Author Topic: Kata-Kata Bahagia di Bukit: Benarkah Bisa Membuat Bahagia?  (Read 42 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 10, 2019, 02:08:57 PM
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 41
  • Denominasi: Protestan

Mendengar soal kata bahagia, kita akan teringat khotbah Yesus di bukit dalam Matius 5:1-12. Belum-belum, Anda mungkin mengira bahasan ini akan membosankan. Toh, isinya tentang ‘bahagia-bahagia’ yang sudah kita ketahui. Namun, setelah saya pelajari dan renungkan kembali Kata-Kata Bahagia ini, saya menemukan makna sangat dalam—yang membuat saya benar-benar berbahagia.
Ucapan Bahagia diungkapkan Yesus setelah memanggil kedua belas murid-Nya yang pertama. Sejumlah ahli Alkitab berpendapat kata-kata bahagia ini adalah Deklarasi Kerajaan Allah. Sebuah pondasi dan karakter dari orang-orang yang empunya kerajaan-Nya.

Berikut pondasi dan karakter Kekristenan berdasarkan Kata-kata Bahagia.

1. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Selain memperingatkan tentang kemiskinan rohani, Alkitab juga mengajak kita berjuang mencari kekayaan rohani.
Namun, dalam konteks ini, Yesus bicara mengenai jenis kemiskinan rohani yang lain. Sebuah kondisi ketika kita datang kepada Tuhan dengan menyadari dosa-dosa, kekosongan, serta kemiskinan jiwa kita tanpa-Nya. Kita tidak boleh tinggi hati dan cepat puas dengan kualitas kerohanian kita, kemudian merasa tidak butuh Tuhan lagi.
2. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Ini bukan berarti Tuhan suka dengan orang-orang yang bersedih, dan tidak suka pada mereka yang selalu gembira.
Dukacita berkaitan dengan rasa sakit dan kesedihan karena kehilangan sesuatu atau seseorang yang kita kasihi. Contohnya, bencana alam yang menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal, harta-milik, orang-orang terkasih, juga kesehatan mereka. (1 Tesalonika 4:13-14, Roma 5:3-5)
3. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Lemah lembut bukan berarti rendah diri. Juga, bukan berarti kita lemah dan tidak efektif dalam hidup. Orang-orang yang lemah lembut adalah mereka yang tidak memaksakan kekuasaan / kekuatannya kepada sesama. Mereka bebas dari rasa dengki, benci, dan dendam, serta memiliki penguasaan diri. (1 Kor 4:11-13).
4. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Seseorang yang kelaparan dan kehausan akan terdorong untuk mencari pelipurnya. Sama halnya dengan dahaga kita untuk menyenangkan hati Tuhan, melakukan perintah-Nya, untuk melihat kebenaran diterima dan nama Tuhan dimuliakan. (Yohanes 6:35).
5. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Murah hati tidak hanya tentang mereka yang suka berbagi milik atau kelebihannya. Murah hati berarti kita mudah mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Tidak mendendam atau menyimpan kesalahan orang lain. Punya toleransi terhadap sesama dan penuh belas kasih. – 1 Tesalonika 2:8
6. Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah.
Orang yang suci hati berarti keputusan, keinginan, pikiran, dan motivasinya tidak dinodai dosa, seperti iri hati, amarah, ingin dilihat baik, atau mendapat keuntungan. Apa yang ia lakukan dan pikirkan selalu untuk satu tujuan: menyenangkan hati Tuhan. (Mazmur 139:23).
7. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Tuhan kita adalah Sosok yang cinta damai. Tujuan penebusan Kristus adalah mendamaikan manusia dengan Allah dan mendekatkan kembali mereka yang jauh dari-Nya. Untuk merekonsiliasi hubungan yang rusak akibat dosa menjadi hubungan mesra seperti ayah dan anak.
8. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Dua Ucapan Bahagia terakhir (Matius 5:10-12) memiliki makna yang sama. Ketika kita melakukan kebenaran, kita akan menghadapi tantangan dari  orang-orang yang tidak menyukai kebenaran yang kita yakini. Walau demikian, kita bersukacita karena upah kita besar di sorga.
Setelah melihat delapan Kata-Kata Bahagia dengan cara berbeda, mari kita lakukan pemeriksaan batin. Sudahkah hati kita sesuai daftar tersebut?

Jangan mengira karena sudah menjadi Kristen, otomatis kita orang berbahagia. Jangan pula berpikir Ucapan Bahagia hanya cocok bagi mereka yang belum mengenal Allah. Meski kita sudah menerima kebenaran, tanpa kedelapan pondasi dan karakter para pewaris Kerajaan-Nya, kita belum merasakan kebahagiaan sejati. Mari bertobat sebelum terlambat! Tuhan memberkati.

Source : https://gkdi.org/blog/kata-bahagia-di-bukit-2/
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)