungnya dengan nasihat, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun” (ay.29). Kita juga harus membuang sampah yang mengotori: “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan” (ay.31). Apakah itu mudah? Tidak, jika kita berusaha melakukannya sendiri. Syukurlah, kita mempunyai ROH KUDUS yang menolong kita jika kita bergantung kepada-Nya.

Markham menyadari bahwa dibutuhkan konsistensi untuk dapat menjinakkan Camciscan dan mengalahkan sifat keras kepalanya. Demikian juga jika kita hendak menjinakkan lidah.
Menurut Anda, hal apa yang paling sulit dalam usaha menjinakkan lidah? Langkah-langkah praktis apa yang dapat Anda ambil untuk berhasil di minggu mendatang?
Tuhan Yesus, tolonglah aku mengawasi perkataan yang kuucapkan.
Oleh Linda Washington | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Siapakah Yakobus, “hamba Allah” (1:1) dan penulis surat ini? Ada beberapa orang bernama Yakobus yang disebutkan dalam Perjanjian Baru. Yang paling menonjol adalah Yakobus anak Zebedeus sekaligus saudara Yohanes (Matius 4:21). Murid Kristus yang lain adalah Yakobus anak Alfeus (10:3). Yakobus Muda atau “yang muda” (BIS) disebutkan dalam Markus 15:40, tetapi beberapa pakar Alkitab mengatakan bahwa Yakobus Muda mungkin sama dengan Yakobus anak Alfeus. Ada pula Yakobus adalah ayah Yudas (bukan Iskariot, Lukas 6:16). Yang terakhir adalah Yakobus, saudara tiri Yesus (Matius 13:55; 1 Korintus 15:7; Galatia 1:19). Kemungkinan besar Yakobus saudara Yesus inilah yang menulis surat Yakobus. Yakobus anak Zebedeus adalah murid Kristus yang pertama dibunuh sebagai martir (Kisah Para Rasul 12:2), dan Yakobus yang lain tidak cukup penting untuk memberikan pengaruh sedemikian besar. —Bill Crowder



September 13, 2019, 06:37:53 AM
Reply #2396
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Segala Sesuatu yang Kita Lakukan
  13/09/2019 
Segala Sesuatu yang Kita Lakukan
Baca: Amsal 16:1-9 | Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 16–18 ; 2 Korintus 6
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-09-13.mp3

Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu. —Amsal 16:3

Dalam buku Surprised by Joy, C. S. Lewis mengakui bahwa ia mengenal iman Kristen pada usia tiga puluh tiga tahun, tetapi dengan “meronta, melawan, dongkol, dan mencari-cari celah untuk melarikan diri.” Meskipun Lewis berusaha melawan, dan ia juga menghadapi banyak kendala serta kelemahan diri, Tuhan mengubahnya menjadi seorang pembela iman yang berani dan kreatif. Lewis menyerukan kebenaran dan kasih Allah lewat banyak karya esai dan novel luar biasa yang masih dibaca, dipelajari, dan dibagikan orang sampai sekarang, lebih dari lima puluh lima tahun setelah ia meninggal dunia. Hidupnya mencerminkan keyakinannya bahwa tidak ada orang yang “terlalu tua untuk menetapkan tujuan lain atau merajut impian baru.”

Ketika kita membuat rencana dan mengejar impian, Allah dapat memurnikan motivasi kita dan memampukan kita untuk menyerahkan segala sesuatu yang kita lakukan kepada-Nya (Ams. 16:1-3). Dari tugas yang paling sederhana hingga tantangan yang terbesar, kita dapat hidup demi kemuliaan Pencipta kita yang Mahakuasa, yang “membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing” (ay.4). Setiap tindakan, kata, dan pemikiran dapat menjadi ungkapan penyembahan kita yang tulus, suatu persembahan untuk menghormati Allah yang memperhatikan kita (ay.7).
Apa pun yang kita lakukan dapat dilakukan bersama Dia, untuk Dia, dan hanya karena Dia.

