Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 126089 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

July 14, 2019, 05:23:57 PM
Reply #2340
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22614
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Berwarna-warni Cerah
  14/07/2019 
Berwarna-warni Cerah
Baca: Wahyu 4:1-6 | Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 10–12 ; Kisah Para Rasul 19:1-20
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-07-14.mp3

Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis. —Wahyu 4:3

Ketika Xavier McCoury memakai kacamata yang dihadiahkan oleh Bibi Celena untuk hari ulang tahunnya yang kesepuluh, ia menangis tersedu-sedu. Xavier lahir buta warna, dan selama ini hanya dapat melihat dunia dalam warna abu-abu, putih, dan hitam. Dengan kacamata EnChroma yang baru, Xavier bisa melihat warna untuk pertama kalinya. Luapan kegembiraan Xavier saat melihat keindahan di sekelilingnya membuat seluruh keluarganya merasa seperti menyaksikan sebuah mukjizat.

Menyaksikan keindahan Allah yang bersinar terang dalam berbagai warna juga membangkitkan reaksi yang dahsyat dalam diri Rasul Yohanes (Why. 1:17). Setelah melihat seluruh kemuliaan Kristus yang telah bangkit, Yohanes melihat adanya “sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya. . . . Dan dari takhta itu keluar kilat” (Why. 4:2-5).
Suatu hari nanti kita akan berhadapan muka dengan Kristus yang telah bangkit.

Di masa yang lain, Nabi Yehezkiel menyaksikan penglihatan serupa, yakni “sesuatu yang menyerupai takhta dari batu nilam” dengan sosok di atas takhta itu “kelihatan bercahaya seperti perunggu di tengah nyala api” (Yeh. 1:26-27 BIS). Sosok seperti manusia tersebut terlihat bagai api yang dikelilingi oleh sinar seperti busur pelangi (ay.28).

Suatu hari nanti kita akan berhadapan muka dengan Kristus yang telah bangkit. Penglihatan-penglihatan di atas hanyalah isyarat dari keindahan luar biasa yang menanti kita. Sambil mensyukuri keindahan ciptaan Allah dalam dunia ini, kiranya kita juga hidup dalam pengharapan akan kemuliaan yang kelak dinyatakan kepada kita.
Respons apa yang timbul saat Anda melihat keindahan ciptaan Allah? Bagaimana cara Anda mengungkapkan syukur kepada Allah atas anugerah-Nya yang sungguh indah?
Bapa, tiada kata yang dapat kami ungkapkan saat kami membayangkan apa yang akan kami alami saat berhadapan muka dengan-Mu. Terima kasih untuk isyarat-isyarat keindahan-Mu yang Kau tempatkan di dunia ini.
Oleh Remi Oyedele | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Wahyu 4:1-6 adalah bacaan indah dengan deskripsi yang jelas tentang Kristus dan ruang takhta di surga. Yaspis, permata sardis, pelangi gemilang, jubah putih, mahkota emas, dan lautan kristal, semua itu melukiskan pemandangan yang penuh warna. Selanjutnya, penulis kitab ini menambahkan elemen-elemen suara seperti gemuruh dan guntur yang datang dari takhta, bersamaan dengan kilatan petir. Walaupun gambaran itu menggugah imajinasi, jangan sampai kita melupakan maksud dari gambaran-gambaran tersebut. Di satu sisi, ada kemegahan semarak Yesus di takhta yang dilingkupi pelangi dan lautan kaca seperti kristal. Di sisi lain, ada kuasa dan penghancuran yang diwakili oleh gemuruh dan guntur. Bersama-sama, gambaran tentang Allah adalah suatu kombinasi kekuatan dan keindahan.



July 15, 2019, 05:49:54 AM
Reply #2341
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22614
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
[color=bluehttps://santapanrohani.org/

Terhindar dari Jerat
  15/07/2019 
Terhindar dari Jerat
Baca: 1 Timotius 6:6-10 | Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 13–15 ; Kisah Para Rasul 19:21-41
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-07-15.mp3

Saya sudah mengenal rahasianya untuk menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga. —Filipi 4:12 BIS

Tumbuhan Venus flytrap pertama kali ditemukan di rawa berpasir tidak jauh dari rumah kami di Carolina Utara. Tumbuhan tersebut menarik untuk diamati karena termasuk tumbuhan karnivora atau pemakan daging. Venus flytrap mengeluarkan sari bunga berbau manis yang menjadi jerat warna-warni dengan tampilan menyerupai kelopak bunga yang terbuka. Ketika seekor serangga merayap masuk, sensor-sensor yang terletak di tepi bunga akan bereaksi dan kelopaknya akan langsung menutup serta menjerat serangga itu dalam waktu kurang dari satu detik. Perangkapnya menutup semakin rapat dan mengeluarkan enzim yang menghabisi korban perlahan-lahan, sehingga tumbuhan itu memperoleh nutrisi yang tidak didapatkan dari tanah berpasir tempatnya bertumbuh.

