Author Topic: pertanyaan seputar kesempurnaan manusia  (Read 638 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 17, 2018, 06:09:01 PM
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252
  • Denominasi: Kharismatik
Saya baru bergabung disini.  Walaupun sudah sering baca topik-topik yang menarik, tapi baru register karena ada beberapa pertanyaan yang saya belum temukan penjelasan di sini atau di tempat lain (mungkin saja ada tapi dalam pencaharian saya belum menemukan).  Mohon pencerahannya.

Pertanyaan :

1.  Setelah kematian, manusia yang sudah dibenarkan dan menerima keselamatan melalui korban penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus di kayu salib, apakah dapat berbuat dosa?  Atau dalam kata lain, apakah manusia memiliki kehendak bebas setelah kematian? 

2.  Kalau dalam kehidupan baru nantinya, manusia memiliki kehendak bebas, apa jaminannya  ia akan memilih untuk tidak melakukan pelanggaran?  (iblis dan pengikutnya bukankah juga melakukan hal yang sama).

3. Kalau dalam kehidupan baru nantinya, manusia tidak memiliki kehendak bebas, berarti sebenarnya ia bukan manusia lagi, karena esensi of being human, yaitu free will to make a choice, dicabut.

4.  Bukankah kalau Adam dan Hawa tidak berdosa, tetapi tetap saja manusia membutuhkan korban penebusan (Yesus Kristus)? Karena  sesempurna apapun manusia (anggap saja Adam dan Hawa tidak melakukan dosa),  ia tidak "maha" segalanya sehingga ia pasti tidak luput dari kesalahan - contoh ia tidak "maha tahu" (sehingga ia dapat mengetahui semua akibat dari tindakannya), ia tidak "maha pengasih" sehingga ia dapat mengasihi orang lain dengan sempurna apapun situasinya, ia "tidak maha sabar" sehingga dalam situasi apapun yang dialaminya, ia dapat bertahan, pertimbangannya tidak maha bijaksana sehingga semua yang ia lakukan benar. 

Kebijaksanaan dan kesalehan yang manusia peroleh adalah berdasarkan proses pengalaman di bawah terang Firman dengan kemampuan yang diberikah oleh ROH KUDUS dan proses pengalaman dimulai dari melakukan sesuatu dengan salah, kemudian diperbaiki. 

Kalau Adam dan Hawa tidak melakukan dosa, bisa saja Habel atau Kain yang melakukan dosa yang pertama. Kalau tidak, bisa saja keturunan mereka.  Kenapa?  Karena kesempurnaan manusia "terbatas".  Sehingga tidak boleh tidak, Yesus tetap harus datang untuk menyelamatkan umat manusia. 

Apakah pendapat ini dapat diterima?  Dan kalau tidak, tolong dijelaskan sanggahannya.




September 18, 2018, 01:48:01 AM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 792
  • Denominasi: Protestan
Saya baru bergabung disini.  Walaupun sudah sering baca topik-topik yang menarik, tapi baru register karena ada beberapa pertanyaan yang saya belum temukan penjelasan di sini atau di tempat lain (mungkin saja ada tapi dalam pencaharian saya belum menemukan).  Mohon pencerahannya.

Pertanyaan :

1.  Setelah kematian, manusia yang sudah dibenarkan dan menerima keselamatan melalui korban penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus di kayu salib, apakah dapat berbuat dosa?  Atau dalam kata lain, apakah manusia memiliki kehendak bebas setelah kematian? 

2.  Kalau dalam kehidupan baru nantinya, manusia memiliki kehendak bebas, apa jaminannya  ia akan memilih untuk tidak melakukan pelanggaran?  (iblis dan pengikutnya bukankah juga melakukan hal yang sama).

3. Kalau dalam kehidupan baru nantinya, manusia tidak memiliki kehendak bebas, berarti sebenarnya ia bukan manusia lagi, karena esensi of being human, yaitu free will to make a choice, dicabut.

