Author Topic: 1001 KASIH YANG MENGINSPIRASI  (Read 61755 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

June 05, 2009, 12:50:01 AM
Reply #20
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6553
  • Gender: Female
  • I have the simplest taste
ini baru 17.. (yang tadi udah di edit)

Suatu hari Guru sekolah minggu memberikan tugas kepada murid-muridnya: Seperti apa Allah Bapa itu? "Untuk mudahnya, kalian harus melihat Dia sebagai seorang Bapa.. seorang papi," ujar guru tsb.

Minggu berikutnya, guru tsb menagih PR dari setiap murid yang ada. "Allah Bapa itu seperti Dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah dokter. "Ia sanggup menyembuhkan sakit penyakit seberat apapun!" "Allah Bapa itu seperti Guru!" ujar seorang anak yang lain. "Dia selalu mengajarkan kita untuk melakukan yang baik dan benar." "Allah Bapa itu seperti Hakim!" ujar seorang anak yang papanya adalah hakim dengan bangga,"Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi."

 "Menurut aku Allah Bapa itu seperti Arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!" ujar seorang anak tidak mau kalah. "Allah Bapa itu Raja! Paling tinggi di antara yang lain!" "Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat.

Guru tsb tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan image Allah Bapa dengan semangat. Tetapi ada satu anak yang sedari tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak2 lain. "Eddy, menurut kamu siapa Allah Bapa itu?" ujar ibu guru dengan lembut. Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak2 yang lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup.

Eddy hampir2 tidak mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan waktu menjawab,"Ayah saya seorang pemulung... jadi saya pikir... Allah Bapa itu Seorang Pemulung Ulung." Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain mulai protes mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. Eddy mulai ketakutan. "Eddy,"ujar ibu guru lagi. "Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?"

Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab,"Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya." Dia memiliki kasih yang begitu besar sehingga mau mengambil sampah seperti kita.

Memang bukankah Dia adalah Pemulung Ulung?
kita.. hidup baru bersama Dia, dan bahkan menjadikan kita pewaris kerajaan Allah.

Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Efesus 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu sendiri melainkan pemberian Allah.

Our God is able! "Not by power, not by might, but by My Spirits, says the LORD"
Dear God, please lead me to Your path, not my path. My path is fun, but it's suffering. Your path is abstract, but it's safe.
June 05, 2009, 09:55:16 PM
Reply #21
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6553
  • Gender: Female
  • I have the simplest taste
Ketika masih kecil, aku suka ikut ibu ke acara kondangan. Alasanku ada dua: melihat pengantin dan makan puding. Hehehe...

Suatu kali aku diajak Ibu ke rumah temannya yang akan melangsungkan pernikahan. Teman Ibu ku itu perempuan. Si mbak yang akan menikah itu cantik, tinggi, langsing, berkulit kuning langsat, dan ia selalu baik terhadapku. Saat itu aku datang pada malam midodareni, jadi aku tidak bertemu dengan penganting laki-lakinya. Dalam angan-anganku, pasti pengantin laki-lakinya cakep dan baik hati, setara deh sama sih mbak itu.

Tetapi, beberapa hari kemudian aku bertemu dengan pasangan muda itu dan... kecewa. Ternyata suami sih mbak itu gak secakep bayanganku.

Ketika sudah sebesar ini, dan setelah membaca beberapa buku (tepatnya mengedit naskah-naskah / buku-buku yang berkaitan dengan pernikahan), aku sadar bahwa cinta gak melulu soal perasaan. Cinta gak ditandai dengan perasaan penasaran ketika seorang lelaki baru saja bertemu dengan seorang perempuan (yang ia anggap) cantik. Ya, mungkin saja mereka bisa menjadi pasangan yang "hidup bahagia selama-lamanya", tetapi tentunya gak semuda itu perasaan tersebut disebut cinta. Itu cuma perasaan tergila-gila (infatuation) yang keberadaannya hanya sementara.

Lebih jauh lagi, cinta adalah soal keputusan. Keputusan untuk menerima seseorang apa adanya, termasuk kelemahan dan kejelekannya. Kukira ini bukan hal mudah, karena bagaimanapun kita akan mudah merasa kecewa ketika menjumpai ketidaksempurnaan.

Karena itu, ketika Tuhan mencintai kita, kupikir itu adalah hal yang sangat luar biasa. "Memangnya kita siapa sih?" Jika kita disebut mepelai Tuhan dan jika memakai bahasa anak kecil, mungkin akan terlontar pertanyaan, "Kok pengantinnya jelek?"

Kita adalah pengantin yang jelek, karena kita gak setara dengan Tuhan yang maha sempurna. Ya, kalau kita menganggap penampilan kita ok (baca: cantik atau tampan), bagaimana dengan isi hati kita? Apa hati kita juga ok? (itu menjadi pertanyaan penting buat aku)

Dan kupikir Tuhan memang mempunyai hati seluas samudra. Kok bisa ya, dia mencintai manusia, sampai anak-Nya diutus untuk berkorban bagi kita yang kerap gak tau berterima kasih? tetapi begitulah Tuhan. Hati dan cinta-Nya memang gak tanggung-tanggung. Semuanya buat kita.