Firman Allah berbicara tentang perangkap lain yang dapat menjerat tanpa terduga. Rasul Paulus memperingatkan Timotius, anak didiknya: “Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. . . . Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1Tim. 6:9-10).
Kepuasan yang kekal dan sejati hanya diperoleh melalui hubungan kita dengan Allah.

Uang dan harta dapat menjanjikan kebahagiaan, tetapi ketika hal-hal itu menjadi utama dalam hidup kita, kita pun terancam bahaya. Kita dapat menghindari jerat itu dengan menjalani hidup dalam kerendahan hati yang penuh syukur dan terpusat pada kebaikan Allah yang kita terima melalui Yesus Kristus: “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar” (1Tim. 6:6).

Segala kekayaan yang fana di dunia ini tidak akan pernah dapat memuaskan kita seperti Allah. Kepuasan yang kekal dan sejati hanya diperoleh melalui hubungan kita dengan Dia.
Mana yang lebih sering Anda pikirkan: uang atau hubungan Anda dengan Allah? Bagaimana Anda dapat memberikan prioritas tertinggi bagi Allah hari ini?
Ya Tuhan, Engkaulah karunia terbesar dalam hidupku! Tolonglah aku untuk hidup dengan rasa puas atas kehadiran-Mu hari ini.
Oleh James Banks | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Paulus banyak mencurahkan hidupnya untuk mendidik para pemuda dalam pelayanan, salah satunya Timotius. Ibu Timotius bernama Eunike, seorang perempuan Yahudi, sedangkan ayahnya seorang Yunani. Neneknya, Lois, juga seorang pengikut Kristus (Kisah Para Rasul 16:1; 2 Timotius 1:5). Tidak diceritakan bagaimana Timotius menjadi orang percaya, tetapi tampaknya karena pengaruh ibu dan neneknya, sebab dalam 2 Timotius 3:14-15 diceritakan bahwa sejak kecil ia telah diajar tentang Kitab Suci “yang dapat memberi hikmat . . . dan menuntun kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.” Paulus mengganggap Timotius sebagai anak, menyebutnya “anakku yang sah di dalam iman” (1 Timotius 1:2). Paulus juga sangat peduli dengan Timotius sehingga walaupun ia sedang berada di penjara Romawi menunggu kematian (2 Timotius 4:6), Paulus menyediakan waktu untuk menulis surat kepada Timotius untuk memberinya semangat dalam pelayanannya di Efesus.

Bill Crowder




[/color]
[/b]
July 16, 2019, 06:08:40 AM
Reply #2342
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22614
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Obsesi
  16/07/2019 
Obsesi
Baca: Mazmur 16:1-11 | Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 16–17 ; Kisah Para Rasul 20:1-16
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-07-16.mp3

Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau! —Mazmur 16:2

“My precious . . .” Setelah pertama kalinya muncul dalam trilogi Lord of the Rings karya Tolkien, makhluk kurus kering bernama Gollum dengan obsesi gilanya terhadap “cincin kekuasaan” telah menjadi tokoh yang menggambarkan keserakahan, obsesi, bahkan kegilaan manusia.

Yang menggelisahkan, sosok itu tidak asing bagi kita. Dalam hubungan cinta dan bencinya dengan cincin itu dan dirinya sendiri, suara Gollum menyuarakan dahaga yang terdapat dalam hati kita sendiri. Entah dahaga itu terhadap satu hal tertentu, atau hanya kerinduan samar terhadap sesuatu yang “lebih,” kita meyakini bahwa akhirnya kita akan puas setelah mendapatkan apa yang kita idam-idamkan. Namun ternyata, apa yang kita pikir dapat memuaskan justru membuat kita merasa lebih hampa daripada sebelumnya.
"Engkaulah Tuhanku, kebahagiaanku, tak ada yang melebihi Engkau!" Mazmur 16:2

Hidup tidak seharusnya seperti itu. Seperti yang diungkapkan Daud dalam Mazmur 16, ketika hasrat hati mendesak kita untuk mati-matian mengejar kepuasan yang sia-sia (ay.4), kita perlu ingat untuk datang kepada Allah untuk menerima perlindungan (ay.1) dan bahwa tidak ada yang baik bagi kita di luar Allah (ay.2).

