Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 132058 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

November 10, 2019, 04:40:50 AM
Reply #2450
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23720
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Lahar di Firdaus
  10/11/2019 
Lahar di Firdaus
Baca: 2 Samuel 6:1-9 | Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 48–49 ; Ibrani 7
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-10.mp3

Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. —Ibrani 4:16

Suasana begitu sunyi, di luar desis lahar panas mengalir pelan di pinggir pepohonan tropis. Warga distrik Puna, Hawaii, berdiri mematung dengan wajah muram bercampur takjub. Biasanya mereka menjuluki daerah itu “firdaus.” Namun, hari itu, lahar panas yang keluar dari retakan di tanah mengingatkan orang bahwa Allah membentuk kepulauan ini lewat kekuatan vulkanis dahsyat yang tidak dapat ditaklukkan.

Bangsa Israel kuno juga berhadapan dengan kekuatan yang tidak dapat mereka taklukkan. Ketika Raja Daud berhasil merebut kembali tabut perjanjian (2Sam. 6:1-4), diadakan sebuah perayaan (ay.5)—sampai satu orang tiba-tiba mati karena memegang tabut itu dengan maksud menahannya agar tidak terjatuh (ay.6-7).
Yesus—Anak Tunggal Allah—membuka jalan bagi kita untuk dapat mendekat kepada Bapa-Nya.

Peristiwa itu mungkin membuat kita berpikir bahwa Allah layaknya gunung berapi yang sulit ditebak, yang dapat menciptakan sesuatu tetapi juga dapat menghancurkannya. Namun, harus diingat bahwa Allah sudah pernah memberikan perintah terperinci kepada Israel tentang cara menangani barang-barang yang dikhususkan untuk ibadah (lihat Bil. 4). Bangsa Israel memiliki hak istimewa untuk mendekat kepada Allah, tetapi hadirat-Nya terlalu dahsyat untuk dihampiri dengan sembarangan.

Ibrani 12 mengingatkan tentang gunung dengan “api yang menyala-nyala,” tempat Allah memberikan Sepuluh Perintah kepada Musa. Gunung itu menakutkan semua orang (ay.18-21). Namun, penulis Ibrani mengontraskan peristiwa itu dengan ini: “Kamu sudah datang . . . kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru” (ay.22-24). Yesus—Anak Tunggal Allah—membuka jalan bagi kita untuk dapat mendekat kepada Bapa-Nya, yang dahsyat tetapi penuh kasih.
Seberapa sering Anda cenderung berpikir tentang kasih Allah tetapi tidak kuasa-Nya? Mengapa kuasa-Nya merupakan aspek penting dari karakter-Nya?
Alangkah ajaibnya mengetahui bahwa Allah yang Mahakuasa juga mengasihi kita dengan kasih yang tak terbatas!
Oleh Tim Gustafson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ketika Uza memegang tabut untuk menjaganya tidak jatuh, Alkitab mengatakan bahwa Allah murka karena “keteledorannya itu” (2 Samuel 6:7). Hal itu kelihatannya kejam, karena Uza bermaksud baik. Dalam bahasa Ibrani, kata yang dipakai adalah hassal—hanya muncul dalam bacaan ini dan diterjemahkan sebagai tindakan tidak hormat, sikap tidak hormat, atau keteledoran. Kata tersebut hanya dipakai di sini, menyiratkan bahwa perbuatan Uza adalah peristiwa yang lain daripada yang lain dan oleh karenanya memiliki arti penting. Allah telah memberikan petunjuk-petunjuk yang tepat untuk mengurusi “barang-barang kudus.” Menurut Bilangan 4:15, “Janganlah [orang Kehat] kena pada barang-barang kudus itu, nanti mereka mati.” Barang-barang kudus dari Allah harus diperlakukan menurut petunjuk-Nya. Perbuatan yang berlawanan—sekalipun dengan tujuan baik—mengindikasikan sikap kurang hormat terhadap perintah-Nya. —J.R. Hudberg




November 11, 2019, 06:21:49 AM
Reply #2451
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23720
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Terserah Allah
  11/11/2019 
Terserah Allah
Baca: Matius 6:5-15 | Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 50 ; Ibrani 8
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-11.mp3

Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. —Matius 6:10

Nate dan Sherilyn menikmati kunjungan mereka ke sebuah restoran omakase saat sedang berada di kota New York. Omakase adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti “terserah Anda”. Maksudnya, para pengunjung restoran seperti itu mengizinkan koki memilihkan hidangan apa yang akan mereka santap. Walau baru pertama kalinya mencoba hidangan jenis itu dan awalnya agak ragu, ternyata Nate dan Sherilyn sangat menyukai makanan yang dipilihkan dan disiapkan koki untuk mereka.

