Abraham, Ishak dan Ismael

Periode kesarjanaan klasik yang mandul saat ini, disertai kurangnya pengetahuan kita tentang bahasa-bahasa kuno, telah melumpuhkan cita rasa modern dalam mengapresiasi setiap upaya seperti yang hendak saya lakukan. Halaman-halaman berikut ini telah menghasilkan serangkaian artikel yang sangat cerdas dari pena Rev. Profesor David Benjamin Keldani (Abdul Ahad Dawud), tetapi saya ragu apakah terdapat banyak orang, dikalangan hierarki gereja kristen sekalipun, yang dapat mengikuti penjelasan terperinci dari seorang Profesor yang berpengetahuan tinggi ini. Malah saya benar-benar ragu ketika ia berusaha membawa para pembacanya kedalam sebuah labirin ilmu pengetahuan dari ratusan tahun silam.

Bagaimana dengan bahasa Arami, ketika sangat sedikit dikalangan pendeta sekalipun yang mampu memahami versi Perjanjian Baru dalam bahasa latin (Vulgate) dan versi bahasa Yunani? Khususnya lagi ketika riset-riset kami didasarkan hanya pada etimologi bahasa Yunani dan Latin!

Bagaimanapun nilai disertasi-disertasi seperti itu di mata musuh kami, pada saat sekarang, sama sekali tidak mampu mengapresiasinya dari sudut ilmu pengetahuan; karena ambiguitas makna yang melekat pada ungkapan-ungkapan nubuat yang saya singgung membuat ungkapan-ungkapan itu cukup elastis untuk mencakup setiap kasus.

Yang dikatakan “paling kurang” dalam nubuat Johanes Pembaptis tidak mungkin adalah anak Maria, meskipun ia dipandang hina oleh masyarakat bangsanya sendiri. Asal tukang kayu suci itu dari kalangan sederhana. Ia dicemooh, diperolok, dan didiskreditkan, ia diremehkan dan dibuat keliatan “paling kurang” dalam penilaian kalangan Scribe (ahli menulis) dan Pharisee (anggota sekte Yahudi yang menafsirkan hukum Musa secara keras).

Ekses dari semangat yang ditunjukkan oleh para pengikutnya pada abad kedua dan ketiga masehi, yang selalu cenderung loncat pada apa saja dalam bentuk nubuat dalam Alkitab, sudah pasti akan menyebabkan mereka meyakini ahwa Tuhan mereka adalah orang yang disinggung oleh Yohanes Pembaptis.

Namun, ada kesulitan lain yang menghadang, bagaimana seseorang dapat mempercayai kesaksian dari sebuah kitab yang tak dapat disangkal penuh dengan dongeng? Keaslian Alkitab telah dipertanyakan oleh seluruh dunia. Tanpa menindaklanjuti pertanyaan tentang keasliannya, paling tidak kita bisa mengatakan bahwa kita tidak bisa bergantung pada pernyataan-pernyataan Alkitab mengenai Yesus dan mukjizat-mukjizatnya.

Sebagian orang malah lebih jauh lagi menegaskan bahwa eksistensi dia sebagai makhluk bersejarah dipertanyakan, dan menurut kitab Injil akan berbahaya kalau sampai pada sesuatu kesimpulan yang keliatannya aman mengenai masalah ini.

Seorang Kristen Fundamentalis tidak bisa berkomentar apa pun terhadap pernyataan saya mengenai hal ini. Jika “kalimat-kalimat sesat” dan kata-kata yang objektif dalam Perjanjian Lama dapat dikhususkan oleh para penulis sinoptik sebagai berlaku bagi Yesus, maka segala komentar dari penulis yang berpengetahuan tinggi mengenai artikel-artikel ilmiah dan sangat menarik ini pasti menimbulkan respek dan apresiasi dalam segala hal sekalipun dari lembaga kependetaan.

Saya menulis dengan nada yang sama, tetapi saya telah berusaha mendasarkan argumen-argumen saya pada bagian-bagian Alkitab yang hampir tidak membolehkan adanya perselisihan linguistik apa pun. Saya tidak akan pergi ke bahasa Latin, Yunani, atau Arami, karena hal itu tidak ada gunanya. Saya hanya memberikan kutipan berikut dari Alkitab revisi Lembaga Alkitab Indonesia tahun 1974.

Kami membaca firman berikut dalam kitab Ulangan 18:18

“Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.”

Jika firman diatas tidak tertuju kepada Muhammad, maka firman itu tetap masih berlum terpenuhi. Yesus sendiri tidak pernah mengklaim sebagai nabi yang dimaksud. Bahkan murid-muridnya pun berpendapat sama. Mereka mengharapkan kedatangan Yesus yang kedua untuk memenuhi nubuat [2].

Sejauh ini tidak ada perselisihan bahwa kedatangan Yesus yang pertama bukanlah kelahiran “nabi seperti engkau”, dan kelahirannya yang kedua hampir tidak dapat memenuhi nubuat itu.

Yesus, sebagaimana diyakini oleh gerejanya, akan muncul sebagai “Hakim” dan bukan sebagai “Pemberi Hukuman”. Tetapi, orang yang dijanjikan haruslah membawa “api (hukum) yang menyala” ditangannya.

Namun, dalam memastikan personalitas dari nabi yang dijanjikan, nubuat yang lain dari Musa sangatlah menolong yang berkata tentang sinar Tuhan dari Paran, pegunungan Mekah. Firman dalam naskah kitab King James Version Ulangan 33:2, berbunyi sebagai berikut:

"Berkatalah ia: "Tuhan datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dengan sepuluh ribu orang kudus; di sebelah kanannya tampak kepada mereka api yang menyala.”

Dalam firman ini, Tuhan diibaratkan dengan matahari. Dan Yesus sama sekali tidak pernah ke Paran. Yang ada hubungannya dengan Paran adalah Hajar dan anaknya yang bernama Ismail, berkeluyuran di padang gurun Bersyeba, yang kemudian menetap dipadang gurun Paran.

“Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir”.(Kejadian 21:21)

Ismail menikahi seorang wanita Mesir, dan dari kelahiran pertamanya, Kedar, memberikan keturunan kepada bangsa Arab yang dari sejak itu sampai sekarang menjadi penghuni padang gurun Paran. Dan jika tidak dapat disangkal lagi, bahwa silsilah keturunan Muhammad merujuk kepada Ismail melalui Kedar dan ia tampil sebagai seorang nabi di padang gurun Paran dan menaklukkan Mekah dengan 10.000 pasukan dan menegakkan api (hukum) yang menyala kepada kaumnya, maka bukankah nubuat tesebut terpenuhi sesuai bunyinya?

Bunyi nubuat dari Habakuk 3:3 sangat perlu diperhatikan. “Keagungannya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepadanya.”

Mengenai padang gurun Paran juga telah diwahyukan :

"Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung! Baiklah mereka memberi penghormatan kepada Tuhan dan memberitakan pujian yang kepadanya di pulau-pulau. Tuhan keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangatnya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuhnya Ia membuktikan kepahlawanannya. (Yesaya 42:11-13)

Sehubungan dengan itu, ada dua nubuat lain yang perlu diperhatikan yang merujuk kepada Kedar: Pertama dalam Yesaya 60:1-7 yang bunyinya :

“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong. Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu. Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN. Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.”

Nubuat lainnya, lagi-lagi dalam Yesaya 21:13-17 [3]

“Ucapan ilahi terhadap Arabia . Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hai kafilah-kafilah orang Dedan! Hai penduduk tanah Tema, keluarlah, bawalah air kepada orang yang haus, pergilah, sambutlah orang pelarian dengan roti! Sebab mereka melarikan diri terhadap pedang, ya terhadap pedang yang terhunus, terhadap busur yang dilentur, dan terhadap kehebatan peperangan. Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: “Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis. Dan dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa dari bani Kedar, akan tinggal sejumlah kecil saja, sebab TUHAN, Allah Israel , telah mengatakannya.”