Saat kita berhenti mencari kepuasan “di luar sana” dan memilih untuk memandang kepada keindahan Allah (ay.8), pada akhirnya kita bisa merasakan kepuasan sejati—kehidupan yang menikmati sukacita di hadapan [Allah]”, dengan berjalan bersama-Nya setiap saat di “jalan kehidupan”—sekarang sampai selama-lamanya (ay.11).
Hal apa yang sering Anda cari untuk memuaskan diri saat Anda jauh dari Allah? Siapa yang dapat menjadi sumber dukungan dan kasih bagi Anda saat Anda terjerat dalam kecanduan mendapatkan lebih dan lebih lagi?
Ya Allah, ampuni aku karena aku mengira bisa mendapatkan apa yang kubutuhkan di luar Engkau. Terima kasih, Engkau selalu hadir bahkan di saat aku melupakan-Mu. Bawalah aku dekat kepada-Mu agar hidup bersukacita bersama-Mu.
Oleh Monica Brands | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Pada awal mazmur, biasanya terdapat keterangan pembuka sebelum lirik atau sajaknya. Keterangan tersebut umumnya menyatakan penulis mazmur dan alasan penulisannya (lihat Mazmur 3, 18). Keterangan itu juga memberikan informasi tentang siapa mazmur itu ditulis, bagaimana mazmur tersebut harus dibawakan, petunjuk-petunjuk yang berkaitan dengan musik, dan nada musik (lihat Mazmur 6, 7, 56, 60).

Pendahuluan pada Mazmur 16 memberitahukan bahwa mazmur tersebut adalah “miktam Daud.” Catatan ini juga muncul pada lima mazmur lain (Mazmur 56–60). Para pakar Alkitab tidak menemukan kesepakatan tentang apa itu miktam, maka dalam sebagian besar Alkitab versi bahasa Inggris, kata miktam tidak diterjemahkan. Beberapa ahli berpendapat bahwa miktam mungkin adalah suatu “persembahan”; tetapi sebagian lain perpendapat bahwa miktam merujuk pada mazmur-mazmur yang berkaitan dengan penebusan dosa karena akar kata “miktam” berarti “menutupi.”



July 17, 2019, 05:43:30 AM
Reply #2343
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22614
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://santapanrohani.org/

Pawai Kemenangan
  17/07/2019 
Pawai Kemenangan
Baca: 2 Korintus 2: 14- 17 | Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 18– 19 ; Kisah PARA Rasul 20: 17- 38
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-07-17.mp3

Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. —2 Korintus 2:14

Pada tahun 2016, ketika tim bisbol Chicago Cubs memenangi Kejuaraan Dunia untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu abad, kurang lebih lima juta orang berjajar di sepanjang rute pawai dan berkumpul di pusat kota untuk merayakannya.

Pawai kemenangan seperti itu tidak bermula pada zaman modern. Pawai kuno yang terkenal adalah Pawai Kejayaan Romawi, di mana para jendral pemenang perang memimpin arak-arakan yang terdiri dari pasukan dan tawanan melalui jalan-jalan yang dipadati rakyat.
Dengan mengikut Kristus, kita menyatakan kejayaan kebangkitan-Nya yang membuka jalan keselamatan bagi dunia.

Pawai semacam itulah yang mungkin ada dalam pikiran Rasul Paulus ketika ia menulis surat kepada jemaat di Korintus untuk bersyukur kepada Allah yang telah membawa orang-orang percaya “di jalan kemenangan-Nya” (2Kor. 2:14). Bagi saya, gambaran tentang para pengikut Kristus yang mengikuti perarakan itu sangat memukau. Sebagai orang percaya kita tidak dipaksa untuk berpartisipasi, melainkan dengan sukarela menjadi bagian dari arak-arakan yang dipimpin oleh Kristus, Sang Pemenang yang telah bangkit. Sebagai umat Kristen, kita merayakan kenyataan bahwa melalui kemenangan-Nya, Kristus mendirikan jemaat-Nya dan alam maut tidak akan dapat menguasainya (Mat. 16:18).

Ketika kita berbicara tentang kemenangan Yesus di atas kayu salib dan kemerdekaan yang dianugerahkan-Nya kepada orang percaya, kita ikut berperan “menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana” (2Kor. 2:14). Baik keharuman tersebut meyakinkan orang percaya akan keselamatan mereka atau menjadi bau kebinasaan bagi yang tidak percaya, aroma yang kuat dan tak terlihat itu selalu hadir ke mana pun kita melangkah.

Dengan mengikut Kristus, kita menyatakan kejayaan kebangkitan-Nya yang membuka jalan keselamatan bagi dunia.
Apa arti kemenangan Yesus Kristus di atas kayu salib bagi Anda? Bagaimana cara Anda mengandalkan kuasa kebangkitan-Nya dalam hidup ini?
Yesus adalah Raja kita yang berjaya.
Oleh Lisa M. Samra | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam suratnya ini, Paulus menceritakan penderitaan yang ia tanggung, antara lain bahaya yang mengancam nyawanya (2 Korintus 1:8-10) dan perpecahan serius dalam gereja (lihat 1 Korintus 1:10-17). Perpecahan ini mungkin disebabkan oleh mereka yang disebut Paulus “banyak orang lain”, katanya: “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah” (2 Korintus 2:17). Di samping itu, ada juga jemaat gereja yang melakukan inses—percabulan dengan anggota keluarga sendiri (1 Korintus 5:1-5). Allah memelihara Paulus dan rekan-rekannya sepelayanan (2 Korintus 1:10-11), kesatuan gereja dipulihkan (7:8-13), dan dosa seksual dapat ditangani (2:5-11). Itulah sebabnya surat Paulus berakhir dengan kemenangan: “Tetapi syukur bagi Allah. . .” (ay. 14). Ia menutup suratnya dengan menyampaikan penegasan atas kuasa kerasulannya: “Dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya” (ay. 17).

