Author Topic: Devosi GRII  (Read 18611 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

November 28, 2018, 05:20:13 AM
Reply #490
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 137

Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing? Orang-orang Israel di Babel berhenti bernyanyi, dan mempersembahkan korban, sebab tanah di mana mereka sekarang berada, adalah cemar. Orang-orang Kasdim mengira bahwa bangsa Yahudi sekarang terikat selamanya pada tanah di mana mereka dibuang. Sang Pemazmur menyebutnya negeri asing, yang berarti mereka hanya sementara saja berada di sana. Di bawah Kepausan, meski ada bahaya besar ketika orang beriman terlihat tidak mengikuti contoh-contoh di sekeliling mereka, namun ROH KUDUS memakai penghalang semacam ini untuk memisahkan mereka dari kompromi yang berdosa. Bagi orang-orang yang mencintai dan mempraktekkan ibadah yang sejati, apakah mereka orang Perancis, Inggris, atau Italia, tanah air mereka sendiri adalah negeri asing ketika mereka hidup di bawah pemerintahan tiran demikian. Namun ada perbedaan antara kita dan umat Allah di waktu yang lampau, sebab pada saat itu ibadah penyembahan pada-Nya hanya terbatas di satu tempat saja. Tetapi sekarang Bait-Nya ada di manapun dua atau tiga orang berkumpul bersama dalam nama Kristus, jika mereka memisahkan diri mereka dari penyembahan berhala, dan mempertahankan kemurnian ibadah Ilahi. Sang Pemazmur bukan memadamkan usaha mereka untuk memuji Allah. Sebaliknya ia mendorong mereka untuk bersabar di dalam penderitaan, hingga kebebasan untuk beribadah pada-Nya di hadapan umum dipulihkan. Ia seperti mengatakan: Bait Allah dan korban telah dirampas dari kita, kita mengembara sebagai orang buangan di tanah yang cemar, dan yang dapat kita lakukan hanyalah berkeluh kesah dan menantikan kelepasan yang dijanjikan.

Jika janji-janji Ilahi memenuhi kita dengan pengharapan dan keyakinan, dan Roh Allah memakai penderitaan kita demi keadilan-Nya, maka kita akan mengangkat kepala kita pada titik paling rendah, dan bermegah dalam fakta bahwa dalam keadaan terburuk pun kita baik-baik saja, dan musuh-musuh kita disiapkan bagi kehancuran.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi



November 29, 2018, 08:33:28 AM
Reply #491
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 138

TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu! Setelah ia ditolong oleh tindakan Allah yang penuh belas kasihan, Daud menyimpulkan bahwa apa yang telah Allah kerjakan itu akan disempurnakan, sebab natur Allah tidak dapat berubah, dan Ia tidak dapat menyingkirkan kebaikan dari diri-Nya sendiri. Tidak diragukan lagi, satu-satunya cara mempertahankan pengharapan di tengah bahaya, adalah dengan mempertahankan pandangan mata kita pada kebaikan Ilahi. Pertolongan kita bergantung pada kebaikan Allah. Allah tidak memiliki kewajiban apapun, tetapi ketika Ia berkehendak demikian, Ia berjanji menaruh perhatian untuk urusan kita. Manusia mungkin meninggalkan suatu proyek karena alasan-alasan yang sepele. Mungkin karena mengerjakan proyek tersebut memang suatu hal yang bodoh dari awalnya. Atau karena mereka dialihkan karena ketidakkonstanan mereka. Atau mereka terpaksa menyerah karena proyek itu melebihi kekuatan mereka sehingga mereka tidak sanggup. Tetapi semua hal ini tidak mungkin terjadi pada Allah. Maka tidak ada kesempatan untuk kuatir bahwa pengharapan kita akan dikecewakan dalam jalannya menuju penggenapan. Kecuali dosa dan ketidakbersyukuran, tidak ada apapun dari pihak kita yang menginterupsi aliran kebaikan Ilahi yang terus-menerus dan tidak berubah. Apa yang kita pegang teguh oleh iman kita, tidak akan pernah dirampas Allah dari kita, atau dibiarkan jatuh dari tangan kita. Ketika Daud menyatakan bahwa Allah menyempurnakan keselamatan umat-Nya, ia tidak menyetujui kemalasan, melainkan meneguhkan imannya dan menggerakkan dirinya untuk berdoa. Apa penyebab kecemasan dan ketakutan yang dirasakan orang saleh, selain kesadaran akan kelemahan mereka dan kebergantungan total pada Allah? Pada saat yang sama mereka bersandar dengan keyakinan penuh pada kasih karunia Allah, seperti Paulus tuliskan pada jemaat Filipi, “yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya” (Fil. 1:6). Kegunaan doktrin ini, adalah mengingat, ketika kita jatuh atau goyah dalam batin kita, bahwa Allah akan meneruskan keselamatan kita sampai pada akhirnya, karena Ia telah memulainya. Sesuai dengan itu, kita harus mendedikasikan diri kita pada doa, supaya jangan karena kemalasan kita, kita menghalangi akses kepada aliran kebaikan Ilahi yang berasal dari sumber yang tidak habis-habisnya.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi



November 30, 2018, 07:23:42 AM
Reply #492
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 139:11-16

Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang. Mungkin ada yang berpikir, pengamatan bahwa berkaitan dengan Allah tidak ada perbedaan antara terang dan gelap, bukan sesuatu yang penting. Orang itu perlu diingatkan, bahwa semua pengamatan membuktikan, betapa sulitnya manusia dibawa secara terang-terangan dan terbuka ke hadapan Allah. Dengan kata-kata, kita semua mengakui bahwa Allah maha tahu. Tidak seorang pun dapat membayangkan menentang hal itu, tetapi diam-diam kita tidak mempedulikannya. Kita tidak kuatir mengejek Allah, dan tidak memiliki hormat pada-Nya bahkan seperti pada sesama manusia ciptaan. Kita malu jika orang lain mengetahui dan menyaksikan kelemahan kita. Tetapi kita tidak peduli tentang apa yang Allah pikir mengenai kita, seakan-akan dosa-dosa kita tersembunyi dari pengamatan-Nya. Mabuk kepayang ini, jika tidak ditegur dengan tajam, akan segera mengubah terang menjadi gelap, dan karena itu Daud membicarakan panjang lebar topik ini untuk menyangkal salah pengertian kita.
Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Daud menggambarkan Allah sebagai raja yang bertahta di atas manusia, dan menunjukkan tidak ada alasan untuk heran, jika segala putaran dan tempat persembunyian dalam hati kita tidak tersembunyi bagi-Nya. Bagi-Nya, ketika kita berada dalam rahim ibu, kita terlihat sama jelasnya seperti sedang berdiri di depan-Nya pada siang hari bolong.
Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi. Daud menggambarkan dengan pengumpamaan keahlian yang tak terbayangkan dalam pembentukan tubuh manusia. Ketika kita meneliti bahkan kuku di jari kita, tidak ada yang dapat diubah tanpa ketidaknyamanan yang sama besarnya seperti terkilir. Jika kita menghitung setiap bagian individual, di mana dapat kita temukan ahli tenun yang dapat mencapai seperseratus saja struktur rumit ini? Kita tidak perlu heran, jika Allah yang membentuk manusia begitu sempurna dalam rahim, dapat memiliki pengetahuan tepat tentang manusia setelah kelahirannya.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi



December 01, 2018, 06:10:24 AM
Reply #493
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
 Mazmur 139:17-24

Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau. Arti perkataan Daud adalah, pemerintahan providensial Allah atas dunia ini sedemikian sehingga tidak ada yang dapat melewati-Nya, juga pikiran yang terdalam. Dan meski banyak orang menerjunkan diri mereka dengan mabuk kepayang ke dalam segala kejahatan yang melimpah-limpah, karena mereka kira Allah tidak akan menemukan mereka, sia-sia saja mereka bersembunyi, karena mereka akan diseret keluar ke dalam terang. Kebenaran ini sebaiknya kita renungkan lebih daripada kebiasaan kita. Sesekali kita memandang tangan dan kaki kita, dan kadang dengan puas memperhatikan keanggunan bentuk kita, hampir tidak ada satu dari seratus orang yang ingat akan Penciptanya. Atau jika ada yang menyadari bahwa hidupnya berasal dari Allah, tidak ada satupun yang sampai kepada kebenaran yang agung, bahwa Ia yang membentuk telinga, dan mata, dan hati yang penuh pengertian, dengan sendirinya mendengar, melihat dan mengetahui segala sesuatu.

