Author Topic: Renungan harian GKJW  (Read 3995 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

July 16, 2020, 08:27:02 AM
Reply #50
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://gkjw.or.id/category/pah/

https://gkjw.or.id/pah/renungan-harian-16-juli-2020/

https://drive.google.com/file/d/1kJJyoZyi34boOW6RHXuJea5MmkwUZlc7/view


Menghargai Kasih-Nya Renungan Harian 16 Juli 2020   
Renungan Harian • 16 July 2020 • Dewan Pembinaan Teologi GKJW

Bacaan Alkitab : Ibrani 2 : 1 – 9  |   Pujian : KJ. 178 : 1, 2
Nats: ”… bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu …” (Ay. 3)

Setiawan Djodi adalah pebisnis di bidang perminyakan dan properti yang lebih dikenal sebagai seorang musisi kenamaan beraliran rock. Pada tahun 2007, Setiawan Djodi divonis menderita sirosis hati dan harus menjalani transplantasi liver. Penyakit ini akibat dari gaya hidup di masa mudanya yang akrab dengan alkohol, di samping memang ada riwayat keturunan penyakit hati kronis seperti yang juga diderita ibunya. Beruntung bahwa Shri Djody Jehan, anak keempatnya, ternyata adalah satu-satunya donor yang cocok bagi Djodi. Meskipun pada awalnya Djodi menolak karena khawatir tentang resiko yang akan dialami anak perempuannya yang pada waktu itu masih sangat muda. Tetapi dengan cinta dan keberaniannya, Jehan bersikeras memberikan sebagian hatinya untuk menyelamatkan hidup ayahnya. Peristiwa tersebut menjadi titik balik bagi Setiawan Djodi. Sejak itu hidupnya lebih berfokus pada “cinta, kehidupan dan Tuhan”.

Adalah hal yang wajar memberikan yang terbaik bagi orang yang dicintai atau dikasihi. Allah menganugerahkan karunia-Nya, yaitu keselamatan. Kita semua telah divonis untuk kematian yang kekal, tetapi Yesus telah mendonasikan hidup-Nya dengan mengalami maut bagi setiap dari kita. Keselamatan ini bukanlah karena upaya kita berjuang keras untuk memperolehnya. Kita tidak akan pernah bisa mendapatkan keselamatan itu karena dosa-dosa yang telah kita perbuat. Namun karena begitu mengasihi manusia, Allah telah memberikan keselamatan itu secara cuma-cuma supaya hidup kita tidak akan berakhir sia-sia.

Betapa indah dan berharganya pengorbanan yang telah diberikan Tuhan Yesus kepada kita, baik wanita maupun pria dikasihi Tuhan. Bagaimana seharusnya kita mensyukuri dan menghargai karunia Tuhan tersebut? Wajib bagi kita berjuang begitu rupa mempertahankan dan mengerjakan keselamatan yang telah kita terima. Kita mau berbalik dari cara hidup yang sembrono dan berkompromi dengan dosa. Kita mau melayani Dia dengan melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya (Efesus 2:10). Kapan kita harus melakukan pekerjaan baik itu? Sekarang! Bukan esok, lusa atau nanti! “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.” (RS).

 “Banyak yang mengaku mendapat keselamatan tetapi sedikit yang mengerjakan keselamatan itu.”






July 17, 2020, 05:23:21 AM
Reply #51
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


 https://gkjw.or.id/category/pah/

https://gkjw.or.id/pah/renungan-harian-16-juli-2020/

https://drive.google.com/file/d/1kJJyoZyi34boOW6RHXuJea5MmkwUZlc7/view


Menghargai Kasih-Nya Renungan Harian 16 Juli 2020   
Renungan Harian • 16 July 2020 • Dewan Pembinaan Teologi GKJW

Bacaan Alkitab : Ibrani 2 : 1 – 9  |   Pujian : KJ. 178 : 1, 2
Nats: ”… bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu …” (Ay. 3)

