Author Topic: Saat Teduh  (Read 65940 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

November 18, 2019, 04:57:56 AM
Reply #2090
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Doa untuk Pemimpin
Posted on Minggu, 17 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 72

Kesejahteraan rakyat sangat bergantung kepada pemimpin. Dalam sistem kerajaan, raja yang bijaksana akan membawa kebaikan dan kemakmuran bagi rakyat. Raja yang jahat akan membuat rakyatnya menderita. Pemazmur mengajak umat untuk berdoa agar Tuhan memampukan seorang raja menjalankan pemerintahannya dengan adil.

Hal terutama yang diminta pemazmur adalah Tuhan memberikan hukum dan keadilan-Nya kepada raja sehingga ia dapat mengadili rakyat dengan adil. Kata ”adil” di sini dalam bentuk kata benda dan kata kerja telah muncul berkali-kali di awal mazmur (1,2,3). Baru setelah itu, pemazmur meminta dua hal, yaitu umur yang panjang kepada sang raja (5) agar raja membawa kemakmuran kepada rakyat (6-7,16) dan kekuasaan yang besar supaya semua raja tunduk kepadanya dan memberkatinya (8-11,17).

Kata yang diterjemahkan sebagai ”sebab” di ayat 12 dapat diterjemahkan sebagai ”jika”, yang berarti Tuhan kiranya menjawab doa tersebut jika ia adalah raja yang adil. Atau, kata ”sebab” itu menunjukkan bahwa pemazmur berdoa seperti ini karena rajanya adalah raja yang penuh dengan belas kasihan dan sayang kepada rakyatnya (12-14). Kita dapat melihat bahwa apa yang didoakan oleh pemazmur nantinya terwujud dengan sempurna dalam kerajaan Mesias.

Pemazmur sangat mengerti bahwa raja perlu didoakan oleh rakyatnya. Kalau rajanya baik berarti berkat bagi rakyat. Karena itu, pemazmur berdoa supaya Tuhan memberkati raja yang baik dengan umur panjang dan kekuasaan yang besar.

Kita perlu berdoa supaya Tuhan memberikan pemimpin yang baik. Karena kesejahteraan kita bergantung kepada seorang pemimpin yang berani menegakkan keadilan atau tidak dalam pemerintahannya.

Marilah berdoa supaya Tuhan memberikan kita kepala negara dan pejabat tinggi negara yang berani menegakkan hukum serta memiliki hati untuk menyejahterakan rakyatnya.

Doa: Tuhan, kiranya Engkau mengirimkan bagi kami para pemimpin yang jujur dan adil. [IT]







Allah yang Memilih Pemimpin
Posted on Minggu, 17 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 17

Dalam pasal 16, beberapa pemimpin Israel memberontak dan berusaha merebut kekuasaan dengan mengerahkan kekuatan massa. Mereka menuduh bahwa Allah tidak memenuhi janji-Nya karena setelah dikeluarkan dari Tanah Mesir (yang subur), mereka tidak (belum) memperoleh tanah warisan yang subur sesuai dengan janji Allah. Tuduhan itu membuat Allah murka. Mereka yang berusia di atas 20 tahun saat keluar dari Tanah Mesir pasti tidak akan bisa masuk ke Tanah Perjanjian. Perkataan, “Sesungguhnya kami akan mati, kami akan binasa, kami semuanya akan binasa” (17:12) menunjukkan kesadaran bahwa hukuman Tuhan yang disebabkan sungut-sungut mereka itu pasti akan terjadi.

Tuhan itu panjang sabar dan penuh kasih karunia. Di pasal 17, Tuhan memberi tanda bahwa Dia telah memilih Harun untuk menjadi imam dengan membuat tongkat Harun bertunas serta mengeluarkan bunga dan buah badam (17:8), sedangkan kesebelas tongkat yang lain tidak bertunas. Seperti tongkat yang lain, sebenarnya tongkat Harun adalah tongkat biasa yang berasal dari batang kayu yang sudah mati, sehingga mustahil bisa menjadi hidup. Akan tetapi, Tuhan menyatakan kuasanya dengan menumbuhkan bunga (yang menandai adanya kehidupan) pada tongkat Harun (yang sudah mati). Melalui tanda tersebut, Tuhan menegaskan bahwa Dialah yang memilih Harun sebagai imam besar. Tongkat Harun yang berbuah ini disimpan dalam Tabut Perjanjian sebagai tanda agar angkatan selanjutnya memahami kemahakuasaan Tuhan serta memelihara ketetapan-Nya. Jelaslah bahwa Tuhan membela Harun yang telah Dia pilih sebagai imam besar.

Adanya hierarki (urutan tingkatan) kedudukan merupakan hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah, ada hierarki guru dan murid dan kakak kelas dengan adik kelas. Di kantor, ada hierarki pimpinan dan karyawan. Di gereja, ada hierarki ketua dan anggota serta gembala dan jemaat. Sadarilah bahwa adanya hierarki mencerminkan adanya kepercayaan Tuhan terhadap orang yang memegang suatu jabatan. Tidak ada jabatan yang tidak ditetapkan (atau diizinkan) oleh Allah. Oleh karena itu, kita yang dipimpin atau digembalakan harus menghormati, mendoakan, dan mendukung pemimpin yang telah dipercaya Tuhan untuk menduduki suatu jabatan. Marilah kita berdoa agar Tuhan menyertai para pemimpin kita. [GI Roni Tan]



November 19, 2019, 06:29:11 AM
Reply #2091
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Melihat dari Perspektif Allah
Posted on Senin, 18 November, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Mazmur 73

Dari zaman dahulu sampai sekarang, banyak orang benar yang merasa iri kepada orang fasik. Kelihatannya hidup mereka jauh lebih baik dari kehidupan orang benar. Mereka hidup dalam kemewahan, kebal hukum, dan juga disanjung dan dipuja. Seolah-olah Allah ”menutup mata” terhadap kefasikan mereka. Hal ini yang dirasakan oleh pemazmur.