Bacalah nubuat-nubuat dari kitab Yesaya dan kitab Ulangan yang berbicara tentang sinar Tuhan dari Paran: Jika Ismail menghuni padang gurun Paran, tempat ia melahirkan Kedar, yakni nenek moyang bangsa Arab; dan jika anak-anak Kedar harus memberikan sambutan pada altar ilahi untuk mengagungkan “rumah keagunganNya” dimana kegelapan akan menyelimuti bumi selama beberapa abad, dan kemudian negeri itu akan menerima terang dari Tuhan; dan jika semua keagungan Kedar akan runtuh dan jumlah para pemanah, orang-orang perkasa dari anak-anak Kedar akan lenyap dalam setahun setelah orang itu melarikan diri dari pedang yang di hunus dan busur yang dilentur-Yang kudus dari Pegunungan paran (Habakuk 3:3) tak lain adalah Muhammad.

Muhammad keturunan suci dari Ismail melalui Kedar, yang berdiam di padang gurun paran. Melalui dia, maka Tuhan bersinar di Paran, dan Mekkah adalah satu-satunya tempat dimana rumah Allah (bait Allah) dimuliakan dan domba-domba Kedar memberikan sambutan diatas altarnya.

Muhammad dizalimi oleh kaumnya dan terpaksa meninggalkan Mekkah. Dia kehausan dan melarikan diri dari pedang yang dihunus dan busur yang dilentur, dan setahun kemudian setelah Muhammad meninggalkan Mekkah, dalam perang Badar, dia berhasil mengalahkan penduduk Mekkah dan sejumlah bani Kedar yang gagah perkasa tewas dan semua kemuliaan Kedar tumbang dalam perang Badar.

Jika para nabi suci tidak diakui sebagai pemenuhan semua nubuat ini, maka nubuat-nubuat tersebut akan tetap tidak terpenuhi. “Rumah keagunganKu” yang disebut dalam kitab Yesaya adalah rumah Tuhan di Mekkah. Bukan Gereja Kristus sebagaimana perkiraan para ahli tafsir Kristen. Kawanan domba-domba Kedar, sebagaimana disebut dalam ayat 7, belum pernah datang ke Gereja Kristus, dan adalah fakta bahwa kampung-kampung Kedar dan penduduknya adalah satu-satunya kaum didunia ini yang tetap tidak dapat dimasuki pengaruh Gereja Kristus. Lagi-lagi, penyebutan 10.000 orang kudus dalam ulangan 33, sangatlah penting: Dia bersinar dari Paran. Dan ia datang bersama 10.000 orang kudus.

Bacalah seluruh sejarah padang gurun Paran dan Anda akan menemukan tidak ada peristiwa lain selain peristiwa penaklukan Mekkan yang dilakukan oleh nabi Muhammad bersama dengan 10.000 pengikutnya dari Madinah dan memasuki kembali “rumah keagunganNya”. Dia memberikan api (hukum) yang menyala kepada dunia dan melenyapkan hukum-hukum lainnya.

Sang Penghibur (The Comforter) atau roh kebenaran yang disebut oleh Yesus tidak lain adalah nabi Muhammad. Tidak bisa diartikan sebagai Holy Ghost (Roh Kudus), seperti versi Teolog Kristen.

“Ada gunanya bagimu kalau aku pergi” Kata Yesus,”Karena kalau aku tidak pergi maka Sang Penghibur tidak akan datang kepadamu, tapi jika aku pergi, maka aku akan mengirim dia kepadamu”.

Perkataan ini dengan jelas menunjukkan bahwa Sang Penghibur pasti datang setelah Yesus pergi, dan tidak berada bersama Yesus ketika ia mengucapkan kata-kata ini. Akankah kita menduka bahwa Yesus sama sekali tanpa Holy Ghost jika kedatangannya tergantung pada kepergian Yesus. Di samping itu, cara Yesus menggambarkan dia menunjukkan bahwa dia adalah seorang manusia, bukan roh!. “Dia tidak akan berbicara mengenai dirinya sendiri, melainkan apa yang akan didengarnya yang akan ia bicarakan.” Akankah kita menduga bahwa Holy Ghost dan Tuhan adalah dua entitas yang berbeda dab bahwa Holy Ghost berbicara tentang dirinya sendiri dan juga apa yang ia dengar dari Tuhan ?!

Ucapan-ucapan Yesus jelas sekali menunjuk kepada seorang pesuruh Tuhan. Ia menyebutnya Roh Kebenaran, dan begitulah Al-Qur’an berbicara tentang Muhammad.

Komen yg ini dulu ah :

1. “seperti engkau” maksudnya seperti siapa? Yah seperti Musa.

Memang apa keistimewaan Musa dibandingkan nabi-nabi yg lain? baca keluaran 33:11,18-23

11 Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu.

18 Tetapi jawabnya: “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.”
19 Tetapi firman-Nya: “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.”
20 Lagi firman-Nya: “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.”
21 Berfirmanlah TUHAN: “Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu;
22 apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat.
23 Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan.”

Dari sini saja sudah keliatan hoax-nya, apa Muhammad mengalami seperti yg dialami Musa? ;D ;D ;D

Well, Yesus mengalami yg lebih dari Musa krn Ia adalah Sang Anak, bahkan memandang dari muka ke muka. Yoh 1: 18

“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”

2. “firman-Ku dalam mulutnya”, semua nabi adalah juru bicara Allah, dan hal itupun diklaim oleh Yesus, cocok sekali digenapi dalam Yohanes 14:10

“Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.”

So, penjelasan 1 & 2 cukup solid membantah hoax dari tafsir David Benjamin Keldani :afro:

Salam…

Arab?

Ini lebih mak nyus deh

Gen 16:10-12
(10) Lagi kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya.”
(11) Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu.
(12) Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.”

Lebih jelas lagi

Gen 16:11-12
(11) And the Angel of Jehovah said to her, Behold! You are with child and shall bear a son; and you shall call his name Ishmael, because Jehovah has listened to your affliction.
(12) And he shall be a wild ass of a man, his hand against all, and the hand of everyone against him; and he shall live before all his brothers.

Ass…:smiley:

Aduuuh,
Maaf nih,
Walau bukan modrator,

Tp gue pengen deh kt sbg anak-anak terang bhati2 dg tulisan2 kita.

Jangan sampai ada org yg mnolak Yesus justru krn ia antipati dg gaya tulisan kita.

Umumnya sih mereka menolak Yesus, justru karena mereka tidak disingkapkan. Jd gak perlu terlalu special threatment lah …, sopan sewajarnya saja.

Menurut Kejadian

  1. Kelahiran Ismael
    16:15 Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael.
    16:16 Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.
    17:23 Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya.
    17:24 Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya.
    17:25 Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya.

  2. Kelahiran Ishak
    21:2 Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya.
    21:3 Abraham menamai anaknya yang baru lahir itu Ishak, yang dilahirkan Sara baginya.
    21:4 Kemudian Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya.
    21:5 Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya.

Secara matematika dapat dijabarkan secara ringkas :

Usia Abaraham ketika Ismael lahir adalah 86 tahun
Usia Abraham ketika Ismael disunat adalah 99 tahun dan Ismael adalah 13 tahun
Usia Abraham ketika Ishak lahir adalah genap 100 tahun

Sampai disini so far baik2x saja…keraguan saya timbul ketika membaca kisah seanjutnya, yaitu persitiwa Hagar diusir oleh Abraham :
Kejadian
21:8 Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu.
21:9 Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri.
21:10 Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.”

Berdasarkan pengetahuan saya yang terbatas ini, usia anak disapih adalah antara 2 hingga 3 tahun…sehingga usia Abraham adalah katakanlah 102 tahun dan Ismael kala itu berusia 16 tahun…saya kurang tahu persis adat kebiasaan jaman itu, tapi yang jelas usia remaja adalah usai yang sudah bisa berburu, menggembala ternak atau sejenis itu…artinya kemungkinan besar Ismael tidak bermain lagi dengan adiknya yang masih BATITA, tapi lebih tepatnya mengasuh…

21:14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba.
21:15 Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak,
21:16 dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring.
21:17 Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.
21:18 Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.”
21:19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.
21:20 Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.
21:21 Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

Dari kisah Kejadian di atas ada kejanggalan2x yang menurut saya cukup menarik untuk dipelajari bersama :

  1. (21:14) Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba.
    Saya kurang tahu persis postur tubuh Hagar, tapi jika ia harus memanggul anak yang berusia 16 tahun dan bekal sekaligus di bahunya tentulah teramat berat…lagipula, kenapa tidak Ismael saja yang membawa bekal ??? Bukankah ia sudah cukup besar dan dewasa menurut kronologi umur di atas…apakah Ismael cacat tubuh, sehingga harus digendong di bahu Hagar ??? soal ini saya belum memenmukan catatannya, namun berdasarkan catatan di kitab Kejadian, Ismael adalah anak yang sehat dan kuat…

  2. (21:15) Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak,
    Sekali lagi terdapat kejanggalan jika umur Ismael adalah 16 tahun…Hagar membuang anaknya ke semak2x…pertanyaannya adalah mengapa tidak disuruh saja Ismael pergi, bukankah ia sudah cukup dewasa ???

