Author Topic: hutang budi dalam Kekristenan  (Read 1145 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

October 20, 2019, 06:04:06 PM
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 517
  • Gender: Male
  • Denominasi: kharismatik
saya ingin tahu apa kata FT tentang hutang budi yang sesuai dengan kasus2 ini :

a. seorang pria sudah berkeluarga, sebut saja A. A ini dulunya hanya Kristen KTP. dia dulunya hidup tidak benar, suka konsumsi narkoba dan main wanita. ada 1 temannya, sebut saja B. B ini dulu adalah pria baik2 dan sudah berkeluarga, non Kristen. B ini kemudian dipengaruhi oleh A sehingga ikut kecanduan narkoba dan main wanita, hingga hidupnya hancur karena tertangkap polisi dan dipenjara beberapa tahun karena kepemilikan narkoba. si B ini uangnya habis dan papa mamanya yang bukan orang kaya juga habis uang banyak agar penjaga penjara menjaga anaknya agar tidak diapa2kan oleh penghuni penjara yang lain. sekarang si A ini sudah bertobat, sedangkan si B baru 1-2 tahun keluar penjara dan masih mulai menata hidupnya meski jatuh bangun dan sudah bebas dari narkoba. cerita istri si A, A ini merasa berhutang budi karena akibat pengaruhnya, hidup si B jadi hancur. si A sampai rela menjual barang2nya demi membantu ekonomi si B. si istri A keberatan karena ekonomi A sendiri pas2an.

b. ada seorang mama dan 2 anaknya. mamanya ikut kepercayaan nenek moyang, anak2nya sudah Kristen. karena sudah 60an tahun dan suami sudah meninggal, si mama ini diberi uang tiap bulan dari anak2nya. si mama ini sering meminta hal yang mahal2 ke anak2nya yang keuangannya biasa2 saja. si mama pernah meminta uang ke anaknya untuk ke RRC untuk tour ke beberapa tempat ibadah, kemudian minta uang ke anaknya untuk pergi ke Thailand untuk ke beberapa tempat ibadah, kemudian minta check up kesehatan ke penang. kalau tidak dituruti, ibu ini selalu mengungkit bagaimana pengorbanan si ibu waktu anak2nya masih kecil sampai kuliah. anak2nya sampai berhutang ke orang untuk menuruti keinginan2 mamanya karena merasa berhutang budi pada mamanya.
January 07, 2020, 06:00:09 PM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4772
  • Gender: Male
saya ingin tahu apa kata FT tentang hutang budi yang sesuai dengan kasus2 ini :

a. seorang pria sudah berkeluarga, sebut saja A. A ini dulunya hanya Kristen KTP. dia dulunya hidup tidak benar, suka konsumsi narkoba dan main wanita. ada 1 temannya, sebut saja B. B ini dulu adalah pria baik2 dan sudah berkeluarga, non Kristen. B ini kemudian dipengaruhi oleh A sehingga ikut kecanduan narkoba dan main wanita, hingga hidupnya hancur karena tertangkap polisi dan dipenjara beberapa tahun karena kepemilikan narkoba. si B ini uangnya habis dan papa mamanya yang bukan orang kaya juga habis uang banyak agar penjaga penjara menjaga anaknya agar tidak diapa2kan oleh penghuni penjara yang lain. sekarang si A ini sudah bertobat, sedangkan si B baru 1-2 tahun keluar penjara dan masih mulai menata hidupnya meski jatuh bangun dan sudah bebas dari narkoba. cerita istri si A, A ini merasa berhutang budi karena akibat pengaruhnya, hidup si B jadi hancur. si A sampai rela menjual barang2nya demi membantu ekonomi si B. si istri A keberatan karena ekonomi A sendiri pas2an.

b. Cut...

Amsal 17:17-18 berkata,
17  Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.
18  Orang yang tidak berakal budi ialah dia yang membuat persetujuan, yang menjadi penanggung bagi sesamanya.

Menjadi saudara dalam kesukaran itu baik dilakukan, namun bukan berarti menjadi penanggung hidup sahabatnya. Itu adalah perbuatan yang tidak berakal budi alias bodoh.

Si A tidak berhutang apa-apa terhadap si B, sebab jalan hidup yang dipiih oleh si B adalah keputusannya sendiri bukan diputuskan oleh si A. Tiap orang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, atas keputusannya sendiri. Bahkan keputusan salah seorang bapak tidak ditanggung oleh anaknya demikian sebaliknya, sebab masing-masing bertanggung jawab atas dirinya sendiri dihadapan Tuhan dan manusia. Kel 32:33 menulis hukum TUHAN dengan jelas, "Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: "Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku."" Juga kembali ditegaskan dalam Yeh 18:20, "Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya." Jadi tidak ada hubungan yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi atau yang mengajar dan diajar untuk menanggung dosa yang sama. Masing-masing bertanggungj jawab terhadap dosanya sendiri-sendiri itu adalah kebenaran yang diajarkan dalam Kitab Suci.

