Author Topic: salah satu bibit awal keributan rumah tangga  (Read 213 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

July 17, 2018, 09:40:29 PM
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 14
  • Denominasi: protestan
saya curhat : seorang ibu muda selalu mempunyai dream bahwa anaknya harus lebih pandai dari yang lain (  saya bilang : ibu muda ....karena kalian sudah ada yang pasti berkomentar ), apalagi anak pertama, mereka seakan2 diperlombakan secara tidak langsung oleh para ibunya, untuk berkompetisi, dimulai dari tk A, tk B, lalu mulai puncaknya di kelas 1 sd, semua ibu2 muda seperti kesurupan, harus anaknya no 1, ini terjadi di semua sekolah, dan semua teman2 istri saya, dan teman2 saya yang perempuan, ( tidak terbantahkan lho )  yang terjadi :

a. suara mulai berteriak kencang dan keras di rumah apalagi saat mengajari anak
b. tidak ada satu orang ibu pun yang sabar di dunia ini saat mengajari anaknya ( cam kan itu !! )

yang terjadi suami mulai kesal, kasihan dengan anak, akhirnya sering bertengkar karena hal ini. inilah awal keributan dan berakhir dengan kekesalan, dan terkadang tersimpan menjadi dendam salah satu pasangan. suami selalu merasa tidak perlu seperti itu mengajari anak, tetapi ibu merasa anak ini sudah diajar berkali2 tetapi tidak mudeng. keributan terkadang bisa besar karena masalah ini.

sebetulnya siapa yang sekolah : ibu atau anaknya ?  apakah seorang anak sd kelas 1 atau kelas 2 harus belajar mati2 soal science atau perkalian atau have fun ? jujur aja : sekolah semacam tingkat penabur, hafalannya banyak atau tidak ? ( anak saya di penabur ), saya bertanya kepada teman2 istri saya, pertanyaan menjebak dan sekaligus bodoh, " kalian waktu sekolah juara semua yah ?, kok pada kepengen anak2nya harus selalu bernilai bagus ?", semua diam, gampang saja, jawabnya " bukan ", terus seorang yang bukan juara hendak mengajari anaknya juara ( @!#$!#@$ ), saya cuma geleng2.

ajarlah anakmu dengan tongkat dan gada...bukan dengan teriakan kencang, cubit dan pukul meja. tongkat dan gada...bukan telapan tanganmu, kenapa Tuhan minta dengan tongkat dan gada, kenapa FIrmanNya  bukan berbunyi  " pukullah anakmu dengan tanganmu sendiri selagi masih ada waktu, supaya ia tidak mempermalukan mu ketika masa tuamu "

saya balik lagi bertanya kepada ibu2 teman istri saya ;" kok sekarang udah smp enggak segetol dulu waktu ngajarin anak ?", diam aja, bukankah lebih penting ketika smp sma, karena itu sudah merupakan penjurusan ?, masa depan anakmu ditentukan disini kan ?  bukankah ketika sd begitu tegang mengajar, kok sekarang loyo ngajar anak smp ? ( udah nyerah kan ama fisikanya dan mat nya ? ),

kita boleh berkoar2 soal Firman Tuhan, tetapi kita juga harus jeli, seorang yang tidak sabar mengajari anak, haruslah meminta pihak lain untuk mengajarinya, mungkin kita masih mampu secara otak, tetapi seorang ibu muda tidak mampu secara emosional. adalah lebih baik suami atau ayah yang mengajar anak di rumah. saya paling hepi ( selalu enjoy ) saat saya duduk di tengah mengajar anak saya, satu di kiri dan satu di kanan, terkadang kita ngobrol soal masalah sosial di sekolah mereka, terkadang saya mengajari mereka soal life, I miss that time ( really ) , no defense untuk curhat ini.
July 17, 2018, 10:14:09 PM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2044
  • Gender: Male
  • Denominasi: Bukan Denominasi
Rawat empat pilar kebangsaan, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika
Kita Bhinneka kita Indonesia
July 18, 2018, 06:49:08 PM
Reply #2
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 163
  • Gender: Male
  • Denominasi: Protestan
Saya juga stress jika anak tetangga mulai diajari ibunya membuat PR (loh kok jadi saya yg stress ??)
July 19, 2018, 04:09:33 PM
Reply #3
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 561
  • Gender: Male
    • Tertiga
  • Denominasi: Kristen
kita boleh berkoar2 soal Firman Tuhan, tetapi kita juga harus jeli, seorang yang tidak sabar mengajari anak, haruslah meminta pihak lain untuk mengajarinya, mungkin kita masih mampu secara otak, tetapi seorang ibu muda tidak mampu secara emosional. adalah lebih baik suami atau ayah yang mengajar anak di rumah. saya paling hepi ( selalu enjoy ) saat saya duduk di tengah mengajar anak saya, satu di kiri dan satu di kanan, terkadang kita ngobrol soal masalah sosial di sekolah mereka, terkadang saya mengajari mereka soal life, I miss that time ( really ) , no defense untuk curhat ini.

