Author Topic: BENARKAH PENGERTIAN KITA TENTANG GARAM DUNIA  (Read 1322 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 06, 2018, 03:28:39 PM
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 8
  • Gender: Male
  • Denominasi: pentakosta
Kali ini mailah kita membahas ayat2 dari Khotbah Tuhan Yesus di Bukit, sebagaimana tercantum di Injil Matius, Markus, dan Lukas.

Matius 5:13
“Kamu adalah Garam Dunia. Jika garam itu menjadi tawar dengan apakah ia diasinkan?Tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Pada umumnya pembahasan tentang “Garam Dunia” itu bernada baik. Garam Dunia diartikan sebagai sesuatu perbuatan yang menyenangkan umat manusia dan oleh sebab itu merupakan hal yang menyukakan hati Tuhan. Garam Dunia dianggap suatu contoh kehidupan yang positif atau berguna bagi masyarakat. Dapat memberikan “rasa” dari kehambaran yang ada dalam Dunia ini.

Apalagi disertai dengan penjelasan bahwa jika garam itu menjadi tawar, maka ia tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Demikian pula kalau kita membacanya dalam Injil Markus atau Lukas, yakni:

Markus 9:50
“Garam memang baik, tetapi, garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?”Hendaklah kami selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lainnya.

Lukas 14:34
Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?
Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja.

Ayat2 inilah menjadi dasar pengertian bahwa Garam Dunia itu adalah hal2 yang baik di mata Tuhan dan oleh karenanya mewajibkan agar hidup kita menjadi “Garam Dunia”.
Apakah benar demikian?
Jikalau kita teliti dengan lebih cermat ayat2 tersebut, akan terasa kurang pas apabila kita sampai pada kesimpulan seperti di atas. Marilah kita bahas lebih mendetail lagi. Apakah benar bahwa pengertian tentang garam atau asin merupakan pengertian yang baik atau positif dalam Alkitab?

Marilah kita baca Kejadian 19:26
Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.

Alkitab menceritakan kepada kita suatu kisah yang tragis tentang isteri Lot. Malaikat Tuhan sudah memperingatkan kepada mereka yang akan diselamatkan dari Sodom dan Gomora pada waktu Tuhan menghukumnya. Namun isteri Lot menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam. Kisah isteri Lot ini jelas merupakan peringatan bagi kita agar kita tidak menoleh lagi kepada kehidupan lama yang sudah kita tinggalkan. Tiang garam merupakan perwujudan yang mengerikan dari suatu hukuman terhadap kecintaan akan kehidupan duniawi (kehidupan lama) yang harus ditinggalkan oleh anak2 Tuhan (anak2 ketebusan yang sudah dibeli oleh Darah Kristus yang amat mahal). Disini kita melihat bahwa pengertian menjadi “Tiang Garam” adalah hal yang negative. Tidak ada pengertian lain bahwa Tiang Garam adaah identic dengan kematian.

Jikalau di dalam Perjanjian Lama tentang “garam” sudah sedemikian buruknya, apakah mungkin Tuhan Yesus mengartikannya sebagai sesuatu yang baik? Tidak mungkin bukan. Di bawah ini ada beberapa contoh yang dapat kita baca dari Alkitab tentang garam atau asin.

Mazmur 107: 33-34
Dibuatnya sungai2 menjadi padang gurun, dan pancaran2 air menjadi tanah gersang, tanah yang subur menjadi padang asin, oleh sebab kejahatan orang2 yang diam di dalamnya.

Jelas ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan mengutuk orang2 jahat dengan mengubah berkat2nya menjadi bencana2 yang mengerikan karena ketidaktaatan manusia. Yang dimaksud dengan “Padang Asin” adalah suatu kematian dan bukanlah sesuatu hal yang harus ada dalam hidup kita.

Yeremia 17:5-6
Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh daripada Tuhan. Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaa baik; ia akan tinggal di tanah hangus di padang gurun, di negeri Padang Asin yang tidak berpenduduk.

Jelas sekali bahwa Padang Asin merupakan pengertian yang buruk sekali dari Firman Allah.

January 06, 2018, 03:29:34 PM
Reply #1
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 8
  • Gender: Male
  • Denominasi: pentakosta
Imamat 2:13

Dan tiap2 persembahan yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kau lalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kau persembahkan garam.

Tuhan meminta untuk segenap umatNya membubuhi garam pada setiap korban sajian, bahkan dengan pesan yang wanti2. Apakah yang dimaksud Tuhan dengan garam perjanjian Allah tersebut?