Setiawan Djodi adalah pebisnis di bidang perminyakan dan properti yang lebih dikenal sebagai seorang musisi kenamaan beraliran rock. Pada tahun 2007, Setiawan Djodi divonis menderita sirosis hati dan harus menjalani transplantasi liver. Penyakit ini akibat dari gaya hidup di masa mudanya yang akrab dengan alkohol, di samping memang ada riwayat keturunan penyakit hati kronis seperti yang juga diderita ibunya. Beruntung bahwa Shri Djody Jehan, anak keempatnya, ternyata adalah satu-satunya donor yang cocok bagi Djodi. Meskipun pada awalnya Djodi menolak karena khawatir tentang resiko yang akan dialami anak perempuannya yang pada waktu itu masih sangat muda. Tetapi dengan cinta dan keberaniannya, Jehan bersikeras memberikan sebagian hatinya untuk menyelamatkan hidup ayahnya. Peristiwa tersebut menjadi titik balik bagi Setiawan Djodi. Sejak itu hidupnya lebih berfokus pada “cinta, kehidupan dan Tuhan”.

Adalah hal yang wajar memberikan yang terbaik bagi orang yang dicintai atau dikasihi. Allah menganugerahkan karunia-Nya, yaitu keselamatan. Kita semua telah divonis untuk kematian yang kekal, tetapi Yesus telah mendonasikan hidup-Nya dengan mengalami maut bagi setiap dari kita. Keselamatan ini bukanlah karena upaya kita berjuang keras untuk memperolehnya. Kita tidak akan pernah bisa mendapatkan keselamatan itu karena dosa-dosa yang telah kita perbuat. Namun karena begitu mengasihi manusia, Allah telah memberikan keselamatan itu secara cuma-cuma supaya hidup kita tidak akan berakhir sia-sia.

Betapa indah dan berharganya pengorbanan yang telah diberikan Tuhan Yesus kepada kita, baik wanita maupun pria dikasihi Tuhan. Bagaimana seharusnya kita mensyukuri dan menghargai karunia Tuhan tersebut? Wajib bagi kita berjuang begitu rupa mempertahankan dan mengerjakan keselamatan yang telah kita terima. Kita mau berbalik dari cara hidup yang sembrono dan berkompromi dengan dosa. Kita mau melayani Dia dengan melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya (Efesus 2:10). Kapan kita harus melakukan pekerjaan baik itu? Sekarang! Bukan esok, lusa atau nanti! “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.” (RS).

 “Banyak yang mengaku mendapat keselamatan tetapi sedikit yang mengerjakan keselamatan itu.”







July 17, 2020, 05:35:45 AM
Reply #52
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://gkjw.or.id/category/pah/

https://gkjw.or.id/pah/renungan-harian-17-juli-2020/

https://drive.google.com/file/d/1YJUPTlJZwA8SqBr1KORUv9qP4FE3a92W/view


Isuk Dele Sore Tempe Renungan Harian 17 Juli 2020   
Renungan Harian • 17 July 2020 • Dewan Pembinaan Teologi GKJW

Waosan : Yehezkiel 39 : 21 – 29      |   Pamuji : KPJ. 120
Nats: “Ingsun ora nutupi pasuryaningSun maneh tumrap wong-wong iku, samangsa Ingsun ngesokake RohingSun marang turune Israel” (Ay. 29)

Tembung isuk dele sore tempe. Satunggal tembung ingkang asring kita pirengaken lan kita ungelaken. Tembung ingkang limrahipun dipun paringaken dhateng tiyang ingkang gampil molah-malih pituturipun, ugi kangge nyebat tiyang ingkang gampil mbenjani janji ingkang sampun kaungel. Kadospundi raosipun bilih pinanggih kaliyan tiyang kados mekaten? Limrahipun “gregeten” lan menawi saged sampun mboten purun sesambetan malih. Punapa mboten pareng “nesu, mangkel, gregeten” kaliyan tiyang ingkang kados mekaten? Pareng, awit punika prekawis ingkang limrah. Nanging sampun dangu-dangu, sampun ngantos bablas dados crah mboten saged rukun malih.

