Author Topic: Keselamatan sebagai Hadiah  (Read 6474 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 25, 2018, 10:55:46 AM
Reply #90
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 11002
Fokus pertanyaan saya itu adalah bagaimana seseorang percaya kemudian kok bisa selamat. Terus kalau tidak lagi selamat kok bisa keselamatannya hilang.

Jadi kita jangan terlalu berkutat dengan analogi 'hadiah', tapi hendaknya kita harus mengerti apa hadiah itu.

'Hadiah' yang kita bicarakan, yang kita terima dengan iman itu adalah dihapusnya dosa kita sekali untuk selamanya. Jadi setelah kita dihapus dosanya sekali untuk selamanya, bisakah kita (karena tidak lagi percaya) lalu dosa kita tidak jadi dihapus?

'Hadiah', itu juga berupa kita dijadikan ciptaan baru. Bisakah kita setelah menjadi ciptaan baru, lalu diubah lagi jadi ciptaan lama karena kita tidak lagi percaya? Lalu nanti kalau kita percaya lagi, kita dapat 'hadiah' lagi, diubahkan menjadi ciptaan baru lagi (yang sebenernya tidak lagi baru, karena sebelumnya sudah pernah)?
jadi,

contoh orang itu (sebut saja si X)..
walaupun si X ini awalnya sudah mati-mati-an mengaku-aku pokoknya percaya banget..
terus pada suatu waktu ternyata berubah pikiran, maka si X ini sebenernya belum ber-iman.

walaupun, si X ini dulunya waktu ditanya orang-orang jawabnya "saya sudah pasrah beriman apa adanya paling persis sesuai Firman Tuhan"..

gitu kah menurut pendapat mas aleph?



jadi misalnya:
Suatu hari andaikata TUHAN BEKEHENDAK bahwa mas Aleph BERUBAH PIKIRAN jadi tidak percaya yesus lagi,
maka...
walaupun hari ini mas Aleph NGOTOT SELF-CLAIM bahwa mas aleph SUDAH BERIMAN..
artinya SELALU ADA KEMUNGKINAN bahwa: Atas Kehendak Tuhan, BISA SAJA SEBETULNYA mas aleph ini BELUM BERIMAN?
September 25, 2018, 03:10:10 PM
Reply #91
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 256
  • Denominasi: Kharismatik
Hi Bro,

Saya bisa lihat jalur pikiran anda.  Tapi saya tidak sepaham.

1. Hadiah itu melekat dengan Pribadi Yesus Kristus.  Dia anda terima, hadiah anda terima.  Begitupun sebaliknya.

2. Pada setiap manusia ada kehendak bebas.  Tidak lantas, karena dia percaya, kehendak bebasnya dicabut.
Jadi dia dapat memilih apa saja yang dia mau. 

3. Memang hak kepemilikan atas hadiah itu miliknya selamanya tapi dia memiliki kehendak bebasnya untuk melepaskan apa yang dimilikinya itu. Hadiah yang dia tidak mau lagi, tidak akan dipaksakan kepada dia untuk tetap menjadi miliknya.

3. Kalau orang "percaya" (belief) bukan "works" untuk menerima hadiah, maka orang "tidak percaya" (unbelief) juga bukan "works" untuk melepaskan hadiah

4. Kalau  orang "tidak percaya" dikatakan adalah "works", maka "percaya" juga adalah "works".
 
5. Pemilihan kata dalam Alkitab, apapun itu, pasti tepat.
 
Salam



Fokus pertanyaan saya itu adalah bagaimana seseorang percaya kemudian kok bisa selamat. Terus kalau tidak lagi selamat kok bisa keselamatannya hilang.

Jadi kita jangan terlalu berkutat dengan analogi 'hadiah', tapi hendaknya kita harus mengerti apa hadiah itu.

'Hadiah' yang kita bicarakan, yang kita terima dengan iman itu adalah dihapusnya dosa kita sekali untuk selamanya. Jadi setelah kita dihapus dosanya sekali untuk selamanya, bisakah kita (karena tidak lagi percaya) lalu dosa kita tidak jadi dihapus?

'Hadiah', itu juga berupa kita dijadikan ciptaan baru. Bisakah kita setelah menjadi ciptaan baru, lalu diubah lagi jadi ciptaan lama karena kita tidak lagi percaya? Lalu nanti kalau kita percaya lagi, kita dapat 'hadiah' lagi, diubahkan menjadi ciptaan baru lagi (yang sebenernya tidak lagi baru, karena sebelumnya sudah pernah)?
September 25, 2018, 03:30:18 PM
Reply #92
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12356
  • Gender: Male
  • Denominasi: Kharismatik - OSAS
Hi Bro,

Saya bisa lihat jalur pikiran anda.  Tapi saya tidak sepaham.

