Author Topic: Hampa: Perasaan Mematikan yang Menjadi Awal Berkat  (Read 142 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 04, 2019, 07:29:59 PM
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 120
  • Denominasi: Protestan

Pernahkah Anda bangun pagi dengan perasaan hampa dan bertanya-tanya:
“Apa yang akan saya lakukan hari ini?
“Untuk apa dan siapa saya lakukan itu?”
“Apa faedah hidup saya?”

Hidup menjadi rutinitas menjemukan. Kegiatan sehari-hari Anda tidak lagi menarik. Anda kehilangan arah, dan hari demi hari berjalan tanpa gairah.
Saya menjalani hidup seperti itu selepas patah hati. Kehilangan orang terkasih memicu trauma dalam diri saya dan menumbuhkan pikiran-pikiran negatif, bahkan jahat. Kehampaan itu berlanjut hingga mencapai titik yang mematikan. Mengapa mematikan? Karena rasa hampa membuat saya berencana mengakhiri hidup.

Tanyakan dua hal ini kepada diri sendiri:

1. Why ?
Mengapa saya bosan hidup?
Pertama-tama, carilah penyebab rasa hampa Anda. Apakah karena dosa, atau ada hal lain?
Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.” – Yohanes 4:13-14a
Mengapa dosa membuat orang bosan hidup?
Karena perbuatan daging tidak akan memberi kepuasan sejati, sehingga kita menjadi hampa dan putus asa. Bisa jadi, kehampaan hidup kita disebabkan oleh dosa. Kita tidak mengerti tujuan hidup yang benar di mata Tuhan.

2. How?
Lalu, bagaimana agar hidup saya berarti?
Seorang Kristen harus punya tujuan hidup menuju Surga. Ketika tujuan kita sudah benar, kita menjadi bagian dari rencana Tuhan. Kita lebih mengenal diri sendiri dan kuat menghadapi cobaan atau pergumulan. – Roma 8:17
Jadi, di dalam derita rasa hampa sebenarnya kemuliaan Tuhan sedang bekerja. Miliki keyakinan yang dalam akan janji Tuhan (Filipi 2:12) dan kerjakan keselamatan kita (1 Petrus 1:5)
Empat tokoh Alkitab yang mengalahkan kehampaan hidup

Dalam proses yang saya lewati, saya belajar dari respon tokoh-tokoh Alkitab. Berikut empat hal yang bisa Anda pelajari dari mereka:

1. Ayub – Tulus mengasihi: ampunilah diri sendiri dan orang lain
Setelah berturut-turut tertimpa bencana, duka cita, kebangkrutan, bahkan penyakit, Ayub merasa hidupnya berlalu cepat tanpa kebahagiaan (Ayub 9:25-26). – Ayub 10:1
Ayub merasa Tuhan telah menarik kasih-Nya. Namun, Ayub menggumulkan itu dalam doa dan percaya pada keadilan Tuhan. Di atas semua itu, Ayub mengampuni dan mendoakan orang-orang yang telah mengecewakan, merendahkan, dan menuduhnya. – Ayub 42:10
Doa Ayub yang penuh kasih akhirnya menjadi sarana pemulihan bagi dirinya. Mengampuni bukan tentang kalah atau menang, melainkan tentang melepaskan beban Anda. Dengan mengampuni, Anda justru mengasihi diri sendiri. Matius 5:44

2. Salomo – Merespon dengan hati yang benar
Bahkan Salomo, yang memiliki segala kemewahan dan kenikmatan hidup, akhirnya mencapai titik jenuh dan membenci hidupnya. – Pengkhotbah 2:17
Namun, dengan respon hati yang benar, Salomo belajar takut akan Allah dan berpegang pada perintah-Nya.   – Pengkhotbah 12:13

3. Elia – Saling menghibur dan mendoakan
Setelah Elia membunuh nabi-nabi Baal, Ratu Izebel mengejarnya untuk membalas dendam. Elia pun ketakutan dan jatuh dalam depresi. – 1 Raja-raja 19:4
Allah tidak membiarkan Elia menderita sendirian. Malaikat Tuhan datang menghibur dan memberi Elia amanat baru.
Rasa hampa menjadi berkali lipat lebih mematikan ketika kita merasa sendirian. Saat itu terjadi, carilah dukungan dan bantuan dari saudara-saudari seiman. Mereka dapat mendukung dan mendoakan Anda dalam masa-masa sulit.

4. Yunus – Terimalah didikan Tuhan melalui saat teduh
Berkat peringatan Yunus, orang-orang Niniwe bertobat dari kejahatan mereka, dan Allah membatalkan hukuman atas kota itu.
Namun, bukannya bersukacita, Yunus malah marah karena Allah mengampuni orang-orang Niniwe—yang notabene musuh bangsa Israel. – Yunus 4:8
Saat Yunus mengambek, Allah menegurnya. Karena hanya mengkhawatirkan keselamatan bangsa sendiri, Yunus tidak melihat bahwa Allah juga mengasihi bangsa-bangsa lain dan mengampuni mereka yang mau bertobat.
Manfaatkan saat teduh Anda untuk membuka hati dan dengarkan apa kata Allah tentang hidup Anda.

Langkah-langkah di atas bukan cara instan menghilangkan rasa hampa. Kita perlu berproses, dimulai dari refleksi diri dan rendah hati menerima didikan Allah. Saat kita percaya Tuhan akan memulihkan, barulah kita mampu memandang kehampaan sebagai hal positif.

Selamat memiliki hidup berarti di dalam Tuhan!

Source : https://gkdi.org/blog/hampa-perasaan-mematikan-awal-berkat/
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)