Jadi, tidakkah kita teramat bersyukur dicintai Tuhan?

sumber : buku Tuhan ngobrol yuk

« Last Edit: June 06, 2009, 11:28:52 AM by serendipity of love »
Dear God, please lead me to Your path, not my path. My path is fun, but it's suffering. Your path is abstract, but it's safe.
June 07, 2009, 10:20:44 AM
Reply #22
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 715
  • BROTHERHOOD IN JESUS CHRIST - - - (1Kor 12:27)
Setiap hari Minggu sore, setelah kebaktian pagi di gereja mereka, Pak pendeta dan anak lelakinya yang berumur 11 tahun, biasanya pergi keluar jalanan untuk membagi-bagi traktat Injil kepada penduduk kota itu.
Di hari minggu yang khusus itu, sang pendeta dan anaknya keluar ke jalanan, tetapi cuacanya amat dingin disertai hujan lebat.
Anak itu mengenakan pakaiannya yang paling tebal dan kering serta berkata, "OK Pap, aku sudah siap." Ayahnya bertanya, "Siap untuk apa?"
"Pap, sudah waktunya untuk membawa traktat Injil dan pergi keluar."
Pendeta itu membalas, "Nak, cuaca di luar amat dingin dan lagi hujannya amat lebat".
Anak itu memandang ayahnya dengan heran dan mengatakan, "Namun Pap, apakah banyak orang tidak jadi pergi ke neraka kalau sedang hujan?"
Ayahnya menjawab, "Nak, aku tidak akan pergi dalam cuaca yang begini." Dengan hampir putus asa anak itu bertanya, "Pap, apa aku boleh pergi sendirian?"
Ayahnya untuk beberapa saat ragu-ragu, namun kemudian menjawab, "Nak, kamu boleh pergi sendiri. Ini traktatnya. Hati-hatilah."
"Terima kasih, Pap"
Anak berumur 11 tahun ini langsung keluar rumah dan mulai pergi ke rumah-rumah untuk membagi traktat Injil.
Setelah dua jam kemudian, ia sudah basah kuyup karena hujan.
Traktatnya tinggal satu lembar.

Ia berhenti di sudut jalan dan mencari seseorang untuk diberi traktat yang terakhir itu, namun di jalan tak ada seorangpun yang lewat.
Kemudian la pergi ke sebuah rumah pertama yang la lihat dan la menekan bel rumah itu.
Namun tidak ada orang yang menjawab.
la berulang-ulang menekan belnya, tetap tidak ada orang yang membukakan pintunya.
Sekali lagi ia menekan belnya dan kemudian menunggu, namun tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya ketika la hendak meninggalkan tempat itu, ada sesuatu yang mencegahnya.
Ia kembali ke pintu depan rumah itu kemudian menekan sekali lagi disertai mengetuk pintunya dengan keras.
Kali ini, pintunya dibuka dan di tengah pintu berdiri seorang wanita tua. Wanita itu bertanya dengan pelan, "Ada apa, nak?"
Dengan mata yang berbinar serta senyuman yang amat ramah, ia berkata, "Ibu, maaf kalau aku mengganggumu.Namun aku ingin mengatakan, 'Yesus sungguh mengasihi Ibu'. Aku datang untuk memberi lbu selembar traktat yang menceritakan segala sesuatu tentang Yesus dan Kasih-Nya yang ajaib." Kemudian ia menyerahkan traktatnya yang tinggal satu lembar itu dan membalikkan badannya untuk segera pergi.
Wanita itu memanggilnya ketika ia akan pergi dan berkata, "Terima kasih, nak! Semoga Tuhan memberkatimu."

Hari Minggu berikutnya di dalam gereja, Pak pendeta berada di atas mimbar dan hendak mulai dengan kebaktian.
Sebelumnya ia mengundang jemaat dan bertanya, "Apakah di antara jemaat ada yang ingin memberikan kesaksian atau ingin mengatakan sesuatu?"

