A Letter From Our Beloved God

Untukmu yang selalu Ku cintai,
Saat kau bangun pagi hari.
Aku memandangmu.
Dan berharap engkau akan berbicara kepadaKu.
Bercerita.
Meminta pendapatKu.
Mengucap sesuatu untukKu.
Walaupun itu hanya sepatah kata.
Atau berterimakasih kepadaKu atas hal-hal indah yang terjadi dalam hidupmu pada tadi malam, kemarin atau waktu yang lalu.
Tapi Aku melihat engkau begitu sibuk menyiapkan diri untuk pergi beraktivitas.
Tak sedikitpun kau menyadari bahwa Aku di dekatmu.
Kembali Aku menanti saat engkau sedang bersiap.
Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti, dan menyapaKu.
Tetapi kau terlalu sibuk.
Di sebuah tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun.
Kemudian Ku lihat engkau menggerakkan kakimu.
Aku berfikir kau akan datang padaKu.
Tapi kau malah berlari ke telepon dan menghubungi seseorang lalu berbincang-bincang.
Aku melihatmu pergi beraktivitas dan aku menanti dengan sabar sepanjang hari namun dengan semua kegiatanmu.
Aku berfikir betapa sibuknya engkau untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.
Sebelum makan siang, Aku melihatmu memandang sekitar.
Mungkin engkau merasa malu untuk bicara dan menyebut namaKu, dengan berbisik sebelum menyentuh makanan yang Ku hidangkan.
Tetapi engkau tidak melakukannya.
Ya, tak apalah.
Masih ada waktu yang tersisa, dan Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu.
Meskipun saat engkau pulang tampak sekali seolah-olah banyak hal masih harus kau kerjakan.

Setelah tugasmu rampung, kau hidupkan TV dan aku tak tahu apakah kau suka menontonnya atau tidak.
Tapi kau selalu ke sana dan menghabiskan waktu setiap sore di situ.
Hingga terlupakan waktu untukKu.
Kembali aku menanti dengan sabar saat kau menikmati makan malammu tapi lagi-lagi engkau lupa menyebut namaKu dan berterimakasih atas makanan yang telah Ku berikan.
Saat tidur.
Ya, Ku fikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucap selamat malam kepada keluargamu kau melompat ke atas ranjang dan terlelap tanpa sepatahpun namaKu kau sebut. Tak apa, mungkin kau masih belum menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu.

Aku telah bersabar lebih lama dari waktu yang kau sadari.
Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain.
Aku sangat menyayangimu.
Setiap hari Ku nantikan sepatah kata darimu, ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung itu Ku dengar.
Baiklah, engkau bangun kembali dan lagi-lagi Aku menanti dengan penuh kasih bahwa hari itu kau akan memberiKu sedikit waktu lalu
menyapaKu.
Pagi, siang, petang, malam dan kembali pagi lagi.
Ternyata kau masih juga tak memperdulikanKu.
Tiada sepatah katapun.
Tiada seucap doa pun.
Tiada pula harapan dan keinginan untuk sujud kepadaKu.
Apa salahKu padamu?
Rezeki yang Ku limpahkan,
kesehatan yang Ku berikan,
makanan yang Ku hidangkan,
keselamatan yang Aku karuniakan,
kebahagiaan yang Ku anugerahkan,
tidak adakah yang membuatmu ingat kepadaKu?
Tapi percayalah.
Aku mengasihimu dan akan selalu begitu.
Aku tetap berharap suatu saat engkau akan menyapaKu.
Memohon perlindunganKu.
Bersujud kepadaKu.

Yang selalu bersamamu setiap saat,
Tuhanmu