Gagasan yang sama dapat juga kita terapkan dalam sikap kita di hadapan Allah saat membawa doa dan permohonan kita: “Terserah Engkau.” Para murid melihat Yesus sering “mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa” (Luk. 5:16), maka suatu hari mereka meminta kepada-Nya untuk mengajari mereka cara berdoa. Dia mengajar mereka untuk meminta pemenuhan kebutuhan mereka sehari-hari, pengampunan, dan kelepasan dari pencobaan. Bagian dari pengajaran-Nya juga menunjukkan suatu sikap yang berserah: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Mat. 6:10).
Kita dapat menyerahkan jawaban doa kita kepada Allah.

Kita dapat mengutarakan kebutuhan-kebutuhan kita kepada Allah karena Dia mau mendengar apa yang ada dalam hati kita—dan Dia senang memberikannya. Namun, sebagai manusia yang terbatas, kita tidak selalu tahu apa yang terbaik, maka sungguh masuk akal untuk meminta dengan kerendahan hati dan ketundukan kepada-Nya. Kita dapat menyerahkan jawaban doa itu kepada Allah, dengan meyakini bahwa Dia layak dipercaya dan akan memilih serta menyediakan segala sesuatu yang baik untuk kita.
Apa yang ingin Anda ungkapkan dalam doa kepada Allah saat ini? Apa yang akan terjadi jika Anda benar-benar berserah penuh kepada-Nya?
Terima kasih, ya Allah, karena Engkau menopangku dan Engkau tahu segala kebutuhanku. Aku menyerahkan hidupku dan mereka yang kukasihi ke dalam tangan pemeliharaan-Mu.
Oleh Anne Cetas | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mengapa Yesus memulai bagian tentang doa (Matius 6:5-15) dengan peringatan? Siapakah “orang-orang munafik” yang Dia kecam (ay.5)? Markus 12 mengindikasikan bahwa mereka adalah “ahli-ahli Taurat” yang “menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang” (ay.38-40).

Berdoa di depan umum tidaklah salah, tetapi beresiko besar. Jangan-jangan kita berdoa untuk mengesankan orang-orang yang mendengar, bukan dengan sikap hati yang tulus kepada Allah yang melihat batin kita dan menjawab doa-doa; atau barangkali kita merasa minder karena tidak fasih berbicara. Resiko manapun yang kita hadapi, penting sekali untuk mengingat bahwa Allah tidak berkenan pada segala sesuatu yang dilakukan untuk pamer belaka. —Tim Gustafson



November 12, 2019, 06:22:24 AM
Reply #2452
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23720
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Berkat Kita dan Kasih Allah
  12/11/2019 
Berkat Kita dan Kasih Allah
Baca: Mazmur 136:1-3,10-26 | Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 51–52 ; Ibrani 9
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-12.mp3

Kepada Dia yang memimpin umat-Nya melalui padang gurun! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. —Mazmur 136:16

Pada tahun 2015, seorang wanita membuang komputer milik mendiang suaminya di bengkel daur ulang—sebuah komputer yang dibuat pada tahun 1976. Namun, yang lebih penting daripada tahun pembuatannya adalah mengetahui siapa pembuatnya. Komputer itu adalah salah satu dari 200 komputer yang dirakit sendiri oleh pendiri Apple, Steve Jobs, dan diperkirakan nilainya sekarang sekitar seperempat juta dolar! Terkadang nilai sebuah benda dapat diketahui dari siapa yang membuatnya.

Menyadari bahwa Allah sajalah yang menciptakan kita menunjukkan betapa berharganya kita di mata-Nya (Kej. 1:27). Mazmur 136 menuliskan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah umat Israel: bagaimana mereka dibebaskan dari perbudakan di Mesir (ay.11-12), berjalan melintasi padang gurun (ay.16), dan menerima kediaman yang baru di Kanaan (ay.21-22). Namun, perhatikan, setiap kali suatu peristiwa bersejarah disebutkan, selalu diikuti kalimat yang terus diulang: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Kalimat ini mengingatkan umat Israel bahwa pengalaman-pengalaman mereka bukanlah peristiwa sejarah yang terjadi serampangan. Setiap peristiwa telah dirancang oleh Allah dan menjadi cerminan kasih setia-Nya kepada mereka yang diciptakan-Nya.
Setiap peristiwa telah dirancang oleh Allah dan menjadi cerminan kasih setia-Nya.

