Author Topic: Mencabut dan Melepas Hak Ke-anak-an - Pelajaran dari Perumpamaan Perginya Anak  (Read 1079 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 26, 2018, 01:38:34 PM
Reply #10
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252
  • Denominasi: Kharismatik
Hi Bro, saya orang baru, baru semingguan.  Pernah sekali-2 masuk kemari, tapi jarang.  Thanks atas penyampaian pandangannya.  Inputan Bro bertolak belakang ya dengan pandangan Bro Alephtav. 

Kalau mengenai Perumpaan Anak Yang Hilang itu tidak ada Bro dalam Alkitab.  Itu tulisan itu tambahan untuk mempermudah orang mengerti perikobnya dalam membacanya.  Itu bukan ayat Alkitab.  Kalau saya mengatakan itu adalah Perumpamaan Anak Yang Pergi, saya tidak sedang melanggar apa yang Alkitab katakan.

Kalau menjawab pertanyaan Bro, adalah ayat 32.  Bapanya menganggap anaknya SUDAH MATI.

Salam

Sebelum masuk ke respon terhadap pertanyaan @melangkahpasti, kalo menurut https://www.jesoes.com/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=15&ayat=16#16, judul perikopnya ialah Perumpamaan tentang anak yang hilang, dan ayatnya ialah Luk 15:11-32. Judul perikopnya bukan Perumpamaan Perginya Anak.

Menurut pendapatku,  berdasar perikop Luk 15:11-32, jika dikatakan Anak yang pergi telah melepaskan hak ke-anak-annya, kukira kurang tepat. Justru, anak bungsu itu menggunakan hak keanakannya untuk memperoleh warisan, bukan melepas. Sifat keanakannya tidak lepas, walaupun dari ayat 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa, ketahuan bahwa si anak itu merasa tidak layak disebut sebagai anak. Ayahnya sendiri memberi warisan yang menjadi hak anak bungsunya namun tidak melepas sifat keanakannya. Anak bungsu itu tetap anak sang ayah, walaupun dianggap sudah mati atau hilang.

Salam damai.
September 26, 2018, 01:42:22 PM
Reply #11
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252
  • Denominasi: Kharismatik
Saya lanjutkan lagi penjelasan saya.

Ketika Anak pergi dari rumah Bapanya, dia tidak lagi menerima proteksi atas haknya sebagai anak dan dia tidak ada lagi tanggung jawabnya sebagai anak kepada Bapanya. 

Kalau dia ada di rumah adalah tanggung jawab Bapanya untuk memberikan perlindungan, makakanan, dsb. kepada dia.  Pada saat dia keluar, hak itu lepas.

Kalau dia ada di rumah adalah hak Bapanya untuk mendislin dia.  Pada saat dia keluar, pendisiplinan itu tidak ada. 

Salam

Hi Bro, saya orang baru, baru semingguan.  Pernah sekali-2 masuk kemari, tapi jarang.  Thanks atas penyampaian pandangannya.  Inputan Bro bertolak belakang ya dengan pandangan Bro Alephtav. 

Kalau mengenai Perumpaan Anak Yang Hilang itu tidak ada Bro dalam Alkitab.  Itu tulisan itu tambahan untuk mempermudah orang mengerti perikobnya dalam membacanya.  Itu bukan ayat Alkitab.  Kalau saya mengatakan itu adalah Perumpamaan Anak Yang Pergi, saya tidak sedang melanggar apa yang Alkitab katakan.

Kalau menjawab pertanyaan Bro, adalah ayat 32.  Bapanya menganggap anaknya SUDAH MATI.

Salam
September 26, 2018, 01:46:28 PM
Reply #12
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12138
  • Gender: Male
  • Denominasi: Kharismatik - OSAS
Hi Bro,

Apakah mungkin pandangan Bro dalam melihat perikob ini sebagaimana adanya perikob ini dipengaruhi oleh pandanga once saved always saved.  Just a thought, bukan accusation. 

Tapi ini tanggapan saya kenapa Prodigal Son adalah Orang Percaya

1. Bapa dalam perikob ini adalah Allah.  Prodigal Son hanya sah kalau dia adalah Anak.  Yohanes 1:12.  Bapa tidak memanggil non-believers sebagai Anaknya.
2. Jelas dalam Alkitab pemanggilan believers sebagai anak-anak Allah dan non-believers sebagai anak-anak iblis (1 Yohanes 3:10)
3. Prodigal Son hanya dapat menerima hak warisnya yang sah sebagai anak.  Pembantu, anak orang lain (apa saja namanya, anak tetangga, anak iblis), budak, budak orang lain, tidak mendapat warisan.
4. Keberadaan orang yang dipanggil Anak dalam rumah Bapanya adalah keberadaan yang benar-benar layaknya seorang anak.
3. Harus dipertanyakan kenapa dalam 2 perumpamaan sebelumnya, yang hilang dicari sampai ketemu, tapi disini yang pergi, dibiarkan pergi.  Konsekuensinya adalah yang pergi, pergi atas kehendaknya sendiri, tidak dapat dipaksakan untuk kembali. Kalau dicari atau dipaksa untuk kembali, Bapa akan mencari atau menyuruh orang suruhannya untuk mencari.
4. Keadaannya Anak yang pergi, kemudian kembali, DIPULIHKAN seperti SEMULA sewaktu dia Anak.  Tidak ada posisi awal non-believers sebagai Anak.

Itu adalah konsekuensi logis, dari sudut pandang saya.l

Salam.
Iya, mungkin juga.
Saya menghubungkan bahasan ini kepada keselamatan karena anda menghubungkan perikop ini dengan Yoh 1:12.

Saya melihat anda fokus kepada hak ke-anak-an yang tercabut.
Mungkin perlu diklarifikasi, menurut anda, apakah 'hak ke-anak-an' itu?

Kalau menurut saya kisah ini tidak ada fokus kepada hak ke-anak-an.

Saya lanjutkan lagi penjelasan saya.

Ketika Anak pergi dari rumah Bapanya, dia tidak lagi menerima proteksi atas haknya sebagai anak dan dia tidak ada lagi tanggung jawabnya sebagai anak kepada Bapanya. 

Kalau dia ada di rumah adalah tanggung jawab Bapanya untuk memberikan perlindungan, makakanan, dsb. kepada dia.  Pada saat dia keluar, hak itu lepas.

Kalau dia ada di rumah adalah hak Bapanya untuk mendislin dia.  Pada saat dia keluar, pendisiplinan itu tidak ada. 

Salam

Ya, saya setuju dengan penjabaran anda yang ini.
If salvation can be lost, then who is righteous enough to keep their own salvation?
September 26, 2018, 01:55:34 PM
Reply #13
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252
  • Denominasi: Kharismatik
Hi Bro,

Terima kasih sudah menjawab dengan jujur. 

Mengenai hak ke-anak-an mungkin yang lain bisa bantu kasih inputan.   Saya mau belajar kok.

Saya juga kalau membaca ayat-ayat kepastian selamat, saya juga yakin ayat-ayat itu benar dan amin.  Makanya iman kita adalah suatu misteri.  Kita semua sedang sama-sama belajar. 

Salam



Iya, mungkin juga.
Saya menghubungkan bahasan ini kepada keselamatan karena anda menghubungkan perikop ini dengan Yoh 1:12.

Saya melihat anda fokus kepada hak ke-anak-an yang tercabut.
Mungkin perlu diklarifikasi, menurut anda, apakah 'hak ke-anak-an' itu?

Kalau menurut saya kisah ini tidak ada fokus kepada hak ke-anak-an.
Ya, saya setuju dengan penjabaran anda yang ini.
September 26, 2018, 02:14:09 PM
Reply #14
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 9062
  • Gender: Male
  • You are free to choose
    • http://berbagi-sharing.blogspot.com/
  • Denominasi: Pentakosta Karismatik
hak anak termasuk apa saja?

mungkin ayat ini bisa membantu menjelaskan :

Roma 8
17. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

so kalau dikatakan dari perumpamaan itu
sang anak telah melepas ahli warisnya, pergi keluar dari rumah Bapanya

maka tepatlah dikatakan : anak itu gak berhak lagi menerima janji-janji Allah

ini sesuai dengan apa yang dikatakan bro melangkahpasti sebelumnya, bahwa anak itu gak menerima "proteksi" lagi atas haknya

nah, tinggal di bedah lagi nih janji-janji Allah itu apa aja sih?
ada berkat, perlindungan, penyertaan, dll

dan tentunya keselamatan itu termasuk janji Allah bukan? :)
(biar cepet aja diskusinya nih sy langsung to the point)

Mazmur 119

41. Kiranya kasih setia-Mu mendatangi aku, ya TUHAN, keselamatan dari pada-Mu itu sesuai dengan janji-Mu,

hemat saya termasuk

nah silahkan kalo ada yang mau berargumen keselamatan itu bukan janji Allah :)
« Last Edit: September 26, 2018, 02:18:20 PM by HenHen »
Bergaul karib dengan Tuhan, lakukan kehendak Tuhan
I have decided, to follow Jesus, no turning back
http://berbagi-sharing.blogspot.com/
Berjaga-jagalah senantiasa, sebab kamu tidak tahu kapan waktuNya tiba
September 26, 2018, 03:03:49 PM
Reply #15
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2189
  • Gender: Male
  • Denominasi: Bukan Denominasi
Hi Bro, saya orang baru, baru semingguan.  Pernah sekali-2 masuk kemari, tapi jarang.  Thanks atas penyampaian pandangannya.  Inputan Bro bertolak belakang ya dengan pandangan Bro Alephtav.
Terima kasih.
Yup.
Pada poin tentang kehilangan keselamatan, memang pandangan saya berbeda dari pandangan @alephtav. Menurut pandanganku, keselamatan seseorang bisa hilang bilamana orang itu menentang perintah Tuhan walalupun orang itu sudah pernah dibaptis. Sementara menurut @alephtav, sejauh yang saya tangkap, sekali beroleh keselamatan, apapun yang dilakukan oleh orang itu, dia tetap selamat.

Kalau mengenai Perumpaan Anak Yang Hilang itu tidak ada Bro dalam Alkitab.  Itu tulisan itu tambahan untuk mempermudah orang mengerti perikobnya dalam membacanya.  Itu bukan ayat Alkitab.
Ough, begitukah?
Kalo dari sini: https://www.jesoes.com/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=15#1 ditampilkan bahwa pada Likas 15 terdapat tiga perikop yaitu Perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk 15:1-7); Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10); dan Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32).
Jika menurut @melangkahpasti Perumpaan Anak Yang Hilang itu tidak ada dalam Alkitab boleh tahu bagaimana landasan pikirnya?

Kalau saya mengatakan itu adalah Perumpamaan Anak Yang Pergi, saya tidak sedang melanggar apa yang Alkitab katakan.
Tentang hubungan @melangkahpasti dengan Alkitab, itu urusan @melangkahpasti. @Sotardugur Parreva hanya memberitahu apa yang kubaca dan kusalin dari jesoes.com=>Alkitab Online Bahasa Indonesia - Isi Alkitab Lengkap Bahasa ...

Kalau menjawab pertanyaan Bro, adalah ayat 32.  Bapanya menganggap anaknya SUDAH MATI.
Lhoh, seingatku, @Sotardugur Parreva tidak bertanya, kok.
@Sotardugur Parreva justru merespon pertanyaan @melangkahpasti.

Salam damai.
Rawat empat pilar kebangsaan, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika
Kita Bhinneka kita Indonesia
September 26, 2018, 03:18:58 PM
Reply #16
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2189
  • Gender: Male
  • Denominasi: Bukan Denominasi
Saya lanjutkan lagi penjelasan saya.

Ketika Anak pergi dari rumah Bapanya, dia tidak lagi menerima proteksi atas haknya sebagai anak dan dia tidak ada lagi tanggung jawabnya sebagai anak kepada Bapanya.
Yup. Berterima dari sudut pandang si anak. Tetapi ayahnya, senantiasa memandang anak bungsu itu tetap anaknya, walaupun anak bungsu itu menjauh dari ayahnya. 

Kalau dia ada di rumah adalah tanggung jawab Bapanya untuk memberikan perlindungan, makakanan, dsb. kepada dia.  Pada saat dia keluar, hak itu lepas.
Nah, jika @melangkahpasti membaca mulai dari ayat 11, maka pada ayat 13 @melangkahpasti menemukan pengertian bahwa anak bungsu itu menjual semua harta warisan dari ayahnya, lalu si anak bungsu pergi ke negeri yang jauh dari ayahnya. Maksudku, menurut penangkapanku, walaupun anak bungsu itu pergi meninggalkan ayahnya, apabila dia masih dalam jangkauan ayahnya, sang ayah akan tetap memelihara hidup anak bungsu. Tetapi karena anak bungsu pergi ke negeri yang jauh dari ayahnya, sang ayah tidak lagi mencukupi kebutuhan si anak bungsu.

Kalau dia ada di rumah adalah hak Bapanya untuk mendislin dia.  Pada saat dia keluar, pendisiplinan itu tidak ada.
Tidak kutangkap keterkaitan kisah itu dengan disiplin-mendisiplinkan.
Berkenankah @melangkahpasti menunjukkan sumber informasi disiplin-mendisiplinkan?

Salam damai.
Rawat empat pilar kebangsaan, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika
Kita Bhinneka kita Indonesia
September 26, 2018, 03:24:49 PM
Reply #17
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252
  • Denominasi: Kharismatik
Menjawab Bro Sotardugur Parreva


Terima kasih.
Yup.
Pada poin tentang kehilangan keselamatan, memang pandangan saya berbeda dari pandangan @alephtav. Menurut pandanganku, keselamatan seseorang bisa hilang bilamana orang itu menentang perintah Tuhan walalupun orang itu sudah pernah dibaptis. Sementara menurut @alephtav, sejauh yang saya tangkap, sekali beroleh keselamatan, apapun yang dilakukan oleh orang itu, dia tetap selamat.  Jawaban : noted.

Ough, begitukah?
Kalo dari sini: https://www.jesoes.com/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=15#1 ditampilkan bahwa pada Likas 15 terdapat tiga perikop yaitu Perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk 15:1-7); Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10); dan Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32).
Jika menurut @melangkahpasti Perumpaan Anak Yang Hilang itu tidak ada dalam Alkitab boleh tahu bagaimana landasan pikirnya?
Tentang hubungan @melangkahpasti dengan Alkitab, itu urusan @melangkahpasti. @Sotardugur Parreva hanya memberitahu apa yang kubaca dan kusalin dari jesoes.com=>Alkitab Online Bahasa Indonesia - Isi Alkitab Lengkap Bahasa ...  Jawaban : Bro, naskah aslinya tidak ada nomor halaman, tidak ada nomor ayat, tidak ada nomor pasal, tidak ada tajuk perikob.  Itu semua tidak tertulis pada naskah aslinya.  Kalau Bro coba lihat Alkitab di internet, silahkan download esword, ebible atau yang lain, dan ambil versi bahasa Indonesianya.  Disitu tidak ada kata-kata "Perumpamaan Anak Yang Hilang"

Ada atau tidaknya tulisan "Perumpaan Anak Yang Hilang" tidak memiliki pengaruh sama sekali terhadap Alkitab.  Karena penulis naskah aslinya tidak menulis kata-kata itu.  Waktu saya menulisnya "Perumpamaan Anak Yang Pergi", saya tidak melanggar Alkitab dalam naskah aslinya.  Kalau Anda beli Alkitab cetak dalam bahasa Inggris atau bahasa lain cetak, maka Anda akan temukan tidak ada Judul-judul itu apapun. 


Lhoh, seingatku, @Sotardugur Parreva tidak bertanya, kok.
@Sotardugur Parreva justru merespon pertanyaan @melangkahpasti.  Jawaban : Noted.  Tapi saya juga tidak sedang bertanya Bro di post-post sebelumnya.  Saya sedang penjelasan menjawab pertanyaan mengapa. 

Salam juga
« Last Edit: September 26, 2018, 03:56:02 PM by melangkahpasti »
September 26, 2018, 03:40:28 PM
Reply #18
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 252
  • Denominasi: Kharismatik
Asik bisa berdikusi  :afro:

Menjawab Bro Sotardugur Parreva


Yup. Berterima dari sudut pandang si anak. Tetapi ayahnya, senantiasa memandang anak bungsu itu tetap anaknya, walaupun anak bungsu itu menjauh dari ayahnya. Jawaban : memang, pandangan kita tidak berbeda.


Nah, jika @melangkahpasti membaca mulai dari ayat 11, maka pada ayat 13 @melangkahpasti menemukan pengertian bahwa anak bungsu itu menjual semua harta warisan dari ayahnya, lalu si anak bungsu pergi ke negeri yang jauh dari ayahnya. Maksudku, menurut penangkapanku, walaupun anak bungsu itu pergi meninggalkan ayahnya, apabila dia masih dalam jangkauan ayahnya, sang ayah akan tetap memelihara hidup anak bungsu. Tetapi karena anak bungsu pergi ke negeri yang jauh dari ayahnya, sang ayah tidak lagi mencukupi kebutuhan si anak bungsu.  Jawaban : kalau di dua perumpamaan sebelumnya, gembala pergi mencari domba sampai ketemu, tidak ada batas waktunya, bisa sehari, seminggu, setahun, 10 tahun.  kalau dinar, dia mencari sampai dapat.   

Kalau di perumpamaan Anak yang Pergi, Bapa tidak pergi mencari anaknya (sampai dapat).  Kalau dia terlalu capek, dia dapat menyuruh orang suruhannya untuk mencari anaknya (sampai dapat), tidak ada indikasi sama sekali di perikob ini, sehingga logisnya kita harus bertanya, kenapa berbeda dengan dua perumpamaan sebelumnya.
 


Tidak kutangkap keterkaitan kisah itu dengan disiplin-mendisiplinkan.
Berkenankah @melangkahpasti menunjukkan sumber informasi disiplin-mendisiplinkan?  Jawaban : adalah hak seorang Bapa mendisplin Anaknya (Ibrani 12:4-6).  Di perumpamaan Anak Yang Pergi, Bapa mendisiplin Anaknya. Bapanya mendisiplin artinya to disciple (memuridkan), kata yang sama dipakai di Ibrani 12:5 dan Wahyu 3:19 sebagai contoh.  Anak sulung berada di dalam rumah, dan Anak sulung didisplin oleh Bapanya (dimuridkan, diajar) ayat 31 dan 32.

Salam
September 26, 2018, 04:02:33 PM
Reply #19
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2189
  • Gender: Male
  • Denominasi: Bukan Denominasi
Menjawab Bro Sotardugur Parreva


Terima kasih.
Yup.
Pada poin tentang kehilangan keselamatan, memang pandangan saya berbeda dari pandangan @alephtav. Menurut pandanganku, keselamatan seseorang bisa hilang bilamana orang itu menentang perintah Tuhan walalupun orang itu sudah pernah dibaptis. Sementara menurut @alephtav, sejauh yang saya tangkap, sekali beroleh keselamatan, apapun yang dilakukan oleh orang itu, dia tetap selamat.  Jawaban : noted.
Terima kasih.

Ough, begitukah?
Kalo dari sini: https://www.jesoes.com/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=15#1 ditampilkan bahwa pada Lukas 15 terdapat tiga perikop yaitu Perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk 15:1-7); Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10); dan Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32).
Jika menurut @melangkahpasti Perumpaan Anak Yang Hilang itu tidak ada dalam Alkitab boleh tahu bagaimana landasan pikirnya?
Tentang hubungan @melangkahpasti dengan Alkitab, itu urusan @melangkahpasti. @Sotardugur Parreva hanya memberitahu apa yang kubaca dan kusalin dari jesoes.com=>Alkitab Online Bahasa Indonesia - Isi Alkitab Lengkap Bahasa ...  Jawaban : Bro, naskah aslinya tidak ada perikob, tidak ada nomor halaman, tidak ada nomor ayat, tidak ada nomor pasal, tidak ada tajuk perikob.  Itu semua tidak tertulis pada naskah aslinya.  Kalau Bro coba lihat Alkitab di internet, silahkan download esword, ebible atau yang lain, dan ambil versi bahasa Indonesianya.  Disitu tidak ada kata-kata "Perumpamaan Anak Yang Hilang"
Seingatku, yang kita bicarakan ialah Alkitab, bukan naskah Asli Alkitab. Di Amerika saja meski bukan naskah asli, namanya bukan Alkitab. Bahkan situs-situs yang Anda referensikan itu tidak satupun bernama Alkitab.

Ada atau tidaknya tulisan "Perumpaan Anak Yang Hilang" tidak memiliki pengaruh sama sekali terhadap Alkitab.  Karena penulis naskah aslinya, tidak ada kata-kata itu.  Waktu saya menulisnya "Perumpamaan Anak Yang Pergi", saya tidak melanggar Alkitab dalam naskah aslinya.  Kalau Anda beli Alkitab cetak dalam bahasa Inggris atau bahasa lain cetak, maka Anda akan temukan tidak ada Judul-judul itu apapun. 
Menurut dugaanku, jika @melangkahpasti cermat pada hubungan pengertian antar ayat di Lukas 15 itu, maka @melangkah pasti tidak merubah perikop yang ada dari ayat 11 ke ayat 32 menjadi dari ayat 16 ke ayat 32.

Lhoh, seingatku, @Sotardugur Parreva tidak bertanya, kok.
@Sotardugur Parreva justru merespon pertanyaan @melangkahpasti.  Jawaban : Noted.  Tapi saya juga tidak sedang bertanya Bro di post-post sebelumnya.  Saya sedang penjelasan menjawab pertanyaan mengapa. 
Salam juga
Ooo... begitu.
Maafkan, saya salah menangkap.

Dari yang kuungukan ini:
Menjawab pertanyaan mengapa. 

Mengapa dikatakan bahwa Anak yang pergi telah melepaskan hak ke-anak-annya?  Jawaban : karena dia telah melepaskan hak waris-nya dan meninggalkan Bapa-nya.  Selama dia berada di luar, walaupun Bapanya mengasihi dia, Bapa sudah menganggap dia "mati" dan "hilang".  Ayat 32 -  kita patus bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.

Salam
Kupikir, cukup membuka ruang untuk pendapat berbeda.

Salam damai.
« Last Edit: September 26, 2018, 04:05:19 PM by Sotardugur Parreva »
Rawat empat pilar kebangsaan, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika
Kita Bhinneka kita Indonesia
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)