Author Topic: Hukum Perceraian .. (tinjauan kasus BTP)  (Read 1899 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

February 04, 2019, 08:31:06 AM
Reply #30
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 564
Wow. kasus Ahok/BTP. Kok pada menghakimi sih ? Memangnya kalian siapa sih ?
Jadi siapa yang tidak berdosa, silahkan lempar batu ke Ahok. ha ha ha ha.

Salah. Yah salah lah, cerai
Dosa ? Siapa yang gak berdosa di dunia ini ?
Biarkan Tuhan yang menghakiminya.

Saya setuju yang dikatakan diatas, Daud saja bisa diampuni (Dosa membunuh bo).

Salam Santai Saja
Menegur itu bukan menghakimi, Paulus berkata .. jika ada saudara kita melakukan “kekeliruan”, maka kita harus menegurnya, agar saudara Kita tersebut “tidak jatuh kedalam dosa”.

Jbu
February 04, 2019, 04:49:18 PM
Reply #31
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12359
  • tidak menyimpan kepahitan
Nah, terlepas dari permasalahan poligami yg sudah saya jelaskan diatas, maka kedua pertanyaan saudara akan saya jelaskan disini.

Permasalahan perceraian dan poligami, sebenarnya telah dituliskan “dengan jelas dan tegas” dalam Kitab Maleakhi 2:16..

“sebab Aku MEMBENCI perceraian.. Firman Tuhan semesta alam, maka jagalah diri mu dan JANGAN  BERKHIANAT”.

Nah, kitab maleakhi ini, bisa kita jadikan salah satu dasar yg kuat, jika kita berbicara tentang perceraian dan poligami, dimana Tuhan itu “sangat membenci perceraian” dan juga “pengkhianatan”.

Mengapa ?

Karena pada ayat sebelumnya di kitab maleakhi tersebut, dikatakan .. bahwa tujuan perkawinan itu, adalah agar melahirkan “keturunan-keturunan” ilahi.

Jadi, baik perceraian ataupun poligami (terlepas dari permasalahan poligami yg saya jelaskan sebelumnya), SANGAT  DIBENCI Tuhan.

Nah, kembali ke pertanyaan saudara yg kedua, apakah kawin diam2, tanpa sepengetahuan isteri kita, memiliki pengertian .. kita menceraikan isteri Kita ?

Kawin secara diam2 ataupun secara terang2an  atau artinya berpoligami, bukan berarti kita telah menceraikan isteri kita, tetapi menempatkan diri kita dalam “hidup perzinahan”, seperti perkataan Yesus dalam penjelasan sebelumnya.

Namun, jika poligami itu kita tinjau berdasarkan kitab maleakhi tsb diatas, maka poligami itu adalah “suatu pengkhianatan”, yaitu .. kita berkhianat terhadap isteri kita, dan pengkhianatan tersebut “sangat dibenci Tuhan”.

Nah, hidup dalam perzinahan adalah suatu perbuatan dosa besar, karena itulah Alkitab katakan, penyembahan kepada allah lain, selain kepada Allah yg benar, disamakan sebagai perbuatan perzinahan.

mengapa disamakan dgn perbuatan zinah ? Karena “inti” dari perzinahan itu adalah “pengkhianatan”, sehingga setiap orang yg menyembah Allah lain, telah melakukan “pengkhianatan” kepada Allah yg benar.

Jadi saudara ku, setiap orang yg hidup dalam perzinahan, pasti tidak akan masuk kedalam surga, inilah hubungan perkawinan dgn kerajaan surga.

Karena itulah.. mendengar penjelasan Yesus tentang perceraian atau perkawinan, maka murid2 yesus berkata kepada yesus, jika demikian adanya .. maka lebih baik tidak kawin.

Mengapa ?

Bukan berarti supaya manusia itu bebas dari perbuatan zinah, tetapi supaya manusia itu tidak melakukan “pengkhianatan”. Namun Yesus menjawab .. tidak semua orang dapat memahami penjelasan Yesus tersebut.