Allah tidak dapat dibatasi oleh keterbatasan, kekhawatiran, atau kecenderungan kita untuk cepat merasa puas dan berhenti bermimpi. Ketika kita memilih untuk hidup bagi Dia—mengabdikan diri dan bergantung kepada-Nya—Dia akan mewujudkan rencana-rencana-Nya atas kita. Apa pun yang kita lakukan dapat dilakukan bersama Dia, untuk Dia, dan hanya karena Dia.
Bagaimana Amsal 16:3 dapat membantu Anda lebih yakin dalam menggunakan karunia-karunia Anda? Langkah-langkah apa yang dapat Anda ambil untuk memuliakan Allah dalam usaha mewujudkan mimpi yang Dia taruh dalam hati Anda?
Ya Allah, terima kasih Kau ingatkan kami bahwa tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil dan mimpi yang terlalu besar dalam Kerajaan-Mu yang agung.
Oleh Xochitl Dixon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kitab Amsal menekankan agar kita menghormati Allah dalam segala sesuatu yang kita lakukan. Hal tersebut tampak lewat frasa “takut akan TUHAN” (16:6), yang berarti rasa segan dan hormat yang sangat besar kepada Allah. Kekaguman, hormat dan penundukan diri sepatutnya diberikan kepada-Nya sebagai Pencipta, Penopang, Penebus, dan Tuhan atas segalanya. Seluruh kitab Amsal menegaskan pentingnya memiliki sikap takut akan Allah, baik secara individu maupun komunal, yakni seluruh umat Allah. Takut akan TUHAN adalah dasar bagi hidup yang berhikmat (1:7; 9:10); takut akan TUHAN adalah pilihan kita (1:29), takut akan TUHAN memperpanjang umur (10:27); dan nilainya lebih besar daripada harta (15:16). Orang yang takut akan Tuhan terlindung dari kejahatan (16:6; 19:23) dan mempunyai segala sesuatu yang mereka butuhkan (10:3). —Arthur Jackson



September 14, 2019, 05:19:06 AM
Reply #2397
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Berapa pun yang Harus Dibayar
  14/09/2019 
Berapa pun yang Harus Dibayar
Baca: Yohanes 12: 37-43 | Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 19–21 ; 2 Korintus 7
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-09-14.mp3

Mereka tidak berani mengakui itu dengan terus terang, sebab mereka takut. —Yohanes 12:42 BIS

Film “Paul, Apostle of Christ” menggambarkan dengan kuat penganiayaan yang dahulu dialami jemaat Kristen mula-mula. Bahkan para tokoh figuran dalam film itu memperlihatkan bahaya besar yang diterima pengikut Yesus. Lihat saja daftar peran yang tercantum di akhir film: Perempuan yang Dipukuli; Lelaki yang Dipukuli; Korban Kristen 1, 2, dan 3.

Keputusan mengikut Kristus acap kali harus dibayar mahal. Pada masa kini, di banyak tempat di dunia, mengikut Yesus masih mendatangkan bahaya. Masih banyak jemaat dianiaya karena iman mereka. Namun, beberapa dari kita mungkin terlalu cepat merasa “teraniaya”—marah ketika iman kita diejek atau curiga bahwa kegagalan kita mendapatkan promosi dalam karier adalah karena iman kita.
Tuhan Yesus, aku ingin menjadi sahabat terdekat-Mu.

Jelas ada perbedaan besar antara mengorbankan status sosial dan mengorbankan nyawa. Namun, pada kenyataannya, kepentingan diri, stabilitas keuangan, dan penerimaan sosial masih terus menjadi motivasi yang kuat bagi manusia. Itu bisa kita lihat dalam tindakan sejumlah orang yang pernah percaya kepada Yesus. Rasul Yohanes menuliskan bahwa, hanya beberapa hari sebelum penyaliban Yesus, meskipun sebagian besar orang Israel masih menolak Dia (Yoh. 12:37), banyak “di antara penguasa Yahudi percaya kepada Yesus” (ay.42 BIS). Namun, “mereka tidak berani mengakui itu dengan terus terang . . . mereka lebih suka mendapat pujian manusia daripada penghargaan Allah”(ay. 42-43 BIS).

Saat ini, sebagian dari kita masih menghadapi tekanan sosial (bahkan mungkin lebih parah dari itu) untuk menyembunyikan iman kita kepada Kristus. Namun, berapa pun harga yang harus dibayar, marilah kita berdiri teguh sebagai umat yang lebih suka menerima penghargaan Allah daripada pujian manusia.
Kita mungkin tergoda menghakimi anggota jemaat mula-mula yang menyembunyikan iman mereka, tetapi apakah kita benar-benar berbeda dari mereka? Apakah kita pernah memilih diam supaya orang tidak mengenali kita sebagai pengikut Yesus?
Tuhan Yesus, aku ingin menjadi sahabat terdekat-Mu.
Oleh Tim Gustafson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ketika Yohanes (12:38-40) mengutip Yesaya 53:1 dan 6:10, mungkin tampaknya ia menyalahkan Allah karena Dia mengeraskan hati orang-orang tertentu sehingga mereka tidak percaya. Namun, bila kita membaca Yesaya dan Yohanes sesuai konteksnya, tampak bahwa sejak semula, Allah telah memberikan kehendak bebas kepada manusia sehingga mereka bisa bertindak sesuai pilihannya sendiri. Sejauh mana mereka melangkah, sejauh itu pulalah Allah akan mengulurkan tangan untuk menyelamatkan manusia dari konsekuensi pilihan mereka sendiri.