Ing waosan kita dinten punika, kita dipun ajak ningali pakaryan ageng Gusti Allah ingkang dipun paringaken dhateng bangsa Israel. Ing ayat-ayat sakderengipun dipun tedahaken kadospundi anggenipun Gusti Allah duka tumrap bangsa Israel lan paring panggulawenthah awujud dados baturtukon bangsa sanes. Kenging punapa? Awit bangsa Israel gampil mblenjani janji lan nyingkur Gusti. Gusti Allah estu duka awit bangsa Israel mboten saged njagi kasucening gesang. Gusti Allah ngersakken supados bangsa Israel minangka kagunganipun tansah mbudidaya njagi kasucening gesang karana Gusti Allah ingkang miji bangsa Israel punika Gusti Allah ingkang MahaSuci. Gusti duka, nanging mboten kangge selaminipun. Ing waosan kita dipun tedahaken bilih Panjenenganipun paring pangapunten lan paring wekdal dhateng bangsa Israel kangge ndandosi gesang tuwin “akur” malih kaliyan Panjenenganipun.

Punika satunggal pasinaon, asring kita pinanggih kaliyan tiyang-tiyang ingkang kasebat “isuk dele sore tempe”, gregeten, nesu, pareng nanging kedah purun mbikak manah kangge paring pangapunten dhateng tiyang ingkang lepat kaliyan kita. Kita ugi kaengetaken supados mboten gampil mblenjani janji kita dhumateng Gusti lan sesami kita supados kita tansah kajen lan saged gesang rukun tuwin binerkahan. Mangga kita sami galih lan ngupaya gesang ingkang bener lan pener inggih gesang miturut karsanipun Gusti. Amin (DH)

“Gusti, kawula nyuwun kiyat lan kawicaksanan supados sageda jejeg ing janji kawula dhumateng Paduka”

July 18, 2020, 05:16:02 AM
Reply #53
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://gkjw.or.id/category/pah/

https://gkjw.or.id/pah/renungan-harian-18-juli-2020/

https://drive.google.com/file/d/1-AAqK97fKvUJfQmkOnvIrKQn-I3AhFSB/view



Tuhan Mengenal Kita Renungan Harian 18 Juli 2020   
Renungan Harian • 18 July 2020 • Dewan Pembinaan Teologi GKJW

Bacaan : Mazmur 139 : 1 – 12 |  Pujian : KJ. 282
Nats: “TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku” (Ay. 1)

Seringkali ketika ponsel kita berbunyi, kita tidak langsung menjawabnya. Namun terlebih dahulu memeriksa nomor telepon yang menghubungi kita. Kalau dari nomor yang tidak kita kenal, kadang kita sengaja mengabaikannya. Karena memang saat ini semakin banyak orang tidak bertanggungjawab yang menyalahgunakan fungsi telepon untuk tujuan tindak kejahatan. Oleh kerena itu diperlukan kewaspadaan dan kehati-hatian bila menerima panggilan dari nomor yang tak dikenal. Salah satu cara yang seringkali dilakukan untuk mereject penelepon  yang tidak dikenal itu adalah dengan memblokir nomor yang meresahkan tersebut.

Kita patut bersyukur karena kita memiliki Tuhan yang sangat mengenal diri kita. Bahkan dalam Mazmur 139 dikatakan bahwa Dia mengenal kita lebih dari siapapun yang dekat dengan kita. Dia yang menciptakan kita, tentu Dia yang paling tahu segalanya tentang kita. Dia mengenal kita luar dalam. Tidak ada yang tersembunyi bagiNya, Dia tahu isi hati kita yang terdalam sekalipun. Yang lebih indah lagi, Tuhan adalah Bapa yang sangat mengasihi kita. Dia tidak akan pernah melupakan apalagi menolak kita. Bentuk kasih itu diwujudkan dengan kepedulian yang luar biasa. Dia siap tertawa gembira bersama kita, Dia pun turut bersedih bersama kita saat kita mengalami masalah atau menghadapi kesulitan, “kegelapan” dan “malam” (ay.1-12). Kita tidak tersembunyi dihadirat-Nya.