Yes!
Soal life itu yg penting diajarkan
Bahkan melalui death belajar life
Hingga paham mengindahkannya
Paham apa faktor2 pendukungnya
Fungsi2nya, penggandaannya, dll

Dgn berandai2 pun kita dpt menggali potensi dirinya
Hingga memfokuskan dirinya hingga belajar mandiri
Mandiri bersama-Nya, spt mencar dr menara Babel

Salam Damai!
« Last Edit: July 20, 2018, 10:00:06 AM by Maren Kitatau »
Firman itu hidup dan powerful dan lebih tajam dr pedang bermata dua manapun
Ia dpt menikam pun menyayat memisahkan jiwa dan roh, sendi2 dan sumsum
Ia sanggup membedakan akal pikir dan maksud hati yang sesungguhnya
July 19, 2018, 04:25:52 PM
Reply #4
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 241
  • Denominasi: Katolik
Karena otak anak sedang dalam tahap perkembangan, tidak boleh diforsir/dipaksa terlalu keras.
Para ibu ini sepertinya sudah lupa bahwa ketika mereka SD juga mengalami kesulitan yang sama.
Otak mereka itu dalam tahap perkembangan. Jadi jangan samakan otak/pikiran anak dengan otak/pikiran orang yang sudah dewasa.
Belajar itu harus menyenangkan. Kalau tidak belajar itu hanya sekedar selamat bisa naik kelas/lulus.
1 Korintus 10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
July 20, 2018, 09:52:47 AM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 561
  • Gender: Male
    • Tertiga
  • Denominasi: Kristen
Abad Waspada
Kita hrs mulai heran melihat anak & cucu kita di abad waspada ini. Kotengok banyak sekali anak2 yg ligat mencet2 HP membuka fitur2 dunia maya. Kurasa tak berlebihan jika kita hrs waspada. Mungkin hubungan batin anak-ortu tak akan terlalu lama dan tak akan terlalu mendalam, jika terus dibiarkan mereka ter-tarik2 oleh dunia maya yaitu oleh para penguasa2 frekwensi di angkasa. Tempo hari istriku kutegur, bahkan hingga keras sebab pagi2 yg duluan dikutak-katiknya HP, malam2 yg terahir dikatok-kutuknya HP juga. Aya-aya-wae!

Kamu hidup di dlm-nya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini,
karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa,
yaitu roh yg sekarang sedang bekerja
di antara org2 durhaka.
[Epe.2.2]

Nah! Apakah karena pengalaman iman dan pengharapan  kpd Tunan bagai tidak ada kepastian, maka manusia lebih tergoda pd janji2 duniawi yg sekali pencet langsung jadi? Apakah iman dan pengharapan itu terlalu hampa, tak menggetarkan pertumbuhan rohani kita lagi?
---

Di bawah ini terjemahan dari:
"Millennials in the Workplace."
by Simon Sinek.

Milenia adalah suatu kelompok org yg lahir antara 1984-2000 (red: definisi lain mengatakan yg dewasa pd thn 2000 hanya 20% yg peduli Firman Tuhan). Kadang mereka menyebut dirinya “Y-Gerenation”.  Mereka diajarkan utk narkhis, kerap berkata “sing penting gue” (self-interested). Biasanya tidak fokus dlm bicara atau mendengar dan pemalas, tak suka berpikir jauh. Itu disebabkan karena terlalu banyak melihat hal-hal kepemimpinan, maka ketika ditanya apa yg mereka maui, mereka berkata: "tujuan, dampak, dan kebebasan diri". Dan, mereka mendapatkan itu semua, tapi tetap masih tidak bahagia, seolah ada penggalan yg hilang.