4.  Bukankah kalau Adam dan Hawa tidak berdosa, tetapi tetap saja manusia membutuhkan korban penebusan (Yesus Kristus)? Karena  sesempurna apapun manusia (anggap saja Adam dan Hawa tidak melakukan dosa),  ia tidak "maha" segalanya sehingga ia pasti tidak luput dari kesalahan - contoh ia tidak "maha tahu" (sehingga ia dapat mengetahui semua akibat dari tindakannya), ia tidak "maha pengasih" sehingga ia dapat mengasihi orang lain dengan sempurna apapun situasinya, ia "tidak maha sabar" sehingga dalam situasi apapun yang dialaminya, ia dapat bertahan, pertimbangannya tidak maha bijaksana sehingga semua yang ia lakukan benar. 

Kebijaksanaan dan kesalehan yang manusia peroleh adalah berdasarkan proses pengalaman di bawah terang Firman dengan kemampuan yang diberikah oleh ROH KUDUS dan proses pengalaman dimulai dari melakukan sesuatu dengan salah, kemudian diperbaiki. 
Sebelumnya, coba definisikan dulu kehendak bebas menurut sudut pandang elo, bray.

Terus coba bandingkan dengan poin-poin berikut :

[1731] Kebebasan adalah kemampuan yang berakar dalam akal budi dan kehendak, untuk bertindak atau tidak bertindak, untuk melakukan ini atau itu, supaya dari dirinya sendiri melakukan perbuatan dengan sadar. Dengan kehendak bebas, tiap orang dapat menentukan diri sendiri. Dengan kebebasannya, manusia harus tumbuh dan menjadi matang dalam kebenaran dan kebaikan. Kebebasan itu baru mencapai kesempurnaannya apabila diarahkan kepada Allah, kebahagiaan kita.

[1732] Selama kebebasan belum mengikatkan diri secara definitif kepada Allah, miliknya tertinggi, terdapatlah di dalamnya kemungkinan untuk memilih antara yang baik dan yang jahat, jadi entah tumbuh dalam kesempurnaan atau gagal dan berdosa. Kebebasan merupakan kekhasan dari setiap perbuatan yang sungguh-sungguh manusiawi. Ia menjadi dasar bagi pujian atau celaan, jasa atau kesalahan.    

[1733] Semakin ia melakukan yang baik, semakin bebas puIa manusia. Kebebasan yang benar hanya terdapat dalam pengabdian kepada yang baik dan adil. Keputusan kepada ketidaktaatan dan kepada yang jahat adalah penyalahgunaan kebebasan dan membuat orang menjadi hamba dosa Bdk. Rm 6:17..    


Kalau Adam dan Hawa tidak melakukan dosa, bisa saja Habel atau Kain yang melakukan dosa yang pertama. Kalau tidak, bisa saja keturunan mereka.  Kenapa?  Karena kesempurnaan manusia "terbatas".  Sehingga tidak boleh tidak, Yesus tetap harus datang untuk menyelamatkan umat manusia. 
Nah, di atas adalah contoh paling simpel penggunaan "kehendak bebas" versi elo, bray.
September 18, 2018, 05:11:34 AM
Reply #2
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 915
Saya baru bergabung disini.  Walaupun sudah sering baca topik-topik yang menarik, tapi baru register karena ada beberapa pertanyaan yang saya belum temukan penjelasan di sini atau di tempat lain (mungkin saja ada tapi dalam pencaharian saya belum menemukan).  Mohon pencerahannya.

Pertanyaan :

1.  Setelah kematian, manusia yang sudah dibenarkan dan menerima keselamatan melalui korban penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus di kayu salib, apakah dapat berbuat dosa?  Atau dalam kata lain, apakah manusia memiliki kehendak bebas setelah kematian? 

2.  Kalau dalam kehidupan baru nantinya, manusia memiliki kehendak bebas, apa jaminannya  ia akan memilih untuk tidak melakukan pelanggaran?  (iblis dan pengikutnya bukankah juga melakukan hal yang sama).

3. Kalau dalam kehidupan baru nantinya, manusia tidak memiliki kehendak bebas, berarti sebenarnya ia bukan manusia lagi, karena esensi of being human, yaitu free will to make a choice, dicabut.