  3. (21:20) Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.
    Ini yang lebih masuk di akal…tersirat bahwa Ismael masih anak2x ketika ia dan ibunya diusir oleh Abraham…analisa saya mendukung hal2x tersebut di atas…

  4. (21:9) Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri.
    Akan sangat mungkin jika perbedaan umur antara Ismael dan Ishak tidak terlalu jauh, sehingga mereka terlihat bermain bersama…

Seandainya terjadi “kesalahan pencatatan” soal umur Abraham…katakanlah umur Abraham seharusnya 96…maka Ishak lahir pada saat Ismael berumur 4 tahun dan saat Ishak berumur 2 tahun, Ismael telah berumur 6 tahunan…umur 6 tahun disini masih cukup kecil untuk berjalan jauh tetapi sudah mengerti terhadap suatu kejadian…masa yang masih suka bermain, bahkan dengan anak lebih kecil sekalipun…Ibunya, Hagar pun masih kuat untuk memanggul di atas bahunya dan ibunya cukup kuat untuk membuangnya ke semak2x…apalagi disebutkan Ismael menangis2x - (21:16) dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring…yang saya bold, mengindikasikan bahwa Ismael jelaslah masih anak2x dan bukanlah perilaku seorang remaja…

Nah, apabila analisa saya benar, maka persitiwa pengorbanan terjadi sekitar 2 atau 3 tahun kemudian ketika Ishak sudah cukup mengerti…

kejadian 12 : 11-15
Pada waktu ia hendak melintasi perbatasan dan masuk ke negeri Mesir, berkatalah ia kepada Sarai istrinya, “Engkau cantik, istriku.
Kalau orang Mesir melihatmu, mereka akan menduga bahwa engkau istriku lalu saya pasti dibunuh dan engkau dibiarkan hidup.
Jadi sebaiknya kaukatakan saja bahwa engkau adik saya supaya saya dibiarkan hidup dan diperlakukan dengan baik karena engkau.”
Dan benarlah, setelah Abram melintasi perbatasan dan sampai di negeri Mesir, orang Mesir melihat bahwa Sarai cantik sekali.
Beberapa orang pegawai istana melihat dia dan memberitahukan kepada raja betapa cantiknya wanita itu; sebab itu dia dibawa ke istana raja.

Dikisahkan di Bible bahwa ketika Abraham membawa Sarah ke Mesir, Sarah masih lagi seorang wanita yang cantik sekali sehingga sesiapa yang melihatnya pasti tertawan. Ini membimbangkan Abraham karena nyawanya pasti melayang jika Firaun (Pharaoh) mau merebut Sarah dari tangan Abraham.
Rasa bimbang yang amat sangat yang dirasakan oleh Abraham diceritakan lagi oleh Bible.

Kejadian 20
Abraham menjawab, "Pikir saya, di sini tak ada orang yang takut kepada Allah, sehingga saya akan dibunuh oleh orang yang menginginkan istri saya.(20 : 11)

Adakah Sarah benar2 masih seorang wanita yang menjadi idaman setiap lelaki?
Sebelum kita menjawabnya, mari kita mencari tau berapakah umur Sarah tatkala dia berada di Mesir.

Kejadian 17
Lalu sujudlah Abraham, tetapi ia tertawa ketika berpikir, “Mana mungkin seorang laki-laki yang sudah berumur seratus tahun mendapat anak? Mana mungkin Sara melahirkan pada usia sembilan puluh tahun?”(17 : 17)

Bible memberitahu kepada kita bahwa jarak usia antara Sarah dan Abraham adalah 10 tahun.
Jadi, berapakah umur Abraham?

Kejadian 12
TUHAN berkata kepada Abram, “Tinggalkanlah negerimu, kaum keluargamu dan rumah ayahmu, lalu pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.(12 : 1)
Aku akan memberikan kepadamu keturunan yang banyak dan mereka akan menjadi bangsa yang besar. Aku akan memberkati engkau dan membuat namamu masyhur, sehingga engkau akan menjadi berkat.(12 : 2)
Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan karena engkau Aku akan memberkati semua bangsa di bumi.”(12 : 3)
Abram berusia tujuh puluh lima tahun ketika ia meninggalkan Haran, sesuai dengan perintah TUHAN kepadanya. Abram berangkat ke tanah Kanaan bersama-sama dengan Sarai istrinya, dan Lot kemanakannya, dan segala harta benda serta hamba-hamba yang mereka peroleh di Haran. Setelah mereka tiba di Kanaan,(12 : 4)

Abraham berusia tujuh puluh lima tahun tatkala dia memulakan perjalanan menuju ke Kanaan. Begitulah yang diceritakan oleh Bible. Usia Sarah pula adalah 10 tahun kurang dari usia Abraham. Secara tidak langsung, Bible memberitahu kpd kita bahwa ketika Sarah berada di Mesir, usianya adalah lebihkurang 65 tahun.

Bible membuktikan bahwa usia Sarah adalah lebihkurang 65 tahun ketika Firaun (Pharaoh) dan orang2 Mesir melihatnya.
Adakah wanita yang dalam usia 65 tahun masih boleh digolongkan sebagai wanita yang cantik sekali?
Adakah wanita yang berusia 65 tahun masih bisa menjadi rebutan banyak orang dan dapat mengalahkan kecantikan anak2 perawan yg lain?

Bete juga lihat orang kaya gini.
Hanya bisa copas ke forum ini terus lari. (penggemar Liga Inggris juga ya “Hit and Run”)

Emang kenapa kalau umur 65 thn, Sarah masih cantik? NGIRI?
Sekalian aja pertanyakan, MASAK ABRAHAM YANG UDAH TUA RENTAH (ukuran sekarang) 75 THN, MASIH KUAT TOUR OF DUTY DI PADANG PASIR SIH? Malahan masih kuat berperang dan menang lagi.
Eyang TITIEK PUSPA umurnya sekarang berapa ya?

Pake logika dong, Kalau Abraham saja yang tua rentah masih kuat dan gagah berjalan2 di padang pasir, artinya Sarah walaupun berumur 65 memang masih cantik dan menarik pastinya. Firaun ma Abimalek aja naksir :wink:

Tapi mana bro yesa mo pake logika sih?

Yesa…kamu telaaaat banget…, coba kamu nongol waktu itu, pasti tahu keadaannya…Abraham, Sara, Firaun…
Kalo kamu cowok pasti kalah bersaing dengan Abraham, sekarang aja kamu ga punya apa-apa, apalagi dulu ya gak…
kalo kamu cewek pasti kalah bersaing dengan Firaun, bukan kalah cantiknya aja …tapi juga kalah kepinterannya ama Sara…
aih… kacian deh kamu…jadi apa juga tetap kalah…

  1. Mengenai ‘meletakan anaknya di atas bahu Hagar’, ini dari ASV yg lebih jelas:
    “And Abraham rose up early in the morning, and took bread and a bottle of water, and gave it unto Hagar, putting it on her shoulder, and `gave her’ the child, and sent her away. And she departed, and wandered in the wilderness of Beer-sheba.”

