Author Topic: Saat Teduh  (Read 62897 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

September 17, 2019, 11:41:59 AM
Reply #2030
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

“Penyakit” yang Tidak Dapat Diobati
Posted on Senin, 16 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 14

Penyakit kusta adalah penyakit khusus yang tidak dapat diobati dengan obat. Dalam Alkitab, beberapa kali penyakit ini muncul sebagai wujud hukuman Allah. Miryam—kakak Musa—mengata-ngatai Musa karena Musa mengambil seorang perempuan Kush sebagai istri, lalu ia mempertanyakan kepemimpinan Musa. Sikap Miryam ini tidak berkenan di hati Tuhan, sehingga Miryam dihukum Tuhan dengan penyakit kusta (Bilangan 12). Saat Naaman—panglima raja Aram—disembuhkan dari penyakit kusta oleh Nabi Elisa, Naaman hendak memberi uang, tetapi Nabi Elisa menolak. Akan tetapi, tanpa seizin Nabi Elisa, Gehazi— pembantu Nabi Elisa—justru melakukan siasat untuk mendapat uang dari Naaman. Akibatnya, Gehazi dihukum Tuhan dengan penyakit kusta (2 Raja-raja 5). Uzia—raja Yehuda yang semula baik—menjadi sombong setelah posisinya kuat. Kesombongannya membuat ia ingin melaksanakan sendiri upacara pembakaran ukupan yang hanya boleh diselenggarakan oleh seorang imam. Akibatnya, Raja Uzia dihukum Tuhan dengan penyakit kusta (2 Tawarikh 26).

Ketiga contoh di atas menunjukkan bahwa penyakit kusta berkaitan dengan masalah rohani, sehingga penderita penyakit kusta dianggap najis (menjijikkan), harus diasingkan (sanksi sosial), dan dilarang mengikuti upacara keagamaan. Yang menentukan bahwa seseorang benarbenar terkena penyakit kusta adalah imam, bukan hakim atau tabib. Pemeriksaan penyakit kusta dilakukan secara teliti supaya perlakuan sanksi sosial tidak sampai diberlakukan kepada orang yang salah. Imam pula yang menentukan bahwa seseorang sudah tahir (bersih) dari penyakit kusta. Adanya ketentuan pemeriksaan ketahiran oleh imam menunjukkan bahwa orang yang terkena penyakit kusta bisa sembuh, tetapi bukan melalui pengobatan. Karena penyakit kusta bukan penyakit biasa, keputusan tahir harus dilakukan melalui serangkaian upacara.

Saat ini, penyakit kusta yang kita kenal dapat diobati dengan obat, sehingga berbeda dengan penyakit kusta pada zaman Alkitab. Akan tetapi, ada “penyakit” lain yang membuat setiap orang dilahirkan dalam keadaan “najis” di hadapan Allah, yaitu dosa. Dosa tidak dapat diobati dengan cara apa pun, kecuali melalui penebusan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di kayu salib! Apakah Anda sudah mengalami penebusan dosa yang bisa membuat Anda menjadi tahir? [GI Purnama]


September 18, 2019, 04:26:43 AM
Reply #2031
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Merdeka dalam Kasih
Posted on Selasa, 17 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 5:1-15

Bangsa yang merdeka memiliki kedaulatan atas dirinya sendiri. Mereka berhak menentukan arah kebijakan dan segala aktivitasnya. Namun, sebuah bangsa tidak pernah hidup terisolasi dari bangsa yang lain. Kemerdekaan suatu bangsa selalu berhubungan dengan relasinya dengan bangsa lain. Kemerdekaan tidak lantas membuat suatu bangsa bisa sesuka hati bertindak, apalagi jika tindakan tersebut membahayakan bangsa lain dan kelangsungan hidup di seluruh muka bumi.

Demikian pula kiranya kemerdekaan Kristen. Rasul Paulus menyebutkan bahwa hasil dari karya Kristus adalah kemerdekaan. Kemerdekaan itu berarti bahwa tindakan orang percaya tidak diikat oleh berbagai peraturan. Namun, kemerdekaan dari peraturan itu bukan berarti kita, sebagai orang percaya, dapat menjalani hidup dengan sesuka hati. Kemerdekaan dari Kristus bukan kesempatan untuk berbuat dosa, tetapi harus mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (13-14).

Inilah yang menjadi pedoman kita dalam bertindak. Tanpa diikat peraturan, kemerdekaan menuntun kita bertindak secara tepat dalam relasi dengan Tuhan dan sesama.