Nah, setiap orang yg berpoligami, telah melakukan pengkhianatan kepada 2 hal, yaitu:
(1). Pengkhianatan kepada isteri.
(2). Pengkhianatan kepada Tuhan, sebab dalam setiap perkawinan saat ini, ada janji perkawinan untuk sehidup dan semati, disana tidak dikatakan boleh cerai kalau ada perzinahan, tetapi sehidup dan semati dalam “suka dan duka”. Nah, jika terjadi perzinahan.. maka perzinahan tersebut adalah “bagian duka” dari janji perkawinan. Solusinya.. lebih baik pisah ranjang (tidak cerai), berdoa pada Tuhan, hingga suatu ketika bisa rukun kembali, tetapi jika tidak bisa rukun, maka biarlah keadaan pisah ranjang itu terjadi, sampai salah satu mati.

Jadi saudara ku, apapun alasannya .. poligami itu tidak diperbolehkan oleh Tuhan, sebab perkawinan itu, untuk melahirkan keturunan2 ilahi, seperti yg tertulis dalam kitab maleakhi.


Jbu..
Keturunan Ilahi yang seperti apa maksudnya bro? Bukankah arti keturunan Ilahi itu bersifat rohaniah.

Menurut saya poligami tidak dilarang oleh TUHAN.... yang "dilarang" itu perceraian; Itupun gak masalah menceraikan isteri apabila sang isteri berzinah.
February 04, 2019, 04:53:21 PM
Reply #32
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12359
  • tidak menyimpan kepahitan
Poligami tidak lagi dijalankan dan tidak lagi diizinkan oleh Gereja di zaman perjanjian baru,
Hal ini telah menjadi salah satu patron dan ciri dari Kekristenan.
Poligami tidak sejalan dg semangat dan spirit perjanjian baru.

Kecuali tentunya sekte non mainstream tertentu semisal Mormon yg mengizinkan dan menghimbau poligami.

But, topik ini gak sdg bicara poligami mlainkan pceraian.
Jika gereja tidak mengijinkan poligami, apakah TUHAN melarang poligami?
February 04, 2019, 09:53:13 PM
Reply #33
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 932
  • Denominasi: Protestan
Jika gereja tidak mengijinkan poligami, apakah TUHAN melarang poligami?
Dan setahu elo, apakah Allah memerintahkan poligami?
February 05, 2019, 03:52:49 AM
Reply #34
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 564
Keturunan Ilahi yang seperti apa maksudnya bro? Bukankah arti keturunan Ilahi itu bersifat rohaniah.

Menurut saya poligami tidak dilarang oleh TUHAN.... yang "dilarang" itu perceraian; Itupun gak masalah menceraikan isteri apabila sang isteri berzinah.
Keturunan ilahi itu adalah “manusia rohani”, tetapi untuk mencapai “lahir baru secara rohani”, maka harus ada terlebih dahulu manusia yg lahir secara alami.

Kemudian terhadap pemahaman anda, bahwa poligami tidak dilarang oleh TUHAN, benar.. selama poligami itu terjadi, sebelum orang itu mengenal dan menerima Kristus, sebab perbuatan dosa itu mereka lakukan sebelum bertobat, sehingga pada saat mereka bertobat, maka poligami yg mereka lakukan itu “sah dimata Tuhan”, tetapi jika orang sudah “mengenal kebenaran didalam Kristus”, maka “tidak mungkin terjadi poligami”., sebab orang tersebut tidak mungkin “melakukan pengkhianatan”, karena didalam “kasih” tidak mungkin ada “niat untuk berkhianat”.

Jadi, orang2 yg sudah “benar2 lahir baru”, tidak mungkin melakukan poligami., sebab ada 2 yg dia khianati, yaitu: Istrinya dan Janji Perkawinannya, paling sedikit.. dia berkhianat pada “Janji Perkawinannya”.