Dari belakang gereja, di barisan yang paling terakhir, berdirilah seorang wanita tua.
Dan ketika ia mulai berbicara, wajahnya bersinar amat cerah. "Tidak ada orang dalam gereja ini yang mengenal aku. Akupun tak pernah datang ke gereja ini. Pasalnya, sebelum minggu yang lalu, aku bukan seorang percaya. Suamiku telah meninggal dunia dan meninggalkan aku seorang diri. Hari minggu yang lalu dengan cuaca yang amat dingin disertai hujan lebat, membuat jiwaku lebih parah lagi karena aku sejak lama sudah kehabisan akal dan sudah meninggalkan semua harapan untuk ingin hidup terus."
"Jadi aku mengambil tali dan kursi kemudian naik tangga ke loteng rumah. Aku mengikat ujung tali yang satu erat-erat di balok kuda-kuda rumah dan mengikat ujung lain tali itu melingkari leherku. Dengan berdiri di atas kursi itu aku merasa begitu kesepian dan begitu patah hati. Ketika aku hendak meloncat dari kursi, pada saat itu aku mendengar bel pintu depan berdering kencang, sehingga aku terkejut. Aku berpikir, "Aku akan menunggu satu menit. Aku yakin, siapapun yang menekan bel itu pasti akan pergi. Aku menunggu dan menunggu, namun bel itu terus berdering tak henti-henti. Akhirnya orang itu pun mulai mengetuk-ngetuk pintu dengan keras. Aku berpikir lagi, "Siapakah orang itu? Tidak pernah ada orang yang mengebelku atau datang untuk mengunjungiku! " Aku melemparkan ikatan tali di leherku dan berialan ke pintu depan, sementara bunyi bel semakin kencang. Ketika aku membuka pintu depan, aku hampir tak percaya apa yang kulihat. Di depan pintu terlihat seorang anak kecil dengan wajah yang cerah, laksana malaikat yang tak pernah aku kenal seumur hidupku. Senyumnya... Aduh, aku tak dapat melukiskannya untuk kalian. Dan kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat hatiku yang telah lama mati, meloncat dan hidup kembali, ketika la berseru dengan suara seperti malaikat, "YESUS SUNGGUH MENGASIHIMU!" Kemudian ia memberikan aku selembar traktat yang kubawa ini.

Ketika malaikat kecil itu menghilang ditelan hujan yang lebat, aku menutup pintu dan membaca dengan pelan setiap kata dari Injil itu. Kemudian aku kembali ke loteng untuk mendapatkan tali dan kursi. Aku tidak memerlukannya lagi. Pasalnya, kini aku sudah jadi anak yang bahagia dari RAJA dan karena alamat dari gereja kalian berada di balik traktat itu, aku datang di sini hendak mengucapkan terima kasihku secara pribadi kepada malaikat kecilku, "Terima kasih kepada malaikat utusan Tuhan yang datang sungguh tepat pada waktunya sehingga dengan demikian, jiwaku telah diselamatkan dari keabadian neraka."

Tidak ada mata yang kering dalam gereja.
Ketika gereja dipenuhi dengan seruan dan teriakan untuk memuliakan Nama Tuhan, pendeta, ayah anak itu turun dari mimbar dan datang ke bangku di mana anak kecil itu duduk. Ia merangkulnya dengan mesra dan menangis tanpa dapat dikuasainya lagi.
 
Mungkin tak ada gereja yang mengalami saat-saat yang mulia dan mungkin di dunia ini tidak pernah kita lihat seorang ayah yang hatinya dipenuhi dengan kasih dan kehormatan untuk anaknya, kecuali Bapa surgawi, yang mengijinkan Anak-Nya, Yesus, untuk keluar ke dalam dunia yang gelap, dan dingin.

Ia telah menerima kembali Anak-Nya dengan sukacita yang tak terlukiskan. Dan apabila seluruh surga penuh dengan seruan pujian dan kemuliaan untuk menghormati sang Raja, maka Ia mendudukkan Anak-Nya di atas singgasana, jauh lebih tinggi dari semua dan segala penguasa, kuasa dan nama.

Mungkin, di antara pembaca ada juga yang harus melalui saat-saat yang gelap, dingin dan sepi dalam hatimu.
Anda mungkin seorang yang percaya, karena kita pun mempunyai banyak masalah, atau mungkin Anda belum mengenal Raja di atas segala Raja.
Apapun masalahnya, dan bagaimanapun problem dan situasi dimana Anda berada, betapa gelapnya kenyataan hidup ini, aku ingin menyampaikan bahwa:
YESUS SUNGGUH MENGASIHIMU

MAJALAH REFLECTA ed.164 Mei 2009
@ RT Anthony de Mello =
“These things will destroy the human race:
politics without principle, progress without compassion, wealth without work, learning without silence, religion without fearlessness and worship without awareness.”
June 07, 2009, 10:38:20 PM
Reply #23
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6553
  • Gender: Female
  • I have the simplest taste
Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena.

Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon. Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya.

Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.

Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel.

Maka Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli mantel.

Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang itu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan.

Simon ketakutan, "Siapakah dia? Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja". Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.

Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata, "HAI SIMON, TAK MALUKAH KAU? KAU PUNYA MANTEL MESKIPUN SUDAH BERLUBANG-LUBANG, SEDANGKAN ORANG ITU TELANJANG. PANTASKAH ORANG MENINGGALKAN SESAMANYA BEGITU SAJA?"

Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar. Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa mantel baru dan membawa seorang pria asing. "Simon, siapa ini? Mana mantel barunya? "

Simon mencoba menyabarkan Matrena, "Sabar, Matrena.... dengar dulu penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang".

"Bohong!! Aku tak percaya....sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala!! Usir saja dia!!"

"Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?"

Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat. "Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?"

Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya. "Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini."

"Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup menggajimu", demikian Simon menjawab.

"Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur."

"Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja".

Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya. "Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu? Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?" Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon.

Simon menjawab, "Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia".

Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.

Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. Simon tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini.

Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.

Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar, galak dan terlihat kejam. "Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dipenjarakan!! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!"

Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya tersenyum. Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru sajahendak menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu.

Simon berkata, "Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu. Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara."

Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon. "Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar? Celaka, kita bisa masuk penjara karena...."

Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya. "Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja".

"Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada Simon", Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.

Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka.

Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak pernah begitu.

Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu, "Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya pincang?"

Ibu itu menjelaskan, "Sebenarnya mereka bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri."

"Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya", kata Matrena.

Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya. Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil berkata, "Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit."

Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut, "Nanti dulu Mikhail,tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?"

Mikhail menjawab sambil terus tersenyum, "Sebenarnya aku adalah adalah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu tapi kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan kejam. Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku, :/color]

'MIKHAIL, TURUNLAH KE BUMI DAN PELAJARI KETIGA KEBENARAN INI HINGGA KAU MENGERTI:

PERTAMA, APAKAH YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA?
KEDUA, APA YANG TAK DIIJINKAN PADA MANUSIA?
KETIGA, APA YANG PALING DIPERLUKAN MANUSIA?'

"Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam itu. Tapi Simon berkata, "Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?" Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran pertama:
"YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH"

"Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua:
"MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI TANGAN TUHAN"

"Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Dan aku melihat si kembar dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang
ketiga:
"MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA."

Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup." Mikhail kembali ke surga.

sumber email
Dear God, please lead me to Your path, not my path. My path is fun, but it's suffering. Your path is abstract, but it's safe.
June 07, 2009, 11:25:20 PM
Reply #24
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6553
  • Gender: Female
  • I have the simplest taste
Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam.

"Dapatkah anda memberi kami sebuah kamar disini ?" tanya sang suami.Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota. "Semua kamar kami telah penuh," pelayan berkata. "Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti anda, keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya ? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam ini."

Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. "Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik-baik saja," kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju. Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, "Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk anda." Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa.

Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan seseorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.

Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai. Dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut.

Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia ke sudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah disana, sebuah istana dengan batu ke-merah-an, dengan menara yang menjulang ke langit.

"Itu," kata laki-laki tua, "adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola".

"Anda pasti sedang bergurau," jawab laki-laki muda. "Saya jamin, saya tidak," kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar.

Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel. Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama itu, adalah George C.Boldt.

Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia. Pelajarannya adalah ..... perlakukanlah semua orang dengan kasih, kemurahan dan hormat dan anda tidak akan gagal.

"Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya.Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu,jika kamu melakukannya." Yohanes 13:13-17

"Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan." Lukas 22:26
« Last Edit: June 10, 2009, 02:36:26 PM by serendipity of love »
Dear God, please lead me to Your path, not my path. My path is fun, but it's suffering. Your path is abstract, but it's safe.
June 10, 2009, 02:39:02 PM
Reply #25
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 6553
  • Gender: Female
  • I have the simplest taste
Sumber Kesaksian: Handoko dan Inge Trenggono via KiosGeek

Handoko Trenggono, seorang ayah yang amat mengasihi anak-anaknya tidak menyangka akan mendengar kabar menggemparkan yang terjadi pada diri putri bungsunya, Happy.

Pada saat itu memang saya ada di rumah, lagi nonton tv. Terus ada yang menelpon yang memberitahu bahwa Happy anak saya mengalami kecelakaan terus sekarang ada di rumah sakit Green Garden.

Saat tiba di lokasi kejadian, Handoko menemukan putrinya Happy terbujur di mobil Teddy, teman pria Happy yang mengajaknya menonton malam itu. Malam itu juga Happy dilarikan ke rumah sakit.

Saya langsung bawa ke rumah sakit Graha Medika. Dari situ saya turunkan, tapi ternyata Happy telah tiada.

Happy Trinita, putri bungsu bapak Handoko ini baru berusia 18 tahun ketika maut menjemputnya. Sosoknya yang lincah dan periang membuatnya disukai oleh keluarga dan teman-temannya. Namun sayang di usianya yang belia, Happy tewas secara mengenaskan oleh teman dekatnya sendiri yang telah dikenalnya sejak kecil.

Dengan alasan hendak mengajak nonton, diam-diam Teddy telah merencanakan untuk memperkosa Teddy begitu orang suruhannya berhasil membius Happy dengan berpura-pura menjadi perampok. Namun diluar dugaan zat cloroform yang dipakai untuk membius membuat korban tewas seketika itu juga.

Inge Trenggono, ibu Happy mengenang kejadian itu.
Saya sedang berada di Medan saat itu, saya tidak berada di Jakarta. Saya sudah ada di Medan selama dua minggu. Pada tangggal 25 April saya mendapat telepon jam 11 malam dari adik saya. Dia menanyakan kapan saya pulang. Saya tanya kenapa?, tapi dia mengatakan tidak ada apa-apa, hanya Happy sakit dan diopname.

