Author Topic: Apa yang kita lihat, bukan apa yang sesungguhnya kita lihat  (Read 471 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

March 22, 2018, 01:37:54 PM
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 480
  • Denominasi: Protestan
http://www.gracedepth.com/apa-yang-kita-lihat-bukanlah-apa-yang-sesungguhnya-kita-lihat/

Apakah ada yang tau jasa pengiriman barang yang dinamakan FedEx? Mungkin beberapa dari kalian tau, dan mungkin beberapa dari kalian tidak tau. Mari saya tunjukkan logo dari FedEx, mungkin beberapa dari kalian mengenalnya setelah saya tunjukkan logo khas mereka.



Sesungguhnya, dulu FedEx ini disebut Federal Express, tetapi karena kebanyakan orang lebih suka menyebutnya sebagai FedEx, akhirnya perusahaan tersebut mengubah nama Federal Express menjadi FedEx. Pemimpin dari perusahaan mendapatkan banyak tawaran design untuk logo baru perusahaan mereka, dan akhirnya dia menemukan sebuah logo yang menurut dia pas untuk perusahaan mereka. Dia mengatakan kepada anggota tim perusahaan yang lain: “Saya telah memilih logonya! Saya ingin logo yang ada panahnya!”

Semua anggota tim bingung, “Hah? Panahnya? Memang ada logo yang memiliki panah?”

Si pemimpin perusahaan lalu menunjukkan logo yang telah dia pilih, “Yang ini loh! Kalian tidak lihat? Ada panah dianatara huruf e dan x dari logo FedEx ini!”

 



Jujur saja, saya sudah melihat logo Fedex ratusan bahkan ribuan kali di dalam hidup saya, tetapi tidak pernah satu kali pun saya sadar bahwa ada sebuah panah diantara huruf e dan x dari logo FedEx. Dan ternyata bukan hanya saya saja yang tidak pernah menyadarinya, ternyata 90% orang-orang juga tidak pernah sadar akan adanya panah tersebut

Yang ingin saya coba sampaikan dari ini semua adalah: “Mungkin apa yang kita pikir kita lihat, bukanlah apa yang sesungguhnya kita lihat—mungkin ada sesuatu yang lebih dari apa yang kita lihat.”

 

Teman-teman, pada renungan Kristen hari ini kita mau belajar dari kisah Rasul Paulus. Seperti yang kita ketahui, Rasul Paulus hidupnya lumayan berat—dia dilempari batu, digigit ular, dipenjara, dipecut, dan lain-lain. Tentu hal-hal ini bukanlah hal yang telihat menyenangkan; ini semua terlihat seperti sebuah penderitaan yang sangat luar biasa. Namun, Rasul Paulus mengatakan suatu hal yang sangat menarik pada 2 Korintus 4:16-18:

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”

Hah? Dilempari batu… Dipecut… Digigit ular… Dipenjara… Diancam mati setiap hari… Ini semua dilihat Rasul Paulus sebagai sebuah penderitaan ringan? Kok bisa Rasul Paulus mengatakan ini semua sebagai sebuah penderitaan ringan?

Rasul Paulus mengatakan kepada kita tentang rahasianya melalui kalimatnya: “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (2 Korintus 4:17-18)

 

Rasul Paulus tidak menghitung hidupnya dari berapa tahun dia akan hidup di dunia ini, melainkan dia menghitung hidupnya dari tahun-tahun yang tak terhingga yang akan dia miliki setelah dia mati. Rasul Paulus sadar bahwa hidupnya di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari hidupnya; dia memiliki sebuah ide gila bahwa Tuhan yang telah membangkitkan Yesus dari kubur adalah Tuhan yang sama yang akan membangkitkan dia dari kubur menuju kemuliaan di dalam kehidupan kekal.

Rasul Paulus ingin memberikan pesan kepada kita: “Penderitaanmu hanyalah sementara, tetapi kemuliaan yang Tuhan sediakan adalah untuk selama-lamanya.”

Melalui kisah hidup Rasul Paulus, saya belajar bahwa kita dapat memilih—melihat apa yang terjadi menggunakan lensa dunia atau lensa Tuhan. Karena jika menggunakan lensa dunia, apa yang Rasul Paulus hadapi adalah sebuah hal yang sangat buruk. Tetapi untuk Rasul Paulus yang menggunakan lensa Tuhan, dia melihat penderitaan-penderitaannya sebagai sesuatu yang ringan, dan bahkan merupakan sarana untuk menyatakan kemuliaan Tuhan kepada orang-orang.

Baca lengkapnya di:
Add line atau instagram kami untuk mendapatkan notifikasi update renungan terbaru dari website kami.
Official Line: @pkx3578b (pakai @)
Instagram: @gracedepth
Instagram penulis: @revyhalim

Semoga renungan-renungan kami bisa menjadi berkat.God Bless! :D
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)