Konsekuensinya adalah kita tidak bisa lari dan bersembunyi dari Tuhan. Artinya tidak ada perkara kita yang tidak diketahui oleh Tuhan. Termasuk apa saja yang ada di pikiran kita, Dia sangat tahu secara rinci. Oleh karenanya itu, kita harus selalu memperhatikan dengan seksama bagaimana kita hidup.  Jangan sampai kita berperilaku tidak benar yang bisa mendatangkan murka Tuhan. Di sisi lain, kita bisa merasa tenang, tidak perlu kuatir bahkan dalam pergumulan yang berat sekalipun karena kita selalu ada dalam pengawasan Tuhan. Dia senantiasa menyertai, menuntun, membimbing, menopang serta melindungi kita kapanpun dan dimanapun kita berada. Kini mari kita menyadari bahwa  Tuhan senantiasa hadir didalam setiap hal dalam kehidupan kita. Dia tak jauh dari kita, rasakan dan temukan Tuhan yang hidup. (RS).

“Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar”





July 19, 2020, 05:34:36 AM
Reply #54
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://gkjw.or.id/category/pah/

https://gkjw.or.id/pah/renungan-harian-19-juli-2020/

https://drive.google.com/file/d/1t2SnmjpXE5dhKCm6iQw_6b4p6B5FQS65/view


Aja Kintir Renungan Harian 19 Juli 2020   
Renungan Harian • 19 July 2020 • Dewan Pembinaan Teologi GKJW

Waosan : Matius 13 : 24 – 30; 36 – 43     |   Pamuji : KPJ. 62
Nats: “Nanging wangsulane: Aja, sabab anggonmu padha mbedholi alang-alang iku, bisa uga ngatutake gandume. Cikben padha thukul bebarengan nganti mangsane panen. Ing wektu iku aku bakal tutur marang sing padha derep: Kumpukna dhisik alang-alange lan bentelana, banjur obongen, sawisi iku gandume klumpukna ing lumbungku.” (ayat 29-30)

Satunggal ibu paring pitedah dhateng putranipun ingkang badhe nglajengaken sekolahipun dhateng kitha sanes, “Le, sing ngati-ngati olehmu urip, oleh kekancan. Dijaga lakumu ben kowe ora nganti keli ing laku urip kang ora pener”. Mawi pitedah punika, kita dipun engetaken bilih ing salebeting gesang kedahipun kita tansah ngatos-ngatos awit ing donya punika isinipun mboten namung kasaenan nanging ugi peteng utawi “kejahatan”.

Prekawis punika ugi dipun tedahaken Gusti Yesus wekdal Panjenenganipun paring piwucal lumantar pasemon bab alang-alang lan gandum. Ing Galilea.  Kalih taneman punika panci ewet dipun bentenaken wekdal taksih alit. Kekalihan saged tuwuh sesarengan lan tamtu alang-alang badhe dados pambengan kangge tuwuhing gandum.

Punapa ingkang saged kita sinaoni saking waosan dinten punika:

    Ing lampah gesang punika kita saged pinanggih kaliyan maneka warni model, sifat lan karakter manungsa. Wonten ingkang leres, sae nanging kita saged ugi pinanggih ingkang mboten sae. Gusti ngersakaken kita sageda jejeg ing lampah gesang. Mboten “kintir”. Lan mbididaya kasetyan dhumateng dhawuh lan prasetyanipun Gusti.
    Langkung “gondhelan” dhumateng Gusti. Manungsa ringkih karana manungsa asring nggadhahi pepenging ingkang mboten saged dipun kendalekaken. Namung karana kekiyatanipun Gusti manungsa saged nglangkungi kathah godhaning gesang.
    Ing wancine “Kairos”, ing wekdal ingkang sampun katemtokaken mesthi ketawis pundi ingkang alang-alang lan pundi gandum. Lan ing wancinipun sedaya badhe nampi “bagianipun” piyambak – piyambak.