1. Hadiah itu melekat dengan Pribadi Yesus Kristus.  Dia anda terima, hadiah anda terima.  Begitupun sebaliknya.

2. Pada setiap manusia ada kehendak bebas.  Tidak lantas, karena dia percaya, kehendak bebasnya dicabut.
Jadi dia dapat memilih apa saja yang dia mau. 

3. Memang hak kepemilikan atas hadiah itu miliknya selamanya tapi dia memiliki kehendak bebasnya untuk melepaskan apa yang dimilikinya itu. Hadiah yang dia tidak mau lagi, tidak akan dipaksakan kepada dia untuk tetap menjadi miliknya.

3. Kalau orang "percaya" (belief) bukan "works" untuk menerima hadiah, maka orang "tidak percaya" (unbelief) juga bukan "works" untuk melepaskan hadiah

4. Kalau  orang "tidak percaya" dikatakan adalah "works", maka "percaya" juga adalah "works".
 
5. Pemilihan kata dalam Alkitab, apapun itu, pasti tepat.
 
Salam
Bro, anda selalu kembali beranalogi tentang 'hadiah'.
Analogi memang bisa menolong kita untuk lebih mengerti, tapi bisa juga membawa kita kepada pengertian yang salah. Luaskan pemikiran anda untuk tidak membayangkan 'hadiah' ini adalah sesuatu berupa barang.

HADIAH yang kita terima itu berupa kita diubahkan menjadi ciptaan baru. Bisakah kita membuang 'hadiah' itu dengan mengubah diri sendiri menjadi ciptaan lama lagi?
HADIAH yang kita terima itu berupa kita mati bersama-sama dengan Kristus dan bangkit bersama-sama dengan Kristus. Bisakah kita membuang hadiah ini dengan me-reverse proses mati dan bangkit bersama-sama dengan Kristus ini?

Ini juga bukan soal kehendak bebas, tapi soal sifat dari 'hadiah' yang diberikan Allah.
Allah itu tetap setia meskipun kita tidak setia.
If salvation can be lost, then who is righteous enough to keep their own salvation?
September 25, 2018, 03:39:11 PM
Reply #93
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 256
  • Denominasi: Kharismatik
Bro, hadiah itu relationship with GOD.  Keselamatan itu ada dalam relationship itu.  Pribadi Yesus Kristus melekat pada relationship itu.  Anda dapat memutuskan hubungan itu.  Saya mau tulis perikobnya, tapi takut jadi off topic.  Nanti aja di lain topik.

Salam



Bro, anda selalu kembali beranalogi tentang 'hadiah'.
Analogi memang bisa menolong kita untuk lebih mengerti, tapi bisa juga membawa kita kepada pengertian yang salah. Luaskan pemikiran anda untuk tidak membayangkan 'hadiah' ini adalah sesuatu berupa barang.

HADIAH yang kita terima itu berupa kita diubahkan menjadi ciptaan baru. Bisakah kita membuang 'hadiah' itu dengan mengubah diri sendiri menjadi ciptaan lama lagi?
HADIAH yang kita terima itu berupa kita mati bersama-sama dengan Kristus dan bangkit bersama-sama dengan Kristus. Bisakah kita membuang hadiah ini dengan me-reverse proses mati dan bangkit bersama-sama dengan Kristus ini?

Ini juga bukan soal kehendak bebas, tapi soal sifat dari 'hadiah' yang diberikan Allah.
Allah itu tetap setia meskipun kita tidak setia.
September 25, 2018, 03:48:33 PM
Reply #94
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12356
  • Gender: Male
  • Denominasi: Kharismatik - OSAS
Bro, hadiah itu relationship with GOD.  Keselamatan itu ada dalam relationship itu.  Pribadi Yesus Kristus melekat pada relationship itu.  Anda dapat memutuskan hubungan itu.  Saya mau tulis perikobnya, tapi takut jadi off topic.  Nanti aja di lain topik.

Salam
Oh, oke, jadi disini perbedaannya.
Saya juga ada perikopnya tentang ciptaan baru, mati dan bangkit bersama Kristus serta dibersihkan dosanya.
If salvation can be lost, then who is righteous enough to keep their own salvation?
September 25, 2018, 04:01:54 PM
Reply #95
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 256
  • Denominasi: Kharismatik
Hi Bro,

Mungkin kita bisa bahas relationship itu di tempat yang lain, dan bahas topik seperti the Prodigal Son (can the sonship of the believer be revoked or relinguished) atau Husband and Wife (can a wife (the believer) separate herself from her husband).  Tapi tidak disini tempatnya, jadi off topic. 

Perikob yang anda berikan, atau perikob lainnya mengenai assurance of salvation, tidak bisa dipungkiri dan tidak lebih rendah dari ayat hadiah atau yang lainnya.   Itu yang membuat kita punya harapan, apapun pandangannya. Tetapi begitu juga sebaliknya, ada ayat-2 lain yang tidak bisa dipungkiri juga. 

Salam

Oh, oke, jadi disini perbedaannya.
Saya juga ada perikopnya tentang ciptaan baru, mati dan bangkit bersama Kristus serta dibersihkan dosanya.
September 25, 2018, 04:13:43 PM
Reply #96
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12356
  • Gender: Male
  • Denominasi: Kharismatik - OSAS
Hi Bro,

Mungkin kita bisa bahas relationship itu di tempat yang lain, dan bahas topik seperti the Prodigal Son (can the sonship of the believer be revoked or relinguished) atau Husband and Wife (can a wife (the believer) separate herself from her husband).  Tapi tidak disini tempatnya, jadi off topic. 

Perikob yang anda berikan, atau perikob lainnya mengenai assurance of salvation, tidak bisa dipungkiri dan tidak lebih rendah dari ayat hadiah atau yang lainnya.   Itu yang membuat kita punya harapan, apapun pandangannya. Tetapi begitu juga sebaliknya, ada ayat-2 lain yang tidak bisa dipungkiri juga. 

Salam
Ok.
If salvation can be lost, then who is righteous enough to keep their own salvation?
September 25, 2018, 04:49:43 PM
Reply #97
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 11002
Bro, anda selalu kembali beranalogi tentang 'hadiah'.
Analogi memang bisa menolong kita untuk lebih mengerti, tapi bisa juga membawa kita kepada pengertian yang salah. Luaskan pemikiran anda untuk tidak membayangkan 'hadiah' ini adalah sesuatu berupa barang.

HADIAH yang kita terima itu berupa kita diubahkan menjadi ciptaan baru. Bisakah kita membuang 'hadiah' itu dengan mengubah diri sendiri menjadi ciptaan lama lagi?
HADIAH yang kita terima itu berupa kita mati bersama-sama dengan Kristus dan bangkit bersama-sama dengan Kristus. Bisakah kita membuang hadiah ini dengan me-reverse proses mati dan bangkit bersama-sama dengan Kristus ini?

Ini juga bukan soal kehendak bebas, tapi soal sifat dari 'hadiah' yang diberikan Allah.
Allah itu tetap setia meskipun kita tidak setia.

kenapa kok Hadiah itu harus berupa "diubah menjadi ciptaan baru"?

kalo ada yang merasa bahwa Hadiah nya itu "beriman pada Kristus" atau "mendapat keselamatan", apakah perasaan orang itu salah?
September 25, 2018, 04:52:26 PM
Reply #98
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 9645
  • Gender: Male
  • You are free to choose
    • Living Testimony (LiTe)
  • Denominasi: Pentakosta Karismatik
salah soalnya gak sesuai nalar Alephtav

wkwkwkwkwkwkwkwkwkw

tapi ketika ditanya, nalar yang bagaimana elu pake

ngamuk2 dia
"bloon lu, ini bukan soal tinggi rendahnya nalar, ini soal percaya"

ngerti gak luuuuu
ape lu ape lu

wkwkwkwkwkwkk
;D ;D ;D

serius
sampe nangis ketawa
September 27, 2018, 05:07:00 PM
Reply #99
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 11002
salah soalnya gak sesuai nalar Alephtav

wkwkwkwkwkwkwkwkwkw

tapi ketika ditanya, nalar yang bagaimana elu pake

ngamuk2 dia
"bloon lu, ini bukan soal tinggi rendahnya nalar, ini soal percaya"

ngerti gak luuuuu
ape lu ape lu

wkwkwkwkwkwkk
;D ;D ;D

serius
sampe nangis ketawa

atau in blind defensiveness malah bilang:
"yg diserang malah orangnya, bukan argumennya"

hahaha...

memangnya nalar-nya aleph itu BUKAN nalar orang?
nalar kucing?
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)