Jbu
February 06, 2019, 09:46:36 AM
Reply #35
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6467
  • Mistery
  • Denominasi: Karismatik
Jika gereja tidak mengijinkan poligami, apakah TUHAN melarang poligami?

Yes.

Hal itu tidak lagi diizinkan pasca kematian dan kebangkitan Kristus.
Kl sebelum Kristus menyatakan diri, manusia punya alasan utk berjalan dg ketegaran hatinya.
Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati (Pkh 9:4)

https://manusia-biasa-saja.blogspot.com
February 07, 2019, 08:11:51 PM
Reply #36
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12811
    • fossil coral cantik
Hukum perceraian itu “non toleransi”, tetapi hukum perkawinan itu “ada toleransi”.
Menurut saya nggak begitu, 888.

Menurut saya, setiap "Law" ada toleransinya.
Nah, memang gak akan bisa selalu dituliskan itu toleransi-nya akan nongol KALO begimana.
Karena "begimana"nya dari [KALO] itu sendiri case per case, sikon, budaya, era, tradisi, dlsb.

Quote
Hukum perceraian: hanya kematian yg dapat memisahkan perkawinan,
Itu BUKAN perceraian, 888. Salah satu pasangan mati, tidak serta merta artinya yg masih hidup statusnya [bercerai], 888.
Ada kok suami/istri yg telah ditinggal mati oleh pasangannya, masih tetep memakai cincin kawinnya.
Ini kan menandakan bhw status mereka tidak bercerai walo pasangannya telah mati.

Quote
sehingga setelah salah - satu mati, baru boleh yg tinggal untuk kawin lagi.
Ya iya, BOLEH.
Tapi tidak sertamerta itu berangkat dari Hukum Perceraian yg berupa :
1. CERAI adalah status suami/istri yang telah ditinggal mati pasangannya
2. suami/istri dalam status yg dinyatakan di butir 1, boleh kawin lagi.


Quote
Hukum perceraian itu “berlaku generalis”
  That's the point.
Secara general ya demikian Hukumnya. But akan ada perihal case per case nya, 888.

Quote
tetapi hukum perkawinan itu “berlaku case per case atau berlaku khusus”.
Nggak begitu donk, 888. Hukum Perkawinan juga berlaku generalis.

Secara general, hukumnya :
[Sekali sudah kawin, ga bisa (ga boleh)  cerai].

Selanjutnya masuk ke case per case :
[Tapiiii... IF misal ada bla3x yg sehingga menyebabkan perceraian tidak bisa dihindari lagi..... THEN .... ].

Nah bla3x nya itulah yg tidak bisa diuraikan di segala macam posibilitas, karena kasusnya akan bisa bervariasi dan bisa akan berbeda di sikon, budaya, tradisi, era jaman yg sedang berlaku, dlsb. Oleh karena itu bla3x tidak bisa diuraikan secara absolut pada sebuah hukum.



Matthew 5:32

But I tell you that

anyone who divorces his wife,
except for sexual immorality,
makes her the victim of adultery,
and anyone who marries a divorced woman commits adultery


Kalimat diatas klausa kalimat merah bisa masuk ke sebelum nikah bisa juga masuk ke sesudah nikah.
Namun kalimat ayat tsb nggak ada mengajukan perihal kawin lagi di pihak suami yg menceraikan tsb.



Sementara kalimat ayat yg dibawah ini, klausa kalimat merahnya gak bisa lari kemana mana....

Matthew 19:9
I tell you that
anyone who divorces his wife, except for sexual immorality, and marries another woman commits adultery.


suami menceraikan istri yg alesannya bukan karena adanya sexual immorality yg terjadi pada istri,
apabila suami ini kawin lagi maka suami ini commit adultery.