Kata ”sesungguhnya” muncul 3x dalam bahasa Ibrani, yaitu ayat 1, 13, dan 18, yang menggambarkan perjalanan pergumulan Si Pemazmur. ”Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya” (1). Namun, pemazmur merasa ”sesungguhnya” sia-sia ia mempertahankan hati yang bersih (13). Ternyata orang fasik hidup dengan mujur, tanpa kesakitan (3-5), dan tidak kena tulah setiap hari (14).

Ketika pemazmur datang ke Bait Allah, pada akhirnya ia menyadari ”sesungguhnya” Tuhan menaruh orang-orang fasik tersebut di tempat-tempat licin (18). Mereka akan dijatuhkan Tuhan dan binasa dalam sekejap mata (19). Itu sebabnya, pemazmur bersyukur bahwa selama pergumulannya ia terus berada di dekat Tuhan, walaupun ia dalam kebingungan (21-23). Tuhan terus memegang tangannya, menuntun, dan meneguhkan kembali imannya yang sempat goyah (23-26).

Awalnya pemazmur merasa cemburu kepada orang fasik yang hidupnya makmur dan tanpa rasa sakit. Beda halnya dengan hidup orang benar yang penuh dengan kesulitan. Tetapi, ketika pemazmur terus berada di dekat Tuhan dan belajar melihat dari perspektif Tuhan, akhirnya ia mengerti bahwa mereka yang fasik akan dibinasakan dan dihancurkan oleh Tuhan.

Kita hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa dan penuh dengan ketidakadilan. Kita harus mengerti bahwa kita hanya melihat dunia dari sudut pandang yang bersifat sementara. Memang hidup orang fasik sepertinya sangat senang. Meski demikian, kita perlu belajar melihat dunia dari sisi Allah dan melihat betapa hidup orang fasik sedang berjalan menuju kehancuran dan kebinasaan.

Doa: Mampukan aku melihat segala sesuatu dari perspektif-Mu, Tuhan. [IT]







Tanggung Jawabnya Juga Besar
Posted on Senin, 18 November, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Bilangan 18

Harun berasal dari suku Lewi, suku yang dikhususkan Tuhan untuk melayani Dia dalam Kemah Pertemuan atau Kemah Suci dengan mempersembahkan korban dan menjadi perantara antara umat Israel dengan Allah. Dari antara keturunan Lewi, Tuhan memilih Harun dan keturunannya untuk menjadi imam. Walaupun Harun dan anakanaknya—seperti semua anggota suku Lewi yang lain—tidak menerima warisan tanah, mereka memperoleh hak untuk menerima persembahan khusus dari suku-suku Israel lainnya dan juga hak untuk memakan bagian korban yang dikhususkan bagi para imam (18:8-20).

Suku Lewi memperoleh hak untuk menerima persepuluhan dari umat Israel di luar suku Lewi (18:21, 24). Akan tetapi, mereka juga harus memberikan persepuluhan—dari persembahan persepuluhan yang mereka terima— kepada Imam Harun (18:26-28). Suku Lewi harus melaksanakan semua tugas menyangkut Kemah Suci untuk menjaga agar hubungan umat Allah dengan TUHAN tetap baik, sehingga mereka tidak dimurkai TUHAN. Suku Lewi harus menjaga agar umat Allah (di luar suku Lewi) tidak memasuki Kemah Suci yang merupakan wilayah terlarang dengan ancaman hukuman mati bagi bukan imam yang menerobos masuk. Harun dan keturunannya harus menjalankan tugas keimaman, yaitu mempersembahkan korban. Mereka harus senantiasa menjaga kekudusan hidup. Bila melakukan pelanggaran, mereka harus segera datang meminta pengampunan dan membawa persembahan korban ke hadapan Tuhan agar Tuhan melayakkan mereka untuk kembali melayani Dia di Kemah Suci.

Dalam 1 Petrus 2:9, semua orang percaya disebut sebagai imamat rajani yang bisa menjalin relasi secara langsung dengan Allah, sebagaimana imam pada zaman Musa yang mewakili umat Allah untuk mempersembahkan korban kepada Allah. Status sebagai imamat rajani mengharuskan setiap orang percaya untuk tekun menjalin relasi dengan Tuhan. Sebagian orang percaya dipanggil secara khusus untuk menjadi hamba Tuhan yang melayani penuh waktu. Hamba Tuhan penuh waktu harus setia melayani dan menjaga diri agar hidupnya menjadi teladan bagi orang-orang percaya yang lain. Dengan demikian, hidupnya berkenan di hadapan Tuhan dan dia bisa menjadi alat yang siap dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan Allah di dunia ini. [GI Roni Tan]




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)