Rasa bersalah itu wajar, ada kisah nabi tua dan nabi muda dalam 1 Raja 13:11-32, dimana nabi tua menghasut nabi muda untuk jatuh dalam dosa dan kemudian matilah nabi muda karena hasutannya. Akhirnya nabi tua itu menyesal dan dalam pesannya kepada anak-anaknya kelak jika ia mati biarlah dia dikubur dalam satu liang dengan nabi muda yang mati gara-gara dirinya itu.

Rasa bersalah tidak mengembalikan orang kepada hidup. Hanya Kristus saja yang dapat mengembalikan orang kepada hidup. Karena itu janganlah ikut mati dalam satu liang tetapi berjuanglah dalam doa dan perbuatan agar si B dapat mengenal dan memperoleh hidup dari sumber segala hidup yaitu Tuhan Yesus Kristus. Jangan berjuang menjadi penanggungnya, itu perbuatan bodoh dan tidak juga membawa dampak apa-apa kepada kehidupan yang lebih baik, baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang. Bawa si B menemukan Kristus! Itu balas budi yang paling tepat.
« Last Edit: January 08, 2020, 12:09:37 PM by Krispus »
January 09, 2020, 12:14:50 PM
Reply #2
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4772
  • Gender: Male
saya ingin tahu apa kata FT tentang hutang budi yang sesuai dengan kasus2 ini :

a. cut...

b. ada seorang mama dan 2 anaknya. mamanya ikut kepercayaan nenek moyang, anak2nya sudah Kristen. karena sudah 60an tahun dan suami sudah meninggal, si mama ini diberi uang tiap bulan dari anak2nya. si mama ini sering meminta hal yang mahal2 ke anak2nya yang keuangannya biasa2 saja. si mama pernah meminta uang ke anaknya untuk ke RRC untuk tour ke beberapa tempat ibadah, kemudian minta uang ke anaknya untuk pergi ke Thailand untuk ke beberapa tempat ibadah, kemudian minta check up kesehatan ke penang. kalau tidak dituruti, ibu ini selalu mengungkit bagaimana pengorbanan si ibu waktu anak2nya masih kecil sampai kuliah. anak2nya sampai berhutang ke orang untuk menuruti keinginan2 mamanya karena merasa berhutang budi pada mamanya.


Memelihara hidup orang tua adalah tanggung jawab anak-anaknya. 1Tim 5:4 mengatakan, "tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah." Dalam surat tersebut memang rasul Paulus sedang membahas mengenai pemeliharaan hidup para janda oleh jemaat, namun tentang bakti anak terhadap orang tua tidak terbatas hanya pada mama yang sudah ditinggal papa saja, melainkan juga mencakup orang tua yang masih lengkap termasuk kakek dan neneknya. Secara tegas dalam 1 Tim 5:8 ditegaskan, "tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman." Sanak saudara yang dimaksud dalam perikop tersebut adalah bapa ibu kakek nenek mereka, orang-orang yang sudah tua yang tidak lagi bisa bekerja.

Tentang kewajiban tersebut saya yakin anda paham. Sekarang tentang batasannya.

1 Tim 5:6 mengatakan demikian, "tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup." Masih dalam perikop yang sama, dimana kita telah pahami bahwa walau rasul Paulus sedang membahas tentang para janda namun cakupannya termasuk papa dan mama, kakek dan nenek. Dimana jika mereka hidup berlebih-lebih dan bermewah-mewah maka orang tersebut telah dianggap mati dihadapan Tuhan walau faktanya masih hidup dan bernafas. Teguran ini memberikan kita batasan sampai seberapa selayaknya kita memelihara hidup mereka. Kita tidak berusaha agar mereka hidup berlebih-lebih dan bermewah-mewah, namun mencukupi segala kebutuhan hidup layak, mulai dari makan, minum, kesehatan, tempat tinggal, bacaan, olahraga dan aktivitas positif lainya. Tidak termasuk yang anda sebutkan diatas, minta barang yang mahal-mahal dan bepergian ke luar negari. Tentang hal tersebut bukanlah kewajiban anak. Walau anak mampu sekalipun juga harus tetap diperhatiakn nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan, agar pemeliharaan kita tidak menjerumuskan hidup mereka ke dalam jebakan dosa.

