Author Topic: Devosi GRII  (Read 10873 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

November 07, 2018, 05:31:03 AM
Reply #470
November 08, 2018, 05:17:04 AM
Reply #471
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19878
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 125 
October-01-2018 09:00 am



Tongkat kerajaan orang fasik tidak akan tinggal tetap di atas tanah yang diundikan kepada orang-orang benar, supaya orang-orang benar tidak mengulurkan tangannya kepada kejahatan. Kalimat ini seperti sebuah koreksi bagi kalimat sebelumnya, di mana sang Pemazmur mengatakan, tangan Allah diulurkan pada segala sisi untuk membela Gereja-Nya. Kita condong menarik janji-janji Ilahi bagi keuntungan pribadi kita, yaitu dengan cara menafsirkan kalimat itu sebagai jaminan kita dikecualikan dari segala masalah. Maka kita diperingatkan bahwa perlindungan Allah tidak mencegah kita dari kadang dilatih dengan salib dan penderitaan. Orang beriman tidak seharusnya mengharapkan hidup yang enteng dan mudah dalam hidup mereka. Adalah cukup bahwa mereka tidak diabaikan Allah ketika mereka memerlukan pertolongan-Nya. Memang benar, Bapa surgawi mereka sangat mengasihi mereka, tetapi Ia mau mereka disadarkan oleh salib, supaya jangan mereka memberi terlalu banyak kesenangan karnal pada diri mereka. Jika kita merangkul doktrin ini, meski terjadi bahwa kita ditindas tirani jahat, kita dengan sabar akan menunggu sampai Allah entah mematahkan tongkat kerajaan mereka, atau menggoyangkannya hingga lepas dari tangan mereka. Memang menyaksikan orang jahat melaksanakan kekejaman dalam warisan dari Tuhan, dan orang beriman terbaring di bawah kaki mereka, adalah pencobaan yang berat. Namun Allah bukan tanpa sebab merendahkan umat-Nya, sehingga mereka dapat menghibur diri mereka dengan perenungan dalam ayat ini.

Dari kesediaan-Nya menanggung kelemahan kita, Allah meringankan kesulitan kita. Maka, meski kita tidak memiliki kecukupan kekuatan dan ketetapan dalam diri kita untuk bertahan dalam kewajiban kita untuk sekejap mata pun, namun biarlah kepercayaan ini hadir dalam batin kita: Allah akan mengurus sehingga seberapapun penderitaan mematahkan kita, namun kita tidak akan meninggalkan ibadah pada-Nya.

Dengan tepat Tuhan membatasi pencobaan-pencobaan kita, sebab Ia tahu kita terlalu lemah untuk menahannya.
Betapapun kuatnya takut akan Allah ada dalam hati kita, biarlah kita ingat, kita tidak memiliki cukup kekuatan untuk bertahan sampai pada akhirnya, kecuali jika Tuhan memperhatikan kelemahan kita.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi



November 09, 2018, 05:36:33 AM
Reply #472
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19878
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 125
October-01-2018 09:00 am