Kiranya, prinsip kemerdekaan ini terus-menerus menjadi landasan bagi kita dalam menjalani kehidupan pada saat ini. Di tengah dunia yang semakin egois dan apatis, orang Kristen memiliki kemerdekaan untuk tetap memilih mengasihi orang lain. Di tengah pergaulan yang sarat kepentingan, kita memiliki kemerdekaan untuk tetap bertindak tulus. Di tengah hunjaman kebencian, orang Kristen tetap memiliki kemerdekaan untuk mengasihi dan mengampuni. Di tengah masyarakat yang terkotak-kotak berdasarkan agama, orang Kristen memiliki kemerdekaan untuk tetap menjalin relasi yang baik dengan umat beragama lain. Kemerdekaan itu menjadi suluh bagi kita untuk menjalani cara hidup yang tidak serupa dengan dunia ini (Rm. 12:1-2).

Doa: Tuhan, tolonglah kami menghayati karunia kemerdekaan yang berasal dari-Mu dengan mengasihi sesama seperti kami mengasihi diri sendiri. [THIE]







Kekudusan Seksual
Posted on Selasa, 17 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 15

Ada tiga macam cairan—yang keluar dari tubuh manusia—yang membuat seseorang menjadi najis, bahkan bisa membuat orang atau benda yang tersentuh cairan itu menjadi najis. Ketiga cairan itu adalah lelehan yang keluar karena adanya penyakit kelamin, cairan mani pria, dan lelehan darah wanita yang keluar saat cemar kain (haid). Ketiga cairan itu menjadikan yang bersangkutan menjadi najis, tetapi “kadar” kenajisannya berlainan. Lelehan karena penyakit kelamin (15:215) membuat manusia dan benda yang tersentuh menjadi najis. Bekas tempat duduk dan ludahnya pun membuat orang yang tersentuh atau terkena menjadi najis. Mungkin peraturan kenajisan ini dibuat agar penyakit kelamin tersebut tidak menular kepada orang lain. Bila orang yang sakit itu telah sembuh (tidak mengeluarkan lelehan lagi), ia harus melewati tujuh hari lagi sebelum bisa dinyatakan sembuh, dan ia harus membawa dua ekor burung tekukur atau burung merpati kepada imam untuk dipakai sebagai korban penghapus dosa dan korban bakaran. Cairan mani yang tertumpah (15:16-18) membuat sang pria dan wanita yang tidur dengan pria itu menjadi najis sampai matahari tenggelam. Kewajiban mereka adalah mandi dan mencuci pakaian yang terkena tumpahan mani. Lelehan darah saat haid (15:19-24) membuat sang wanita dan pria yang tidur dengan wanita itu menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang mereka tiduri menjadi najis. Orang yang tersentuh tempat tidur mereka atau tersentuh banda yang diduduki wanita yang sedang haid menjadi najis sampai matahari tenggelam. Bila pendarahan itu berkepanjangan (15:25-30), efek kenajisan terus berlaku sampai pendarahan berhenti (bukan hanya seminggu). Setelah pendarahan berhenti, proses pentahiran berlaku sama seperti pentahiran pada pria yang berpenyakit kelamin.

Proses pentahiran dalam Imamat 15 ini sudah tidak berlaku lagi pada masa kini karena pengorbanan Tuhan Yesus telah mencakup penebusan dalam masalah seksual. Sekalipun demikian, semua orang percaya perlu mengingat bahwa kita harus menjaga kekudusan dalam hal kehidupan seksual. Hubungan seksual yang tidak wajar (bukan antara suami istri) harus dihindari agar kita tidak terjangkit penyakit kelamin. Apakah Anda sudah membiasakan diri untuk mendisiplin pikiran dan cara hidup agar terhindar dari godaan seksual? [GI Purnama]


September 19, 2019, 06:30:12 AM
Reply #2032
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Hidup yang Dipimpin oleh ROH KUDUS
Posted on Rabu, 18 September, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Galatia 5:16-26

Tanaman yang dirawat dan dipelihara dengan baik akan menghasilkan buah yang baik juga. Prinsip yang sama juga berlaku pada kehidupan rohani kita. Ketika kita menjaga kehidupan rohani dengan benar, kehidupan kita pun akan berbuah. Buah yang dihasilkannya pun akan menyenangkan Allah dan manusia.