Tim Gustafson

July 18, 2019, 05:42:53 AM
Reply #2344
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22614
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://santapanrohani.org/

Pertolongan yang Bijaksana
  18/07/2019 
Pertolongan yang Bijaksana
Baca: 1 Tesalonika 5:12-15 | Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 20–22 ; Kisah Para Rasul 21:1-17
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-07-18.mp3

Tabahkan hati orang yang takut; tolonglah orang yang perlu ditolong dan sabarlah terhadap semua orang. —1Tesalonika 5:14 BIS

Saat mobil saya berhenti di lampu merah, saya melihat lagi orang yang sama berdiri di pinggir jalan. Ia memegang papan dari kardus bertuliskan: Butuh uang untuk makan. Pemberian apa pun sangat membantu. Saya berpaling dan menghela nafas. Apakah saya tipe orang yang tidak peduli kepada orang miskin?

Banyak orang berpura-pura membutuhkan sesuatu padahal mereka sebenarnya penipu. Ada yang memang benar-benar membutuhkan bantuan tetapi menghadapi kesulitan dalam mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk. Para pekerja sosial mengatakan bahwa lebih baik menyumbang melalui yayasan-yayasan sosial di kota kami. Dengan berat hati, saya pun beranjak dari tempat itu. Saya merasa bersalah, tetapi mungkin itu langkah yang bijaksana.
Bapa, ajarlah aku untuk bijaksana dan tekun dalam menolong sesamaku.

Allah memerintahkan kepada kita, “Tegurlah dengan rukun orang yang tidak mau bekerja; tabahkan hati orang yang takut; tolonglah orang yang perlu ditolong” (1Tes. 5:14 BIS). Untuk melakukannya dengan benar, kita perlu tahu siapa yang termasuk dalam kategori-kategori di atas. Bila kita menegur mereka yang takut, bisa jadi kita sedang mematahkan semangatnya; bila kita menolong orang yang tidak mau bekerja, kita bisa membuatnya semakin malas. Oleh karena itu, yang terbaik adalah kita membantu seseorang yang cukup kita kenal agar kita mengetahui kebutuhan yang sebenarnya.

Apakah Allah menggerakkan hati Anda untuk menolong seseorang? Luar biasa! Anda dapat mulai melangkah. Namun, jangan mengira Anda sudah tahu kebutuhannya. Mintalah kepadanya untuk menceritakan kisahnya, dan dengarkanlah. Setelah itu, berikanlah bantuan dengan bijaksana dan sungguh-sungguh, bukan sekadar untuk membuat Anda merasa lebih baik. Bila kita benar-benar bermaksud untuk “berbuat baik, seorang kepada yang lain”, kita bisa lebih sabar “terhadap semua orang,” bahkan di saat mereka jatuh (ay.14-15 BIS).
Kapan Anda merasa paling dibantu oleh orang lain? Apa yang Anda pelajari tentang cara terbaik untuk membantu sesama?
Bapa, ajarlah aku untuk bijaksana dan tekun dalam menolong sesamaku.
Oleh Mike Wittmer | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Sebagian besar pakar Alkitab sependapat bahwa Paulus menulis surat 1 Tesalonika pada masa delapan belas bulan pertamanya saat tinggal di Korintus (sekitar tahun 49-51 M) selama perjalanan misinya yang kedua (lihat Kisah Para Rasul 18:1-18). Paulus, Timotius, dan Silas mengajar di rumah ibadat di Tesalonika selama tiga hari Sabat berturut-turut. Selama waktu itu, beberapa orang Yahudi maupun non-Yahudi yang takut akan Allah yang menjadi percaya kepada Yesus (Kisah Para Rasul 17:4). Namun, sejumlah pihak yang membuat keributan memaksa mereka untuk meninggalkan kota (ay. 9-10). Tak lama setelah itu, Paulus mengirim Timotius ke sana untuk melihat keadaan jemaat baru itu. Ketika Timotius bertemu dengan Paulus di Korintus, ia menyampaikan laporan yang akhirnya mendorong Paulus untuk menulis surat ini. Tema utama surat Tesalonika adalah kedatangan Kristus kali kedua. Bacaan hari ini mengajarkan bagaimana kita harus menjalani hidup saat ini hingga kelak Dia kembali.