Tongkat kerajaan orang fasik tidak akan tinggal tetap di atas tanah yang diundikan kepada orang-orang benar, supaya orang-orang benar tidak mengulurkan tangannya kepada kejahatan. Kalimat ini seperti sebuah koreksi bagi kalimat sebelumnya, di mana sang Pemazmur mengatakan, tangan Allah diulurkan pada segala sisi untuk membela Gereja-Nya. Kita condong menarik janji-janji Ilahi bagi keuntungan pribadi kita, yaitu dengan cara menafsirkan kalimat itu sebagai jaminan kita dikecualikan dari segala masalah. Maka kita diperingatkan bahwa perlindungan Allah tidak mencegah kita dari kadang dilatih dengan salib dan penderitaan. Orang beriman tidak seharusnya mengharapkan hidup yang enteng dan mudah dalam hidup mereka. Adalah cukup bahwa mereka tidak diabaikan Allah ketika mereka memerlukan pertolongan-Nya. Memang benar, Bapa surgawi mereka sangat mengasihi mereka, tetapi Ia mau mereka disadarkan oleh salib, supaya jangan mereka memberi terlalu banyak kesenangan karnal pada diri mereka. Jika kita merangkul doktrin ini, meski terjadi bahwa kita ditindas tirani jahat, kita dengan sabar akan menunggu sampai Allah entah mematahkan tongkat kerajaan mereka, atau menggoyangkannya hingga lepas dari tangan mereka. Memang menyaksikan orang jahat melaksanakan kekejaman dalam warisan dari Tuhan, dan orang beriman terbaring di bawah kaki mereka, adalah pencobaan yang berat. Namun Allah bukan tanpa sebab merendahkan umat-Nya, sehingga mereka dapat menghibur diri mereka dengan perenungan dalam ayat ini.

Dari kesediaan-Nya menanggung kelemahan kita, Allah meringankan kesulitan kita. Maka, meski kita tidak memiliki kecukupan kekuatan dan ketetapan dalam diri kita untuk bertahan dalam kewajiban kita untuk sekejap mata pun, namun biarlah kepercayaan ini hadir dalam batin kita: Allah akan mengurus sehingga seberapapun penderitaan mematahkan kita, namun kita tidak akan meninggalkan ibadah pada-Nya.

Dengan tepat Tuhan membatasi pencobaan-pencobaan kita, sebab Ia tahu kita terlalu lemah untuk menahannya.
Betapapun kuatnya takut akan Allah ada dalam hati kita, biarlah kita ingat, kita tidak memiliki cukup kekuatan untuk bertahan sampai pada akhirnya, kecuali jika Tuhan memperhatikan kelemahan kita.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi



November 10, 2018, 05:05:45 AM
Reply #473
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19878
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://www.griikarawaci.org/renungan-harian


Mazmur 126

October-02-2018 09:00 am


Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN. Ayat ini mengandung doa supaya Allah mengumpulkan kembali sisa-sisa orang buangan. Semua orang Yahudi, tentunya, mendapati pintu dibukakan bagi mereka, dan kebebasan sempurna diberikan pada mereka, untuk keluar dari tanah tempat mereka dibuang. Namun jumlah orang yang mengambil bagian dari keuntungan ini kecil saja ketika dibandingkan dengan jumlah bangsa itu yang besar. Ada yang dihalangi oleh ketakutan, yang lain oleh kemalasan dan kekurangan keberanian, karena melihat bahaya yang mereka anggap tidak sanggup mereka kalahkan, mereka memilih berbaring diam dalam kekotoran mereka sendiri, daripada menghadapi kesulitan perjalanan. Sangat mungkin, banyak dari mereka yang lebih memilih kenyamanan masa kini daripada keselamatan kekal. Apa yang dinubuatkan nabi Yesaya jelas digenapi (10:22), yaitu meski jumlah bangsa itu sebanyak pasir di laut, namun hanya sedikit saja yang diselamatkan. Banyak yang terang-terangan menolak keuntungan yang ditawarkan pada mereka. Ada banyak kesulitan dan halangan yang harus dihadapi orang-orang yang mengambil kebebasan yang diberikan pada mereka oleh kehendak raja. Maka hanya sedikit yang memiliki penilaian yang lebih waras dan hati yang lebih berani, yang berani melangkahkan kaki – dan itu pun dengan ragu-ragu. Tidak heran sang nabi meminta Gereja untuk memohon Allah membawa pulang orang-orang buangan. Selain itu, keadaan orang-orang yang sudah kembali harus diperhatikan: tanah mereka diduduki orang asing, yang merupakan musuh bebuyutan mereka, sehingga mereka sama merupakan orang buangan di tanah sendiri seperti di Babel. Maka ada dua kali lipat kebutuhan untuk gereja memohon dengan sungguh-sungguh supaya Allah mengumpulkan orang yang terserak-serak. Pertama, supaya Ia memberi keberanian pada yang takut, membangunkan yang tak bergerak, menyadarkan orang-orang yang mabuk kepayang untuk melupakan kesenangan mereka, dan mengulurkan tangan-Nya menjadi pembimbing mereka semua. Kedua, supaya Ia menempatkan bangsa yang kembali itu dalam kebebasan dan ketenangan.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi

November 11, 2018, 11:49:49 AM
Reply #474
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19878
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 127:1

October-03-2018 09:00 am


Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya. Salomo menegaskan bahwa Allah memerintah dunia dan kehidupan manusia, untuk dua hal: Pertama, peristiwa kemakmuran apapun yang mungkin terjadi pada manusia, segera menunjukkan ketidakbersyukuran mereka, karena mereka mengira hal itu sepenuhnya dari diri mereka sendiri. Kehormatan yang adalah milik Allah dirampas. Untuk mengoreksi kesalahan yang demikian besar, Salomo menyatakan, bahwa tidak ada keberuntungan yang terjadi pada kita kecuali karena Allah memberkati perjalanan kita. Kedua, ia bermaksud menenggelamkan kesombongan bodoh manusia, yang mengesampingkan Allah dan tanpa takut mau mencoba apapun juga, hanya dengan bersandar pada kebijaksanaan dan kekuatan mereka sendiri. Apa yang mereka banggakan dan kira berasal dari diri mereka sendiri, ia ambil, dan mengasihati mereka untuk rendah hati dan berseru kepada Allah. Ia bukan menolak segala perjuangan, usaha keras, atau kebijakan manusia. Adalah kebajikan yang patut dipuji, jika kita melaksanakan kewajiban jabatan kita dengan rajin. Bukanlah kehendak Allah supaya kita menjadi seperti balok kayu, berpangku tangan tanpa melakukan apa-apa, melainkan kita harus bekerja dengan menggunakan segala talenta dan kelebihan yang Ia telah karuniakan pada kita. Salomo tidak menghakimi kewaspadaan, hal yang Allah perkenan; ataupun perjuangan manusia, yang ketika mereka lakukan dengan sukarela berdasarkan perintah Allah, adalah suatu korban persembahan yang sudi Ia terima. Tetapi ia tidak mau mereka dibutakan kesombongan, atau dengan paksa mengakui milik Allah sebagai milik mereka sendiri, maka ia menasihati mereka, bahwa kesibukan mereka tidak ada gunanya, kecuali jika Allah memberkati usaha mereka.
Ada sebuah synecdoche (gaya bahasa di mana sebuah bagian menggambarkan keseluruhannya) dalam kata-kata pembangun dan pengawal. Maksud sang pemazmur adalah secara umum, usaha keras, kebijakan, dan keahlian apapun dari manusia, entah memelihara sebuah keluarga atau mengatur sebuah kota, tidak ada gunanya, kecuali Allah dari surga mengaruniakan kemakmuran bagi seluruhnya.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi



November 12, 2018, 05:52:41 AM
Reply #475
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19878
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 127:2
October-04-2018 09:00 am


Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah. Dengan lebih jelas, Salomo menyatakan bahwa manusia sia-sia saja melelahkan diri dengan usaha mereka, dan membuat diri mereka kurus karena puasa untuk mendapatkan kekayaan, sebab semua ini juga berkat yang hanya Allah dapat berikan. Untuk mendorong mereka lebih lagi, ia menujukan kata-katanya pada setiap individu. Sia-sialah kamu, katanya. Secara spesifik ia menyebutkan dua cara yang dianggap penting untuk mencapai kekayaan. Tidaklah mengherankan jika orang-orang yang menjadi kaya dalam waktu singkat mengerjakan apa saja, menghabiskan siang malam untuk pekerjaan mereka, dan hanya menghabiskan sedikit dari hasil usaha mereka untuk makanan. Namun Salomo menegaskan, bukan hidup hemat atau rajin bekerja yang akan dengan sendirinya menghasilkan apapun juga. Ia bukan melarang kita menguasai diri dalam makan atau bangun pagi untuk mengerjakan urusan dunia kita. Tetapi ia menyatakan apapun yang dapat menggelapkan anugerah Allah sebagai bukan apa-apa, untuk mendorong kita berdoa, memanggil Allah, dan bersyukur bagi berkat Ilahi. Kita pasti akan memasuki panggilan kita di dunia dengan cara yang benar, jika pengharapan kita hanya bergantung pada Allah, dan keberhasilan kita akan sesuai dengan keinginan kita. Tetapi jika seseorang tidak mengingat Allah, terburu-buru mengejar nafsunya, ia akan menghancurkan dirinya sendiri oleh curamnya jalan. Sang nabi tidak bermaksud mendorong orang menjadi malas, sehingga mereka tidak memikirkan apa-apa, tertidur dan membuang waktu. Melainkan ketika seseorang melaksanakan apa yang Allah telah perintahkan padanya, ia harus selalu memulai dalam doa dan berseru pada nama-Nya, mempersembahkan kerja keras pada-Nya untuk Ia berkati.

Sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur (terjemahan lain: Ia memberikan tidur kepada yang dicintai-Nya). Allah akan memberikan pada anak-anak-Nya hal-hal yang dikejar orang-orang tak beriman dengan usaha keras mereka.
Meski orang beriman hidup bekerja keras, namun mereka menaati panggilan dengan batin yang tenang dan damai. Maka tangan mereka tidak tinggal diam, namun batin mereka beristirahat dalam ketenangan iman, seperti sedang tidur.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi



November 13, 2018, 06:12:19 AM
Reply #476
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19878
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://www.griikarawaci.org/renungan-harian

Mazmur 127:3-5
October-05-2018 09:00 am


Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. Anak-anak bukanlah akibat dari kebetulan, melainkan Allah membagikan pada setiap orang bagian mereka menurut apa yang Ia pandang baik. Dari pengulangan sang nabi, kita mengerti bahwa milik pusaka dan upah artinya sama. Kedua istilah ini diperlawankan terhadap keberuntungan, atau kekuatan manusia. Semakin kuat seseorang, nampaknya semakin mungkin ia memiliki anak. Salomo menegaskan kebalikannya, yaitu orang-orang yang menjadi ayah adalah orang-orang yang Allah berikan kehormatan tersebut.

Kebanyakan anak-anak bukan merupakan sumber sukacita bagi orang tua mereka, maka ditambahkan karunia Allah yang kedua, yaitu Ia membentuk batin anak-anak dan menghiasinya dengan sifat yang baik, dan berbagai jenis kebajikan. Pengumpamaan yang disebutkan di sini adalah, seperti seorang pemanah dipersenjatai dengan busur yang lengkap, orang-orang dilindungi oleh anak-anak mereka, seperti oleh busur dan panah. Orang-orang yang tidak memiliki anak seperti tak bersenjata, sebab bukankah orang yang tanpa anak itu sendirian? Bukan pemberian kecil dari Allah bagi manusia, jika ia mendapatkan pembaruan dalam keturunannya, sebab Allah memberinya kekuatan baru, sehingga orang yang tadinya akan segera membusuk, dapat mulai hidup seperti untuk kedua kalinya.
Pengenalan doktrin ini sangat berguna. Kesuburan hewan yang lebih rendah pun diperhitungkan dari Allah saja. Jika Ia menyatakan sebagai berkat-Nya ketika sapi dan domba dan kuda mengandung, betapa tak dapat dimaafkannya ketidaksalehan manusia yang dihormati dengan gelar ayah, jika mereka menganggap karunia ini bukan apa-apa. Selain itu, kecuali manusia menganggap anak-anak mereka sebagai pemberian Allah, mereka sembarangan dan berlambat-lambat dalam menyediakan kebutuhan mereka. Doktrin ini membuat sumbangsih besar dalam mendorong mereka membesarkan keturunan mereka. Seseorang yang merenungkan kebaikan Allah dalam pemberian-Nya berupa anak-anak, akan dengan bersiap dan batin yang tenang mencari kelanjutan karunia Allah; dan meski ia hanya memiliki sedikit warisan bagi mereka, ia tidak akan menjadi sembarangan dalam hal itu.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi



November 14, 2018, 06:33:05 AM
Reply #477
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19878
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 128


Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! (Terjemahan lain: Engkau akan memakan hasil jerih payah tanganmu.) Sang nabi mengajar, bahwa kita harus membentuk penilaian yang berbeda dari dunia, mengenai apa kebahagiaan itu. Dunia menilai hidup bahagia sebagai hidup dalam kenyamanan, kehormatan, dan kekayaan. Ia mengingatkan para hamba Tuhan akan penguasaan diri, yang hampir semua manusia tolak. Betapa sedikitnya orang, yang jika boleh memilih, akan rindu hidup oleh pekerjaan tangan mereka sendiri. Apalagi orang yang menganggap hal itu berkat istimewa! Begitu “kebahagiaan” disebut, dalam setiap orang segera meledak ide-ide paling luar biasa tentang apa yang diperlukan kebahagiaan. Demikian tak terpuaskannya jurang keserakahan hati manusia. Sang nabi meminta orang-orang yang takut pada Allah untuk menjadi puas oleh satu hal – dengan jaminan Allah sebagai Bapa yang mengasuh mereka, mereka akan dipelihara dengan cukup oleh pekerjaan tangan mereka, seperti dalam Mazmur 34:10, “Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik.” Kita harus ingat bahwa sang nabi bukan membicarakan kebahagiaan tertinggi (yang bukan makanan dan minuman, dan tidak terkurung dalam batasan hidup sementara ini), melainkan ia meyakinkan umat Allah yang beriman, bahwa dalam perjalanan musafir ini atau pengembaraan di bumi ini mereka akan menikmati hidup yang bahagia, sampai akhirnya Ia membawa kita pada kemuliaan kekal (1 Tim. 4:8).

Sang nabi mengingatkan orang beriman, bahwa mereka sudah menerima sebagian buah dari integritas mereka, ketika Allah memberi makanan pada mereka, membuat mereka bahagia dengan istri dan anak-anak, dan membungkuk untuk memperhatikan hidup mereka. Tetapi tujuannya memuji kebaikan Allah pada saat ini adalah mendorong mereka, supaya mereka segera maju dalam jalan yang memimpin mereka pada warisan kekal mereka.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi




November 15, 2018, 05:28:13 AM
Reply #478
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19878
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

Mazmur 129

TUHAN itu adil, Ia memotong tali-tali orang fasik. Meski Allah mungkin nampak menunda untuk sementara waktu, tetapi Ia tidak pernah melupakan keadilan-Nya, sampai menahan kelegaan bagi umat-Nya yang tertindas. Paulus mengutip sebab yang sama, mengapa Allah tidak akan selamanya membiarkan mereka dianiaya (2 Tes. 1:6-7) – “Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kamu, dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami.” [“Allah itu adil: Ia akan membayar kembali kesulitan kepada orang-orang yang menyulitkan kamu, dan memberikan kelegaan kepada orang-orang yang tertindas, dan juga kepada kami.”] Hal ini perlu diperhatikan secara khusus, bahwa kesejahteraan Gereja tidak dapat dipisahkan dari keadilan Allah. Dengan bijaksana sang nabi mengajar kita, sebab mengapa para musuh Gereja tidak dapat bertahan, adalah karena Allah meniadakan usaha-usaha mereka, dan tidak membiarkan mereka melewati penetapan-Nya.