SO... apabila sikon kasusnya berupa spt sbb :
[seorang istri serong, suami menceraikan istri tsb - lalu suami ini kawin lagi] ---->maka kasus ini TIDAK ADA penjabarannya. Karena penjabaran Mat 19:9 adalah pada kasus suami menceraikan si istri dimana tidak ada perihal sexual immorality yg terjadi pada istri, dimana kalo suami ini kawin lagi maka suami ini commit adultery.

Dengan kata lain,
tidak ada penjabaran "Law"nya apakah suami yg kawin lagi = commit adultery ato kagak apabila perceraiannya itu dikarenakan adanya sexual immorality dipihak istri.

Namun kalo secara logika berdasarkan kalimat tsb :
KARENA yg dikatakan bhw menikah laginya si suami yg sdh bercerai itu = commit adultery EXCEPT perceraiannya itu karena sexual immorality dipihak istri...., MAKA :

kalo exception tsb terpenuhi
maka divorced husband kawin lagi ---> tidak commit adultery.




Dan karena ini perihal cerai dan kawin lagi, BAHKAN taroh kata sikonnya sbb :
1. si pria menceraikan istri (whatever bekgron alesannya).
2. blakangan si pria melakukan sexual immorality dgn perempuan lain
3. dan selanjutnya si suami ngawinin perempuan ini.

Maka di event nomor-3 pun si suami disitu NGGAK commit adultery.

Demikian pula sikon dari "Law" yg ayatnya udah pernah saya kopaskan:
2. laki-laki yang sudah tidur dengan gadis itu memberikan lima puluh syikal perak kepada ayah gadis itu dan

3. gadis itu haruslah menjadi isterinya



Semoga 888 sekarang nangkep  :happy0062:.
« Last Edit: February 07, 2019, 10:21:09 PM by odading »
February 07, 2019, 08:43:08 PM
Reply #37
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12811
    • fossil coral cantik
Menegur itu bukan menghakimi, Paulus berkata .. jika ada saudara kita melakukan “kekeliruan”, maka kita harus menegurnya, agar saudara Kita tersebut “tidak jatuh kedalam dosa”.
Tidak ada ayat yang secara tegas (no exception) menyatakan bahwa [suami yg telah bercerai - kawin dgn perempuan laen] = berbuat dosa, 888.

Nyok liat dua ayat ini :
Whoever divorces his wife and marries another commits adultery

if, while her husband lives, she marries another man, she will be called an adulteress
but if her husband dies, she is free from that law, so that she is no adulteress, though she has married another man.


if she does depart, let her remain unmarried

Kedua kalimat diatas tidak ada itu kalimat [EXCEPT bla3x]. Akibatnya orang mikirnya kaya gini :
There's no exception, pokok kalo belon mati pasangannya, nggak boleh kawin lagi.
Kalo kawin lagi, maka dia commit adultery.


Dengan kata lain,
kalimat oranye dari saya bisa dikatakan omdo. Karena bisa ditangkis secara sbb:
Oranye elu ngaco, oda. Tuh dua ayat diatas sudah jelas2 dan tegas (no exception) bilang bhw siapapun yg udah cerai dan lalu kawin lagi ---> ini = commit adultery. Ungu.

oda:
Kembali ke post saya di reply #36.

jadi sekarang pertanyaannya:
pada ayat2 yg terbaca .... is there any exception or not bhw [itu = commit adultery] di sikon suami yg sudah cerai lalu kawin lagi ?

Anyway, saya ngeh bahwa kalo orang udah duluan berangkat dgn patokan kayak ungu - maka kemungkinan dgn segala macem upaya orang ini akan menginterpretasikan ayat yg saya ajukan di reply #36 tsb agar nanti seolah olah kesimpulannya ya nyampe ke ungu ---> no ... there is no exception :D
« Last Edit: February 07, 2019, 09:13:40 PM by odading »
February 08, 2019, 05:07:55 AM
Reply #38
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 564
Menurut saya nggak begitu, 888.

