Author Topic: 3 Tipe Manusia Berdasarkan Amsal: Yang Manakah Anda?  (Read 98 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

June 20, 2019, 09:32:19 AM
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 120
  • Denominasi: Protestan


Amsal adalah kitab berisi kumpulan perkataan penuh hikmat dan kebijaksanaan yang ditulis dengan gaya bahasa puitis. Isi antologi yang rentang penulisannya mencakup beberapa zaman ini sebagian besar ditulis oleh Salomo (Amsal 10:1-22:6). Sisanya merupakan kontribusi beberapa penulis lain, di antaranya: pegawai-pegawai Hizkia (Amsal 25-29), Agur bin Yake (Amsal 30), dan ibu Lemuel (Amsal 31).
Pepatah dan instruksi dalam Amsal mengajak orang untuk hidup bijaksana di dalam takut akan Tuhan agar punya kualitas kehidupan yang baik. Di sejumlah bagian, terdapat pembahasan tentang karakter-karakter manusia yang begitu universal, aplikatif, bahkan tetap relevan di masa modern ini.
Ada tiga tipe manusia menurut kitab Amsal yang bisa kita pelajari:

1. Orang yang Tidak Berpengalaman (Amsal 1:1-3:1-12)
Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya. – Amsal 14:15
Seorang anak ibarat selembar kertas yang putih bersih. Di atasnya, kita bisa membuat coretan-coretan yang asal-asalan atau membuat sebuah lukisan yang indah.
Demikian pula dengan orang muda yang belum berpengalaman. Biasanya mereka lebih polos sehingga mudah dibujuk dan ditipu. Mereka tidak tahu bahaya, kurang waspada dengan orang yang bermaksud mencelakai, menjerumuskan, atau membuat mereka menjadi alat kejahatan (Amsal 1:10-16) Karenanya, tak heran banyak anak muda terlibat pergaulan yang salah sehingga terjerumus dalam minuman keras, obat-obatan, atau praktik kejahatan.
Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya. – Amsal 1:32
Anjuran Amsal untuk orang yang tidak berpengalaman adalah mendengarkan didikan ayah-ibunya (Amsal 1:8-9). Orang tua sebaiknya tidak lelah dan bosan menasihati anak-anaknya. Nasihat orang tua akan menjadi pengingat bagi anak-anak ketika mereka dewasa dan menghadapi masalah, sehingga mampu melakukan hal benar.

2. Orang yang Bijaksana (Amsal 3:1-26)
Bukan berarti mereka yang bijak itu tidak pernah berkonflik, tak punya masalah, atau tak pernah berbuat salah. Yusuf terlibat konflik dengan kesebelas saudaranya, tapi ia mau memaafkan mereka dan menganggap semua yang terjadi pada dirinya adalah atas kehendak dan rencana Tuhan.
“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” – Kejadian 50:20

3. Orang yang Bebal (Amsal 10)
Cobalah cek daftar di bawah ini untuk melihat apakah jangan-jangan kita termasuk orang bebal.
    Melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang
    Sebenarnya ia tahu mana yang benar dan tidak, tapi selalu mengulangi pola dan kebodohan yang sama.
Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang yang bebal mengulangi kebodohannya. – Amsal 26:11
    Susah menerima masukan dan nasihat, apalagi teguran
    Ia merasa dirinya bijak, masalahnya paling berat, kasusnya spesial, dan tidak ada yang bisa memahaminya. Hanya ia yang tahu kebenarannya. Selalu melihat kesalahan orang lain tapi meluputkan kesalahan sendiri. Ia menolak introspeksi dan tidak mau berubah.
Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal … – Amsal 28:26
Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya. – Amsal 18:2
    Amarahnya meledak-ledak
Di tangan orang bebal, masalah kecil jadi besar, padahal bisa diselesaikan dengan cara sederhana. Ia mengambek karena hal sepele dan merasa berhak untuk marah. Menghukum orang lain dengan aksi tutup mulut (silent treatment), diam seribu bahasa dengan hati yang penuh kemarahan dan kebencian.
Di sisi lain, bukan berarti orang bijak tidak bisa marah. Hanya saja, mereka berusaha meredakannya sebelum amarah itu membawa mereka kepada dosa.
Orang bebal melampiaskan amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya – Amsal 29:11
    Menganggap dirinya bijak
    Ia membenarkan tindakannya, mencari-cari alasan untuk tidak berubah, cenderung berputar-putar, berfokus pada hal negatif dari orang lain, dan membesar-besarkan kebaikannya sendiri.
Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak. – Amsal 26:5

Source : https://gkdi.org/blog/3-tipe-berdasarkan-amsal/

 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)