Jadi Abraham mengambil roti dan botol minuman kemudian meletakan roti dan minuman ke pundak Hagar, lalu kemudian memberikan Ismael kepada Hagar. Ah jangan2 gak ngerti lagi maksudnya… maksudnya itu si Ismael diserahkan sepenuhnya ke Hagar dan Abraham sudah melepaskan semua hak dan kewajiban yg berhubungan dengan Ismael ke Hagar. Jadi, Ismael engga digendong lagi…

2. (21:15) Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, Sekali lagi terdapat kejanggalan jika umur Ismael adalah 16 tahun...Hagar membuang anaknya ke semak2x...pertanyaannya adalah mengapa tidak disuruh saja Ismael pergi, bukankah ia sudah cukup dewasa ???
Pada bagian ini, Ismael nyaris mati karena dehidrasi. Baca ayatnya lebih teliti dan perhatikan konteks.

Genesis 21: 15-16
And the water in the bottle was spent, and she cast the child under one of the shrubs. And she went, and sat her down over against him a good way off, as it were a bowshot. For she said, Let me not look upon the death of the child. And she sat over against him, and lifted up her voice, and wept.

Ismael sekarat karena dehidrasi dan kehabisan air → dibopong ibunya → ibunya tidak tahan dan kemudian membuang anak itu
membuang = meletakkan

3. (21:20) Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. Ini yang lebih masuk di akal...tersirat bahwa Ismael masih anak2x ketika ia dan ibunya diusir oleh Abraham...analisa saya mendukung hal2x tersebut di atas...
Peristiwa ini terjadi ketika Hagar dan anaknya diselamatkan oleh Allah yg menunjukkan sebuah mata air kepada keduanya sehingga mereka segar kembali. Makanya ayat 19 jangan dilompati.
4. (21:9) Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. Akan sangat mungkin jika perbedaan umur antara Ismael dan Ishak tidak terlalu jauh, sehingga mereka terlihat bermain bersama...
Saya yg 23 tahun biasa bermain dengan keponakan yg 1 tahun. So? Apanya yg aneh? Anda?
Seandainya terjadi "kesalahan pencatatan" soal umur Abraham...katakanlah umur Abraham seharusnya 96...maka Ishak lahir pada saat Ismael berumur 4 tahun dan saat Ishak berumur 2 tahun, Ismael telah berumur 6 tahunan...umur 6 tahun disini masih cukup kecil untuk berjalan jauh tetapi sudah mengerti terhadap suatu kejadian...masa yang masih suka bermain, bahkan dengan anak lebih kecil sekalipun...Ibunya, Hagar pun masih kuat untuk memanggul di atas bahunya dan ibunya cukup kuat untuk membuangnya ke semak2x...apalagi disebutkan Ismael menangis2x - (21:16) dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Tidak tahan aku melihat anak itu mati." Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring....yang saya bold, mengindikasikan bahwa Ismael jelaslah masih anak2x dan bukanlah perilaku seorang remaja...
Ismael menangis karena dehidrasi, sekarat, dan hampir mati. Baca ayat 16.
Nah, apabila analisa saya benar, maka persitiwa pengorbanan terjadi sekitar 2 atau 3 tahun kemudian ketika Ishak sudah cukup mengerti...
Analisa 'saya'? Maksud kamu analisa 'yg kamu contek dari kaum atheis'? :ashamed0002: :ashamed0002: Sayang sekali, analisa itu adalah salah total.

buat yesa, kalo mau baca alkitab jangan pake rasio kita yang terbatas; karena alkitab itu begitu luasnya bagaikan samudera; kita ini hanya daun yang ngapung. OK???

Hai Yesa…'met ketemu lagi…
Yesa, dalam topik-topik yang Yesa kemukakan, selalu mencari kesalahan-kesalahan saja, dan Yesa pun mengatakan bahwa Alkitab versi KJ ataupun versi yang lain, tapi kalau ada kebenaran dalam kitab yang Yesa baca maka Yesa harus mau mengungkapkan kebenaran itu. Seperti topik di atas ini, masalah umur aja persoalan, kalau Yesa punya kitab yang aslinya (mengapa saya katakan ini karena Yesa tahu bahwa ada kitab yang tidak benar), nah coba Yesa baca yang baik kalimatnya dan maksud kalimat itu, dengan pikiran yang jernih dan bersahabat.

Bahwa bukan Abraham meletakkan Ismael di bahu ibunya, bukan seperti itu. Abraham mengambil roti serta kirbat air dan memberikannya kepada Hagar, dengan meletakkannya pada bahu Hagar dan juga pada bahu Ismael, tapi dituliskan seakan-akan meletakkan semuanya dibahu Hagar.
Itulah maksud kalimat tersebut, mengapa Yesa tidak dapat melihat kebenaran ini?, karena Yesa selalu mencari kesalahan-kesalahan, jadi yah itulah yang terjadi dalam hati pikiran Yesa, apakah dengan perbuatan ini Yesa tidak khawatir akan berpengarauh dalam kehidupan Yesa dikemudian hari?,dalam rumah tangga dan masa depan Yesa?
Memang kebenaran itu menakutkan bagi yang bersalah, tetapi adalah menyenangkan dan membawa sukacita bagi yang memberitakannya.
Oke Yesa…, syalom…

:huh:

Hehe Niat bener yah u, sip trus lah baca supaya u tambah ngerti. God Bless yach

Soal ritual sunat dalam setiap diskusi Islam – Kristen sering dimunculkan orang, umumnya kaum Muslim mempertanyakan mengapa ajaran Kristen tidak lagi mementingkan sunat sebagaimana yang diajarkan dalam Perjanjian Lama, sebagai suatu tanda perjanjian antara Tuhan dengan nabi Ibrahim dan keturunannya sampai kepada Yesus Kristus, dan sebagai pengikut Yesus, umat Kristen seharusnya juga menjalankannya. Sebaliknya sanggahan yang umum juga dijawab oleh Kristen adalah sunat tersebut hanya diwajibkan bagi Ibrahim dan keturunannya (yang kemudian dipersempit lagi menjadi kaum Yahudi sesuai alkitab Perjanjian Lama), sedangkan mereka sebagai orang non-Yahudi tidak terkena kewajiban tersebut, ini juga berdasarkan alkitab Perjanjian Baru, sesuai dengan ajaran yang disampaikan Paulus.

Kisah tentang asal-muasal kewajiban sunat bersumber dari Kitab Kejadian pada Alkitab Perjanjian Lama (PL) yaitu ketika menceritakan kisah keluarga nabi Ibrahim. Dalam kronologis ceritanya, dimulai kitab Kejadian 12 ketika Tuhan berfirman menyuruh Ibrahim (ketika itu masih bernama Abram) untuk pergi dari negerinya kesuatu tempat yang akan ditunjuk Tuhan, disitu Tuhan sudah mulai memberikan janji kepada Ibrahim :

12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
12:7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.”

Berdasarkan dari apa yang dijanjikan Tuhan tersebut, kita bisa melihat kata ‘bangsa’ dan ‘negeri’, ini bisa diartikan ‘kekuasaan untuk memerintah’ atau bisa juga diartikan ‘dominasi untuk mendiami suatu wilayah’, jadi Tuhan telah menjanjikan Ibrahim bahwa kelak dia dan anak keturunannya akan berdiam dalam suatu wilayah, berkuasa, mempunyai kesempatan mencari nafkah dengan mengelola wilayah tersebut. Namun terlihat ini masih merupakan janji ‘sepihak’ dan belum berbentuk perjanjian.

Dalam Kej 13 sekali lagi Tuhan menyatakan janji kepada Ibrahim :

13:14 Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan,
13:15 sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.
13:16 Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga.
13:17 Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.”

Disini janji Tuhan mulai lebih terperinci :

  1. Wilayah tersebut terbentang ‘sejauh mata memandang’ dari posisi Ibrahim pada waktu itu (tanah Kanaan –Kej 13:12)
  2. Jumlah keturunan Ibrahim ‘seperti debu tanah banyaknya’.
  3. Wilayah tersebut merupakan wilayah yang dijalani (disinggahi) oleh Ibrahim.

Namun sampai disini kita masih bisa menyebutnya sebagai ‘janji sepihak’ dan belum berupa perjanjian.

Perjanjian antara Tuhan dengan Ibrahim baru disebut secara jelas pada Kej 15, setelah Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk menyampaikan beberapa korban dan menjelaskan nasib yang akan diterima anak keturunan Ibrahim kelak, lalu dibuatlah perjanjian :

15:18 Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:
15:19 yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon,
15:20 orang Het, orang Feris, orang Refaim,
15:21 orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu.”