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! Daud bersikeras bahwa satu-satunya penyebab mengapa ia menentang para penghina Allah, adalah karena ia sendiri adalah penyembah sejati Allah, dan ingin supaya orang-orang lain memiliki karakter yang sama. Bahwa ia dengan berani menyerahkan dirinya untuk dihakimi Allah, menunjukkan keyakinan yang tidak biasa. Tetapi karena ia sadar sepenuhnya akan ketulusan ibadahnya, bukan tanpa alasan ia menempatkan dirinya dengan yakin di hadapan penghakiman Allah. Kita juga jangan berpikir bahwa ia mengklaim dirinya bebas dari segala dosa; ia mengerang di bawah beban pelanggarannya. Dalam segala yang para orang kudus katakan mengenai integritas mereka, mereka tetap bersandar hanya pada anugerah yang cuma-cuma. Karena mereka yakin bahwa kesalehan mereka diperkenan Allah, tanpa memperhitungkan kejatuhan dan kelemahan mereka, kita tidak perlu heran jika mereka merasa bebas membedakan diri mereka dari orang fasik. Ia menyangkal bahwa hatinya mendua atau tidak tulus, ia bukan mengaku bebas dari segala dosa, melainkan hanya bahwa ia tidak memiliki devosi pada kefasikan.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi




December 02, 2018, 04:39:37 AM
Reply #494
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 140

Aku berkata kepada TUHAN: "Allahku Engkau, berilah telinga, ya TUHAN, kepada suara permohonanku!" Dengan kata-kata ini, Daud menunjukkan bahwa doa-doanya bukan sekedar doa dari bibir, seperti orang munafik yang membuat permohonan kepada Allah dengan suara lantang demi sekedar dilihat orang. Ia berdoa dengan kesungguhan, dan dari satu prinsip tersembunyi tentang iman. Sampai kita memiliki keyakinan diselamatkan oleh anugerah Allah, tidak mungkin ada doa yang tulus. Di sini ada sebuah ilustrasi yang baik mengenai natur iman, ketika sang Pemazmur menutupi dirinya dari pandangan manusia, supaya ia menghadap Allah secara terpisah, dan kemunafikan tidak diberi tempat dalam kegiatan dari hati ini. Inilah doa sejati. Bukan sekedar mengangkat suara, melainkan presentasi dari permohonan kita dari prinsip iman yang ada di dalam batin. Untuk memperoleh keyakinan bahwa Allah akan menjawab doa-doanya, ia mengingat kembali pertolongan-pertolongan yang Allah sudah berikan padanya. Ia menyebutkan Allah sebagai perisai dalam setiap waktu bahaya. Ada orang yang membaca kata-kata ini dalam bentuk futur: “akan menudungi kepalaku pada hari pertarungan senjata.” Tetapi jelas bahwa Daud membicarakan mengenai perlindungan yang sudah ia alami dari tangan Allah, dan dari sini memperoleh penghiburan bagi imannya. Ia maju, bukan sebagai pemula yang masih hijau dan belum dilatih, melainkan sebagai serdadu yang sudah kenyang pengalaman dalam pertarungan-pertarungan sebelumnya.

Aku tahu, bahwa TUHAN akan memberi keadilan kepada orang tertindas, dan membela perkara orang miskin. Tidak dipertanyakan lagi, Daud menutup doanya dengan mengarahkan pikiran dan pembicaraan pada penghakiman providensial Allah, sebab doa yang ragu-ragu bukanlah doa sama sekali. Ia menyatakan ini sebagai hal yang diketahui dan dipastikan, bahwa Allah tidak mungkin tidak menolong orang yang ditindas. Ia mungkin menunda sementara waktu, dan membiarkan orang yang baik dan lurus dicobai dengan berat, namun Daud memberikan bahan perenungan yang dapat menghadapi pencobaan ini, bahwa Allah melakukan itu dengan bijaksana, supaya Ia dapat menolong orang-orang dalam penderitaan, dan memulihkan orang-orang yang tertindas.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi



December 03, 2018, 09:03:04 AM
Reply #495
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 141

Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku! Bahkan orang-orang yang paling menguasai diri, jika disakiti tanpa sebab, kadang akan membalas dendam, karena bencinya mereka pada tingkah laku musuh mereka yang tidak patut. Daud menyerahkan dirinya pada bimbingan Allah, baik dalam pikiran maupun perkataan. Dengan itu ia mengakui, ia butuh kuasa ROH KUDUS untuk mengatur lidah dan batinnya, terutama ketika ia digoda untuk menjadi marah karena kurang ajarnya lawannya. Di satu sisi, lidah dapat tergelincir dan terlalu cepat bicara, kecuali Allah terus menjaga dan mengawasinya. Di sisi lain, di dalam batin ada perasaan-perasaan yang kuat tetapi kacau, yang perlu dikekang. Hati manusia seperti suatu pabrik yang sangat sibuk, yang terus-menerus menghasilkan berbagai-bagai alat. Jika Allah tidak mengawasi hati dan lidah kita, pastilah tidak ada batasan dari kata-kata yang berdosa dan pikiran yang berdosa. Penguasaan diri dalam kata-kata adalah pemberian Roh yang sangat langka, sementara setan selalu membuat usulan-usulan yang mudah dan enak untuk diterima, kecuali Allah mencegahnya. Tidaklah absurd untuk mengatakan Allah mencondongkan hati pada kejahatan, sebab hati manusia berada dalam kuasa tangan-Nya, sehingga Ia dapat mengarahkannya ke mana saja Ia kehendaki. Bukan berarti bahwa Ia sendiri mendorong mereka kepada nafsu yang jahat. Melainkan menurut penilaian-Nya yang tersembunyi, Ia membiarkan orang jahat, dan dengan itu menyerahkan mereka kepada kekuasaan setan. Itulah yang dimaksud dengan Ia membutakan dan mengeraskan hati mereka. Kebersalahan dari dosa itu berada pada manusia itu sendiri, dan nafsu yang ada dalam mereka. Entah baik atau jahat, mereka dibawa oleh keinginan alamiah, maka bukan dorongan eksternal yang membuat mereka mengarah kepada yang jahat, melainkan secara spontan dan dari kerusakan mereka sendiri.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi



December 04, 2018, 05:28:54 AM
Reply #496
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 142

Dengan nyaring aku berseru-seru kepada TUHAN, dengan nyaring aku memohon kepada TUHAN. Daud tidak menyerah kepada keluhan lantang dan tak berguna di hadapan manusia, maupun membuat dirinya menderita dengan siksaan kekuatiran dalam batin yang ia tekan. Melainkan ia memberitahukan kesedihannya kepada Tuhan dengan keyakinan tanpa kecurigaan.
Ketika semangatku lemah lesu di dalam diriku, Engkaulah yang mengetahui jalanku. Meski ia mengakui bahwa ia merasakan kecemasan, tetapi ia menegaskan apa yang ia katakan mengenai keteguhan imannya. Lemah lesu menggambarkan keadaan batin yang berpindah-pindah antara berbagai resolusi ketika tidak kelihatan satu pun jalan keluar dari bahaya, dan menambah tekanan jiwanya dengan berlari ke berbagai pemecahan. Ia menambahkan, bahwa meski tidak terlihat jalan menuju keamanan, tetapi Allah tahu sejak awal bagaimana pertolongannya akan terjadi. Kita diajar, bahwa ketika kita sudah mencoba segala cara dan tetap tidak tahu harus bagaimana, kita tenanglah dengan keyakinan bahwa Allah mengenal penderitaan kita, dan membungkukkan diri untuk memperhatikan kita, seperti kata Abraham, “Allah yang akan menyediakan” (Kej. 22:8).