Alyson Kieda

July 19, 2019, 05:25:31 AM
Reply #2345
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22614
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Siapa Itu?
  19/07/2019 
Siapa Itu?
Baca: Mazmur 24 | Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 23–25 ; Kisah Para Rasul 21:18-40
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-07-19.mp3

“Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?” “Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!” —Mazmur 24:10

Dalam perjalanan pulang dari bulan madu, saya dan suami mengantre untuk memasukkan koper-koper kami ke bagasi di bandara. Saya lalu menyenggol suami saya dan menunjuk ke arah seseorang yang berdiri tak jauh dari kami.

Suami saya melirik, sambil berkata, “Siapa itu?”
“Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?” “Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!” —Mazmur 24:10

Dengan penuh semangat, saya menyebut peran-peran yang pernah dilakoni pria tersebut. Kami pun mendatanginya dan memintanya berfoto bersama. Dua puluh empat tahun kemudian, saya masih senang bercerita tentang pertemuan kami dengan bintang film itu.

Bisa mengenali seorang bintang film memang menyenangkan, tetapi saya bersyukur bisa mengenal satu Pribadi yang jauh lebih penting. “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” (Mzm. 24:8). Daud sang pemazmur menyebut Tuhan Mahakuasa sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Penguasa segala sesuatu. Ia bernyanyi, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai” (ay.1-2). Dalam kekaguman, Daud menyatakan bahwa Tuhan memang di atas segalanya, tetapi tetap dapat ditemui secara pribadi (ay.3-4). Kita dapat mengenal Dia, dikuatkan oleh-Nya, dan mempercayai Dia untuk berperang bagi kita, karena kita hidup bagi Dia (ay.8).

Allah memberi kesempatan kepada kita untuk menyatakan Dia sebagai Pribadi Agung, satu-satunya yang layak diperkenalkan kepada orang lain. Saat kita mencerminkan karakter-Nya, orang-orang yang belum mengenal Dia akan tergerak untuk bertanya, “Siapa Dia?” Seperti Daud, kita dapat mengarahkan mereka kepada Tuhan dengan penuh kekaguman dan menceritakan tentang diri-Nya!
Apa yang telah Tuhan tunjukkan kepada Anda tentang diri-Nya? Bagaimana Anda dapat membagikan pengalaman tersebut kepada orang lain?
Tuhan, terima kasih atas berkat sukacita dan hak istimewa untuk mengenal-Mu. Engkau juga memberi kami kesempatan untuk memperkenalkan-Mu kepada sesama kami setiap hari.
Oleh Xochitl Dixon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mazmur 24 kerap dipasangkan dengan Mazmur 15 sebagai satu liturgi yang dinyanyikan ketika umat memasuki rumah ibadat untuk beribadah. Dalam Mazmur 24:7-10, Daud menggambarkan betapa Allah layak menerima puji-pujian kita. Dia adalah “Raja Kemuliaan” dan yang “Mahakuasa.” Kata Ibrani untuk “mulia” adalah kābôd yang berarti “berat, substansi, makna”. Kata ini memberi penekanan pada status Allah dan kemegahan-Nya. Kata yang diterjemahkan sebagai “Mahakuasa” memiliki makna penaklukan dan pemerintahan Allah dalam peperangan atau suatu pasukan.

Dua mazmur tersebut juga menggambarkan siapa saja yang boleh datang ke “gunung” Tuhan, yaitu orang “yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil” (15:2), "orang yang bersih tangannya dan murni hatinya” (24:4). Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai frasa “tidak bercela” memiliki arti “tanpa noda.” Pada kitab lain, kata yang sama dipakai untuk menjelaskan korban yang benar (2 Samuel 22:24) dan dapat diterima (Imamat 14:10; 22:19). Akan tetapi, kita tidak mungkin menjadi “benar” atau “tidak bercela” dengan kekuatan kita sendiri. Hanya melalui pengorbanan Kristus kita dapat disebut orang benar (Filipi 3:8-9).

Julie Schwab


July 20, 2019, 06:52:34 AM
Reply #2346
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22614
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Belajar dari Teladan Hidup
  20/07/2019 
Belajar dari Teladan Hidup
Baca: Titus 2:1-8 | Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 26–28 ; Kisah Para Rasul 22
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-07-20.mp3

Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus. —1 Korintus 11:1

Owen, putra saya yang berumur enam tahun, sangat antusias menerima hadiah permainan papannya yang baru. Namun, setelah setengah jam membaca petunjuk permainan, ia merasa frustrasi karena tidak kunjung mengerti caranya. Setelah datang seorang teman yang sudah mengetahui cara bermainnya, barulah Owen bisa menikmati hadiahnya itu.