Dawuhipun Gusti punika minangka pangajeng-ajeng kangge tiyang pitados supados tansah njagi gesang, njagi kapidosan, supados ing wancinipun Putranipun Manungsa rawuh kita kakempalaken minangka gandum ingkang pantes kakempalaken ing lumbungipun. Amin. (DH)

 “Tansaha tegen lan tansaha gondhelan dhumateng Gusti”







July 20, 2020, 05:27:43 AM
Reply #55
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://gkjw.or.id/category/pah/

https://gkjw.or.id/pah/renungan-harian-20-juli-2020/

https://drive.google.com/file/d/1Zn8fmAsTq1MrXLPKkfeGu0o_FWmDEDbj/view


Takut Renungan Harian 20 Juli 2020   
Renungan Harian • 20 July 2020 • Dewan Pembinaan Teologi GKJW

Bacaan : Kejadian 32 : 3 – 21 |  Pujian : PKJ. 235
Nats: ”Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga ibu-ibu dengan anak-anaknya.” (Ay. 11)

Ketakutan atas wabah virus Corona Wuhan yang sangat ganas dan mematikan beberapa waktu yang lalu menimbulkan beberapa reaksi berlebihan dari masyarakat. Di Sumatra Barat bahkan ada gerakan dan demonstrasi  yang menolak kehadiran turis dan wisatawan asal China di wilayahnya, serta memboikot barang-barang buatan China yang dikhawatirkan membawa virus yang belum ada obatnya tersebut. Sempat pula beredar konten hoax di berbagai media sosial yang mengklaim bahwa virus Corona dapat disebarkan melalui handphone Xiaomi.

Yakub juga dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran yang sangat ketika akan bertemu dengan Esau, ”… jangan-jangan ia datang membunuh aku …”. Pikiran tersebut muncul karena ia sadar telah berbuat salah kepada kakaknya dengan menipu Ishak—ayahnya—sehingga berkat yang diperuntukkan bagi Esau akhirnya jatuh kepadanya. Ketakutan itu membuat Yakub memutar otak mengatur strategi supaya Esau tidak membalas dendam padanya. Mulai dari penyebutan “tuan” bagi Esau dan “hamba” bagi dirinya, hingga upaya-upaya memberikan persembahan untuk melunakkan hati Esau. Pada akhirnya Yakub berdoa memohon kepada Tuhan agar dilindungi dan diluputkan dari amarah Esau. Tuhan berkenan memberi kesempatan Yakub untuk mengalami suatu pengalaman rohani yang berharga melalui pergulatannya dengan Tuhan Allah sendiri di tepi sungai Yabok untuk mendapatkan berkat. Harapan akan penyertaan melalui berkat dari Tuhan Allah itulah yang membuat Yakub berani dan siap bertemu dengan Esau, kakaknya.

Tuhan yang kita sembah saat ini adalah Tuhan yang sama dengan Tuhan dalam kisah Yakub ini. Kesetiaan-Nya terhadap Yakub merupakan pegangan bagi kita saat ini, sehingga kita bisa sungguh-sungguh berharap dan mempercayai janji keselamatan dan penyertaan-Nya pada diri kita. Bukankah kita pun sering berlaku seperti Yakub, yang khawatir dan takut atas banyak hal di depan kita? Namun seperti Tuhan yang tetap setia dalam penyertaan-Nya pada Yakub di dalam kekhawatirannya, biarlah kita juga percaya bahwa Tuhan pun setia pada kita. Yang kita butuhkan sekarang adalah belajar untuk mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan. (RS)

“Penyertaan Allah adalah kunci mengatasi ketakutan”







July 21, 2020, 05:14:52 AM
Reply #56
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://gkjw.or.id/category/pah/

https://gkjw.or.id/pah/renungan-harian-21-juli-2020/

https://drive.google.com/file/d/1hUjpvpQ-BBOPFencqo37Wa6BHGIcAlws/view


Kamardikaning Gesang Renungan Harian 21 Juli 2020   
Renungan Harian • 21 July 2020 • Dewan Pembinaan Teologi GKJW

Waosan : Galatia 4 : 21 – 5 :  1  |   Pamuji : KPJ.  78
Nats: “Supaya kita mardika temenan, Sang Kristus wus mardikakake kita. Awit saka iku ngadega kang jejeg lan aja gelem maneh dikalungi pasangan pangawulan” (5 :1)

Ing jagad selebriti saweg tenar setunggal artis alit ingkang naminipun Betrand Peto. Piyambakipun kasuwur awit nggadhahi suwanten ingkang sae lan langkung kasuwur malih wekdal dipun adopsi dening Ruben Onsu. Kenging punapa Ruben ndadosaken Betrand putra angkat? Wangsulanipun awit katresnan. Sinaosa putra angkat Ruben Onsu paring kawigatosan lan katresnan ingkang ageng dhumateng Betrand, nresnani kanthi estu kados dhateng putra kandungipun. Dados putranipun Ruben Onsu ndadosaken Betrand luwar saking kathah kasangsaran gesang ingkang sak derengipun dipun raosaken wekdal piyambakipun taksih gesang wonten ing Ruteng.