Tak lain dan tak bukan adalah kematian Yesus di kayu salib yang merupakan kematian penebusan dosa manusia. Hal ini haruslah merupakan komitmen dari seluruh umat Tuhan agar meneladani kematian Kristus itu sebagai kematian dari hawa nafsu duniawi yang ada dalam diri umat manusia. Inilah yang disimbolkan sebagai garam dalam persembahan (korban) sajian tadi.

Bilangan 18:19
“Segala persembahan khusus, yakni persembahan kudus yang dipersembahkan orang Israel kepada Tuhan, Aku berikan kepada anak2mu laki-laki dan perempuan bersama-sama dengan engkau: Inilah suatu ketetapan untuk selama-lamanya; itulah suatu perjanjian garam untuk selama-lamanya di hadapan Tuhan bagimu serta bagi keturunanmu”

Jadi mengacu kepada ayat ini kita ketahui bersama bahwa Tuhan menghendaki segala persembahan mempunyai dasar Kristus (Korban di Kalvari) atau Iman dalam Kristus Yesus yakni Iman dalam kematianNya atau Kematian Hawa Nafsu Duniawi. Inilah pengertian dari “Garam” yang sesungguhnya.

Mari kembali ke Markus 9:50 dan Lukas 14:3.
Ayat 2 ini berbicara tentang Garam itu Baik.
Terjemahan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris mengalami kesulitan untuk menterjemahkannya. Kata asli dalam Bahasa Gerika adalah “Kalos”, artinya: Beautiful atau cantik. Tentu tidak mungkin menerjemahkan Garam itu Cantik, maka diambilah terjemahan alternative yang bisa dimengerti oleh pembacanya sebagai “baik”.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa maksud Tuhan Yesus mengatakan hendaklah kita menjadi “Garam Dunia” adalah agar di dalam hidup setiap Anak Tuhan memperhatikan “Korban Kematian Kristus” sehingga bila dunia melihat ada tanda2 salib Kristus dalam diri kita maka Dunia akan menginjak-injak kita serta membuang kita, karena kita bukanlah bagian dari asin (garam) tadi, melainkan kita telah digarami bagi dunia (matinya hawa nafsu duniawi yang disebut cantik/kalos tersebut).

Tuhan memberkati.
January 07, 2018, 09:12:25 AM
Reply #2
  • FK - Junior
  • **
  • Posts: 66
    • ™
  • Denominasi: CHRIST
Terimakasih penjelasannya, saya jd bisa ikut nambah wawasan :)

Kalau dari saya mengenai garam namun hanya berdasarkan pengalaman pribadi seadanya:
Quote
...
melainkan kita telah digarami bagi dunia (matinya hawa nafsu duniawi yang disebut cantik/kalos tersebut).
Tuhan memberkati.

Kalimat yang di warnai menjadi "kita telah/akan digarami oleh dunia, manusia menajamkan manusia dalam berbagai hal, mereka sering menginjak/menolak/mencemooh/mengejek/memfitnah/dll manusia yang baik (minimal) dan benar (maksimal)"

Jadi dari situ, menurut apa yang saya alami.. Garam itu tetaplah sangat mudah membuat lidah/hati kita keasinan.
Jadi, garam tetaplah di 'posisi merugikan'.



Tapi saya baru tahu kalau terjemahan kalos adalah bagus (atau cantik?).

Maksud Tuhan Yesus mengatakan hendaklah kita menjadi “Garam + Dunia” bisa diartikan menjadi "Baik yang ada di Dunia / Baik pada Dunia / Baik di Dunia".
Berkaitan dengan dunia ini diliputi 'Gelap' atau diserong oleh JAHAT, hendaklah kita tetap BAIK meskipun sekeliling kita SALAH atau terlebih lagi JAHAT.
Dan terakhir.. berkaitan juga dengan :
-  Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:13-16)
-  Kamu adalah terang dunia. Kota yang letaknya di atas gunung tidak dapat disembunyikan.

PS. Bisa tolong bantu saya karena saya lupa dan tidak menemukan ayat yang bunyinya seperti ini kira-kira:
"Jika kamu terang, gelaplah sekeliling mu"
Terimakasih sebelumnya. Shalom.
January 07, 2018, 06:55:13 PM
Reply #3
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 3
  • Denominasi: Protestan
ada pula terbaca dalam siasat gelap pun datang
January 08, 2018, 12:45:40 PM
Reply #4
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4732
  • Gender: Male

[cut]

Jikalau di dalam Perjanjian Lama tentang “garam” sudah sedemikian buruknya, apakah mungkin Tuhan Yesus mengartikannya sebagai sesuatu yang baik? Tidak mungkin bukan. Di bawah ini ada beberapa contoh yang dapat kita baca dari Alkitab tentang garam atau asin.