Menurut saya, setiap "Law" ada toleransinya.
Nah, memang gak akan bisa selalu dituliskan itu toleransi-nya akan nongol KALO begimana.
Karena "begimana"nya dari [KALO] itu sendiri case per case, sikon, budaya, era, tradisi, dlsb.
 Itu BUKAN perceraian, 888.
Tidak demikian Oda, Hukum atau Ketetapan Tuhan itu, berdasarkan Alkitab “tidak ada toleransi”, sehingga “setiap orang yg telah disatukan Tuhan, hanya boleh dipisahkan oleh Tuhan sendiri”, nah.. bagaimana cara Tuhan memisahkan orang tersebut ? Cara Tuhan memisahkan orang tersebut, HANYA melalui kematian.

Quote from:
Salah satu pasangan mati, tidak serta merta artinya yg masih hidup statusnya [bercerai], 888.
Kalau salah satu sudah mati, yah pasti statusnya bercerai Oda, kenapa ? Karena Status orang hidup itu sudah berbeda dgn orang yg sudah mati, sebab orang yg sudah mati itu, bukan lagi mahluk hidup.

Quote from:
Ada kok suami/istri yg telah ditinggal mati oleh pasangannya, masih tetep memakai cincin kawinnya.
Ini kan menandakan bhw status mereka tidak bercerai walo pasangannya telah mati.
Tidak Oda, tetap statusnya sudah bercerai, hanya seperti Alkitab katakan, orang yg ditinggal hidup tersebut, bebas untuk kawin lagi ataupun untuk tidak kawin lagi.

Seperti penjelasan diatas, status manusia hidup itu, berbeda dgn status manusia yg sudah mati, sehingga setiap terjadi “kematian”, pasti terjadi perceraian (Tidak ada toleransinya Oda)


 
Quote from:
Nggak begitu donk, 888. Hukum Perkawinan juga berlaku generalis.
Hukum “Perceraian” itu, bukan saya yg menetapkan Oda, tetapi Kristus langsung, sehingga Hukum Perceraian itu, Berlaku Umum tanpa toleransi, dan hukum perkawinan itu “berlaku khusus” berdasarkan kasus per kasus.

Karena hukum perceraian itu berlaku umum, sehingga apapun kasusnya, “hanya kematian” yg dapat memisahkan.

Quote from:
Secara general, hukumnya :
[Sekali sudah kawin, ga bisa (ga boleh)  cerai].

Selanjutnya masuk ke case per case :
[Tapiiii... IF misal ada bla3x yg sehingga menyebabkan perceraian tidak bisa dihindari lagi..... THEN .... ].

Nah bla3x nya itulah yg tidak bisa diuraikan di segala macam posibilitas, karena kasusnya akan bisa bervariasi dan bisa akan berbeda di sikon, budaya, tradisi, era jaman yg sedang berlaku, dlsb. Oleh karena itu bla3x tidak bisa diuraikan secara absolut pada sebuah hukum.
Tetap ndak bisa Oda, sebab Yesus sudah katakan dgn tegas, hanya kematian yg bisa menyebabkan perceraian.

Oda, Alkitab jelaskan.. setiap hukum Tuhan atau ketetapan yg dibuat Tuhan itu, zero toleransi., termasuk hukum perceraian ini.





Matthew 5:32color=teal]
But I tell you that

anyone who divorces his wife,
except for sexual immorality,
makes her the victim of adultery,
and anyone who marries a divorced woman commits adultery[/color]

Kalimat diatas klausa kalimat merah bisa masuk ke sebelum nikah bisa juga masuk ke sesudah nikah.
Namun kalimat ayat tsb nggak ada mengajukan perihal kawin lagi di pihak suami yg menceraikan tsb.
[/quote]
Kalimat pada ayat Matius 5:32 itu Oda, Harus dipahami untuk orang yg “sudah nikah” dan tidak boleh dipahami untuk yg belum nikah, sebab dalam kalimat tersebut, SANGAT JELAS ada perkataan “HIS WIFE”..