Nampi katresnan lan kamardikan punika ingkang dipun aturaken Paulus dhumateng tiyang Galati. Nampi katresnan lan kamardikan saking Gusti Allah sinaosa sanes bangsa Yahudi. Kamardikan saking dosa ingkang pinaringaken lumantar rah korbanipun Gusti Yesus. Kenging punapa tiyang Galati ingkang mboten kalebet bangsa Yahudi saged nampi katresnan? Miturut Paulus, karana katresnan lan kamardikan gesang saking Gusti Yesus mboten winates lan mboten saged dipun batesi. Kamardikan ndadosaken manungsa ngabdi dhumateng Gusti kanthi estu lan mboten namung nggatosaken ritual keagamaan ingkang awujud fisik. Rasul  Paulus paring pitutur kados mekaten kangge paring kekiyatan dhumateng tiyang Galati. Ing nalika semanten saweg ngadhepi tiyang-tiyang Yahudi ingkang nyebat dhirinipun langkung sah lan pantes nampi kamardikan lan katresnan Gusti Allah awit rumaos dados tedhak turunipun Rama Abraham. Pemahaman kados mekaten ndadosaken tiyang Galati “resah” rumaos bingung bab kapitadosanipun.

Miturut Paulus, ingkang wigatos mboten namung rumaos dados tedhak turunipun Rama Abraham lan otomatis wilujeng. Nanging purun nampi Gusti Yesus lan tansah mbangun turut, tegen ing kapitadosan punika ingkang ndadosaken manungsa saged nampi kamardikaning gesang. Pitutur punika tamtu ugi ngengetaken kita supados tansah bingah awit sinaosa sanes tiyang Yahudi nanging kita pinaringan katresnan lan kamardikaning  gesang. Ingkang kedah kita lampahi sakpunika njagi kamardikaning gesang lan ngabdi kanthi estu dhumateng Panjenenganipun. Amin. (DH)

“Matur panuwun Gusti kagem kanugrahan ing sampun kaparingaken.”






July 22, 2020, 04:43:39 AM
Reply #57
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://gkjw.or.id/category/pah/

https://gkjw.or.id/pah/renungan-harian-22-juli-2020/

https://drive.google.com/file/d/10w6xr6KzV5CYFq-3Awz4GExSErmUDhtC/view



Ditusuk-tusuk Pedang Renungan Harian 22 Juli 2020   
Renungan Harian • 22 July 2020 • Dewan Pembinaan Teologi GKJW

Bacaan :  Kejadian 35 : 16 – 29   |  Pujian : KJ. 406 : 2, 3
Nats: “Sedang ia sangat sukar bersalin, berkatalah bidan kepadanya: “Janganlah takut, sekali ini pun anak laki-laki yang kaudapat.” (Ay. 17)

Ada seorang gadis yang sangat manja, suatu ketika ia harus hidup jauh dari orang tuanya karena menuntut ilmu di kota besar. Suatu hari baju dari gadis itu robek, padahal baju itu akan dia pakai kuliah, maka dia segera menjahitnya sendiri dengan jarum dan sehelai benang. Dia mulai menjahit dan tiba-tiba dia tertusuk jarum, sehingga jarinya mengeluarkan sedikit darah yang hanya setetes. Dia menangis sejadi-jadinya karena merasa kesakitan dan berjanji untuk tidak akan pernah menjahit bajunya sendiri lagi.