Pada nas hari ini, Paulus mencoba menjelaskan ajaran penting ini. Paulus menegur jemaat Galatia agar mereka tidak lagi hidup dalam hawa nafsu kedagingan. Paulus menuntut agar mereka hidup di bawah pimpinan ROH KUDUS. Sebab ketika hidup dalam kedagingan, jemaat Galatia hanya akan menghasilkan berbagai perbuatan dosa yang tidak berkenan kepada Allah. Namun, jika mau hidup dipimpin oleh Roh, maka hidup mereka akan menghasilkan buah Roh (22-23).

Ketika jemaat Galatia memilih hidup dalam Kristus, mereka harus bersedia meninggalkan hawa nafsu kedagingan. Mereka mesti bersedia hidup dipimpin oleh ROH KUDUS (24-25). Mereka tidak bisa memilih untuk tetap percaya kepada Kristus, tetapi hidup berkubang dalam dosa. Pilihan mereka hanya dua, yaitu hidup dalam kedagingan dan menuai kebinasaan atau hidup dipimpin oleh ROH KUDUS serta menghasilkan buah Roh dalam hidupnya. Dalam hal ini, Paulus mendorong mereka agar hidup dipimpin oleh Roh supaya mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Nas ini juga berlaku bagi kita saat ini. Setelah percaya kepada Kristus, kita tidak bisa lagi hidup dalam dosa. Kita harus hidup dalam pimpinan ROH KUDUS. Itu artinya kita punya kerinduan untuk mendengar dan memelihara firman-Nya setiap hari. Kita bersedia untuk selalu menaatinya dan peka membedakan antara hasrat pribadi dan kehendak Tuhan.

Ketika hidup dipimpin oleh Roh, maka firman-Nya akan memenuhi pikiran kita. Semua tindakan kita bukan lagi dikendalikan oleh hawa nafsu, tetapi didorong oleh kasih Kristus semata.

Doa: Tuhan, tolong kami agar tetap hidup dipimpin oleh ROH KUDUS. [ST]







Kekudusan dan Kasih Allah
Posted on Rabu, 18 September, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Imamat 16

Peringatan Hari Raya Pendamaian sudah tidak perlu kita lakukan lagi. Sekalipun demikian, memahami peringatan Hari Raya Pendamaian akan menolong kita untuk memahami dan menghargai kekudusan Allah. Sadarkah Anda bahwa pada zaman Perjanjian Lama, Imam Besar Harun tidak boleh sembarangan masuk ke Ruang Mahakudus untuk menghadap Allah yang menampakkan diri dalam awan di atas Tutup Pendamaian, yaitu penutup Tabut Perjanjian (16:2)? Imam Besar Harun hanya diperkenankan memasuki Ruang Mahakudus sekali dalam setahun untuk menyelenggarakan upacara pada Hari Raya Pendamaian. Dia tidak boleh sembarangan masuk untuk bertemu dengan Allah! Sebelum masuk, Ia harus melepaskan pakaian jabatannya yang megah, lalu mengenakan pakaian kudus yang terdiri dari kemeja, celana, ikat pinggang, dan serban yang semuanya terbuat dari lenan sederhana (16:4). Sebelum mempersembahkan korban bagi umat Israel, Imam Besar Harun harus lebih dulu mempersembahkan lembu jantan sebagai korban penghapus dosa bagi dirinya sendiri dan bagi keluarganya (16:6,11). Setelah itu, barulah ia boleh mempersembahkan korban bagi umat Israel. Dari umat Israel, Imam Besar Harun mengambil dua ekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa dan seekor domba jantan untuk korban bakaran (16:5). Dua ekor kambing jantan itu diundi: satu untuk TUHAN dan satu untuk Azazel (16:8). Kambing jantan untuk TUHAN diolah sebagai korban penghapus dosa, sedangkan kambing jantan untuk Azazel  dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun (16:10).

Kita sulit memastikan apa atau siapa yang dimaksud dengan Azazel. Akan tetapi, sebelum kambing jantan untuk Azazel dilepaskan, Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan itu,  mengakui segala kesalahan umat Israel dan menanggungkan semua dosa umat Israel ke atas kepala kambing jantan itu, baru kemudian ia melepaskan kambing jantan itu ke padang gurun. Upacara pelepasan ini mengingatkan kita kepada perkataan Yohanes Pembaptis saat melihat Tuhan Yesus, “Lihatlah Anak domba Allah, yang mengangkut dosa isi dunia.” (Yohanes 1:29, Alkitab Terjemahan Lama). Allah itu kudus sehingga Ia tidak bisa menerima keberadaan dosa. Akan tetapi, Allah itu kasih sehingga Anak Tunggal-Nya—Yesus Kristus—diutus untuk mengangkut dosa-dosa kita melalui kematian-Nya di kayu salib! [GI Purnama]

 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)