[cut]


Anda harus paham dalam menafsirkan perkataan dalam Kitab Suci kita harus lihat konteksnya, artinya tidak bebas sesuka hati kita memahami asalkan ada disebutkan sama dianggap berkaitan.

Garam itu dipakai mengambarkan banyak hal, namun sebenarnya dapat dilihat dari keberadaannya. Garam yang dikaitkan dengan makanan dan garam yang dikaitkan dengan kekeringan adalah dua hal yang berbeda. Ular tembaga yang dibuat oleh Musa berbeda dengan ular yang dinubuatkan pada akhir zaman. Singa yang mengaum hendak menelan mangsa juga tidak sama dengan Singa Yehuda yang mengaum dihadapan lawanNya. Anda harus berhati-hati dalam membaca dan menafsirkan sendiri.

Sepenggal ayat yang kamu sebutkan itu adalah bagian dari sebuah perikop yang disampaikan Yesus.

Matius 5
13  "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
14  Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
15  Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
16  Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Kita diseumpamakan sebagai garam dan terang untuk mengambarkan bagimana kita mempengaruhi sekitar kita. Karena itu dijelaskan tentang garam yang tawar tidak ada lagi gunanya, menunjukan garam yang dimasksud digunakan untuk sesuatu yang berguna tentunya. Sama seperti pelita kalau ditaruh dibawah gantang untuk menerangi apa? Tidak ada gunanya. Dua perbandingan ini sama dan kita harus melihatnya sebagai kesatuan.

Jika anda cermati Yesus membicarakan tentang fungsi dari dua hal tersebut, fungsi dari garam dan fungsi dari pelita, satu mengarami satu menarangi. Maka jika kita cermati pernyataan dalam ayat 16, "perbuatan baik yang memuliakan Bapamu yang di sorga." seharusnya kita tidak boleh melenceng dari maksud Yesus yang disampaikan jelas tersebut. Bahwa garam yang dimaksud adalah bersifat positif, yaitu memberi rasa atau membumbui makanan sehingga dapat dinikmati.

Kata garam sebagai bumbu masakan juga disebutkan dalam Kolose 4:6, "Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang." Dimana kata "jangan hambar" sebenarnya mengandung kata Yunani 'halas' yang artinya "garam." - dimana terjemahan liniernya "dibumbui garam" atau "diasinkan garam" (ἅλατι ἠρτυμένος).

Garam jika digambarkan sebagai bumbu masakan maka hal itu sebagai perumpamaan tentang hal-hal yang baik, yaitu perbuatan baik yang penuh dengan kasih Allah yang dirasakan oleh orang sekitarnya. Jika lampu memancarkan terang adalah perbuatan baik yang dilihat orang maka garam adalah perbuatan baik yang dirasakan dampaknya oleh orang sekitar kita.

Garam jika digambarkan sebagai kekeringan (hilangnya air sehingga tersisa garam) maka itu tidak bisa disamakan maksudnya dengan garam sebagai bumbu masakan. Lihat konteksnya.

Semoga mencerahkan.
« Last Edit: January 08, 2018, 12:54:56 PM by Krispus »
January 12, 2018, 09:29:37 AM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 982
  • BIBLE IS TRUTH
Kali ini mailah kita membahas ayat2 dari Khotbah Tuhan Yesus di Bukit, sebagaimana tercantum di Injil Matius, Markus, dan Lukas.

Matius 5:13
“Kamu adalah Garam Dunia. Jika garam itu menjadi tawar dengan apakah ia diasinkan?Tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Pada umumnya pembahasan tentang “Garam Dunia” itu bernada baik. Garam Dunia diartikan sebagai sesuatu perbuatan yang menyenangkan umat manusia dan oleh sebab itu merupakan hal yang menyukakan hati Tuhan. Garam Dunia dianggap suatu contoh kehidupan yang positif atau berguna bagi masyarakat. Dapat memberikan “rasa” dari kehambaran yang ada dalam Dunia ini.

Apalagi disertai dengan penjelasan bahwa jika garam itu menjadi tawar, maka ia tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Demikian pula kalau kita membacanya dalam Injil Markus atau Lukas, yakni:

Markus 9:50
“Garam memang baik, tetapi, garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?”Hendaklah kami selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lainnya.

Lukas 14:34
Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?
Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja.