Sungguh berbeda dengan apa yang sedang dialami oleh Yakub. Bukan hanya tertusuk oleh jarum lalu mengeluarkan setetes darah, Yakub bagaikan tertusuk oleh pedang yang  mengiris-iris hatinya sehingga dia tidak hanya terluka tapi sampai ambyar. Isteri yang dia dicintai yakni Rahel meninggal saat melahirkan anak keduanya, Benyamin. Disusul ayah Yakub, Ishak meninggal saat berumur 180 tahun. Selain orang-orang yang dikasihinya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya, Yakub juga harus menghadapi masalah perselingkuhan anaknya Ruben dengan Bilha gundiknya.  Bagaimana rasanya? Tentu tidak karuan bercampur aduk di dalam dada, untuk membayangkannya saja begitu berat. Kalau gadis manja tadi tertusuk jarum saja, merasa kesakitan. Lalu, bagaimanakah dengan Yakub ditusuk “tiga pedang” sekaligus, berapa tetes “darah” kesakitan yang keluar dengan bercucuran?

Yakub tidaklah seperti seorang gadis manja tadi. Yakub tetaplah kuat dan tabah. Dia percaya bahwa melalui anaknya Benyamin, anugerah Tuhan selalu ada menyertai di setiap kisah hidupnya. Yakub selalu melihat sisi yang baik di balik setiap peristiwa yang menyakitkan dan menyedihkan dalam hidupnya. Lantas mampukah kita bersikap seperti Yakub? Berani menghadapi kenyataan, tidak takut dengan masalah dan tidak menyerah?  Marilah kita meneladani Yakub yang tetap kuat, tabah dan percaya akan janji Tuhan meskipun ditusuk-tusuk “pedang”. Tuhan memampukan kita. Amin. [tama]

“Aku tanpa-Mu Tuhan, tiada berarti.”







July 23, 2020, 05:14:33 AM
Reply #58
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://gkjw.or.id/category/pah/

https://gkjw.or.id/pah/renungan-harian-23-juli-2020/

https://drive.google.com/file/d/1DKezkOsqOdXqHxXqohR0CPjUHnPuJbtc/view



Andhap Asor Renungan Harian 23 Juli 2020   
Renungan Harian • 23 July 2020 • Dewan Pembinaan Teologi GKJW

Waosan :  1 Korinta 4 : 14 – 20 |   Pamuji :  KPJ. 316
Nats: “…Ing kono aku bakal nyumurupi, dudu tembunge wong kang kumenthus mau, nanging daya kekuatane.” (Ay. 19B)

Kita asring miring tembung Adigang, Adigung, Adiguna, sapa sira, sapa ingsun. Tegesipun punapa? Tegesipun tiyang ingkang ngegul-ngegulaken kekiyatanipun, panguwaosipun lan kepinteranipun piyambak. Tiyang ingkang anggadahi sifat mekaten punika limrahipun badhe kumalungkung utawi sombong. Adigang inggih punika sifat ingkang ngendelaken kekiyatan badan utawi fisikipun, umpaminipun kados kewan kidang, gesit, lincah plajengipun rikat mboten wonten ingkang nandhingi. Adigung sifat ingkang ngendelaken pangkat, drajat, kaluhuran, trahipun bangsawan. Kados gajah ingkang kiyat mboten wonten ingkang ngawonaken. Adiguna sifat ingkang ngutamakaken kapinteran lan akalipun, umpaminipun kados sawer ketawisipun lemah ananging menawi nyerang bebayani.

Wonten sawetawis tiyang ing pasamuwan Korinta ingkang saweg ketaman raos adigang, adigung, adiguna. Mila Rasul Paulus wonten waosan 1 Korinta 4 : 6-21, ngengetaken pasamuwan kanthi teges. Sampun ngantos wonten tiyang ingkang kumlungkung, ngegungaken setunggal lan setungalipun lajeng ngremehaken lintunipun (ayat 6b). Rasul Paulus ugi nyariosaken bab peladosan ingkang dipun ayahi, dipun poyoki, dipun wewada, dipun benturi sela, kerapan, dipun kunjara, dipun lampahi kanthi sukarena awit ngabaraken Injiling Sang Kristus. Pasamuwan Korinta kasageda nuladani peladosanipun lan sampun rumaos pinter piyambak, kiyat piyambak, luhur piyambak awit rumaos anggadhahi golonganipun piyambak-piyambak (1 Korinta 3 : 1-9). Malah wonten ing Korinta 4 : 19 Rasul Paulus  ingkang ngedekaken Pasamuwan Korinta ugi dipun poyoki lan Paulus nyebat tiyang kalawau kumenthus.