Yohanes berbicara tentang pemimpin agama yang takut untuk percaya kepada Yesus karena alasan politis dan religius (Yohanes 11:45-53; 12:42-43). Yesaya, nabi yang hidup enam abad sebelum Kristus, menulis tentang seorang Raja yang kelak muncul dalam kemuliaan (Yesaya 6:1-10; Yohanes 12:41) di tengah manusia dengan kehendak bebas yang menolak percaya. Tanpa wahyu ilahi, mereka tidak dapat dan tidak akan percaya bahwa Kristus adalah Juruselamat. —Mart DeHaan


September 15, 2019, 04:50:44 AM
Reply #2398
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Kesatuan
  15/09/2019 
Kesatuan
Baca: Efesus 4:1-6 | Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 22–24 ; 2 Korintus 8
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-09-15.mp3

Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. —Efesus 4:3

Pada tahun 1722, sekelompok kecil orang Kristen Moravia, yang hidup di wilayah yang sekarang menjadi Republik Ceko, berlindung dari penganiayaan dengan tinggal di tanah milik seorang bangsawan Jerman yang murah hati. Dalam tempo empat tahun, lebih dari 300 orang datang ke sana. Namun, alih-alih menjadi komunitas yang ideal bagi para pengungsi yang teraniaya, di tempat pengungsian itu justru timbul banyak perselisihan. Perspektif yang berbeda-beda tentang iman Kristen telah menimbulkan perpecahan. Yang mereka lakukan selanjutnya mungkin terlihat sepele, tetapi ternyata melahirkan kebangunan yang luar biasa: mereka mulai memusatkan perhatian pada apa yang mereka sepakati bersama dan bukan pada perbedaan yang ada. Hasilnya adalah kesatuan.

Rasul Paulus sangat merindukan orang-orang percaya di Efesus hidup dalam kesatuan. Dosa akan selalu mendatangkan masalah, keinginan yang egois, dan konflik dalam hubungan. Namun, sebagai orang-orang yang dihidupkan “bersama-sama dengan Kristus” (Ef. 2:5), jemaat Efesus dipanggil untuk menghidupi identitas baru mereka lewat perbuatan sehari-hari (5:2). Yang terutama, mereka harus “[berusaha] memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera” (4:3).
Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. —Efesus 4:3

Kesatuan ini bukan sekadar persahabatan sederhana yang terjalin lewat kekuatan manusiawi. Kita perlu “selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar” serta menunjukkan “kasih [kita] dalam hal saling membantu” (4:2). Dari perspektif manusiawi, mustahil kita bisa melakukan itu semua. Kita tidak akan sanggup mencapai kesatuan dengan kekuatan kita sendiri, tetapi kita akan dimampukan oleh kekuatan Allah yang sempurna “yang bekerja di dalam kita” (3:20).
Apakah yang terjadi dalam komunitas iman Anda, perpecahan atau kesatuan? Upaya apa yang dapat Anda lakukan dalam kekuatan Allah untuk memelihara kesatuan Roh?
Bapa, Engkau yang berkuasa, bekerja, dan berdiam di dalam segala sesuatu, hadirlah di tengah-tengah kami agar kesatuan kami tetap terpelihara.
Oleh Estera Pirosca Escobar | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Paulus dan rekan pelayanannya merintis gereja di Efesus dalam perjalanan misi yang kedua (Kisah Para Rasul 18:19). Ia berkunjung ke sana dalam perjalanan misi ketiga, tinggal selama tiga tahun di sana dan menumbuhkan iman orang-orang yang baru percaya itu (19:1-40; 20:31). Pertemuan Paulus yang terakhir dengan jemaat Efesus tercatat dalam Kisah Para Rasul 20:17-38. Ketika ia sedang dalam perjalanan ke Yerusalem pada akhir perjalanan misinya yang ketiga, Paulus berhenti di kota pelabuhan Miletus di Asia Kecil Barat (sekarang Turki) dan memanggil para penatua jemaat Efesus agar ia dapat melayani jemaat di sana untuk terakhir kali. Paulus menulis surat kepada jemaat Efesus beberapa tahun kemudian ketika ia dalam tahanan rumah di Roma, menunggu saatnya bersaksi di depan Kaisar (28:30). Seluruh pertemuan tersebut mengungkapkan hubungan dan ikatan Paulus yang lebih dalam dengan gereja Efesus dibandingkan dengan jemaat-jemaat lain yang dilayaninya. —Bill Crowder





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)