Saya gelisah, saya merasa ada sesuatu terjadi dengan anak saya. Saya hanya bisa menangis, berlutut dan berdoa. Saya katakan : “Tuhan, saat ini saya ada dalam keadaan gelisah. Saya mohon petunjuk, apa yang terjadi di rumah?, apa yang terjadi dengan Happy?”. Saya begitu kaget dan tertegun bahwa Tuhan menunjukkan satu peti jenazah putih dan ada foto anak saya di depannya.

Satu yang saya minta Tuhan, apabila penglihatan yang saya lihat tadi benar, beri kekuatan kepada saya. Tuhan berikan kekuatan kepada keluarga saya.

Setibanya di Jakarta, Inge seperti sedang bermimpi di siang bolong. Saya melihat anak saya terbujur benar-benar di peti jenazah putih dengan foto di depannya. Semua mengira pasti saya datang menangis dan terguling-guling, tapi air mata saya telah habis pada saat di Medan dan di pesawat, mengalir terus air mata. Begitu saya melangkah ke Jakarta Tuhan menggenapi janjinya dan menguatkan saya.

Kepergian Happy menjadi pukulan berat bagi keluarga Handoko. Teddy dan dua temannya berhasil diamankan dan diancam hukuman penjara. Keluarga Teddy mencoba dengan jalan damai. Beberapa kali keluarga Teddy mencoba mendatangi orang tua Happy untuk meminta maaf, namun selalu gagal.

Handoko tidak dapat menerima permohonan maaf ini.
Mereka bilang inilah mungkin jalan terbaik. Tapi saya sendiri katakan : “Bagaimana mungkin hal ini bisa dibilang yang terbaik. Anak saya meninggal dibunuh kok bisa dibilang yang terbaik?”. Jadi saya tidak bisa habis pikir.

Demikian juga dengan ibu Inge.
Teman-teman saya katakan : “Kamu harus berdoa dong untuk Teddy supaya kamu bisa mengampuninya”. Saya bilang memang enak mengatakannya. Tapi untuk saya sungguh-sungguh bisa berlutut, memohon dan berdoa sulit sekali, apalagi untuk mengampuni Teddy. Hampir setiap malam saya sulit tidur, seperti melihat televisi kehidupan anak saya setiap hari.

Sepeninggal putrinya, hari-hari Handoko dan Inge tidak sama lagi. Mereka mengalami depresi yang luar biasa.

Inge kini hanya merasakan kepahitan.
Di rumah setiap ada masalah sedikit, suami saya langsung marah besar. Rasanya seperti hidup di dalam neraka.

Enam bulan berada dalam tekanan, atas saran putranya, Inge akhirnya membuat keputusan yaitu melepaskan pengampunan untuk pembunuh putrinya.

Saya katakan pada suami : “Pak mungkin ini saatnya kita harus mengampuni. Mungkin saat ini kita jadi keluarga yang kacau tanpa damai sejahtera karena kita belum bisa mengampuni dia. Kenapa setiap malam kita doa tapi Tuhan tidak jawab, hati kita juga selalu tidak damai sejak anak kita pergi.”

Keputusan Handoko dan Inge ternyata masih harus diuji.
Tuhan itu mau menguji saya apakah saya benar-benar waktu saya ngomong mengampuni itu dari mulut saja atau dari hati. Sekarang orang tua tersangka membawa anaknya ke depan mata saya. Dia datang dan saya suruh masuk. Begitu dia masuk kaki saya sampai gemetar, saya tidak bisa jalan. Tapi begitu pembunuh anak saya datang, ia saya peluk. Kuasa Tuhan turun sehingga saya betul-betul bisa mengampuni. Dia saya peluk, saya menangis. Inilah luar biasanya Tuhan. Nah setelah itulah saya merasa plong. Saya merasa tidak ada beban lagi.

Demikian juga dengan Inge.
Tuhan menolong saya menempatkan Teddy sebagai anak saya pada saat itu. Kita mengampuni Teddy bukan saja kita memulihkan orang lain, tapi kita juga memulihkan diri kita sendiri. Karena saya mengampuni orang yang membunuh anak saya, batin saya juga Tuhan pulihkan

Teddy dan kedua temannya akhirnya dibebaskan dari tuntutan. Sejak itu hari-hari berkabung keluarga Handoko beralih menjadi hari-hari yang penuh pengharapan. Inge Trenggono hanya bisa menyadari bahwa damai sejahtera akibat kuasa pengampunan ini hanya bisa didapat melalui tekadnya menjadi pelaku firman.

Kami hanya belajar menjadi pelaku firman saja. Saya bawa hal ini dalam doa. Di doa Bapa kami di katakan : “Ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Itu yang menggelitik saya untuk mengambil sikap mengampuni. Setiap malam saya berdoa kalau Tuhan mengijinkan hal ini terjadi dalam keluarga kami, saya minta Tuhan memberikan damai sejahtera, kekuatan dan sukacita. Dan Tuhan menggenapi.

Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dulu sesuatu yang mengganjal dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” [Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.] (Markus 11:25-26)

sumber.. anonym


Dear God, please lead me to Your path, not my path. My path is fun, but it's suffering. Your path is abstract, but it's safe.
June 12, 2009, 02:23:25 PM
Reply #26
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 715
  • BROTHERHOOD IN JESUS CHRIST - - - (1Kor 12:27)
"Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang
`Dari saudara-Ku yang paling hina ini, kami telah melakukan untuk Aku"
(Mat 25:40)


Selama tiga minggu terakhir ini aku menghabiskan waktuku dengan bekerja secara sukarela di kantor gereja kami yang telah diubah menjadi Pusat Pertolongan Bencana. Selama beberapa hari setelah dibuka, terjadi kekacauan berhubung anak buah kita masih barus belajar untuk mengerjakan pekerjaan mereka.
Setelah aku belajar untuk menggunakan sitem multi-telepon kita, kini aku menghabiskan waktuku dengan menjawab pertanyaan¬pertanyaan serta menerima panggilan telepon dan menghubungkannya dengan orang yang dipanggil.
Disela-sela panggilan telpon, akupun menelpon sukarelawan kita yang amat banyak dan baru saja menyelesaikan latihan pekerjaan Palang Merah mereka beberapa hari yang lalu.
Keluargaku, gereja yang kami kunjungi dan ribuan penduduk dari kota kecil telah diubah menjadi suatu pusat relawan untuk menolong para penduduk yang telah menjadi korban dari topan Katarina yang dahsyat itu. Kami memberikan kepada mereka tiga kali makan sehari dan menawarkan kepada mereka segala sesuatu agar mereka merasa nyaman.
Komite Transportasi berjam-jam lamanya mengantar mereka ke dokter-dokter dan klinik, bank, kantor pos dan tempat lain untuk keperluan mereka. Sebuah tim yang terdiri dari para juru rawat dan para dokter selama 24 jam tetap berada di tempat kerja untuk memenuhi kebutuhan medic untuk para pengungsi. Untuk keamanan, polisi lokal bekerja dalam 8 regu selama 24 jam.
Kami semua bertekad untuk menunjukkan kasih Tuhan melalui perbuatan-perbuatan yang sederhana penuh keramahan yang diberikan kepada para pengungsi itu secara cuma-cuma. Pads suatu sore sebuah panggilan tilpon tiba dari sepasang suami isteri yang menawarkan diri untuk membantu melayani pemberian makan malam.Namun karena sesuatu keperluan yang tak terduga, mereka tidak dapat datang untuk melayani. Suamiku kebetulan berada di luar kota dan malam itu aku tidak perlu menyiapkan makan malam di rumah. Dengan demikian aku dengan sukarela dapat membantu di dapur umum setelah aku pulang dari pekerjaanku.
Berhubung dengan tulang punggung yang bermasalah, aku tidak dapat bertahan lama berdiri. Namun ketika aku membantu mempersiapkan makan malam, seorang wanita yang manis datang di meja dimana aku sedang bekerja.
"Apakah aku bisa meminta sepotong roti?", tanyanya.
Sambil aku melayaninya, aku mengetahui ia tidak berada di tempat ketika waktu makan Siang, sehingga kini ia merasa lapar.
Dengan penuh suka cita aku membuka lemari pendingin dan mengeluarkan daging kalkun dan keju untuk dapat dimakan dengan sepotong roti dan memberikannya kepada wanita itu.
Aku sama sekali tidak mengira bahwa tindakan sepele akan keramahan mempunyai dampak atas diriku beberapa jam kemudian.
Esok harinya aku membuka Surat kabar lokal pagi dan di halaman yang pertama aku menemukan sebuah foto dan kisah dari wanita manis yang kemarin telah aku beri sepotong roti itu.
Wanita itu menceritakan betapa ngeri pengalamannya ketika ia lolos dari badai topan yang dahsyat beberapa yang lalu.
Kedua pekerjaan yang ia miliki telah hancur berkeping-keping oleh dahsyatnya badai topan itu dan kini la telah kehilangan segala sesuatu.
Ia tidak memiliki rumah lagi dan sama sekali tak berdaya sehingga secara total bergantung kepada belas kasihan dari orang lain yang berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari di pusat pelayanan kita.
Sambil termenung setelah membaca kisah tragisnya, aku mendengar sesuatu yang jelas dan terang dari lubuk hatiku,Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."
Betapa hebat ungkapan ini. Apa yang aku lakukan hanya memberikan sepotong roti yang disumbangkan dan disiapkan oleh banyak relawan, namun Tuhan berbicara langsung kepadaku ketika aku menatap wajah di depanku itu.
Aku tahu bahwa ada sukacita di surga ketika Tuhan memandang ke bawah dimana ribuan relawan di seluruh negeri sedang memberi makan, uang, pakaian dan keramahan kepada mereka yang menjadi korban dari badai Katarina itu. Tindakan-tindakan penuh dengan empati itu tidak bergantung pada kekayaan, kemampuan ataupun kepandaian.