Bersambung..

Jbu
February 08, 2019, 05:36:06 AM
Reply #39
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 564
..cut..

Sementara kalimat ayat yg dibawah ini, klausa kalimat merahnya gak bisa lari kemana mana....

Matthew 19:9
I tell you that
anyone who divorces his wife, except for sexual immorality, and marries another woman commits adultery.


suami menceraikan istri yg alesannya bukan karena adanya sexual immorality yg terjadi pada istri,
apabila suami ini kawin lagi maka suami ini commit adultery.

SO... apabila sikon kasusnya berupa spt sbb :
[seorang istri serong, suami menceraikan istri tsb - lalu suami ini kawin lagi] ---->maka kasus ini TIDAK ADA penjabarannya. Karena penjabaran Mat 19:9 adalah pada kasus suami menceraikan si istri dimana tidak ada perihal sexual immorality yg terjadi pada istri, dimana kalo suami ini kawin lagi maka suami ini commit adultery.

Dengan kata lain,
tidak ada penjabaran "Law"nya apakah suami yg kawin lagi = commit adultery ato kagak apabila perceraiannya itu dikarenakan adanya sexual immorality dipihak istri.

Namun kalo secara logika berdasarkan kalimat tsb :
KARENA yg dikatakan bhw menikah laginya si suami yg sdh bercerai itu = commit adultery EXCEPT perceraiannya itu karena sexual immorality dipihak istri...., MAKA :

kalo exception tsb terpenuhi
maka divorced husband kawin lagi ---> tidak commit adultery.
Begini Oda, saya sudah menjelaskan, bahwa Hukum Perzinahan pada masa lalu itu (pada saat a Yesus berkata di ayat diatas), adalah “Hukuman Mati”, jadi tetap artinya .. Cuma kematian yg bisa mengakibatkan perceraian.

Nah, orang moderen sekarang.. karena nafsunya, berfikir bahwa boleh bercerai “karena terjadinya perzinahan”, dan pemikiran itu “Melawan perkataan Yesus sendiri”, artinya Oda “hukum perceraian “bagi orang Kristen itu”, tidak dapat dipahami dgn penafsiran lain, kecuali cuma satu pemahaman, yaitu: “hanya kematian yg bisa menceraikan perkawinan tersebut”, karena “KERAS” nya hukum ini Oda, maka murid2 Yesus berkata .. kalau demikian adanya, maka lebih baik tidak kawin.

Quote from:


Dan karena ini perihal cerai dan kawin lagi, BAHKAN taroh kata sikonnya sbb :
1. si pria menceraikan istri (whatever bekgron alesannya).
2. blakangan si pria melakukan sexual immorality dgn perempuan lain
3. dan selanjutnya si suami ngawinin perempuan ini.

Maka di event nomor-3 pun si suami disitu NGGAK commit adultery.

Demikian pula sikon dari "Law" yg ayatnya udah pernah saya kopaskan:
2. laki-laki yang sudah tidur dengan gadis itu memberikan lima puluh syikal perak kepada ayah gadis itu dan

3. gadis itu haruslah menjadi isterinya



Semoga 888 sekarang nangkep  :happy0062:.
Ayat yg Oda co pas tsb, berlaku didalam PL, dalam PL, Yesus katakan .. karena “ketegaran atau bandelnya” hati orang Israel, maka Musa memperbolehkan perceraian dgn persyaratan2 yg ditetapkan mereka.

Akhirnya, Musa mengatur semua permasalahan yg berhubungan dgn kasus perkawinan dan juga kasus perzinahan, seperti yg Oda kutip diatas.

Jadi Oda,
(1). hukum perceraian itu berlaku secara generalis, tanpa memandang apapun kasusnya, judul nya “tidak boleh bercerai, jika tidak diceraikan oleh kematian”.
(2). Hukum Perkawinan itu berlaku khusus, tergantung kasus per kasus.


Jbu
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)