Selain kewajiban memelihara hidup, kita juga harus menghormati mereka sampai dalam hati kita. Jauhkan  persungutan dari dalam diri kamu. Karena Tuhan tidak suka orang yang bersungut-sungut. Lihatlah apa yang diperbuat TUHAN pada zaman lampau sebagai peringatan dalam Bil 11:1, "pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan." Jika kita memelihara orang tua kita, maka kita harus lakukan dengan sukacita bukan bersungut-sungut.

Flp 2:14 mengatakan, "Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan."

January 13, 2020, 07:48:44 PM
Reply #3
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 517
  • Gender: Male
  • Denominasi: kharismatik
Amsal 17:17-18 berkata,
17  Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.
18  Orang yang tidak berakal budi ialah dia yang membuat persetujuan, yang menjadi penanggung bagi sesamanya.

Menjadi saudara dalam kesukaran itu baik dilakukan, namun bukan berarti menjadi penanggung hidup sahabatnya. Itu adalah perbuatan yang tidak berakal budi alias bodoh.

Si A tidak berhutang apa-apa terhadap si B, sebab jalan hidup yang dipiih oleh si B adalah keputusannya sendiri bukan diputuskan oleh si A. Tiap orang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, atas keputusannya sendiri. Bahkan keputusan salah seorang bapak tidak ditanggung oleh anaknya demikian sebaliknya, sebab masing-masing bertanggung jawab atas dirinya sendiri dihadapan Tuhan dan manusia. Kel 32:33 menulis hukum TUHAN dengan jelas, "Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: "Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku."" Juga kembali ditegaskan dalam Yeh 18:20, "Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya." Jadi tidak ada hubungan yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi atau yang mengajar dan diajar untuk menanggung dosa yang sama. Masing-masing bertanggungj jawab terhadap dosanya sendiri-sendiri itu adalah kebenaran yang diajarkan dalam Kitab Suci.

Rasa bersalah itu wajar, ada kisah nabi tua dan nabi muda dalam 1 Raja 13:11-32, dimana nabi tua menghasut nabi muda untuk jatuh dalam dosa dan kemudian matilah nabi muda karena hasutannya. Akhirnya nabi tua itu menyesal dan dalam pesannya kepada anak-anaknya kelak jika ia mati biarlah dia dikubur dalam satu liang dengan nabi muda yang mati gara-gara dirinya itu.

Rasa bersalah tidak mengembalikan orang kepada hidup. Hanya Kristus saja yang dapat mengembalikan orang kepada hidup. Karena itu janganlah ikut mati dalam satu liang tetapi berjuanglah dalam doa dan perbuatan agar si B dapat mengenal dan memperoleh hidup dari sumber segala hidup yaitu Tuhan Yesus Kristus. Jangan berjuang menjadi penanggungnya, itu perbuatan bodoh dan tidak juga membawa dampak apa-apa kepada kehidupan yang lebih baik, baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang. Bawa si B menemukan Kristus! Itu balas budi yang paling tepat.

awalnya terpengaruh narkoba itu karena si A beberapa kali menghisap ganja seruangan dengan B, sehingga B kena asapnya sehingga ikut terkena efeknya. B itu orang baik2, sehingga tidak mengerti kalau dari asap ganja itu bisa ikut merasakan efek nikmatnya. kemudian mulai coba2 narkoba lain.
bagaimana kalau misal minumannya pernah diberi semacam ekstasi  sebagai prank bersama teman2nya waktu ada pesta ulang tahun. teman saya ada yang jadi pecandu narkoba setelah minumannya dicampur semacam ekstasi. apakah itu masih termasuk keputusannya sendiri?


si orang tua tidak hidup bermewah-mewah, rumahnya tetap kecil, kendaraannya model kuno tapi yang pakai anaknya terus, jarang pergi2, teleponnya si mama saja bukan smartphone. pemberian anaknya cukup untuk biaya bulanan si mama. kalau pergi ke tempat ibadah agamanya di luar negeri itu adalah keinginannya sebelum mati. kalau check up di luar negeri itu karena ketakutan akan penyakit kanker, si mama sering dengar cerita di Indonesia salah diagnosa jadi agak takut periksa di Indonesia.
January 20, 2020, 12:25:11 PM
Reply #4
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4772
  • Gender: Male
awalnya terpengaruh narkoba itu karena si A beberapa kali menghisap ganja seruangan dengan B, sehingga B kena asapnya sehingga ikut terkena efeknya. B itu orang baik2, sehingga tidak mengerti kalau dari asap ganja itu bisa ikut merasakan efek nikmatnya. kemudian mulai coba2 narkoba lain.
bagaimana kalau misal minumannya pernah diberi semacam ekstasi  sebagai prank bersama teman2nya waktu ada pesta ulang tahun. teman saya ada yang jadi pecandu narkoba setelah minumannya dicampur semacam ekstasi. apakah itu masih termasuk keputusannya sendiri?
Perlu anda ketahui bahwa ganja tidak menyebabkan penggunanya kecanduan, apalagi hanya menghirup sesekali saja. Jadi pada saat ia mencoba narkoba jenis yang lain itu adalah keputusannya sendiri.