Pandanglah ke kanan dan lihatlah, tidak ada seorangpun yang menghiraukan aku; tempat pelarian bagiku telah hilang, tidak ada seorangpun yang mencari aku. Daud menunjukkan sebabnya penderitaan mengerikan yang ia alami, yaitu tidak ada pertolongan manusia atau penghiburan yang bisa diharapkan, dan kehancuran tampak tak terhindari. Ketika ia katakan, ia telah melihat tidak ada seorang teman pun di antara manusia, maksudnya bukan ia melupakan Allah dan berpaling pada pertolongan duniawi. Melainkan, ia telah mencari tahu, sebagaimana seharusnya, apakah ada orang di bumi yang mungkin menolongnya. Jika ada seseorang seperti itu, tanpa ragu, Daud akan mengenali orang itu sebagai alat dari tangan Allah yang penuh belas kasihan. Tetapi rencana Allah adalah ia tidak mendapatkan pertolongan dari manusia manapun, dan kelepasan dari kehancuran yang ia dapatkan, nampak lebih luar biasa.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi




December 05, 2018, 05:33:06 AM
Reply #497
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 143

Janganlah berperkara dengan hamba-Mu ini, sebab di antara yang hidup tidak seorangpun yang benar di hadapan-Mu. Daud menyatakan, bahwa tidak satu manusia pun yang dapat ditemukan adil di hadapan Allah, jika ia dipanggil ke hadapan pengadilan-Nya. Bagian ini memiliki banyak pengajaran bagi kita, yaitu bahwa Allah hanya dapat menunjukkan perkenanan-Nya pada kita jika Ia mencopot karakter seorang hakim, dan memperdamaikan kita kepada diri-Nya dengan pengampunan cuma-cuma akan dosa-dosa kita. Segala keadilan manusia tidak dihitung sedikitpun, ketika kita berada di pengadilan-Nya. Supaya kita mendapat pandangan yang tepat mengenai hal ini, pertama-tama kita perlu memperhatikan apa artinya dibenarkan. Bagian ini membuktikan bahwa orang yang dibenarkan, adalah orang yang dihakimi dan diperhitungkan sebagai adil di hadapan Allah, dan yang hanya memperoleh pengampunan dengan mengakui bahwa mereka dapat dengan adil dinyatakan bersalah. Jika kesempurnaan dapat ditemukan di dunia ini, tentunya dibanding semua orang lain, Daud dapat bermegah mengenai itu. Juga keadilan Abraham dan para leluhur kudus bukannya tidak ia ketahui. Tetapi ia tidak mengecualikan baik mereka maupun dirinya sendiri, melainkan meletakkan prinsip universal dari pendamaian dengan Allah, yaitu kita harus menyerahkan diri kita pada belas kasihan-Nya.

Tidak ada hal tengah-tengah di antara dua hal ini, yang dinyatakan di Alkitab sebagai lawan: dibenarkan oleh iman dan dibenarkan oleh perbuatan. Adalah absurd bagi para pengikut paus yang menciptakan spesies ketiga dari keadilan, yang sebagian dihasilkan perbuatan mereka, dan sebagian diberikan Allah pada mereka dalam belas kasihan-Nya. Tanpa ragu, ketika ia tegaskan, tidak ada orang yang dapat tahan berdiri di hadapan Allah, jika perbuatannya dihakimi, sedikitpun Daud tidak membayangkan keadilan bersifat ganda seperti demikian. Ia akan membungkam kita dengan kesimpulan bahwa Allah hanya memiliki perkenanan berdasarkan belas kasihan-Nya, sebab yang namanya keadilan manusia tidak memiliki arti apa-apa di hadapan-Nya.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi




December 06, 2018, 06:06:46 AM
Reply #498
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 144