Ayat2 inilah menjadi dasar pengertian bahwa Garam Dunia itu adalah hal2 yang baik di mata Tuhan dan oleh karenanya mewajibkan agar hidup kita menjadi “Garam Dunia”.
Apakah benar demikian?
Jikalau kita teliti dengan lebih cermat ayat2 tersebut, akan terasa kurang pas apabila kita sampai pada kesimpulan seperti di atas. Marilah kita bahas lebih mendetail lagi. Apakah benar bahwa pengertian tentang garam atau asin merupakan pengertian yang baik atau positif dalam Alkitab?

Marilah kita baca Kejadian 19:26
Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.

Alkitab menceritakan kepada kita suatu kisah yang tragis tentang isteri Lot. Malaikat Tuhan sudah memperingatkan kepada mereka yang akan diselamatkan dari Sodom dan Gomora pada waktu Tuhan menghukumnya. Namun isteri Lot menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam. Kisah isteri Lot ini jelas merupakan peringatan bagi kita agar kita tidak menoleh lagi kepada kehidupan lama yang sudah kita tinggalkan. Tiang garam merupakan perwujudan yang mengerikan dari suatu hukuman terhadap kecintaan akan kehidupan duniawi (kehidupan lama) yang harus ditinggalkan oleh anak2 Tuhan (anak2 ketebusan yang sudah dibeli oleh Darah Kristus yang amat mahal). Disini kita melihat bahwa pengertian menjadi “Tiang Garam” adalah hal yang negative. Tidak ada pengertian lain bahwa Tiang Garam adaah identic dengan kematian.

Jikalau di dalam Perjanjian Lama tentang “garam” sudah sedemikian buruknya, apakah mungkin Tuhan Yesus mengartikannya sebagai sesuatu yang baik? Tidak mungkin bukan. Di bawah ini ada beberapa contoh yang dapat kita baca dari Alkitab tentang garam atau asin.

Mazmur 107: 33-34
Dibuatnya sungai2 menjadi padang gurun, dan pancaran2 air menjadi tanah gersang, tanah yang subur menjadi padang asin, oleh sebab kejahatan orang2 yang diam di dalamnya.

Jelas ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan mengutuk orang2 jahat dengan mengubah berkat2nya menjadi bencana2 yang mengerikan karena ketidaktaatan manusia. Yang dimaksud dengan “Padang Asin” adalah suatu kematian dan bukanlah sesuatu hal yang harus ada dalam hidup kita.

Yeremia 17:5-6
Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh daripada Tuhan. Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaa baik; ia akan tinggal di tanah hangus di padang gurun, di negeri Padang Asin yang tidak berpenduduk.

Jelas sekali bahwa Padang Asin merupakan pengertian yang buruk sekali dari Firman Allah.

Menjadi garam dunia bisa juga diartikan bahwa semua perbuatan kita kenjadi contoh bagaimana harus hidup menurut kehendak Tuhan
January 12, 2018, 09:15:05 PM
Reply #6
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 8
  • Gender: Male
  • Denominasi: pentakosta
Terima kasih atas tanggapannya yang baik. Ijinkan saya mencoba memberi sedikit tanggapan.

Sebagaimana dalam penjelasan Matius 5:13: Kamu adalah GARAM DUNIA, jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Hal ini berbeda maksud dengan Kamu adalah TERANG DUNIA.

Terang dunia menerangkan bahwa di dalam diri manusia terdapat hal-hal yang positif (terang) yang dapat menjadi teladan dari perbuatan baik. Dan konteks terang diseluruh Firman Tuhan bisa kita simpulkan sesuatu yang positif.

Namun sayangnya di dalam diri manusia itu juga terdapat keinginan2 duniawi yang merupakan musuh dari kehendak Allah/Roh. Dan apabila keinginan2 ini menjadi tawar atau lenyap, (dibuang dan diinjak orang), maka itulah yang dinamakan lahir kembali atau lenyapnya kehidupan lama kita.

Demikian, semoga mencerahkan. Tuhan Yesus memberkati
January 13, 2018, 02:51:35 PM
Reply #7
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4732
  • Gender: Male
Terima kasih atas tanggapannya yang baik. Ijinkan saya mencoba memberi sedikit tanggapan.

Sebagaimana dalam penjelasan Matius 5:13: Kamu adalah GARAM DUNIA, jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Hal ini berbeda maksud dengan Kamu adalah TERANG DUNIA.

Terang dunia menerangkan bahwa di dalam diri manusia terdapat hal-hal yang positif (terang) yang dapat menjadi teladan dari perbuatan baik. Dan konteks terang diseluruh Firman Tuhan bisa kita simpulkan sesuatu yang positif.

