Author Topic: Yusuf: Mematahkan Persepsi Negatif Anak Muda  (Read 400 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

April 20, 2020, 04:24:31 PM
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 149
  • Denominasi: Protestan
Sumber: https://gkdi.org/blog/yusuf/

4 Kualitas Yusuf yang Luar Biasa

1. Punya Integritas di Dalam Tuhan

Ketika bekerja di rumah Potifar, Yusuf tidak mengasihani diri  atau meratapi hidupnya. Tidak malas-malasan, apalagi menyimpan dendam kesumat. Justru, Yusuf menunjukkan kerajinan, kesetiaan, pengabdian, kejujuran, dan integritas yang tinggi di dalam Tuhan.

Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya. – Kejadian 39:6

Bagaimana sikapmu dalam pekerjaan atau studi? Apakah kamu sering datang terlambat ke kantor atau kampus? Tidak menyelesaikan tugas tepat waktu dan bermalas-malasan? Bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, bukan dengan pengabdian dan ketulusan? Tidak jujur atau curang dalam pengerjaannya?

Meskipun kamu masih muda, milikilah integritas dalam bekerja dan belajar. Dengan demikian, kamu menampilkan pribadi Tuhan yang kamu sembah.

2. Membenci Dosa

Yusuf menunjukkan penyangkalan dan penguasaan diri yang matang, ketulusan mengabdi, dan rasa takut akan Tuhan ketika istri Potifar membujuknya tidur bersama (Kejadian 39:8-9). Ia mempertaruhkan segalanya untuk menghindari dosa terhadap majikannya dan terhadap Tuhan. Apapun keadaannya dan godaannya, Yusuf tidak ragu untuk hidup suci dan menjaga kekudusan.

Kalau kamu takut kepada Allah, kamu akan memiliki penyangkalan dan penguasaan diri yang baik. Ini akan membuatmu membenci dan menghindari dosa, sekecil apa pun itu.

Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. – Roma 6:13

3. Peduli kepada Sesama

Kendati dipenjara atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Yusuf tetap beriman dan berpengharapan kepada Tuhan. Sekalipun rencana dan janji-janji Tuhan tampaknya terasa jauh, Yusuf tidak patah arang.

Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. – Kejadian 39:22

Sepintas, hidup Yusuf berjalan di luar rencananya. Ia dibenci saudara-saudaranya, menjadi budak di negeri orang, difitnah, dan dipenjara—mungkinkah Tuhan bekerja dalam hidupnya yang tampak berantakan itu?

Namun, iman Yusuf tidak goyah. Sebaliknya, ia menunjukkan kepedulian kepada pelayan-pelayan Firaun yang ditahan bersama-sama dengannya di penjara.

Ketika pada waktu pagi Yusuf datang kepada mereka, segera dilihatnya, bahwa mereka bersusah hati. Lalu ia bertanya kepada pegawai-pegawai istana Firaun yang ditahan bersama-sama dengan dia dalam rumah tuannya itu: “Mengapakah hari ini mukamu semuram itu?” – Kejadian 40:6-7

Saat mengalami kesulitan hidup, masihkah kamu percaya bahwa Tuhan tetap bekerja dalam setiap keadaaan dan masalah? Apakah kamu hanya memikirkan diri sendiri? Ataukah kamu tetap mengasihi dan memperhatikan orang lain?

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. – Kolose 3:17

4. Mengampuni Sepenuh Hati

Setelah menafsirkan mimpi Firaun dan kedua pegawai istana, Yusuf dibebaskan dari penjara. Di usia tiga puluh tahun, nasibnya berubah. Dari narapidana, ia menjadi orang nomor dua di Mesir (Kejadian 41:46).

Sembilan tahun kemudian, Yusuf kembali bertemu dengan saudara-saudaranya. Berarti dua dekade lebih telah berlalu sejak mereka menjualnya sebagai budak.

Sebagai orang yang berkuasa (Kejadian 42:6), Yusuf bisa membalas dendam dan membuat perhitungan. Ini adalah kesempatan emasnya! Namun, Yusuf memilih mengampuni dan menyambut mereka dengan tangan terbuka. Bahkan, ia menghibur kesepuluh saudaranya yang merasa bersalah terhadapnya.

Di usia muda, Yusuf membuktikan bahwa ia memiliki integritas dalam bekerja, rasa takut akan Tuhan, kepedulian terhadap sesama, serta hati yang mengampuni. Terlebih, kepada orang-orang yang membuat hidupnya menderita. Lewat Yusuf, Tuhan menunjukkan bahwa Dia sanggup mengubah dukacita menjadi sukacita. Mengubah hidup yang tampaknya hancur menjadi hidup penuh kelimpahan.

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. – 1 Timotius 4:12

Kisah Yusuf membungkam semua persepsi negatif tentang anak muda. Mari kita teladani kualitas-kualitas pribadinya. Jangan jadikan usia muda sebagai excuse atau kendala untuk memuliakan Tuhan. Kita juga bisa seperti Yusuf!

Baca artikel lengkapnya di: https://gkdi.org/blog/yusuf/
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)