Sumangga para sederek ing salebeting bebrayan agung ing satengahing brayat, patunggilan lan masyarakat kita nebihaken sikap adigang, adigung, adiguna awit patrap gesang mekaten punika badhe nuwuhaken sifat kumalungkung lan ndadosaken kita mboten dados berkah. Sikap andhap asor, ngajeni setunggal lan setunggalipun nuwuhaken gesang kita rukun, lan dadosaken gesang ayem tentrem. (jian)

“Sapa sing andhap asor bakal kaluhurake”

 







July 24, 2020, 06:54:27 AM
Reply #59
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://gkjw.or.id/category/pah/

https://gkjw.or.id/pah/renungan-harian-24-juli-2020/

https://drive.google.com/file/d/1rsDHHPOI0lZ_x-rPV0LqVhjYxCx9WqIQ/view



Bisa Dipercaya Renungan Harian 24 Juli 2020   
Renungan Harian • 24 July 2020 • Dewan Pembinaan Teologi GKJW

Bacaan : Kejadian 29 : 9 – 14  | Pujian : KJ. 365b
Nats: “… datanglah Rahel dengan kambing domba ayahnya, sebab dialah yang menggembalakannya.” (Ay. 9b)

Jika seseorang mengalami krisis kepercayaan diri, seringkali itu disangkutpautkan dengan bawaan lahir. Kadang juga disangkutpautkan dengan faktor keturunan dari orang tua. Padahal banyak pakar psikologi yang meyakini bahwa persoalan percaya diri itu sangat tergantung dari bagaimana pola asuh orang tua pada anaknya sejak dini. Carl Pickhardt seorang psikolog mengatakan seorang anak yang kurang percaya diri akan merasa enggan mencoba hal-hal baru terutama yang berbau tantangan. Ini karena mereka takut gagal dan mengecewakan. Karena ini berkaitan dengan pola asuh orang tua pada anak, maka penting bagi kita untuk merenung dan mengevaluasi diri, apakah sudah benar pola asuh kita selama ini pada anak-anak kita ?

Menarik jika mencermati cerita Laban dan Rahel dalam kutipan bacaan kita. Rahel, anak perempuan bungsu ternyata ikut serta bekerja secara aktif menggembalakan domba-domba ayahnya, yang pada umumnya pekerjaan ini dilakukan oleh anak laki-laki. Cukup menarik untuk direnungkan, bagaimana Laban mampu membuat anak perempuan bungsunya ikut mengambil tanggungjawab dengan cara menggembalakan kawanan domba-dombanya.
Jika Rahel mampu melakukan itu semua, semestinya ada proses yang dilakukan Laban saat mengasuh Rahel sejak kecil. Ada konsep kepercayaan yang diberikan Laban kepada Rahel, yang disertai motivasi yang meyakinkan Rahel agar mampu mengemban tanggugnjawab ini. Laban mempercayai bahwa Rahel mampu diberikan tanggungjawab sebagai penggembala, sekaligus memberikan motivasi yang menguatkan Rahel agar mampu mengemban tanggungjawab yang diberikan kepadanya dengan sebaik-baiknya.

Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kita juga mempercayai anak-anak kita yang sebenarnya mampu bekerja dan mengemban tanggungjawab? Atau malah kita tidak bisa mempercayai mereka karena menganggap anak-anak kita belum bisa dipercaya? Kuncinya ada pada kita. Jika kita mau belajar mempercayai mereka, memberikan tanggungjawab dengan beban yang cukup, disertai motivasi-motivasi yang baik dan mendidik, sudah pasti anak kita akan mampu mengemban tanggungjawab yang kita berikan. Mereka sebenarnya bisa dipercaya, hanya persoalannya adalah maukah kita mempercayai mereka? [Oka]

 “Jadikan anak mandiri melalui pemberian kepercayaan dan tanggungjawab yang disertai motivasi yang kuat.”







 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)