1 korintus 7:38...kita bedah isinya..

Dalam ayat ini secara garis besar di simpulkan…bahwa perkawinan adalah perbuatan baik…tp tidak kawin lebih baik…bener g sih? …sedangkan dlam perjanjian lama disebutkan beranak cuculah…mana yang mo kita pakai?berbuat baik atau berbuat lebih baik untuk tuhan…?

Tergantung tujuannya dan perbuatannya.
Apa tujuannya seseorang kawin dan apa saja yang dilakukannya dalam kehidupan pernikahannya itu?
Apa tujuannya seseorang tidak kawin dan apa saja yang dilakukannya dalam kehidupan lajangnya itu?

Paulus menyadari bahwa manusia cenderung terlena dalam permasalahan kehidupannya. Salah satunya kehidupan dalam pernikahan.
Intinya, Paulus tidak ingin kehidupan(relasi) pernikahan seseorang membunuh kehidupan(relasi) lainnya, seperti kehidupan(relasi) manusia dengan Tuhan, kehidupan(relasi) manusia dengan sesamanya, kehidupan(relasi) profesi, dan lain-lain.

Rata-rata sebagian besar orang yang menikah, menghabiskan waktu paling banyak di dalam kehidupan pernikahan. Kemudian jika datang masalah yang berat dan tampak tidak dapat diatasi, maka hancurlah sebagian besar kehidupan yang dia miliki. Dan karena kehidupan pernikahannya adalah yang paling dominan di antara kehidupan-kehidupan lainnya, maka efek kehancuran yang cukup besar ini bisa merambat ke kehidupan lainnya, sehingga hubungannya dengan Tuhan bisa menjadi renggang, pekerjaannya menjadi gagal, atau relasi dengan sesama ikut menjadi rusak.

Guru-guru besar yang bijak mengetahui hal ini. Mereka adalah orang-orang yang sadar akan kapasitas dirinya. Mereka bukanlah orang yang sekedar hidup selibat hanya demi Tuhan. Namun mereka menyadari sifat manusia yang bisa terlena dalam kehidupan pernikahan dan merusak kehidupan lain, sehingga mereka memilih untuk tidak menikah.

Namun hal inipun tidaklah absolut terjadi demikian, ini hanyalah kecenderungan. Maka itu tergantung dari apa tujuannya dan apa yang dia perbuat dalam kehidupannya itu.

Maka bagi orang yang sudah dalam kehidupan pernikahan, Paulus menganjurkan berperilaku seperti demikian dalam ayat 1 Korintus 7:29 :
“Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri”

Paulus menganjurkan kita untuk tidak merasa terikat oleh pernikahan, yang mana keterikatan itu bisa merusak diri dan yang lain.
Paulus ingin kita merasa seperti tidak menikah, sehingga kehidupan-kehidupan kita yang lain selain pernikahan tetap terurus dan bertumbuh.

Mungkin demikian. Kapan-kapan saya tanya si Paulus. :stuck_out_tongue:

jawabannya jd apa…baik atau lebih baik…klo masuk ke tujuan…masih ngambang…klo orang disuruh memilih … pilih baik atau lebih baik…pasti jawabannya memilih lebih baik…

Jawaban semua orang mungkin tidak akan sama, dan akan terasa mengambang untuk diterima. Karena manusia cenderung menerima jawaban yang sesuai dengan nilai-nilai yang dia pegang dan yang bisa diterima oleh akal dan nuraninya.

Maka itu saya katakan, yang penting adalah tujuannya. Tujuan yang benar-benar Anda pikirkan adalah versi yang terbaik yang mampu Anda lakukan. Selebihnya dari itu adalah tidak akan dapat dilakukan, sekurangnya dari itu adalah tidak lebih baik dari pada tujuan Anda yang sebenarnya.