Jadi perjanjian antara Ibrahim dengan Tuhannya adalah dengan tanda perjanjian berupa pengorbanan binatang lembu, kambing, domba dan burung (Kej 15:9)

Sampai disini kronologis ceritanya sangat runtut dan logis. ‘Kekacauan’ alur cerita terjadi pada kisah selanjutnya. Setelah diselingi kisah keluarga Ibrahim, yaitu antara istrinya Sarai dan budak perempuannya Hagar pada Kej 16, cerita soal perjanjian antara Tuhan dengan Ibrahim muncul lagi pada Kej 17 :

17:2 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak."

Rupanya Tuhan merasa perlu untuk mengulang perjanjian yang sudah diadakan sebelumnya, dalam perjanjian ‘jilid 2’ ini tercantum ‘hak dan kewajiban’ kedua-belah pihak :

17:4 “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.
17:6 Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.
17:7 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.
17:8 Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.”

Hak dan kewajiban Tuhan kelihatannya banyak mengulang kembali dari apa yang terdapat pada perjanjian ‘jilid 1’, cuma disini terlihat ada yang ‘menyempal’ yaitu ayat 17:8, yang menyebut khusus tanah Kanaan, berbeda dengan perjanjian sebelumnya yang menyebut wilayah yang lebih luas. Mengapa terjadi perubahan…??, kita bisa melihat cerita ini :

17:18 Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”
17:19 Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
17:20 Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.
17:21 Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.”

Ooo…ini rupanya menyangkut Ismail dan Ishak, terlihat jelas adanya ‘penggiringan’ cerita untuk mengeluarkan Ismail dari perjanjian ‘jilid 1’ dengan membuat perjanjian ‘jilid 2’, dan ini terkait dengan penguasaan tanah Kanaan tempat dimana mayoritas bangsa Yahudi berdiam. Ini diperkuat lagi dengan adanya ayat lain pada Keluaran:

2:24 Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub.

Setelah menggiring hak perjanjian tersebut kepada Ishak dan menyingkirkan Ismail, maka ‘giringan’ selanjutnya adalah kepada Yakub anak Ishak dan menyingkirkan saudara kembar tuanya Esau. Pihak Kristen disini memperikan alasan bahwa pembatalan perjanjian tersebut karena Esau dikatakan ‘tidak menghargai’ perjanjian tersebut. Dalam Kej 25 dan 27 digambarkan hak tersebut dicabut dari Esau justru karena dia ditipu 2 kali oleh Yakub. Dengan giringan tersebut maka lengkaplah dasar ‘konstitusional’ dari anak keturunan Yakub untuk memonopoli tanah Kanaan dan kebenaran ajaran Ibrahim.

Berbeda dengan perjanjian sebelumnya, perjanjian ‘jilid 2’ ini dikukuhkan dengan tanda yang lain, yaitu ‘sunat’ :

17:9 Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.
17:10 Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
17:11 haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.

Sunat dengan prosedur yang jelas, menyebutkan mana bagian yang harus dipotong, siapa saja yang harus disunat, umur berapa harus disunat dan apa konsekuensinya kalau tidak disunat :

17:12 Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.
17:13 Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.
17:14 Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."

Isi perjanjian ‘jilid 2’ ini ternyata banyak menimbulkan pertanyaan :

  1. Kewajiban sunat yang ditujukan pada ‘kamu dan keturunanmu, berada diantara kamu’ menjadi kontradiksi dengan pengecualian kepada Ismail, apakah Ismail termasuk atau tidak…?? disini kelihatan tuhan tidak cermat dalam membuat perjanjian, dan ternyata Ismail ‘katut’ disunat juga (Kej 17:23, dan Kej 17:25), para netters Kristen berdalih bahwa ketika sunat tersebut dilakukan kebetulan Ismail berada dalam rumah, maka sesuai perjanjian harus ikut disunat sekalipun tidak termasuk dalam perjanjian, artinya disini memakai satu ayat dan membuang/mengabaikan ayat yang lain, padahal dua-duanya berasal dari Tuhan.

  2. Memasukkan ‘dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu, orang yang engkau beli dengan uang’ kedalam perjanjian. Apakah artinya mereka dan keturunan mereka juga termasuk keluarga Ibrahim dan diberi hak atas tanah Kanaan…?? Menurut penafsiran salah seorang netters Kristen, para orang yang dibeli tersebut tidak punya hak, mereka disunat karena kebetulan berada dalam rumah Ibrahim dan menjadi ‘property’nya. Penafsiran ini juga terlihat berbenturan dengan janji Tuhan yang ada pada Kej 17:7 yang sama sekali tidak menyentuh adanya orang diluar Ibrahim dan keturunannya. (harap diingat dalam perjanjian jilid 2 tersebut sudah jelas disebut adanya hak dan kewajiban kedua-belah pihak).

  3. Penyebutan ketentuan waktu disunat umur 8 hari juga menimbulkan masalah, apakah sunat bagi si bocah merupakan tanda perjanjian antara dia sendiri dengan Tuhan, atau antara orang-tuanya dengan Tuhan, mengingat si bocah masih belum mengerti mengapa ‘burungnya’ dipotong. Bagaimana kalau ternyata si bocah setelah besar dan mengerti tidak mau ikut perjanjian…?? (seperti kasus Esau). Ada pendapat menarik dari netters Kristen disini yang menyatakan itu adalah tanda perjanjian antara orang-tuanya dengan Tuhan. Disini juga muncul pertanyaan : bagaimana halnya dengan orang-tua yang tidak punya anak laki-laki…?? apakah perjanjian tersebut bisa dilakukan tanpa tanda yang sudah disyaratkan…?? ada yang menjawab bahwa bagi keluarga yang tidak punya anak laki-laki yaa tidak perlu adanya tanda sunat, maka syarat perjanjian tersebut lagi-lagi tidak terpenuhi (ingat dengan adanya hak dan kewajiban kedua-belah pihak yang tertulis secara jelas).

‘Komplikasi’ tersebut menunjukkan adanya keanehan tentang perjanjian tersebut yang dinyatakan sebagai Firman Tuhan, tidak mungkin Tuhan akan mengeluarkan hal yang membingungkan dan saling’ tembak-menembak’ diantara kata-kata-Nya sendiri.

Cerita tentang perjanjian ini ternyata juga tidak ‘nyambung’ dengan cerita selanjutnya :

18:10 Dan firman-Nya: “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya.
18:11 Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid.
18:12 Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: “Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?”

Ternyata Sarai tidak tahu tentang firman Tuhan sebelumnya yang menginformasikan dia akan mempunyai anak yang dinamai Ishak (Kej 17:19), apakah Firman Tuhan tersebut ditujukan hanya kepada Ibrahim dan beliau tidak memberitahukannya kepada istrinya…??

18:17 Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?
18:18 Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat?
18:19 Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.”

Melalui kalimat yang ‘lucu’ karena digambarkan Tuhan terlihat bimbang dan berpikir, kita diinformasikan bahwa ternyata Ibrahim-pun juga merasa heran ketika diberitahu bahwa istrinya Sarai akan melahirkan anak dihari tuanya. Kesan yang muncul sekitar perjanjian jilid 2 ini adalah cerita tersebut dikarang belakangan dan disisipkan. Seandainya Kej 17 kita hapus semuanya, maka cerita antara Kej 15, 16 dan 18 terlihat ‘masih agak nyambung’.

Maka marilah kita mencoba meneliti sumber informasinya. Kitab Kejadian terdapat dalam Perjanjian Lama khususnya dalam 5 Kitab Musa (pentateuch) atau yang biasa disebut Taurat yang pada mulanya dipercayai ditulis nabi Musa AS. Namun perkembangan selanjutnya, bahkan pihak ahli Alkitabpun tidak lagi mempercayai ini, sekalipun dalam 5 kitab tersebut dinyatakan memang ada yang berasal dari ajaran nabi Musa. Saya tidak perlu menceritakan hal ini panjang lebar karena ini sudah banyak disampaikan orang, saya hanya mengambil intinya saja bahwa : Kitab Kejadian merupakan tulisan dari kaum Yahudi jauh setelah jaman Musa dan sekalipun banyak juga bersumber dari ajaran nabi tersebut, namun banyak juga berasal dari karangan para Rabi yang tentu saja dipangaruhi situasi sosial politik yang ada ketika karangan tersebut dibuat, termasuk kelakuan-kelakuan para pemuka agamanya. Mengenai karakter umat Yahudi yang akan ada sesudah kematiannya, nabi Musa sudah meramalkan :

31:26 “Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau.
31:27 Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati.
31:29 Sebab aku tahu, bahwa sesudah aku mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu di kemudian hari malapetaka akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN, dan menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tanganmu.”