Sambil memperhatikan mereka bermain, saya diingatkan betapa lebih mudahnya mempelajari sesuatu yang baru jika kita memiliki guru yang berpengalaman. Kita memang bisa belajar dengan membaca buku petunjuknya, tetapi ketika ada seseorang yang mengajarkan dan menunjukkan caranya kepada kita, kita akan lebih cepat mengerti.
Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus. —1 Korintus 11:1

Rasul Paulus juga memahami hal itu. Dalam suratnya kepada Titus, ia mendorong Titus untuk menolong jemaat bertumbuh dalam iman dengan menekankan nilai penting dari orang-orang yang sudah lama percaya dalam meneladankan iman Kristen. Tentu pengajaran yang sehat itu penting, tetapi iman bukan hanya perlu dikatakan, melainkan juga ditunjukkan lewat perbuatan. Paulus menulis bahwa laki-laki dan perempuan yang tua harus dapat menguasai diri, berkelakuan baik, dan mengasihi (Tit. 2:2-5). “Dalam segala hal,” ia berkata, “jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik” (ay.6-7).

Saya bersyukur untuk pengajaran sehat, tetapi saya juga bersyukur untuk orang-orang yang telah mengajarkannya lewat hidup mereka. Mereka menunjukkan kepada saya bagaimana seharusnya seseorang hidup sebagai murid Kristus sehingga saya pun ditolong untuk semakin yakin mengikuti jejak mereka.
Pelajaran apa yang Anda terima dari orang-orang percaya yang telah mengajarkan kepada Anda cara hidup bagi Yesus lewat perkataan dan perbuatan mereka? Apa yang orang lain perhatikan ketika mereka melihat iman dan perbuatan Anda?
Terima kasih, ya Allah, untuk para pembimbing yang Engkau berikan sebagai teladan hidup dalam Tuhan bagi kami. Terima kasih karena Engkau telah memberikan kepada kami Anak-Mu, satu-satunya teladan yang sempurna.
Oleh Amy Peterson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Titus, salah satu orang non-Yahudi yang bertobat karena Paulus (Galatia 2:3; Titus 1:4), adalah “mitra dan rekan kerja” Paulus yang setia (2 Korintus 8:23). Titus diutus Paulus untuk mewakilinya dalam mengatasi masalah yang terjadi di gereja Korintus. Hal ini membuktikan bahwa Titus memiliki karakter dan kedewasaan, juga kepemimpinan dan kemampuan penggembalaan (7:6-7, 13-14; 8:6, 16-17; 12:18).

Setiap kali Paulus mendirikan satu jemaat, ia menunjuk penatua-penatua untuk mengurus gereja tersebut (Kisah Para Rasul 14:23). Para pakar Alkitab tidak bisa memastikan siapa yang mendirikan gereja di Kreta, tetapi waktu Paulus mengetahui bahwa gereja tersebut tidak memiliki penatua untuk menggembalakan orang-orang yang baru percaya, ia mengutus Titus untuk mengatur dan mengawasi gereja tersebut (Titus 1:5). Paulus menulis surat ini sebagai panduan bagi Titus untuk melaksanakan tugasnya dalam mengawasi gereja itu sekaligus permintaan kepada Titus untuk mengajar umat percaya di sana tentang hidup kudus. Paulus menekankan sikap kepemimpinan yang takut akan Allah (pasal 1), perilaku terhormat dan perbuatan baik dalam gereja (pasal 2), serta instruksi untuk hidup di tengah masyarakat luas (pasal 3).



July 21, 2019, 04:38:39 AM
Reply #2347
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22614
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Tidak Pernah Terlambat
  21/07/2019 
Tidak Pernah Terlambat
Baca: Markus 5:35-43 | Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 29–30 ; Kisah Para Rasul 23:1-15

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-07-21.mp3

Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja!” —Markus 5:36

Ketika ibu mertua saya terkena serangan jantung, beliau beruntung dapat segera menerima pertolongan medis yang tepat. Dokter mengatakan bahwa pasien kritis yang mendapat pertolongan dalam lima belas menit pertama setelah serangan memiliki peluang selamat hingga 33 persen. Namun, hanya 5 persen yang selamat apabila ditangani lewat dari rentang waktu itu.

Dalam perjalanan menyembuhkan anak Yairus yang sakit parah (dan jelas membutuhkan pertolongan segera), Yesus justru melakukan hal yang tidak lazim: Dia berhenti sejenak (Mrk. 5:30). Dia berhenti untuk mengetahui siapa yang telah menjamah jubah-Nya, lalu berbicara dengan wanita itu. Bisa dibayangkan pikiran Yairus saat itu: Sungguh waktu yang tidak tepat, anak perempuanku hampir mati! Ketakutannya pun menjadi kenyataan—tampaknya Yesus menunda terlalu lama dan anak perempuannya meninggal dunia (ay.35).
Allah tidak pernah terlambat untuk menyelesaikan pekerjaan kasih-Nya yang baik dalam hidup kita.