Pengguna ekstasi hanya satu kali saja saat prank juga tidak menimbulkan kecanduan. Kecanduan adalah efek samping bagi pengguna yang telah berulang-ulang memakai obat-obatan psikotropika. Anda juga harus paham tentang hal-hal umum seperti ini.

Seorang yang telah kecanduan obat psikotropika dapat dipastikan ia mengkonsumsi obat itu secara sengaja terus menerus bukan sekali kejadian. Jadi seorang yang kecanduan dipastikan itu adalah keputusannya sendiri.

Jika orang dipaksa orang lain sehingga kecanduan seperti dalam film-film Hollywood atau Hongkong itu juga hanya ada di film saja. Pada kenyataannya mereka hanya ditawari gratis satu dua kali sampai kecanduan baru dijual dengan harga tinggi kalau sudah kecanduan. Itu juga keputusannya sendiri menerima tawaran gratis mereka.

Quote
si orang tua tidak hidup bermewah-mewah, rumahnya tetap kecil, kendaraannya model kuno tapi yang pakai anaknya terus, jarang pergi2, teleponnya si mama saja bukan smartphone. pemberian anaknya cukup untuk biaya bulanan si mama. kalau pergi ke tempat ibadah agamanya di luar negeri itu adalah keinginannya sebelum mati. kalau check up di luar negeri itu karena ketakutan akan penyakit kanker, si mama sering dengar cerita di Indonesia salah diagnosa jadi agak takut periksa di Indonesia.

Anda telah berbuat baik sesuai dengan kemampuan masing-masing keluarga.

Keinginan sebelum mati tidak selalu harus dituruti jika hal itu tidak sejalan dengan kehendak Allah. Boleh dikatakan percuma... Karena itu terlebih baik adalah sebelum mati ia telah mengenal satu-satunya Juruselamat dan Penebus dosa manusia yang kepadanya manusia beroleh hidup kekal dan terhindar dari maut kekal.
February 21, 2020, 07:38:13 PM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 517
  • Gender: Male
  • Denominasi: kharismatik
Perlu anda ketahui bahwa ganja tidak menyebabkan penggunanya kecanduan, apalagi hanya menghirup sesekali saja. Jadi pada saat ia mencoba narkoba jenis yang lain itu adalah keputusannya sendiri.

Pengguna ekstasi hanya satu kali saja saat prank juga tidak menimbulkan kecanduan. Kecanduan adalah efek samping bagi pengguna yang telah berulang-ulang memakai obat-obatan psikotropika. Anda juga harus paham tentang hal-hal umum seperti ini.

Seorang yang telah kecanduan obat psikotropika dapat dipastikan ia mengkonsumsi obat itu secara sengaja terus menerus bukan sekali kejadian. Jadi seorang yang kecanduan dipastikan itu adalah keputusannya sendiri.

Jika orang dipaksa orang lain sehingga kecanduan seperti dalam film-film Hollywood atau Hongkong itu juga hanya ada di film saja. Pada kenyataannya mereka hanya ditawari gratis satu dua kali sampai kecanduan baru dijual dengan harga tinggi kalau sudah kecanduan. Itu juga keputusannya sendiri menerima tawaran gratis mereka.
hahaha anda pernah coba narkoba?
ganja itu memang tidak memiliki efek parno, tapi efek ganja yang membuat pikiran jadi "bahagia". itu membuat orang ingin terus mengulangi memakai ganja. jadi efek kecanduannya lebih bersifat psikologis. sebagian orang memang tidak bisa mengatasi keinginan psikologis untuk mencari "kebahagiaan" lewat ganja. mungkin seperti game online, membuat seseorang kecanduan dan orang lain tidak kecanduan. dulu saya tidak kecanduan ganja meski pakai sekitar 5 kali, tapi teman kos saya sepertinya kecanduan, 2-3 hari sekali menghisap ganja di kamar kosnya karena katanya merasa stres tiap hari. jadi sepertinya B ini tipe orang yang mudah kecanduan ganja seperti teman kos saya.
saya memang tidak pernah memakai ekstasi, tapi dari kesaksian 2 teman saya yang pernah memakai ekstasi (salah satunya yang kena prank waktu ultah) dan ganja, ekstasi itu cuma perlu sekali, langsung seperti agak parno setelah efek ekstasinya hilang. kecanduannya lebih bersifat fisik, seakan tubuh menginginkannya lagi

Anda telah berbuat baik sesuai dengan kemampuan masing-masing keluarga.