Mereka seperti rumput di atas sotoh, yang menjadi layu, sebelum dicabut, yang tidak digenggam tangan penyabit, atau dirangkum orang yang mengikat berkas. Sang Pemazmur meminjam ilustrasi doktrin ini dari contoh hidup sehari-hari. Di mana ada prospek akan panen yang baik, kita harus memohon pada Allah, yang bidang-Nya adalah memberikan kesuburan pada tanah, supaya Ia mencurahkan berkat-Nya sepenuhnya. Dan sejak hasil bumi rentan terhadap begitu banyak bencana, anehlah jika kita tidak terdorong untuk berdoa karena keperluan mutlaknya bagi manusia dan hewan. Sang Pemazmur yang membicarakan orang-orang yang lewat yang memberkati para penuai, tidak hanya memaksudkan anak-anak Allah, yang diajar oleh Firman bahwa kesuburan tanah bergantung pada kebaikan-Nya. Ia juga memasukkan orang-orang dunia, yang menerima penanaman pengetahuan tersebut secara alamiah. Kesimpulannya, jika kita tidak hanya berada di dalam Gereja Tuhan, melainkan juga berjuang untuk dihitung di antara warganya yang sejati, kita akan sanggup tanpa takut memandang rendah segala kekuatan musuh kita. Meski mereka berbunga dan memiliki penampilan yang hebat untuk sementara waktu, namun mereka hanyalah rumput kering, yang dijatuhi kutuk dari surga.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi



November 16, 2018, 06:11:04 AM
Reply #479
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19878
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 130

Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. Hal berikut dapat diamati dari kesehari-harian: orang-orang yang tertahan pada langkah di mana mereka menganggap diri mereka sendiri layak menerima kematian kekal, terburu-buru maju seperti orang gila untuk melawan Allah. Maka untuk meneguhkan dirinya sendiri dan orang-orang lain, sang nabi menyatakan bahwa belas kasihan Allah tidak dapat dipisahkan atau diputuskan dari diri-Nya. “Begitu aku memikirkan-Mu,” kira-kira katanya, “belas kasihan-Mu juga nampak dalam batinku, sehingga aku tidak ragu bahwa Engkau akan berbelas kasihan padaku, karena mustahil Engkau menyingkirkan hakekat-Mu dari diri-Mu sendiri: fakta bahwa Engkau adalah Allah, adalah jaminan pasti bagiku, bahwa Engkau akan berbelas kasihan.” Pada saat yang sama haruslah dimengerti, bahwa ia bukan membicarakan pengetahuan yang kacau, melainkan pengetahuan yang memampukan sang orang berdosa untuk menyimpulkan dengan kepastian, bahwa sesegera ia mencari Allah, maka pada saat itu juga ia akan menemukan-Nya bersedia untuk diperdamaikan dengannya. Tidaklah mengherankan jika tidak ada penyeruan tetap kepada Allah di antara para pengikut paus. Oleh karena mereka mencampuradukkan jasa mereka, pembayaran mereka, dan persiapan baik mereka – menurut istilah mereka – dengan anugerah Allah, maka mereka selalu berada dalam ketegangan dan keraguan tentang rekonsiliasi mereka dengan Allah. Maka semakin banyak mereka berdoa, semakin banyak mereka menambahkan kesusahan dan siksaan mereka, seperti seseorang menaruh kayu di api yang menyala. Siapa yang ingin mendapatkan manfaat dari doa, harus memulai dengan pengampunan dosa secara cuma-cuma. Juga tepat untuk menandai penyebab final, mengapa Allah mau mengampuni, dan tidak pernah mendekat tanpa menunjukkan betapa mudahnya Ia diperdamaikan dengan mereka yang melayani-Nya; ini adalah keperluan mutlak dari pengharapan mendapatkan pengampunan, demi keberadaan takut akan Allah, dan ibadah pada Allah dalam dunia ini.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)