Namun, Yesus berpaling kepada Yairus dan mengucapkan kata-kata yang menguatkan: “Jangan takut, percaya saja” (ay.36). Kemudian, dengan tidak menghiraukan ejekan orang-orang, Yesus berbicara kepada anak perempuan Yairus dan anak itu pun hidup kembali! Melalui peristiwa itu, Yesus menunjukkan bahwa Dia tidak pernah terlambat. Waktu tidak dapat membatasi apa yang sanggup Dia lakukan dan kapan Dia memilih untuk melakukannya.

Berapa sering kita merasa Allah terlambat bertindak dalam menjawab kerinduan kita? Namun, sesungguhnya itu tidak benar. Allah tidak pernah terlambat untuk menyelesaikan pekerjaan kasih-Nya yang baik dalam hidup kita.
Pernahkah Anda mengalami bagaimana Tuhan bekerja menurut waktu-Nya sendiri? Mengapa penting bagi Anda untuk berserah kepada kedaulatan Allah—dengan mengakui bahwa rencana-Nya adalah yang terbaik bagi hidup Anda?
Tuhan Yesus, tolonglah aku mengingat bahwa Engkau berdaulat atas segalanya, termasuk waktu, dan Engkau tidak pernah terlambat untuk mewujudkan rencana-rencana-Mu yang sempurna.
Oleh Peter Chin | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Markus memakai cerita Yesus yang membangkitkan anak perempuan Yairus dari kematian sebagai ilustrasi tentang iman. Tak seperti murid-murid yang kurang beriman (Markus 4:40), dalam Markus 5, seorang perempuan disembuhkan karena imannya (ay. 34). Tidak lama setelah peristiwa kesembuhan ini, Yairus diberitahu bahwa anak perempuannya telah mati (ay. 35). Yesus mengatakan pada Yairus untuk “percaya” (ay. 36).

Dalam bahasa Yunani, kata “percaya” ini ditulis dalam bentuk kata kerja yang memiliki makna “terus menerus” atau “selalu”, sehingga dapat diterjemahkan, “Tetaplah percaya.” Kelihatannya, sudah tak ada alasan bagi Yairus untuk mengharapkan kesembuhan anaknya, tetapi Yesus mendorongnya untuk tetap berharap. Dengan demikian, Markus memberi gambaran tentang iman yang terus berharap walaupun tidak ada alasan lagi. Meski tak semua dukacita bisa dipulihkan dalam hidup ini, kebangkitan Kristus berarti selalu ada alasan bagi orang percaya untuk tetap percaya (lihat 2 Korintus 4:13-14).

Monica Brands



July 22, 2019, 06:24:49 AM
Reply #2348
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22614
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Setia dalam Tahanan
  22/07/2019 
Setia dalam Tahanan
Baca: Kejadian 39:6-12,20-23 | Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 31–32 ; Kisah Para Rasul 23:16-35
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-07-22.mp3

Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana. Tetapi Tuhan menyertai Yusuf. —Kejadian 39:20-21

Haralan Popov tidak tahu apa yang akan terjadi kepada dirinya ketika bel pintu rumahnya berbunyi pada dini hari di tahun 1948. Tanpa peringatan apa pun, petugas polisi Bulgaria membawa dan menjebloskan Haralan ke penjara karena imannya. Ia harus mendekam di balik terali besi selama tiga belas tahun, dengan terus berdoa memohon kekuatan dan semangat. Meski mendapat perlakuan yang buruk, ia tahu Allah menyertainya. Haralan pun membagikan kabar baik tentang Yesus Kristus kepada para tahanan lain—dan banyak di antara mereka menjadi percaya.

Dalam Kejadian 37, Yusuf tidak tahu apa yang akan terjadi kepadanya setelah saudara-saudaranya tega menjualnya sebagai budak kepada pedagang yang lalu membawanya ke Mesir dan menjualnya kepada Potifar, seorang pejabat tinggi Mesir. Yusuf pun hidup di tengah budaya orang-orang yang mempercayai banyak dewa. Keadaan menjadi semakin buruk ketika istri Potifar berusaha merayu Yusuf. Ketika Yusuf berulang kali menolak rayuan tersebut, istri Potifar memfitnahnya, sehingga Yusuf dijebloskan ke dalam penjara (Kej. 39:16-20). Namun, Allah tidak pernah meninggalkannya. Allah tidak hanya menyertai Yusuf, tetapi juga “membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya”, bahkan “melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu” (Kej. 39:3,21).
Allah melihat dan mengetahui pergumulan kita.