1. Asuhan
Ada strategi asuhan yg salah. Mereka selalu dikatakan sangat spesial, mereka dapat memiliki apa saja yg mereka ingini dlm hidup ini. Beberapa bersekolah di sekolah terhormat, bukan karena keinginannya tapi karena keinginan org-tua. Mereka dpt nilai “A” bukan karena upaya mereka tapi karena gurunya nggak mau menghadapai masalah komplain dari org-tua murid. Ini pasti akan menurunkan nilai kerja keras. Saat mereka bekerja di dunia nyata, mereka nyadar tidak se-spesial dulu, dan mamanya pun tak dapat memberikan promosi jabatan. Pd akhirnya mereka tak menjadi apa2 dan tak bisa memperoleh apa2 yg diinginkannya [red: Yahudi pande make tongkat dgn akurat [Ams.13.24].

2. Teknologi
Kemesraan dgn media sosial akan melepaskan hormon dopamine, yakni ketika melepas text2 lalu mendapat respon dr org lain, kemudian  senyum sendiri dan kesenangan itu makin naik dan naik terus. Kimia kesenangan ini adalah sama dgn spt minum minuman beralkohol, candu, berjudi, maka dari itu kemesraan dgn media sosial bisa menjadikan kecanduan. Ketika mereka setres, mereka tidak datang kpd se-seorang, malah pergi mencari alat teknologi sosial media itu. Seperti halnya kecanduan apa pun, itu selalu merusak relasi hidup, mengacaukan keuangan dan menghamburkan waktu. Kemesraan itu tidak akan membangun hubungan yg dalam. Buanglah godaan itu, maka hidup akan lebih mudah.

(bersambung)
Firman itu hidup dan powerful dan lebih tajam dr pedang bermata dua manapun
Ia dpt menikam pun menyayat memisahkan jiwa dan roh, sendi2 dan sumsum
Ia sanggup membedakan akal pikir dan maksud hati yang sesungguhnya
July 23, 2018, 01:40:28 PM
Reply #6
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 561
  • Gender: Male
    • Tertiga
  • Denominasi: Kristen
(sambungan)

3. Ketidaksabaran
Kelompok milenial bertumbuh di dunia ini karena gratifikasi yg instan, yaitu setiap apa yg dimauin tinggal “pencet” dapet. Mau nonton film apa, tinggal tonton, tak perlu tunggu tgl main-nya. Mau nonton konser musik klasik tak hrs nunggu bermingu-minggu. Apa yg dimauin gampang tersuguh secara instan. Ini sangat berbeda, jika bicara ttg kenyamanan kerja, persahabatan yg kuat, pemenuhan lapangan pekerjaan.  Hal itu memerlukan waktu, lambat, tak nyaman dan prosesnya awut2an. Kpd generasi milenia yg muda perlu diajarkan “sabar dan berpengharapan”, suatu hal yg benar2 penting dan berguna.  Job fulfillment, joy, self-confident dan setting keahlian, semuanya itu memerlukan waktu. Beberapa proses mungkin mudah dijalani, tapi keseluruhannya adalah jalan yg panjang. Jika mereka tidak mau bertanya dan minta tolong, maka mereka tidak akan sampai mencapai ke pemenuhan kehidupan yg berharga dan mendalam.

4. Lingkungan
Generasi ini hanya peduli pd pencapaian yg pendek2 dan instan dari pada perolehan dlm jangka panjang. Mereka lebih peduli pd “tahun” dari pada “seumur hidup”. Kita perlu kerja sama yg total utk membantu mereka, karna hal ini bukan akibat kesalahan mereka semata, melainkan kerena kekurangan kepemimpinan yg baik di dunia ini. Kini krisis teladan, tidak ada lagi panutan yg baik pd segala bidang: baik dlm politik, ekonomi, sosial dan budaya. Jika mereka kita letakkan dlm lingkungan kompetensi, mungkin akan terbangun percaya diri, terbangun keahlian bekerja-sama dgn hubungan yg mendalam. Juga akan membantu mereka mengatasi tantangan di dalam dunia digital dan mencari keseimbangan yg lebih baik di dlm hidupnya.

Hrs dicapai bahwa:
Jika kau menjauhkan HP-mu, kau hrs enjoy di dunia nyata, dpt menikmati bunga2an di sekeliling, dpt mengaktifkan pikiran yg meng-gapai2, meng-ancer2 rahasia Tuhan dan lalu akan muncul ide2 dan inovasi2 yg membangun hidup. Hidup ini slow but sure, teratur dan konsisten, kita hrs menciptakan mekanismenya agar interaksi itu bisa terjadi.

Salam Damai!
Firman itu hidup dan powerful dan lebih tajam dr pedang bermata dua manapun
Ia dpt menikam pun menyayat memisahkan jiwa dan roh, sendi2 dan sumsum
Ia sanggup membedakan akal pikir dan maksud hati yang sesungguhnya
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)