Melvia Cooper

MAJALAH REFLECTA ed.164 Mei 2009

« Last Edit: June 22, 2009, 12:32:25 PM by sin »
@ RT Anthony de Mello =
“These things will destroy the human race:
politics without principle, progress without compassion, wealth without work, learning without silence, religion without fearlessness and worship without awareness.”
June 22, 2009, 12:47:31 AM
Reply #27
  • SEMANGAT!! \(^.^)/
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 1920
  • Gender: Female
  • "Selalu ada jalan, di mana ada kemauan" \(^_^)/
    • Fedora
@Sin: Wah.. kok bisa loncat jadi #26.. Hehehe..
#23. SEPIRING NASI, AIR DINGIN DAN SEBUAH PELUKAN HANGAT

"Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang
`Dari saudara-Ku yang paling hina ini, kami telah melakukan untuk Aku"
(Mat 25:40)


Namun ketika aku membantu mempersiapkan makan malam,
seorang wanita yang manis datang di meja dimana aku sedang bekerja.
"Apakah aku bisa meminta sepotong roti?", tanyanya.

Sambil aku melayaninya, aku mengetahui ia tidak berada di tempat ketika waktu makan Siang, sehingga kini ia merasa lapar.
Dengan penuh suka cita aku membuka lemari pendingin dan mengeluarkan daging kalkun dan keju
untuk dapat dimakan dengan sepotong roti dan memberikannya kepada wanita itu.

Wanita itu menceritakan betapa ngeri pengalamannya ketika ia lolos dari badai topan yang dahsyat beberapa yang lalu.
Kedua pekerjaan yang ia miliki telah hancur berkeping-keping oleh dahsyatnya badai topan itu
dan kini la telah kehilangan segala sesuatu.
Ia tidak memiliki rumah lagi dan sama sekali tak berdaya sehingga secara total bergantung kepada belas kasihan dari orang lain yang berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari di pusat pelayanan kita.

2 Tesalonika 3:13
Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.
 :afro:
« Last Edit: June 22, 2009, 12:56:38 AM by blessed »
TUHAN tau yang terbaik bagi anakNYA. Yang IA berikan bukan yang kita inginkan, tapi yang kita butuhkan. (Matius 6:32b)
June 22, 2009, 12:53:03 AM
Reply #28
  • SEMANGAT!! \(^.^)/
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 1920
  • Gender: Female
  • "Selalu ada jalan, di mana ada kemauan" \(^_^)/
    • Fedora
Adalah seorang Bapak yang berprofesi sebagai pengusaha. Setiap hari Bapak ini harus menyeberang sungai dengan sebuah kapal kecil untuk menuju ke kantornya. Sebelum pergi, biasanya ia mampir di sebuah kedai yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan itu untuk minum kopi. Di sekitar kedai itu ada beberapa anak kecil yang menawarkan jasa semir sepatu kepada pria-pria yang sedang duduk menikmati hangatnya kopi pagi.

Bapak inipun memanggil seorang anak kecil untuk menyemir sepatunya. "Nak, mari datang kemari. Tolong semirkan sepatu Bapak ya?" Anak kecil itupun datang menghampiri Bapak ini dan dengan penuh semangat mulai menyemir sepatunya. Dari mata anak itu terpancar betapa senangnya ia melakukan pekerjaan itu untuk Bapak ini. Setelah selesai, sejumlah uangpun diberikan kepadanya, dan anak itu mengucapkan terima kasih.

Keesokan harinya, ketika Bapak ini baru saja turun dari kapal kecil yang ditumpanginya, dari kejauhan anak itu segera berlari mendapatkan Bapak ini. Dengan senang hati ia membantu membawa tas Bapak ini sampai ke kedai kopi. Sementara Bapak ini menikmati hangatnya kopi pagi, anak kecil itu menyemir sepatunya sampai mengkilap. Seperti biasanya, setelah anak itu selesai menyemir sepatu, Bapak ini kemudian memberikan sejumlah uang kepadanya.

Kejadian ini terus saja berulang sampai suatu pagi terjadi suatu hal yang tidak seperti biasanya. Pagi itu, ketika anak kecil ini melihat sang Bapak turun dari kapal, dengan sekuat tenaganya ia berlari mendapatkannya dan membawa tasnya sampai ke kedai kopi. Ia membuka sepatu Bapak ini dengan tangannya sendiri dan kemudian menyemir sepatunya sampai mengkilap. Dari sorot matanya yang polos, ia melakukannya dengan penuh antusias. Setelah selesai, Bapak ini kemudian mengeluarkan sejumlah uang dari kantongnya untuk memberikannya kepada anak itu. Tapi reaksinya sungguh berbeda. Anak itu menolak pemberian Bapak ini.

