Author Topic: Embrace Your Feeling: Perasaan Anda Sama Pentingnya dengan Logika  (Read 75 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 30, 2019, 08:43:18 AM
  • FK - Junior
  • **
  • Posts: 67
  • Denominasi: Protestan

Logika (logic) dan perasaan (feeling) merupakan komponen penting yang memberi pengaruh terhadap dinamika kehidupan kita. Kadar logika dan perasaan setiap orang berbeda-beda. Dalam pengolahan informasi dan pengambilan keputusan, sebagian orang lebih menggunakan logika, sebagian lagi menitikberatkan perasaan.
Tuhan menciptakan manusia dengan logika dan perasaan. Artinya, Dia ingin kita menggunakan keduanya secara seimbang. Kalau begitu, kenapa banyak orang menganggap perasaan sebagai kelemahan? Pada akhirnya, kita menghindari perasaan dan lebih sering memberdayakan ‘otak’ daripada ‘hati’ karena takut dianggap cengeng atau manja.
Bagaimana cara menerima perasaan sebagai elemen yang sama pentingnya dengan logika?

1. Accept your feeling (Terimalah perasaan Anda)
Hal pertama yang harus kita ubah adalah mindset atau cara pikir. Terimalah bahwa Anda adalah manusia yang memiliki logika dan perasaan—dan keduanya sama penting. Tanpa perasaan, kita hanyalah robot yang terprogram untuk beroperasi. Tanpa logika, kita tak dapat berpikir objektif, sulit berdisiplin, dan tidak mampu bekerja secara profesional.
Tuhan adalah kombinasi sempurna logika dan perasaan. Jika Tuhan hanya menggunakan logika, kita tidak akan punya kesempatan untuk selamat. Semua manusia telah jatuh ke dalam dosa, dan upah dosa adalah maut. Namun, karena kasih-Nya begitu besar, Dia mengirimkan Anak-Nya yang tunggal untuk menggantikan kita menjalani hukuman mati (Yohanes 3:16).
Salib adalah momen ketika perasaan dan logika Tuhan bertemu dengan sempurna. Dia adil, dan di saat bersamaan, penuh kasih.
2. Spend time with God (Luangkan waktu bersama Tuhan)
Luangkan waktu untuk duduk dan berkomunikasi dengan Tuhan. Carilah saat yang tenang, misalnya pagi hari sebelum kita memulai kesibukan, atau malam hari ketika suasana tenang. Curahkan isi hati Anda seperti sedang bercerita kepada seorang teman. “Tuhan, hari ini saya merasa …”
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” – Matius 11:28
Saat Teduh akan membantu Anda mengolah perasaan dan melihat situasi dengan lebih jernih. Setelah spend time dengan Tuhan, biasanya muncul rasa lega. Kita mendapatkan pemahaman atau ide baru untuk menjalani langkah selanjutnya dalam hidup. – Yesaya 40:29-31
3. Be vulnerable to the right people (Terbukalah kepada orang-orang yang tepat)
Menjadi diri sendiri di hadapan orang lain bukanlah hal mudah bagi mereka yang sering menyembunyikan perasaan. Mereka terbiasa terlihat kuat di depan semua orang. Namun, agar dapat dibantu, kita harus jujur dan terbuka. Barangkali selama ini orang lain mengira kita baik-baik saja, padahal kenyataannya tidak.
Ini bukan berarti kita perlu terbuka dan cerita kepada siapa saja. Terbukalah kepada orang yang tepat, seperti pembimbing rohani yang dapat menuntun dan mengarahkan kita ke arah yang benar.
4. It’s okay to cry (Tidak apa jika ingin menangis)
Bagi sebagian orang, menangis itu mempertaruhkan gengsi. Namun, terimalah, kita ini manusia yang bisa merasa lelah atau sedih. Bahkan Tuhan Yesus sendiri berani mengungkapkan perasaan kepada murid-murid-Nya dalam penantian di Taman Getsemani.
… lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” – Matius 26:38
Baik pria maupun wanita, hey, it’s okay to cry. Menangis bukan berarti kita lemah. Menangis adalah salah satu cara mencurahkan perasaan. Lebih sering, setelah menangis, kita merasa lega dan mampu berpikir jernih dalam menghadapi masalah.
5. Listen to your heart, mind, and body (Dengarkan isi hati, pikiran, dan tubuh Anda)
Dulu saya orang yang mematikan perasaan dengan segudang to-do-list dan target. Padahal saya tahu apa yang dibutuhkan hati dan tubuh saya. Menyadari ini, saya luangkan satu hari dalam seminggu untuk me-time, melakukan apa yang saya inginkan. Entah itu berenang, membaca buku, mendengarkan musik, atau menulis. Alhasil saya kini jauh lebih bahagia dan menikmati hidup.
Semoga pengalaman saya dan tips-tips di atas dapat membantu Anda menerima perasaan sebagai bagian penting dalam diri Anda. Tak perlu takut kelihatan lemah hanya karena sewaktu-waktu mengedepankan perasaan. Namun, ada satu hal yang perlu diingat. Jangan kebablasan embrace your feeling dan lupa menggunakan logika. Keduanya harus berjalan bersamaan supaya hidup kita pun seimbang.
“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” – Filipi 4:7

Source : https://gkdi.org/blog/perasaan-sama-penting-dengan-logika/
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)