Author Topic: ukuran kesederhanaan  (Read 667 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 09, 2020, 12:33:14 PM
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 517
  • Gender: Male
  • Denominasi: kharismatik
saya liat akun instagram yang menampilkan barang2 mewah yang dimiliki hamba Tuhan. saat melihat gambar2 akun tersebut, saya jadi bertanya-tanya,
1. bagaimanakah mengukur kesederhanaan seseorang?
2. agar tetap sederhana, berapakah harusnya pendapatan seorang Hamba Tuhan?
3. kalau seorang Hamba Tuhan hidupnya sederhana tapi menyekolahkan anaknya ke luar negeri, apakah termasuk kemewahan?
4. apakah hidup sederhana itu cuma untuk Hamba Tuhan? ataukah untuk semua orang Kristen? misal jemaat biasa pamer kemewahan atau liburan ke luar negeri apakah juga salah? mungkin dengan alasan "jemaat lain hidup kesusahan tapi ada jemaat yang hidupnya menghamburkan uang"
pertanyaan2nya itu dulu, tadi muncul banyak pertanyaan waktu liat akun tersebut, tapi banyak yang lupa. menyusul saja kalau ingat lagi.
January 09, 2020, 02:13:49 PM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4772
  • Gender: Male
saya liat akun instagram yang menampilkan barang2 mewah yang dimiliki hamba Tuhan. saat melihat gambar2 akun tersebut, saya jadi bertanya-tanya,
1. bagaimanakah mengukur kesederhanaan seseorang?
2. agar tetap sederhana, berapakah harusnya pendapatan seorang Hamba Tuhan?
3. kalau seorang Hamba Tuhan hidupnya sederhana tapi menyekolahkan anaknya ke luar negeri, apakah termasuk kemewahan?
4. apakah hidup sederhana itu cuma untuk Hamba Tuhan? ataukah untuk semua orang Kristen? misal jemaat biasa pamer kemewahan atau liburan ke luar negeri apakah juga salah? mungkin dengan alasan "jemaat lain hidup kesusahan tapi ada jemaat yang hidupnya menghamburkan uang"
pertanyaan2nya itu dulu, tadi muncul banyak pertanyaan waktu liat akun tersebut, tapi banyak yang lupa. menyusul saja kalau ingat lagi.

Ukuran kesederhanaan itu adalah hati.

Kesederhanaan tidak bisa diukur dengan nilai mata uang atau dengan banyaknya barang. Raja Daud hidup sederhana dengan kekayaannya, namun Gehazi hambanya nabi Elisa mencari kemewahan dengan mengejar talenta perak pemberian Naaman. Makan steak bagi sebagian orang adalah hal yang biasa namun bagi sebagian lagi dianggapnya makanan mewah. Ada orang yang membeli mobil CRV seakan telah membeli mobil mewah, namun orang lain menganggap biasa saja. Ada orang yang memakai baju yang dibeli di toko baju ZARA terasa biasa-biasa saja ada yang merasa telah memakai baju mahal dan bergengsi. Jadi ukuran sederhana itu seperti dikatakan 1Kor 7:31, "pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu."

Saat seorang kaya yang mencari hidup kekal bertanya kepada Tuhan Yesus dikatakan kepadanya dalam Mrk 10:21-23, "Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."" Kita semua tahu bahwa Tuhan Yesus tidak pernah memerintahkan murid-murid untuk benar-benar menjual seluruh hartanya untuk dibagikan kepada orang miskin, sebab tantangan yang disampaikan Tuhan Yesus adalah tantangan hati. Apakah ia mencintai mamon atau mencintai Allah. Sebab jelas tidak mungkin orang mencintai mamon sekaligus mencintai Allah, Mat 6:24.

Bermewah-mewah, hidup berlebih-lebih dan berfoya-foya adalah soal hati manusia. Tidak hanya dapat dilakukan oleh orang kaya yang banyak duitnya, namun orang yang tidak kayapun dapat melakukan hal itu sesuai ukuran mereka.

Jika kita paham hal ini maka kita tidak meributkan berapa gaji pendeta yang dapat dibilang sederhana? Sebab kita semua tahu biaya hidup di Jakarta lebih tinggi dari pada biaya hidup di kota Jombang. Keluarga dengan satu anak lebih rendah kebutuhannya dari pada keluarga dengan empat anak. Tinggal dalam rumah luas lebih besar biayanya dari pada tinggal dalam rumah yang lebih kecil. Tiap kondisi, situasi dan tempat dimana para pendeta melayani tidak sama demikian juga dengan nilai gaji yang sepantasnya untuk mereka harus dihitung dengan cermat. Tidak terlalu berlebih juga tidak terlu pas-pasan. Nilainya tidak bisa dibicarakan dalam forum diskusi bebas seperti disini.

Sekolah di luar negeri tidak selalu lebih mahal dari pada sekolah di dalam negeri. Beberapa orang yang saya kenal total biaya yang mereka keluarkan untuk kuliiah anaknya dan biaya hidupnya di beberapa negara di luar Indonesia ternyata lebih murah dari pada menyekolahkan anaknya dari daerah ke kota metropolitan, semisal Jabotabek atau Surabaya. Belum lagi kebanyakan mereka kuliah sambil magang secara resmi yang menjadi hak pelajar asing. Beberapa dari orang yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri ternyata jauh lebih murah malah dari biaya dalam negeri. Jadi mari kita mulai menghilangkan stereotipe sekolah di luar negeri itu lebih mahal dari sekolah di dalam negeri. Jangankan sekolah, tiket pesawat domestik tidak sedikit yang lebih mahal dari tiket penerbangan internasional.

Hidup sederhana adalah teladan Tuhan Yesus Kristus yang harus diikuti oleh semua orang yang mengaku hidup di dalam Kristus. 1Yoh 2:6 mengatakan, "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." Bagaimana Kristus hidup selama di dunia ini? Ia hidup dengan segenap hati untuk melakukan kehendak Allah Bapa, bukan untuk menikmati dunia ini.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)