Tujuan tiap-tiap orang tentu saja relatif.
Pembahasan makna tujuan di sini adalah sebatas konteks “menikah” atau “tidak menikah”.
Contoh pertama:
Suatu saat Yohanes melihat sebuah keluarga yang sedang menghabiskan waktu bersama. Keluarga itu tampak amat bahagia dan harmonis. Kemudian muncullah keinginan Yohanes untuk memiliki sebuah keluarga. Secara tidak sadar, sebenarnya inilah tujuan dia. Namun dikarenakan ada suatu pengajaran yang dia terima bahwa tidak menikah lebih baik dari pada menikah, dengan segudang alasannya, lalu dia menerimanya dan melaksanakannya. Maka, ia mulai hidup selibat, padahal dalam hatinya yang terdalam sebenarnya ia sangat ingin berkeluarga. Apakah ia bisa berkonsentrasi dalam hidup selibatnya dengan menanggung seluruh hasratnya?
Nah, menurut Anda, manakah pilihan yang lebih baik untuk Yohanes lakukan?

Contoh kedua:
Yakobus ingin hidup selibat karena ia memahami dan takut bahwa jika ia menikah, maka ia akan mengalami kesulitan dalam kehidupan pernikahan, karena ia telah melihat bukti nyatanya dalam kehidupan pernikahan teman-temannya yang gagal, sedemikian parah hancurnya. Namun Yakobus dipaksa menikah oleh orang tuanya yang sangat menginginkan cucu kandung. Jika ia memutuskan menikah, walaupun tidak berhasrat untuk menikah, apakah ia bisa maksimal dalam menjalankan kehidupan pernikahannya?
Nah, menurut Anda, manakah pilihan yang lebih baik untuk Yakobus lakukan?

Pikiran dan keinginan yang mendasar seperti ini bisa Anda ciptakan sendiri sebagai tujuan hidup Anda menurut versi terbaik yang bisa Anda pikirkan dan rasakan, tidak perlu nabi Paulus yang menentukannya buat Anda. Ajaran dari Paulus tidak lebih dari pada sekedar referensi, dan ajarannya pun adalah versi terbaik yang mampu ia ciptakan bagi dirinya sendiri. Tentu saja versi tiap orang berbeda-beda.

mas poenya kalau ngambil ayat harus dibaca perikopnya. ayat itu tidak bisa berdiri sendiri. dan ngga pertentangan juga dengan kejadian. kalau cara ngambilnya seperti itu ya jadi ada masalah.

silakan lanjut.

Perlu diingatPerjanjian lama sudah habis / sudah lewat batas masa berlakunya

P. Baru: Lukas: 16
16:16 Hukum Taurat dan KITAB PARA NABI berlaku sampai kepada zaman Yohanes;

Tuhan yesus memberkati

Han

kalo menurut saya sih sama aja… tapi kita sebagai manusia jarang banget ada orang yang mampu gak nikah… karena notabene manusia adalah makhluk sosial, yang butuh teman, pendamping hidup… jadi daripada gak nikah, trus dosa(kita manusia juga psti ada kebutuhan seks kan), mending nikah aja. tapi btw, ada juga statement dari gembala saya, bahwa single itu merupakan sebuah karunia Tuhan, karena dimasa single kita, Tuhan akan pake dalam pelayanan(karena kalo nikah kan pasti masih ngurusin anak bini, tapi kalo single kan lebih bisa fokus ke pelayanan, ini yang saya tangkep sih)

Mat 19:12 Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."

nah yang berkata2 menikah itu baik dan tidak menikah itu lebih baik … siapakahh…???
mengapa dia berkata demikian…???
apa dasar pemikiran atau pengalaman hidupnya…???
saya kira disitu ada jawabannya…

Bagi mereka yang terpanggil melayani Tuhan seluruh waktunya (full time) memang lebih baik demikian asal tetap teguh memegang prsinsipnya tsb, tetapi bagi kaum awam sebaiknya menikah.

Untuk menikah dan tidak menikah, sesuai visi misi hidup orang tersebut sesuai pembentukan TUHAN dalam hidupnya seperti apa. Untuk Iman adalah kepastian.

Tapi untuk urusan visi misi hidup itu jalan hidup masing2 orang atas seizin TUHAN. Karna ada yang hidup sesuai Kehendak TUHAN dan ada pula yang hidup karna kehendak bebasnya, bagi yang pilih kehendak bebas ya tanggung risiko sendiri karna uda ga nurut kepada Kehendak Tuhan yang berdaulat. Untuk hal ini mau tahu mana yang jd kehendak TUHAN dan mana yang bukan, harus bergaul karib dg Allah Tri Tunggal. Harus peka sih :slight_smile:

Yesaya 55:8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.

Salam :angel: