Author Topic: Hidup Damai Itu Indah  (Read 84 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

December 27, 2018, 09:09:19 AM
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 1
21 September diperingati sebagai Hari Perdamaian Dunia Internasional. Semua orang menginginkan perdamaian, setiap kepala negara dalam konferensi PBB sampai tiap kontestan Miss Universe membicarakan mengenai perdamaian dunia. Namun, pemikiran tentang perdamaian dunia seakan telah menjadi umum bahkan dikomersialkan, dan kita lupa bahwa untuk mencapai ‘perdamaian dunia’, kita harus kembali pada hal paling mendasar yang akan saya tanyakan kepada kamu saat ini: Apakah kamu telah merasa damai dengan dirimu sendiri? Karena, perdamaian dunia hanya dapat diwujudkan jika kita mampu berdamai dengan diri kita sendiri dan satu sama lain.

Saya teringat pada masa ketika saya berusia dua puluh dua. Saya memiliki apa yang saya sebut “sindrom Peterpan”. Saya tidak ingin menjadi tua, saya ingin tetap muda selamanya. Orang-orang mengatakan bahwa dengan bertambahnya usia, kamu harus mengorbankan idealisme, memiliki pekerjaan kantoran, dan menjadi “normal”; tentu saja, saya tidak suka pemikiran tersebut. Belum lagi kesan bahwa orang tua menginginkan kita untuk cepat “sukses”; hidup tiba-tiba menjadi beban. Saya pernah membenci orang tua saya, membenci hidup, dan saya benci pada diri saya sendiri karena saya merasa sangat payah. Saya benar-benar tidak merasa damai dengan orang lain, dan terutama, tidak dengan diri saya sendiri.

Jadi, bagaimana caranya sehingga perempuan berusia dua puluh dua tahun tadi berubah menjadi diri saya yang seperti sekarang ini? Seorang perempuan yang bersemangat untuk menyongsong hari baru dan tahu bahwa hari hidupnya makin berkurang di bumi tapi bisa tetap senang. Perempuan yang melakukan pekerjaannya tanpa harus mengorbankan satu pun idealismenya. Apa rahasia dari kedamaian dan kepuasan batin ini? Jawabannya terletak pada 6 langkah sederhana yang akan saya bagikan dengan kamu di sini.

Merangkul dan mengendalikan emosi dengan indah.
Seringkali dalam hidup kita menyesali hal-hal yang tidak seharusnya kita lakukan – seperti berlaku kasar atau tidak sopan. Semakin kamu tunduk pada kemarahan/ketakutan/rasa bersalah, semakin kamu terbiasa dengannya. Kemudian, sebelum kamu menyadarinya, hal tersebut telah menjadi karaktermu. Mungkin kamu pernah mendengar apa yang dikatakan oleh Anabel Jensen, seorang pakar kecerdasan emosional tingkat dunia, tentang konsep Six Seconds.

Berikan dirimu enam detik untuk memutuskan bagaimana kamu akan menanggapi suatu situasi, daripada langsung bereaksi impulsif. Kamu dapat menggunakan enam detik ini untuk memusatkan perhatian pada nafas atau menarik nafas panjang, mengulang sebuah mantra, bersyukur atas apa yang diberikan di balik situasi tersebut, segera tersenyum, atau kembali pada akal sehatmu. Ketika emosi seperti ini datang, tidak perlu menghukum dirimu sendiri. Cukup sadari perasaanmu, rangkul dan biarkan diri kembali tenang. Kedamaian batin adalah hasil latihan dari hari ke hari. Berlatihlah sehingga akhirnya ia menjadi karaktermu.

Memahami bahwa setiap orang memiliki kesulitannya masing-masing.
Ada sebuah pepatah populer: “Semua orang yang kamu temui sesungguhnya sedang berjuang mengatasi suatu pertempuran yang tidak kamu ketahui sama sekali. Berbaik hatilah.” Itu benar! Kadang-kadang, kita mengharapkan orang lain untuk berlaku seperti dewa-dewi tanpa cacat. Tapi coba kita pikirkan, jika kamu memiliki masalah, orang lain pun pasti punya masalahnya masing-masing! Toh tidak mungkin mereka akan berlari ke sana ke mari memberitahumu apa saja masalah mereka, kan? Pahamilah bahwa setiap orang, termasuk kamu, sedang menjalani proses untuk bertumbuh. Dan jalan menuju pertumbuhan seringkali dipenuhi rasa sakit dan ketidaknyamanan. Berbaik hatilah kepada diri sendiri dan satu sama lain.
Cakmaman
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)