Keinginan sebelum mati tidak selalu harus dituruti jika hal itu tidak sejalan dengan kehendak Allah. Boleh dikatakan percuma... Karena itu terlebih baik adalah sebelum mati ia telah mengenal satu-satunya Juruselamat dan Penebus dosa manusia yang kepadanya manusia beroleh hidup kekal dan terhindar dari maut kekal.
kok saya?
jadi orang tua belum Kristen tidak layak mendapat balas budi dari anaknya yang Kristen?
dari mana anda tahu anaknya belum mengenalkan Kristus?
February 22, 2020, 10:33:39 AM
Reply #6
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 122
  • Denominasi: Interdenominasi
Kasus a. adalah wujud sistem keadilan Tuhan, hukum tabur tuai berlaku. A menabur kejahatan kepada B, sehingga B membuahkan kesengsaraan terhadap dirinya, sementara A bertobat, maka sekarang tugas A membawa B kepada jalan pertobatan juga. A jelas tidak akan tenang selama B masih berkubang kesengsaraan. Tugas A lah membawa B kepada pertobatan dan mengentaskanya dari kesengsaraan, sama seperti waktu A menjerumusk B kepada kejahatan, maka jerumuskanlah B kepada kebaikan.

kasus b. adalah tindakan bodoh saat berhutang untuk membayar hutang. Orang yang meminta balas budi dari budi baiknya adalah orang yang telah kehilangan budi baiknya disaat ia meminta balasannya. Karena semua tindakan baik itu berdasarkan kerelaan hati dan meminta pamrih tidak lagi termasuk dalam tindakan baik.
"Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."
(Yohanes 8:31-32)
March 03, 2020, 08:24:22 AM
Reply #7
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 517
  • Gender: Male
  • Denominasi: kharismatik
Kasus a. adalah wujud sistem keadilan Tuhan, hukum tabur tuai berlaku. A menabur kejahatan kepada B, sehingga B membuahkan kesengsaraan terhadap dirinya, sementara A bertobat, maka sekarang tugas A membawa B kepada jalan pertobatan juga. A jelas tidak akan tenang selama B masih berkubang kesengsaraan. Tugas A lah membawa B kepada pertobatan dan mengentaskanya dari kesengsaraan, sama seperti waktu A menjerumusk B kepada kejahatan, maka jerumuskanlah B kepada kebaikan.

kasus b. adalah tindakan bodoh saat berhutang untuk membayar hutang. Orang yang meminta balas budi dari budi baiknya adalah orang yang telah kehilangan budi baiknya disaat ia meminta balasannya. Karena semua tindakan baik itu berdasarkan kerelaan hati dan meminta pamrih tidak lagi termasuk dalam tindakan baik.
1. kalau istrinya A tidak setuju tindakan A? sampai sejauh apa tanggung jawab A harus mengentaskan B?
2. apakah salah mau berhutang demi orang tua? orang tuanya sudah tua, tidak bisa kerja lagi, tapi masih memiliki keinginan2 terakhir sebelum meninggal
March 03, 2020, 09:28:42 PM
Reply #8
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 122
  • Denominasi: Interdenominasi
1. kalau istrinya A tidak setuju tindakan A? sampai sejauh apa tanggung jawab A harus mengentaskan B?
2. apakah salah mau berhutang demi orang tua? orang tuanya sudah tua, tidak bisa kerja lagi, tapi masih memiliki keinginan2 terakhir sebelum meninggal

1. Sejauh ketenangan hati si A, istri yang baik tentu akan menolong suami mendapatkan ketenangan hatinya.

2. Kesalahanya bukan soal karena demi orang tua, tapi berhutang untuk memaksa sesuatu terjadi jelas tidak benar. Adalah baik untuk menyenangkan hati orang tua, tetapi berhutang bukanlah cara yang tepat. Ada beberapa kemungkinan dalam kasus ini yaitu :
a. Komunikasi dengan orang tua tidak berjalan baik dan tidak terbuka atau terbuka namun tidak ada saling pengertian.
b. Jika dulu orang tua sampai berhutang demi anaknya, kemudian sekarang anaknya harus berhutang demi orang tuanya, hati-hati mungkin ada kutuk hutang dalam keluarga.
"Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."
(Yohanes 8:31-32)
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)