Ramalan nabi Musa terhadap umatnya tersebut jelas terkait dengan kekhawatiran beliau terhadap Taurat. Disini kita bisa bertanya : Siapakah yang sebenarnya akan mengambil keuntungan besar dengan adanya perjanjian ‘jilid 2’ ini…?? jawaban yang lugas tentulah YAHUDI…!!. Cerita soal perjanjian jilid 2 tersebut kelihatannya sengaja dikarang untuk ‘melegalisir’ monopoli Yahudi terhadap kebenaran ajaran Ibrahim melalui perjanjiannya dengan Tuhan, namun disajikan dengan kurang cermat sehingga menimbulkan kesan tambal-sulam. Dan ini pada awalnya justru menyulitkan para pengikut Yesus Non-Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul kita bisa melihat serangan ‘Yahudi-sunat’ ini kepada pengikut Yesus tentang monopoli kebenaran berdasarkan Taurat (Yesus menyatakan bahwa keberadaan beliau bukan untuk melenyapkan ataupun merubah hukum Taurat, dan memastikan tidak satu iota-pun dari Taurat yang akan hilang) :

15:1 Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.”

Ini menunjukan Yahudi ‘memperalat’ sunat untuk menunjukkan monopolinya terhadap ajaran Taurat dan secara gamblang menyatakan bahwa tidak ada keselamatan diluar Yahudi yang sudah menggenggam hak monopoli perjanjian Tuhan dengan Ibrahim. Paulus sebagai orang yang sedang giat-giatnya mempromosikan ajaran Kristen terhadap Non-Yahudi tentu saja merasa terhambat dan terhalangi dengan adanya pernyataan ini. ‘Target market’ Paulus adalah orang Yunani dan Romawi yang dari sononya memang ‘takut’ disunat, dan pernyataan Yahudi ini akan bisa membuat ajaran yang disodorkannya tidak laku dan tidak dibeli orang, Paulus bakalan bangkrut…, maka kemudian dia mengeluarkan penafsirannya tentang sunat, diantaranya ada pada Roma 5. Intinya dia menyatakan bahwa keselamatan bukan ditentukan oleh sunat atau tidak sunat (ini sebenarnya banyak kemiripan dengan ajaran Islam) namun penafsiran selanjutnya terlihat mengarah menjadikan Yesus sebagai penyelamat, dengan dasar argumentasi yang rumit mengaitkan antara ‘iman kepada Yesus dengan nilai suatu perbuatan’ (anda bisa menyimak postingan sdr. Amor yang dengan sangat baik menyampaikan ‘pelintiran’ Paulus soal iman dan perbuatan terkait dengan sunat Ibrahim ini http://forum.swaramuslim.net/threads.php?id=3734_45_25_0

‘Titik ekstrim’ Yahudi yang menyatakan keselamatan terkait dengan pelaksanaan hukum Taurat dibalas dengan ‘titik ekstrim’ lainnya dari Paulus yang menyatakan keselamatan tergantung iman kepada Yesus. Saking berapi-apinya Paulus menyampaikan ancaman ini :

5:2 Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.
5:3 Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.
5:4 Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.

Ini terlihat sebagai suatu ajaran yang kebablasan dan menyulitkan penganut Kristen dijaman modern ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan ternyata memberikan bukti sunat sangat baik bagi kesehatan, maka ini menjadi buah simalakama bagi umat Kristen yang ingin bersunat dengan alasan kesehatan karena takut ‘kualat’ seperti yang diancam oleh Paulus.

Pada waktu itu bantahan-bantahan Paulus memang banyak ditujukan kepada ajaran Yahudi karena memang Islam belum muncul. Ketika ajaran Islam mulai diajarkan oleh nabi Muhammad SAW dan isinya banyak mengkoreksi, baik ajaran Yahudi maupun Kristen, maka ‘moncong senjata’ dialihkan. Yahudi dan Kristen yang tadinya ‘gontok-gontokan’ seakan-akan mempunyai musuh bersama yang membuat mereka terlihat kompak kembali. Dan yang lebih hebatnya urusan sunat yang tadinya menjadi ‘senjata andalan’ Yahudi dalam menghadapi Kristen justru banyak dijadikan umat Kristen untuk menyerang Islam. Perjanjian ‘jilid 2’ yang menyingkirkan Ismail yang dalam ajaran Islam merupakan nenek moyang kaum Quraisy, sukunya nabi Muhammad SAW, dipakai untuk menyatakan bahwa ajaran Islam ‘tidak punya tempat’ dalam sejarah perkembangan ajaran Tuhan. Kristen disatu sisi menentang sunatnya dilain pihak mengakui perjanjiannya, dan agar mereka bisa dalam posisi aman dalam kasus ini, maka ajaran Paulus soal sunat dipakai dengan penafsiran penuh ‘akrobat’.

Soal ritual sunat dalam setiap diskusi Islam – Kristen sering dimunculkan orang, umumnya kaum Muslim mempertanyakan mengapa ajaran Kristen tidak lagi mementingkan sunat sebagaimana yang diajarkan dalam Perjanjian Lama, sebagai suatu tanda perjanjian antara Tuhan dengan nabi Ibrahim dan keturunannya sampai kepada Yesus Kristus, dan sebagai pengikut Yesus, umat Kristen seharusnya juga menjalankannya. Sebaliknya sanggahan yang umum juga dijawab oleh Kristen adalah sunat tersebut hanya diwajibkan bagi Ibrahim dan keturunannya (yang kemudian dipersempit lagi menjadi kaum Yahudi sesuai alkitab Perjanjian Lama), sedangkan mereka sebagai orang non-Yahudi tidak terkena kewajiban tersebut, ini juga berdasarkan alkitab Perjanjian Baru, sesuai dengan ajaran yang disampaikan Paulus.

Kisah tentang asal-muasal kewajiban sunat bersumber dari Kitab Kejadian pada Alkitab Perjanjian Lama (PL) yaitu ketika menceritakan kisah keluarga nabi Ibrahim. Dalam kronologis ceritanya, dimulai kitab Kejadian 12 ketika Tuhan berfirman menyuruh Ibrahim (ketika itu masih bernama Abram) untuk pergi dari negerinya kesuatu tempat yang akan ditunjuk Tuhan, disitu Tuhan sudah mulai memberikan janji kepada Ibrahim :

12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
12:7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.”

Berdasarkan dari apa yang dijanjikan Tuhan tersebut, kita bisa melihat kata ‘bangsa’ dan ‘negeri’, ini bisa diartikan ‘kekuasaan untuk memerintah’ atau bisa juga diartikan ‘dominasi untuk mendiami suatu wilayah’, jadi Tuhan telah menjanjikan Ibrahim bahwa kelak dia dan anak keturunannya akan berdiam dalam suatu wilayah, berkuasa, mempunyai kesempatan mencari nafkah dengan mengelola wilayah tersebut. Namun terlihat ini masih merupakan janji ‘sepihak’ dan belum berbentuk perjanjian.

Dalam Kej 13 sekali lagi Tuhan menyatakan janji kepada Ibrahim :

13:14 Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan,
13:15 sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.
13:16 Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga.
13:17 Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.”

Disini janji Tuhan mulai lebih terperinci :

  1. Wilayah tersebut terbentang ‘sejauh mata memandang’ dari posisi Ibrahim pada waktu itu (tanah Kanaan –Kej 13:12)
  2. Jumlah keturunan Ibrahim ‘seperti debu tanah banyaknya’.
  3. Wilayah tersebut merupakan wilayah yang dijalani (disinggahi) oleh Ibrahim.