Namun sayangnya di dalam diri manusia itu juga terdapat keinginan2 duniawi yang merupakan musuh dari kehendak Allah/Roh. Dan apabila keinginan2 ini menjadi tawar atau lenyap, (dibuang dan diinjak orang), maka itulah yang dinamakan lahir kembali atau lenyapnya kehidupan lama kita.

Demikian, semoga mencerahkan. Tuhan Yesus memberkati


Kembali ke Alkitab om, mohon kembali ke Alkitab dalam memahami Firman Allah, sebaiknya pahami seluruh maksud yang disampaikan Yesus. Garam dan Terang adalah dua hal yang menggambarkan hal yang sama. Garam adalah tentang apa yang dirasakan orang dan terang adalah tentang apa yagn dilihat orang. Tidak ada mistik di dalamnya om....

Garam itu sendiri seperti halnya Ular, Singa dan sebagainya dapat mengambarkan hal yang buruk dan dapat juga mengambarkan hal yang baik. Garam saat dibicarakan sebagai sesuatu yang kering, itulah maksudnya buruk, atau negatif dalam bahasa om. Sedangkan kalau garam dibicarakan sebagai bumbu masakan maka garam digambarkan baik, atau positif dalam bahasa om.

Coba periksa sekali lagi om....
« Last Edit: January 15, 2018, 12:14:28 PM by Krispus »
February 01, 2018, 09:22:36 AM
Reply #8
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3677
  • Gender: Male
  • Gereja Katolik Roma
    • [b][i]Allah, demi menyatakan DiriNya kepada manusia dalam bentuk yang baru dan utuh, yang memulai era Penebusan, tiada memilih bagi tahta-Nya sebuah bintang di langit, pun istana dari seorang yang berkuasa. Pula Ia tak menghendaki sayap-sayap para malaika
Garam yang baik yg dimaksud adalah bagaimana kita bisa menjadi bermanfaat bagi dunia. Sebab memang garam memberi cita rasa bagi makanan. Namun Jika Garam itu asin, sebaliknya jika garam itu hambar maka tidak ada fungsi apa2. Oleh karena itu garam bisa diartikan suatu berkat dari TUHAN yg "keasinannya" bisa kita pertahankan sehingga dapat berdaya guna bagi yg lain.

Kita adalah garam dunia dan terang dunia. Tapi jika kita gagal dalam misi kita, maka kita akan menjadi garam yang hambar dan tak berguna. Tak suatupun yang dapat memberi kita rasa lagi, sebab Allah tak dapat memberikannya pada kita, mengingat bahwa itu telah diberikan kepada kita sebagai suatu anugerah, dan kkita  telah menghilangkan asinnya, dengan membasuhnya dalam air tawar kotor umat manusia, dengan memaniskannya melalui sarana kemanisan sensualitas yang rusak, dengan demikian mencampurkan garam murni Allah dengan kebobrokan kesombongan, ketamakan, kerakusan, percabulan, murka, kelambanan, sehingga ada sebutir garam dalam tujuh kali tujuh butir dari masing-masing kejahatan.
Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena Iman didalam YESUS KRISTUS (Galatia 3:25)
February 27, 2018, 06:11:09 AM
Reply #9
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 982
  • BIBLE IS TRUTH
Garam yang baik yg dimaksud adalah bagaimana kita bisa menjadi bermanfaat bagi dunia. Sebab memang garam memberi cita rasa bagi makanan. Namun Jika Garam itu asin, sebaliknya jika garam itu hambar maka tidak ada fungsi apa2. Oleh karena itu garam bisa diartikan suatu berkat dari TUHAN yg "keasinannya" bisa kita pertahankan sehingga dapat berdaya guna bagi yg lain.

Kita adalah garam dunia dan terang dunia. Tapi jika kita gagal dalam misi kita, maka kita akan menjadi garam yang hambar dan tak berguna. Tak suatupun yang dapat memberi kita rasa lagi, sebab Allah tak dapat memberikannya pada kita, mengingat bahwa itu telah diberikan kepada kita sebagai suatu anugerah, dan kkita  telah menghilangkan asinnya, dengan membasuhnya dalam air tawar kotor umat manusia, dengan memaniskannya melalui sarana kemanisan sensualitas yang rusak, dengan demikian mencampurkan garam murni Allah dengan kebobrokan kesombongan, ketamakan, kerakusan, percabulan, murka, kelambanan, sehingga ada sebutir garam dalam tujuh kali tujuh butir dari masing-masing kejahatan.

Kalau mau bermanfaat bagi dunia maka menurut saya beritakanlah Injil dimana mana bukan ajaran ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran Injil.
Utamakanlah mana yang paling utama diberitakan,itu sudah pasti benar adanya.
Itu kalau menurut saya.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)