4.  Bukankah kalau Adam dan Hawa tidak berdosa, tetapi tetap saja manusia membutuhkan korban penebusan (Yesus Kristus)? Karena  sesempurna apapun manusia (anggap saja Adam dan Hawa tidak melakukan dosa),  ia tidak "maha" segalanya sehingga ia pasti tidak luput dari kesalahan - contoh ia tidak "maha tahu" (sehingga ia dapat mengetahui semua akibat dari tindakannya), ia tidak "maha pengasih" sehingga ia dapat mengasihi orang lain dengan sempurna apapun situasinya, ia "tidak maha sabar" sehingga dalam situasi apapun yang dialaminya, ia dapat bertahan, pertimbangannya tidak maha bijaksana sehingga semua yang ia lakukan benar. 

Kebijaksanaan dan kesalehan yang manusia peroleh adalah berdasarkan proses pengalaman di bawah terang Firman dengan kemampuan yang diberikah oleh ROH KUDUS dan proses pengalaman dimulai dari melakukan sesuatu dengan salah, kemudian diperbaiki. 

Kalau Adam dan Hawa tidak melakukan dosa, bisa saja Habel atau Kain yang melakukan dosa yang pertama. Kalau tidak, bisa saja keturunan mereka.  Kenapa?  Karena kesempurnaan manusia "terbatas".  Sehingga tidak boleh tidak, Yesus tetap harus datang untuk menyelamatkan umat manusia. 

Apakah pendapat ini dapat diterima?  Dan kalau tidak, tolong dijelaskan sanggahannya.

1.Gambaran jelasnya bisa di lihat keberadaannya di langit yang baru dan bumi yang baru (Why21:1-2), juga tersedianya pohon kehidupan yang berbuah 12 kali setahun ( waktu berperan, sekalipun manusia akan hidup kekal disitu) juga dikatakan daunnya bisa menyembuhkan/berfungsi sbg obat (Why22:2-3) .

2. disitu dikatakan tidak ada laknat/hukuman/kutukan , Disitu manusia telah berpengetahuan penuh dan berkemampuan penuh (full state ) seperti malaikat hanya kalau malaikat tidak bertubuh tapi manusia punya tubuh, malaikat tidak bisa remedy sekali pilih hitam tidak lagi bisa putih dansebaliknya , tapi manusia bisa ( buah dan daun pohon kehidupan ), disini bisa ditarik kesimpulan bahwa pengetahuan dan kemampuan penuh itu implikasinya kepada kemungkinan untuk menyimpang dari order Allah, tapi lingkungan manusia berada memungkinkan untuk membatalkannya ( karena “waktu” bekerja mk: hitam berproses dari abu2 dan dalam perkembangan tersebut daun dan buah pohon kehidupan juga kemuliaan Allah meredamkannya ) ( tapi pada malaikat waktu tidak bekerja jadi hitam putih instant dan tidak ada default ).

3.Di sana manusia punya free will , tubuh mulianya akrab kepada kepatuhan akan Allah , tapi pengetahuannya perpotensi menyimpang dari order Allah, di alam sementara ini manusia tidak punya free will dalam demensi rohani, karena penjara tubuh fana ini pasti berkehendak menentang Allah (Rom3:10-12) jadi hanya punya negative will ( dalam dimensi rohani ).



bersambung

September 18, 2018, 05:13:44 AM
Reply #3
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 915
sambungan


4.Tidak. Adam dan Hawa dalam zero state ( tak berpengetahuan dan tak berkemampuan sama sekali ) , jadi dari dirinya sendiri tidak akan ada motif memberontak, sehingga sampai kapanpun mereka tetap hanya punya positive will ( mereka akan tetap hanya berdua , keturunan hanya bisa terjadi di alam sementara ini /setelah Kej2:17 di genapi / Eden seperti langit yang baru dan bumi yang baru manusia di situ akan seperti malaikat tidak kawin ), sehingga disana ada agen penipu yaitu iblis , dan juga buah pohon pengetahuan , jadi Eden story adalah format dari alam sementara ini (nama2 setelah Adam dan Hawa dalam kitab kehidupan yang telah tertulis sejak sebelum dunia dijadikan akan dikirimkanNya untuk merantau di alam sementara ini guna mencapai pertumbuhannya/ bisa memuliakan Allah Yes43:7 ,sebagai umat milikNya/ bangsa pilihan rohani 1Pet1:17 , Zak12:1 , Yer1:5 , Yoh1:12-13 ) , beberapa petunjuk akan ini : sekalipun rencana Allah akan manusia adalah banyak ( nama2 di kitab kehidupan sebelum dunia dijadikan/ vessel of mercy Rom9:23 ) yang diciptaNya di Eden hanya Adam dan Hawa, disana ada pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat , disana ada iblis sebagai penipu, Rom8:20 menjelaskannya.