Namun sampai disini kita masih bisa menyebutnya sebagai ‘janji sepihak’ dan belum berupa perjanjian.

Perjanjian antara Tuhan dengan Ibrahim baru disebut secara jelas pada Kej 15, setelah Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk menyampaikan beberapa korban dan menjelaskan nasib yang akan diterima anak keturunan Ibrahim kelak, lalu dibuatlah perjanjian :

15:18 Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:
15:19 yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon,
15:20 orang Het, orang Feris, orang Refaim,
15:21 orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu.”

Jadi perjanjian antara Ibrahim dengan Tuhannya adalah dengan tanda perjanjian berupa pengorbanan binatang lembu, kambing, domba dan burung (Kej 15:9)

Sampai disini kronologis ceritanya sangat runtut dan logis. ‘Kekacauan’ alur cerita terjadi pada kisah selanjutnya. Setelah diselingi kisah keluarga Ibrahim, yaitu antara istrinya Sarai dan budak perempuannya Hagar pada Kej 16, cerita soal perjanjian antara Tuhan dengan Ibrahim muncul lagi pada Kej 17 :

17:2 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak."

Rupanya Tuhan merasa perlu untuk mengulang perjanjian yang sudah diadakan sebelumnya, dalam perjanjian ‘jilid 2’ ini tercantum ‘hak dan kewajiban’ kedua-belah pihak :

17:4 “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.
17:6 Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.
17:7 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.
17:8 Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.”

Hak dan kewajiban Tuhan kelihatannya banyak mengulang kembali dari apa yang terdapat pada perjanjian ‘jilid 1’, cuma disini terlihat ada yang ‘menyempal’ yaitu ayat 17:8, yang menyebut khusus tanah Kanaan, berbeda dengan perjanjian sebelumnya yang menyebut wilayah yang lebih luas. Mengapa terjadi perubahan…??, kita bisa melihat cerita ini :

17:18 Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”
17:19 Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
17:20 Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.
17:21 Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.”

Ooo…ini rupanya menyangkut Ismail dan Ishak, terlihat jelas adanya ‘penggiringan’ cerita untuk mengeluarkan Ismail dari perjanjian ‘jilid 1’ dengan membuat perjanjian ‘jilid 2’, dan ini terkait dengan penguasaan tanah Kanaan tempat dimana mayoritas bangsa Yahudi berdiam. Ini diperkuat lagi dengan adanya ayat lain pada Keluaran:

2:24 Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub.

Setelah menggiring hak perjanjian tersebut kepada Ishak dan menyingkirkan Ismail, maka ‘giringan’ selanjutnya adalah kepada Yakub anak Ishak dan menyingkirkan saudara kembar tuanya Esau. Pihak Kristen disini memperikan alasan bahwa pembatalan perjanjian tersebut karena Esau dikatakan ‘tidak menghargai’ perjanjian tersebut. Dalam Kej 25 dan 27 digambarkan hak tersebut dicabut dari Esau justru karena dia ditipu 2 kali oleh Yakub. Dengan giringan tersebut maka lengkaplah dasar ‘konstitusional’ dari anak keturunan Yakub untuk memonopoli tanah Kanaan dan kebenaran ajaran Ibrahim.

Berbeda dengan perjanjian sebelumnya, perjanjian ‘jilid 2’ ini dikukuhkan dengan tanda yang lain, yaitu ‘sunat’ :

17:9 Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.
17:10 Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
17:11 haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.

Sunat dengan prosedur yang jelas, menyebutkan mana bagian yang harus dipotong, siapa saja yang harus disunat, umur berapa harus disunat dan apa konsekuensinya kalau tidak disunat :

17:12 Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.
17:13 Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.
17:14 Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."

Isi perjanjian ‘jilid 2’ ini ternyata banyak menimbulkan pertanyaan :

  1. Kewajiban sunat yang ditujukan pada ‘kamu dan keturunanmu, berada diantara kamu’ menjadi kontradiksi dengan pengecualian kepada Ismail, apakah Ismail termasuk atau tidak…?? disini kelihatan tuhan tidak cermat dalam membuat perjanjian, dan ternyata Ismail ‘katut’ disunat juga (Kej 17:23, dan Kej 17:25), para netters Kristen berdalih bahwa ketika sunat tersebut dilakukan kebetulan Ismail berada dalam rumah, maka sesuai perjanjian harus ikut disunat sekalipun tidak termasuk dalam perjanjian, artinya disini memakai satu ayat dan membuang/mengabaikan ayat yang lain, padahal dua-duanya berasal dari Tuhan.

  2. Memasukkan ‘dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu, orang yang engkau beli dengan uang’ kedalam perjanjian. Apakah artinya mereka dan keturunan mereka juga termasuk keluarga Ibrahim dan diberi hak atas tanah Kanaan…?? Menurut penafsiran salah seorang netters Kristen, para orang yang dibeli tersebut tidak punya hak, mereka disunat karena kebetulan berada dalam rumah Ibrahim dan menjadi ‘property’nya. Penafsiran ini juga terlihat berbenturan dengan janji Tuhan yang ada pada Kej 17:7 yang sama sekali tidak menyentuh adanya orang diluar Ibrahim dan keturunannya. (harap diingat dalam perjanjian jilid 2 tersebut sudah jelas disebut adanya hak dan kewajiban kedua-belah pihak).

  3. Penyebutan ketentuan waktu disunat umur 8 hari juga menimbulkan masalah, apakah sunat bagi si bocah merupakan tanda perjanjian antara dia sendiri dengan Tuhan, atau antara orang-tuanya dengan Tuhan, mengingat si bocah masih belum mengerti mengapa ‘burungnya’ dipotong. Bagaimana kalau ternyata si bocah setelah besar dan mengerti tidak mau ikut perjanjian…?? (seperti kasus Esau). Ada pendapat menarik dari netters Kristen disini yang menyatakan itu adalah tanda perjanjian antara orang-tuanya dengan Tuhan. Disini juga muncul pertanyaan : bagaimana halnya dengan orang-tua yang tidak punya anak laki-laki…?? apakah perjanjian tersebut bisa dilakukan tanpa tanda yang sudah disyaratkan…?? ada yang menjawab bahwa bagi keluarga yang tidak punya anak laki-laki yaa tidak perlu adanya tanda sunat, maka syarat perjanjian tersebut lagi-lagi tidak terpenuhi (ingat dengan adanya hak dan kewajiban kedua-belah pihak yang tertulis secara jelas).

‘Komplikasi’ tersebut menunjukkan adanya keanehan tentang perjanjian tersebut yang dinyatakan sebagai Firman Tuhan, tidak mungkin Tuhan akan mengeluarkan hal yang membingungkan dan saling’ tembak-menembak’ diantara kata-kata-Nya sendiri.

Cerita tentang perjanjian ini ternyata juga tidak ‘nyambung’ dengan cerita selanjutnya :

18:10 Dan firman-Nya: “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya.
18:11 Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid.
18:12 Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: “Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?”

Ternyata Sarai tidak tahu tentang firman Tuhan sebelumnya yang menginformasikan dia akan mempunyai anak yang dinamai Ishak (Kej 17:19), apakah Firman Tuhan tersebut ditujukan hanya kepada Ibrahim dan beliau tidak memberitahukannya kepada istrinya…??

18:17 Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?
18:18 Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat?
18:19 Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.”

Melalui kalimat yang ‘lucu’ karena digambarkan Tuhan terlihat bimbang dan berpikir, kita diinformasikan bahwa ternyata Ibrahim-pun juga merasa heran ketika diberitahu bahwa istrinya Sarai akan melahirkan anak dihari tuanya. Kesan yang muncul sekitar perjanjian jilid 2 ini adalah cerita tersebut dikarang belakangan dan disisipkan. Seandainya Kej 17 kita hapus semuanya, maka cerita antara Kej 15, 16 dan 18 terlihat ‘masih agak nyambung’.