Terlalu sering saya membiarkan peristiwa-peristiwa yang menyatakan karya dan kebaikan Allah berlalu begitu saja, karena gagal menyadari bahwa setiap pemberian yang baik datang dari Bapa Surgawi yang menciptakan dan mengasihi saya (Yak. 1:17). Kiranya Anda dan saya belajar menghubungkan setiap berkat dalam hidup kita dengan kasih setia Allah bagi kita.
Bagaimana Anda dapat lebih mengingat Sang Sumber berkat dalam kehidupan Anda? Apa yang selama ini menghambat Anda untuk melakukannya?
Bapa Surgawi, janganlah kiranya aku melewatkan satu pun berkat-Mu tanpa mengakui bahwa semua itu adalah semata-mata pemberian-Mu!
Oleh Peter Chin | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ketika membaca kitab Mazmur, terkadang kita lupa bahwa mazmur-mazmur itu ditulis untuk dinyanyikan, bukan dibaca. Banyak mazmur berisi pengalaman pribadi, tetapi ada pula yang ditujukan kepada orang Israel secara keseluruhan dan biasanya dinyanyikan ketika umat berkumpul untuk beribadah. Mazmur 136 adalah salah satu contohnya. Sebagian pakar Alkitab beranggapan bahwa mazmur itu dirancang untuk dinyanyikan secara berbalasan—kelompok yang satu mengumandangkan satu bagian dan kelompok yang lain menanggapinya. Para imam dan orang Lewi (pemimpin penyembahan) menyanyikan suatu pernyataan tentang Allah (“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik!” ay.1) dan jemaat yang berkumpul menyahut, “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” —Bill Crowder




November 13, 2019, 05:50:30 AM
Reply #2453
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23720
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Sahabat Sejati
  13/11/2019 
Sahabat Sejati
Baca: 1 Samuel 18:1-4; 19:1-6 | Bacaan Alkitab Setahun: Ratapan 1–2 ; Ibrani 10:1-18
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-13.mp3

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu. —Amsal 17:17

Saat duduk di bangku SMA, saya punya seorang teman yang “kadang-kadang berteman.” Kami “berteman baik” di gereja dan beberapa kali menikmati waktu bersama di luar sekolah. Namun, di sekolah, lain lagi ceritanya. Kalau kebetulan bertemu saya saat ia sedang sendirian, ia akan menyapa; tetapi hanya ketika tidak ada orang lain di sekitarnya. Menyadari hal itu, saya jarang berusaha menarik perhatiannya saat berada di lingkungan sekolah. Saya mengerti batas pertemanan kami.

Kita mungkin pernah mengalami sakitnya dikecewakan oleh hubungan pertemanan yang bertepuk sebelah tangan dan tidak seimbang. Namun, ada jenis persahabatan lain yang jauh melampaui segala batasan. Itulah persahabatan dengan mereka yang sehati dan sejiwa dengan kita, yang mau berkomitmen berbagi hidup dengan kita.
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu. —Amsal 17:17

Daud dan Yonatan adalah sahabat seperti itu. Jiwa Yonatan “berpadu” dengan jiwa Daud dan ia mengasihinya “seperti dirinya sendiri” (1Sam. 18:1-3). Meskipun Yonatan adalah pewaris takhta kerajaan setelah ayahnya, Saul, ia tetap setia kepada Daud, pengganti yang dipilih Allah. Yonatan bahkan menolong Daud mengelak dari dua rencana Saul untuk membunuhnya (19:1-6; 20:1-42).

Di hadapan berbagai tantangan, Yonatan dan Daud tetap bersahabat—seperti kebenaran yang terdapat dalam Amsal 17:17, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu.” Persahabatan sejati mereka memberikan gambaran sekilas tentang hubungan yang penuh kasih antara Allah dan kita (Yoh. 3:16; 15:15). Melalui persahabatan yang mereka miliki, kita pun semakin memahami kasih Allah.
Siapa yang Anda anggap sebagai sahabat sejati? Mengapa? Bagaimana mengetahui bahwa Allah adalah sahabat kita yang sejati membuat Anda merasa terhibur?
Bapa Surgawi, kami rindu memiliki sahabat yang baik. Kiranya Engkau membukakan kesempatan bagi kami untuk menjalin persahabatan yang sejati, abadi, dan berpusat pada Allah.
Oleh Alyson Kieda | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Daud dan Yonatan menjalin persahabatan yang luar biasa. Dua kali dalam nas hari ini dikatakan bahwa Yonatan “mengasihi dia [Daud] seperti jiwanya sendiri” (1 Samuel 18:1,3). Yonatan mengasihi Daud walaupun Raja Saul, ayahnya sendiri, membenci Daud. Yonatan mengutamakan kepentingan Daud meskipun hal itu membahayakan kesatuan keluarga dan kemungkinan ia sendiri bisa celaka. Hubungan ini tampak dalam Perjanjian Baru lewat perintah untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (Matius 19:19). —J.R. Hudberg




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)