Salam.
« Last Edit: September 18, 2018, 05:18:40 AM by Adhi Darma Wijaya »
September 18, 2018, 09:11:43 AM
Reply #4
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252
  • Denominasi: Kharismatik
Kehendak bebas yang saya maksud, bukan khusus dalam hal moralitas, tetapi lebih luas dan dilihat secara umum, dimana manusia memiliki kebebasan dalam bertindak (apapun tindakan itu, tidak harus berhubungan dengan salah atau tidak) dan dalam ketidaksempurnaannya sebagai manusia yang tidak "maha" segalanya, dia cenderung akan berbuat kesalahan.

Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, Ia tidak memberikan mereka "buku panduan" bagaimana cara untuk hidup.  Maksud saya dari "buku panduan" bukan hal-hal yang berhubungan dengan benar atau tidak, tetapi berhubungan dengan kehidupan secara umum.   Manusia tidak tahu bagaimana cara membangun rumah, membuat baju, membuat jadwal, menghitung waktu, menjalin hubungan yang baik, dlsbnya.  Ia tidak tahu kalau tindakannya dapat berdampak membuat orang lain marah, cemburu, pahit, dlsbnya.  Ia tidak memiliki "time stone" seperti yang dimiliki Dr. Strange yang dapat mengetahui seribu satu pilihan dan dampaknya (maaf saya suka nonton  :)).  Tidak tersedia buku panduan buat itu semua dan banyak lagi.  Oleh karena itu, manusia dalam kesempurnaannya (yang tidak sempurna) cenderung akan membuat kesalahan (tidak berhubungan denga moralitas) - hamartia, "missing the mark", yang umum.  Dan bagaimanapun, manusia memerlukan Juru Selamat, yaitu Yesus Kristus, untuk menebus kesalahan-2-nya.  Jadi kalau Adam dan Hawa tidak terbujuk di dalam taman untuk melakukan dosa, kemungkinan mereka akan melakukan dosa setelah itu atau keturunannya.

Itulah maksud saya dalam kehendak bebas (umum)

Contoh :

1. Manusia tidak tahu bagaimana cara membuat rumah.  Dia akan belajar melalui proses.  Sekarang kita melihat bangunan-2 pencakar langit, tetapi semua itu dimulai dari skala yang kecil dan uji coba.  Dalam melakukan uji coba, bukankah bisa terjalan "missing the mark"?  Adam waktu membangun rumah, bisa saja salah, kemudian ada tiang yang roboh jatuh menimpa anak atau istrinya, yang menyebabkan mereka lumpuh seumur hidup. Bukankah itu satu kesalahan - missing the mark.  Walaupun missing the mark itu tidak ada nilai moralnya, tetapi bisa berdampak pada keputusan moral - anaknya bisa kepahitan seumur hidup karena lumpuh.

2. Anggap saja sampai sekarang manusia belum berbuat dosa.  Saya mau pergi naik pesawat, beli tiket lion air.  Biasa kan, lion air sering terlambat.  Saya diharuskan tunggu.  Berapa lama saya harus sabar?  Dua jam? Tiga jam?  Ada keterlambatan yang bahkan bisa sampai belasan jam.  Oleh karena perbuatan lion air "missing the mark", saya melakukan kesalahan.


Sebelumnya, coba definisikan dulu kehendak bebas menurut sudut pandang elo, bray.