Engkau yang memberikan kemenangan kepada raja-raja. Allah memelihara semua orang tanpa kecuali, tetapi perhatian-Nya secara khusus mencakup pemerintahan politis, yang adalah dasar kesejahteraan bersama semua orang. Karena itulah Daud menyebut Allah sebagai pelindung dan pembela dari kerajaan-kerajaan, sebab baru saja “pemerintahan” disebut, sudah muncul ketidaksenangan. Tak ada seorang pun yang dengan rela menaati orang lain, dan tidak ada yang lebih berlawanan terhadap sifat alamiah kita daripada harus melayani yang lebih tinggi. Maka manusia berusaha melemparkan kuk itu dari leher mereka, dan menunggangbalikkan tahta raja-raja, jika tahta itu tidak dilindungi sekelilingnya oleh kuasa Ilahi yang tersembunyi. Namun Daud berbeda dari semua raja-raja lain. Ia disebut sebagai “anak sulung dari raja-raja” (Mzm. 89:27). Ia membicarakan kebaikan Allah yang telah ditunjukkan padanya secara istimewa, dari urapan kudus yang diberikan padanya dengan kehormatan. Sebagai gelarnya, ia mengklaim sebutan hamba Allah. Meski semua raja adalah hamba Allah, dan Koresh diberi nama tersebut oleh Yesaya (45:1), tetapi tidak ada seorangpun pangeran kafir yang menyadari dirinya dipanggil Allah. Hanya Daud sendirilah yang diberi kewenangan sah, dan kewenangan untuk memerintah yang dapat dipercayai dengan keyakinan. Maka tepatlah jika ia dibedakan demikian.

Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN! Providensia penuh kebaikan dari Allah, yang tidak membiarkan kita berkekurangan apapun dalam hidup, adalah sebuah ilustrasi yang cemerlang mengenai cinta kasih-Nya yang ajaib. Apa yang mungkin lebih diinginkan manusia daripada menjadi penerima kasih sayang Allah, terutama jika kita memiliki cukup pengertian untuk menyimpulkan dari kemurahan hati-Nya, bahwa Ia adalah Bapa kita? Segala sesuatu harus dipandang dengan rujukan kepada hal ini. Lebih baik segera mati karena kekurangan, daripada menjadi puas seperti hewan, dan melupakan hal paling utama, bahwa orang-orang yang bahagia hanyalah mereka yang dipilih menjadi umat Allah.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi





December 07, 2018, 06:17:38 AM
Reply #499
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mazmur 145


TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Semakin dekat seseorang merasa ditarik kepada Allah, semakin besar kemajuan yang ia telah buat dalam mengenal-Nya. Tidak hanya Allah mau menjadi kawan kita, melainkan Ia tersentuh oleh simpati karena kesengsaraan kita, sehingga Ia menunjukkan kebaikan-Nya yang lebih lagi ketika kita menderita. Jika demikian, bukankah kita bodoh kalau tidak segera lari kepada-Nya tanpa menunda? Tetapi karena kita menolak kebaikan Allah dengan dosa kita, dan menghalangi jalan masuknya pada kita, kecuali kebaikan-Nya mengalahkan halangan ini, sia-sia saja para nabi berbicara tentang karunia dan belas kasihan-Nya.

TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. Bukan saja Allah mengampuni dosa, dengan kebaikan dan belas kasihan seorang bapak. Tetapi Ia baik kepada semua orang tanpa kecuali, sebagaimana Ia menerbitkan matahari-Nya di atas orang baik dan orang jahat (Mat. 5:45). Pengampunan dosa adalah suatu harta karun yang tidak didapatkan orang jahat, tetapi dosa dan kebobrokan mereka tidak mencegah Allah menghujani kebaikan-Nya atas mereka, yang mereka terima tanpa sadar. Sementara orang beriman, dan hanya orang beriman saja, mengetahui apa itu menikmati diperdamaikan dengan Allah, seperti dikatakan: “Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu.Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!” (Mzm. 34:5, 8).

Mata sekalian orang menantikan Engkau, dan Engkaupun memberi mereka makanan pada waktunya. Daud memperhatikan, bahwa makanan diberikan pada musimnya. Amatilah pengaturan yang mengagumkan dari providensia Ilahi, bahwa ada waktu tertentu untuk panen hasil ladang, panen anggur, dan panen jerami, dan tahun dibagi ke dalam interval, sehingga pada satu waktu ternak diberi makan rumput, waktu yang lain jerami, atau gandum, atau kacang-kacangan, atau hasil bumi yang lain. Jika segala persediaan itu dimunculkan pada satu saat yang bersamaan, tidak mungkin semuanya dikumpulkan dengan mudah. Besarlah alasan kita harus mengagumi ketepatan waktu di mana macam-macam buah dan makanan yang dihasilkan setiap tahunnya.

Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)