Maka marilah kita mencoba meneliti sumber informasinya. Kitab Kejadian terdapat dalam Perjanjian Lama khususnya dalam 5 Kitab Musa (pentateuch) atau yang biasa disebut Taurat yang pada mulanya dipercayai ditulis nabi Musa AS. Namun perkembangan selanjutnya, bahkan pihak ahli Alkitabpun tidak lagi mempercayai ini, sekalipun dalam 5 kitab tersebut dinyatakan memang ada yang berasal dari ajaran nabi Musa. Saya tidak perlu menceritakan hal ini panjang lebar karena ini sudah banyak disampaikan orang, saya hanya mengambil intinya saja bahwa : Kitab Kejadian merupakan tulisan dari kaum Yahudi jauh setelah jaman Musa dan sekalipun banyak juga bersumber dari ajaran nabi tersebut, namun banyak juga berasal dari karangan para Rabi yang tentu saja dipangaruhi situasi sosial politik yang ada ketika karangan tersebut dibuat, termasuk kelakuan-kelakuan para pemuka agamanya. Mengenai karakter umat Yahudi yang akan ada sesudah kematiannya, nabi Musa sudah meramalkan :

31:26 “Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau.
31:27 Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati.
31:29 Sebab aku tahu, bahwa sesudah aku mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu di kemudian hari malapetaka akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN, dan menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tanganmu.”

Ramalan nabi Musa terhadap umatnya tersebut jelas terkait dengan kekhawatiran beliau terhadap Taurat. Disini kita bisa bertanya : Siapakah yang sebenarnya akan mengambil keuntungan besar dengan adanya perjanjian ‘jilid 2’ ini…?? jawaban yang lugas tentulah YAHUDI…!!. Cerita soal perjanjian jilid 2 tersebut kelihatannya sengaja dikarang untuk ‘melegalisir’ monopoli Yahudi terhadap kebenaran ajaran Ibrahim melalui perjanjiannya dengan Tuhan, namun disajikan dengan kurang cermat sehingga menimbulkan kesan tambal-sulam. Dan ini pada awalnya justru menyulitkan para pengikut Yesus Non-Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul kita bisa melihat serangan ‘Yahudi-sunat’ ini kepada pengikut Yesus tentang monopoli kebenaran berdasarkan Taurat (Yesus menyatakan bahwa keberadaan beliau bukan untuk melenyapkan ataupun merubah hukum Taurat, dan memastikan tidak satu iota-pun dari Taurat yang akan hilang) :

15:1 Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.”

Ini menunjukan Yahudi ‘memperalat’ sunat untuk menunjukkan monopolinya terhadap ajaran Taurat dan secara gamblang menyatakan bahwa tidak ada keselamatan diluar Yahudi yang sudah menggenggam hak monopoli perjanjian Tuhan dengan Ibrahim. Paulus sebagai orang yang sedang giat-giatnya mempromosikan ajaran Kristen terhadap Non-Yahudi tentu saja merasa terhambat dan terhalangi dengan adanya pernyataan ini. ‘Target market’ Paulus adalah orang Yunani dan Romawi yang dari sononya memang ‘takut’ disunat, dan pernyataan Yahudi ini akan bisa membuat ajaran yang disodorkannya tidak laku dan tidak dibeli orang, Paulus bakalan bangkrut…, maka kemudian dia mengeluarkan penafsirannya tentang sunat, diantaranya ada pada Roma 5. Intinya dia menyatakan bahwa keselamatan bukan ditentukan oleh sunat atau tidak sunat (ini sebenarnya banyak kemiripan dengan ajaran Islam) namun penafsiran selanjutnya terlihat mengarah menjadikan Yesus sebagai penyelamat, dengan dasar argumentasi yang rumit mengaitkan antara ‘iman kepada Yesus dengan nilai suatu perbuatan’ (anda bisa menyimak postingan sdr. Amor yang dengan sangat baik menyampaikan ‘pelintiran’ Paulus soal iman dan perbuatan terkait dengan sunat Ibrahim ini http://forum.swaramuslim.net/threads.php?id=3734_45_25_0

‘Titik ekstrim’ Yahudi yang menyatakan keselamatan terkait dengan pelaksanaan hukum Taurat dibalas dengan ‘titik ekstrim’ lainnya dari Paulus yang menyatakan keselamatan tergantung iman kepada Yesus. Saking berapi-apinya Paulus menyampaikan ancaman ini :

5:2 Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.
5:3 Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.
5:4 Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.

Ini terlihat sebagai suatu ajaran yang kebablasan dan menyulitkan penganut Kristen dijaman modern ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan ternyata memberikan bukti sunat sangat baik bagi kesehatan, maka ini menjadi buah simalakama bagi umat Kristen yang ingin bersunat dengan alasan kesehatan karena takut ‘kualat’ seperti yang diancam oleh Paulus.

Pada waktu itu bantahan-bantahan Paulus memang banyak ditujukan kepada ajaran Yahudi karena memang Islam belum muncul. Ketika ajaran Islam mulai diajarkan oleh nabi Muhammad SAW dan isinya banyak mengkoreksi, baik ajaran Yahudi maupun Kristen, maka ‘moncong senjata’ dialihkan. Yahudi dan Kristen yang tadinya ‘gontok-gontokan’ seakan-akan mempunyai musuh bersama yang membuat mereka terlihat kompak kembali. Dan yang lebih hebatnya urusan sunat yang tadinya menjadi ‘senjata andalan’ Yahudi dalam menghadapi Kristen justru banyak dijadikan umat Kristen untuk menyerang Islam. Perjanjian ‘jilid 2’ yang menyingkirkan Ismail yang dalam ajaran Islam merupakan nenek moyang kaum Quraisy, sukunya nabi Muhammad SAW, dipakai untuk menyatakan bahwa ajaran Islam ‘tidak punya tempat’ dalam sejarah perkembangan ajaran Tuhan. Kristen disatu sisi menentang sunatnya dilain pihak mengakui perjanjiannya, dan agar mereka bisa dalam posisi aman dalam kasus ini, maka ajaran Paulus soal sunat dipakai dengan penafsiran penuh ‘akrobat’.

He…he… kebablasan menurut anda gak tuch menurut Tuhan…, sebab di dalam YESUS semuanya sudah digenapi lahir dan bathin. yang lahiriah khan gak dibawa ke kekalan toch???

Kenapa Keturunan2 Ibrahim yang laen…yang tujuh orang dari selir2nya (kecuali Iskak) tidak ditulis ???
karena fokus Alkitab hanya pada PRIBADI YESUS. dengan demikian yang gak terkait ama kedatangan MESIAH ini gak akan dech ditulis secara terinci.

Menurut ajaran kesehatan sunat sangat penting …untuk kesehatan .
dan itu memang benar, ttp jangan jadikan keratan kulit katan untuk bayar sorga. :mad0261:

Oh…ini tentang sunat ya?
Btw…yang nulis artikel ini tahu gak sih apa makna dari SUNAT?..PASTI gak tahu :smiley:

Klo ditanya alasannyanya untuk sunat jawabnya OOT ke medis deh.

Sunat dalam Alkitab adalah materai PERJANJIAN TUHAN DENGAN ABRAHAM terhadap tanah perjanjian.

Ketika orang Israel ditindas sebagai budak di Mesir, Tuhan mengingat akan perjanjian itu.
Keluaran 2:24 Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub.

Sunat bukan cuma untuk kulit kathan
Ulangan 10:16 Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk.
Ulangan 10:17 Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap;
Ulangan 10:18 yang membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian.

Untuk masuk ke tempat kudus (surga)
Yehezkiel 44:9 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Tidak seorangpun dari orang-orang asing yang hatinya dan dagingnya tidak bersunat, boleh masuk dalam tempat kudus-Ku, ya setiap orang asing yang ada di tengah-tengah orang Israel.

Keluaran 4:25 Lalu Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, kemudian disentuhnya dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata: “Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku.”
Keluaran 4:26 Lalu TUHAN membiarkan Musa. “Pengantin darah,” kata Zipora waktu itu, karena mengingat sunat itu.

Yesus sudah mengkonfirmasikan bahwa Dia tidak meniadakan Hukum Taurat.
Matius 5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Paulus pun sejalan dengan Tuhan Yesus
Roma 3:31 Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya.

Roma 2:25 Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya.

Nah…apakah orang yang menulis artikel diatas ini juga tahu, apa isi dari 10 Hukum Taurat itu? Aku rasa dia tidak tahu.

Roma 2:29 Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.