Terus coba bandingkan dengan poin-poin berikut :

[1731] Kebebasan adalah kemampuan yang berakar dalam akal budi dan kehendak, untuk bertindak atau tidak bertindak, untuk melakukan ini atau itu, supaya dari dirinya sendiri melakukan perbuatan dengan sadar. Dengan kehendak bebas, tiap orang dapat menentukan diri sendiri. Dengan kebebasannya, manusia harus tumbuh dan menjadi matang dalam kebenaran dan kebaikan. Kebebasan itu baru mencapai kesempurnaannya apabila diarahkan kepada Allah, kebahagiaan kita.

[1732] Selama kebebasan belum mengikatkan diri secara definitif kepada Allah, miliknya tertinggi, terdapatlah di dalamnya kemungkinan untuk memilih antara yang baik dan yang jahat, jadi entah tumbuh dalam kesempurnaan atau gagal dan berdosa. Kebebasan merupakan kekhasan dari setiap perbuatan yang sungguh-sungguh manusiawi. Ia menjadi dasar bagi pujian atau celaan, jasa atau kesalahan.    

[1733] Semakin ia melakukan yang baik, semakin bebas puIa manusia. Kebebasan yang benar hanya terdapat dalam pengabdian kepada yang baik dan adil. Keputusan kepada ketidaktaatan dan kepada yang jahat adalah penyalahgunaan kebebasan dan membuat orang menjadi hamba dosa Bdk. Rm 6:17..    

Nah, di atas adalah contoh paling simpel penggunaan "kehendak bebas" versi elo, bray.
September 18, 2018, 09:24:31 AM
Reply #5
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252
  • Denominasi: Kharismatik
terima kasih atas penjelasannya.  Secara umum saya setuju, tetapi saya tahu ada pendapat2 yang berbeda.  Boleh ada yang lain menanggapi?

1.Gambaran jelasnya bisa di lihat keberadaannya di langit yang baru dan bumi yang baru (Why21:1-2), juga tersedianya pohon kehidupan yang berbuah 12 kali setahun ( waktu berperan, sekalipun manusia akan hidup kekal disitu) juga dikatakan daunnya bisa menyembuhkan/berfungsi sbg obat (Why22:2-3) .

2. disitu dikatakan tidak ada laknat/hukuman/kutukan , Disitu manusia telah berpengetahuan penuh dan berkemampuan penuh (full state ) seperti malaikat hanya kalau malaikat tidak bertubuh tapi manusia punya tubuh, malaikat tidak bisa remedy sekali pilih hitam tidak lagi bisa putih dansebaliknya , tapi manusia bisa ( buah dan daun pohon kehidupan ), disini bisa ditarik kesimpulan bahwa pengetahuan dan kemampuan penuh itu implikasinya kepada kemungkinan untuk menyimpang dari order Allah, tapi lingkungan manusia berada memungkinkan untuk membatalkannya ( karena “waktu” bekerja mk: hitam berproses dari abu2 dan dalam perkembangan tersebut daun dan buah pohon kehidupan juga kemuliaan Allah meredamkannya ) ( tapi pada malaikat waktu tidak bekerja jadi hitam putih instant dan tidak ada default ).

3.Di sana manusia punya free will , tubuh mulianya akrab kepada kepatuhan akan Allah , tapi pengetahuannya perpotensi menyimpang dari order Allah, di alam sementara ini manusia tidak punya free will dalam demensi rohani, karena penjara tubuh fana ini pasti berkehendak menentang Allah (Rom3:10-12) jadi hanya punya negative will ( dalam dimensi rohani ).



bersambung
September 18, 2018, 09:26:59 AM
Reply #6
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252
  • Denominasi: Kharismatik
maksud saya tentang free will, bukan khusus dalam hal moral.  Tolong dilihat penjelasan saya dalam menanggapi respons dari brother virus kasih.

sambungan


4.Tidak. Adam dan Hawa dalam zero state ( tak berpengetahuan dan tak berkemampuan sama sekali ) , jadi dari dirinya sendiri tidak akan ada motif memberontak, sehingga sampai kapanpun mereka tetap hanya punya positive will ( mereka akan tetap hanya berdua , keturunan hanya bisa terjadi di alam sementara ini /setelah Kej2:17 di genapi / Eden seperti langit yang baru dan bumi yang baru manusia di situ akan seperti malaikat tidak kawin ), sehingga disana ada agen penipu yaitu iblis , dan juga buah pohon pengetahuan , jadi Eden story adalah format dari alam sementara ini (nama2 setelah Adam dan Hawa dalam kitab kehidupan yang telah tertulis sejak sebelum dunia dijadikan akan dikirimkanNya untuk merantau di alam sementara ini guna mencapai pertumbuhannya/ bisa memuliakan Allah Yes43:7 ,sebagai umat milikNya/ bangsa pilihan rohani 1Pet1:17 , Zak12:1 , Yer1:5 , Yoh1:12-13 ) , beberapa petunjuk akan ini : sekalipun rencana Allah akan manusia adalah banyak ( nama2 di kitab kehidupan sebelum dunia dijadikan/ vessel of mercy Rom9:23 ) yang diciptaNya di Eden hanya Adam dan Hawa, disana ada pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat , disana ada iblis sebagai penipu, Rom8:20 menjelaskannya.

Salam.
September 18, 2018, 09:36:38 AM
Reply #7
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6337
  • Mistery
  • Denominasi: Karismatik
Ini pertanyaan yg filosofis, shg diperlukan pemikiran filosofis utk meresponnya.
Bro silakan berimajinasi dengan bebas.

Pertanyaan :

1.  Setelah kematian, manusia yang sudah dibenarkan dan menerima keselamatan melalui korban penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus di kayu salib, apakah dapat berbuat dosa?  Atau dalam kata lain, apakah manusia memiliki kehendak bebas setelah kematian? 

2.  Kalau dalam kehidupan baru nantinya, manusia memiliki kehendak bebas, apa jaminannya  ia akan memilih untuk tidak melakukan pelanggaran?  (iblis dan pengikutnya bukankah juga melakukan hal yang sama).

3. Kalau dalam kehidupan baru nantinya, manusia tidak memiliki kehendak bebas, berarti sebenarnya ia bukan manusia lagi, karena esensi of being human, yaitu free will to make a choice, dicabut.

Kehendak tentu saja masih ada, kita di sorga tidak jadi robot.

Namun harap tidak menyamakan kondisi kekekalan di sorga dengan kondisi fana di bumi,
Di bumi ini kita sejak lahir dibesarkan di dunia dalam segala keinginan dan kekurangannya. Tubuh kitapun tubuh fana yg punya hasratnya tersendiri. Kita lahir dan dibesarkan tidak mengenal Tuhan scr langsung. Kehidupan di dunia dan kelemahan diri membuat kehendak manusia mengarah pd dosa.

Di sorga, kita hidup dalam tubuh yg baru yaitu tubuh kebangkitan. Keinginan tubuh kita kelak tidak sama dg skrg. Begitu juga kita hidup di sorga mengenal Tuhan scr langsung. Lingkungan sudah berbeda. Di sorga kita tidak punya lagi kebutuhan yg sama dg waktu di bumi.

Plus ada lagi faktor yg paling utama, semua orang yg nanti masuk sorga sudah tau betapa fatalnya dosa, betapa sakitnya penderitaan dan betapa buruknya hasil dari keegoisan krn kita semua pernah hidup di dunia. Faktor inilah yg membedakan manusia dg malaikat. Apakah kita yg sudah tau konsekuensi dosa akan mau berbuat dosa lagi, dalam keadaan kita tidak lagi 'butuh' berbuat dosa?

Jadi keadaan masa depan beda jauh dg keadaan skrg. Kl kita mengukur sorga dg ukuran bumi, mudah saja kita pikir di sorga manusia akan sama saja spt di bumi. Tp tidak begitu. Tubuh kita beda, lingkungan kita beda, kebutuhan kita beda, kedekatan kita dg Tuhan jg beda dan pengalaman kita selama di bumi dg segala masalahnya menjadikan paradigma kita berbeda.

Quote
4.  Bukankah kalau Adam dan Hawa tidak berdosa, tetapi tetap saja manusia membutuhkan korban penebusan (Yesus Kristus)? Karena  sesempurna apapun manusia (anggap saja Adam dan Hawa tidak melakukan dosa),  ia tidak "maha" segalanya sehingga ia pasti tidak luput dari kesalahan - contoh ia tidak "maha tahu" (sehingga ia dapat mengetahui semua akibat dari tindakannya), ia tidak "maha pengasih" sehingga ia dapat mengasihi orang lain dengan sempurna apapun situasinya, ia "tidak maha sabar" sehingga dalam situasi apapun yang dialaminya, ia dapat bertahan, pertimbangannya tidak maha bijaksana sehingga semua yang ia lakukan benar. 

Kebijaksanaan dan kesalehan yang manusia peroleh adalah berdasarkan proses pengalaman di bawah terang Firman dengan kemampuan yang diberikah oleh ROH KUDUS dan proses pengalaman dimulai dari melakukan sesuatu dengan salah, kemudian diperbaiki. 

Kalau Adam dan Hawa tidak melakukan dosa, bisa saja Habel atau Kain yang melakukan dosa yang pertama. Kalau tidak, bisa saja keturunan mereka.  Kenapa?  Karena kesempurnaan manusia "terbatas".  Sehingga tidak boleh tidak, Yesus tetap harus datang untuk menyelamatkan umat manusia. 

Apakah pendapat ini dapat diterima?  Dan kalau tidak, tolong dijelaskan sanggahannya.

Kl Bro pernah jadi guru di sekolah, Bro bisa membedakan antara kesalahan dg pelanggaran.
Salah mengerjakan soal matematika punya konsekuensi yg berbeda dg bolos,
Nilai ulangan yang jelek punya konsekuensi yg berbeda dg mencuri barang teman,
Yg satu pembelajaran yg dikoreksi; yg satu pemberontakan yg dihukum.

Jika Adam dan Hawa tidak melanggar perintah Tuhan, maka mreka akan menempuh pembelajaran.
Dalam pembelajaran mgkn saja mreka mlakukan kesalahan, tp konsekuensinya bukan hukuman.
Kesalahan ya dikoreksi dan coba lagi.

Saya berikan contoh ya,
Di masa PL, tidak ada perintah Tuhan agar manusia monogami.
Jika manusia pd masa itu poligami, apakah itu dosa?
Tentu tidak pd masa itu.

Adam dan Hawa diberikan 1 larangan. Hanya jika mreka melanggar yg 1 itu maka mreka berdosa,
Kl Adam dan Hawa mnyebabkan sebuah tumbuhan mati krn lupa tanam di tempat berair atau ada hewan mati krn mreka salah saat main-main lempar lembing, saya yakin itu bukan dosa.
Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati (Pkh 9:4)

https://manusia-biasa-saja.blogspot.com
September 18, 2018, 09:40:03 AM
Reply #8
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 9062
  • Gender: Male
  • You are free to choose
    • http://berbagi-sharing.blogspot.com/
  • Denominasi: Pentakosta Karismatik
Saya berikan contoh ya,
Di masa PL, tidak ada perintah Tuhan agar manusia monogami.
Jika manusia pd masa itu poligami, apakah itu dosa?
Tentu tidak pd masa itu.

OOT dikit kwkkw

emangnya jaman PB, jaman sekarang ini
adakah perintah Tuhan agar manusia monogami?

:)

setau saya, adanya cuma saran, itu pun kalo dia mau jadi penilik jemaat (diakon)
Bergaul karib dengan Tuhan, lakukan kehendak Tuhan
I have decided, to follow Jesus, no turning back
http://berbagi-sharing.blogspot.com/
Berjaga-jagalah senantiasa, sebab kamu tidak tahu kapan waktuNya tiba
September 18, 2018, 09:55:55 AM
Reply #9
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252
  • Denominasi: Kharismatik
Terima kasih sudah menjawab.

Fokus saya bukan pada orang yang membuat kesalahan, tetapi (a) dampak kesalahannya pada orang lain dan kebutuhan Yesus Kristus datang sebagai Juru Selamat manusia, tidak peduli apakah Adam dan Hawa berdosa di taman atau tidak. 

Kesalahan saya (yang tidak memiliki nilai moral) mungkin sekali dapat menyebabkan orang lain berdosa.  Contoh sudah saya beri di post saya sebelumnya.

Sehubungan penjelasan tentang poligami.  Kita tinjau kasus Salomo.  Tidak perlu sampai bagaimana istri-istrinya membuat dia berpaling dari Tuhan, hanya sampai kehidupan rumah tangganya saja.  Kalau menurut anda memiliki 1000 istri dan gundik itu tidak berdosa?  Tolong pikirkan dampaknya terhadap manusia-manusia yang terlibat saat itu (1000 istri / gundik, anak-2, dan Salomo sendiri sebagai Suami dan Ayah).  Apakah perlakuan Salomo adil seadil-adil-nya sehingga tidak menyebabkan kecemburuan di antara para gundik / istri dan anak-2?  Apakah tidak ada kecemburuan dalam hal pemenuhan hasrat di antara para wanitanya.  Apakah tidak ada perlakuan partiality terhadap anak-2 dari istri yang berbeda?  Bukankah "kesalahan" tindakan Salomo berdampak pada keluarganya amat sangat?

Salam


Ini pertanyaan yg filosofis, shg diperlukan pemikiran filosofis utk meresponnya.
Bro silakan berimajinasi dengan bebas.

Kehendak tentu saja masih ada, kita di sorga tidak jadi robot.

Namun harap tidak menyamakan kondisi kekekalan di sorga dengan kondisi fana di bumi,
Di bumi ini kita sejak lahir dibesarkan di dunia dalam segala keinginan dan kekurangannya. Tubuh kitapun tubuh fana yg punya hasratnya tersendiri. Kita lahir dan dibesarkan tidak mengenal Tuhan scr langsung. Kehidupan di dunia dan kelemahan diri membuat kehendak manusia mengarah pd dosa.

Di sorga, kita hidup dalam tubuh yg baru yaitu tubuh kebangkitan. Keinginan tubuh kita kelak tidak sama dg skrg. Begitu juga kita hidup di sorga mengenal Tuhan scr langsung. Lingkungan sudah berbeda. Di sorga kita tidak punya lagi kebutuhan yg sama dg waktu di bumi.

Plus ada lagi faktor yg paling utama, semua orang yg nanti masuk sorga sudah tau betapa fatalnya dosa, betapa sakitnya penderitaan dan betapa buruknya hasil dari keegoisan krn kita semua pernah hidup di dunia. Faktor inilah yg membedakan manusia dg malaikat. Apakah kita yg sudah tau konsekuensi dosa akan mau berbuat dosa lagi, dalam keadaan kita tidak lagi 'butuh' berbuat dosa?

Jadi keadaan masa depan beda jauh dg keadaan skrg. Kl kita mengukur sorga dg ukuran bumi, mudah saja kita pikir di sorga manusia akan sama saja spt di bumi. Tp tidak begitu. Tubuh kita beda, lingkungan kita beda, kebutuhan kita beda, kedekatan kita dg Tuhan jg beda dan pengalaman kita selama di bumi dg segala masalahnya menjadikan paradigma kita berbeda.

Kl Bro pernah jadi guru di sekolah, Bro bisa membedakan antara kesalahan dg pelanggaran.
Salah mengerjakan soal matematika punya konsekuensi yg berbeda dg bolos,
Nilai ulangan yang jelek punya konsekuensi yg berbeda dg mencuri barang teman,
Yg satu pembelajaran yg dikoreksi; yg satu pemberontakan yg dihukum.

Jika Adam dan Hawa tidak melanggar perintah Tuhan, maka mreka akan menempuh pembelajaran.
Dalam pembelajaran mgkn saja mreka mlakukan kesalahan, tp konsekuensinya bukan hukuman.
Kesalahan ya dikoreksi dan coba lagi.

Saya berikan contoh ya,
Di masa PL, tidak ada perintah Tuhan agar manusia monogami.
Jika manusia pd masa itu poligami, apakah itu dosa?
Tentu tidak pd masa itu.

Adam dan Hawa diberikan 1 larangan. Hanya jika mreka melanggar yg 1 itu maka mreka berdosa,
Kl Adam dan Hawa mnyebabkan sebuah tumbuhan mati krn lupa tanam di tempat berair atau ada hewan mati krn mreka salah saat main-main lempar lembing, saya yakin itu bukan dosa.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)