Bapak ini kaget. ‘Apa yang terjadi? Apa ia tidak membutuhkan uang?', tanya Bapak itu dalam hatinya. Kemudian dengan lembut Bapak ini bertanya sambil menatap wajah anak itu, "Nak, kenapa kamu tidak mau mengambil uang ini? Apakah kamu tidak membutuhkannya?" Dengan mata berkaca-kaca anak kecil tersebut menjawab, "Pak, saya ini anak yatim piatu. Saya hidup di jalanan. Kedua orang tua saya sudah lama meninggal. Saya belum pernah merasakan bagaimana kasih sayang orang tua. Tetapi ketika kita pertama berjumpa dan Bapak memanggil saya dengan sebutan, ‘Nak, mari datang kemari', sewaktu Bapak memanggil saya ‘Nak', saya merasa seperti anak Bapak. Saya merasa memiliki ayah lagi. Oleh sebab itu saya tidak mau lagi mengambil uang yang Bapak berikan kepada saya. Mulai sekarang, tidak ada satupun yang tidak ingin saya buat bagi Bapak. Semuanya saya mau lakukan untuk menyenangkan hati Bapak."

Kemudian sambil menangis, sambil memegang bahu anak itu dan memandang wajahnya, Bapak itu bertanya, "Nak, maukah mulai saat ini juga kamu tinggal bersama saya dan menjadi anak saya?" Sambil memeluk erat Bapak itu anak ini menjawab, "Ya, Pak. Saya mau!"

Bukankah demikian dengan kita?
Ketika kita sebagai anak yang terhilang, Tuhan datang sebagai Bapa yang baik menghampiri dan memanggil kita,
"Nak, mari datang kemari!"

Saat suara itu memanggil, kita merasakan kembali kasih Bapa.
Ketika kita merasakan kasihNya yang besar, kasih tanpa batas dan tanpa syarat itu,
kasih Bapa itu pula yang dapat membuat kita berkata seperti anak kecil itu,

"Mulai sekarang, tidak ada satupun yang tidak ingin saya buat bagi Bapak.
Semuanya saya mau lakukan untuk menyenangkan hati Bapak."




Sumber: blog
« Last Edit: June 22, 2009, 12:55:17 AM by blessed »
TUHAN tau yang terbaik bagi anakNYA. Yang IA berikan bukan yang kita inginkan, tapi yang kita butuhkan. (Matius 6:32b)
June 23, 2009, 05:50:04 PM
Reply #29
  • SEMANGAT!! \(^.^)/
  • FK Friend
  • FK - Hero
  • ******
  • Posts: 1920
  • Gender: Female
  • "Selalu ada jalan, di mana ada kemauan" \(^_^)/
    • Fedora
Disuatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan disebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta .

Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut ,ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang koran , Penyapu jalan, Tuna wisma sampai Pak polisi.

Pemandangan ini membuatku tertarik, pikiran ku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan ? “kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??, untuk membunuh rasa penasaran ku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai disebrang jalan , setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang. De, “boleh kakak bertanya” ? silahkan kak, kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ketukang koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan pak polisi, itu apa ?, oh… itu bungkusan nasi dan sedikit lauk kak, memang kenapa kak!, dengan sedikit heran , sambil ia balik bertanya. Oh.. tidak! , kakak Cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu, kelihatan kamu sudah terbiasa dan cukup akrab dengan mereka. Apa kamu sudah lama kenal dengan mereka? Lalu ,

Adik kecil ini mulai bercerita, “Dulu ! aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma ”,setiap hari bekerja hanya mengharapkan belaskasihan banyak orang, dan seperti kakak ketahui hidup di Jakarta begitu sulit, sampai kami sering tidak makan, waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan, apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat-sangat sedih , namun setelah ibu ku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik.

Maka dari itu ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu , jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup , kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka.

Yang ibu ku selalu katakan “ hidup harus berarti buat banyak orang “, karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu Kasih kepada sesama serta Amal dan Perbuatan baik kita , kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang , kenapa kita harus tunda.

Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat , hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta,” Apa yang kita bawa”?. Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hati ku, saat itu juga aku merasa menjadi orang yang tidak berguna, bahkan aku merasa tidak lebih dari seonggok sampah yang tidak ada gunanya,dibandingkan adik kecil ini.

Aku yang selama ini merasa menjadi orang hebat dengan pendidikan dan jabatan tinggi, namun untuk hal seperti ini, aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini, aku malu dan sangat malu. Yah.. Tuhan, Ampuni aku, ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepada Mu.

Hanya Kasih yang sempurna serta Iman dan Pengharapan kepada Mu lah yang dapat mengiringiku masuk keSurga. Terima kasih adik kecil, kamu adalah malaikat ku yang menyadarkan aku dari tidur nyenyak ku.

(Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.)

Sumber: Kaskus
TUHAN tau yang terbaik bagi anakNYA. Yang IA berikan bukan yang kita inginkan, tapi yang kita butuhkan. (Matius 6:32b)
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)