Yusuf tentu pernah merasa takut. Namun, ia tetap setia dan selalu menjaga integritasnya. Allah terus menyertai Yusuf dalam perjalanannya yang sulit dan mempunyai rencana yang besar atas hidupnya. Allah juga mempunyai rencana atas hidup Anda. Kuatkanlah hati Anda dan berjalanlah dalam iman, dengan terus percaya bahwa Allah melihat dan mengetahui pergumulan Anda.
Situasi sulit apa yang pernah Anda alami—mungkin Anda pernah difitnah? Mengapa penting bagi Anda mempertahankan integritas dalam masa-masa sulit seperti itu?
Ya Allah, terima kasih Engkau selalu menyertaiku, bahkan ketika keadaan membuatku merasa tidak nyaman. Tolonglah aku selalu setia kepada-Mu.
Oleh Estera Pirosca Escobar | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kejadian 39 meliputi sepuluh tahun kehidupan Yusuf sejak ia dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya hingga dicampakkan secara tidak adil ke dalam penjara. Selama waktu tersebut, ia menjadi budak di Mesir dan pelayan di rumah Potifar. Dalam pasal ini, empat kali ditegaskan bahwa Allah sendiri menyertai Yusuf (ay.2, 3, 21, 23).

Bill Crowder




July 23, 2019, 05:59:04 AM
Reply #2349
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22614
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Mata di Belakang Kepala
  23/07/2019 
Mata di Belakang Kepala
Baca: Mazmur 33:6-19 | Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 33–34 ; Kisah Para Rasul 24
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-07-23.mp3

Dari tempat kediaman-Nya [Allah] menilik semua penduduk bumi. —Mazmur 33:14

Semasa kecil, seperti lazimnya anak-anak lain yang seusia, saya sering nakal dan berusaha menyembunyikan kenakalan itu agar tidak dimarahi. Namun, ibu saya biasanya langsung tahu apa yang telah saya perbuat. Saya ingat betapa kagumnya saya kepadanya karena dengan cepat ia mengetahui ulah saya. Ketika saya heran dan bertanya bagaimana ia bisa tahu, ibu saya selalu menjawab, “Ibu punya mata di belakang kepala.” Tentu saja, jawaban itu membuat saya penasaran dan mengamati kepala ibu saya setiap kali ia berbalik membelakangi saya. Saya bertanya-tanya, apakah matanya tidak terlihat atau tertutup oleh rambut merahnya? Setelah besar, saya berhenti mencari bukti sepasang mata tambahan ibu saya sembari menyadari bahwa ternyata saya memang tidak selihai yang saya kira. Pengamatan ibu saya yang jeli menjadi bukti kasih dan perhatiannya kepada anak-anaknya.

Walaupun sangat mensyukuri perhatian ibu saya (meskipun kadang-kadang kecewa karena ulah nakal saya selalu ketahuan), saya jauh lebih bersyukur kepada Allah karena Dia “melihat semua anak manusia” pada saat memandang kita dari surga (Mzm. 33:13). Dia tidak hanya melihat perbuatan kita; tetapi lebih daripada itu, Dia melihat kesedihan kita, sukacita kita, dan kasih kita kepada satu sama lain.
Allah melihat karakter kita yang sejati dan selalu mengetahui dengan tepat apa yang kita perlukan.

Allah melihat karakter kita yang sejati dan selalu mengetahui dengan tepat apa yang kita perlukan. Dengan pandangan-Nya yang sempurna, yang melihat jauh sampai ke kedalaman hati kita, mata Allah tertuju kepada mereka yang mengasihi-Nya dan yang berharap penuh kepada-Nya (ay.18). Dialah Bapa kita yang penuh perhatian dan kasih setia.
Apakah Anda terhibur karena mengetahui bahwa Allah melihat segala sesuatu dan selalu memperhatikan Anda? Apa yang sedang dikerjakan-Nya untuk membentuk karakter Anda belakangan ini?
Ya Bapa, terima kasih karena Engkau senantiasa memperhatikan umat-Mu dan selalu mengetahui apa yang terjadi di dunia dan di dalam hidupku.
Oleh Kirsten Holmberg | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Paralelisme adalah teknik sastra yang berupa pengulangan—baik kalimat senada maupun yang bertentangan—untuk menekankan atau memperjelas pesan yang hendak disampaikan. Dalam Mazmur 33, penulis memakai teknik sastra puisi Ibrani ini untuk menegaskan kuasa dan kepedulian Tuhan pada umat-Nya. Dalam ayat 6, Firman Allah sebagai Pencipta digambarkan dengan istilah yang sama yaitu “Firman Tuhan” dan “nafas dari mulut-Nya.” “Surga” dan “tentaranya” juga merupakan istilah dengan pengertian serupa. Paralelisme juga membantu untuk mengetahui makna suatu ungkapan, misalnya: ”Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia!” (ay. 8). Dalam ayat ini, jelas bahwa yang dimaksud dengan “takut akan Tuhan” adalah menghormati-Nya dan “gentar terhadap Dia.”

Arthur Jackson


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)